
" Memang hebat pukulan dari Raden Abdullah ini, tetapi anehnya, Aku tidak merasakan sakit, malah serasa tenagaku semakin bertambah setelah terkena pukulan Raden Abdullah ini,!" berkata dalam hati Raka Senggani.
" Berhati-hatilah kakang Senopati, karena kami berdua akan menyerang mu dengan sepenuh hati, jika kakang Senopati lengah jangan salahkan kami jika harus mendapatkan pukulan kami, " seru Raden Abdullah Wangsa.
" Tidak masalah Raden, karena saya telah terbiasa mendapatkan pukulan, malah kalian berdua lah yg harus berhati-hati jika nanti pukulanku akan mengenai tubuh kalian berdua ," jawab Raka Senggani.
" Kami memang ingin mendapatkan pukulanmu itu kakang Senopati sekaligus untuk menguji ajian Tameng Waja milik kami," ucap Raden Arya Wangsa.
" Aku pun ingin ikut bersama Kangmas berdua , " teriak Raden Suryadi Wangsa.
Putra bungsu dari Pangeran Sabrang Lor itu pun masuk gelanggang pertarungan , dan ketiga Pangeran itu telah berhadapan dengan Senopati Pajang itu.
" Sebaiknya kalian berdua mundur terlebih dahulu , Kangmas ," seru Raden Suryadi Wangsa.
" Baiklah Dimas, kami berdua akan beristrahat sejenak, bukan begitu Dimas Abdullah,?" tanya Raden Arya Wangsa kepada adiknya itu.
" Baik Kangmas, untuk sementara kita beristrahat terlebih dahulu, biarlah Dimas Surya yg akan menghadapi kakang Senopati itu, " jawab Raden Abdullah.
Kedua Pangeran itu kemudian berjalan ke tempat duduk nya. Sementara Raden Suryadi Wangsa segera membuka kuda-kudanya bersiap untuk menyerang.
" Bersiaplah Kakang Senopati, Aku akan mulai , Hiyyah, " teriak Raden Suryadi Wangsa.
Ia pun langsung menyerang Raka Senggani, dengan sebuah pukulan tangan kosong mengarah ke perut dari Senopati Pajang itu.
Raka Senggani langsung melompat untuk menghindari serangan itu. Luput serangan dari Raden Suryadi Wangsa, membuat pangeran Demak itu langsung menyerang kembali dengan mengarahkan tendangan kaki kanannya ke arah dada Raka Senggani yg baru saja menjejakkan kakinya.
Mau tidak mau Raka Senggani memalangkan kedua tangan nya di depan dada untuk menahan serangan itu.
" Dhesskk,"
Raka Senggani nampak terdorong akibat benturan itu, namun serangan itu tidak berhenti sampai disitu, di susuli dengan tendangan berikutnya, sebuah tendangan memutar di berikan oleh Raden Suryadi Wangsa itu kearah kepala Raka Senggani, kembali Senopati Pajang itu harus menahan serangan itu dengan tepisan tangan kanannya, kembali benturan terjadi dan lagi -lagi , Raka Senggani harus terdorong, beberapa kali.
Namun makin sering benturan terjadi membuat tubuh Senopati Pajang itu semakin ringan , hingga gerakan nya pun makin cepat.
" Apakah ini ada hubungan nya dengan cincin Kanjeng Prabhu Brawijaya ini, !" berkata dalam hati Raka Senggani.
Tetapi ia terus mencoba beberapa kali memberikan balasan kepada Raden Suryadi Wangsa itu, dan hasil nya putra ketiga dari Pangeran Sabrang Lor itu harus dalam posisi bertahan.
Hingga suatu waktu, sambil menghindari serangan dari Raka Senggani, Raden Suryadi Wangsa melakukan lompatan-lompatan panjang untuk lepas dari kurungan Raka Senggani. Dan ia pun berhenti tidak melakukan serangan lagi.
" Memang Kakang Senopati sangat sulit untuk di kalahkan, " ucap nya .
Sambil memberikan isyarat untuk menghentikan latihan itu, ia berkata lagi,
" Ku kira latihan hari ini cukup sampai disini, kakang Senopati, besok kita lanjutkan lagi,!" ucap nya.
" Baik Raden, memang tubuh sudah penat semua akibat serangan Raden tadi,!". jelas Raka Senggani.
" Ahh, kakang Senopati terlalu merendah, padahal diriku , sudah sangat kesulitan untuk keluar dari kurungan tadi , beruntung aku bisa melepaskan diri, marilah kita bergabung dengan kangmas Arya Wangsa dan Kangmas Abdullah Wangsa, " ajak Raden Suryadi Wangsa.
" Mari Raden,"
Kedua orang itu kemudian berjalan menuju kedua Pangeran itu. Keempat nya kemudian bergabung dan bercerita pengalaman masing-masing.
" Kami hari sangat puas kakang Senopati ,!" ucap Raden Arya Wangsa.
" Benar Kangmas, baru kali ini kita mendapatkan lawan yg sepadan, dan tampaknya kakang Senopati belum mengeluarkan seluruh kemampuannya, mungkin besok kita akan mendapat latihan yg lebih berat yg akan di berikan oleh kakang Senopati, " ujar Raden Abdullah Wangsa.
" Ahh, Raden bertiga memang sangat-sangat tangguh, beruntung hari ini, saya tidak terluka, karena Raden bertiga nampak nya mengetrapkan ajian Tameng Waja, sulit rasanya untuk menembus pertahanan yg dilapisi oleh ajian itu, !" jawab Raka Senggani.
" Darimana kakang Senopati mengetahui bahwa kami mempergunakan ilmu Tameng Waja itu ,?" tanya Raden Suryadi Wangsa.
Putra paling muda dari Pangeran Sabrang Lor itu terkejut mendengar penuturan dari Raka Senggani itu.
" Tadi Raden Abdullah menyebutkan akan menguji ajian Tameng Waja itu," jawab Raka Senggani.
" Ohh, jadi Kangmas Abdullah telah mengatakan nya,?" tanya Raden Suryadi Wangsa kepada kakak nya itu.
Tampak kepala Raden Abdullah Wangsa mengangguk tanda mengiyakan.
__ADS_1
" Bukankah selama ini, hanya kita bertiga saja yg melakukan latihan, dan kita pun mempergunakan ilmu yg sama, jadi suatu kesempatan ketika harus bertarung dengan kakang Senopati kita bisa memamerkan ajian Tameng Waja itu," jelas Raden Abdullah Wangsa.
Raden Suryadi Wangsa nampak tersenyum mendengar penjelasan dari kakaknya itu. Memang mereka bertiga sering melakukan latihan bersama dengan ilmu dan jurus yg sama membuat ketiga nya kurang puas dengan hasil yg di dapat, dan ketika ada Raka Senggani sebagai lawan tanding nya, ketiga putra dari Pangeran Sabrang Lor yg masih sangat muda itu seperti mendapatkan lawan yg sepadan. Hingga mereka tidak tanggung -tanggung untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya karena lawan yg di hadapi adalah Senopati Pajang yg sangat terkenal di seantero tlatah Demak itu.
" Sebaiknya saya kembali ke bangsal keprajuritan Demak, mungkin Paman Tumenggung masih memerlukan saya ,!" ucap Raka Senggani.
Ia berniat kembali ke bangsal keprajuritan Demak guna membantu Tumenggung Bahu Reksa, karena Pendadaran kali ini , sangat sulit untuk mengatasi calon prajurit yg memiliki kemampuan yg cukup tinggi.itulah sebabnya Tumenggung Bahu Reksa memerlukan Senopati Brastha Abipraya itu untuk menanganinya.
" Kami kira , kakang Senopati lebih baik bermalam di kasatriaan ini, Kanjeng Romo berniat untuk bertemu dengan kakang ,!". ucap Raden Arya Wangsa.
" Memang sebaiknya kakang berada di kasatriaan ini, besok baru kembali ke bangsal keprajuritan,!" tambah Raden Abdullah Wangsa.
" Dan lagi pula jika Paman Tumenggung memerlukan bantuan kakang Senopati tentu ia telah menyuruh seorang prajurit untuk datang kemari memanggil kakang Senopati," ujar Raden Suryadi Wangsa.
Raka Senggani tidak dapat berkata kata lagi , tampaknya ketiga Pangeran putra dari Pangeran Sabrang Lor itu memaksa nya untuk tinggal di bangsal kasatrian dari Keraton Demak tersebut.
" Baiklah jika kalian bertiga memang memaksa biarlah untuk malam ini saya akan bermalam di kasatriaan ini,". ucap Raka Senggani.
Ketiga Pangeran itu tampak sangat senang, karena selain usia mereka terpaut tidak terlalu jauh dengan Senopati Pajang itu, Raka Senggani pun sangat enak untuk diajak berbicara, sehingga ketiganya menganggap tidak ada jarak diantara mereka. Karena kehidupan di Keraton sangat berbeda dengan kehidupan di luar Keraton.
Tirai penghalang diantara mereka dengan Raka Senggani sepertinya sudah tidak ada lagi, di tambah lagi, banyak pejabat kerajaan Demak yg sangat mempercayai Senopati Pajang itu termasuk Kakek mereka , Sang Sultan sendiri.
\*\*\*\*\*\*\*
Sementara itu di desa Kenanga sendiri, adalah Jati Andara putra sang Bekel dengan di temani oleh Japra Witangsa putra dari Ki Jagabaya tengah terlibat pembicaraan.
" Bagaimana ini Witangsa, apakah kita akan ke Pajang, guna melanjutkan latihan kita bersama Senggani,?". tanya Jati Andara.
" Sebaiknya memang begitu Andara, hitung -hitung , kita bisa melihat kota Pajang sekaligus menambah wawasan kita berdua yg sudah terlalu lama terkurung di Kenanga ini,!". jawab Japra Witangsa.
" Kapan kira -kira waktunya,?" tanya Jati Andara.
" Lusa , kurasa kita bisa berangkat,!" jawab Japra Witangsa lagi.
" Apakah Dwarani dan Kemuning kita ajak turut serta,?". tanya Jati Andara.
" Ahh, kalau masalah itu tergantung kepada kedua orang tua kita masing -masing , jika mereka mengizinkan , mereka berdua kita ajak turut, jika tidak , kita. tidak akan di permasalahkan oleh mereka berdua , " jelas Japra Witangsa.
" Mari , " kata Japra Witangsa.
Kedua pemuda itu kemudian kembali kerumah nya masing-masing. Karena jarak rumah keduanya berdekatan maka jalan mereka pun searah.
Tiba terlebih dahulu adalah Jati Andara , putra Ki Bekel itu langsung melihat Romo nya sedang duduk -duduk diatas pendopo.
" Apakah kau tidak akan singgah terlebih dahulu Witangsa ,?" tanya Jati Andara.
Putra Ki Bekel itu melihat Japra Witangsa terus melanjutkan langkah nya.
" Tidak, terima kasih , Andara, mungkin sebaiknya aku langsung pulang agar dapat menceriterakan ini kepada Romo,!" jawab Japra Witangsa.
" Baiklah kalau begitu,!" ucap Jati Andara.
Pemuda itu langsung masuk dari regol rumah yg berpagar itu.
Ia pun langsung naik keatas pendopo dan duduk di hadapan Ki Bekel.
Sementara Japra Witangsa terus pulang menuju rumah nya yg tidak terlalu jauh dari rumah Ki Bekel itu.
Jati Andara langsung mengutarakan maksud nya kepada Ayahnya itu.
" Begini Romo, tadi kami berdua dengan Witangsa telah membicarakan tentang kelanjutan latihan kami dengan Raka Senggani, jadi kami berdua telah sepakat untuk berangkat ke Pajang ," terang Jati Andara.
" Apakah kalian bersungguh -sungguh untuk melanjutkan latihan kalian itu ,?". tanya Ki Bekel.
" Kami bersungguh -sungguh, Romo, sayang disaat kami telah mencapai tataran seperti ini harus terhenti,!" jawab Jati Andara.
" Kapan rencananya kalian akan berangkat,?" tanya Ki Bekel lagi.
" Mungkin Lusa, Romo,". jawab Jati Andara.
__ADS_1
" Apakah Dwarani akan turut serta ,?" tanya Ki Bekel lagi.
" Kalau masalah adi Dwarani itu kami serahkan sepenuh nya kepada Romo, jika memang di izinkan kami ajak, jika tidak , terpaksalah akan kami tinggalkan,!". jawab Jati Andara.
Tampak Ki Bekel desa Kenanga itu berpikir , apakah ia akan melepaskan putri nya itu ke Pajang. Di tengah Ki Bekel sedang berpikir, tiba -tiba saja Dewi Dwarani nongol dan langsung duduk di dekat Romo nya itu.
" Romo harus mengizinkan Rani untuk berangkat ke Pajang , Romo jangan pilih kasih, jika kakang Andara di perbolehkan, Rani pun harus boleh,!". seru Dewi Dwarani.
Putri Ki Bekel itu sambil menarik -narik lengan sang ayah , kelakuan nya sperti bocah yg ingin di belikan mainan.
" Rani, kau adalah putri Romo satu -satunya, jika kau akan berangkat ke Pajang siapa yg akan menolong biyung mu itu,!" ucap Ki Bekel.
" Romo kan bisa minta tolong kepada bi warseh untuk membantu biyung,!". jawab Dewi Dwarani.
" Nantilah Romo pastikan, apakah kau akan ikut atau tidak , Nduk," ujar Ki Bekel lagi.
.
" Mengapa nanti Romo, harus, harus, Rani akan ikut ke Pajang," rengek Dewi Dwarani.
" Nanti , setelah Romo dan Ki Jagabaya berbicara terlebih dahulu, apakah ia akan melepaskan Sari Kemuning turut serta pula, baru kau akan mendapatkan keputusan,!". jawab Ki Bekel.
Sementara di rumah Ki Jagabaya, ia pun tengah dihadapi oleh kedua putra dan putrinya itu.
" Jadi keputusan kalian berdua telah bulat untuk melanjutkan latihan kalian itu di Pajang , Ngger,?". tanya nya kepada Japra Witangsa.
" Benar Romo, karena Romo telah lihat sendiri , saat kita harus berhadapan dengan gerombolan Singo Lorok itu, kita berdua telah terluka , entah apa jadinya jika waktu itu Raka Senggani tidak berada disini, mungkin kita berdua telah jadi mayat,!". jawab Japra Witangsa.
" Aku ikut kakang Witangsa ,!" kata Sari Kemuning menyela pembicaraan.
" Kalau persoalan mu, Kemuning , kakang serahkan kepada Romo, jika Romo mengizinkan kau boleh ikut, jika tidak kau harus tinggal disini,!" ucap Japra Witangsa.
" Romo , Kemuning harus ikut, !". seru Sari Kemuning kepada Ki Jagabaya.
" Witangsa, apakah Dwarani akan turut serta pula ke Pajang ,?" tanya Ki Jagabaya kepada anaknya itu.
" Menurut Andara itu tergantung kepada Ki Bekel,!". jawab Japra Witangsa lagi.
" Dwarani pasti ikut Romo, jadi Kemuning pun akan ikut,!" seru Sari Kemuning lagi.
" Nanti dulu , Nduk, belum tentu Ki Bekel akan melepaskan putri nya itu ke Pajang,!" jawab Ki Jagabaya.
" Baik, keputusan Romo tergantung kepada keputusan dari Ki Bekel, jika ia mengizinkan Dwarani pergi, kau pun boleh ikut, jika tidak, kau harus tetap disini membantu si mbok mu," jelas Ki Jagabaya.
" Ahhh, Romo tidak adil dan pilih kasih," ucap Sari Kemuning.
" Baiklah , Romo akan ke rumah Ki Bekel terlebih dahulu membicarakan masalah ini,!". ucap Ki Jagabaya.
Orang nomor satu masalah keamanan desa Kenanga itu kemudian melangkahkan kakinya keluar menuju rumah Ki Bekel yg tidak terlalu jauh dari rumah nya itu.
" Assalamualaikum,"
" Waalaikumsalam,"
Jawab Ki Bekel dari atas pendopo itu.
" Mari silahkan masuk Ki Jagabaya, tepat sekali telah datang kemari,!". ucap Ki Bekel.
" Iya Ki Bekel, aku datang kemari ingin membicarakan tentang anak -anak kita ini,!". jawab Ki Jagabaya.
" Jadi bagaimana menurtmu Ki Jagabaya, apakah kau akan melepas kepergian Sari Kemuning ke Pajang ,?" tanya Ki Bekel.
" Itulah yg akan Ku tanyakan kepada Ki Bekel, apakah Dwarani akan turut serta ke Pajang, menemani kakak -kakak nya itu,?". tanya Ki Jagabaya.
" Bagaimana menurut mu,?" tanya Ki Bekel lagi.
" Kalau menurut ku memang sudah selayaknya mereka melanjutkan latihan mereka itu di Pajang sesuai permintaan dari Angger Senggani,!". jawab Ki Jagabaya.
" Itu artinya kau akan melepas kepergian Sari Kemuning ke Pajang,?" tanya Ki Bekel.
__ADS_1
" Begitulah kiranya , karena saat ini pun keadaan kerajaan Demak tidak menentu sudah selayaknya kita dapat menjaga keamanan desa Kenanga ini atas kemampuan kita sendiri, berdasarkan pengamatan dan pengalaman kita waktu itu, jika tidak ada Angger Senggani disini, mungkin Kenanga telah habis dijarah oleh gerombolan Singo Lorok itu,!" ucap Ki Jagabaya.
Bekel desa Kenanga itu terlihat manggut -manggut tanda membenarkan.