
" Sebenarnya kami akan ke Cirebon Ki Bekel,..," jawab Raka Senggani
" Kalau memang demikian secepatnya lah angger berdua ini meninggalkan Pedukuhan ini,.." ucap Ki Bekel.
" Mengapa harus demikian Ki,.. apakah kami tidak dapat berhenti di dukuh grinsing ini,.. karena kami pun tidak terlalu terburu -buru,..Ki ," sahut Raden Abdullah.
" Kami sangat mengkhawatirkan atas keselamatan kalian berdua, Ngger,.. karena selain kalian terlihat seperti orang -orang yg kaya atau pun memiliki darah bangsawan,.. barang-barang bawaan kalian ini pun cukup mahal terutama kedua kuda itu,.." jelas Ki Bekel Grinsing.
" Tidak apa -apa Ki,..hanya untuk semalam ini saja izinkanlah kami tinggal disini,.." ungkap Raka Senggani.
" Kami ,..atas nama Pedukuhan ini tidak dapat membantu keamanan kalian berdua ngger,.karena kami sudah tidak memiliki pengawal Pedukuhan lagi,..kami harus berusaha mandiri untuk menjaga keamanan di sini,.." jelas Ki Bekel lagi.
" Mengapa bisa terjadi seperti itu, Ki,..apa sebabnya,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.
" Karena sebahagian besar dari pengawal Pedukuhan ini telah bergabung dengan kawanan rampok itu yg memiliki tempat di dalam hutan Alas Siroban itu,..dan yg sebahagian lagi telah meninggalkan tempat ini pergi merantau ke daerah lain,..termasuk ke kotaraja Demak,..". jawab Ki Bekel menjelaskan.
Aneh,.. bukannya melawan ,..justru malah terdiam bergabung dengan para kawanan rampok yg ada di dalam Alas Siroban itu,..kata Raka Senggani dalam hati.
" Mengapa para pengawal itu harus berpaling kepada kawanan rampok yg ada di dalam hutan itu,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.
Ki Bekel tercenung sesaat mendapatkan pertanyaan dari putra Pangeran Sabrang lor itu.
Ia memandangi wajah pemuda itu bergantian dengan wajah Raka Senggani,..seraya berkata,..
" Jika kalian berdua ini adalah merupakan orang -orang keraton ataupun memiliki sedikit kekuasaan di dalam istana,.aki berharap agar dapat menyampaikan hal ini kepada Kanjeng Sultan Demak untuk memperhatikan wilayah kami ini,.. karena tingkat kemiskinan disini sangat tinggi ditambah lagi semakin banyak nya kawanan rampok dan begal yg merajaela membuat sebahagian orang segera dengan mudahnya berpindah untuk hanya sekedar bertahan hidup,.." jelas Ki Bekel Grinsing itu.
" Jadi mereka turut bergabung dengan para kawanan rampok itu selain untuk keamana mereka juga dapat memiliki sesuatu dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya,.. begitu maksud Ki Bekel,..?" tanya Raka Senggani.
" Benar,..Ngger,..mereka mendapatkan jaminan untuk menyambung hidupnya meski jalan yg di tempuh nya itu adalah salah dan menyusahkan orang lain,..oleh sebab itu sebenarnya kehadiran kalian berdua ini telah di ketahui oleh para kawanan itu ,..semenjak dari pertama kali kalian berdua menginjkkan kaki di pedukuhan ini," jelas Ki Bekel lagi.
" Akan tetapi Ki Bekel tidak usah terlalu risau dengan keselamatan kami berdua,..biarlah ini menjadi tnaggungjawab kami sendiri,..karena kami tidak akan mungkin meenerobos Alas Siroban ini,..disaat malam hari seperti ini,.." ungkap Raka Senggani.
" Tetapi tetap saja kami tidak akan tega untuk melihat kalian jika harus berhadapan dengan kawanan rampok itu,..Ngger,.." ucap Ki Bekel.
" Tenang saja Ki Bekel tidak akan terjadi apa -apa dengan kami ,.. Ki,." ucap Raden Abdullah Wangsa.
Putra Pangeran Sabrang Lor itu sangat yakin akan mampu mengatasi jika memang kawanan rampok itu akan datang malam ini,.. karena ia merasa yakin akan kemampuan dari Senopati Pajang itu.
Sampai wayah sepi bocah,..Ki Bekel berada di banjar pedukuhan itu,.baru setelah terdengar bunyi kentongan bernada dara muluk,.. pemimpin pedukuhan itu kembali ke rumahnya untuk beristrahat,.. tinggal lah kedua anak muda dari Demak itu yg ada di banjar pedukuhan Grinsing.
Namun belum pun sempat keduanya beristrahat untuk memejamkan mata, terdengarlah derap langkah -langkah kaki orang yg agak banyak.
Mereka nampaknya menuju ke tempat kedua orang itu.
" Kakang,.sepertinya mereka telah datang,!" seru Raden Abdullah Wangsa kepada Raka Senggani.
" Benar,..adi wangsa ,..tampaknya jumlah mereka cukup banyak," sahut Raka Senggani.
" Benar,..kakang,.jumlah mereka cukup banyak,..tampak nya akan menjadi tantangan buat kita,.." ucap Raden Abdullah Wangsa.
Keduanya terus mendengarkan langkah -langkah kaki yg semakin mendekat itu. Setelah semakin dekat ,. kedua pemuda itu segera bersiap. Mereka langsung berdiri di dekat kedua kudanya itu.
Kemudian sampailah orang -orang itu di tempat itu.
" Hehh,..bocah,,.segera serahkan barang-barang bawaan kalian itu,. cepat,..!" seru seseorang yg berperawakan tinggi besar.
Kemudian beberapa temannya segera bergerak mengurung kedua orang itu.
" Kami tidak memiliki apa -apa Kisanak,..!" jawab Senopati Pajang itu.
" Jangan coba -coba untuk membohongi kami ,.. kalian memiliki banyak barang bawaan,..cepat serahkan kepada kami,.." ucap orang itu lagi.
Sementara Ki Bekel terlihat sedang mengintip dari dalam rumah nya.
Kemudian terdengarlah ucapan Senopati Pajang itu lagi.
" Kalau kalian memang bersikeras untuk tetap meminta barang bawaan dari kami,..tentu kami tidak akan semudah itu memberikan kepada kalian,." jawab Raka Senggani.
" Baiklah jika kalian memang tidak mau menyerahkan dengan baik -baik,..maka jangan salahkan jika kami akan berbuat dan bertindak dengan kekerasan,.." seru orang itu.
" Terserah kalian,..kami akan menerima apapun yg ingin kalian lakukan tetapi kami tidak akan berdiam diri saja," jawab Raka Senggani dengan tegas.
" Baik kalau begitu,..anak -anak segera beri pelajaran kepada mereka berdua ini,.." terdengar perintah dari pemimpin rampok itu.
__ADS_1
Kemudian beberapa orang segera maju mendekati kedua orang itu dengan senjata di tangan,..lima orang segera bersiap menyerang.
" Kisanak,.. cepatlah kalian serahkan barang-barang bawaan itu,..terutama kampil yg ada di pinggangmu itu,.." ucap orang yg mengepung itu.
" Silahkan ambil sendiri jika kalian mampu,.." ucap Raden Abdullah Wangsa.
Putra Pangeran Sabrang Lor itu nampaknya sengaja memancing kemarahan kawanan rampok itu.
" Bedebah,..kalian memang tidak menyayangi nyawa kalian,..seraaaanng," teriak orang itu.
Serempak kelimanya segera menyerang Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa,..dengan pedang dan golok yg telah di cabut dari sarungnya.
" Ciaaat,. Ciaaat,.. hiyyah,..hiyyaa,.. hiyyaaat,.."
Teriakan dari kelima nya.
Golok dan pedang itu pun segera bergerak menebas dan membacok dua orang anak muda yg berasal dari Demak itu.
Tetapi serangan itu hanya menerpa tempat yg kosong karena keduanya telah keluar dari kepungan itu.
" Apa yg telah kalian lakukan,..cepat habisi mereka ,.." teriak pemimpin rampok itu.
Kembali kelima kawanan rampok itu berlompatan menyerang kembali kedua anak muda itu.
Baik Raka Senggani maupun Raden Abdullah Wangsa berlompatan menghindari serangan tersebut seraya memberikan serangan balasan.
" Heaaahh,.."
" Hiyyyah,.."
" dhieeeghh,.."
" Dhieeeghh,.
Dua orang kawanan rampok itu langsung terjungkal jatuh terkapsr akibat hantaman dari keduanya.
" Hehh,..ternyata kalian memiliki kemampuan untuk di pamerkan,..pantas kalian terlalu sombong,.." teriak pemimpin kawanan rampok itu.
Sepuluh orang kembali maju menghadapi kedua nya.
Dengan sangat gesit nya,..Raden Abdullah Wangsa,..yg baru pertama kali melawan musuh yg sesungguhnya bergerak dengan kecepatan yg sulit untuk diikuti oleh. Gerakan nya sangat lincah bagai burung sikatan,..ia seolah menari diatas kepala para pengeroyoknya itu dan kemudian selang tidak terlalu lama korban berjatuhan lagi dari pihak perampok itu.
Tidak mau ketinggalan dengan putra Pangeran Sabrang Lor itu,..Raka Senggani pun berbuat demikian,..
Kalian memang perlu untuk di beri pelajaran,..kata Senopati Pajang itu dalam hati. Dengan Ilmu peringan tubuhnya dan disertai tenaga yg kuat,.kaki dari Senopati Pajang itu telah menjatuhkan lawan -lawannya.
Para kawanan rampok itu cukup ngeri ketika melihat tandang kedua musuhnya yg masih muda itu,..sudah banyak teman -teman mereka yg jatuh terkapar tanpa dapat bangkit lagi.
Hingga suatu ketika,.. pemimpin rampok itu yg ikut langsung turun membantu menyerang kedua pemuda itu.
Akan tetapi itupun tidak terlalu berpengaruh terhadap keseluruhan jalannya pertarungan,..Raden Abdullah Wangsa yg memiliki kecepatan sangat sulit untuk diimbangi oleh mereka,.belum lagi Raka Senggani yg mampu menjadikan kepala kepala meraka jadi alas pijakan nya ketika harus berlompatan di udara.
Pemimpin kawanan rampok itu menempatkan dirinya untuk berhadapan dengan Senopati Pajang itu dengan di tambah lima orang anak buahnya yg masih mampu bertarung.
Tetapi Raka Senggani memang tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat mengalahkañnya.
Dilambari tenaga dalam yg dimilikinya,.. tendangan dari Senopati Pajang itu membuat takut kawanan rampok itu untuk mendekat.
" Kuperintahkan kepada kalian semua agar menyerah dan mengurungkan niat kalian itu untuk mengambil milik orang lain dengan paksa itu,.. tindakan kalian ini sudah pantas untuk mendapatkan hukuman,.." seru Raka Senggani.
Ia terus memberi tekanan sambil berlompatan memberikan serangan kepada mereka.
Sedangkan golok dan pedang dari lawan lawannya itu belum satupun menyentuh tubuhnya.
Tetapi kawanan rampok itu tetap saja ngotot untuk menundukkan Senopati Pajang tersebut. Ketika suitan dari pemimpin nya itu terdengar,..mereka membuat bentuk perubahan dengan menyerang Raka Senggani secara bergantian ,.. membuat tubuh Senopati Pajang itu harus berusaha menghindari serangan -serangan yg terus menerus dstanganya itu.
Akan tetapi ia tidak merasa kewalahan bahkan suatu ketika,..dengan sengaja Raka Senggani memamerkan ilmu kebal yg dimilikinya itu,..ia membiarkan salah satu ujung pedang dari anggota rampok itu berhasil masuk dan tertahan pada dadanya.
Kawanan rampok itu sempat terperangah melihat pedangnya tidak mampu menembus tubuh dari lawannya itu.
Ia tidak sempat menarik pedangnya ketika dua jari tangan Senopati Pajang itu menjepit pedangnya tersebut.
Dan,...
__ADS_1
" Takkkkkkh,."
Pedang itu patah jadi dua,..perampok itu sampai terbengong melihat pedangnya sudah tidak memilki ujungnya lagi.
" Menyerahlah,..sebelum batas kesabaran kami habis,.." seru Raka Senggani.
" Kakang,.habisi saja mereka itu,..jangan di beri ampun,.." teriak Raden Abdullah Wangsa.
Putra Pangeran Sabrang Lor itu telah berhasil menundukkan semua lawan -lawannya.
Dan ia pun segera mendekati Raka Senggani yg masih berdiri tegak dengan mengeluarkan kata kata agar mereka meyerah.
Belumpun habis keterkejutan dari para kawanan rampok itu,.. tiba -tiba,..
" Hua,..ha,..ha,.."
Terdengar suara orang yg sedang tertawa yg dilambari ajian Gelap ngampar ,..suara tertawa sangat keras,..saking keranya ,..Ki Bekel yang berada dalam rumahnya terkena imbas pengaruh suara tertawa itu.
Gila,.. ternyata mereka memiliki pemimpin yg sangat sakti.,.ucap Raka Senggani dalam hati.
Dengan suara tertawa yg telah diperdengarkannya tadi jelaslah bahwa musuh kali ini bukan perampok kacangan.
" Siapa orang ini kakang,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.
Ia setengah berbisik menanyakan hal itu kepada Raka Senggani.
" Kakang tidak tahu,..adi wangsa,.." jawab Raka Senggani.
" Bersiaplah,..ternyata kita kedatangan seorang lawan yg cukup tinggi ilmunya,.." kata Raka Senggani lagi.
Kemudian terdengar lagi suara orang it berteriak dengan suara yg lantang,..
" Hehh,..kalian,..hanya tahu nya makan saja ,..untuk menghadapi dua orang bocah ingusan saja kalian tidak mampu,.." seru orang tersebut.
Para kawanan rampok itu kemudian berbisik bisik,..
" Ternyata Ki Lurah telah datang,..tentu kedua orang ini akan mati ditangannya,.." ucap pemimpin rampok yg pertama kali datang .
" Benar,.. Ki,..tentu Ki Lurah tidak akan membiarkan kedua pemuda itu lolos,.hidup -hidup dari sini,.. keduanya akan menemui ajalnya di pedukuhan ini,.." sahut seorang lagi.
Akan tetapi seorang kawanan rampok yg pedang nya telah patah dibuat oleh Raka Senggani itu menyahut,..
" Belum tentu Akan Lurah akan mampu,..ternyata pemuda itu memiliki ilmu yg sangat tinggi,.bahkan pedangku tidak mampu menembus kulitnya,.." ujarnya.
" Ki Lurah pasti mampu mengalahkan kedua orang itu,..dan kita akan mendapatkan bagian yg cukup banyak,..karena kulihat kedua pemuda itu memiliki kampil yg cukup besar ,..tentu saja berisi uang yg sangat banyak,.." kata pemimpin rampok itu.
" Benar Ki,..kedua kuda mereka itu pun sangat bagus,..mungkin mereka adalah para bangsawan yg telah lewat dari pedukuhan ini,..atau,.." ucap salah seorang temannya.
" Atau apa,..?" tanya pemimpin rampok itu.
" Atau mereka merupakan para Prajurit Kotaraja Demak yg sengaja di kirim kemari untuk menangkap kita,..!" jawabnya temannya.
" Hushh,..ngawur kamu,..mana mungkin Kotaraja Demak sempat memikirkan untuk menangkap kita,.. mereka saat ini akan menyerbu ke Lor,..tidak akan mungkin datang kemari ditambah lagi saat ini,..Demak telah kehilangan Sultannya,.. tentu mereka sibuk untuk mengurusi penggantinya,..untuk apa mereka mengurusi pedukuhan kecil seperti Grinsing ini,.." sela pemimpin rampok itu.
" Hehh,.. kalian ,..bukan nya berusaha untuk menangkap kedua orang itu,..malah asyik -asyikan ngobrol,.. dasar tidak berguna,..Hehh,.." teriak orang yg baru datang itu.
Dengan ringan nya sesosok tubuh mendekati kumpulan dari kawanan rampok itu dan langsung memberikan tamparan yg sangat keras kepada pemimpin rampok itu.
" Plakkkh,."
" Hehh,..kau tidak becus memimpin rombongan ini,. bukannya menangkap mereka malah asyik -asyikan ngobrol,.." teriaknya.
Pemimpin gerombolan persmpok itu sampai jatu terjengkang akibat tamparan yg sangat keras itu.
" Maaf Ki Lurah,.. ternyata mereka berdua memiliki ilmu silat yg sangat tinggi,..kami tidak berhasil meringkus mereka,.." jawab nya.
Orang itu segera berusaha bangkit dari tanah.
" Mereka memang memiliki kemampuan yg cukup tinggi,.. tetapi bukan tidak dapat untuk di kalahkan,..hanya nyali kalian saja yg sebesar menir,..kalian tidak dapat untuk di andalkan ,..kalau memang demikian sebaiknya kalian kembali saja pulang,..keloni sana istri kalian itu,.jika hanya untuk menangkap dua bocah ingusan saja kalian tidak mampu,.." seru orang yg baru datang itu.
Ia memang cukup geram melihat tingkah anak buahnya itu yg terkesan tidak memberikan perlawanan yg berarti.
Kemudian orang yg baru datang itu melihat kearah Raka Senggani dan Raden Abdullah itu.
__ADS_1