Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 12 Tantangan. bag ke sepuluh.


__ADS_3

Senopati Pajang, Senopati Brastha Abipraya mendengarkan nasehat dari Tumennggung Wangsa Rana.


Namun ia membenarkan juga ucapan Junjungan nya itu, Kanjeng Adipati Pajang.


Mengapa kita harus lari dari sebuah Tantangan, dan kalau pun itu menyebabkan kematian adalah takdir yg telah berkata, katanya dalam hati.


Selepas dari rumah Tumenggung Wangsa Rana ia menuju ke bangsal keprajuritan Pajang, ia disana bertemu dengan Rangga Aryo Seno, Rangga Wira Dipa dan beberapa perwira Pajang.


Setelah saling menanyakan keadaan masing -masing, Senopati Brastha Abipraya meninjau langsung para prajurit baru yg telah di terima oleh kadipaten Pajang.


Ia melihat latihan para prajurit itu, yg umum nya masih berusia muda.


Sampai malam, Raka Senggani berada di bangsal keprajuritan Pajang, baru setelah nya ia kembali ke Rumah Tumenggung Wangsa Rana.


Disaat jalanan di Kota Pajang itu telah mulai gelap.


Senopati Pajang itu berjalan sendiri, ketika sampai di sebuah pertigaan,


" Seiiingg,"


".Taaapp,"


Sebuah senjata rahasia melesat menyambar dirinya,


" Hiyyahhh, tungguuuu,..... jangan lari," teriaknya.


Ia mengejar penyerang gelap itu, namun memang jarak yg cukup jauh itu , walaupun ia telah mengemposi tenaga dalamnya, tetap saja ia kehilangan jejak ketika penyerang gelap itu memasuki sebuah rumah yg ada di dalam kota Pajang itu.


" Hehh, aku tidak mungkin menggeledah rumah itu, dan boleh jadi ia tidak ada di dalam, sebaiknya aku kembali," katanya dalam hati.


Ia kembali ke tempat semula dan mencabut senjata rahasia yg tertancap itu.


Hehh, sebuah surat lagi, gumamnya.


Kembali sang Senopati membuka secarik kain putih itu, dilihatnya tulisan,


* Hanya seorang pecundang yg tidak berani melayani sebuah Tantangan, tinggal satu malam lagi, kutunggu di bukit Klangon*


Demikianlah bunyi surat itu, Senopati Pajang meremas nya hingga seperti terbakar , kain putih sampai hitam gosong.


Tanpa sadar Ajian Wajra Geni milik nya yg telah ******* surat itu.


Aku bukan pecundang, andaikan Mpu Loh Brangsang dan murid muridnya akan mengeroyokku akan kuhadapi, masih ada satu hutang yg mereka belum bayarkan, ucap nya.


Ia pun segera meninggalkan tempat itu balik ke rumah Tumenggung Wangsa Rana.


Sesampainya disana, ia langsung menceritakan apa yg telah di alaminya itu.


Tumenggung Wangsa Rana menasehati agar ia tetap tidak melayani nya, bahkan menurut nya ucapan Kanjeng Adipati itu hanya guyonan saja. kata sang Tumenggung.


Tetapi aebagai seorang ksatria tidak pantas bagi dirinya menolak Tantangan itu, meskipun ia harus kalah.


Malam itu sang Senopati berpesan kepada Tumenggung Wangsa agar jika kelak ia kalah dan tewas agar mayatnya di bawa ke Kenanga.


Tumenggung Wangsa Rana yg mendengar hal itu langsung menyela nya,


" Ngger, tidak seperti biasanya berkata demikian, bukankah telah banyak pertarungan dengan musuh yg berilmu tinggi, Angger tidak pernah merasa takut, mengapa sekarang kelihatan nya Angger Senopati tidak percaya diri,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Entahlah Paman, pangraita ku mengatakan akan mendapat kesulitan, hanya yg mengkhawatirkan , Senggani telah berjanji untuk melamar Sari Kemuning kelak jika kembali dsri sini," ucapnya lagi.


" Jadi Angger ingin melamar angger Kemuning,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Benar Paman Tumenggung, setelah tugas di Pajang ini selesai dan Kanjeng Gusti Adipati memberikan waktu istrahat kepadaku," jawab Raka Senggani.


" Kalau begitu urungkanlah niatmu itu untuk melayani Tantangan dari orang yg tidak di kenal itu , apalagi Angger sepertinya tidak merasa mampu untuk menghadapi nya," nasehat dari Tumennggung Wangsa Rana.


Raka Senggani terdiam, sebenarnya ia merasa bukannya tidak mampu tetapi ada hal lain yg akan menghalangi nya, entahlah ia sendiri pun tidak tahu apa itu.


" Paman Tumenggung, tetapi niat Senggani telah bulat , apapun yg akan terjadi biarlah terjadi tetapi satu permintaanku untuk memberi khabar ke desa Kenanga, Karena nasib seseorang tidak ada seorang pun yg tahu, mudah mudahan jika yg Maha Kuasa masih memberi umur panjang kita masih akan dapat bertemu lagi , Paman," ucap Raka Senggani.


Tumenggung Wangsa Rana memandangi wajah sang Senopati, entah sudah berapa kali ia bersama dengan pemuda itu memberantas ke angkara murkaan dari baru kali ini ia melihat ada hal yg lain pada diri pemuda itu, ia merasakan getaran aneh setiap ucapan nya.


Mudah -mudahan tidak akan terjadi apapun padanya,mungkin aku hanya terbawa perasaan saja atas ucapan nya itu, kata Tumenggung Wangsa Rana dalam hati.


Ia masih menyarankan agar Senopati Pajang itu berangkat bersama seorang teman semisal nya Rangga Wira Dipa atau Rangga Aryo Seno.


Tetapi Raka Senggani menolaknya, bahkan setelah pertemuan itu terlihat Senopati Pajang itu tengah mempersiapkan keberangakatan menuju ke Bukit Klangon,


Malam itu Senopati Pajang amat kesulitan untuk memejamkan matanya, memang di hatinya ada yg kurang mapan untuk pergi ke bukit Klangon itu, tetapi harga diri nya merasa terinjak -injak jika ia tidak memenuhi Tantangan itu.


Malam semakin larut, ia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam, disanalah ia menumpahkan keluh kesah.


Selesai Bermunajat kepada Sang Khalik barulah hatinya tenang , ia pun dapat memejamkan matanya.

__ADS_1


Saat waktu shubuh ia terjaga dan kembali melaksanakan perintah yg Maha Kuasa, sang pemberi segala nya dan Maha perkasa.


Saat terang tanah , ia segera keluar dengan Si Jangu selesai berpamitan kepada Tumenggung Wangsa Rana ia pun memacu kudanya menuju arah Barat Daya dari Kadipaten Pajang itu.


Ia menuju Prambanan, dan selanjutnya menuju Kali Tengah.


Sedangkan Tumenggung Wangsa Rana yg telah menganggap nya sebagai anak nya sendiri tidak tinggal diam, dipanggil nya dua bawahan, yaitu Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno.


Sang Tumenggung berpesan kepada keduanya untuk membuntuti kepergian dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Ia juga mengatakan bawalah beberapa prajurit terbaik Pajang , dan upayakan keselamatan dari Sang Senopati.


Sebenarnya dua Rangga kepercayaan nya itu agak aneh mendengar bahwa Senopati Brastha Abipraya memerlukan pengawalan, mereka sangat yakin akan kemampuan Senopati Pajang itu, jangankan manusia , jin, setan, dan lelembut ngacir jika bertemu dengan nya dan mengapa kali ini mereka mendapatkan perintah untuk mengawal nya.


Namun setelah mendapatkan penjelasan dari sang Tumenggung barulah mereka paham dan mengerti bahwa kemungkinan nya ini adalah jebakan yg sengaja di pasang oleh orang -orang yg tidak senang kepada Senopati Pajang itu.


Kedua Rangga itu pun bergerak cepat, mereka menambah teman tiga orang lagi, lima ekor kuda berangkat dari bangsal keprajuritan Pajang menuju ke arah Barat Daya dari Pajang.


Kelima nya tampak memacu kudanya dengan kencang karena mereka telah agak siang baru berangkat nya.


Sementara itu Senopati Brastha Abipraya sendiri tengah mendekati Bukit Klangon saat menjelang sore, bukit yg menjadi pembatas dari Gunung Merapi di utara nya dan alas Mentaok di selatan.


Di sebuah umbul , ia menghentikan langkah si Jangu, ia memberi makan dan minum kuda tunggangan nya itu, sambil ia sendiri pun beristrahat, di depan nya terlihat bukit Klangon yg tidak terlalu tinggi, dan jika mengarahkan pandanganya ke utara tampaklah Gunung Merapi berdiri dengan gagah nya, namun ada aroma gaib yg seakan menyelimuti Gunung itu.


Sampai malam menjelang, ia masih berada di umbul itu, kembali ia bersiap selepas sholat isya.


Sengaja di biarkan nya saja Si Jangu di situ menikmati rerumputan yg amat hijau.


" Bismillahirohhmanirrohim, Huffht,"


Satu kali lesatan tubuh Senopati Pajang itu melayang seperti terbang menuju puncak Bukit Klangon, ia segera sampai di puncak nya yg memang tidak terlalu tinggi.


Di sebuah tanah lapang yg agak luas ia berhenti , ia kemudian melesat kembali naik sebuah pohon bendo yg ada di tenpat itu.


Raka Senggani menunggu kedatangan dari orang yg telah berani menantangnya untuk bertarung itu.


Sampai sang Dewi malam memancarkan cahaya nya yg lembut, ia belum melihat kedatangan nya.


Barulah terdengar suara orang yg sedang berjalan disaat di kejauhan terdengar suara kentongan bernada dara muluk.


" Hehh turun lah kau Senopati Pajang, aku tidak menyangka engkau punya nyali juga untuk datang kemari," seru orang yg baru datang itu.


Dari suaranya mengandung tenaga dalam yg tinggi, namun tidak terlalu berpengaruh terhadapnya.


Raka Senggani turun dari tempatnya berada di sebuah cabang pohon itu.


Ia langsung menuju kepada orang yg tengah berada di tengah tanah datar yg Cukup luas itu.


Hehh, bukankah ini adalah Adya Buntala, kata Raka Senggani dalam hati.


Setelah melihat orang yg berada dihadapan nya itu, di terangi cahaya bulan yg bersinar cukup terang ia mampu melihat dengan jelas siapa orang yg telah ada dihadapan nya itu.


" Bagus, aku kira Senopati Brastha Abipraya itu adalah seorang yg pengecut yg tidak berani menjawab tantangan ku itu," ucap orang itu.


Yang tiada lain adalah Adya Buntala murid utama dari Mpu Loh Brangsang pemimpin padepokan Merapi.


" Apa maksudmu menantangku Buntala, apakah dirimu tidak merasa malu dengan kekalahan mu saat di Kenanga, beruntung gurumu itu ikut mengekori mu, kalau tidak entah apa jadinya," ucap Raka Senggani.


Senopati Pajang itu tampak mengepalkan kedua tangan nya. Ada rasa benci bercampur muak melihat tingkah murid Mpu Loh Brangsang tersebut.


" Dan apa maksudmu dengan mengatakan diriku telah membunuh gurumu, apakah memang Loh Brangsang itu telah tewas," ejek Raka Senggani.


"Kau jangan senang dulu Senggani, aku tahu kau masih mendendamku atas kematian kedua orang tua mu itu , dan ketidak berhasilan mu membunuh ku saat di desa Kenanga, tetapi kali ini kaulah yg akan ****** di tanganku," ucap Adya Buntala.


Tampaknya murid Mpu Loh Brangsang itu percaya diri, tidak ada rasa gentar nya dalam setiap ucapan nya.


" Sebenarnya aku malas untuk melayani dirimu Buntala , karena engkau seorang pengecut yg berani nya jika ada gurumu berada di samping mu," ucap Raka Senggani lagi.


" Kau jangan sesumbar Senggani, walau kami telah mendengar keberhasilan mu mengalahkan penguasa alam lelembut gunung Tidar, tetapi tidak ada sedikit pun yg perlu kutakuti akan dirimu itu, jadi bersiap lah untuk menyusul kedua orang tua mu, Ha, ha, ha," terdengar suara tertawa dari Adya Buntala.


Raka Senggani sangat geram mendengar ocehan dari murid Mpu Loh Brangsang itu, tetapi masih di tahannya, karena ia mendengar desir halus yg sedang menuju tempat itu, dari caranya bergerak kedengarannya , bahwa orang itu memiliki ilmu yg sangat tinggi.


Hemmh, apakah Mpu Loh Brangsang ada juga disini , katanya dalam hati.


Namun ia sudah bertekad untuk menghadapi nya walaupun seluruh penghuni padepokan Merapi itu turut serta mengeroyok nya .


" Senggani apakah kita telah dapat untuk memulai nya,?" tanya Adya Buntala.


" Terserah kepadamu, Aku siap kapan pun itu," jawab Raka Senggani.


" Baiklah kita akan mulai dan jangan Salah kan aku jika dirimu akan berakhir di bukit Klangon ini," ucap Adya Buntala


Tampak murid dari Mpu Loh Brangsang itu tengah memasang kuda -kuda nya dan,

__ADS_1


" Hiyyyah,"


Satu lompatan yg panjang ia segera menyerang Raka Senggani.


" Heeiiiit,"


Raka Senggani melompat menghindari serangan itu.


Kemudian dengan satu lesatan lagi tubuh Adya Buntala menerjang dengan sebuah tendangan mengarah dada dari Senopati Pajang itu , gerak sangat cepat dan penuh tenaga, tetapi dengan mudah nya Senopati Pajang itu menghindari nya.


Saat masih berada di udara , Raka Senggani meluncur balik ganti menyerang Adya Buntala,


" Dhiesggh,"


Sebuah tendangan mendarat di pundak dari Murid Mpu Loh Brangsang itu.


Ia terjajar mundur walau tidak terjatuh. Terlihat ia tengah bersiap kembali dengan menggerakkan kedua tangan nya, ia menerjang Raka Senggani,


" Heaaahh,"


" Dhuggh,"


Raka Senggani terlambat menghindar, lutut dari Adya Buntala masuk mengenai perut Senopati Pajang itu.


Ia terdorong surut ke belakang beberapa langkah.


Hehh, ternyata kemampuan nya sangat meningkat berbeda saat pertemuan di Kenanga, bathinnya berkata.


Kembali Raka Senggani bersiap , ia membetulkan posisinya yg agak goyah.


" Bagaimana Senggani, kita lanjutkan lagi, hehh, ?" tanya Adya Buntala.


Raka Senggani tidak menjawab , ia segera melompat sambil mengirimkan tendangan mwbgarja kepala Adya Buntala.


" Heahhhh,"


Serangan itu luput , Adya Buntala menarik kakinya dan memiringkan kepalanya.


" Hiyyyah,"


Sebuah tendangan susulan dengan setengah putaran mendarat di wajah Adya Buntala,


" Praakkkk,"


Kali ini Adya Buntala yg harus terdorong surut mundur ke belakang, namun murid dari Mpu Loh Brangsang langsung menerjang,


" Ciaaaaat,"


" Thakk,"


Kaki kanan dari Adya Buntala itu di tahan dengan kedua tangan dari Raka Senggani.


" Hiyyyah ,"


Raka Senggani meneruskan tendangan kakinya menghantam kaki dari Adya Buntala, kali ini tak pelak lagi murid Mpu Loh Brangsang itu terjatuh , ia bergulingan menghindari serangan susulan dari Raka Senggani selanjutnya, dengan cepat ia berdiri.


Sementara Raka Senggani masih berdiri di tempatnya , ia tidak langsung menyerang Adya Buntala itu.


Kedua orang itu kembali saling berhadapan satu sama lain nya.


Dari keduanya matanya terlihat kedua orang itu saling mendendam.


" Baik Senggani, kita akan mulai dengan aji kadigjayaan, " ucap Adya Buntala.


Murid Mpu Loh Brangsang itu menggerakkan kedua tangannya, tangan kanan nya kirinya di depan dada dan tangan kanannya bergerak membuka,


" Aji Lebur Saketi, Heaaah,"


" Dhumbhh ,"


" Bletaaaaarrrr,"


Serangan itu menemui tempat kosong, karena Raka Senggani dengan sangat cepat menghindari nya,


Hanya tempat itu saja yg berlobang akibat di hantam ajian milik dari Adya Buntala itu.


Kemudian serangan -serangan susulan mengejar Raka Senggani.


Dan tidak terlalu lama kemudian Senopati Pajang itu membentengi tubuhnya dengan Ajian Wajra Geni milik nya.


Benturan kedua ajian itu membuat keduanya terlempar cukup jauh, namun aneh nya keduanya masih dalam keadaan dapat berdiri tegak.


Aneh , ternyata Dia telah meningkat dengan pesat , ilmunya, ucap Raka Senggani dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2