
Raka Senggani mengatakan mungkin sebentar lagi Ki Lamiran akan datang tetapi tentunya ia datang ke banjar desa.
Sebenarnya Ki Jagabaya berharap orang tua itu ikut datang dengan Senopati Pajang itu , rasanya ada yg ingin di sampaikan orangtua Sari Kemuning kepada Ki Lamiran.
Berhubung saat itu Raka Senggani telah berada di Kenanga namun sayang orangtua itu tidak turut serta.
Ki Jagabaya mengajak Raka Senggani masuk ke dalam, di sana telah ada Istri Ki Jagabaya, Japra Witangsa, dan Sari Kemuning.
Keluarga tengah bersiap santap malam, dan oleh Ki Jagabaya, Raka Senggani pun diajak untuk ikut makan.
Pemuda itu tidak menolaknya, ia ikut nimbrung makan bersama keluarga Ki Jagabaya.
Selesai makan, Raka Senggani memohon kepada kedua orang kakak beradik, Sari Kemuning dan Japra Witangsa untuk dapat berbicara.
Ia memang memerlukan membicarakan hal yg telah di sampaikan oleh Sari Kemuning ketika berada di pategalan siang tadi.
Jagabaya memberi kesempatan kepada ketiga nya untuk mengobrol.
Mereka bertiga kemudian mengambil tempat di pendopo rumah itu.
Senopati Pajang kemudian mengatakan kepada keduanya agar mulai esok mereka harus mulai melakukan puasa agar dapat menerima ilmu yg akan diturunkan kelak.
Ia juga mengajak kedua nya agar tetap mendekatkan diri kepada yg Maha kuasa, dengan menjalankan perintah nya, sehingga nantinya semua usaha yg akan dilakukan dapat berjalan lancar, dan nantinya dapat di pertanggungjawabkan.
Kedua kakak beradik itu dengan khismadnya mendengar semua penuturan dari Raka Senggani.
Kali ini mereka tidak berani bercanda lagi meski orang yg di hadapan nya itu masih berusia lebih muda terutamanya dari Japra Witangsa.
Kemudian sang Senopati meminta keduanya jika kelak mereka memperoleh ilmu itu tidak boleh merasa lebih hebat dari orang lain apalagi sampai bersikap adigang adigung dan adiguna, itu adalah pantangan, karena ilmu itu di pergunakan bila dalam keadaan terdesak dan berhadapan dengan mereka yg memiliki ilmu yg tinggi.
Selain ilmu itu memerlukan tenaga dalam yg sangat tinggi dan kuat, jika belum terbiasa tentu akan mempercepat tubuh lemas bahkan bisa sampai pingsan.
Ia mengatakan hal ini sebelum mereka berdua menjalani laku sehingga nanti saat telah selesai menerima semua yg akan diturunkan itu keduanya telah siap dengan semua tanggung jawabnya.
Baik Witangsa maupun Kemuning mengangkat sumpah dihadapan sang Senopati Pajang itu.
Mereka bersedia melakukan nya untuk di pergunakan pada jalan kebenaran. Sehingga jika kelak mereka mengingkari siap menerima hukuman .
Raka Senggani menjabat tangan kedua nya dan menerima janji kedua orang itu.
Selesai mengambil janji dari kedua kakak beradik itu, Raka Senggani menyarankan agar mereka bersiap untuk melakukan puasa di awali pada esok hari dan dilakukan selama dua hari.
Ia juga mengatakan nanti setelah mereka mampu menguasai nya ilmu itu yg masih tingkat awal , selanjutnya mereka harus melakukan lagi puasa selama tujuh hari guna meningkatkan kemampuannya. Dan ilmu itu akan semakin menjadi tinggi dalam tingkatan nya.
Bahkan ia juga menyebutkan jika mereka berdua mampu melakukan puasa selama empat puluh hari , kelak kemampuan dari Ajian Wajra Geni itu pada tahap tertinggi. Akan sangat sulit untuk mengalahkan nya.
Demikianlah perkataan dari Raka Senggani, Senopati Pajang itu dalam memberikan arahan tampaknya kali ini memang bersungguh -sungguh, tidak ada keraguan pada ucapan nya, karena sesungguhnya ketika harus menurunkan sebuah Ilmu kadigjayaan Seorang murid memang harus dapat di pegang sikap dan janjinya , sehingga kelak guru yg telah menurunkan ilmu tersebut tidak harus pusing memikirkan kelakuan muridnya itu.
Raka Senggani juga melihat kesungguhan dari keduanya, walau sebenarnya ia merasa belum layak untuk menurunkan ilmu tersebut, tetapi karena mereka berempat telah menjadi bagian dari nya, mau tidak mau ia harus melakukan nya.
Setelah selesai memberikan seluruh wejangan, Raka Senggani mengajak keduanya untuk ke rumah Bekel Kenanga, dimana Jati Andara dan Dewi Dwarani berada.
Kakak beradik itu menyetujui nya dan pamit kepada kedua orang tua nya.
Ki Jagabaya hanya dapat menghela nafasnya melihat kepergian ketiganya, sebenarnya ia ingin mengatakan kepada Senopati Pajang itu, namun akhirnya harus ditahan nya, karena orang tua itu memahami bahwa kedua anaknya dan kedua anak Ki Bekel memang lagi belajar dari sang Senopati.
Padahal ia ingin menanyakan tentang kelanjutan hubungan putrinya itu dengan sang Senopati, karena menurut Putri nya Sari Kemuning memang Senopati Pajang itu menaruh hati kepada nya, walaupun Ki Jagabaya juga tahu bahwa Senopati Pajang tersebut masih memiliki keterikatan dengan Putri Juragan Tarya,.
Ki Jagabaya juga mendengar karena ketidak jelasan hubungan itu, Tara Rindayu putri Juragan Tarya tersebut telah pergi meninggalkan rumah nya.
__ADS_1
Jadi ingin rasanya ia menanyakan hal itu kepada Raka Senggani.
Atas saran istrinya, bahwa ia harus bersabar tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada anak muda itu, masih menurut Nyi Jagabaya, supaya suaminya itu bertanya kepada Ki Lamiran, apakah putri nya layak menunggu Senopati itu.
Ki Jagabaya mengangguk kan kepalanya, ia merasa saran yg di berikan oleh istrinya itu layak untuk dilakukan, selain memang saat ini kedua anak nya masih dalam belajar kepada nya, jangan hubungan itu membuat niatan keduanya jadi buyar memikirkan persoalan pribadi tersebut.
Memang pandangan dari Nyi Jagabaya itu merupakan sesuatu yg baik, hanya karena keinginan yg terlalu menggebu -gebu membuat sesuatu yg telah berjalan sangat baik menjadi rusak.
Ketiga orang itu telah sampai di rumah Ki Bekel, dimana tempat itu telah ramai dengan para pemuda dan pengawal desa Kenanga, mereka masih rutin melakukan latihan meskipun mereka harus berlatih sendiri.
Sebelum masuk ke rumah Ki Bekel Raka Senggani masih menyempatkan diri untuk melihat mereka , ia juga memberikan beberapa arahan kepada para pemuda itu yg berlatih di bawah arahan pemimpin pengawal desa Kenanga, Suro Birono.
Pemuda yg sempat membenci dan bentrok dengannya sewaktu baru tiba di desa Kenanga beberapa waktu silam.
Namun sekarang pemimpin pengawal desa Kenanga itu telah berbaikan dengan Raka Senggani bahkan ia ikut pula menimba ilmu dari Senopati Pajang itu.
Kehadiran Raka Senggani malam itu di banjar desa membuat para pemuda dan pengawal desa Kenanga bersemangat berlatih, umum nya mereka mendengar teman nya itu telah berhasil mengalahkan penguasa alam lelembut di Gunung Tidar yg sangat di kenal dengan keangkeran nya.
Mereka ingin mendengar cerita pemuda itu sewaktu berada di Gunung Tidar, namun tampaknya pemuda itu masih mempunyai keperluan dengan anak Ki Bekel, karena setelah memberikan arahan ia langsung ke rumah Ki Bekel.
Di rumah Ki Bekel sendiri pun telah ramai , bahkan Ki Lamiran pun telah berada di sana.
Pande besi nampak tersenyum melihat kehadiran Raka Senggani dengan dua orang anak Ki Jagabaya itu.
Senyuman nya itu membuat Raka Senggani agak jengah , ia menyadari tadi pamit kepada orang tua itu untuk ke Banjar desa, tidak tahunya malah orangtua itu lebih dahulu berada disana.
Ia mengucapkan salam kepada keluarga Ki Bekel, dan langsung pada pokok permasalahan nya, ia membutuhkan kedua anak Ki Bekel itu.
Keduanya pun meminta izin kepada orang tuanya untuk berbicara dengan Senopati Pajang itu.
Mereka berlima masuk ke dalam karena para tamu Ki Bekel berada di pendopo.
Memang dalam hal ini, Raka Senggani sangat tegas berkata.
Baik Jati Andara dan Dewi Dwarani menyanggupi nya seperti yg telah dilakukan oleh Japra Witangsa dan Sari Kemuning.
Saat itu pula Senopati Pajang itu mengangkat mereka berempat sebagai saudara seperguruan. Dan wajib saling membantu dan mengingatkan jika terjadi kesalahan.
Suatu masalah perbedaan yg besar hendak nya di perkecil dan persoalan kecil sebaiknya di lupakan saja itulah kalau menjadi saudara seperguruan .
Ia juga menyarankan keempatnya agar mulai besok mereka harus telah berpuasa , dan dua hari ke depan ia telah dapat menurunkan ajian Wajra Geni itu kepada mereka.
Keempat nya mengangguk kan kepalanya dan mengertj seluruh ucapan dari Raka Senggani itu.
Setelah selesai dengan keempat orang itu, Raka Senggani kembali ke pendopo dan menggabungkan diri dengan para orang tua yg ada di disitu.
Seluruh yg ada di pendopo itu ingin mendengar kisah dari sang Senopati ketika berada di Mantyasih, namun umum nya segan untuk meminta kepada nya bercerita, ada rasa kurang mapan terhadap Raka Senggani saat ini.
Hal itu disadari oleh Senopati Pajang tersebut, ia langsung berkata kepada para sesepuh desa Kenanga itu untuk bersikap biasa saja, dan jika ingin bertanya sesuatu mereka jangan sungkan untuk melakukan nya.
Karena pada dirinya tidak ada yg berubah , ia masih sama , seorang Raka Senggani yg dahulu , seorang putra Raka Jaya yg lahirnya di desa Kenanga itu.
Setelah hal itu diutarakan nya barulah Ki Bekel angkat bicara,.
Pertama kali yg diucapkan dari Ki Bekel adalah ucapan terima kasih atas apa yg telah di lakukan dari sang Senopati itu terhadap kedua orang anak nya itu.
Selanjutnya pemimpin desa Kenanga itu mengucapkan rasa bangga atas keberhasilan dari Raka Senggani dalam menumpas orang-orang yg ingin membuat keonaran di tanah perdikan Mantyasih.
Keberhasilan dari Raka Senggani membuat Pajang dan Kenanga terangkat namanya di seantero Demak.
__ADS_1
Raka Senggani hanya diam saja mendengar penuturan dari Ki Bekel itu, ia merasa yg dilakukan nya itu adalah tugas, tugas negara yg harus di emban sebagai seorang prajurit.
Tidak ada yg perlu di banggakan dari peristiwa itu , katanya dalam hati.
Pada akhirnya ada seorang yg menanyakan kepada Raka Senggani tentang kejadian di Mantyasih itu.
Raka Senggani kemudian menceritakan serba sedikit yg telah terjadi di tanah perdikan Mantyasih itu.
Ia memang melihat bahwa orang -orang yg ada di pendopo itu kurang puas atas ceritanya itu, namun Raka Senggani memang sengaja berbuat demikian agar tidak ada cerita yg tidak masuk akal dalam hal ini.
Sebentar kemudian ia meminta izin untuk ke depan banjar desa itu guna melihat latihan dari para pemuda desa Kenanga.
Ia sangat senang atas keinginan para pemuda desa Kenanga dalam hal berlatih, meaki cukup lama di tinggalkan nya namun mereka tetap saja berlatih walaupun jurus -jurus nya itu -itu saja.
Dan kali ini ia menambahkan beberapa jurus sekaligus agar mereka tidak bosan.
Saat malam semakin larut, suasana semakin dingin, akhirnya para pemuda desa Kenanga berhenti latihan dan membubarkan diri.
Raka Senggani dan Ki Lamiran pun pamit kepada Ki Bekel untuk segera kembali ke rumah nya.
Sebelum pulang ia masih sempat berpesan agar mereka berempat segera melakukan laku mulai besok.
Dan tiga hari lagi keempatnya akan ditunggunya di pategalan milik Ki Lamiran.
Tempat itu memang dijadikan oleh Raka Senggani untuk melatih mereka.
Sampai di rumah Ki Lamiran, Raka Senggani langsung beristrahat, hari ini ia merasa sangat lelah utamanya pikirannya, mulai dari masalah Tara Rindayu sampai masalah penurunan ilmu Wajra Geni itu.
Setelah merebahkan tubuh nya di amben bambu, namun matanya sangat sulit untuk di pejamkan berbeda dengan Ki Lamiran, begitu orangtua itu meletakakkan tubuhnya langsung terdengar dengkuran nya.
Hehh, rasanya kehidupan aki Lamiran sungguh sangat menyenangkan, walau terlihat sederhana hidup nya namun ia tidak pernah mengeluh dan selalu terlihat bahagia tanpa banyak yg perlu di pikirkan, berbeda denganku, kata Raka Senggani dalam hati.
Walaupun badan nya terasa penat, namun matanya sangat sulit untuk di pejamkan, akhirnya Senopati Pajang bangkit dari tidurnya dan duduk diatas amben itu.
Ia sempat teringat akan ucapan dari Ki Lamiran tentang aji panglimunan, dan ia langsung berusaha untuk mulai melakukan latihan agar dapat memperdalam ilmu tersebut.
Dengan mengetrapkan aji Ashka pandulu dan Panggraita nya ia mulai mampu melihat tempat itu meski keadaan agak gelap.
Raka Senggani memusatkan nalar budinya tertuju pada yg Maha kuasa dan terus merapal sesuatu yg di dapat nya dari guru nya waktu itu, semakin lama ia semakin merasakan tidak lagi sedang berada di rumah Ki Lamiran.
Ia merasa berada di tempat lain, bahkan ketika ia berjalan , dilihatnya banyak makhluk aneh dengan berbagai ujud yg sedang berada di tempat itu.
Ia terus memusatkan pikirannya untuk dapat tiba di pategalan milik mbok rondo itu, dan harapan nya berhasil ,ia tiba disana dan kembali di tempat itu ia melihat makhluk halus yg lebih banyak lagi, tetapi tidak ada yg berani mendekat , mereka cenderung terlihat ketakutan dan berusaha pergi dari tempat itu.
Raka Senggani kembali memusatkan pikirannya agar dapat melihat ujud tempat itu sebagai tempat aslinya, pategalan si mbok rondo yg ada gubuk nya, dan ia pun berhasil.
Ternyata Ia sedang duduk di dalam gubuk Mbok rondo.
Ia masih belum meyakini nya sampai menyentuh dinding gubuk itu dan keluar dari situ.
Dilihatnya tanaman Ki Lamiran sebagaimana siang tadi di lihatnya.
Ternyata kemampuan nya dalam menerapkan ajian itu telah berhasil, karena setelah keluar dari dalam gubuk itu ia tidak melihat lagi ujud -ujud dari makhluk halus lagi berarti ia memang telah berada di dunia nyata.
Satu yg membuatnya senang, ia dapat berpindah tempat tanpa harus mengerahkan tenaga yg keras.
Dalam hatinya ia berjanji akan terus melatih ilmu itu agar semakin tertanam di dalam diri nya sehingga pengungkapan semakin mudah, jika memerlukan nya tinggal lakukan saja.
Tanpa harus bersemadi seperti yg dilakukan nya tadi.
__ADS_1
Dan harus mengerahkan seluruh ilmu nya agar mampu menembus alam lelembut itu.