
Pagi yg cerah di tanah Perdikan Mantyasih ini membuat ada keinginan bagi Raka Senggani untuk sekedar berjalan jalan melemaskan otot dan otaknya.
Dimana pada pagi itu sangat banyak penduduk desa yg berangkat pergi ke sawahnya.
Sedangkan Raka Senggani segera mengarah ke kaki Gunung Tidar, ia menatap puncak gunung itu dengan pandangan penuh makna.
Hehh, di puncak Gunung Tidar itulah pusaka Kyai Sepanjang dan raja penguasa alam jin terbenam , berkata dalam hati Raka Senggani.
Ada rasa ingin mendaki gunung yg tidak terlalu tinggi itu ke puncaknya , akan tetapi niatan nya ini ia urungkan setelah melihat seseorang yg berjalan sangat tergesa-gesa dan sungguh mencurigakan.
Orang itu memang menggunakan topi caping, tetapi topinya kali ini sangat berbeda dengan yg biasa digunakan oleh para petani yang ingin turun ke sawahnya, topi caping itu kelihatannya lebih besar dan cukup lebar.
Dan yg sangat menggelitik keinginan tahuan Raka Senggani untuk mengikutinya adalah orang ini acapkali melihat ke kiri dan ke kanan seolah tidak ingin di lihat oleh orang lain.
Orang tersebut bergegas berjalan menuju arah ke ujung pedesaan ini.
Raka Senggani terus saja mengikutinya dari belakangnya dengan menjaga jaraknya yang tidak terlalu dekat, bahkan sesekali ia harus melompat bersembunyi di balik sebatang pohon agar orang yang di ikutinya itu tidak melihatnya.
Dan orang yang cukup mencurigakan itu terus saja berjalan menuju keluar dari tanah perdikan Mantyasih.
Apakah dia akan menuju ke hutan itu, bertanya dalam hati Raka Senggani.
Dan seperti dugaan nya, orang yang diikuti nya itu menuju ke dalam hutan, Raka Senggani yg membuntutinya terus saja mengikutinya masuk ke dalam hutan yang berada di kaki gunung Tidar ini.
Alangkah terkejutnya Senopati Brastha Abipraya ketika telah melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan tersebut , ia tidak melihat lag kemana perginya orang yang tadi ia ikuti itu.
Hahh, kemana perginya dia, padahal tadi aku melihatnya masuk kemari , bertanya dalam hati Raka Senggani.
Ia pun menghentikan langkah kaki nya, Senopati Pajang ini harus lebih waspada lagi, ia tidak ingin mendapatkan serangan mendadak yg akan membahayakan .
Segera Senopati Brastha Abipraya ini mengetrapkan ilmu Aji Panggraitanya guna mencari kemana perginya orang tersebut.
Anehh, sepertinya tidak ada disini orang itu, kemana perginya,..membathin Raka Senggani .
Ia memang tidak dapat mengendus keberadaan orang tersebut, , saking penasarannya , kali ini ia mengetrapkan Aji Ashka pandulunya demi memastikan lagi.
Dan tampaklah oleh nya , sebuah gerumbul semak belukar yang kelihatan nya bergoyang seperti ada sesuatu di tempat tersebut.
Raka Senggani segera bersiap , meski tempat itu lumayan jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
" Aaauumm,..!"
Terdengar suara yg sangat keras dari balik gerumbul semak belukar itu , dan sangat jelas sekali bahwa itu adalah suara dari seekor Macan.
Setelah suara yang terdengar sangat keras itu berulang untuk kedua kalinya , gerumbul semak belukar tersebut bergerak gerak dan,.
" Whushhh,..!"
" Hraaghhh,..!"
Sesosok tubuh binatang buas yg menjadi raja hutan itu muncul melompat ke arah Raka Senggani .
Macan itu menderum cukup keras dengan menggoyangkan kepalanya saat telah ada di hadapan dari Raka Senggani.
Dalam jarak tidak lebih dari lima batang tombak, kuku kaki depan dari sang macan terlihat mencakar cakar tanah tempat nya berpijak.
Macan yg sangat besar ini sepertinya sedang marah melihat Raka Senggani ,ia siap untuk menyerang tatkala kedua kaki depannya ini ia tekuk lebih rendah lagi sedangkan kepalanya hampir menyentuh tanah sambil terus di pertontonkan nya kedua taringnya yg cukup membuat bulu kuduk bangkit berdiri melihatnya.
Raka Senggani telah bersiap untuk bertarung dengan binatang buas itu, kaki nya pun telah melakukan kuda kuda.
" Hraaghhh,..!"
Saat sang macan menggerung keras seraya melompat menyerang Senopati Pajang ini dengan kedua cakar nya mengembang terbuka , kedua kuku kukunya yg sangat tajam itu nampak berusaha untuk menggapai tubuh Raka Senggani yg masih berdiri tegak.
" Hufhhh,..!"
Raka Senggani langsung melompat tinggi guna menghindari serangan binatang buas ini, tubuhnya naik ke atas dan ia pun terbebas dari serangan tersebut.
__ADS_1
Tetapi sang macan ini tidak terlalu lama telah melompat menyerang nya lagi setelah serangan pertamanya gagal.
Tubuh Raka Senggani memang baru mendarat di atas tanah saat serangan itu datang,..
" Hraaghhh,..,!"
" Heaahhh,..!"
" Bugghhhh,..!"
Rupanya kali ini senopati Brastha Abipraya ini telah siap menanti serangan tersebut, ia tidak menghindari serangan tersebut namun dengan sangat cepat nya sang Senopati melepaskan sebuah tendangan gledeknya, sehingga tendangan tersebut mendarat telak di dada raja hutan itu, memang sangat cepat tendangan lurus yg di lepaskan oleh Raka Senggani ini, sehingga tak ayal lagi tubuh si Raja hutan itu terpental ke belakang dan jatuh sangat keras di atas tanah.
" Hraaghhh,..!"
Binatang buas itu kembali menggerung keras sekali, seolah ia memang merasakan sakit yg luar biasa akibat tendangan keras tersebut.
Kepalanya bergerak memutar seolah mempertontonkan kegarangannya guna, memang binatang buas itu sepertinya tengah memberitahukan kepada lawan nya ini bahwa ia siap untuk bertarung lagi.
Raka Senggani sendiri bertambah waspada lagi , ia memang sudah agak terbiasa bila harus berhadapan dengan binatang satu ini.
Di dahului dengan auman nya yg keras, si Raja hutan itu segera melompat dan menyerang kembali, kali ini ia menyerang dengan menggunakan kedua cakarnya seperti sedang mengeluarkan sebuah jurus silat yang biasa di pergunakan oleh orang yg memiliki kemampuan ilmu silat.
Kedua kaki depan nya ini langsung mencakar tubuh Raka Senggani dengan saling bersusulan.
Senopati Brastha Abipraya ini merasa heran dengan serangan yg dilakukan oleh raja hutan ini.
Mengapa ia menggunakan sebuah jurus silat, berkata Raka Senggani sambil ia melompat menjauhi nya.
Tapi sang macan tidak mau melepaskan lawannya ini, ia terus saja melompat menyerang mengejar Raka Senggani yg terus berusaha menghindarinya.
Hingga pada suatu saat , tubuh Raka Senggani yg telah lepas dari serangan tersebut , ia melompat tinggi dan membubung ke udara, baru setelahnya tubuh meluruk turun dengan memberikan sebuah tendangan lagi.
" Dhieghh,..!"
Punggung dari raja hutan ini menjadi sasaran nya dan kali kedua tubuh nya terhantam dengan telak nya hingga membuat nya jatuh bergulingan di atas tanah, memang tendangan yg di lepaskan oleh Raka Senggani ini dilambari tenaga dalam yang cukup tinggi .
Ia menggerung keras sambil berusaha untuk bangkit berdiri di atas keempat kakinya.
Namun kali ini ia tidak segarang tadi, setelah dua kali menerima tendangan keras dari Raka Senggani.
Sang macan memang merunduk lagi tampaknya ia siap untuk menyerang.
" Hraaghhh,..!"
Kembali tubuh si Raja hutan melompat , namun anehnya ia tidak menyerang Raka Senggani melainkan melompat ke samping dan berlalu pergi dari tempat itu meninggalkan senopati Brastha Abipraya sendiri.
Aneh,..kenapa ia pergi, padahal sepertinya binatang itu memiliki ilmu selayaknya manusia, atau jangan -jangan ia adalah,..Raka Senggani berkata dalam hatinya.
Ia merasa heran dengan tingkah raja hutan itu, yg telah meninggalkan nya, akan tetapi ia tidak terlalu lama memikirkan nya setelah teringat dengan orang yang telah di kejarnya tadi.
Tubuh Senopati Brastha Abipraya ini langsung melesat menuju gerumbul semak belukar dimana tadi macan itu keluar untuk pertama kalinya, ia menduga bahwa orang yang ia ikuti tadi telah dimangsa oleh binatang tersebut.
Setibanya di tempat itu , Senopati Brastha Abipraya ini tidak menemukan apa-apa, hanya bekas ranting kayu yg patah terinjak oleh si Raja hutan.
" Aneh,..!" desis nya.
Ia pun langsung meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke rumah kediaman kakak angkatnya Lintang Sandika.
Mentari mulai menggatalkan kulit ketika Raka Senggani tiba di situ.
" Darimana saja adi Senggani, sepagian ini kakang menunggu mu untuk sarapan bersama, marilah sudah keburu dingin makanan nya,.!" ucap Lintang Sandika begitu melihat saudara angkatnya itu muncul.
Ia mengajak masuk ke dalam rumah nya dan memang telah tersedia makanan dan minuman, meski sudah agak lama, ternyata singkong rebus dengan legen kelapa ini masih saja terasa nikmat untuk di santap di tambah minuman wedang sere khas buatan dari Rara tinampi istri dari Lintang Sandika ini membuat keduanya asyik bercerita.
" Kakang Sandika, Senggani ingin bertanya,..!" ucap Raka Senggani.
" Hal apa yang ingin kau tanyakan itu , adi Senggani,.?" tanya Lintang Sandika .
__ADS_1
Senopati Brastha Abipraya ini kemudian menanyakan kepada saudara angkatnya ini, apakah ia pernah bertemu dengan orang yang telah membuat kerusuhan di Mantyasih ini.
Oleh putra Tumenggung Bahu Reksa itu lantas dijawab dengan gelengan kepala.
" Tidak adi Senggani, kakang belum pernah bertemu dengan orang tersebut, memang pernah satu kali saat beberapa warga yang memergoki nya tengah beraksi , kakang dan para pengawal ke tempat tersebut, akan tetapi kami tidak sempat melihatnya ia sudah menghilang begitu cepatnya,.!" jawab Lintang Sandika.
" Kang, apakah ada orangnya yang dapat dimintai keterangan nya mengenai ciri-ciri orang yang telah melakukan penculikan itu,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Sepetinya ada adi Senggani, akan tetapi hanya Ki Gede yg mengetahuinya, baiklah segera habiskan sarapanmu itu kita ke rumahnya secepatnya,..!" sahut Lintang Sandika.
Sepertinya putra dari Tumenggung Bahu Reksa ini merasa bahwa adik angkatnya ini telah menemukan sesuatu yg mencurigakan sehingga ia bertanya demikian.
Keduanya langsung beranjak dari rumah Lintang Sandika ini menuju rumah Ki Gede Mantyasih.
Dalam perjalanan nya , Lintang Sandika masih sempat bertanya kepada Raka Senggani.
" Apakah adi Senggani menemukan sesuatu yg mencurigakan sebelum kembali ke rumah tadi,.?" tanya nya.
" Benar kakang, tadi Senggani bertemu dengan seseorang yg secara tiba-tiba saja menghilang di hutan di kaki gunung Tidar itu,..!" jawab Raka Senggani.
Sebelum bertanya lebih lanjut lagi , tidak terasa keduanya telah sampai di rumah Ki Gede.
Saat ini rumah orang nomor satu tanah Perdikan Mantyasih ini sangat ramai, sudah banyak penduduk desa yg ngerewang guna mengadakan hajatan yg akan di gelar sebentar lagi oleh Ki Gede.
Melihat kedua tamunya ini datang Ki Gede menyambut nya dengan senang hati, ia langsung menyapa keduanya,
" Bagaimana keadaanmu angger Senopati dan Angger Sandika,..?' tanya nya
" Baik Ki Gede,..!" jawab keduanya.
Sesaat keduanya pun di persilahkan naik ke atas pendopo , dan kemudian ketiganya terlibat pembicaraan yg serius, saat itu, Rasala putra Ki Gede sedang tidak berada di rumah.
" Ki Gede, Senggani ingin bertanya sesuatu ,..!" ucap Raka Senggani.
" Silahkan, silahkan angger Senopati, ingin bertanya apa,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.
Sambil melirik ke arah kakak angkatnya, Raka Senggani melanjutkan ucapannya,.
" Apakah Ki Gede dapat menunjukkan kepada Senggani, siapakah orang nya yg pernah atau bertemu langsung dengan pelaku penculikan para bayi itu..?" tanya nya pada Ki Gede.
" Oo,..orang itu bernama Ki Lonowastu, rumahnya berada di di ujung sebelah selatan pedukuhan induk ini, Angger Senopati, mungkin Angger Sandika mengetahui letak rumah nya, memang nya ada apa ,..?" kata Ki Gede Mantyasih.
Raka Senggani kemudian secara singkat menceritakan pertemuan nya dengan seseorang yg menurutnya pantas untuk di curigai.
" Sayangnya Ki Gede, orang tersebut menghilang saat ia masuk ke dalam hutan, dan justru dalam hutan tersebut Senggani malah bertemu dengan seekor macan yg lumayan besarnya,.!" terang Raka Senggani.
" Haahhh,..!"
Ki Gede Mantyasih ini tersentak kaget mendengar penuturan dari Senopati Pajang ini, karena sebelumnya pun ia telah mendengar orang-orang menyebutkan bahwa pelaku penculikan yg telah membuat teror di tanah Perdikan Mantyasih ini mampu mengubah ujudnya menjadi seekor binatang, entah itu kucing, anjing mauoun seekor ayam.
" Cerita Angger Senopati ini seperti cerita dari Ki Lonowastu sewaktu kami bertanya kepada nya , ia juga sempat melihat orang tersebut berlari ke belakang sebatang pohon namun tiba-tiba saja ia sudah menghilang dan yg ada di tempat tersebut hanya seekor kucing saja,!" jelas Ki Gede Mantyasih.
" Apakah orang itu memiliki ilmu Malih Rupa atau sejenisnya, Ki Gede,?" tanya Raka Senggani.
" Entahlah Ngger..untuk itulah kami berharap sekali atas bantuan mu memecahkan masalah ini syukur syukur, sebelum acara hajatan ini di gelar ia sudah tertangkap,dan kita dapat mengetahui apa maksud dan tujuan nya membuat keonaran nya disini , di Mantyasih ini,.!" kata Ki Gede.
" Kalau begitu , kami akan menemui Ki Lonowastu agar dapat lebih jelas mengenai ciri-ciri orang tersebut, apakah orang yang tadi kuikuti itu adalah seperti orang yg di temui nya pada waktu itu,..!" ucap Raka Senggani.
" Ya , ya , silahkan Angger Senopati untuk menemuinya, dan Angger Sandika pun tahu letak rumah Ki Lonowastu itu bukan begitu Angger Sandika.!" kata Ki Gede lagi.
" Aku tahu ki Gede, biarlah kami berdua akan ke sana, mudah mudahan ia masih di rumahnya ,!" sahut Lintang Sandika.
" Kalau begitu kami berdua mohon pamit Ki Gede,.." ujar Raka Senggani.
Dan oleh Ki Gede Mantyasih pun dijawab dengan anggukan kepalanya.
" Silahkan Angger Senopati, semoga semua urusan ini segera cepat selesai dan kita pun dapat menangkap pelakunya,..!" jawab Ki Gede Mantyasih.
__ADS_1
Dua orang yg merupakan bagian dari para prajurit sandi yuda Demak ini segera meninggalkan rumah Ki Gede menuju rumah seseorang yg pernah melihat pelaku penculikan para bayi itu , dia adalah Ki Lonowastu.