Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 5 Keris Kyai Condong Campur bagian kesebelas.


__ADS_3

Sementara itu di daerah Puncak Merapi terlihat kesibukan yg telah terjadi disana.


Beberapa murid dari Mpu Loh Brangsang tellihat berlalu lalang, termasuk Adya Buntala sebagai murid tertua dan merupakan kepercayaan dari Mpu Loh Brangsang.


Sedangkan Mpu Loh Brangsang sendiri tengah menerima beberapa orang tamu termasuk Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasae Pasirangan.


" Bagaimana adi Pundirangan , apakah seluruh bahan-bahan yg kita butuhkan telah selesai di kumpulkan,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada Mpu Phedet Pundirangan adik seperguruannya itu.


" Sudah kakang Brangsang, semua bahan telah terkumpul tinggal kapan kita akan memulai pengerjaannya saja,!" jawab Mpu Phedet Pundirangan.


" Waktunya adalah tepat saat purnama nanti kira - kira sepekan lagi, dan bagaimana denganmu adi Yasa , apakah dirimu sudah cukup sehat, dan dapat untuk ikut dalam membuat keris Kyai Condong Campur putrani itu,?" tanya Mpu Yasa Pasirangan.


" Ahh, Kakang Brangsang , luka telah sembuh dengan sempurna berkat pertolongan kakang Pundirangan, dan dapat dipastikan aku akan bisa ikut dalam pengerjaannya Kyai Condong Campur itu, kakang Brangsang tidak usah khawatir akan hal itu,!" jawab Mpu Yasa Pasirangan.


" Bagus kalau begitu, besok kita bisa berangkat ke Desa Bedander, karena menurutku kita harus tiba lebih awal, supaya bekel desa Berander tidak terkejut akan kedatangan kita yg tentunya cukup banyak orang -,orang kita yg berada disana,!" jelas Mpu Loh Brangsang.


" Apakah kondisi di desa Bedander belum cukup aman kakang Brangsang,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan kepada Mpu Loh Brangsang.


" Sebenarnya cukup aman, karena Bekel desa Bedander merupakan muridku, ia tentu telah mempersiapkn segala sesuatunya disana, tetapi tentu ia mengira hanya aku dan beberapa muridku saja yg akan datang tidak seluruh para undangan yg cukup banyak itu , tentu kita harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum pengerjaannya dimulai, termasuk masalah pendanaannya dan makanannya, juga untuk tempat menginap para teman -teman kita yg akan membantu pengerjaan dari Kyai Condong Campur itu,!" ungkap Mpu Loh Brangsang lagi.


" Kalau masalah pendanaannya kakang Brangsang tentu tidak perlu khawatir, bukankah hasil dari Si Topeng Iblis itu cukup lumayan banyak, benar kan, adi Yasa,?" kata Mpu Phedet Pundirangan sambil melirik kepada Mpu Yasa Pasirangan.


" Benar, kakang Brangsang, kalau untuk membiayai Lima puluh orang selama empat puluh hari , tentunya hasil dari Si Topeng Iblis itu lebih dari cukup termasuk juga para murid kakang -kakang sekalian yg ikut kesana, itu masih mampu ditanggung hasil dari Si Topeng Iblis, he, he, he ,!" terdengar suara tertawa dari Mpu Yasa Pasirangan menjelaskan masalah pendanaan dari pengerjaan Kyai Condong Campur itu.


" Mungkin ucapanmu itu benar, Adi Yasa Pasirangan, tetapi tentunya kita masih membutuhkan persiapan yg lain sebelum segala sesuatunya dimulai, jangan disaat kita telah melakukan pengerjaannya ada masalah yg timbul tentu akan mengganggu konsentrsi yg lain, jadi dari awal kita upayakan supaya pengerjaan ini berjalan sukses, tanpa ada kendala termasuk dari Kotaraja Demak, kadipaten Madiun ataupun Kadipaten Pajang, meski di daerah Matahun itu , beberapa pejabatnya sudah bisa diajak untuk kerjasama," jelas Mpu Loh Brangsang lagi.


" Jadi maksud kakang Brangsang, kita harus membayar beberapa orang untuk menjaga kita saat mengerjakan Kyai Condong Campur itu ,? tanya Mpu Yasa Pasirangan kepada kakak seperguruannya itu.


" Yah, kita memang harus membayar sebagian orang untuk menjaga kita, selain ditambah dari beberapa murid kita yg akan menjaga di sekitar Sumber api abadi , yg ada di Bedander itu, !" kata Mpu Loh Brangsang lagi.


" Apakah tidak cukup untuk membayar orang , dari yg didapat Si Topeng Iblis itu,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada adik seperguruannya itu.


" Cukup, cukup, tentu masih cukup, karena harta yg didapat Si Topeng Iblis itu sangat banyak,!" jawab Mpu Yasa Pasirangan.


" Bagus kalau begitu, jadi kita bisa lebih cepat untuk tiba di desa Bedander, dan memerintahkan kepada Bekel disana untuk mempersiapkan bahan pangan untuk lebih dari seratus orang selama empat puluh hari,!" kata Mpu Loh Brangsang.


" Ada satu pertanyaan lagi Kakang Brangsang, apakah para Empu yg akan membantu kita sudah dihubungi semua dan apakah mereka telah setuju semuanya untuk membantu kita,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan kepada Mpu Loh Brangsang.


" Sudah adi Pundirangan, hanya Panembahan Lawu yg tidak jadi dihubungi, karena beliau itu sulit untuk ditebak jalan pikirannya, jadi Aku mengurungkan niat menghubunginya,!" jelas Mpu Loh Brangsang.


" Dan dimana kita berkumpulnya, apakah disini atau langsung di desa Bedander,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan lagi.


" Kalau yg dari arah barat sini, kita tunggu disini, di Merapi ini tetapi kalau yg dari arah Timur mereka akan langsung ke desa Bedander,!" jawab Mpu Loh Brangsang.


" Oh ya adi Yasa, apakah harta yg ada padamu itu sudah kau bawa sekarang atau kau tinggal ditempat lain?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada Mpu Yasa Pasirangan.


" Kutinggal ditempat lain , Kakang Brangsang, di sebuah tempat menuju ke desa Bedander,!" jawab Mpu Yasa Pasirangan.


" Baiklah kalau begitu, besok setelah terang tanah kita akan berangkat menuju desa Bedander, Kau dan seluruh muridmu berjalanlah terlebih dahulu adi Pundirangan, baru selanjutnya adi Yasa Pasirangan dan para muridnya, baru setelahnya aku dan para tetamu yg akan membantu kita membuat putraninya Kyai Condong Campur itu,!" ungkap Mpu Loh Brangsang.


" Apakah kita akan melintasi Kota Raja Demak atau kita lewat dari Kadipaten Madiun,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan kepada kakak seperguruannya itu.

__ADS_1


" Kalau menurut kalian jalan mana yg lebih baik untuk ditempuh, apakah lewat Kotaraja atau lewat Madiun,?" balik Mpu Loh Brangsang bertanya.


" Kalau menurut kami lebih baik lewat Madiun, karena Aku pun telah menyembunyikan harta Si Topeng Iblis itu di jalan tersebut,!" jelas Mpu Yasa Pasirangan.


" Baik kita lewat dari Madiun, meski jarak tempuhnya lebih jauh, namun karena kalian telah terbiasa melewatinya tentu akan lebih cepat sampainya, karena lebih faham, tempatnya," Kata Mpu Loh Brangsang lagi.


" Silahkan kalian beristrahat, Buntala, Kuda Wira dan Rasani Mayang, antarkan paman guru kalian ini ke biliknya masing-masing,!" perintah Mpu Loh Brangsang kepada ketiga muridnya itu.


Ssmbil bangkit berdiri, Mpu Phedet Pundirangan masih menyempatkan bertanya,


" Apakah angger Kuda Wira ini yg Kakang Brangsang maksudkan,?" tanyanya kepada kakak seperguruannya itu.


Sambil menganggukkan kepalanya, ia berkata,


" Benar adi Pundirangan, beliaulah orangnya,!"


" Ternyata orangnya masih sangat muda Kakang Brangsang, dan tampaknya memiliki tubuh dan otot yg sangat baik,!" ucap Mpu Yasa Pasirangan sambil memandangi Kuda Wira, murid Mpu Loh Brangsang itu.


" Ya , Kuda Wira memang masih sangat muda, namun ia telah kuangkat murid sekaligus anak angkatku, jadi kalian bisa mempercayainya kelak jika ia telah menerima kamukten itu,!" kata Mpu Loh Brangsang lagi.


Akhirnya semua tamu di Gunung Merapi itu diantar menuju ke tempat biliknya masing-masing.


Sementara Mpu Loh Brangsang dengan cepat meninggalkan tempat itu menuju ke dalam pesanggrahannya. Cukup lama ia didalam pesanggrahannya itu.


Dan ketika pagi telah menyinari Gunung Merapi itu, terlihatlah iring -iringan dari Kelompok Mpu Phedet Pundirangan yg pertama turun dari Merapi itu dan berjalan menuju ke arah timur.


Baru setelahnya diikuti oleh rombongan dari Mpu Yasa Pasirangan dan para muridnya.


Kemudiaan rombongan terakhir adalah rombongan dari Mpu Loh Brangsang dan paling banyak jumlahnya.


Akan tetapi karena yg melakukan perjalanan itu adalah orang -orang yg memiliki kesaktian yg cukup tinggi, sehingga jarak yg cukup jauh itu bisa dipangkas hingga dua hari perjalanan saja.


" Entah mengapa Kakang Brangsang memilih tempat ini untuk pengerjaan dari Kyai Condong Campur itu, apakah tidak sebaiknya di Mrapen saja,!" ucap Mpu Yasa Pasirangan kepada Mpu Phedet Pundirangan.


" Mungkin Kakang Brangsang menghindari prajurit telik sandi dari Kotaraja Demak dan dari pendengaran Kakang Supa Mandrangi, !" jawab Mpu Phedet Pundirangan.


" Mungkin juga ada benarnya ucapanmu Kakang Pundirangan," kata Mpu Yasa Pasirangan.


" Mari Paman Guru, silahkan masuk kedalam," kata Bekel Bedander kepada kedua orang itu.


" Terima kasih Ki Bekel, kami menunggu Kakang Brangsang terlebih dahulu,!" ucap Mpu Phedet Pundirangan.


" Oh silahkan paman Guru masuk terlebih dahulu, karena Guru telah berada di dalam," jelas Bekel Bedander itu.


" Hehh, kok bisa,?" tanya kedua orang itu kepada Bekel Bedander terkejut.


Mereka berdua telah jauh meninggalkan kakak seperguruannya itu ditambah lagi, mereka mempergunakan ilmu lari cepatnya tentu merekalah yg telah terlebih dahulu tiba di desa Bedander itu.


" Silahkan paman Guru masuk terlebih dahulu dan melihat siapa yg berada didalam," ucap Bekel desa Bedander itu.


" Mungkin saja ia lebih dahulu tiba disini mengingat ia memiliki ilmu yg lebih tinggi dari kita berdua, mari kita masuk untuk memastikan ucapan Ki Bekel ini,!" ucap Mpu Yasa Pasirangan kepada Mpu Phedet Pundirangan.

__ADS_1


" Benar juga ucapanmu itu adi Yasa, mari kita masuk, " kata Mpu Phedet Pundirangan.


Dan keduanya pun masuk kedalam rumah dari Bekel desa Bedander itu, dan alangkah terkejutnya kedua orang itu setelah mendapati Mpu Loh Brangsang kakak seperguruannya itu telah asyik menikmati makanan yg telah disediakan oleh Bekel desa Bedander itu.


" Mari adi Yasa Pasirangan dan adi Phedet Pundirangan, silahkan makan, kalian terlalu lama berjalannya," ucap Mpu Loh Brangsang sambil terus menikamati makanannya.


" Mengapa Kakang Brangsang bisa lebih dahulu tiba di desa Bedander ini daripada kami bukankah kami yg lebih dahulu berangkat,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan heran.


" Sudah Kukatakan kepada kalian, kalian itu berjalannya seperti siput , terlalu lambat, sehingga aku yg melewati kalian pun, kalian berdua tidak menyadarinya,!" jelas Mpu Loh Brangsang.


Kedua adik seperguruannya itu sulit untuk mempercayainya, karena mereka berdua seakan berpacu satu dengan yg lain sehingga murid -muridnya masih tertinggal dibelakang, tetapi mengapa mereka masih kalah cepat lagi dari kakak seperguruannya itu, mereka bingung memikirkannya.


Kedua orang itu tidak habis pikir , sampai beberapa orang tamu undangan berdatangan di rumah Bekel desa Bedander itu. Walaupun tidak dapat jawaban dari kakak seperguruannya itu, tetapi kedua orang itu mengakui kelebihan dari kakak seperguruannya itu


Mereka pun segera menyantap makanan yg telah disajikan tanpa mau memikirkan yg telah terjadi itu.


Selesai bersantap , rombongan Mpu Loh Brangsang dan teman -temannya segera melihat Sumber api abadi yg ada di desa Bedander itu, Sumber api abadi Kahyangan api, sebuah sumber api yg tidak pernah padam meski hujan dan angin menerpa tempat itu, ia tetap menyala.


Lokasi tempat Sumber api abadi itu cukup sulit untuk dijangkau, jauh dari rumah penduduk sangat sesuai untuk di jadikan tempat menempa sebuah pusaka yg akan menjadi sipat kandel si pemiliknya yaitu Keris Kyai Condong Campur putrani.


" Kakang Brangsang, apakah kita akan berada disini terus sampai pusaka itu selesai atau kita bisa beristrahat bergantian,?" tanya Mpu Yasa Pasirangan kepada Mpu Loh Brangsang.


" Karena jumlah kita cukup banyak, tentu kita akan bergantian dalam membentuk kyai Condong Campur itu, sehingga kita tidak akan mengalami kelelahan yg sangat, karena kita akan bergantian,!" jelas Mpu Loh Brangsang lagi.


" Jadi saat purnama nanti kita akan memulai pengerjaanya, dan sebelumnya kita harus mempersiapkan tempat ini untuk menjadi tempat menempa wesi aji yg akan menggegerkan kerajaan Demak ini,!" ucap Mpu Loh Brangsang.


" Rasanya tidak sabar untuk menunggu hal itu terjadi, tentu Demak akan terjadi kegegeran jika kita bisa menimbulkan kembali Kyai Condong Campur itu kakang Brangsang,!" seru Mpu Phedet Pundirangan.


" Benar, tentu Demak akan menjadi Geger kalau kita bisa membuat Kyai Condong Campur itu meski hanya tetiron namun diharapkan mampu melebihi kehebatan yg aslinya,!" ungkap Mpu Loh Brangsang.


Cukup lama mereka berada di tempat Sumber api abadi yg terus menyala tanpa henti dan memberikan hawa panas di sekitarnya.


Hari berlanjut terus, seluruh murid dari ketiga orang itu telah tiba di desa Bedander dan mulai membuat tempat untuk menempa wesi aji yg cukup membuat geger Majapahit kala itu dan kali ini tetironnya akan di buat kembali di tempat itu.


Para undangan dari Mpu Loh Brangsang pun telah hadir semua, dan mereka umumnya telah berusia lanjut namun memiliki kemampuan yg sangat tinggi terutama dalam membuat sebuah Pusaka , mereka datang dari pelosok kerajaan Demak, bahkan dari Brang Wetan pun hadir diantaranya ada Resi Brangah dan temannya Resi Bancakan dari gunung raung.


Sebelum acara itu di mulai Resi Brangah menyempatkan untuk berbicara empat mata dengan Mpu Loh Brangsang,


" Brangsang , setelah pulang dari Merapi secara tidak sengaja aku bertemu dengan Senopati Pajang yg telah melukai muridku Macan Baleman itu, !" kata Resie Brangah kepada Mpu Loh Brangsang.


" Hehh, dimana kalian bertemu dan apa yg terjadi selanjutnya , Brangah,?" tanya Mpu Loh Brangsang.


" Aku bertemu di kaki gunung Lawu dan kami bertempur kemudian disana, memang anak itu sangat tinggi ilmunya, aku berhasil di buatnya pingsan dan ia,...." Resi Brangah tidak melanjutkan kata-katanya.


" Dan Senopati Pajang itu telah tewas, sudah tidak ada lagi di muka bumi Demak ini, begitu maksudmu, Brangah,?" tanya Mpu Loh Brangsang.


" Bukan itu maksudku , tubuhnya itu tidak aku ketemukan walaupun


tempatnya telah obrak abrik , aku meyakini ada orang yg telah menolongnya, tetapi kalau menurutku ia telah tewas, ditanganku,!" jelas Resi Brangah.


Mpu Loh Brangsang memandangi wajah Resi Brangah dengan tatapan aneh,

__ADS_1


" Brangah , kau tidak bisa menewaskan Senopati Pajang itu,?" tanyanya heran.


Resi Brangah terdiaam atas sindiran temannya itu.


__ADS_2