Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 11 Kembang Kedawung bag ke tujuh.


__ADS_3

Japra Witangsa dan Jati Andara tengah bersiap lagi akan menyerang orang itu.


Namun ketika Witangsa akan bergerak menyerang, adalah Jati Andara yg melarang nya.


" Jangan ," seru Jati Andara.


" Mengapa kau melarang ku,?" tanya Japra Witangsa heran.


Terlihat tangan dari Putra Bekel desa Kenanga itu memberikan isyarat agar Putra Ki Jagabaya itu tidak melanjutkan serangan nya meskipun lawan masih dalam keadaan terduduk diatas tanah.


Namun benar saja , belum pun Japra Witangsa bergerak, tiba -tiba saja,


" Shiijngg, Swiiiingg,"


Kembali dua buah senjata rahasia meluncur kencang ke arah keduanya, jarak yg cukup dekat itu tidak dapat lagi untuk menghindari serangan itu, baik Jati Andara maupun Japra Witangsa terpaksa memukul jatuh kedua senjata rahasia itu.


" Treeenngg, Triiinngg,"


Kedua masih mampu memukul nya dengan tepat.


" *******," teriak Japra Witangsa.


Pemuda itu memutar pedang nya dengan cepat dan ia pun langsung menyerang orang itu dengan cepat, di sertai lompatan yg panjang, pedang nya lurus mengarah jantung orang itu.


" Hiyyahhh,"


Orang tersebut yg telah mampu berdiri segera menangkis serangan itu dengan goloknya,


" Traanngg,"


Tampak pijaran api akibat beradunya kedua senjata itu. Japra Witangsa melanjutkan lagi serangan dengan memberikan tendangan setelah sebelumnya ia menarik pulang pedang nya, namun orang itu tidak menghindari serangan itu, ia malah menebaskan goloknya ke arah kaki dari Putra Ki Jagabaya itu.


Melihat hal ini, Jati Andara merasa khawatir akan tindakan gegabah dari teman nya itu.


" Hiyyahhh,"


Terpaksa putra Ki Bekel itu ikut menyerang guna mengalihkan perhatian lawannya itu, ia pun langsung menebaskan pedang nya mengarah leher orang itu.


Terpaksa orang yg datang ke rumah Nyi Warseh itu menarik pulang golok nya guna melindungi lehernya dari tebasan pedangnya Jati Andara.


" Trangg,"


Bersamaan itu pula terdengarlah suara,


" Bhegggkkhh,"


Tulang rusuk orang itu berhasil di tendang oleh Japra Witangsa. Orang itu terdorong surut beberapa langkah , namun ia tidak terjatuh. Dengan cepat ia memutar goloknya dan menyerang Witangsa,


" Heaaahh,"


Putra Ki Jagabaya itu melompat mundur menghindari serangan itu , sambil ia masih sempat menjulurkan ujung pedang nya.


Pedang pemuda itu berhasil melukai pundak orang tersebut.


" Aaakkhh,"


Terdengar teriakan tertahan yg keluar dari mulut orang itu, dan dari pundak nya mengalir darah yg langsung bersatu dengan air hujan yg masih saja mengguyur.


Jati Andara tidak membuang kesempatan lagi ia pun langsung menjulurkan pedangnya kearah orang itu yg masih terhenti akibat terluka.


Kembali pedang pemuda dari Desa Kenanga berhasil mencapai tangan orang itu,


Setelah kembali terluka dari serangan Jati Andara, orang itu segera melompat mundur, ia langsung melayang kan dua buah senjata rahasia nya.


Dan dengan meluncur nya dua buah senjata itu, ia langsung melompat menjauhi kedua anak muda desa Kenanga itu.


Dua buah senjata rahasia itu adalah untuk menahan laju serangan kedua anak muda desa Kenanga itu.


" Hehhh, Jangan lari,!!!" teriak Japra Witangsa.


Putra Ki Jagabaya itu pun langsung mengejar penyerang gelap itu.


Ia melompat dan berlari dengan cepat menyusuli orang tersebut.


Sementara Jati Andara masih terpaku di tempat nya. Ia di kagetkan dengan tepukan seseorang pada pundak nya.


" Ada apa , Kakang Andara,?" tanya orang itu.


Yang tiada lain adalah Dewi Dwarani , adiknya sendiri.

__ADS_1


" Rani, kakang harus menyusul Witangsa, kami harus menangkap penyerang gelap itu, kalian tunggu disini," ucap Putra Ki Bekel itu.


Dewi Dwarani masih terdiam ketika kakaknya itu berlari menyusul Japra Witangsa .


" Siapa orang itu , Kang,?" tanya Dewi Dwarani.


" Entahlah, kakang tidak tahu, jika sampai siang kami tidak kembali kalian susul kami ke Lereng Pandan ini," teriak Jati Andara.


Ia terus saja berlari meninggalkan adiknya itu.


Dewi Dwarani terpaku melihat kakak nya yg tampak tinggal bayangan nya saja, karena pemuda itu terus saja berlari.


" Siapa orang itu, Rani,?". tanya Sari Kemuning.


" Aku tidak tahu, Kemuning, kakang Andara pun tidak tahu,". jawab Dewi Dwarani.


Keduanya saling berpandangan, mereka berdua tidak mengerti apa yg telah terjadi, sehingga keduanya tampak kebingungan.


Apa yg akan mereka lakukan, kemudian Dewi Dwarani berkata kepada temannya itu, atas perintah Jati Andara kakaknya itu, bahwa jika sampai siang mereka belum kembali, keduanya harus menyusul kedua kakak nya itu.


Sari Kemuning mengerti dengan maksud dari Dewi Dwarani, ia pun mengajak masuk putri Ki Bekel itu ke dalam karena hujan masih mengguyur dengan derasnya.


Setibanya di dalam rumah , Nyi Warseh melihat keduanya dalam keadaan basah kuyup, ia berkata mengapa keduanya harus keluar di saat hujan turun dengan deras nya , di tengah malam lagi.


Dewi Dwarani menjawabnya dengan mengatakan bahwa ada seseorang yg telah datang dan bertsrung dengan kedua kakak nya, demikian lah jawaban dsri Dewi Dwarani.


Nyi Warseh agak terkejut mendengarkan pernyataan dari Putri Ki Bekel itu, ia mengatakan tempat itu dalam keadaan aman-aman saja tidak pernah terjadi kerusuhan apalagi sampai terjadi perselisihan.


Dan ucapan dari Nyi Warseh itu, membuat kedua gadis itu bertanya-tanya di dalam hatinya, jika memang keadaan pedukuhan kecil di kaki gunung Pandan itu aman, mengapa ada seseorang yg datang menyerang mereka.


Namun kedua gadis itu tidak berani menanyakan hal itu kepada Nyi Warseh.


Sedangkan perempuan tua itu sibuk mencari pakaian kering untuk keduanya.


Ahh, kami merepotkan bibi saja , ucap Sari Kemuning setelah melihat perempuan itu membawakan dua buah pakaian yg sudah agak lusuh seraya memberikan kepada keduanya.


" Kalian berdua bersalin lah terlebih dahulu,nanti masuk angin" ucap Nyi Warseh.


" Terima kasih,Bi," jawab keduanya.


Akhirnya kedua kemudian mengganti pakaian nya yg telah basah kuyup akibat hujan deras di kaki gunung Pandan itu.


Sementara Japra Witangsa terus berlari mengejar orang yg telah menyerang mereka.


Jati Andara yg berhasil menyusul temannya itu segera bertanya kepada temannya itu.


" Kemana perginya, orang tersebut,?" tanya nya kepada Japra Witangsa.


Yg ditanya hanya menggelengkan kepalanya, ia mengatakan telah kehilangan jejak orang itu.


Apa tidak sebaiknya kita terus mengejar , bukankah ia telah terluka, tanya Jati Andara kepada Witangsa.


Sebaiknya memang demikian, jawab Witangsa.


Lalu keduanya kemudian menelusuri jejak dari orang itu, dengan lantaran cahaya kilat yg menyambar, mereka berusaha untuk mencari bekas -bekas yg telah di tinggalkan


Meski kedua nya nampak kesulitan, di sebabkan hilangnya jejak itu karena telah di guyur hujan,tetapi mereka masih tertolong akibat bekas luka orang itu.


Ceceran darah membawa keduanya naik menuju ke arah Lereng gunung Pandan itu.


Sebenarnya jarak dari pedukuhan itu tidak terlalu jauh dengan puncak nya, karena harus sambil mengikuti dan mencari ceceran darah, sampai siang menjelang barulah keduanya dapat memastikan bahwa orang itu memang memanjat naik menuju ke arah atas gunung Pandan itu.


Setelah mentari menyinari,hujan pun perlahan telah berhenti membuat keduanya semakin mudah menelusuri jejak orang itu.


Ketika sampai di pertigaan , barulah keduanya benar -benar kehilangan jejak nya.


Nampaknya orang itu telah membalut luka di tempat ini, ucap Jati Andara.


Japra Witangsa pun paham dengan ucapan teman nya itu, ia meminta kepada Jati Andara agar menelusuri jejak ke arah sebelah kanan sedangkan ia akan menyusuri dari sebelah kiri,.


Keduanya berpencar, dan berusaha menemukan jejak orang itu.


Tiba -tiba Jati Andara melihat bekas sobekan kain yg tersangkut diantara semak belukar itu, putra Ki Bekel itu kemudian mendatangi Japra Witangsa, ia pun menceritakan apa yg telah di lihatnya, sedangkan putra Ki Jagabaya itu memang tidak menemukan apa pun, keduanya sepakat untuk bergerak kearah kanan tempat itu, mereka berdua kemudian berjalan naik menuju ke atas, melalui jalan setapak itu.


Mereka berdua berjalan dengan sangat hati -hati, selain jalan nya sangat licin, keduanya pun berjaga atas serangan gelap dari orang itu.


Semakin naik , jalan setapak itu nampak lebih lebar dan nampak sering di lewati oleh orang -orang.


" Ssssttthh,"

__ADS_1


Jati Andara memalangkan jari telunjuk di bibir nya. Ia memperingatkan kepada Japra Witangsa agar berhati -hati.


Memang keduanya telah sampai pada pertengahan Lereng Pandan itu.


Baik Japra Witangsa maupun Jati Andara segeralah menyiapkan senjatanya, mereka bersiap atas segala kemungkinan yg akan terjadi.


Jalan itu mengarah ke sisi Barat Gunung itu. Di antara semak belukar dan pepohonan yg cukup besar keduanya melihat ada sebuah bangunan yg ada di tengah nya .


Sepertinya itulah Padepokan milik Ronggo Sathru itu, Witangsa, kata Jati Andara.


Sepertinya memang demikian, lebih baik kita terus mendekat, siapa tahu kita dapat menemukan orang yg telah menyerang kita, syukur -syukur kita dapat menemukan putri Ki Demang Kedawung itu, jawab Japra Witangsa.


Kembali keduanya melanjutkan langkah kaki nya, dan untuk kedua kali nya mereka berpencar, mendekati tempat itu.


Di rumah Nyi Warseh sendiri, Sari Kemuning dan Dewi Dwarani kebingungan akibat ketidakhadiran kedua kakak nya itu memutuskan untuk segera menyusul kedua nya.


Atas petunjuk Nyi Warseh, bahwa mereka jika ingin ke padepokan suaminya itu, harus bergerak ke arah Lereng sebelah Barat. Dan jika nanti bertemu dengan anak nya Arnawa, perempuan paruh baya itu meminta untuk menyampaikan pesan agar ia bersedia untuk datang ke rumah nya itu.


Sari Kemuning dan Dewi Dwarani menyanggupi permintaan dari perempuan paruh baya itu.


Segera keduanya meningglakan rumah Nyi Warseh itu dan mereka berjalan sesuai dengan petunjuk Nyi Warseh.


Mereka pun masih dapat melihat jejak -jejak dari Jati Andara dan Japra Witangsa.


Keduanya terus memanjat naik, sampai pada pertigaan mereka berbelok ke sebelah kanan, ketika mereka akan melanjutkan langkah kaki nya, tiba -tiba saja keduanya di kaget sebuah lemparan ranting kayu,yg menghentikan langkah keduanya.


Kedua orang itu segera bersiap dengan segera mengeluarkan pedang nya. Ketika yg keluar adalah Jati Andara, hati keduanya nampak lega dan tenang, sambil menyarungkan kembali pedangnya, Sari Kemuning bertanya , dimana kakaknya Japra Witangsa.


Jati Andara mengatakan bahwa Witangsa tengah menyelidiki keadaan dari tempat itu.


Jati Andara membawa keduanya untuk mendatangi Japra Witangsa.


Keempat nya segera berkumpul tepat berada di belakang padepokan itu.


Jati Andara bertanya kepada Japra Witangsa apakah telah melihat orang yg telah menyerang mereka itu.


Japra Witangsa menggeleng, karena ia tidak berhasil mendekati tempat itu lebih dekat di tambah lagi pagar yg mengelilingi tempat itu cukup tinggi jadi sulit untuk melihat ke dalam.


Atas saran Dewi Dwarani, Japra Witangsa memanjat sebuah pohon Jati yg cukup besar dan dapat di katakan raksasa yg tepat di belakang Padepokan itu.


Dengan kemampuan nya putra Ki Jagabaya itu berhasil memanjat pohon Jati itu.


Dan setelah berada pada cukup di ketinggian dan berada di sebuah cabang yg besar,Japra Witangsa melihat ke dalam Padepokan itu.


Meski di bilang kecil, tetapi penghuni nya cukup banyak. Sehingga Witangsa melihat banyak cantrik yg berlalu lalang dan ia pun melihat beberapa cantrik perempuan.


Cukup lama Japra Witangsa berada di atas pohon Jati itu, baru kemudian ia turun.


Bagaimana Witangsa, apakah kau melihat orang itu , tanya Jati andara.


Tidak, aku tidak melihat orang itu, tetapi yg cukup mengherankan, ternyata penghuni padepokan itu cukup banyak, jawab Witangsa.


Tidak mungkin kakang berdua menemukan orang itu, apa lagi ia telah terluka, tentu ia telah bersembunyi guna menyembuhkan luka nya itu sekaligus untuk menghilangkan jejaknya, ucap Dewi Dwarani menerangkan.


Jadi bagaimana kita akan menemukan orang itu,tanya Witangsa lagi.


Mungkin salah satu dari kita dapat unttuk masuk ke dalam,. kata Dewi Dwarani.


Ketiganya heran atas saran putri Ki Bekel itu , jelas -jelas mereka telah di serang orang dari dalam Padepokan itu tetapi oleh Dewi Dwarani itu mereka di sarankan untuk masuk ke dalam nya, suatu pemikiran yg gila menurut ketiga nya.


Dewi Dwarani kemudian menjelaskan bahwa harus ada diantara mereka berempat untuk masuk ke dalam Padepokan itu guna mengetahui keadaan yg telah terjadi di dalam Padepokan itu, ia juga menyarankan hanya mereka berdua saja yg akan masuk antara dirinya dengan Sari Kemuning, selain mereka berdua perempuan , keduanya juga belum pernah atau tidak pernah bertemu dengan orang yg telah menyerang kedua kakak nya itu.


Memang pemikiran dari Putri Ki Bekel itu dapat di terima ketiganya. Bahwa jalan satu -satunya untuk mengetahui keadaan di dalam adslah masuk ke dalam Padepokan itu.


Setelah melalui pertimbangan , di putuskan bahwa Sari Kemuning lah yg akan masuk ke dalam dan menyamar sebagai seseorang yg akan belajar di padepokan itu.


Begitu Matahari pun memanjat naik, Sari Kemuning Putri Ki Jagabaya desa Kenanga itu masuk ke dalam Padepokan lereng Gunung Pandan itu.


Setelah melewati gerbang padepokan oleh Salah seorang cantrik yg bertugas berjaga , ia di bawa menuju sebuah bangunan yg cukup besar dan berada tepat di tengah -tengah.


Sari Kemuning kemudian di suruh masuk dan menunggu di tempat itu karena pemimpin padepokan itu akan segera hadir ke tempat itu.


Cukup lama Sari Kemuning menunggu namun akhir nya yg datang adalah seorang pemuda yg seumuran dengan Witangsa kakak Kemuning.


Setelah duduk berhadap -hadapan dengan Sari Kemuning, pemuda itu memperkenalkan diri sebagai putra dari pemimpin padepokan itu.


Hemmmh, inikah putra dari Nyi Warseh itu, pantaslah ia rela meninggalkan ibunya, terlihat dari gaya bicara dan tampilan nya , ia merupakan pemuda yg suka sesuatu yg serba mewah, kata Sari Kemuning di dalam hati.


Kemudian Pemuda yg mengenalkan diri bernama Arnawa itu mengatakan bahwa Romo nya belum dapat menerima tamu karena sesuatu hal, ia sedang melakukan tirakat dan mungkin dua hari lagi baru dapat keluar, jelas Arnawa.

__ADS_1


Sari Kemuning kemudian bertanya Apakah ia dapat di terima untuk menjadi murid Ki Ronggo Sathru itu.


Arnawa langsung mengiyakan, karena pemuda itu melihat wajah gadis yg ada di hadapan nya cukup menawan, walaupun ia telah di pesani oleh Romo nya untuk tidak sembarangan menerima cantrik baru di padepokan itu, namun karena hati pemuda itu telah tertaut dengan wajah yg ada di hadapan nya itu.


__ADS_2