Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 9 Sentuhan bag ketiga.


__ADS_3

Orang yg berpakaian jubah biksu itu berkata lagi ,


" Entah apa maksudnya Resi Yaramala itu ingin mengambil Pusaka Kyai Sepanjang itu, padahal benda itu merupakan kunci bagi kehidupan alam lelembut dan para jin di tanah ini,"


" Mungkin mereka berkeinginan agar tanah jawa ini kembali di kuasai oleh bangsa jin, guru,". sahut Kebo Watan.


" Boleh jadi, dan yg kutahu dari kakak seperguruan ku itu bahwa Resi Yaramala itu memang memilki kekuatan sihir dan mampu pula menaklukan para jin," jelas orang berpakaian jubah biksu itu.


" Dan kuingatkan kepada kalian semua, bahwa ketika harus berhadap -hadapan dengan mereka, upayakan tidak usah menatap mata nya,," sebut orang itu lagi.


" Apakah memang Resi Yaramala itu sungguh sakti guru,?" tanya salah seorang murid nya.


" Berdasarkan kabar yg Ku dengar memang demikian, Lembu Giring,". jawab sang guru.


Orang yg berpakaian jubah biksu itu terlihat menarik nafas panjang, ia sempat mengenang beberapa peristiwa di masa silam.


" Namun sesakti apa pun orang itu jika berada di jalan yg salah tentu segala perbuatan pasti akan ada yg merintangi nya, dan di Demak ini, sangat banyak orang -orang sakti yg dapat menghambat usaha nya itu,". kata sang biksu lagi.


" Apakah pemilik pusaka Kyai Sepanjang itu tidak ada lagi guru,?". tanya Kebo Watan.


" Yang kudengar ia telah tiada, ia merupakan penguasa daerah Pengging," jawab sang biksu lagi.


" Bukankah penguasa Pengging saat ini adalah Ki ageng Pengging guru,?" tanya Lembu Giring.


" Benar, tetapi keturunan kedua, karena Putra pemilik dari Kyai Sepanjang itu adalah Ki ageng Pengging sepuh," jawab nya.


" Tidak kah mereka akan marah dan tidak akan rela jika benda milik sesepuh nya itu diambil atau di curi,?" tanya Kebo Watan.


" Itulah yg aku tidak mengerti apakah Pengging akan mengirimkan utusan nya kemari untuk melarang pengangkatan benda pusaka itu,!" sahut sang biksu.


Biksu itu tampak termenung memikirkan sesuatu, ia berkata lagi,


" Saat ini Pengging dan Demak tampak nya kurang akur alias tidak sepaham, padahal jika mereka bersatu tentu Demak ini dapat sekuat Majapahit seperti waktu yg dahulu,!" sebut Biksu itu.


Biksu yg bernama Mandrayana merupakan biksu yg cukup terkenal di tanah jawa itu. Ia tampak sudah cukup sepuh , dari raut wajah nya terlihat ketenangan.


" Apakah Kanjeng Sunan Kalijaga, akan mampu mengatasi Resi Yaramala itu, guru,?" tanya Kebo Watan.


" Mungkin akan sanggup mengatasi Si Yaramala itu tetapi yg menjadi pertanyaan, apakah ia akan sudi datang ke tempat ini, karena disini telah hadir banyak orang dari kalangan dunia persilatan, banyak yg menginginkan benda pusaka itu,". sahiut Biksu Mandrayana.


" Mudah -mudahan kakang biksu Maha Gelang hadir tepat pada waktu nya," tukas nya lagi.


" Apakah paman guru itu bersedia hadir kemari guru, bukankah tibet cukup jauh dari sini,?" tanya Kebo Watan.


" Ia memang telah berjanji datang jika , Resi Yaramala itu datang kemari," sahut Biksu Mandrayana.


" Adakah persoalan antara kedua nya , guru,?". tanya Lembu Giring.


" Paman Guru kalian itu memang memiliki persoalan pribadi dengan Resi Yaramala itu, masalah perempuan,!". jawab sang Guru.


" Pantas, sehingga ia jauh -jauh datang kemari," ujar Lembu Giring.


" Kalian berdua , andanu dan andana, harus cepat tanggap dalam segala keadaan karena saat ini di Mantyasih ini sudah menjadi tempat yg cukup berbahaya, untuk kalian dan untuk kalian semua,". jelas Biksu Mandrayana.


Kepada dua orang murid kembarnya yg masih berusia muda itu .


" Baik , Guru,". jawab Andanu dan Andana bersamaan .


Sudah terlihat kegiatan yg berlebihan di tanah Perdikan Mantyasih itu, termasuk para pengawal tanah perdikan, setiap hari terus berlalu lalang mengawasi keadaan di tanah perdikan itu.


Di arah barat , di dekat sebuah air terjun tampak sesosok perempuan tua dengan tongkat berkepala tengkorak bersama dengan seorang gadis csntik namun berwajah bengis.


Kedua orang itu merupakan Guru dan murid, yg perempuan tua itu bernama Nyi Ronce sedangkan murid nya bernama Sruni.


" Sruni, apakah dirimu telah mampu menguasai aji pemikat itu,?". tanya Nyi Ronce kepada Sruni.


" Murid telah mampu menguasainya, Guru," sahut Sruni.


" Kita harus memanfaatkan kesempatan ini agar dapat menaklukan para Pendekar kelas wahid ini, Sruni," ujar Nyi Ronce.

__ADS_1


" Apakah mungkin itu Guru, karena disini telah hadir nama -nama seperti , Macan Baleman, Singo lorok, Biksu Mandrayana dan muridnya belum lagi guru -guru mereka," ungkap Sruni.


" Ahh, kau tahu apa Sruni, lelaki itu paling mudah di taklukan,". jawab Nyi Ronce.


" Maksud guru,?" tanya Sruni.


" He, he, he, heeh, kelemahan para lelaki itu adalah seorang perempuan, oleh sebab itu kau , aku tanya apakah telah mampu menguasai aji pemikat itu, jadi sesakti apa pun orang itu, jika harus berhadapan dengan mu tentu akan bertekuk lutut," jelas Nyi Ronce.


" Guru, bagaimana dengan tokoh dari Hindustan itu, bukankah ia merupakan tokoh tua yg sangat sakti, apakah mungkin dikalahkan,?" tanya Sruni lagi.


" Kau jangan khawatir Sruni, tampak nya Resi Yaramala itu akan mendapatkan lawan yg seimbang dari Tibet," jelas Nyi Ronce lagi.


" Dengan siapa guru,?" tanya Sruni lagi.


" Dengan seorang Biksu dari Tibet yg bernama, Biksu Maha Gelang dan yg ku dengar Biksu itu memilki dua senjata aneh yg berbentuk gelang waja yg cukup besar,". sahut Nyi Ronce.


" Berarti akan ada banyak benturan yg terjadi di puncak Gunung Tidar ini, Guru," kata Sruni lagi.


" Itu yg kita tunggu dengan banyak nya tokoh -tokoh sakti yg bertarung tentu akan memudahkan kita menguasai senjata pusaka itu," kata Nyi Ronce lagi.


" Apa hebat nya tombak Kyai Sepanjang itu, Guru,". tanya Sruni.


" Karena pusaka itu lah maka para jin dan lelembut disini mampu ditangani, bagi siapa pun yg mampu memegang nya akan mampu menguasai para jin tersebut,". jawab Nyi Ronce.


" Wah, hebat ya , Guru, jika kita mampu menguasainya," seru Sruni.


" Tugasmu lah nanti nya untuk menundukkan siapa pun yg berhasil memegang senjata pusaka itu," sahut Nyi Ronce lagi.


" Siap , Guru,". jawab Sruni.


Gadis itu terlihat berkeyakinan dapat melaksanakan perintah gurunya itu.


Di tanah perdikan Mantyasih, di rumah ki Gede, Rasala putra dari Ki Gede itu tengah memberikan arahan kepada para pengawal tanah perdikan itu.


" Mungkin tidak sampai dua pekan lagi, kita akan menghadapi suatu kejadian yg sangat langka, yaitu kehadiran para tokoh persilatan yg akan memperebutkan pusaka Kyai Sepanjang itu,," ucap nya.


" Dan sudah menjadi tugas kita untuk menjaga Mantyasih ini dari tangan -,tangan orang yg tidak bertanggungjawab, keamanan tanah perdikan ini berada di tangan kita semua," ungkap nya lagi.


" Bagaimana jika para tokoh -tokoh persilatan itu tiba -tiba menyerang kemari , Rasala,?" tanya Kepala pengawal tanah perdikan Mantyasih itu.


" Wirya, jika memang mereka akan mencoba mengganggu ketenangan Mantyasih ini, kita harus bersatu padu untuk melawan nya, meskipun mereka memiliki kesaktian yg tinggi jika harus berhadapan banyak lawan tentu mereka akan kesulitan dan lagi tidak semua merupakan golongan hitam masih banyak juga dari golongan putih yg dapat di mintai bantuan nya," sahut Rasala.


" Seperti yg telah kami dengar bahwa seorang tokoh golongan hitam yg bernama Chandala Gati pun telah hadir di sini," kata Kepala pengawal tanah perdikan Mantyasih yg bernama Wirya itu.


" Memang aku pun telah mendengar akan hal itu, tetapi kita tidak usah terlalu khawatir karena rombongan Biksu Mandrayana dan anak muridnya pun telah ada disini," balas Rasala.


Ia kemudian berkata kepada Kepala pengawal tanah perdikan itu lagi,


" Hubungi Biksu Mandrayana itu dan katakan kepadanya Romo mengundang nya untuk datang kemari,"


" Baik Rasala," jawab Wirya.


Dan Kepala pengawal tanah perdikan Mantyasih itu akan melangkah pergi, tetapi tiba -tiba ia dipanggil lagi oleh putra Ki Gede itu.


" Ehhh, tunggu dulu, Wirya, apakah kau telah mengirimkan utusan untuk meminta bantuan dari Pajang itu,?" tanyanya.


Sambil menghentikan langkah nya, Wirya membalikkan badan nya lagi dan menatap putra Ki Gede itu.


" Sudah, anggono telah aku utus ke Pajang guna menyampaikan permintaan Ki Gede ,. Rasala," jawab Wirya.


" Bagus Wirya, karena Romo memang menanyakan hal itu, waktu yg dua pekan ini sedapat mungkin kita man faatkan untuk menggalang kekuatan untuk mengatasi akibat yg akan terjadi,. disini," ungkap Rasala.


" Tidak ada perintah Ki Gede yg harus ku kerjakan lagi,?" tanya Wirya.


" Tidak ada Wirya, cepatlah hubungi Biksu Mandrayana itu, suruh ia datang kemari,," kata Rasala.


Putra Ki Gede itu kemudian beranjak dari situ. Ia langsung menghadap orang tuanya, Ki Gede Mantyasih.


Ki Gede sendiri tengah berada di ruang dalam rumahnya.

__ADS_1


" Apakah kau telah memanggil Biksu Mandrayana itu, Rasala,?" tanya Ki Gede.


" Sudah, Romo, mudah mudahan ia akan kemari sebentar lagi," jawab Rasala.


" Dan bagaimana dengan utusan ke Pajang apakah telah kau kirim juga,?" tanya Ki Gede lagi


" Itupun telah aku kerjakan Romo," jelas Rasala


" Mudah -mudahan tidak akan ada singgungan antara tokoh -tokoh persilatan itu dengan tanah perdikan Mantyasih ini, karena jika terjadi tentu kita akan kesulitan untuk mengatasi nya," ungkap Ki Gede.


" Dimana paman Jagabaya , Romo,?' tanya Rasala.


" Ia mungkin berada di pedukuhan kulon, karena , Bekel disana meminta nya untuk datang," jawab Ki Gede.


" Ada apa Paman Bekel kulon memanggil Paman Jagabaya itu, Romo,?" tanya Rasala lagi.


" Entahlah, Rasala, menurut yg Kudengar di pedukuhan itu telah terlihat dua orang perempuan yg satu seorang gadis csntik dan yg sstu lagi seorang perempuan tua," kata Ki Gede Mantyasih itu.


" Hehh, apakah mereka merupakan bidadari penakluk sukma, Romo,?" tanya Rasala.


" Romo tidak tahu , Ngger, Kemungkinan itu bisa terjadi, dan untuk lebih jelas nya temui lah Bekel yg ada di sana itu , mintalah keterangan dari nya atau tunggu kabar dsri Adi Jagabaya itu," sahut Ki Gede


" Untuk lebih jelas nya biarlah Rasala sendiri datang kesana,," kata Rasala.


" Begitu pun lebih baik," kata Ki Gede.


" Rasala pamit, Romo,". ujar Rasala


" Silahkan, silahkan, Ngger, sampaikan salam ku kepada Ki Bekel itu," ucap Ki Gede lagi.


" Baik, Romo, "


Kemudian Rasala bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu, ia menuju ke belakang rumah nya tepatnya ke kandamg Kuda.


Kemudian putra Ki Gede itu mengeluarkan seekor Kuda berwarna hitam kemudian memacu nya menuju arah barat.


Di tempat lain masih di kawasan tanah perdikan Mantyasih itu, di sebuah gubuk terlihat dua orang yg masih duduk disana.


" Sebenarnya aku bosan duduk disini, tetapi apa mau dikata lagi, saat ini kita jadi terasing di tempat sendiri," ucap orang itu.


" Memang benar katamu kakang, dahulu di sini kitalah yg berkuasa, namun saat ini kita seperti ****** di ikat tali tidak berani untuk keluar," kata seorang yg bertubuh tsmbun itu.


Sambil memilin -milin kumis nya yg tebal ia sedang memikirkan keadaan yg sedang berlaku di gunung Tidar itu.


" Apa tidak sebaik nya kita melihat keadaan Macan Baleman itu kakang,?" tanya nya kepada teman nya itu.


" Ahh, apakah tidak terlalu berbahaya Bawuk, jika kita menghampiri murid Resi Brangah itu,,?" tanya nya kepada teman nya.


" Kakang tidak perlu khawatir, karena sast ini Macan Baleman telah menjadi lumpuh akibat di hajar Senopati Brastha Abipraya itu," sahut Orang yg bernama Bawuk itu.


" Mengapa tidak mampus sekalian si Macan Baleman itu," seru orang itu.


" Mungkin ia masih memiliki nyawa rsngkap kakang,," balas Ki Bawuk.


" Omong kosong, Macan Baleman itu tidak memiliki nyawa rsngkap, Bawuk, yg terjadi ia masih beruntung tidak tewas oleh racun senjata Raka Senggani itu," kata orang itu lagi.


" Ahh, mengapa kita mempermasalahkan tentang nyawa Macan Baleman itu, lebih baik kita menghampiri nya dan bila perlu ia kita habisi,". ungkap Ki Bawuk.


" Jangan memandang remeh kepada Macan Baleman, Bawuk meskipun saat ini ia telah cacat belum tentu kita berdua mampu mengatasi nya,,". kata orang itu lagi.


" Apakah kakang meragukan kemampuan ku,,?" tanya Ki Bawuk.


" Tidak ada yg meragukan kemampuan mu, tetapi guru sendiri pun sangat kesulitan untuk menundukan si Macan keparat itu, di tambah lagi saat ini ia bersama murid utama dari Mpu Phedet pundirangan, yaitu Ki Rajungan, satu orang saja sulit untuk mengatasinya apalagi dua orang," balas orang itu.


" Ahh, kakang sepertinya saat ini kurang percaya diri, percuma kita dahulu adalah penguasa tempat ini, tentu kita lebih paham seluk beluk nya, jika kita kalah kita dapat melarikan diri dari sini," jelas Ki Bawuk.


" Itulah yg tidak aku ingin kan, karena melihat suatu pertarungan tingkat tinggi mungkin hanya terjsdi dalam seumur hidup hanya sast ini yaitu di sini, jika kita harus melarikan diri, hilang lah kesempatan itu," jelas orang itu.


Sambil menggosok -,gosok golok nya Ki Bawuk berkata,

__ADS_1


" Benar ucapanmu itu kakang, memang sepertinya pertarungan tokoh -tokoh persilatan yg memiliki kemampuan yg sangat tinggi itu hanya di sini, dan aku berharap bahwa Senopati Pajang itu pun dapat hadir disini, agar ia dapat merasakan pembalasan dsri Macan Baleman itu,". sahut Ki Bawuk.


" Nah, itu kau tahu," kata orang itu


__ADS_2