
Kedua orang itu pun langsung kembali ke rumah Tumenggung Wangsa Rana.
Di kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana itu hari telah gelap, sejenak Raka Senggani melaksana kan perintah yg Maha kuasa, baru setelah nya ia dan Tara Rindayu di ajak makan bersama dengan keluarga Tumenggung Wangsa Rana itu.
Di sela - sela makan malam , Raka Senggani ber tanya kepada Tumenggung Wangsa Rana,
" Paman di mana para putra dan putri paman Tumenggung,?" tanya nya kepada Tumenggung Wangsa Rana itu.
" Ngger, anak paman dua orang dan kedua nya telah menikah dan mereka tidak tinggal di sini melain kan di kota raja Demak, !" jawab Tumennggung Wangsa.
" Apakah paman dan bibi tidak merasa kesepian, dengan di tinggal mereka ,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Ahhhh, kalau kesepian tidak Ngger, namun kalau rindu iya, apalagi mereka telah memiliki anak -anak yg lucu -lucu nya juga sangat menggemas kan,!" kata Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Jadi besok, Angger Senggani dan Angger Rindayu akan kembali ke Kenanga,?" tanya Nyai Tumenggung.
" Benar Bi, kami ber dua akan kembali setelah subuh, kasihan paman Sutarya dan istri nya, lama menunggu ke datangan Rindayu , putri nya itu,!" jawab Raka Senggani sambil melirik ke arah Tara Rindayu yg sedang makan.
" Ngger, apakah sewaktu di sekap oleh Begal Gunung Tidar itu, angger Rindayu tidak bisa melari kan diri,?" tanya Nyai Tumenggung.
" Pernah sekali Bi, saat masih di hutan di ujung desa kami, akan tetapi Rindayu ber hasil mereka tangkap kembali,!" jawab Tara Rindayu.
" Besok kamu naik kuda sendiri kan, Rindayu ,?" tanya Raka Senggani kepada Tara Rindayu.
" Iya kakang, besok Rindayu akan ber kuda sendiri, supaya semakin lancar, dan nanti di Kenanga Rindayu akan pergi kemana pun dengan ber kuda,!" jawab Gadis cantik itu.
Setelah selesai makan malam keluarga itu langsung keluar duduk di pendopo rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.
Sambil memandangi cerah nya suasana, dengan langit di penuhi bintang nampak mereka asyik mengobrol layak nya orang tua ter hadap anak nya.
Akan tetapi ketika telah sampai wayah sepi uwong mereka pun langsung ber istrahat , karena Raka Senggani dan Tara Rindayu akan kembali ke Kenanga esok pagi.
Terasa di hati Raka Senggani amat puas telah mampu menunai kan tugas dua sekaligus, yaitu perintah dari Adipati Pajang dan permintaan dari Juragan Tarya.
Hingga pemuda itu pulas dalam tidur nya, karena kemarin semalam suntuk ia tidak tidur.
Sesaat azan shubuh ber kumandang, Raka Senggani bangun dari tidur nya dan segera ke pakiwan seraya membersih kan diri dan mengambil wudhu.
Ia kali ini melaksana kan sholat dengan khusyuk nya, karena beberapa kali ia ter paksa harus menunda akibat terjadi pertarungan baik dengan Macan Baleman maupun dengan Singo Lorok.
Setelah selesai di lihat nya Tara Rindayu pun sudah ber siap, dan mereka ber dua pun pamitan kepada Tumenggung Wangsa Rana dan istri nya, saat Terang tanah kedua nya pun telah berada di punggung kuda nya.
" Hati-hati di jalan , Ngger," kata Tumenggung Wangsa Rana.
" Iya Paman, selamat tinggal paman dan bibi,!" kata Raka Senggani seraya melambai kan tangan nya.
Tumenggung Wangsa Rana membalas nya hingga mereka keluar gerbang rumah itu.
Selanjut nya kedua muda mudi itu menjalan kan kuda nya perlahan , mereka menuju gerbang Timur kota kadipaten Pajang menuju ke desa Kenanga.
Pasangan muda mudi terlihat serasi, yg lelaki sangat tampan dan nampak gagah memakai pakaian ke prajuritan Pajang lengkap dengan tanda kepangkatan nya, sedang kan yg perempuan nampak cantik dengan balutan pakaian warna hijau di tambah kulit tubuh nya yg putih bersih, laksana pasangan Kamajaya dan dewi Ratih.
Kedua nya tidak terlalu memacu kuda nya, sehingga mereka bebas menikmati pemandangan indah di kiri dan kanan jalan, meski pun keadaan persawahan masih dalam kosong karena baru selesai panen.
__ADS_1
Namun pagi itu banyak penduduk Pajang yg telah turun ke sawah.
Selepas Mentari lewat di atas kepala kedua nya singgah sebentar di dekat sebuah umbul sambil memberi minum kuda nya seraya Raka Senggani sholat.
Namun setelah itu mereka ber dua pun agak memacu kuda nya menuju desa Kenanga.
Hampir sehari semalam kedua nya melakukan perjalanan itu, sampai lah mereka di desa Kenanga, selepas melewati gapura desa Kenanga, Raka Senggani dan Tara Rindayu langsung ber belok ke kanan menuju rumah Juragan Tarya, rumah dari Tara Rindayu itu.
Derap langkah kaki kuda membuat para penjaga pintu gerbang rumah yg paling besar di desa Kenanga itu buru -buru bangkit dan ber niat menghadang, akan tetapi setelah melihat kedua nya mereka langsung mengiringi nya.
Juragan Tarya dan istri nya yg baru selesai makan pagi langsung keluar melihat siapa tamu yg datang itu setelah melihat puteri nya, menjerit lah Nyai Tarya,
" Anakkuuuuuuuu, Rindayu"
Ia langsung mendekap putri semata wayang itu setelah turun dari kuda nya, Tara Rindayu terus di gandeng ibunda nya naik pendopo rumah, sementara Juragan Tarya langsung mengajak Raka Senggani naik pula ke pendopo.
" Mari Ngger, silah kan masuk, !" kata Juragan Tarya kepada Raka Senggani.
Memang Juragan Tarya amat kaya raya di desa nya namun ketika harus ber hadapan dengan pihak keamanan terutama para prajurit ia ter lihat sungkan dan merasa minder, apa lagi saat itu Raka Senggani lagi ber pakaian ke prajuritan Pajang lengkap dengan atribut nya, sehingga membuat Juragan Tarya jadi sungkan.
" Mari Paman, " kata Raka Senggani kepada Juragan Tarya.
" Silahkan, silahkan, !" kata Juragan Tarya sambil agak membungkuk.
" Ahh, paman jangan begitu, biasa saja, aku adalah Raka Senggani, memang saat ini , Senggani telah di angkat sebagai prajurit di Pajang, akan tetapi Paman Tarya jangan seperti itu, tidak usah ewuh pakewuh, biasa saja,!" kata Raka Senggani setelah duduk di atas pendopo.
" Ahh, Paman tidak berani Ngger, apalagi saat ini Angger ter lihat lain,!" ucap Juragan Tarya.
" Benar Ngger, Paman sampai pangling, Paman kira Pangeran dari mana yg datang ke rumah Paman ini,!" ucap Juragan Tarya.
" Jadi setelah Rindayu kami selamat kan berarti janji kami telah kami tepati kepada paman Tarya, sehingga kini Senggani tidak memiliki hutang apa pun terhadap Paman Tarya,!" ucap Raka Senggani.
" Wah , saat ini kami lah yg banyak ber hutang kepada Angger Senggani, mungkin jiwa dan raga kami penebus nya belum lah cukup, dan janji kami itu tetap akan kami penuhi jika Angger Senggani menyetujui dan menerima nya namun jika tidak pun kami tidak memaksa akan tetapi andaikata Angger ber sedia tentu kami akan sangat senang sekali,!" ucap Juragan Tarya.
Kemudian makan dan minum di hidang kan oleh pembantu Juragan Tarya itu, serta keluar nya Tara Rindayu dan ibunda nya turut nimbrung dalam pembicaraan itu.
" Begini paman, soal balas jasa itu, tidak usah Paman pikir kan, saat ini yg perlu Paman pikir kan adalah menjaga keamanan dan keselamatan dari rumah Paman ini, karena saat ini tengah ber keliaran seorang perampok sakti yg ber gelar Si Topeng Iblis, memang saat ini ia masih mencari mangsa nya di Madiun akan tetapi tidak menutup kemungkinan ia akan merambah kemari, !" jelas Raka Senggani kepada Juragan Tarya.
" Kan ada Angger Senggani di sini " jawab Juragan Tarya.
" Ia sekarang telah menjadi senopati di Pajang bahkan kakang Senggani saat ini amat dekat dengan para pembesar keraton Pajang bahkan Sang Adipati telah mempercaya kan tugas itu untuk Kakang Senggani," tutur Tara Rindayu.
" Jadi saat ini Kakang Senggani bukan lagi milik desa Kenanga ini saja Romo, melain kan seluruh wilayah Pajang bahkan sampai Demak,,!" jelas Tara Rindayu lagi.
" Oleh sebab itu lah Paman Tarya harus mengupaya kan sendiri keamanan dari rumah ini, dan jangan salah mengambil para pengawal, sehingga kejadian yg telah lalu tidak terulang lagi,!" jelas Raka Senggani.
" Baik lah Ngger, nasehat mu akan Paman laksana kan, mudah mudahan, desa Kenanga ini tidak akan diambah oleh Si Topeng Iblis itu, mengingat nama Angger di sini,!" jawab Juragan Tarya.
" Ah, Paman , nama Senggani bukan jaminan, yg benar adalah upaya kita menghindari dari masalah yg akan terjadi, dengan ber siap siaga,,!" kata Raka Senggani.
Setelah agak lama di rumah Juragan Tarya kemudian Raka Senggani pamit pulang ke rumah Ki Lamiran, ia sudah sangat rindu kepada orang tua itu, yg sangat baik pada nya sejak ia masih kecil dulu.
Nampak raut di wajah Tara Rindayu ada mendung yg menggantung sejak kepergian dari Raka Senggani. Karena ia merasa kan bahwa pemuda itu telah ber beda dari yg dahulu ia kenal, walau pun mungkin Raka Senggani masih menutupi perasaan nya, tetapi entah lah, pikir Tara Rindayu dalam hati.
__ADS_1
Kuda yg di tunggangi oleh Raka Senggani itu langsung menuju rumah Ki Lamiran, seperti biasa orang tua itu akan cepat membuka pintu rumah nya jika ada se ekor kuda yg masuk pekarangan nya.
" Oalah, tamu Agung toh,!" ucap Ki Lamiran dengan nada canda nya.
" Assalamualaikum Ki, bagaimana keadaan nya Ki, sejak Senggani tinggal kan, aman,?" tanya pemuda itu sambil menambat kan kuda nya.
" Wa'alaikum salam, baik dan aman, bagaimana dengan Angger sendiri,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
" Alhamdulillah, Senggani saat ini telah di angkat sebagai Senopati Pajang, akan tetapi bukan masalah itu yg ingin Senggani tanya kan kepada aki Lamiran,!" ucap Raka Senggani.
" Apa itu yg ingin angger tanya kan, apakah sesuatu yg penting dan sangat mendesak,?" tanya Ki Lamiran penasaran.
" Benar Ki, saat ini Senggani di tugas kan untuk menumpas Si Topeng Iblis, yg menurut banyak orang memiliki kesaktian yg sangat tinggi , dan dia ber kecimpung di wilayah kadipaten Madiun, namun yg menjadi per tanyaan Senggani adalah apakah benar suatu pusaka atau apa pun nama nya itu dapat merubah sifat dan watak se seorang,?". tanya Raka Senggani.
" Aneh , cerita nya tentang Si Topeng Iblis, nanya nya tentang pusaka ,,!" gerutu Ki Lamiran.
" Begini Ki, Senggani di beri sebuah pusaka berupa sebuah keris dari Kanjeng Adipati Pajang, sejak mengguna kan pusaka itu, sepak terjang Senggani sangat kasar menurut anak buah Singo Lorok, jadi pertanyaan nya benar kah sebuah pusaka bisa mengubah watak pemilik nya,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Mana, coba aki lihat pusaka itu,!" pinta Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
Pemuda itu pun langsung mengeluar kan Kyai Macan Kecubung dari pinggang nya dan di serah kan kepada Ki Lamiran.
Pande besi desa kenanga itu segera menarik keluar Keris Kyai Macan Kecubung itu dari Warangka nya, ter lihat pamor keris ber luk satu ber pendar ber warna kemerahan merahan.
Oleh Ki Lamiran ujung keris itu di sentuh nya dengan ujung jari nya, kemudian ia ber kata,
" Sungguh tepat Kanjeng Adipati itu menyerah kan keris....,!" Ki Lamiran seolah ber tanya nama keris itu.
" Keris Kyai Macan Kecubung, Ki, !" jelas Raka Senggani.
" Ya, Keris Kyai Macan Kecubung ini memang tepat berada di tangan Angger Senggani, dan Nampak nya Kanjeng Adipati dapat memahami sifat dari Angger Senggani,!" tutur Ki Lamiran.
" Maksud aki bagaimana, ?" tanya Raka Senggani tidak mengerti.
" Begini Ngger, perbawa keris ini sangat kuat bahkan mampu membuat si penggenggam nya ber lipat -lipat tenaga nya, namun ada sisi buruk dari Kyai Macan Kecubung ini, jika yg memegang nya tidak memiliki kekuatan dari yg Maha kuasa , keris ini akan membuat si pemilik nya menjadi adigang, adigung, dan adiguna, keris ber luk satu perlambang si pemilik mempunyai keteguhan hati dan ke imanan yg kuat ter hadap yg Maha kuasa jadi sangat benar lah Kanjeng Adipati memberi kan pusaka ini ke tangan Angger Senggani,!" jelas Ki Lamiran, sejenak ia terdiam.
Sambil memandangi kYai Macan Kecubung itu, Ki Lamiran melanjut kan làgi ucapan nya,
" Dan warangan yg ada di dalam keris sangat kuat, jika seekor Gajah ter kena oleh keris ini tentu akan mati, apalagi manusia biasa, paling tidak akan cacat tubuh nya dan mengalami kelumpuhan selama nya, itu jika orang itu memilki ilmu yg tinggi, jika tidak tentu segera menghadap yg Maha kuasa, apakah telah ada korban dari keris ini Ngger,?" tanya nya kepada Raka Senggani.
" Sudah Ki, Macan Baleman dari Blambangan telah ter luka akibat dari keris Kyai Macan Kecubung itu, setelah sebelum nya Senggani yg ter luka oleh jurus Macan Putih nya,!" jelas Raka Senggani.
" Hah, Macan Baleman dari Blambangan, bukan kah dia ter masuk dari jajaran tokoh -tokoh angkatan tua dari kalangan dunia per silatan, dia merupa kan murid dari Resi Brangah dari Blambangan,!" kata Ki Lamiran itu.
" Berarti Angger Senggani telah masuk tokoh -tokoh persilatan dari kalangan atas yg ada di pulau ini, dan tentu nya Angger Senggani akan ber hadapan dengan Singo Abra dari Banyu biru,!" jelas Ki Lamiran.
" Jadi apa yg mesti Senggani lakukan dengan keris ini, juga untuk menghadapi para tokoh golongan tua itu, Ki,?" tanya Raka Senggani.
" Modal angger Senggani sudah cukup baik, yaitu meningkat kan kedekatan kepada yg Maha kuasa dan jangan ter lalu mengumbar pemakaian Kyai Macan Kecubung ini,!" nasehat Ki Lamiran lagi.
" Ber hati -hati lah ,Ngger, karena akan banyak orang yg akan mengincar keris ini, dan diri mu sendiri, Ngger, saran aki tingkat kan terus ilmu pamungkas mu, dan pe guna kan jika engkau benar-benar ter desak,!" kata Ki Lamiran lagi.
" Hahhh, " Raka Senggani tampak ter kejut mendengar penuturan dari Ki Lamiran itu.
__ADS_1