Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 11 Kembang Kedawung. bag pertama.


__ADS_3

Raka Senggani segera melompat menghindari serangan Macan Loreng yg besar tersebut. Dengan tetap menggenggam kelinci hasil buruan nya. Ia bersiap untuk melayani hewan buas itu.


" Rrrrraagghhh, "


Macan Loreng itu menggeram keras karena buruan nya berhasil menghindar.


Kembali hewan buas itu melompat, menyerang Raka Senggani, dan kali ini begitu cepat nya, sehingga nyaris saja Kelinci yg ada di tangan Senopati Pajang itu dapat di sambar Macan Loreng itu.


" Rrrrraagghhh,.nggrrreaàgghhh,"


Hewan itu merunduk bersiap kembali melakukan serangan, sedangkan Raka Senggani masih pada posisi nya dengan menjulurkan tangan nya yg memegangi kelinci hasil tangkapnya itu.


Nampak nya ia sengaja mempermainkan Raja hutan tersebut.


Rupanya pancingan itu membuat Sang Raja hutan kembali bergerak dengan cepat, ia melakukan lompatan yg sangat tinggi guna mencapai kelinci.


" Rrrrraagghhh, grrrhhhh"


Sambil mengelusrkan suaranya ia mencoba menggapai hewan buruan nya itu, namun kali ketiga ia gagal untuk mendapatkan nya, malah Raka Senggani berhasil meloncat naik ke atas punggung nya .


" Huuufffhh"


Dengan tangan kirinya , ia memegang leher sang Raja hutan tersebut.


Mendapati ada yg telah naik di atas punggung nya, Si Raja hutan itu semakin liar , ia mencoba untuk menjatuhkan Raka Senggani , dengan berlari sangat kencang dan tiba -tiba seketika berhenti, namun makhluk yg ada di atas punggung nya itu tetap juga tidak terjtuh.


Karena Raka Senggani memang menggenggam erat kulit leher binatang terdebut di barengi ilmu peringan tubuhnya, ketika tubuh sang Raja hutan itu berhenti mendadak ia pun tetap tidak trjatuh.


Sang Raja hutan semakin beringas dengan kepala nya ia mencoba meraih tangan Raka Senggani yg mencengkeram lehernya itu, namun upaya ini pun tidak berhasil, Raka Senggani memindahkan tangan nya ke belakang.


" Rrrrraagghhh, grrrhhhhhhh,"


Macan itu kembali menggeram keras, ia akan berlari lagi guna menjatuhkan penunggang nya itu.


Secepat kilat sang Raja hutan tersebut berlari dan berhenti mendadak, namun kembali penunggang nya itu tidak juga terjatuh, namun si Raja hutan itu tidak kalah cerdik nya setelah berkali -kali gagal akhirnya ia kemudian menjatuhkan tubuhnya sendiri . Sambil bergulingan.


" Rrrrraagghhh, grrrhhhhhhh,"


Raka Senggani memang ikut terjatuh , namun dengan cepat Senopati Pajang itu melompat menjauhi si Raja hutan itu.


Kali kedua makhluk yg berbeda itu saling berhadap -hadapan.


Kembali sang Raja hutan itu menggeram dengan keras dan kemudian melompat menyerang Raka Senggani.


Segera Senopati Pajang itu melentingkan tubuh nya ke udara, luput serangan sang Raja hutan itu, dan dengan cepatnya Raka Senggani mengejar hewan itu dan kembali naik ke atas punggung nya.


Si Raja hutan semakin geram ia langsung menjatuhkan tubuhnya, dan bersamaan itu pula tubuh Raka Senggani ikut terlepas, Si Raja hutan itu terdiam dan tetap terdiam pada posisinya, terlihat kelelahan sang Raja hutan itu.


Perlahan ia bangkit dan tidak akan menyerang lagi melainkan berjalan meningglakan tempat itu.


Rupanya si Raja hutan itu merasa tidak akan mampu untuk merebut buruan yg ada di tangan Senopati Pajang.


" Rrrrraagghhh,"


Terdengar suaranya setelah berjalan menjauh dari Raka Senggani.


" Ahhh, mengapa adi Senggani mempermainkan binatang itu, kasihan ia jadi kesal atas perlakuan dari adi Senggani, lihat ia tidak mampu berlari, karena sudah kelelahan,". tegur Lintang Sandika.


" Kakang Sandika mengagetakn saja, Senggani pikir ada Macan lagi, mari kakang kita panggang Kelinci ini,". seru Raka Senggani.


" Mariiiii,". jawab Lintang Sandika.


Dan kedua orang itu kemudian memanggang kelinci gemuk itu, seraya mereka menyantap nya.


" Ternyata Raja hutan itu telah mengintai Kelinci , tanpa Senggani menyadari nya , begitu Senggani berhasil menangkap nya ia pun berusaha untuk merebut nya," ucap Raka Senggani.


" Ya, tetspi ia tidak berhasil untuk merebutnya dari tangan adi Senggani, sehingga harus pergi dengan tangan kosong,". sahut Lintang Sandika.


Sementara malam semakin dalam, keduanya beristrahat di ara -ara itu .


Esok harinya, Raka Senggani dan Lintang Sandika melanjutkan perjalanan nya lagi menuju Pajang.


Debu debu berterbangan oleh kaki -kaki kuda mereka. Keduanya saling berlomba untuk cepat sampai di Pajang.

__ADS_1


" Apakah kita akan langsung ke rumah Paman Tumenggung Wangsa Rana, adi Senggani,?". tanya Lintang Sandika.


" Benar kakang kita langsung menuju rumah Paman Tumenggung, nanti setelahnya kita akan menghadap Kanjeng Gusti Adipati," jawab Raka.


Menjelang sore sampai lah keduanya di tapal batas kadipaten Pajang, kedua nya terus memacu kudanya dan memasuki pintu gerbang kota kadipaten Pajang itu dari arah sebelah barat.


Di pintu gerbang itu tidak ada yg menghentikan keduanya karena prajurit jaga itu telah mengenal nya.


Mereka terus masuk ke dalam kota dan langsung menuju ke kediaman dari Tumenggung Wangsa.


Sampai di rumah Tumenggung Wangsa Rana keduanya langsung turun dari kudanya.


" Assalamu alaikum ,Paman Tumenggung,". ucap Raka Senggani.


" Wa'alaikum salam," terdengar jawaban dari dalam.


Tidak terlalu lama, sang Tumenggung keluar dan berdiri di pendopo rumah nya.


Melihat Raka Senggani yg ada di tempat itu, Tumenggung Wangsa Rana langsung turun dan memeluk tubuh Senopati Brastha Abipraya itu.


" Paman senang sekali melihat Angger Senggani dalam keadaan selamat tanpa kurang sesuatu apa pun," ucap Tumenggung Wangsa Rana.


Sambil menepuk nepuk pundak Raka Senggani ia mengajak Senopati Brastha itu naik ke atas pendopo rumah nya.


Raka Senggani dan Lintang Sandika segera naik keatas pendopo rumah itu.


Kemudian ketiganya langsung duduk. Tumenggung Wangsa meminta kepada istrinya untuk membuatkan minum.


" Paman merasa senang sekali dengan kepulangan Angger Senggani kemari, karena kemarin Kanjeng Adipati telah memrintahkan paman untuk segera mengirimkan prajurit untuk datang ke Mantyasih, kelihatan nya Kanjeng Adipati sangat kehilangan Angger, sampai ia marah kepada Paman karena telah meningglakan Angger di puncak Gunung Tidar itu," cerita Tumenggung Wangsa Rana.


Raka Senggani dan Lintang Sandika hanya mendengar kan saja ucapan Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Besok , Angger harus segera menghadap kepada Kanjeng Adipati di istana, agar beliau dapat menjadi tenang dengan kehadiran mu, Ngger," ucap Tumenggung Wangsa.


" Baik, Paman Tumenggung, Senggani akan menghadap ke keraton,. besok,". sahut Raka Senggani.


" Bagus , Ngger, karena Paman merasa bersalah telah meninggalkan mu di Mantyasih itu,". kata sang Tumenggung lagi.


" Ahh, itu bukan kesalahan Paman Tumenggung, memang kita tidak dapat menentukan nasib kita demikian pula dengan Senggani , Paman, Senggani merasa cuma semalam saja berada di alam jin itu tetapi ternyata sudah sampai satu purnama,". jelas Raka Senggani.


" Maaf sebelumnya , Angger Senggani, tadi teman -teman Angger telah datang kemari dan meminta untuk bertemu dengan angger," kata Nyi Tumenggung Wangsa Rana.


" Sekarang mereka kemana , Bi,?" tanya Raka Senggani.


" Mereka telah kembali ke bangsal keprajuritan Pajang , Ngger," jawab Nyi Tumenggung lagi.


" Kalau begitu biar prajurit jaga saja yg datang kesana untuk memanggil mereka datang kemari," ucap Tumenggung Wangsa Rana.


Sang Tumenggung kemudian memanggil seorang prajurit jaga dan memerintahkan nya untuk memanggil keempat pemuda dari Desa Kenanga itu.


" Paman Tumenggung , apakah saat ini , prajurit Pajang telah siap di terjunkan ke medan perang guna membantu pasukan Demak,?" tanya Raka Senggani.


" Sudah Ngger, bahkan salah seorang Pangeran putra dari Pangeran Sabrang Lor telah datang kemari untuk melihat perkembangan para prajurit Pajang ini dan ia puas melihat hasil nya,". jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Siapa yg datang Paman,?" tanya Raka Senggani.


" Raden Abdullah Wangsa dengan di temani oleh kakang Tumenggung Bahu Reksa,". jawab Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Romo datang kemari , Paman Tumenggung,?". tanya Lintang Sandika agak terkejut.


" Benar angger Sandika, Romo mu yg mwndampingi Raden Abdullah Wangsa itu, ia juga sebenarnya ingin melihat kalian berdua, namun sayang kalian belum kembali," jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Apakah Romo tidak meninggalkan pesan Paman Tumenggung,?". tanya Lintang Sandika lagi.


" Ia berpesan kepada mu , Ngger agar segera kembali setelah selesai di Mantyasih , secepatnya , ". kata Tumenggung Wangsa Rana.


" Bagaimana adi Senggani, apakah kakang akan berangkat terlebih dahulu ke Demak nanti adi menyusul kemudian ,?". tanya Lintang Sandika.


" Sebaiknya kita mendengarkan terlebih dahulu apa yg akan di ucapkan oleh Kanjeng Adipati, jika memang Senggani tidak di perbolehkan menyertai kakang ke Demak, silahkan Kakang berangkat terlebih dahulu nanti Senggani menyusul,". jelas Raka Senggani.


Ketiganya terus berbincang sampai empat orang pemuda dari Desa Kenanga itu datang.


Keempat muda mudi dari desa Kenanga itu langsung berpelukan dengan Raka Senggani. Termasuk dengan Sari Kemuning.

__ADS_1


" Kami semua amat senang melihat adi Senggani dalam keadaan sehat wa lafiat tanpa kurang apapun,". ujar Tumenggung Jati Andara.


" Sama -sama , Kakang Andara, Senggani pun amat senang melihat kalian dalam keadaan baik di Pajang ini, menyenangkan bukan tinggal disini,?" tanya Raka Senggani.


" Itulah kakang Senggani, kami ingin meminta izin kepada Paman Tumenggung dan dirimu agar memperbolehkan kami kembali ke rumah Kenanga,". ucap Dewi Dwarani.


" Kalau Paman , tidak ada hak untuk melarang kalian pergi dari sini karena kalian belum menjadi prajurit Pajang yg harus tunduk pada paugeran keprajuritan,". jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Iya kami memang ingin sekedar kembali , untuk melihat keadaan desa Kenanga karena memang sudah agak lama kami berada disini," kata Japra Witangsa.


" Kalian dapat meninggalkan Pajang ini, jika kalian memang ingin kembali ke Kenanga, tetapi Senggani belum dapat bersama kalian kembali ke Kenanga, Senggani masih harus menghadap Kanjeng Adipati Pajang, dan mungkin setelah nya akan ke Demak untuk mengantarkan kakang Sandika,". jelas Raka Senggani.


" Baiklah jika Guru tidak dapat kembali ke Kenanga tetapi kami berempat akan kembali ,... mungkin besok kami akan kembali nya,". ucap Sari Kemuning.


" Tetapi sebelum kalian kembali , nanti malam , Senggani akan melihat kemampuan kalian berempat, dan jika kakang berdua memang berkeinginan untuk menjadi prajurit Demak, datanglah nanti ke Demak,!" ungkap Raka Senggani.


" Hehh, mengapa mereka ingin menjadi prajurit Demak, mengapa tidak menjadi prajurit Pajang saja, Ngger,?" tanyaTumenggung Wangsa Rana.


" Kalau masalah itu , Senggani tidak tahu paman, ... Paman Tumenggung dapat bertsnya sendiri kepada orang nya!". jawab Raka Senggani.


" Begini Paman Tumenggung, memang keinginan kami dari awal ingin menjadi prajurit Demak , karena kami memang ingin melihat keadaan Kotaraja Demak, karena memang Demak pun tentu memiliki kelebihan dari kota -kota yg lain, bukan begitu Witangsa," jawab Jati Andara.


" Benar Paman Tumenggung, kami sedari semula ingin menjadi prajurit Demak, ". timpal Japra Witangsa.


" Baiklah jika itu memang alasan nya, Paman pun tidak dapat memaksakan kepada kalian untuk menjadi prajurit Pajang," ujar Tumenggung Wangsa Rana.


" Jika kakang berdua memang masih berniat ingin menjadi prajurit Demak,, nanti malam kalian berdua harus menunjukkan kemampuan yg telah kalian dapat itu, hitung-hitung ini adalah Pendadaran pertama," kata Raka Senggani.


" Baik , kami berempat memang ingin kembali berlatih lagi di bawah bimbingan guru yg baru saja bertarung dengan raja nya para jin,". seru Sari Kemuning.


" Kemuning , jangan panggil guru kenapa,?" Tanya Raka Senggani.


" Memang nya kenapa, kakang Senggani kan memang guru kami berempat,?" tanya Sari Kemuning balik.


Ternyata putri Ki Jagabaya itu sengaja bergurau terhadap Raka Senggani, karena mereka merasa sudah agak lama tidak bertemu.


Dan malam itu, selepas waktu isya, keenam orang itu berjalan menuju tempat yh berada di luar kota Pajang itu.


Dan di bawah pengawasan Raka Senggani, keempat nya segera memperlihatkan kemampuan nya selama di tinggalkan oleh Raka Senggani ke Mantyasih.


Terlihat Senopati Pajang itu cukup puas dengan hasil yg telah di capai ke empat orsng itu.


" Untuk kalian semua satu pesan dariku, jangan cepat merasa puas dengan apa yg telah dicapai, tingkatkan terus terutama nya masalah tenaga dalam , berlatih lah kalian dengan tetap meningkatkan tenaga dalam, jika kalian bertemu musuh yg berilmu tinggi tentu kalian tidak akan mudah untuk di kalahkan," seru Raka Senggani.


" Dan untuk malam ini, cukup sampai disini, nanti jika telah sampai ke Kenanga sampaikan salamku kepada penghuni desa Kenanga, utama nya kepada Ki Bekel, Ki Jagabaya dan Ki Lamiran,* ucap Raka Senggani lagi.


" Apakah tidak ada salam untuk Putri Juragan Tarya, Guru,?". tanya Sari Kemuning.


" Ya, sampaikan juga salamku kepada Juragan Tarya dan putrinya," kata Raka Senggani sambil tersenyum.


Kemudian mereka kembali ke rumah Tumenggung Wangsa dan malam pun telsh semakin larut.


Keesokan harinya dengan di temani oleh Tumenggung Wangsa Rana, Raka Senggani menghadap Kanjeng Adipati Pajang di Istana nya.


" Mohon ampun sebelumnya Kanjeng Gusti Adipati, hamba Senopati Brastha Abipraya menghaturkan sembah,". ucap Raka Senggani.


Sambil merangkap kan kedua tangan nya diatas kepala.


" Hamba Tumenggung Wangsa Rana , menghaturkan sembah Kanjeng Gusti Adipati,". kata Tumenggung Wangsa Rana.


" Ya, aku telah menerimanya, silahkan jelaskan kepadaku tentang kejadian yg telah terjadi di puncak Gunung Tidar itu, Senopati Brastha Abipraya," terdengar suara Adipati Pajang.


" Maaf sebelum nya, Kanjeng Adipati, bahwa hamba memang telah mengadakan pertarungan dengan penguasa Gunung Tidar itu, namun yg menjadi pertanyaan sampai saat ini , mengapa hamba telah melakukan nya selama satu purnama, sedangkan hamba merasa cuma satu malam saja berada di situ,". kata Raka Senggani.


" Itulah yg ingin kutanyakan kepadamu Senopati Brastha Abipraya, mengapa bisa dirimu mampu bertarung selama itu tanpa merasa kelaparan atau kelelahan,?" tanya Adipati Pajang lagi.


" Hamba benar -benar tidak tahu Kanjeng Adipati, karena menurut hamba hanya sebentar saja berada disana," jawab Raka Senggani.


" Memang cerita itulah yg dahulu Kudengar dari orangtuaku bahwa ada seorang sakti yg mampu bertarung selama empat puluh hari empat puluh malam untuk menaklukan penguasa Gunung Tidar itu dan kali ini seorang Senopati Pajang telah melakukan nya kembali, memang tidak salah aku mengangkat dirimu menjadi seorang Senopati,". ungkap Adipati Pajang lagi.


Raka Senggani kembali merangkapkan kedua tangan nya,


" Hamba mohon ampun sebelumnya Kanjeng Gusti Adipati, karena hamba akan meminta izin ke Demak untuk mengnatarkan pulang , putra Tumenggung Bahu Reksa itu ,"

__ADS_1


" Silahkan , silahkan , Senopati Brastha Abipraya, karena keberhasilan mu telah membawa harum nama Pajang ini di tlatah Demak, dan aku memberiakn waktu istrahat kepadamu selama setengah purnama ,". jelas Adipati Pajang.


" Terima kasih Kanjeng Adipati," jawab Raka Senggani.


__ADS_2