Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 30 Perseteruan. bag kesembilan.


__ADS_3

Dalam persembunyian nya, hati Senopati Brastha Abipraya ini menjadi panas mendengar ucapan kedua orang murid Ki Jarie Mendep tersebut.


Ingin rasanya ia segera muncul dan menunjukkan dirinya di hadapan kedua orang ini, akan tetapi ia tetap berusaha menahan nya.


Mungkin sebentar lagi orang yang bernama Ki Jarie Mendep itu akan segera muncul , sehingga diriku dapat tahu siapa dia sebenarnya , demikian lah perkataan dalam hati Raka Senggani sambil menenangkan dirinya.


Memang malam terus merambat, dan seperti yg telah di duga oleh Senopati Pajang itu, tidak terlalu lama tempat tersebut kedatangan seseorang.


Dari langkah kakinya , memang orang ini memiliki ilmu penyerap bunyi dan peringan tubuh yang sangat tinggi , kehadirannya nyaris tidak di ketahui membathin Raka Senggani lagi.


Ia memang merasa dari sebelah barat telah hadir sesosok tubuh yg lain mendekati tempat tersebut.


" Bagaimana, apakah orang yg bergelar Senopati Brastha Abipraya itu sudah tiba disini,..?" tanya orang yang baru datang itu.


Ia yg tiada lain adalah Ki Jarie Mendep dan bergelar Si Selaksa racun.


Orang tersebut cukup mengagetkan ke empat orang yg tengah menanti kehadiran dari Raka Senggani.


" Belum Guru,..!" sahut Tumenggung Gajah Ludira.


" Apakah ia tidak berani datang kemari, Hehh,..!" seru Ki Jarie Mendep agak keras.


Adalah Dharsasana yg merasa bahwa rencana saat ini sepertinya tidak berjalan sebagaimana mestinya , ia pun mengatakan kepada gurunya untuk segera menyerang tanah Perdikan Mantyasih.


Oleh Ki Jarie Mendep ini, usulan dari muridnya itu ia tolak, dirinya masih berharap untuk dapat bertemu dan bertarung dengan Senopati Pajang.


Raka Senggani sendiri yg terus saja mendengarkan pembicaraan kelima orang ini tetap mengetrapkan seluruh kemampuan nya , sehingga ia masih dapat mendengar kehadiran kakak angkatnya , Lintang Sandika di tempat itu.


Kakang Sandika, berhenti di tempat mu, saat ini mereka masih berkumpul dan sedang mengatur siasat, jadi jangan lebih dekat lagi, nanti kehadiran mu mereka sangka adalah diriku,


Demikian lah yang diucapkan oleh Raka Senggani kepada saudara angkatnya ini melalui aji Pameling untuk tidak lagi berjalan mendekati tempat tersebut.


Ia mengkhawatrikan keselamatan putra Tumenggung Bahu Reksa ini sehingga dengan cepat memberitahukan nya kepada saudara angkatnya itu.


Baik adi Senggani,.


Terdengar jawaban dari Lintang Sandika, dan Raka Senggani pun tidak mendengar lagi langkah kaki yg menuju ke situ.


Sedangkan Ki Jarie Mendep sendiri memang merasa seperti mendengar suara langkah kaki yg berjalan ke arah mereka berkumpul itu namun secara tiba-tiba menghilang segera bertanya kepada murid muridnya,.


" Ludira dan Kau Dharsasana,.apakah tidak mendengar ada langkah kaki menuju ke arah sini,.?" tanya nya kepada keduanya.


Kedua orang tersebut menggelengkan kepalanya.


" Tidak guru,.!" sahut mereka.


Akan tetapi Ki Jarie Mendep yg merasa bahwa perasaan nya selalu benar segera berseru keras,


" Kalian tunggu disini , aku akan memeriksa nya,..!" ucap Ki Jarie Mendep.


Ia pun hendak menuju ke arah Lintang Sandika yg baru datang itu.


" Hufhh!"


Melesatlah Ki Jarie Mendep ke arah suara langkah kaki yg di dengarnya tadi.


Begitu tiba disana ia melihat sesosok tubuh tengah tegak berdiri membelakangi nya.


" Kisanak mencari siapa,.?" tanya orang itu.


" Hehh,..!" seru Ki Jarie Mendep .


Kemudian orang yg tengah membelakangi Ki Jarie Mendep ini memutar tubuhnya dan saling berhadapan.


" Siapa kau,..?" tanya Ki Jarie Mendep keras.


" Akulah Senopati Brastha Abipraya dari Pajang,..!" sahut orang tersebut.


Ia memang tiada lain adalah Raka Senggani, sebab begitu ia mencurigai bahwa Orang yg berjuluk Si Selaksa racun ini mendengar kehadiran dari saudara angkatnya di tempat itu, maka ia pun segera bergerak cepat mendahului Ki Jarie Mendep ini.


" Bagus, jika memang dirimu adalah Senopati Brastha Abipraya , berarti kau adalah seorang ksatria yang mau menerima tantangan ku,.!" ucap Ki Jarie Mendep lagi.


Dan secara perlahan tempat tersebut telah di hadiri oleh ke empat orang yg akan mengeroyok Senopati Brastha Abipraya ini.


" Ludira, benarkah ini orangnya yang bergelar Senopati Brastha Abipraya itu,..?" tanya Ki Jarie Mendep kepada Tumenggung Gajah Ludira.


" Benar, Guru, orang inilah yg telah bertarung dengan ku beberapa saat yg lalu,.!" sahut Tumenggung Gajah Ludira.


Ki Jarie Mendep pun melangkah mendekati Raka Senggani.

__ADS_1


" Malam ini kita tentukan siapa yg berhak untuk melihat matahari terbit esok hari,.!" seru Ki Jari Mendep.


" Apakah kiranya yg membuat Kisanak ini membenci diriku sehingga menantang untuk berperang tanding,.?" tanya Raka Senggani.


" Kau telah berani melukai kedua muridku, dan juga turut andil atas kematian kakang Brangah dan muridnya Macan Baleman, untuk itulah kau harus mati di tanganku,..!" ucap Ki Jarie Mendep dengan kerasnya.


Jari telunjuk nya terarah pada wajah Raka Senggani, kemarahan lelaki tua ini sudah memuncak setelah meyakini bahwa yg hadir itu adalah benar Senopati Brastha Abipraya.


" Bersiaplah , aku akan segera mulai,.!" ucapnya lagi.


Kedua kaki lelaki tua ini pun membuka ia tengah menyiapkan kuda kuda nya, namun sebelum ia bergerak menyerang.


" Guru, biar kami berdua saja yang menghadapi nya,..!" pinta Dharsasana.


Karena menurut rencana semula mereka berdualah yg akan berhadapan dengan Senopati Brastha Abipraya ini baru kemudian ia yg akan menyerangnya dengan secara gelap untuk mengakhiri hidup sang Senopati.


Namun ternyata rencana tersebut nampaknya meleset, Ki Jarie Mendep hatinya terbakar setelah melihat kehadiran lawan di situ.


" Tidak , kalian berdua lihatlah , bagaimana Gurumu ini akan memberi pelajaran kepada orang sombong dan merasa dirinya memiliki ilmu tiada tanding , heahh,..,,!" seru Ki Jarie Mendep.


Sambil ia terus menerjang ke arah Raka Senggani dengan mengirimkan sebuah tendangan kaki kanannya.,


Gerakan orang tua berjuluk si Selaksa racun ini sangat cepat sekali, bahkan deru angin yang mengiringi tendangan tersebut pun cukup keras.


" Hufhh,.!"


" Wheeesshh,.!"


Bagi Senopati Pajang ini yg mengetahui bahwa lawan nya telah mulai, ia pun segera memiringkan tubuhnya sehingga luput dari serangan pembuka si Selaksa racun ini.


Namun angin tendangan itu pun terasa seperti mencubit kulitnya.


Hehh, dari angin tendangan nya saja pun mengandung racun, sungguh luar biasa orang ini, berkata Raka Senggani dalam hatinya.


Setelah serangan pertamanya luput, Ki Jarie Mendep melanjutkan nya dengan mengirimkan tendangan memutarnyq menggunakan kaki kirinya mengarah lambung dari Senopati Brastha Abipraya ini.


" Hiyyah,.!"


Untuk kedua kalinya , Raka Senggani mengelakkan serangan tersebut dengan menarik mundur perutnya.


Namun begitu lolos serangan tersebut, Ki Jari Mendep menyusuli serangan nya dengan mengarahkan kepalan tangan nya menuju dada lawan.


Hatinya semakin bertambah panas ditambah lagi tubuhnya pun mulai berkeringat.


Guru dari Tumenggung Gajah Ludira ini semakin meningkatkan kecepatan nya agar dapat membongkar pertahanan lawan.


Dan perlahan benturan pun sering terjadi seiring semakin cepatnya mereka bergerak dan sudah terjadi jual beli pukulan.


Disaat tubuh Raka Senggani masih berusaha untuk menghindari sapuan kaki kanan Ki Jarie Mendep, orang tua ini segera menyusulinya dengan tusukan langsung ke arah perut dengan kaki kirinya, Raka Senggani yg melihat serangan cepat itu kemudian harus memalangkan kedua tangan nya guna menahan agar perutnya tidak terkena hantaman tendangan itu.


Terjadilah benturan yang lumayan kuat, akan tetapi Ki Jarie Mendep harus segera menguasai dirinya agar tidak terjatuh, karena tadi setelah membentur kedua tangan Senopati Brastha Abipraya ini, dengan cepat ia mwndoronganya, hingga Ki Jarie Mendep hampir saja terjatuh karena nya.


Ketika pertarungan kedua orang yg memiliki kemampuan ilmu yang sangat tinggi ini semakin lama dan telah mengeluarkan beberapa jurus, maka keduanya pun secara perlahan telah merambah pada tingkat yang lebih tinggi lagi.


Gerak keduanay pun semakin cepat seolah tidak menyentuh tanah lagi, serangan yg di lancarkan oleh Ki Jarie Mendep pun semakin bertenaga, beberapa serangan tersebut luput dari sasarannya namun mengenai beberapa batang pohon , langsung saja pohon tersebut tumbang karenanya.


Gila tenaga orang ini berkata dalam hati Raka Senggani sambil ia menghindari sebuah serangan yg terarah pada lehernya.


Kedua tangan dari Ki Jarie Mendep ini telah membuka seperti layaknya cakar , beberapa kedua tangan nya ini berusaha masuk untuk mengoyak pertahanan dari Raka Senggani.


Mengetahui bahwa cakar lawan mengangkat racun yg sangat mematikan, Raka Senggani tidak berusaha lagi untuk membenturkan tangannya, ia lebih banyak menghindar dan sesekali memberikan serangan balasan.


Beruntung gerakan yg sangat ringan sekali dapat di peragakan oleh Senopati Pajang ini, sehingga tidak mudah Ki Jarie Mendep dapat menyarangkan kedua cakarnya itu.


Tempat tersebut mulai porak-poranda akibat hantaman dan pukulan dari kedua belah ini yg tidak mengenai sasarannya dan hanya mengenai beberapa batang pohon .


Sebuah serbuan yg ganas yang di lancarkan oleh Ki Jarie Mendep membuat kesulitan terhadap Raka Senggani.


Sambil memadukan serangan kedua cakarnya yg mengarah ke kepala, sebuah tendangan pun di lepaskan oleh guru tumenggung Gajah Ludira ini pada perut Raka Senggani, membuat senopati Pajang ini harus memutuskan untuk menahan serangan tersebut dengan kedua tangan nya dan angkatan sebuah lututnya.


" Thak,..!"


" Thak,..!"


" Dheghh,..!"


Tangan kanan dari Raka Senggani menahan tangan kiri Ki Jarie Mendep yg berusaha menyambar kepalanya sedangkan tangan kirinya menahan tangan kanan orang tua itu ,saat tendangan yg mengarah perutnya di halangi oleh lututnya.


Maka dari benturan ini keduanya pun harus berjumpalitan ke belakang baru selanjutnya melanjutkan kembali pertarungan.

__ADS_1


Lintang Sandika yg menyaksikan pertarungan itu memuji kehebatan adik angkatnya ini, ia tampaknya tidak terlalu kesulitan untuk dapat lepas dari semua serangan lawan .


Hingga pada akhirnya, Ki Jarie Mendep melompat beberapa kali ke belakang dan mendarat dengan baiknya di atas tanah.


" Baiklah , mari kita lanjutkan lagi dengan ilmu kadigjayaan, bersiaplah , terima ini Aji Macan Moro,..heahh,..!" teriak Ki Jarie Mendep.


Selesai ia mengucapkan kata-katanya langsung saja orang tua ini melepaskan ilmunya yg sama persis dengan milik dari Tumenggung Gajah Ludira itu.


" Dhumbhh,..!"


" Greeeetahkk,..!"


" Bumphh,..!"


Serangan jarak jauhnya ini masih mampu dengan baik di hindari oleh Raka Senggani dan segera menghantam cabang pohon yg cukup besar hingga menjatuhkannya.


" Heahhh,..!"


" Dhumbhh,..!"


Kembali Ki Jarie Mendep melompat sambil melepaskan serangan nya ke arah Senopati Pajang ini, telah berusaha untuk mendekati lawannya ini dengan tetap melepaskan pukulan jarak jauhnya.


Sedangkan di Raka Senggani sendiri ia lebih banyak menghindar tanpa sekali pun membalasnya.


Tampaknya Senopati Pajang ini masih harus menjajal kemampuan orang tua ini dalam hal kemampuan tenaganya, baik itu tenaga dalam maupun tenaga wadagnya.


Ia tidak mudah terpancing untuk segera buru -buru mengirimkan serangan yg serupa.


Raka Senggani memang harus menghemat tenaga nya.


Namun perhitungan Senopati Pajang ini di salah artikan oleh Ki Jarie Mendep, ia mengira lawan yg masih berusia muda ini tidak berani membalas nya sehingga terus saja dirinya mencecar tubuh Raka Senggani dengan ilmunya.


Tetapi dengan kelincahan dan kemampuan nya yg sangat tinggi , Raka Senggani dapat dengan mudahnya menghindari semua serangan yg di lepaskan oleh Ki Jarie Mendep ini.


Sangatlah penasaran sekali guru dari Tumenggung Gajah Ludira ini , ia terus saja meningkatkan ilmu peringan tubuhnya agar dapat mengejar tubuh Raka Senggani yg bergerak lincah kesana kemari hingga menyulitkan nya untuk melepaskan Aji Macan Moro nya.


Pada suatu saat, ketika Raka Senggani agak terlambat menghindari sebuah cakaran dari lawannya ini, satu cakaran tangan terbuka dari kelima kuku tangan yg tajam itu menyentuh kaki dari suami Sari Kemuning ini.


" Hehh,..!"


Seru Ki Jarie Mendep terkejut melihat hasilnya, ternyata tubuh sang lawan tidak mampu ia lukai, jangankan terluka mengoyakkan pakaiannya pun tidak .


Karena keterkejutan sesaat inj membuat Ki Jarie Mendep hilang kewaspadaan nya dan,..


" Hiyyyahh,..!"


" Dhieghh,..!"


Sebuah tendangan keras mendarat dengan telaknya di pundak si Selaksa racun ini.


Hingga melemparkan nya jatuh ke atas tanah.


" Guru,..!"


Teriak kedua orang murid dari Ki Jarie Mendep ini yg merasa khawatir atas apa yg telah terjadi, mereka melihat sang guru harus terkena sebuah tendangan yg cukup keras.


" Bagaimana keadaanmu, Guru,..?" tanya Tumenggung Gajah Ludira.


" Ahh, aku tidak apa -apa,..!" sahut Ki Jarie Mendep .


Ia pun bangkit berdiri dan merasa pundaknya agak berdenyutan, akan tetapi dirinya tidak memperdulikan nya.


" Biar kami berdua saja yang akan menghadapinya, Guru,..!" pinta Dharsasana kepada sang Guru.


" Minggirlah kalian berdua, Aku belum kalah, ia memang harus mati ditangan ku,.!" seru Ki Jarie Mendep


Mau tidak mau keduanya pun tidak meminta lagi untuk bertarung dengan Senopati Brastha Abipraya itu.


" Dirimu jangan senang dulu bocah,..terima lah Ajian ku ini,..!" teriak Ki Jarie Mendep.


Si Selaksa racun ini pun segera berkomat kamit membaca mantera.


****Heii, seluruh penghuni alam lelembut, alam demit thetekan, aku memanggil kalian semua untuk**** hadir disini, Aku membutuhkan bantuan kalian semua untuk dapat membunuh makhluk sombong ini ,hei penguasa kegelapan.muncullah,..


Demikian lah , Ki Jarie Mendep itu membacakan sebuah mantera dengan mengangkat tangan nya tinggi ke atas.


Tempat tersebut langsung berguncang hebat, seolah di hantam oleh lindu atau gempa bumi,, bahkan angin datang dengan kencang nya berhembus, seolah ingin memporak-porandakan wilayah itu.


Banyak pohon yg bertumbangan dan begitu mereda , muncullah banyak sosok tubuh di tempat itu dengan berbagai bentuk.

__ADS_1


__ADS_2