Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 21 BIMA SAKTI. bag ke enam.


__ADS_3

Pada awalnya, Tumennggung Waturangga seolah tidak terlalu merasakan akibat dari pukulan lawan nya.


Namun seiring dengan semakin seringnya Raka Senggani berhasil menembus pertahanannya maka tubuh dari Tumennggung Waturangga ini pun mulai goyah , hingga pada satu kesempatan , disaat pertahanan nya terbuka pada bagian perutnya, sebuah tendangan yg cukup keras mendarat.


" Dhieghh,.."


Tak ayal lagi , Tubuh Tumennggung Waturangga ambruk ke tanah.


" *******,.."


Terdengar sumpah serapah yg keluar dari mulutnya,.ia pun segera bangkit.


Sambil mengibas -ngibaskan tangan nya kerena pakaian nya telah di kotori oleh debu.


" Nampaknya, kau memang berniat mati datang kemari Senopati Bima Sakti,.." seru Tumennggung Waturangga.


Dan di tangan nya telah tergenggam sebilah keris yg cukup besar dan panjang nya tidak seperti umum nya keris kebanyakan.


Pamor dari senjata tersebut menyeruak malam dengan cahaya kebiru biruan, dan cahaya nya mampu menerangi tempat di sekitar gumuk kecil itu.


" Jangan salahkan aku , jika dirimu mati di ujung kerisku ini,..bersiaplah,..heaahh,.."


Suara Tumennggung Waturangga yg terdengar berat dan serak kemudian di barengi lompatan membuka serangan menusukkan senjatanya tersebut ke arah tubuh Senopati Bima Sakti.


Tidak tinggal diam, Raka Senggani melompat beberapa kali sambil bersalto guna menghindari serangan Tumennggung Waturangga, dan begitu terlepas dari serangan tersebut dan tatkala ia mampu berdiri tegak, ditangannya telah tergenggam sebilah keris pusaka Kyai Macan Kecubung.


Pamor kerisnya yg berwarna kemerahan laksana darah segera berpendar pula di seputaran tempat itu.


Meskipun bentuknya lebih kecil namun cahaya nya tidak kalah terang dengan senjata dari Tumennggung Waturangga.


Tumennggung ini mengenal senjata yg di pegang oleh Senopati Demak itu.


Kyai Macan Kecubung, bukankah itu salah satu pusaka kerajaan Majapahit, mengapa dapat berada di tangan bocah ini, katanya dalam hati.


" Mari kita lanjutkan pertarungan ini, aku akan membuktikan bahwa Waturangga tidak dapat di kalahkan,, ha, ha, ha, "


Teriakan dari Tumennggung Waturangga memecah kesunyian malam di Kadipaten Surabaya ini.


" Dan aku akan membuktikan bahwa kesaktian Waturangga itu hanyalah ngayawara saja,.." balas Raka Senggani.


Dan kembali pertarungan di lanjutkan dengan menggunakan senjata, kedua keris segera bergerak laksana patukan ular yg sangat mematikan.


Walau kalah besar dengan keris Tumennggung Waturangga, tetapi keris Kyai Macan Kecubung bukanlah keris sembarangan,.


Dari benturan benturan awal saja, tangan Tumennggung Waturangga selalu bergetar ketika harus beradu dengan pusaka tersebut. Selain itu pula memang tenaga dalam dari Senopati Demak, Senopati Bima Sakti ini masih lebih unggul dari dari Tumennggung Waturangga sendiri.


" Trangg,.."


" Trinngg,.."


Bunyi suara kedua keris yg memiliki pamor yg berbeda ini tatkala beradu, pijaran kembang api segera meelesat ketika dua senjata bertemu.


Tampaknya kali ini Tumennggung Waturangga ketemu batunya, ia mendapatkan lawan yg sulit untuk di tundukkan nya.


" Heaahhh,.."


" Tringg,..."


Pada satu kesempatan, saat masih melayang di udara sabetan keris dari Tumennggung Waturangga yg mengarah leher dari Senopati Bima Sakti ditangkis dengan menggunakan keris pusaka kyai Macan kecubung.


Kembali , Tumennggung Waturangga harus terdorong surut dari tolakan tenaga yg sangat kuat ketika beradunya kedua senjata tersebut.


Lama kelamaan kedudukan dari Tumennggung Waturangga mulai terdesak , saat Raka Senggani semakin meningkatkan kecepatan nya.


Seolah tidak menyentuh tanah lagi Senopati Sandi Demak ini melibat Tumennggung Waturangga dslam pertarungan yg rapat.


Hingga,..


" Crabbh,.."


Keris Kyai Macan Kecubung berhasil masuk di pangkal lengan dari Tumennggung Waturangga.


Raka Senggani melompat mundur dan melihat suatu keanehan.


" Hehhh,.."


Tanpa sadar ia berseru kaget karena bekas luka yg dihasilkan oleh tusukan dari Kyai Macan Kecubung itu perlahan bertaut kembali dan menutup tanpa meninggalkan bekas sesaat tangan kanan Tumennggung Waturangga mengusap nya perlahan.

__ADS_1


" Ha, ha, ha, kau pikir senjata rongsokan macam Kyai Macan Kecubung itu dapat melukai ku,..jangan bermimpi bocah,..ha, ha, ha,"


Tertawa yg sangat keras keluar dari mulut Tumennggung Waturangga yg mengejek Senopati Bima Sakti yg nampak tertegun menatap keanehan yg telah terjadi.


" Pancasona,.." desisnya.


Pantaslah ia merasa dirinya paling sakti di kolong jagad ini,.kata Raka Senggani dalam hati.


Ia pun mulai menyiapkan seluruh kemampuan yg ada pada dirinya, dan tidak tanggung-tanggung lagi tenaga dalam nya di kerahkan pada tataran tertinggi dari ilmunya.


Sementara itu, meskipun tubuh Tumennggung Waturangga nampak telah bersatu kembali dengan sempurna, tetapi Orang kepercayaan dari Adipati Surabaya ini merasakan sesuatu yg lain di dalam tubuhnya.


Aneh,..apakah warangan yg ada di dalam keris Kyai Macan Kecubung itu tertinggal di dalam,..tanya nya dalam hati.


Baiklah kalau begitu , aku harus mempercepat pertarungan ini sebelum racun ini , menggerrogoti tubuh ku, kata Tumennggung Waturangga lagi.


Ia pun segera menyiapkan puncak ilmunya yg tertinggi dengan berniat menggunakan Ajian Natradahana,. ilmu sorot mata yg mampu melumpuhkan seseorang jika pada tingkatan terendah bagi yg melihatnya dan mampu menghancur leburkan batu kali sebesar anak kerbau jika di kerahkan pada tataran tertinggi dari ilmu tersebut.


" Baiklah , Senopati Bima Sakti, tampaknya aku memang harus mengadu ilmu dengan mu,.." ucap Tumenggung Waturangga.


Sehabis ucapan nya, Tumenggung Waturangga segera menyarungkan kerisnya ke dalam warangkanya.


Malam yg telah merambat naik tiba tiba saja menjadi lebih ketika keris milik Tumenggung Waturangga itu di sarungkan .


Diikuti pula oleh Raka Senggani yg merasa bahwa lawannya tidak menggunakan senjata lagi ia pun turut pula menyarungkan kerisnya.


Karena di dalam hatinya berkata , tentu Tumenggung Waturangga akan merambah pada ilmu kadigjayaan yg di milikinya.


Setelah tadi ia berhasil menusuk pangkal lengannya dan walaupun luka tersebut tidak tampak lagi, tetapi Senopati Bima Sakti berkeyakinan bahwa racun warangan nya mulai bekerja.


Dalam gelap diatas gumuk kecil saat ini yg terdengar hanya suara binatang binatang malam yg berbunyi suasana hening sesaat seolah keadaan benar benar cukup mencengkam.


Namun tidak terlalu lama hal tersebut terjadi karena kemudian terdengar suara yg keluar dari mulut Tumenggung Waturangga yg sedang merapal mantera.


Dan kemudian,..


" Aji Natradahana,..hiyyaahh,.."


Keluar teriakan yg cukup keras dari Tumenggung Waturangga ini, dari kedua bola matanya keluar cahaya merah jingga dan segera mengarah kepada Raka Senggani.


Senopati Sandi Demak itu kemudian berjumpalitan menghindari serangan dari Lawannya.


Maka terjadilah perang ilmu kesaktian antara kedua orang tersebut.


Dengan tatag , Raka Senggani melepaskan ilmunya untuk mengalahkaan Tumenggung Waturangga. Demikian pula sebaliknya Tumenggung dari Kadipaten Surabaya ini tidak mau dirinya terpanggang oleh ilmu lawannya .


Ia pun berulang kali harua berlompatan menghindari serangan.


Tempat diatas gumuk tersebut menjadi kacau, pohon pohon banyak yg bertumbangan karena menjadi sasaran dari kedua ilmu tersebut.


Keduanya tampaknya enggan untuk membenturkan ilmu mereka , terlebih bagi Tumenggung Waturangga sendiri.


Ia tetap mencari celah agar serangan sorot matanya dapat mengenai tubuh lawannya. Tetapi sejauh ini belum berhasil.


Demikian pula sebaliknya Raka Senggani , ajian Wajra Geni nya tidak juga mampu menyentuh tubuh Tumenggung Waturangga.


Dan pada satu kesempatan ,..


" Heaaahhh,.."


" Aaakkhhh,."


Ternyata sorot mata dari Tumenggung Waturangga berhasil mengenai tubuh Raka Senggani, secara otomatis, terpaksalah ia melihat langsung pada kedua mata lawannya yg sedang mengerahakn aji Natradahana.


" Aaakkhhh,.."


Raka Senggani berusaha keluar dari cengkraman ilmu lawannya , tetapi anehnya ia tidak mampu.


Anehhh mengapa tenaga dalam ku tiba tiba berkurang dengan cepat, katanya dalam hati.


Ia sampai bergulingan guna menghindari serangan lawannya, tetapi semakin kuat ia menghindar semakin kuat pula cengkraman ilmu Tumenggung Waturangga.


" Aaakhh,.."


Terdengar lagi teriakan tertahan yg keluar dari mulut Raka Senggani.


Tenaganya semakin berkurang,.tampaknya ia berada di ambang keputus -asaan. Beberapa kali ia mencoba melontarkan ajian Wajra Geni miliknya itu semakin cepat pula tenaga nya terkuras.

__ADS_1


" Ha, ha, ha, menyerahlah , Senopati Bima Sakti, biar dirimu tetap hidup, aku akan memberikan kesempatan pada mu asalkan mau menjadi pengikutku,..seperti Si Tambi itu,.." seru Tumenggung Waturangga.


Sementara itu beberapa pasang mata tengah berharap harap cemas terhadap keselamatan dari Senopati Bima Sakti ini, diantara mereka adalah Ki Lintang Gubuk Penceng, Ki Lintang Sapi Gumarang, Gajah Arak, Ki Lintang pedati suwung dan beberapa orang lainnya.


Mereka adalah yg di tugaskan untuk menyelasaikan para pembantu terdekat dari Tumenggung Waturangga.


" Bagaimana ini Ki Sapi Gumarang, apa yg harus kita lakukan,..?" tanya Ki Lintang Gubuk Penceng.


Dan yg di tanya malah diam saja tidak menjawab.


Adalah Gajah Arak yg segera menyahutinya..


" Apa tidak sebaiknya diriku ikut membantu Senopati Bima Sakti,..?" tanya nya.


Kembali tidak ada jawaban, para prajurit sandi Demak ini merasa bingung menghadapi situasi dan keadaan yg tidak menguntungkan itu.terlebih mereka mendengar sendiri tentang Ki Tambi yg telah berkhianat kepada Kerajaan.


" Sebaiknya kita tunggu beberapa saat, jika saat ini kita keluar membantu dari Senopati Bima Sakti, terkesan kita merendahkan kemampuan nya, dan merupakan hal yg tidak baik , kalau kita melakukan pengeroyokan pada perang tanding yg adil, bukanlah mereka tidak mengeroryok Senopati Bima Sakti, tetapi hanya Tumenggung Waturangga saja yg turun ke gelanggang pertarungan,.." ungkap Ki Lintang Pedati suwung.


" Tetapi keselamatan dari Senopati Bima Sakti sedang terancam, apalagi jika ia sampai jadi pengikut dari Tumenggung Waturangga, mau di taruh mana wajah kita ini nantinya, kalau kalian semua memang belum merasakan ilmu yg ngegrisi dari Tumenggung Waturangga ini, amat sulit untuk lepas dari pengaruh matanya itu,.." jelas Gajah Arak.


Ia yg pernah bertarung pada Tumenggung Waturangga memang merasakan ke dahsyatan dari pengaruh ajian Natradahana milik sang Tumenggung.


Yang ada di tempat itu menjadi terdiam mendengar ucapan dari Gajah Arak. Karena mereka tahu kelebihan salah satu prajurit sandi Demak itu. Ia di kenal memiliki kemampuan diatas rata rata para prajurit sandi bahkan pada lurah prajurit nya sendiri.


Sedangkan diatas gumuk kecil itu, Raka Senggani tengah berjuang sekuat tenaga nya agar dapat lepas dari cengkraman pengaruh ajian Natradahana milik Tumenggung Waturangga.


Ketika , sang Tumenggung memanggil agar mendekat, seolah -olah tubuhnya tanpa sadar mengikut saja, seakan diluar kemauannya sendiri.


" Kemarilah, mendekatlah, mendekatlah,.."


Suara cukup keras yg keluar dari mulut Tumenggung Waturangga sambil tangan nampak seakan menarik tubuh lawannya.


Dan dengan itu pula , tubuh Senopati Bima Sakti mendekati Tumenggung Waturangga. Bagaikan sebuah robot tubuh Senopati Sandi Demak ini tidak mampu menolaknya. Ia melangkahkan kakinya tanpa dapat di cegah lagi.


Situasi yg semakin gawat cukup mencemaskan seluruh prajurit sandi Demak yg tengah menyaksikan pertarungan yg hampir selesai itu.


Dan tampaknya kemenangan berpihak pada kelompok dari Kadipaten Surabaya ini.


Tumenggung Waturangga sendiri semakin puas dengan hasil yg telah di capainya, ia semakin meningkatkan pengaruh ajian Natradahana milik nya agar lawan tidak mampu lagi berbuat apa pun lagi.


Saat itu malam yg telah bergeser , ternyata menerbitkan rembulan yg bercahaya sangat lembut, karena memang saat itu ia timbul sesaat mendekati fajar.


Hehhh,.mengapa pengaruh ajian Natradahana ini agak berkurang , Apakah ini akibat rembulan telah bersinar,..kata Raka Senggani dalam hati.


Hatinya yg sempat tinggal sebiji menir kini kembali timbul perlahan -lahan.


Ia pun berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga dalam nya pada satu titik yaitu pada cincin pemberian Kanjeng Sultan Demak pertama alias Raden Fatah .


Di sebelah yg lain, terlihat Tumenggung Waturangga agak terkejut setelah ada beberapa cahaya rembulan yg masuk ke atas gumuk itu.


Aku harus segera menghabisi Senopati Bima Sakti ini, sebelum rembulan benar -benar telah menerangi tempat ini berkata dalam hati , Tumenggung Waturangga.


Karena ia pun merasakan pengaruh dari racun warangan Kyai Macan Kecubung yg mulai menyerang alur pernafasan nya.


Aku tidak dapat membiarkan dirinya hidup, jika diriku semakin parah oleh racun ini tentu dirinya dapat mengalahkan ku dengan mudah, kata Tumenggung Waturangga sendiri dalam hatinya.


Karena sebelumnya ia masih akan memberikan kesempatan hidup pada Senopati sand Demak itu jika ia bersedia menjadi pengikutnya, tetapi karena racun warangan Kyai Macan Kecubung semakin kuat menjalarnya akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup dari Senopati Bima Sakti.


Terlihat ia kemudian bersedekap di depan dada dan mulutnya terus komat kamit, Tumenggung Waturangga ingin melepaskan ajian Natradahana pada tataran puncaknya guna mengakhiri hidup sang Senopati.


Di lain pihak Raka Senggani sendiri yg telah timbul rasa percaya dirinya , ia pun tengah memusatkan nalar budinya serta seluruh pikirannya pada satu, yaitu sang Maha pencipta agar ia dapat di berikan kekuatan lagi guna membasmi angkara murka.


Dan,..dalam jarak lima langkah lagi kedua orang itu bertemu terdengar lah teriakan yg sangat keras keluar dari mulut kedua orang tersebut.


" Aji Natradahana,.. Hiyyyah,.." teriak Tumenggung Waturangga.


" Aji Sangga Kalimasada,..Heaaahh,.." teriak Raka Senggani.


Maka kedua ajian tersebut bertemu, karena Raka Senggani tengah memusatkan seluruh Ajian nya pada cincin yg ada di jarinya, maka ajian Pamungkas miliknya keluar dari cincin tersebut dan tidak dari telapak tangan lagi.


Dalam jarak yg sangat dekat itu terdengar lah benturan yg sangat keras,..


" Dhumbhh,.."


" Bleghuaaarrrr,..


Dan keduanya tampak terlontar cukup jauh , mungkin lebih dari lima belas batang tombak, dari tempat mereka semula berada,

__ADS_1


Suasana tampak hening setelah benturan kedua ajian tersebut. Para prajurit sandi Demak segera melesat menuju ke arah jatuhnya sang Senopati Sandi Demak tersebut.


__ADS_2