
Begawan Kakung Turah tidak kalah garang nya , ia pun berteriak dengan kerasnya,.
" Aji Rajah Wulungan,..heahh,..!"
" Dhumbhhh,..!"
" Bleghuaaarr,..!"
Dua kekuatan beradu dengan dahsyatnya ajian Lebur Saketi beradu dengan ajian Rajah Wulungan,..cahaya biru kegelapan keluar dari telapak tangan Begawan Kakung Turah dan menghantam dengan kerasnya dengan ajian Lebur Saketi itu.
Kedua tubuh orang tua itu terpental ke udara baru kemudian meluncur deras jatuh ke bawah.
Namun belum pun sempat keduanya menyentuh tanah, tubuh keduanya telah mampu mencelat kembali ke udara. Tampaknya kedua orang tua yg memiliki kesaktian sangat tinggi ini tidak terpengaruh atas benturan tadi.
Kembali keduanya berada di udara dan langsung menyerang kembali.
" Heahhh,..aji Lebur Saketi,..!" teriak Mpu Loh Brangsang lagi.
" Aji Rajah Wulungan,..hiyyahh,..!" seru Begawan Kakung Turah lagi.
" Dhumbhh,..!"
" Bleghuaaarr ,..!"
Untuk kedua kalinya. benturan keras kembali terjadi lagi, dan kembali lagi keduanya harus mencelat kembali akibat benturan ini.
Disaat tubuh kedua nya lagi berada di udara tiba tiba saja,..
" Shiiing,..!"
" Shiiing,..!"
" Shiiing,..!"
" Hehh,..!"
" Heahh,..!"
" Whuashhh,..!"
" Thakkh,.!"
" Whyuuuut,..!"
" Shiiing,..!"
" Crabhh,..!"
" Aaakkhh,..!"
" Kakang,....!"
Tiga buah senjata rahasia melesat cepat kearah tubuh Begawan Kakung Turah dan Raka Senggani.
Dua senjata rahasia yg menyerang ke arah Begawan Kakung Turah ini di kibaskan oleh penguasa Bukit Tuntang itu dengan mengarahkan Telapak tangan nya kepada kedua senjata rahasia yg menyerang nya itu.
Sungguh kemampuan dari Si Tua Gila sangat mumpuni, meskipun dalam keadaan melayang akibat benturan dari ilmu dengan Mpu Loh Brangsang, ternyata dirinya masih mampu melihat serangan gelap yg datang ke arah nya.
Tanpa tedeng aling aling lagi kedua senjata rahasia ini di kembalikan nya kepada sang pemiliknya.
Dan ajaibnya , senjata itu mengena tepat di tubuh si pemilik senjata itu yg tiada lain adalah Raden Kuda Wira..pemuda itu menjerit sesaat setelah tubuh nya tertancap oleh sebuah senjata miliknya sendiri yg kembali menyerangnya.
Dewi Rasani Mayang yg berada di dekat nya pun sangat terkejut melihat hal tersebut, ia terpekik keras memanggil pemuda itu yg jatuh pingsan.
Sedangkan sebuah senjata lagi yg mengenai tubuh Raka Senggani jatuh begitu saja tanpa mampu melukainya.
Ia pun tampak kaget akan hal tersebut. Segeralah Senopati Brastha Abipraya ini mendekati pemuda yang telah menyerang nya ini.
Bersamaan itu pula, Mpu Loh Brangsang dan Begawan Kakung Turah pun melesat ke tempat tersebut.
" Angger Kuda Wira,..!" seru Mpu Loh Brangsang.
Penguasa Gunung Merapi ini terlihat' sangat kaget mendapati tubuh muridnya ini dalam keadaan sekarat akibat racun yg mulai menggerogoti tubuhnya.
Pundak dan tangan dari Pemuda itu tampak membiru kehitam-hitaman, dan mulai menjalar ke arah dada .
" Hufhh,..!"
Mpu Loh Brangsang langsung menotok beberapa bagian tubuh Raden Kuda Wira. Ia membawa nya agak ke tempat terang, karena tempat itu memang cukup gelap , memang suatu tempat yang sangat baik untuk menyerang secara diam diam.
" Hehh,..ternyata kau memang cukup licik Branang,..!" seru Begawan Kakung Turah.
Penguasa Bukit Tuntang ini tampaknya sedang marah, melihat Mpu Loh Brangsang berusaha membawa tubuh orang yang telah membokong nya ini.
" Sudahlah, Aku tidak perlu mendengar ocehan mu itu, Argayasa,..tunggulah sebentar , diriku harus menyelamatkan muridku ini,..!" balas Mpu Loh Brangsang.
Seolah tidak memperdulikan ucapan dari Begawan Kakung Turah tadi.
" Sungguh keterlaluan kau, Branang,.berani nya kau memerintahkan muridmu untuk menyerang ku dengan menggunakan senjata rahasia, tindakan pengecut,..!" ucap Begawan Kakung Turah lagi.
Ia bahkan menambah kan lagi.
__ADS_1
" Branang,..itukah yang telah kau ajarkan kepada muridmu, menyerang orang dari kegelapan,..?" tanya Begawan Kakung Turah.
Terlihat penguasa Bukit Tuntang ini mengangkat tongkatnya tinggi -tinggi, nampak nya orang tua ini akan menyerang tubuh Raden Kuda Wira yg masih tergeletak pingsan.
" Eyang,..apa yg akan kau lakukan,..?" tanya Raka Senggani setengah berteriak.
Dan semua mata memandang ke arah Begawan Kakung Turah ini. Memang terlihat ia akan menyerang Raden Kuda Wira ini.
Termasuk juga dengan Mpu Loh Brangsang dan Dewi Rasani Mayang yg tengah berusaha menolong Raden Kuda Wira yg pingsan tersebut.
" Hehh, Argayasa, apakah dirimu tidak malu menyerang orang yg lagi sekarat,..pantaslah kau di gelari Si Tua Gila,..sifat dan sikapmu itu tidak menunjukkan seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi,..seranglah, jika memang kau ingin membunuhnya,..!" teriak Mpu Loh Brangsang.
Penguasa Gunung Merapi ini berdiri berhadapan dengan Begawan Kakung Turah .Ia pun telah siap membenturkan ajian nya lagi, dan kali ini tidak tanggung-tanggung lagi, Mpu Loh Brangsang telah menyiapkan Aji Lebur Waja.
" Eyang Begawan Kakung Turah, kuharap tidak melakukan hal tersebut, biarlah,..Mpu Loh Brangsang merawat muridnya itu terlebih dahulu, baru setelah nya kita lanjutkan lagi pertarungan yg sempat terhenti ini,..!" ucap Raka Senggani.
Senopati Brastha Abipraya ini memang harus berusaha mencegah perlakuan yang tidak sepantasnya di lakukan oleh seorang sekelas Begawan Kakung Turah ini.
" Kalau begitu sebaiknya kaulah yang harus menggantikan si Branang ini sebagai lawanku, Senopati Brastha Abipraya,..!" ucap Begawan Kakung Turah dengan nada marah.
" Mengapa harus diriku Eyang,..bukankah diriku hanya sebagai pengadil dalam perang tanding ini..dan tidak turut dalam perebutan senjata pusaka tersebut,..!" terang Senopati Brastha Abipraya.
Ia memang tidak menyangka bahwa kemarahan penguasa Bukit Tuntang ini atas dirinya , memang pantaslah sebutan si Tua Gila yg di sematkan kepada tokoh sakti ini.
" Karena sebenarnya dirimu pun memang menginginkan kedua pusaka itu, bukankah dirimu adalah utusan dari Kotaraja Demak guna mengembalikan kedua benda yang telah ku curi itu,..ha,.ha, ha,..!" seru Begawan Kakung Turah sambil tertawa tawa.
Jari telunjuk nya mengarah kepada Raka Senggani, sambil ia tetap tertawa tawa.
" Jadi sekarang bersiaplah, karena setelah ini , Si Branang lah yg akan menghadapiku, dan ia akan membayar mahal perbuatan muridnya yang telah berani membokongku,..hehh,..!" teriak Begawan Kakung Turah.
Ia bergantian memandangi dua orang yg masih berdiri di hadapannya.
Hehh, adalah suatu kesempatan yang sangat baik jika kedua orang ini akan bertarung,.nanti aku akan dengan mudah mengalahkan siapa saja yang akan keluar jadi pemenangnya,..berkata dalam hati Mpu Loh Brangsang.
Apalagi ketika ia mendengar bahwa Raka Senggani menyanggupi permintaan dari Begawan Kakung Turah ini.
" Baiklah Eyang Begawan, meskipun sebenarnya Eyang telah kuanggap sebagai seorang Guru karena bersaudara dengan panembahan Lawu yg telah banyak mengajarkan diriku,..namun karena Eyang Begawan Kakung Turah terlalu memaksa maka diriku tidak akan lari, hanya satu permintaan ku, antarkan mayatku ke desa Kenanga jika kelak aku tewas,..!" ucap Raka Senggani pelan.
Sesungguhnya ia tidak terlalu meyakini dapat mengalahkan penguasa Bukit Tuntang ini. Namun ia pun harus berhadapan dengan tua itu.
" Ha, ha, ha, sebuah permintaan dari orang yg sedang berputus asa, akan tetapi akan kukabulkan permohonan mu sekaligus diriku akan memberitahukan kepada adi Kebo Anggara, bahwa akulah yg telah membunuh muridnya ini, " ucap Begawan Kakung Turah.
Ia terlihat telah memutar tongkat yg ada di tangan nya. , tampaknya si Tua Gila ini tidak main-main dengan ucapannya.
" Heahhh,..!"
Dalam satu lesatan saja ia langsung menyerang Raka Senggani menggunakan tongkat nya.
" Hufhh,..!"
" Hehh,..!"
Senopati Pajang ini langsung menahan serangan tongkat dari Begawan Kakung Turah ini dengan tongkat pula.
Tongkat yg berkepala ular itu langsung menahan serangan tersebut, dan mengagetkan si Tua Gila karena senjata lawan sama dengan yg di milikinya. hanya saja ia tahu tongkat kayu yg di tangan lawannya ini bukan tongkat sembarangan.
Sejenak ia melompat mundur dan memandangi Raka Senggani dengan tatapan aneh.
" Dari mana kau mendapatkan tongkat itu ,..Hehh,.!" serunya dengan keras.
" Apakah diriku harus mengatakan nya ,..Eyang,..?" tanya Raka Senggani dengan pelan.
Mata Begawan Kakung Turah membelalak setelah mendengar ucapan dari Senopati Brastha Abipraya, ia sungguh tidak menyangka mendapatkan jawaban seperti itu.
Sementara itu agak jauh dari tempat tersebut,..Resi Mundingrata yg melihat kejadian segera menanyakan kepada Ki Gedangan.
" Kyai,..mengapa senjata mu bisa berada di tangan pemuda itu, bukankah senjata mu itu telah berada di tangan murid utama mu, Ki Suganpara,..?" tanya Resi Mundingrata.
" Benar yg kau ucapakan itu Resi,.. karena senjata itulah diriku harus bertarung dengan Senopati Pajang itu,..!" jawab Ki Gedangan.
Selanjutnya ia pun menjelaskan mengapa senjatanya itu bisa berada di tangan sang Senopati dari awal hingga akhir.
" Ooo,..!" sahut Resi Mundingrata.
Ia mengerti mengapa senjata tongkat berkepala ular itu dapat berada di tangan Senopati Brastha Abipraya.
Untuk selanjutnya Resi Mundingrata tidak bertanya lagi, mereka berdua lebih memusatkan perhatian nya melihat jalan nya perang tanding yg tersaji di atas Bukit Tuntang ini.
Tampaknya memang Begawan Kakung Turah tidak mau memberikan kesempatan pada Senopati Brastha Abipraya ini membalas semua serangan nya. Ia terus mencecar tubuh Raka Senggani dengan sangat cepat nya.
Namun Raka Senggani pun tidak kalah gesitnya, di tambah usia nya yg masih sangat muda, maka suami dari Sari Kemuning itu melayani serangan yg di lancarkan oleh si Tua Gila.
Dan memasuki jurus ke lima puluh , saat malam mendekati fajar,.keadaan berubah drastis,. Beberapa kali Raka Senggani harus menerima pukulan telak yg di lepaskan oleh Begawan Kakung Turah.
" Hiyyah,..!"
Dalam suatu serangan yg mendatar dengan tusukan tongkat nya,..Begawan Kakung Turah langsung mengirimkan tendangan memutar nya dan mengenai lambung Raka Senggani.
Tubuh dari Senopati Pajang ini terpental jauh.
Namun ia masih dapat mengalasi tubunya dengan ilmu peringan tubuhnya agar tidak terhempas dengan keras di atas tanah.
__ADS_1
Tetapi meskipun tubuh Raka Senggani telah jatuh di atas tanah,.tetap saja Begawan Kakung Turah ini memburunya.
Seperti saat ia melawan Ki Ajar Sarabaya, orang tua yg sudah sangat sepuh ini berusaha menusukan tongkatnya ke perut dari Raka Senggani.
Raka Senggani terus bergulingan menghindar serangan tersebut, bahkan ia segera mengumpulkan semua tenaganya dan,..
" Heahhh,..!"
Ia meloncat tinggi ke udara agar terbebas dari serangan yg beruntun itu.
Begawan Kakung Turah agak terkejut melihat lawan nya ini dapat meloloskan diri dari semua serangan nya.
Akan tetapi tetap saja ia memburu nya..
" Hiyyahh,..terima ini,..!"
Teriakan yang sangat keras keluar dari mulut si Tua Gila sambil memutar tongkatnya laksana baling baling.
Angin yang sangat kuat dan keras menghambur menerjang tubuh Raka Senggani.
Kembali tubuh senopati Brastha Abipraya ini harus terhantam angin yang sangat kuat bagai badai itu, tubuhnya teepental ke udara,..akan tetapi dengan cepat ia menguasai kembali dirinya agar tidak terjatuh ke atas tanah.
Ia bersiap kembali menerima serangan dari Begawan Kakung Turah yg terus saja memburu nya dengan sangat cepatnya.
" Heahhh,..!"
" Whushhhh,..!"
" Hufhhhh,..!"
" Whessshh,..!"
Kembali penguasa Bukit Tuntang ini melepaskan serangan angin badainya dengan mengandalkan putaran tongkatnya, namun kali ini Raka Senggani siap membalasinya .
Di tangan Pemuda yg sempat menjadi Senopati Sandi yuda Demak ini telah ada sebuah kebutan, ia pun dengan pelan nya mengayunkan nya ke arah Begawan Kakung Turah ini yg masih melesat sambil melepaskan serangannya.
Dua hembusan angin yang sangat kuat bagai badai ini pun bertemu,..dimana dua orang yg telah melepaskan serangan itu masih dalam posisi mengapung di udara.
Benturan dari kedua ilmu yang telah di lepaskan itu pun saling dorong mendorong,. tampaknya dalam benturan kali ini, tenaga dalam yang di kerahkan oleh Senopati Pajang ini tidak di bawah dari Begawan Kakung Turah.
Sehingga kedua serangan ini masih saja saling dorong mendorong dan tolak menolak dan belum ada yg unggul.
Merasa tertantang oleh lawannya yang masih muda ini, Begawan Kakung Turah mengemposi tenaga dalam nya untuk dapat mengalahkan Raka Senggani.
" Heaahhh,..!"
" Whuuuuusssshh,..!"
Serangan angin badai kembali keluar dari putaran tongkatnya ini.
Raka Senggani pun tidak mau kalah ,.ia pun beberapa kali mengibaskan kebutan yg ada di tangannya ini dengan melambari tenaga dalam nya lebih tinggi lagi.
" Hiyyyahh,..!"
" Whuut,..!"
" Whuut,..!"
" Whuashhh,..!"
Kembali tolak menolak antara kedua kekuatan itu terjadi dan maaih dalam keadaan berimbang.
Begawan Kakung Turah mengumpat dalam hati, karena tidak juga kunjung dapat mengalahkan Senopati Pajang ini.
" Hiyyyyyaaat,..!"
Dalam satu lompatan yang tinggi , tubuh si Tua Gila ini membubung tinggi ke udara dan langsung berseru dengan kerasnya.
" Aji Rajah Wulungan,..."
" Dhumbhh,..!"
" Bletaaaaar,...!"
Ia kembali melepaskan Ajian nya dengan kerasnya, selarik cahaya biru kehitam hitaman keluar dari tangan kirinya ini berusaha menghantam tubuh Raka Senggani.
Senopati Brastha Abipraya yg telah mengetahui kemampuan yang di miliki saudara dari Panembahan Lawu ini langsung melompat menghindari serangan tersebut.
Tetapi tampaknya ,.Begawan Kakung Turah ini tidak memberikan kesempatan kepada sang Senopati untuk dapat membalas nya, ia terus saja memburu dan mencecar tubunya dengan serangan Ajian Rajah Wulungan tersebut.
Merasa terdesak ,..Raka Senggani mengeluarkan ilmu yg lain yg dapat menghilangkan tubuhnya dari pandangan mata lawan, aji Panglimunan.
" Hehhh,..!"
Seru Begawan Kakung Turah kaget setelah dirinya tidak melihat lagi lawan nya ada di tempatnya.
Belum pun sempat ia memikirkan lebih jauh lagi,.tiba tiba saja,..
" Heahhh,..!"
" Bugghhhh,..!"
__ADS_1
Sebuah tendangan mendarat di punggung nya dan segera melemparkan tubuhnya cukup jauh, beruntung ia masih mampu menguasai keadaan hingga tidak terjatuh ke atas tanah.