Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 19 Hari yang Baru. bag ke sepuluh.


__ADS_3

Di Pategalan itu menjadi ramai, tersentuh lah perasaan dari Raka Jang, paman Senopati Pajang tersebut.


Ternyata masih banyak orang yg peduli padanya, termasuk dengan keponakannya sendiri.


" Terima kasih Ki Bekel,.." ucapnya .


Dan Bekel desa Kenanga itupun menganggukkan kepalanya.


" Sudah sewajarnya, kita yg ada di Kenanga ini harus guyub dan saling tolong menolong Ki,.." sahut Ki Bekel.


Memang itu sudah di rasakan oleh Raka Jang semenjak dirinya di tinggalkan oleh keluarganya dan tidak memiliki apa -apa.


Ia hidup dengan di bantu oleh para warga desa melalui Ki Bekel dan Ki Lamiran.


Terlebih setelah keberhasilan dari sang keponakan memabntu menahan serangan gerombolan rampok yg di pimpin oleh Singo Lorok.


Rasa simpati warga desa Kenanga itu tidak hanya di tunjukkan kepada Raka Senggani saja yg dianggap sebagai seorang pahlawan, tetapj Pamannya itupun mendaptakan imbasnya.


Gubuk reot dan makanan nya adalah sumbangsih para warga desa.


Bahkan alas tempat gubuk reot itu pun milik salah seorang warga desa yg berkenan meminjamkan kepadanya.


Oleh sebab itulah ,..hati kecil sang Senopati Brastha Abipraya terpanggil untuk membuatkan rumah kepada pamannya itu di atas lahan nya sendiri.


Warga desa Kenanga yg hadir secara bergantian hadir di rumah tersebut. Bahkan pada malam harinya pun masih banyak orang datang.


Dalam kesempatan itu,..Raka Senggani masih menyempatkan waktunya untuk melihat perkembangan dari ke empat teman nya tersebut.


Di halaman belakang rumah tersebut, ia menyuruh ke empatnya untuk menunjukkan hasil yg telah di dapatnya.


Tidak terlalu lama mereka berlatih , karena sang Senopati hanya ingin melihat mereka mengungkapkan Ajian Wajra Geni yg telah di turunkan nya itu.


" Menurut,. Senggani,.. Kakang Andara dan Kakang Witangsa lebih baik lagi dalam mengungkapkan Ajian Wajra Geni," jelas Raka Senggani.


Ia dapat memahami nya , karena mereka berdua telah ikut dalam pertempuran di Alas Mentaok pada beberapa waktu lalu.


" Akan tetapi , untuk Rani dan Kemuning ,..kalian jangan berkecil hati,..meskipun kalian berdua masih berada di bawah Kakang Andara dan Kakang Witangsa dalam hal pengungkapan ilmu Wajra Geni akan tetapi dslam hal ilmu peringan tubuh, kalian berdua masih lebih baik,.." jelasnya lagi.


Setelah memberikan petunjuk beberapa hal guna untuk semakin meningkatnya kemampuan mereka , akhirnya ke lima orang tersebut kembali lagi ke rumah Ki Raka Jang tersebut.


Malam yg semakin larut dan semakin dingin tidak menyurutkan orang orang untuk berada di tempat itu.


Banyak sudah ketela singkong dan ketela rambat milik Ki Lamiran yg menjadi korban untuk di bakar atau di rebus ,..bahkan ada pula yg di goreng dengan menggunakan minyak kelapa.


Sehingga malam yg dingin tersebut menjadi hangat di tambah lagi dengan minuman wedang Jahe.


Pada keesokan harinya,..Ki Lamiran yg tidak kembali ke rumah nya, langsung mmebereskan lahan pategalan nya, ia menumpuk dan mmebersihkan bekas bekas dari pohon ketela singkong itu.


Ia dengan di bantu Raka Senggani dan Ki Raka Jang. Bahkan Jati Andara dan Japra Witangsa yg bermalam di tempat itu pun ikut membantu mereka.


Di sela sela kegiatan itu, Jati Andara masih menyempatkan untuk berbincang mengenai orang yg telah menyambangi rumah tersebut kemarin malam.


Setelah selesai , di saat mentari pada puncaknya,..Raka Senggani mengajak keduanya untuk memriksa keadaan hutan yg berada tepat di belakang rumah tersebut.


Setelah berpamitan kepada Ki Lamiran dan Ki Raka Jang. Dengan cepat ketiganya segera masuk ke dalam hutan tersebut.


Untuk Raka Senggani yg telah bolak balik masuk ke dalam nya tentu saja tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat dimana kedua orang yg asing itu bersembunyi.


Terlihatlah bekas -bekas rumput dan dedaunan yg bekas terinjak injak, bahkan ada pula bekas darah dan kain potongan di tempat itu.


Namun sesuai prasangka nya tentu orang tersebut akan segera pergi setelah berhasil di lukai oleh Jati Andara adalah benar.


" Tepat dugaanku,.." seru nya.


" Apa maksudnya ,..adi Senggani,..?" tanya Jati Andara.


" Yeah,..Senggani telah menduga bahwa mereka telah pergi meninggalkan tempat ini setelah berhasil kalian lukai,..kakang,..akan tetapi kita masih harus tetap berjaga jaga,..supaya tindakan mereka itu tidak akan terulang lagi,.." ungkpanya.


Mereka bertiga pun segera meninggalkan hutan tersebut setelah meyakini bahwa orang tersebut sudah tidak berada lagi disana.


Kembali ke rumah Ki Raka Jang,..ke tiganya segera makan , karena memang matahari sudah mulai bergeser ke arah barat.


Dalam benak Sang Senopati Pajang masih mempertanyakan siapa kiranya kedua orang itu,.yg telah menyatroni tempat ini, dan apa tujuan mereka.


Sementara itu, Ki Kebo Watang dan Ki Cakil Ndawa telah cukup jauh meninggalkan desa Kenanga , mereka berdua memang tidak jadi untuk menantang dan membalaskan dendam nya terhadap Senopati Pajang.


" Kakang Watang,..mengapa kita harus pergi dari desa itu,..?" tanya Ki Cakil Ndawa.


Sambil tetap mempercepat langkahnya ,..Orang yg berpakaian serba merah itu mengatakan,..

__ADS_1


" Ini adalah akibat ulah mu sendiri adi Ndawa, jika dirimu tidak ceroboh dan langsung menyerang kedua orang ter sebut, kita tidak harus meninggalkan tempat itu,.." sahut Ki Kebo Watang.


" Apa hubungan nya denganku,..Kakang Watang,..mengapa dirimu mempersalahkanku,..?" tanya orang yg berikat kepala warna hitam .


" Yahh, seharusnya kita tidak boleh bertindak sebelum kita berdua bertemu langsung dengan orang yg kita cari itu,..akan tetapi dirimu terlalu gegabah dan apa akibatnya, dirimulah yg sudah terluka, apa kita berdua akan sanggup melawan Senopati Pajang itu dengan keadaan mu seperti ini,..?" tanya Ki Kebo Watang.


Ki Cskil Ndawa tidak mampu menjawabnya,.benar juga apa yg di katakan oleh Kakang Watang ini, berkata dalam hati laki laki yg berikat kepala berwarna hitam tersebut.


Ia pun kemudian tidak terlalu mempermasalahkannya lagi.


Keduanya terus saja berjalan menjauhi desa Kenanga itu.


Pada suatu pertigaan mereka bertemu seorang tua yg berjalan dengan ringan nya menggunakan sebuah topi caping dan di tangannya tergenggam sebuah kayu kecil yg terus saja di permainkannya


Ketika mereka berpapasan tiba -tiba saja orang tua itu berkata,..


" Maaf Kisanak berdua ,.. apakah ini arah yg tepat untuk menuju ke desa Kenanga,.?" tanya orang tua tersebut.


" Benar kisanak ,..jalan ini adalah menuju ke desa Kenanga,..". jawab Ki Kebo Watang.


Ada rasa penasaran di hati orang yg berpakaian berwarna merah itu atas pertanyaan dari orang tua yg ada di hadapannya .


" Terima kasih ,..Kisanak,..mari,.." ucap Orang tua itu.


" Silahkan , silahkan ,.." jawab Ki Kebo Watang.


Adalah Ki Cakil Ndawa yg tiba -tiba saja bertanya,..


" Oh iya,..Ki,.untuk apa kisanak datang ke desa Kenanga,..?" tanya nya.


" Aku ingin bertemu dengan cucu ku , yg tinggal di desa tersebut,.." sahut orang tua itu.


Ia terus saja berjalan tanpa memperhatikan kedua orang yg tengah mmeperhatikan dirinya , yg menurut mereka berdua bersikap cukup aneh.


Ketika , Ki Cakil Ndawa bertanya kepada temannya itu,..tiba -tiba saja ia di kagetkan atas ucapan Ki Kebo Watang.


" Adi Ndawa, kemana perginya orang tua itu,..!!" serunya.


Ki Cakil Ndawa kemudian membalikkan tubuhnya dan memang tidak melihat lagi orang tua itu berjalan.


" Apakah dia itu seorang hantu,..kakang,..!" teriak Ki Cakil Ndawa.


" Hushh,..mana ada hantu keluar di siang hari,.." ucap Ki Kebo Watang.


" Adi Ndawa,.. sebaiknya kita kembali ke desa itu,.." ucapnya.


" Hehh,..!"


Ki Cakil Ndawa berseru kaget mendengar ucapan dari kakak seperguruan nya itu.


" Yeah,..sebaiknya kita ikuti orang tua itu,..kakang merasa ,.ia memiliki urusan yg sama dengan kita,.." lanjut Ki Kebo Watang.


" Maksud kakang,..ia mempunyai urusan dengan Senopati Pajang itu,..?" tanya Ki Cakil Ndawa.


Sambil menganggukkan kepalanya, Ki Kebo Watang segera berjalan mengarah kembali ke desa Kenanga.


" Marilah,..mudah mudahan kita akan mendapatkan suatu suguhan yg baik dengan kehadiran orang tua itu,.." ajak Ki Kebo Watang.


Sambil mengekori di belakang nya,..Ki Cakil Ndawa sempat menggerutu,..


" Jika memang orang tua itu ingin mengunjungi kerabat nya ,.tentu sia -sia saja kita kembali kesana,.. kakang ,.." gerutunya.


Tidak menghiraukan ucapan dari adik seperguruan nya Itu, Ki Kebo Watang mempercepat langkahnya.


Ada rasa penasaran dengan kehadiran orang tua Itu.


Di desa Kenanga sendiri,.. setelah berhasil menyelesaikan pembangunan rumah untuk paman nya,..kini Senopati Pajang bersiap untuk merencanakan niat hatinya.


Pada pertemuan nya dengan Ki Lamiran dan Raka Jang,..ia kemudian mengutarakan niatannya itu.


" Ngger,..apakah hal ini telah Angger utarakan kepada Ki Jagabaya,..?" tanya Ki Lamiran.


Raka Senggani yg mendaptakan pertanyaan itu menggelengkan kepalanya, ia memang belum mengutarakan nya kepada keluarga Sari Kemuning tersebut.


" Sebaiknya angger Senggani katakan terlebih dahulu kepada Ki Jagabaya,.. kapan kiranya kami dapat datang untuk melamar angger Kemuning itu,.." ungkap Ki Lamiran.


" Baiklah Ki,..nanti Senggani akan ke rumah Sari Kemuning,.." sahut Raka Senggani.


Ia pun segera bergegas untuk datang ke tempat rumah Ki Jagabaya dalam hal menanyakan kapan tepatnya ,.keluarga nya untuk datang melamar Sari Kemuning.

__ADS_1


Agak cepat Senopati Pajang itu bergerak,..ia memang tampak terburu-buru,..karena sudah agak lama ia tinggal di desa Kenanga.


Sementara dari para prajurit sandi menyebutkan bahwa tampaknya sang Sinuwun tengah mempersiapkan segala sesuatu nya untuk mengerahkan armada yg besar menyerang ke Lor.


Jangan sampai perintah dari Kanjeng Sinuwun itu turun dan memerintshkan seluruh pasukan berangkat ke Lor,..kata Raka Senggani dalam hati.


Begitu mendekati rumah Ki Jagabaya ia berselisihan dengan Sari Kemuning yg hendak ke sawah.


" Ehh kakang Senggani mau kemana,..?" tanya Sari Kemuning.


" Mau ke tempat mu ,. Kemuning,?" jawab Sari Kemuning.


" Ada perlu apa,..Kang,..?" tanya Putri Ki Jagabaya.


Kemudian Senopati Pajang itu mengatakan kepada Sari Kemuning niat nya datang ke rumah sang kekasih.


Mendengar hal itu kemudian Sari Kemuning mengajak Raka Senggani menemaninya untuk pergi ke sawah.


Dalam perjalanan itu keduanya kemudian membicarakan tentang hubungan mereka berdua.


Putri Ki Jagabaya itu sangat senang hatinya mendengar niatan dari sang kekasih.


Ia akan mengatakan hal ini kepada kedua orang tua nya,..dan akan memberitahukan kapan saatnya utusan Raka Senggani dapat datang ke rumah nya.


Setelah mendengar hal itu mereka berdua duduk -duduk diatas gubuk.


Sari Kemuning di tugaskan untuk melihat saluran air yg mengairi sawah.


Saat senja menyapa, dengan cahaya kejinggaan menerpa tempat itu menambah kesyahduaan diantara keduanya.


Mereka nampak hanya berdiam diri saja , seakan hanya hati mereka sajalah yg berkata kata.


Sambil menatap keindahan daerah itu,.. sawah yg menghijau di terpa cahaya jingga kemerah-merahan.


Ketika matahari mulai bersembunyi di balik pepohonan keduanya kemudian meninggalkan tempat tersebut.


" Marilah Kang kita kembali,..nanti kakang Witangsa yg akan datang melihat nya,.." ucap Sari Kemuning.


Raka Senggani kemudian turun dari gubuk dan kemudian ia pun menolong turun Sari Kemuning.


Keduanya berjalan menyusuri pematang sawah sambil beriringan .


Ketika sampai di jalan utama desa Kenanga, menuju pulang tanpa sengaja mereka berpapasan dengan seorang tua yg memakai topi caping dengan memainkan sebatang kayu kecil di tangan kanannya.


Orang tua itu kemudian bertanya kepada kedua pemuda desa Kenanga itu.


" Ngger,..apakah ini adalah desa Kenanga ,..?" tanya nya.


" Benar Ki ,..ini adalah desa Kenanga ,..!". jawab Sari Kemuning.


Kemudian orang tua itu memandangi sekeliling tempat itu.


" Apakah anger berdua adalah asli penduduk desa ini,..?" tanya nya lagi.


" Benar Ki,..kami adalah penduduk desa ini,.." sahut Sari Kemuning lagi.


Sedangkan Raka Senggani terus saja memperhatikan setiap gerakan dari orang tua itu, dalam hati pemuda itu mengatakan , sungguh hebat ilmu orang ini,..ia memainkan kayu itu seolah tanpa di pegangnya,..kata Senopati Pajang itu dalam hati.


" Memang nya, tujuan aki mau kemana, dan kalau boleh tahu siapa aki ini,..?" tanya Sari Kemuning.


Orang tua itu menatap kedua orang itu bergantian, sesekali ia melirik ke arah Raka Senggani yg diam saja.


" Nama aki adalah Ki Gedangan, dan sebenarnya ingin singgah di banjar desa ini,.." jawab Orang tua itu.


Ucapan dari orang tua itu membuat hati Senopati Pajang agak terkejut mendengar penuturan nya.


Hahh,.. bukankah Eyang panembahan Lawu pernah mengatakan nama ini,. apakah ia ini adalah orangnya,..tanya Raka Senggani dalam hati.


Rasa penasaran di hati Senopati Pajang itu akan tetapi ia tidak mau mengutarakan nya.


Ia semakin melihat dengan baik ke arah orang tua dan orang yg bernama Ki Gedangan itupun melihat ke arah Raka Senggani.


Dalam tatapan itu nampak keduanya seperti sedang meraba ketinggian ilmu masing -masing.


" Kalau boleh tahu ,..siapa nama Angger berdua ini,..?" tanya Ki Gedangan.


" Namaku ,.Sari Kemuning,..Ki,..dan ini adalah kakang Raka Senggani,,.." jawab putri Ki Jagabaya itu.


Nampak raut wajah orang tua itu berubah begitu mendengar nama terakhir di sebutkan, ia sangat kaget.

__ADS_1


Inikah orangnya yg bernama Senopati Brastha Abipraya itu, masih sangat muda,..benarkah,..ia orang nya yg telah mengalahkan Suganpara itu,..katanya dalam hati.


Ia melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki,..dan saat itu malam telah menyelimuti desa Kenanga.


__ADS_2