
Setelah selesai melakukan perawatan Raka Yantra dalam bilik yg di sediakan oleh Ki Gede Mantyasih.
Lantas Senopati Pajang ini keluar dari sana, ia menemui penguasa tanah Perdikan Mantyasih itu seraya berkata,.
" Mohon maaf sebelumnya Ki Gede, berhubung kesehatan dari Kakang Yantra belum juga membaik dan masih harus menjalani pengobatan lanjutan, izinkanlah Senggani membawanya ke rumah Kakang Lintang Sandika,..!" ucapnya.
" Hehh, mengapa harus demikian Angger Senopati, biar saja saudara mu itu tetap berada disini , bukankah ia belum sadarkan diri,..?" tanya Gede Mantyasih heran.
Raka Senggani terdiam mendengar penuturan dari Ki Gede Mantyasih itu , ada rasa kurang mapan pada dirinya , dimana saat ini Ki Gede Mantyasih akan melangsungkan hajatan nya untuk menikahkan putranya Rasala dengan seorang gadis dari tanah perdikan Banyu Biru, sedangkan keadaan dari Raka Yantra lumayan parah, jika terjadi hal sesuatu yg tidak di inginkan tentu dapat membatalkan hajatan tersebut.
Adalah orang tua yg memiliki kemampuan mengenai ilmu perobatan yg ada di Mantyasih itu yg angkat bicara.
" Begini Ki Gede,. Angger Senopati ini masih membutuhkan sesuatu untuk mengobati saudaranya tersebut, karena memang keadaannya cukup parah , ilmu dari murid Ki Jarie Mendep itu ternyata mengandung racun yg sangat membahayakan , sehingga jika tidak segera di tolong akan dapat membahayakan keselamatan jiwanya, Angger Senopati ini merasa tidak enak hati jika kelangsungan dari hajatan yg Ki Gede laksanakan itu terkendala karenanya,..!" terang Si Mbah Katir, orang tua yg memiliki ilmu pengobatan dari Mantyasih tersebut.
Orang tua yg sangat di hormati di tanah Perdikan Mantyasih ini pun cukup memiliki pandangan yang luas mengenai keadaan orang yang tengah ia obati tersebut.
Hahh, tampaknya memang akan sangat sulit untuk menyelamatkan nya jika tidak menemukan salah satu benda yang bisa mengatasi racun tersebut, berkata dalam hati orang tua tersebut.
" Jadi maksud Ki Katir, saudara dari Angger Senopati itu tidak dapat di selamatkan, begitu,..?" tanya Ki Gede Mantyasih tidak percaya.
" Heehhh,..!"
Sambil mendesah panjang orang tua itu menyambung kembali ucapan nya,.
" Memang kekuasaan berada di tangan yg Maha Pencipta, akan tetapi tidak ada yg tidak mungkin jika ia menghendaki nya, kita selaku makhluknya diperintahkan untuk berusaha, memang dalam sisi penglihatan ku si orang bodoh ini, kondisi dari saudara Angger Senopati itu memang sangat sulit untuk di tolong , Ki Gede , akan tetapi meski begitu masih ada satu cara yang dapat diambil sebagai obatnya jika Angger Senopati mampu melakukan nya,..!" terang Si Mbah Katir lagi.
" Apa itu , Ki,..?" tanya Ki Gede Mantyasih penasaran.
Kemudian lelaki tua ini pun menyebutkan bahwa di tanah Perdikan Banyu Biru tepat nya di Rawa Pening masih ada seekor hewan yg mampu melunturkan racun tersebut, akan tetapi binatang itu merupakan sesuatu yg sangat sulit untuk di dapatkan.
" Maksudmu Ikan gabus bersisik emas itu, Ki Katir,..!" seru Ki Gede Mantyasih terkejut.
Memang sudah sangat lama ada semacam legenda di tanah Perdikan Mantyasih dan sekitarnya bahwa ada seekor ikan yg bersisik emas yg menjadi pengawal atau pun penjaga Rawa yg berair jernih tersebut.
Menurut yg di dengar , ia adalah penjelmaan dari makhluk halus yg bertugas menjaga keberadaan dari penguasa ataupun merupakan binatang peliharaan dari para penguasa alam halus yang berada di tempat tersebut.
" Begitulah , Ki Gede, memang binatang itu sudah semacam legenda saja, ia banyak di bicarakan namun sangat sulit untuk di temukan,.!" sahut si Mbah Katir.
Penguasa tanah Perdikan Mantyasih ini diam mendengar ucapan dari Orang tua tersebut, memang akan sangat sulit untuk menemukan apa yg mereka bicarakan ini, seekor binatang yang tidak di ketahui apakah memang ada atau hanya ngaya wara saja.
" Untuk itulah Ki Gede, Senggani akan membawa kakang Raka Yantra ke kediaman kakang Lintang Sandika agar tidak mengganggu kelanjutan hajatan Kj Gede sekeluarga,..!" jelas Raka Senggani.
Penuturan dari Senopati Brastha Abipraya ini membuat Gede Mantyasih berpikir sejenak sebelum ia berkata, karena kemudian Raka Senggani melanjutkan ucapannya lagi,.
" Mungkin nanti sore Senggani akan segera ke Rawa Pening guna mencari ikan gabus tersebut sesuai permintaan dari Mbah Katir,..!" ucapnya.
" Begini saja , Ngger,.untuk malam ini biarlah kakak mu itu tetap berada disini, jika besok sore ia masih belum sadarkan diri barulah ia di bawa ke kediaman Angger Sandika, karena saat ini pun keadaan belum menentu , terlebih dari ucapan Ki Katir tadi, bahwa ternyata orang yang melukai dari kakak mu murid Ki Jarie Mendep,.orang yang sangat berilmu tinggi, ia merupakan saudara seperguruan dari Resi Brangah yg berasal dari Blambangan, jadi untuk malam ini biarlah ia berada disini,. !" ungkap Ki Gedhe Mantyasih.
" Baiklah kalau begitu, Ki Gede, izinkanlah Senggani berangkat ke Banyu Biru, agar secepatnya mendapatkan apa yg diminta oleh Mbah Katir ini, jika memang berjodoh tentu akan di mudahkan untuk menemukan nya,.!" ujar Raka Senggani.
Ia bangkit berdiri siap untuk berangkat menuju ke Rawa Pening.
" Silahkan, Ngger,..mudah mudahan memang berjodoh,..!" sahut Ki Gede Mantyasih.
Segera saja Raka Senggani turun dari pendopo rumah Ki Gede tersebut, akan tetapi dari arah belakang menyusullah Lintang Sandika.
" Adi Senggani biarlah Kakang menyertaimu ke Banyu Biru,..!" ucap nya kepada Raka Senggani.
" Tidak kakang, lebih baik diirimu tetap berada disini, akan sangat berbahaya sekali jika penculik itu masuk kembali kemari tanpa ada orang yg mampu mencegahnya, Senggani berharap Kakang Sandika mampu melakukan nya sekaligus untuk menjaga keadaan dari Kakang Yantra,..!" terang Raka Senggani menjelaskan.
Ia memang tidak ingin di temani ke Banyu Biru, selain akan memperlambat perjalanan, tentu akan mengurangi kemampuan pengawal tanah Perdikan Mantyasih jika ia mesti ikut pula.
" Kakang , Senggani pamit,..!" ucap Senopati Brastha Abipraya ini setelah ia melihat kakak angkatnya menerima penjelasan tadi.
" Berhati hatilah, adi Senggani,.. sayang kakang tidak kau izinkan untuk menemanimu, meski yg adi katakan itu benar,..!" sahut Lintang Sandika.
Tidak menunggu lama, Raka Senggani segera melangkah pergi meninggalkan kediaman dari Gede Mantyasih ini.
Setelah berada cukup jauh dari sana, dan jalanan pun agak sepi dengan cepat Senopati Brastha Abipraya ini mengerahkan tenaga dalam nya dan juga ilmu peringan tubuhnya untuk berlari cepat menuju ke Rawa Pening.
__ADS_1
Jarak yang lumayan jauh yg harus di tempuhnya sehingga dengan kemampuan nya, sang Senopati mengerahkan nya untuk segera sampai disana.
Mudah mudahan sebelum tengah malam Senggani telah sampai di Banyu Biru, berkata dalam hati Raka Senggani.
Bagaikan terbang Senopati Brastha Abipraya melesat cepat menuju arah barat memang saat itu hari telah sore, lembayung nampak tengah mewarnai ufuk sebelah barat.
Tanpa berhenti , terus saja ia berlari meski malam telah tiba di alam mayapada.
Memang hati Raka Senggani terasa tidak menentu akibat keadaan kakak sepupu nya itu.
Padahal pada awalnya ia kurang menerima sikap nya namun setelah melihat nya dalam sekarat hatinya pun menjadi iba.
Rasa sedih dan kesal berbaur dalam hati sang Senopati.
Tepat pada saat Wayah sepi bocah dirinya tiba di tanah Perdikan Banyu Biru. Akan tetapi Senopati Brastha Abipraya ini tidak singgah disana, ia meneruskan perjalanan nya langsung ke Rawa Pening.
Setibanya disana , diatas sebongkah batu besar Raka Senggani berhenti, ia tampak bingung menatap rawa yg sangat luas tersebut.
Kemana aku akan mencari ikan tersebut, kenapa tadi aku tidak menanyakan kepada si Mbah Katir , ucap Raka Senggani dalam hatinya.
Di tatap nya air yg berada di Rawa tersebut, ia memang berusaha untuk menembus nya dengan aji Ashka pandulunya ke kedalaman air dan berusaha untuk mencari ikan yg diinginkan Mbah Katir sebagai obat kakak sepupu nya itu.
Hehh, tidak ada yg dapat kulihat selain hanya ikan ikan biasa saja,.berkata lagi Raka Senggani dalam hatinya.
Ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling tempat tersebut.
Bagaimana caranya diriku mendapatkan nya, seolah bertanya pada dirinya sendiri .
Raka Senggani memang bertambah bingung, tanpa sadarnya ia meraba kebutan , yg biasa ia bawa kemana mana dan merupakan pemberian dari penguasa alas Siroban.
Dan begitu ia mengangkatnya , di lihatnyalah benda tersebut sambil berujar,.
" Mengapa diriku tidak menanyakan hal ini kepada ki Klamprah,..!" serunya kaget.
Raka Senggani memang telah berteman dengan penguasa alas Siroban yg ia taklukan itu.
Perlahan namun pasti Senopati Brastha Abipraya kemudian melakukan semadi, ia beberapa kali mengucapkan nama Ki Klamprah, hingga panggilan ketiga maka tempat tersebut bergemuruh seperti sedang di landa badai.
Angin bertiup dengan kencangnya hingga membuat rambut Raka Senggani terurai ke belakang, namun dengan kokohnya sang Senopati duduk di atas batu tersebut.
" Whushhh,.!"
" Ada apa Raden memanggilku,..!"
Tiba tiba saja di depan tubuh Raka Senggani telah berdiri sesosok makhluk yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian serba hitam dan tiada lain adalah Ki Klamprah bersamaan itu pula angin di tempat tersebut berhenti mendadak.
" Aku memerlukan bantuan mu, Ki,..!" jawab Raka Senggani sambil membuka matanya.
" Apa yg mesti kulakukan, Raden,..?" tanya Ki Klamprah kepada Raka Senggani.
" Diriku membutuhkan sesuatu dari dalam Rawa ini, !" ucap Raka Senggani.
" Apa itu,..?" tanya Ki Klamprah.
" Ikan gabus bersisik emas , Ki,..dan berada dalam rawa ini,..!" sahut Raka Senggani.
" Suatu pekerjaan yang cukup sulit,.hehh,.!" seru Ki Klamprah.
" Sulit,..?" tanya Raka Senggani tidak mengerti.
Baru kemudian Ki Klamprah menjelaskan mengapa ia mengatakan demikian karena tempat itu memang bukan wilayah kekuasaan nya, tempat tersebut di kuasai oleh penguasa yg bernama Ki Naga Bharu dan memiliki kemampuan sangat tinggi.
" Apakah dirimu tidak mampu menghadapinya , Ki,..?" tanya Raka Senggani.
Ki Klamprah tidak menjawab pertanyaan dari Senopati Pajang itu, ia membalik mengarah ke tengah Rawa tersebut.
" Begini saja Raden, bagaimana jika diriku memberikan petunjuk arah dan tempatnya, nanti dirimu sendirilah yang meminta kepadanya, diriku enggan untuk bersinggungan dengan nya,..!" ucap Ki Klamprah .
" Baiklah, tunjukkan saja , biar nanti aku sendiri yang akan mencoba mengambilnya,..!" sahut Raka Senggani.
__ADS_1
" Tunggulah sebentar,..!" ucap Ki Klamprah.
Penguasa alas Siroban ini melangkah agak ke tengah Rawa tersebut, namun seolah ia melayang diatasnya tanpa menyentuh air.
" Hufhhh,..!"
" Whuoooshhh,..!"
Dan segera saja Ki Klamprah menggerakkan tangan nya seperti sedang mengibas, serangkum angin dahsyat menerjang air yg ada di Rawa tersebut.
Kekuatan nya mampu membuat air tersebut berputar seperti sedang dilandai badai tornado.
Baru setelah ia tidak menggerakkan lagi tangannya , keadaan tempat tersebut kembali tenang.
Raka Senggani yg tetap melihat ke arah tengah Rawa dimana Ki Klamprah memutarnya tadi langsung saja berteriak kaget setelah menangkap sesuatu oleh pandangan matanya.
" Itu dia , Ki,.. itulah ikan gabus bersisik emas tersebut,.!" teriak nya girang.
Memang Raka Senggani berhasil melihat beberapa ikan yg sedang berenang setelah Ki Klamprah selesai mengibaskan tangannya tadi.Sangat jelas sekali Senopati Pajang ini melihatnya.
Karena seolah olah hewan tersebut mampu mengeluarkan cahaya dari sisik nya.
" Aku harus segera mengambilnya,..!" seru Raka Senggani yg bangkit dari duduki.
Namun sebelum ia bergerak, Ki Klamprah berpesan,.
" Hati hati dengan penjaga binatang tersebut, pintalah secara baik-baik , mudah mudahan ia mau memberikannya tanpa harus membuatnya marah,..dan aku pamit Raden,..!" ucap Ki Klamprah.
" Whushhh,..!"
Belum pun sempat Raka Senggani menjawab nya, sosok dari Ki Klamprah itu telah lenyap.
Pandangan mata Senopati Brastha Abipraya ini di arahkan kembali ke tengah Rawa yg ada beberapa ikan gabus bersisik enas yg lagi tengah berenang.
Beruntung , di tempat tersebut sepertinya ada beberapa rumpon, itu bisa membuat ku bertahan disana, berkata dalam hati Raka Senggani.
" Hufhhh,..!"..
" Hiyyahh,..!"
Raka Senggani langsung melesat ke arah tempat tersebut, dengan mengemposi tenaga dalamnya disertai ilmu peringan tubuhnya yg sangat tinggi itu maka melesatlan tubuhnya menuju tempat tersebut.
Dalam kejapan mata saja dirinya telah tiba di tengah rawa yg ada ikan gabus yang di carinya itu.
Senopati Pajang ini mampu berdiri di atas rumpon yg terpasang di tempat itu, dan tidak terlalu jauh dari situ banyak pula terdapat enceng gondok dan teratai.
Bagaimana menangkapnya, bertanya dalam hati Raka Senggani.
Ia mulai menyadari bahwa sangat sulit untuk tetap berada di tempat tersebut hanya menggunakan ilmu peringan tubuhnya, sehingga secepatnya ia berusaha untuk mengambil apa yg menjadi salah satu pengobat dari kakak sepupu nya, Raka Yantra ini.
"Hufhh,..!"
Raka Senggani langsung saja melesat masuk ke dalam air guna menangkap ikan gabus tersebut.
" Bleghuaaarr,..!"
" Hufhhh,..!"
Akan tetapi baru saja ia menyentuh air itu tiba tiba saja sebuah kekuatan maha dahsyat melontarkan nya kembali.
Sangat kuat tenaga yg mwndoronganya ini hingga melenparkan nya kembali ke tepian rawa, ke tempatnya semula.
Gila, berkata dalam hati Raka Senggani yg jatuh terduduk setelah mendapatkan lontaran yg sangat keras dari arah dasar Rawa tersebut.
" Whushhh,..!"
" Ha, ha ,ha, siapakah kau manusia, apakah memang sudah bosan hidup, berani mengganggu binatang peliharaan dari tuan kami,..!" ucap sesosok makhluk yang sangat besar.
Dan telah berada di dekat Raka Senggani duduk.
__ADS_1