
Kedua muda mudi itu kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah tempat, yaitu daerah persawahan.
Dalam perjalanan itu , kedua nya asyik bercakap-cakap,
" Kakang, apakah kakang tidak bersedia menerima sayembara yg diajukan oleh Romo itu,?" tanya Tara Rindayu.
" Ndayu, bukan nya tidak bersedia menerima nya, tetapi ada sesuatu yg menurut kakang tidak pada tempat nya, kita dalam menentukan seorang teman dalam meniti kehidupan ini haruslah yg sesuai dengan kita sendiri, bukan dengan paksaan, masih menurut kakang , sesuatu yg dipaksakan pada akhirnya akan menjadi kurang baik, dan untuk saat ini kakang belum ingin berumah tangga, Ndayu,!" jelas Raka Senggani.
Nampak gadis itu terdiam mendengarkan penjelasan dari lelaki yg berada di samping nya itu.
" Atau kakang Senggani merasa risih jika harus beristrikan seorang janda, ?" tanyanya lagi pada Raka Senggani.
" Menurut kakang tidak masalah , apakah ia masih gadis ataupun janda, tetapi yg perlu diperhatikan adalah rasa,... perasaan kita dengannya itu sudah cocok, apapun dia tentu kita dapat menerima nya,!" jawab Raka Senggani lagi.
" Bukankah kita dahulu adalah teman yg sangat dekat Kang, atau memang kakang Senggani tidak memiliki perasaan terhadap Rindayu,?" tanya Tara Rindayu.
" Kata -kata itu sangat benar sekali, memang kita dahulu sangat dekat bahkan sulit untuk dipisahkan,!" jelas Raka Senggani.
Pemuda itu terkenang beberapa waktu yg lampau ketika mereka masih sangat kecil, keduanya masih bermain bersama.
Ia teringat kira -kira sepuluh tahun yang lalu,
FLASBACK......,
" Ndayu ada seekor siput, apakah kau mau makan siput,?" tanya Raka Senggani kecil kepada Tara Rindayu kecil.
" Ahh, Ndayu tidak suka makan siput kakang,!" jawab gadis kecil itu sambil cemberut.
Tiba - tiba dari arah belakang datanglah seorang gadis kecil yg kurus , ceking dan sangat hitam dekil, ia adalah putri witana..
" Kakang Senggani, aku suka makan siput sawah itu, kalau dibakar sangat lezat rasanya,!" ucap Sari Kemuning kecil.
Kedua anak -anak itu menoleh kearah nya, dan Raka Senggani langsung menjawab,
" Kemuning kalau dirimu memang suka , nih kau bakar sendiri semuanya, kami akan pergi ke gubuk itu, " ucap Raka Senggani.
Anak kecil itu menyerah kan siput itu ke tangan Sari Kemuning, dan ia menarik tangan Tara Rindayu, kedua bocah itu kemudian naik keatas sebuah gubuk sawah.
" Kakaang, Kemuning jangan ditinggaliiiin," jerit Sari Kemuning.
Gadis kecil itu mencampakkan siput yg ada di tangan nya, ia berlari mengejar keduanya.
" Kemuning , kemuning,!" teriak seorang bocah laki -laki yang agak lebih besar.
Anak kecil itu menoleh kearah suara yg memanggil nya itu , dan ia pun menjawab,
" Ada apa Kakang Witangsa,?" tanya Sari Kemuning.
" Kau dipanggil oleh biyung, cepat kembali ,!" teriak bocah lelaki yg bernama Japra Witangsa itu.
" Ahh, ada apa biyung memanggilku, Kang,?" tanya gadis itu kepada kakak nya.
" Kakang tidak tahu , yg jelas biyung menyuruh untuk memanggilmu ,!" kata Witangsa.
Keduanya berjalan menuju ke sebuah gubuk sawah yg lain.
Sedangkan Raka Senggani dan Tara Rindayu sedang asyik memetik beberapa buah jagung, dan keduanya kemudian membakar nya.
" Kang tentu jagung ini sangat enak, berbeda dengan siput tadi, banyak lendirnya, " ucap Tara Rindayu.
" Akan tetapi kakang suka memakan siput sawah , apalagi lagi jika si mbok menggoreng nya.rasanya sangat renyah," jelas anak itu.
Keduanya asyik memakan jagung yg telah di bakar itu, akan tetapi karena keduanya keasyikan mengobrol jagungnya agak gosong.
Ketika Tara Rindayu mulai memakan nya, terlihatlah gigi dan mulut gadis kecil itu hitam semua.
" Ha, ha, ha, itu mulut apa arang," teriak Raka Senggani.
" Apa sih Kakang Senggani ini, apa yg ditertawakan,?" tanya Tara yg merasa aneh.
" Coba rindayu lihat di air parit itu, wajahmu seperti apa,!" seru Raka Senggani.
Gadis kecil itu segera turun dari gubuk itu dan langsung menuju parit sawah yg air nya cukup jernih.
Tara Rindayu segera mengarahkan wajahnya kearah parit itu, tiba-tiba dilihatnya mulutnya yg hitam karena makan jagung bakar yg agak gosong itu.
" Ha, ha,ha, kamu benar Kakang, ternyata mulutku hitam semua, " terdengar tertawa dsri gadis itu.
Ia langsung mengambil air dan membersihkan wajah nya.
Raka Senggani sendiri sedang asyik mengunyah jagung bakar itu. Dan terlihat mulut nya hitam sperti Tara Rindayu.
Setelah melihat hal itu, ganti Tara Rindayu yg tertawa,
" Ha, ha, ha, itu mulut kakang Senggani sangat kotor, sini Rindayu bersihkan,!" kata gadis kecil itu.
Ia pun membersihkan nya dengan menggunakan pakaian nya.
__ADS_1
" Ada apa Kakang Senggani mengapa Kakang tersenyum-senyum begitu,!" tanya Tara Rindayu.
" Ahhh, enggak , Kakang teringat sewaktu kita masih kecil, banyak kenangan yg telah kita lalui bersama,!" jelas Raka Senggani.
" Ooo, pantas sedari tadi Kakang Senggani hanya diam saja,!" ucap Tara Rindayu.
" Yah , Aku masih teringat ketika kita berdua makan jagung bakar yg gosong waktu itu,!" ungkap Raka Senggani.
Ia kemudian teringat ketika, sesaat kejadian yg telah menimpa kedua orangtuanya itu.
" Akan tetapi dua dari tiga pembunuh orang tuaku itu telah tewas , kira -kira siapa yg seorang lagi, mungkin Mpu Loh Brangsang itu mengetahui nya, suatu hari nanti aku akan menanyakan kepada nya,!" berkata dalam hati Raka Senggani.
" Baiklah Rindayu, marilah kita pulang, semakin lama disini semakin banyak kenangan yg terbayang, sungguh sangat menyesakkan dada,!" ajak Raka Senggani kepada Tara Rindayu.
" Marilah, nanti Kakang Senggani datanglah ke rumah , Romo sering menanyakan keadaan kakang Senggani,!" ucap Tara Rindayu.
" Yah , nanti kalau ada waktu senggang , Kakang akan kerumahmu , Ndayu,!" kata Raka Senggani.
Kedua orang itu pun segera meninggal kan tempat itu dan Raka Senggani , langsung pulang ke rumah Ki Lamiran.
Di rumah itu ia duduk sendiri, karena Ki Lamiran belum kembali dari pasar.
Ia duduk di amben bambu di depan rumah itu dan kembali terkenang peristiwa yg telah menimpa keluarga nya itu
-----------------
" Ngger , sebaiknya engkau segera tidur ,hari pun sudah malam,!" ucap Raka jaya kepada Raka Senggani yg masih kecil itu.
" Senggani masih ingin bersama Romo, !" jawab bocah itu.
" Tetapi si Mbok telah tidur, pergi sana temani Si Mbok mu itu,!" terdengar kata kata dari Raka Jaya.
" Senggani masih ingin di gendong sama Romo,!" rengek bocah itu lagi.
" Hussh, Senggani kan sudah besar sekarang , mana boleh minta gendong lagi,!" kata Raka jaya.
" Ngger, kemari ngger, temani Si Mbok tidur, jangan ganggu Romo mu itu,!" terdengar suara panggilan dari dalam bilik.
" Baik mbok,!" jawab Raka Senggani.
Ia pun langsung masuk ke dalam bilik itu.
Sementara diluar lolongan anjing hutan bersahut -sahutan menambah suasana malam itu kelihatan lain dari biasa nya.
Ditambah deru angin yg seperti nya akan turun hujan.
" Malam ini terasa gerah sekali apakah akan turun hujan,!" desah Raka jaya.
Ketika angin semakin kencang berhembus, tiba -tiba, terdengar suara ketukan pada pintu rumah Raka jaya itu.
" Hehh, Raka jaya keluarlah kami ingin berbicara,!" terdengar suara orang dari luar.
Raka Jaya terkejut ada orang yg telah mengetuk pintu rumah nya dan menyuruh nya untuk keluar. Ia masih diam saja.
Untuk kedua kali nya terdengar ketukan dengan suara yg lebih kuat,
" Cepatlah keluar Raka jaya, atau pintu ini akan kami hancurkan,!"
Raka Jaya tampak ragu, dilihatnya pada dinding rumahnya itu tersampir sebuah pedang dengan cepat ia mengambil nya dan berkata,
" Siapa kalian , apa perlunya malam -malam begini dstang kemari, lebih baik kalian datang esok hari,!" jawab Raka jaya.
" Kami memerlukan mu malam ini, keluarlah atau kalau tidak rumah ini akan kami bakar, kuhitung sampai tiga, jika pada hitungan ketiga kau tidak juga keluar jangan salahkan kami, jika rumah akan rata dengan tanah,!" ucap orang yg berada di luar itu.
Raka Jaya masih menimbang-nimbang akan membuka pintu itu atau membiarkan saja.
Sedangkan orang yg berada di luar rumah itu mulai menghitung,
" Satu, dua, ti...''
Belum sempat orang itu mengatakan tiga , Raka jaya berkata,
" Tunggu, aku akan keluar,!" teriak nya.
" Siapa mereka itu kakang ,?" tanya istri nya yg telah keluar dari bilik nya
" Entahlah Nyai , yg jelas mereka bermaksud tidak baik, jagalah Senggani, jangan keluar apa pun yg terjadi padaku,!" ucap Raka jaya kepada istrinya.
" Cepatlah , jangan membuat kesabaran kami habis, keluarlah,!" teriak orang itu lagi dengan suara yg keras.
" Baik, baik ,"
Raka Jaya pun menuju ke arah pintu dan dengan perlahan ia membuka pintu itu, ketika pintu terbuka ada sebuah tangan yg langsung menarik tangan dari Raka Jaya itu keluar dengan keras hingga menjatuhkan tubuhnya.
Pedang yg berada di genggaman nya sampai terlepas, sedangkan malam yg sangat pekat itu mulai turun hujan disertai cahaya halilintar yg menyambar.
Orang yg berada di luar rumah Raka jaya itu segera mengambil pedangnya, kemudian mengacungkan nya pada lehernya sambil berkata,
" Katakan kepada kami, dimana kau sembunyikan Keris Pusaka Kyai Condong Campur itu,!"
" Keris Kyai Condong Campur, aku tidak mengerti dengan pertanyaan kalian itu, aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu, " jawab Raka jaya yg berusaha untuk berdiri.
__ADS_1
Namun karena lehernya telah tertempel pedangnya , maka ia tidak bisa berdiri.
" Jangan membuat kemarahan kami memuncak, kami tahu kau telah menyimpan Keris itu disini, cepat serahkan kepada kami ,!" teriak orang itu sambil terus menempel kan ujung pedang itu di leher dari Raka Jaya.
" Aku tidak tahu, dimana keberadaan benda yg kalian tanyakan itu, sungguh aku berani bersumpah,!" kata Raka jaya lagi.
Tubuhnya sudah basah akibat hujan turun dengan deras nya.
" Kau bohong , kemarin kami melihat Raden Gagak Panggon datang kemari dan telah menyerahkan keris itu ke tangan mu, kau jangan pandai berbohong atau pedang ini akan berbicara,!" teriak orang itu
Orang yg memiliki sebelah matanya yg terlihat putih semua dan di bawah dagunya ada bekas luka sayatan.
Sedangkan dua orang teman nya terlihat berjaga , agar Raka jaya tidak dapat kabur.
" Kutanyakan sekali lagi, dimana kau sembunyikan Keris pemberian dari Raden Gagak Panggon itu,?" tanya orang yg bermata putih itu.
" Sungguh aku tidak mengetahui nya, walaupun kalian membunuhku, Aku tetap akan berkata tidak tahu, karena memang aku tidak mengetahui nya,!" jawab Raka jaya.
" Dhuuggh,"
Suara kaki orang itu yg menendang punggung Raka jaya, orangtua Raka Senggani itu sampai jatuh tertelungkup.
Ia berusaha bangkit dengan wajah berlepotan lumpur.
Sesàat Raka jaya akan bangkit , sebuah kaki menginjak punggung nya dengan keras sambil berkata,
" Cepat katakan dimana benda itu kau sembunyikan , atau kau dan seluruh keluarga mu akan mati,!"
Raka Jaya diam saja , karena setelah ia tidak mampu untuk bangkit, setelah orang itu menarik nya dengan menjambak rambut nya dan memalangkan pedang itu di lehernya, barulah Raka jaya menjawab,
" Sungguh aku tidak mengetahui nya, "
" Kau memang keras kepala Raka jaya, memang sebaiknya engkau ku kirim ke akherat, " ucap orang itu
Sedangkan di dalam rumah , Raka Senggani yg sudah tertidur itu segera terjaga setelah mendengar ribut -ribut yg terjadi di halaman rumahnya itu.
" Ada apa, Mbok, siapa mereka itu, mengapa mereka ingin membunuh Romo, mbok,?" tanya Raka Senggani.
" Ssssttthh, Ngger sebaiknya kau bersembunyi, ada orang jahat yg akan merampok rumah kita,!" jawab ibunya.
" Mbok, mereka perampok, apa tidak sebaik nya kita membunyikan kentongan agar para pengawal desa, mengetahui nya,!" ucap Raka Senggani kepada ibunya itu.
Ia masih mengintip darie balik pintu dan diiringi oleh ibunya itu.
" Mbok , kasihan Romo, apa salah Romo sehingga mereka akan membunuh nya,!" tanya Raka Senggani dengan nada sedih.
" Sudahlah Ngger, cepat engkau bersembunyi, jangan sampai mereka mengetahui keberadaan kita,!" seru ibunya kepada Raka Senggani.
" Mbok , Senggani tidak mau, Senggani ingin menolong Romo, Romo tidak bersalah,!" ucap Raka Senggani lagi.
Sedangkan di luar rumah, Raka jaya nampaknya sudah pasrah akan nasibnya, karena apapun yg dikatakannya ketiga orang itu tidak mempercayai nya.
" Kukatakan sekali lagi, dimana kau sembunyikan Keris Kyai Condong Campur itu, katakan atau memang kau sudah tidak menyayangi nyawamu lagi,!" kata orang yg bermata putih pada salah matanya itu dengan keras.
" Aku memang tidak mengetahui apa yg telah kalian tanyakan itu, kalau Raden Gagak Panggon memang sering kemari, tetapi tidak sekali pun pernah menitip kan suatu barang ataupun benda, terlebih sebuah pusaka yg berbentuk keris,!" jelas Raka jaya
" Kakang bagaimana ini, apa yg harus kita lakukan,?" tanya orang itu kepada teman nya.
" Bunuh saja, lalu kita geledah rumah itu,!" jawab seorang lagi yg di panggil kakang itu.
" Mungkin sudah nasibmu Raka jaya , berakhir di ujung pedang mu sendiri, kau tidak mau menunjukkan keberadaan kyai Condong Campur itu, terimalah ini,"
Orang yg bermata putih itu, segera menggorok leher dari Raka Jaya itu di saat hujan turun dengan deras nya di iringi cahaya halilintar yg sambar menyambar.
" Aaaaaakkhhhh,"
Teriakan dari mulut Raka jaya yg sangat menyanyat hati memecah kesunyian malam itu.
" Kakaaaaaaang,"
Teriakan dari mulut Nyai Raka jaya yg menghambur keluar dan memeluk tubuh sang suami yg sudah tidak bernyawa lagi, darah mengalir dari bekas luka sayatan pedang itu, cukup banyak yg keluar.
" Apa salahmu, Kang, sehingga mereka sampai hati membunuh mu,!" teriak Nyai Raka jaya itu.
Setelah puas menumpah kan isi hatinya diatas tubuh suaminya yg sudah tidak bernyawa itu, ibunda Raka Senggani bangkit dan menatap nanar kepada ketiga orang itu.
" Kalian kejam, sungguh tega kalian membunuh suamiku yg tidak mempunyai kesalahan kepada kalian, kubunuh kalian semua,!" teriak Nyai Raka jaya.
Ia memukul orang telah membunuh suami nya itu dengan tangan nya, tetapi tidak ada gunanya , karena tenaga nya tidak artinya bagi orang itu.
" Cepatlah adi, kita harus menggeladah rumah itu, sebelum para penduduk desa ini datang kemari,!" ucap orang yg dipanggil kakang itu.
" Baiklah kakang,!" ucap orang itu.
Bersamaan dengan selesai nya ucapan nya ia pun segera menebaskan pedang itu keleher Nyai Raka jaya itu.
" Aaaaaaakkkkkhhhh,"
Kembali suara menyayat hati dari teriakan ibunda Raka Senggani itu.
__ADS_1