
Mpu Loh Brangsang terus menggoyang -goyang kan tubuh Mpu Yasa Pasirangan, tetapi tubuh itu diam membeku, tidak ada tanda -tanda kehidupan lagi.
Berteriaklah Mpu Loh Brangsang dengan keras,
" Tidaaaaak, kau tidak boleh mati adi Pasirangan, kau tidak boleh mati,!"
Terlihat Mpu Loh Brangsang sangat terpukul sekali atas kematian adik seperguruan nya itu, ia memeluk tubuh dingin dan telah membeku dengan meratapi nya,
" Mengapa kau dan adi Pundirangan meninggalkan ku sendiri, !" terdengar ucapan yg keluar dari mulut nya.
Di lain tempat , Mpu Supa Mandrangi tengah berusaha menyadar kan Raka Senggani, ia menotok beberapa bagian tubuh anak muda itu sambil terus mengurut dada pemuda itu sambil menyalurkan hawa murni yg di miliki nya
Tidak terlalu lama,
" Hoeeeekhh,...... Hoeeeekhh,!"
Dua kali pemuda desa Kenanga itu memuntahkan darah hitam dan agak kental, baru setelah nya pada muntahan yg ketiga cairan darah itu mulai memerah, Mpu Supa Mandrangi terus menyalurkan hawa murni nya.
Setelah di rasa cukup maka Mpu Supa Mandrangi berkata agak pelan,
" Tolong ambilkan air , Tumenggung Wicaksana,"
Tumenggung Wicakasana terkejut Karena jarak dengan Mpu Supa Mandrangi itu cukup jauh akan tetapi suara itu seperti di telinga saja, orang lain tidak ada yg mendengar nya, dengan cepat Tumenggung Wicaksana memerintahkan kepada salah seorang Prajurit untuk mengambil air dan memberikan kepada Mpu Supa Mandrangi itu.
" Ini dia air nya Kanjeng Tumenggung,!" kata Prajurit itu kepada Tumenggung Wicaksana.
" Cepat kau berikan kepada Mpu Supa Mandrangi itu, cepat,!" kata Tumenggung Wicaksana.
Prajurit Demak itu segera berlari ke arah Mpu Supa Mandrangi yg masih berada di samping tubuh Raka Senggani itu.
" Ini air nya , Mpu Supa,!" kata Prajurit itu seraya menyerahkan air yg berada di dalam bumbung bambu itu.
" Terima kasih, untuk sementara engkau jangan beranjak dari tempat ini,!" kata Mpu Supa Mandrangi kepada Prajurit Demak tersebut.
" Baik , Mpu," jawab Prajurit itu.
Setelah menerima bumbung bambu tersebut , Mpu Supa berusaha mengusapkan ke wajah Raka Senggani dan mencoba meminumkan nya.
Wajah Raka Senggani terlihat bergerak dan kembali memuntahkan air yg coba di minum kan oleh Mpu Supa Mandrangi itu.
__ADS_1
Setelah beberapa kali di upayakan , akhir nya air itu berhasil di minumkan ke dalam mulut Raka Senggani.
Dengan demikian akhir nya kesadaran dari Raka Senggani mulai timbul, mata pemuda itu mulai membuka. Dan nafas pemuda itu mulai teratur.
" Syukurlah Ngger, akhir nya dirimu telah sadar, bagaimana keadaan mu,?" tanya Mpu Supa Mandrangi.
" Bbbagai, mana dengan keadaan Mpu Yasa Pasirangan, Eyang Mpu Supa,?" tanya nya kepada Mpu Supa Mandrangi.
" Ia telah meninggal dunia, Ngger,!" jawab Mpu Supa Mandrangi.
" Hahh, benarkah itu Eyang Supa Mandrangi,?" tanya Raka Senggani.
" Iya , Ngger , ia telah tewas akibat benturan ilmu kalian tadi, ada hubungan apa Angger Senopati Brastha Abipraya dengan kakang Sunan Kalijaga,?" tanya Mpu Supa Mandrangi.
" Maksud Eyang Supa, mengenai dengan ilmuku itu,!" seru Raka Senggani.
" Benar , Ngger, mengapa ilmu yg Angger miliki sama dengan ilmu yg di miliki kakang Sunan,?" tanya Mpu Supa lagi.
" Ahh, Senggani tidak tahu Eyang Supa Mandrangi, mungkin kami memiliki jalur ilmu yg sama dari guru yg sama, !" jawan Raka Senggani.
" Ooo,"
Ia kemudian berusaha menduduk kan Raka Senggani dan kembali menyalurkan hawa murninya dari punggung pemuda itu.
Kesehatan dan kesegaran tubuh Raka Senggani demikian cepat pulih, ia pun tidak terlalu lama mampu berdiri dan tidak terlihat ada akibat yg di timbulkan dari racun yg sempat masuk ke dalam tubuhnya itu.
Melihat hal itu Mpu Supa berucap,
" Angger Senopati telah mulai sehat, jadi izinkanlah Eyang Supa bertanya kepada adi Brangsang itu, !"
" Silahkan Eyang, silahkan , Senggani akan kembali ke dalam pasukan Demak,!" jawab Raka Senggani.
Mpu Supa Mandrangi segera berlalu dari tempat itu dan mendatangi Mpu Loh Brangsang, sedangkan Raka Senggani kembali ke dalam pasukan nya.
" Bagaimana adi Brangsang , benarkan ucapan ku tadi, sesungguh nya dirimulah yg paling bertanggungjawab atas hal ini, dan satu pertanyaan ku, siapa teman dari adi Yasa Pasirangan dan adi Pundirangan yg telah menewaskan kedua orangtua dari Angger Senopati Brastha Abipraya itu, adi Brangsang pasti mengetahui nya,?" tanya Mpu Supa Mandrangi itu.
Wajah Mpu Loh Brangsang memerah seketika mendengar pertanyaan dari kakak seperguruan nya itu, ada rasa yg tidak mapan untuk menjawab nya, walaupun demikian ia memaksakan untuk menjawab nya.
" Aku tidak mengetahui nya, kakang Mandrangi, karena aku memang tidak tahu menahu akan hal itu,!" jawab Mpu Loh Brangsang.
__ADS_1
" Ahhh , adi Brangsang sungguh pintar menutupi nya, jelas -jelas tadi adi Pasirangan menatap adi Brangsang sebelum menjawab pertanyaan dari Angger Senopati itu,!" ujar Mpu Supa Mandrangi.
" Sungguh kakang , aku berani bersumpah aku tidak mengetahui nya,!" jelas Mpu Loh Brangsang lagi.
" Terserahlah apa katamu yg jelas jangan engkau nanti termakan oleh sumpah mu sendiri dan segeralah bawa orang -orang itu , tinggalkan tempat ini, hentikan lah semua cita -cita mu itu, jangan ada lagi korban akibat dari ulahmu itu cukup adi Pundirangan dan Pasirangan saja yg jadi bebanten nya,!" kata Mpu Supa Mandrangi menasehati adik seperguruan nya itu.
" Baik kakang , semua nasehat kakang akan ku laksanakan,!" jawab Mpu Loh Brangsang.
Ia pun segera meminta yg hadir di tempat itu untuk kembali ke tempat nya masing-masing dan tidak usah melanjut kan pembuatan dari Keris Pusaka Kyai Condong Campur itu.
Walau dengan berat hati , teman -teman dari Mpu Loh Brangsang itu mau menerima keputusan itu, dan segera bergerak dari Sumber api abadi yg ada di desa Bedander tersebut.
Mpu Loh Brangsang dan beberapa murid nya dan murid dari kedua adik seperguruan nya itu membawa mayat kedua orang tersebut ke arah lereng Wilis guna untuk di makam kan disana.
Setelah kepergian dari rombongan Mpu Loh Brangsang itu, maka Mpu Supa Mandrangi pun memerintahkan para prajurit Demak untuk kembali.
Segera iring -iringan dari prajurit Demak itu bergerak meninggalkan desa Bedander tanpa meninggalkan korban dari pihak mereka karena , tidak terjadi peperangan di tempat itu.
Perjalanan kembali terasa cepat karena rombongan itu tidak singgah lagi di Matahun , mereka hanya berhenti jika malam menjelang.
Hampir empat hari sampai lah rombongan itu di Kotaraja Demak.
Dan selaku pemimpin rombongan pasukan dari Demak , Mpu Supa segera menghadap Kanjeng Sultan Demak di istana nya.
" Ampun kan hamba Kanjeng Sinuwun, tugas yg telah di bebankan keatas pundak hamba telah hamba laksanakan tanpa menimbulkan korban dari para prajurit Demak,!" ucap Mpu Supa Mandrangi itu sambil menjura hormat kepada Sultan Fattah.
" Bagus, bagus, bagaimana dengan pihak Mpu Loh Brangsang itu, Apakah ada korban,? " tanya Kanjeng Sultan.
" Dua orang Kanjeng Sinuwun, dan dua-duanya merupakan adik seperguruan hamba, yaitu Mpu Yasa Pasirangan dan Mpu Phedet Pundirangan,!" jawab Mpu Supa Mandrangi lagi.
" Siapa yg telah membunuh kedua orang tersebut,?" tanya Sultan Demak itu agak heran.
" Kedua -duanya dikalahkan oleh Senopati Brastha Abipraya dari Pajang, dalam sebuah perang Tanding Kanjeng Sinuwun,!" jawab Mpu Supa Mandrangi.
" Prajurit , panggil kemari, Senopati Brastha Abipraya itu , aku ingin mendengar cerita langsung dari nya,!" perintah Kanjeng Sultan Demak kepada prajurit jaga.
" Sendika Dawuh Kanjeng Sinuwun, !" jawab prajurit itu.
Ia pun keluar dari Istana guna memanggil Senopati Brastha Abipraya yg tengah beristrahat di Istana Kepatihan.
__ADS_1