Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 22 Hari Yang Dinanti. bag ke tiga.


__ADS_3

Selanjutnya ki Lintang Jaka Belek menanyakan kepada Senopati Bima Sakti , darimana mendapatkan cundrik tersebut dan apa hubungan nya dengan orang yg bernama Nyai Sriti Wengi itu.


Senopati Bima Sakti kemudian menjelaskan mengapa benda tersebut berada di tangan nya , dan hubungan nya ia datang ke Pajang ini.


Ki Lintang Jaka Belek mendengarkan semua penuturan dari sang Senopati.


Setelah selesai berkatalah Ki Lintang Jaka Belek,..


" Memang yg namanya Nyai Sriti Wengi itu memiliki keinginan untuk memiliki senjata pusaka, ia dikenal sangat gemar sekali mengumpulkan senjata memiliki kelebihan,..dan itu ada pada dirimu,..Senopati ,.." terang Ki Lintang Jaka Belek.


" Tetapi mengapa saat di tanah perdikan Mantyasih,.Nya Sriti Wengi ini tidak hadir untuk memperbutkan Tombak pusaka Kyai Sepanjang,..kalau memang dirinya memliki keinginan untuk mencari sebuah benda pusaka,..?" tanya Raka Senggani.


Seolah pertanyaan itu ia tujukan untuk dirinya sendiri.


Oleh Ki Jaka Belek dijawab, bahwa Nyai Sriti Wengi ini memiliki hubungan khusus dengan Resi Brangah dari Blambangan.


Hubungan keduanya tidak cukup baik karena ada dendam pribadi.


Kembali Raka Senggani terkejut mendengarnya.


Apakah ini ada hubungan nya dengan Resi Brangah itu,..kata nya dalam hati.


" Baiklah , Ki Warandana,..kalau demikian , aku harus segera kembali ke desa Kenanga,.karena penjelasan mu sudah cukup bagiku,.." ucap Senopati Bima Sakti.


" Jadi apakah Senopati akan segera mengirimkan salah seorang prajurit sandi ke Lor,..?" tanya Ki Jaka Belek


" Belum ada perintah, Ki ,..mungkin setelah acara pernikahan ku selesai di gelar, .." jawab Raka Senggani.


Senopati Bima Sakti ini kemudian dengan di iringi oleh Ki Lintang Jaka Belek kembali ke tempat lurah prajurit sandi itu berjualan. Karena ia memang akan membeli beberapa pakaian dan kain yg akan dihadiahkan nya kepada pamannya dan Ki Lamiran.


Ia memilih dan membeli kain tersebut dari Ki Jaka Belek.


Namun Ki Lintang Jaka Belek menolak pemberian uang yg di serahkan oleh Senopati Bima Sakti ini.


" Hitung -hitung , ini adalah hadiah pernikahan Senopati dariku,.." ungkap nya.


Bahkan ia memberikan sebuah kain sutera halus dari negeri sebrang itu untuk dirinya.


" Nanti Ki Warandana rugi,..!" seru Raka Senggani sambil berkelakar.


" Tidak,..kalau hanya untuk dirimu , Aku tidak akan merugi senopati,..!" terang Ki Jaka Belek.


Ia pun tersenyum memandang ke arah Raka Senggani yg segera membawa pakaian itu dan meninggalkan tempat tersebut.


Walaupun bagaimana , kerahasiaan mereka berdua harus tetap terjaga sebagai para prajurit sand Demak.


Langkah kaki Senopati Bima Sakti di percepat begitu keluar dari area tersebut.


Ia langsung menuju ke kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana, karena si Jangu di tinggalkan disana.


Saat Mentari condong ke sebelah barat, sampailah Raka Senggani di rumah Tumenggung Wangsa Rana.


Sementara Sang Tumenggung masih berada di keraton Pajang. Tetapi Raka Senggani tetap menunggu orang tua itu, yg telah dianggap nya sebagai keluarga sendiri.


Menjelang maghrib , Tumenggung Wangsa Rana baru kembali , terlihat raut wajah nya yg nampak sedikit murung.


Meski ketika bertatapan dengan Raka Senggani ia masih menyempatkan untuk tersenyum.


Setelah ke pakiwan membersihkan tubuh,.kemudian Tumenggung Wangsa Rana dengan di dampingi oleh istrinya makan bersama dengan Raka Senggani.


Malam itu mereka bertiga mengobrol cukup lepas, tidak membicarakan masalah tugas , hanya membicarakan mengenai acara yg akan di gelar oleh Sang Senopati.


" Ngger,.. Pamanmu sangat senang sebentar lagi dirimu telah ada yg mengurusnya,.." ucap istri Tumenggung Wangsa Rana.


" Benar , Bi,.. Senggani pun demikian,.. karena memang sampaj saat ini,..kalau pulang tidak ada yg mengharapkan,..mungkin hanya Ki Lamiran saja yg senang,.." sahut Raka Senggani.


" Akan tetapi paman sangat setuju , dirimu telah berbaikan dengan Ki Raka Jang, Paman mu itu,..Ngger,..bagaimana pun juga keluarga harus di nomor satukan,.dengan kita berbuat baik,.orang tua mu di alam sana pun akan mendapatkan kebahagiaan,..jangan lupa Ngger,..sempatkanlah untuk nyekar ke makam kedua orang tua mu itu,.."


Nasehat dari Tumenggung Wangsa Rana seolah membuka sesuatu yg tertutup yg selama ini terasa di lupakan oleh Senopati Bima Sakti.


Ia memang tidak kepikiran akan hal itu.


" Terima kasih , paman ,..telah mengingatkan akan hal itu..nanti selepas dari Pajang ini,.Senggani akan pergi ke makam kedua orang tuaku,.." sahut Raka Senggani.


Pembicaraan ketiganya terus berlanjut sampai larut,.dan ketika Nyi Tumenggung yg sudah sangat mengantuk meninggalkan tempat itu untuk tidur,..Raka Senggani dan Tumenggung Wangsa Rana tetap melanjutkan obrolan nya.


" Paman ,..Senggani melihat tadi setelah kembali dari istana ,..wajah Paman Tumenggung terlihat kusut,..ada masalah di keraton Pajang,..?" tanya Raka Senggani.


" Hehhh,.."

__ADS_1


Tumenggung Wangsa Rana segera menghela nafasnya, ia jadi teringat apa yg telah berlangsung di istana siang tadi.


" Angger Senggani,..saat ini, banyak pejabat Pajang yg umumnya berusia muda saling berebut kekuasaan sehingga membuat Kanjeng Adipati menjadi pusing,..dan imbasnya adalah diriku,..!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Memang nya , Kanjeng Gusti Adipati menitahkan apa kepada Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Kemudian Tumenggung Wangsa Rana menceritakan kepada Raka Senggani, bahwa Istana Pajang saat ini terbagi ke dalam tiga kelompok.


Yang pertama adalah kelompok dari keluarga sang Adipati sendiri, baru yg kedua adalah kelompok dari pejabat yg sudah berusia cukup sepuh tetapi sangat setia kepada Sang Adipati,..dan kelompok yg terakhir adalah para pejabat yg berusia muda namun memiliki pengaruh yg cukup kuat dalam keraton. Tetapi sikap mereka sering membuat pusing sang Adipati.


Oleh Kanjeng Adipati Pajang,.Ia di perintahkan untuk menjadi pemimpin yg mengawasi seluruh sepak terjang dari pejabat Pajang yg berusia muda itu.


Tumenggung Wangsa Rana mengatakan juga,.. bahwa tugasnya kali ini tidak kalah beratnya ketika harus berperang di medan laga,..daripada harus memata matai para pejabat itu.


Kepercayaan yg di berikan oleh Kanjeng Adipati kepada nya menjadi semacam bumerang dan dapat mengancam jiwanya dan seluruh keluarganya.,..terang nya kepada Raka Senggani.


Keluh kesah yg ia sampaikan itu merupakan rasa kekesalan nya terhadap para pejabat dalam istana Kadipaten Pajang sendiri.


Dan Raka Senggani yg mendengarkannya menjadi kasihan kepada Tumenggung Wangsa Rana itu,.,selain ia memang sudah mulai sepuh, Tumenggung Kepercayaan Kanjeng Adipati Pajang ini tidak terlalu banyak meminta dan lebih baik ia tunjukkan dengan perbuatan nya, dan satu hal yg sangat di fahami oleh Raka Senggani,.. Tumenggung Wangsa Rana tidak ingin ada masalah antara teman terlebih masalah kerajaan atau pun kadipaten Pajang ini,..sebisa mungkin ia mengjindari perpecahan dalam kalangan istana sendiri.


Jadi jika Kanjeng Gusti Adipati Pajang telah memrintahkan dirinya untuk menjadi telik sandi diantara para pejabat dalam istana , itu artinya keadaan istana sudah mulai tidak aman lagi.


Begitulah yg ada di benak dari Senopati Bima Sakti ini,..akan tetapi ia tidak berani turut campur lebih dalam lagi urusan dari Tumenggung Wangsa Rana itu, dan hanya dapat mendoakan agar semua cepat berlalu.


Malam semakin beranjak jauh ketika Tumenggung Wangsa menanyakan kepada Raka Senggani kapan kiranya ia akan kembali ke desa Kenanga,. dan oleh Senopati Bima Sakti dijawab bahwa esok hari ia akan kembali.


Disarankan oleh Tumenggung Wangsa Rana agar ia segera beristrahat walaupun sebenarnya masih banyak yg akan ditanyakan oleh nya terhadap Raka Senggani, namun di urungkannya,.karena sudah saat nya untuk beristrahat.


Keesokan harinya ,...dengan menunggangi si Jangu ,.. Senopati Bima Sakti kembali lagi ke Kenanga.


Ia hanya memerlukan jawaban atas benda yg di temukan nya itu.


Jawaban dari Ki Lintang Jaka Belek cukup memuaskan nya,..ia pun kemudian tidak memacu terlalu cepat meninggalkan kota Pajang.


Setibanya di pedukuhan penyangga kota kadipaten itu, senopati tidak mampir, ia terus saja melanjutkan perjalanan nya.


" Heaahh,..!"


" Heaaahh,..!"


Ia menggebrak si Jangu,. karena jalanan cukup sepi maka dengan segera ia memacu kuda tersebut.


Biasanya Senopati Bima Sakti jarang berhenti di tempat tersebut,.karena sebenarnya letak nya kurang baik dan tidak terlalu jauh lagi dari desa Kenanga.


Namun entah kenapa pada malam itu , ada kerinduan dari Raka Senggani untuk menyantap daging kelinci segar dan biasanya banyak terdapat di ara -ara.


Setelah menambatkan si Jangu,.mulai lah Raka Senggani berburu.


Dengan sebuah pisau kecil yg biasa ia selipkan di pelana kudanya, Senopati Bima Sakti segera mencari hewan buruan itu.


Biar sajalah, ketika diriku telah mendapatkan buruan baru nanti akan membuat apinya,..kata Raka Senggani dalam hati.


Dengan sangat perlahan ia mencari kelinci yg menjadi hasratnya untuk dimakan pada malam itu.


Senopati Bima Sakti mengtrapakan peringan tubuhnya agar tidak menimbulkan suara yg dapat di dengar oleh para hewan yg ada di ara -ara tersebut.


Cukup lama ia mencari,..yg sering ia temukan adalah tikus ,..hewan pengerat itu acapkali mengejutkan nya dengan berlari cepat ketika ia akan menangkap nya, yg ia sangka adalah kelinci.


Ketika berada cukup jauh dari tempat dimana ia menambatkan si jangu barulah menemukan apa yg di carinya itu. Seekor kelinci yg cukup besar dan gemuk terlihat sedang mengerat sebatang rumput. Dengan cepat Raka Senggani mengejar nya.


" Hufhhhh,.."


Bagaikan terbang Senopati Bima Sakti ini melayang diatas rerumputan dan mengejar kelinci gemuk tersebut.


Sang kelinci yg sangat kaget karena ada yg menggangu nya langsung berlari sambil melompat lompat.


Raka Senggani kembali mengemposi tenaga dalam nya dan berusaha untuk meraih kelinci tersebut.


Dan,...


" Hufhhhh,.."


" Dhieghh,.."


Ketika tangan nya akan berhasil menggapai tubuh kelinci tersebut, tidak disangka oleh Senopati Bima Sakti ini sebuah tendangan telak mengahantam lambung nya dan ia sampai terjungkal di buatnya,..hewan buruan nya pun lepas.


" Hahhh,.."


Senopati Bima Sakti ini sangat terkejut karena nya, ia tidak menyangka ada seseorang yg berada di tempat itu yg ia tidak tahu kehadiran nya.

__ADS_1


Senopati sandi yuda Demak ini segera bangkit berdiri setelah is bergulingan di atas rerumputan yg agak basah tersebut.


Matanya nsmpak melihat ke arah seseorang yg berdiri tegak membelakanginya. Orang tersebut menggunakan pakaian serba hitam.


" Siapa kisanak ini,..mengapa menyerangku,..?" tanya Raka Senggani.


Hati Senopati Bima Sakti ini cukup penasaran dengan orang yg telah menyerng nya itu.


Tidak ada jawaban dari orang yg telah menghadang nya,.malah ia membalikkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan Raka Senggani.


Orang yg berpakaian serba hitam ini menggunakan penutup wajah yg juga Berwarna hitam.


Tangannya dilipatnya di depan dada dan menatap ke arah Raka Senggani.


Senopati Bima Sakti kembali mengajukan pertanyaan,..


" Apa maksud kisanak ini menyerangku ,..apa kita ada masalah,..?"


Orang tersebut tetap diam,..ia kemudian menggerakkan tangan kanannya,..


" Hiyyahhh,.."


Terdengar suara nyaring yg keluar dari mulut orang yg berpakaian serba hitam segera.


Ia menyerang Senopati Bima Sakti dengan sebuah pukulan jarak jauh yg di lambari tenaga dalam yg tinggi.


Angin pukulan segera menderu menerjang Raka Senggani.


" Heaahhh,.."


Senopati Bima Sakti segera melompat membubung tinggi keatas atas menghindari serangan itu.


Ia masih sempat berseru,..


" Ditanya langsung secara baik baik malah menyerang, terima ini ,..heaahh,.."


Suara yg cukup keras keluar dari Senopati Sandi Yuda Demak itu, angin pukulan yg teramat dahsyat keluar dari sebuah kebutan yg telah berada dalam genggaman tangan nya.


Kali ini orang yg berpakaian serba hitam itu harus berjumpalitan menghindari serangan balasan senopati Bima Sakti.


Raka Senggani yg sudah sangat geram terus menerus mengibaskan kebutan nya ke arah orang tersebut.


Dan hasilnya ,..orang tersebut kena hantaman angin prahara yg di hasilkan dari kebutan alas Siroban tersebut.


Orang yg berpakaian serba hitam itu melayang mengikuti hantaman angin sambil tetap menjaga keseimbangan nya agar tidak jatuh terhrmpas dengan keras ke atas tanah.


Melihat hal tersebut berkatalah dalam hati Raka Senggani,..


Ternyata memang orang memilki ilmu peringan tubuh yg sangat tinggi,.. hantaman ku tadi tidak membuatnya terjatuh, melainkan ia masih mampu mendarat dengan sempurna diatas tanah,.


Senopati Bima Sakti dapat meraba kemampuan dari lawannya itu, ternyata memiliki ilmu kadigajayaan yg tidak dapat disnggap enteng.


Senopati sandi yuda Demak ini, yg telah banyak mengalami benturan dengan berbagai tokoh dunia persilatan dengan mengadu kesaktian ,..bahkan dengan kalangan para jin pun telah ia lakoni, segera tahu bahwa lawannya kali ini mmeiliki kesaktian yg sulit untuk di ukur.


Dengan kehadiran nya yg tidak di ketahui olehnya saja telah membuat Senopati Bima Sakti ini bertanya -tanya siapakah sesungguhnya orang tersebut.


Apakah ia adalah Mpu Loh Brangsang,..katanya dalam hati.


Karena setahunya , diantara para tokoh yg pernah ia jumpai dan menjajal kemampuan nya,..Mpu Loh Brangsang lah yg memiliki ilmu peringan tubuh yg nyaris sempurna.


Orang tua , penguasa Gunung Merapi itu dapat duduk dan berdiri melayang diatas tanah dengan kemampuan ilmu nya tersebut.


Akan tetapi kalau di tilik dari bentuk tubuhnya ,..orang ini lebih mirip kepada seorang perempuan,..kata Raka Senggani lagi dalam hati.


Namun sebelum ia dapat menentukan siapa lawannya kali ini, terdengarlah teriakan sangat keras dari orang tersebut,..


" Hiyyyahh,.."


Kedua tangan nya terbuka mengarah kepada Raka Senggani dan dari kedua telapak tangannya itu keluar bola bola api yg berwarna merah menyerang Raka Senggani.


Kembali Senopati Sandi Yuda Demak ini harus menghindari serangan itu dengan melompat sangat cepat ke udara.


Tubuhnya beberapa kali berputaran , dan pada titik tertinggi dari lompatan nya itu,..


" Aji Wajra Geniiii..heaahh,.."


" Dhumbhhh,.."


" Bletaaaaarrrr,.."

__ADS_1


Menghantam orang yg berpakaian serba hitam tersebut.


__ADS_2