Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 20 Secercah Harapan. bag kedua.


__ADS_3

Masih sangat banyak orang -orang yg berkumpul di rumah Ki Bekel dan banjar desa Kenanga. Mereka umumnya sedang memperbincangkan hal yg telah terjadi barusan . Yaitu perang tanding antara Raka Senggani dengan Ki Gedangan, dengan hasil nya Pemuda dari desa Kenanga itulah yg keluar sebagai pemenangnya.


Pada umumnya masih menunggu kedatangan salah seorang yg memiliki ilmu pengobatan yg ada di desa Kenanga.


Orang tersebut yg biasa di panggil sebagai Mbah Sarang,..entah kenapa ia dj panggil demikian ,..mungkin karena orang tua nya dahulu sering mencari sarang dari burung walet,..atau memang orang tuanya itu suka dengan nama tersebut.


Cukup lama orang tua itu baru dapat datang ke rumah Ki Bekel. Setelah ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya barulah ia muncul di tempat tersebut.


Setelah menyapa orang -orang yg berada di pendopo rumah Ki Bekel,..si mbah Sarang kemudian bertanya,..


" Siapa orangnya yg sedang sakit itu ,..Ki Bekel,.." tanyanya.


Orang tua yg sudah cukup tua atau bahkan sudah dapat dikatakan sangat sepuh itu, datang dengan membawa sesuatu yg seperti sebuah kampilan akan tetapi ini agak lebih besar dan langsung bertanya kepada Ki Bekel.


Dan ketika dilihatnya Ki Raka Jang berada di situ pula serta merta ia menegurnya.


" Sudah sehat dirimu,..Raka Jang ,..?" sapa nya.


Paman dari Raka Senggani itu kemudian mengatakan bahwa dirinya memang sudah lebih mendingan dan agak lebih segar.Hanya sesekali batuknya kumat dan sulit untuk berhenti.


" Syukurlah,..mudah -mudahan,..jika dirimu rutin mendawamkan minum air putih saat pagi sesaat sebelum matahari terbit,.paman rasa ,..batukmu itupun akan cepat sembuhnya,.." ungkap si Mbah Sarang.


Kemudian ia di minta masuk oleh Ki Bekel guna mengobati Ki Gedangan yg masih pingsan tersebut.


Setelah melihat serta memeriksa guru Ki Suganpara itu,..ia tampak menghela nafasnya cukup berat.


" Kenapa mbah,..?" tanya Ki Bekel.


Ketika melihat orang tua itu menghela nafasnya.


" Cukup berat dan parah luka dalam orang ini,..Ki Bekel,..siapa yg telah melakukan hal ini terhadapnya,..?" tanya si Mbah Sarang.


" Angger Senggani, Ki,..memangnya kenapa,..masih dapat disembuhkan ,.Ki ,..?" tanya Ki Bekel lagi.


" Pantaslah,..masih,..masih ,..walau agak berat,..dan semua itu tergantung pada yg maha kuasa,..kita hanya berusaha,.ia jualah yg menentukannya,.." jawab si Mbah Sarang.


Ia kemudian menanyakan kepada Ki Bekel ,..siapa sesungguhnya orang yg akan di obatinya itu. Dan mengapa terjadi silang sengketa dengan Raka Senggani yg sudah sangat terkenal ketangguhan nya.


Serba sedikit kemudian Ki Bekel memceritakan kepada si Mbah Sarang tentang terjadinya perang tanding itu.


Dengan tetap melakukan pengobatan nya ,.si mbah Sarang juga mendengarkan kisah yg di tuturkan oleh pemimpin desa Kenanga tersebut.


Sesekali ia menganggukkan kepalanya sambil terus saja memijati bagian -bagian tubuh Ki Gedangan .


Setelah beberapa kali di ulanginya ,.nampaklah perubahan pada tubuh dari tokoh kulon itu,.nafas nya mulai berjalan dengan teratur.


Ini dapat di lihat dari gerak dada nya yg turun naik. Yang awalnya hanya diam saja.


Karena si orang tua yg sudah sangat sepuh itu berusaha kembali membetulkan letak urat urat syaraf dari Ki gedangan ini,.bahkan sesekali ia menekan pada bagian -bagian terpenting nya.


" Mungkin sampai besok ,..orang ini baru dapat siuman Ki Bekel,.." ucap Si mbah Sarang.


Dan orang orang yg mendengarnya pun kemudian sepakat untuk tetap berjaga di kediaman pemimpin mereka itu sampai orang itu sadar dari pingsannya.


Malam menjelang pagi,.para kaum perempuan terutama para ibu -ibu nampak sibuk ,..mereka bertugas menyiapkan makan dan minum para kaum lelaki yg tengah berjaga -jaga di situ.


Bahkan Sari Kemuning pun tidak pulang ke rumahnya,.ia turut membantu Dewi Dwarani dalam menyiapkan segala hidangan.


Raka Senggani yg masih berada di tempat itu ,..tidak lepas-lepasnya memperhatikan tambatan hatinya itu bekerja ,. beberapa kali membawakan nampan yg berisikan makanan ataupun minuman.


Hatinya merasa senang sekali melihat hal tersebut. Dan lamunan nya segera di buyarkan oleh si mbah Sarang yg kemudian menegurnya,..


" Ngger,..jangan sekali kali..jadi mesin pembunuh,..yo,..mbok ,..dirasani,..agar tidak terlalu parah atau bahkan sampai meninggal,.." seru orang tua itu.


Sambil ia menggamit lengan pemuda tersebut. Dan Raka Senggani yg mendengarkan ucapan dari si Mbah Sarang tidak merasa tersinggung,.. karena sebenarnya iapun sudah merasa,. sangat banyak menumpahkan darah di sebabkan oleh kedua tangan nya itu.


Sang Senopati berpikir,. berapa banyak lagi darah yg akan tertumpah di sebabkan oleh kedua tangan nya itu.


" Ehh,..diajak ngobrol kok malah diam saja,.." ujar si mbah Sarang lagi.


Karena ia merasa perkataan nya tsdi tidak ada tanggapan dari Raka Senggani.


Sang Senopati kemudian berkata,..


" Jadi harus mau bagaimana lagi mbah,..sebagai seorang prajurit memang demikianlah kewajiban yg harus dijunjung, dan dilaksanakan agar semua dapat taat pada paugeran yg berlaku,.." jawab Raka Senggani.

__ADS_1


Si mbah Sarang tidak melanjutkan lagi ucapan nya,..ia nampak telah mulai meracik obat dari beberapa dedaunan dan akar akaran,serta tanaman umbi ,.yg dijadikan menjadi satu.


Setelah nya kemudian racikan obatnya itu selesai ,.ia kemudian membalurkannya ke tubuh Ki Gedangan,.dan sebahagian lagi di masukkan ke dalam bumbung bambu yg agak kecil dan biasa digunakan sebagai tempat minum.


Ramuan tersebut olehnya di campurkan dengan air.


" Ki Bekel,..jadi merepotkan,..nanti setelah orang ini siuman,.minumkan air ramuan ini ,..sedikit demi sedikit,.tampaknya luka dalam nya cukup parah,." jelas si mbah Sarang.


Ia terlihat berkemas , setelah selesai melakukan perawatan terhadap Ki Gedangan.


Meski tidak langsung pulang orang tua itu masih nampak ikut duduk dengan para warga ,.yg diantaranya masih ada Ki Lamiran dan Ki Raka Jang serta Ki Jagabaya.


Baru setelah memasuki saat subuh,..berangsur angsur,..mereka kembali.


Raka Senggani dengan Ki Lamiran dan Pamannya,.Raka Jang berpamitan kepada Ki Bekel untuk kembali ke rumahnya.


Namun sebelum sang Senopati itu pergi,..ia berpesan kepada Ki Bekel,..agar memanggil dirinya setelah Ki Gedangan siuman.


Bagaimana pun juga ia bertanggungjawab atas apa yg telah terjadi.


Barulah kemudian ketiganya meninggalkan rumah Ki Bekel.


Dalam perjalanan kembali,..Raka Jang masih sempat bergurau terhadap keponakan nya itu.


Ia mengatakan bahwa jika saat ini dirinya tidak akan berani macam -macam terhadap sang keponakan ,..tidak seperti saat ia masih kecil dahulu.


Acapkali ia memukul dan menampar wajah Raka Senggani kecil.


" Sudahlah paman,.jangan di ingat-ingat lagi masa itu,.." ujar Raka Senggani.


Ia tidak ingin Pamannya tersebut larut dalam rasa bersalah yg berkepanjangan. Dan membuat nya menjadi patah arang.


Saat ini secercah harapan tengah membentuk di hadapan mereka.


Dengan membuka rasa hati yg terdalam dengan satu kata,. penyesalan dan tidak akan mengulanginya lagi.


Tanpa terasa , ketiganya sampai dengan sangat cepat di rumah baru itu.


Raka Senggani bersiap melaksan'akan perintah sang khalik.baru setelah nya ia akan beristrahat.


Saat matahari mulai menggatalkan kulit,.. tiba-tiba,..ia di bangunkan oleh Ki Lamiran.


" Ngger,...angger Senggani,..ini ada angger Witangsa,..!" seru Ki Lamiran.


Raka Senggani kemudian bangun dari tidurnya dan menghampiri temannya itu.


" Ada apa kakang Witangsa,..?" tanya nya.


" Kakang di suruh oleh Ki Bekel untuk memanggil adi Senggani , karena Ki Gedangan itu telah sadar,.." jelas Japra Witangsa.


" Baiklah kalau begitu,..mari kita kesana,." ucap Senopati Pajang.


Ia langsung bangkit dan meninggalkan rumah tersebut dan hanya berpamitan kepada Ki Lamiran,..karena pamanya sedang berada di pategelan.


Keduanya berjalan menuju ke rumah Ki Bekel.


Dan sesampainya mereka disana,.Raka Senggani melihat bahwa tokoh sakti dari Kulon itu telah mampu bangkit dan duduk bersandar pada dinding rumah pemimpin desa Kenanga tersebut.


Melihat kedatangan Raka Senggani,.wajah dari guru Ki Suganpara itu agak berubah,..ada sedikit rasa malu pada dirinya.


" Bagaimana keadaan mu Ki,..apakah sudah baikan ,..?" tanya sang Senopati.


Sambil agak menekan dadanya Ki Gedangan menjawab,..


" Sudah lumayan,..walau dadaku ini masih terasa sakit,.."


Raka Senggani kemudian berusaha menyalurkan hawa murni guna mempercepat penyembuhan dari orang tua itu,.dalam hal ini luka dalam nya.


Agak merasa aneh sebenarnya guru Suganpara itu melihat sikap dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Ia membantunya ,..padahal mereka sebelumnya adalah musuh dalam perang tanding yg terjadi tadi malam.


" Ngger,..mengapa kau melakukan hal ini kepadaku,..?" tanya Ki Gedangan.


" Maksud Ki Gedangan,..?" tanya Raka Senggani.

__ADS_1


Yg masih menempelkan kedua tangannya di tubuh orang tua itu.


" Maksudku,.. mengapa dirimu mau membantu aki,..?"


" Sebenarnya diantara kita berdua tidak ada permasalahan yg mendasar untuk menjadi sebagai seorang musuh,..jadi untuk apa kita melakukan permusuhan ini jadi berkepanjangan,.." ucap Raka Senggani.


Ia juga menambahkan ,..jika masalah tongkat itu,.. Senopati Pajang berjanji tetap akan mengembalikannya kepada si pemiliknya yaitu Ki Suganpara,..karena itu adalah tanggungan atas niatan nya untuk berubah sikap.Bahkan ia sudah tahu dari Sunan Gunung Jati, saat ini Ki Suganpara sudah berubah baik dan menjadi pendukung Raden maulana Hasanudin di Wahanten. Akan tetapi ia tetap memerlukan bertemu langsung dengan nya.


Mendengar hal tersebut Ki Gedangan pun membenarkan seluruh ucapan dari Senopati Pajang itu,..ia merasa kecil di hadapan anak muda desa Kenanga ini,..keluhuran budinya yg sangat tinggi.


Sedang ia sendiri masih sering terbawa rasa amarah dan sombong .


Ki Gedangan mengatakan kepada Raka Senggani sebenarnya tidak semata -mata persoalan tentang senjata itu melainkan ia masih ingin menjajal kemampuan dari Senopati Pajang yg cukup berkibarnya nama nya di seantero Demàk ini.


Senopati Brastha Abipraya tidak terlalu terkejut mendengar apa yg telah diucapkan oleh orang tua tersebut.


Karena ia pernah mendengar dari panembahan Lawu bagaimana sikap dan tabiat tokoh kulon ini.


Hal ini diutarakan oleh Raka Senggani kepada Ki Gedangan dan membuat dirinya sangat terkejut.


" Jadi angger Senggani ini pernah bertemu dengan si Anggara itu,..?" tanya Ki Gedangan.


" Siapa Anggara itu Ki,..?" Raka Senggani balik bertanya.


" Maksudku ,..si Kebo Anggara itu adalah panembahan Lawu,.yah,..dirinya saat ini menjadi penguasa di Gunung yg banyak dedemit nya itu ,.." jelas Ki Gedangan lagi.


Raka Senggani lagi tahu nama sebenarnya dari orang tua yg sangat di hormatinya itu.


Ia kemudian mengatakan kepada Ki Gedangan bahwa dapat di katakan,.panembahan Lawu itu adalah gurunya.


" Jadi dirimu adalah murid dari si Kebo Anggara itu,..?" tanya Ki Gedangan lagi.


" Dalam banyak hal memang Senggani adalah murid dari Eyang panembahan Lawu,..namun dalam hal ilmu silat dan kadigjayaan tidak,.Ki,..." jelas Raka Senggani.


" Ooo,"


Ki Gedangan tidak menyangka pemuda yg ada di hadapanya itu ada hubungan nya dengan Panembahan Lawu,.orang yg seringkali diajak nya untuk mengadu kesaktian pada waktu dulu.


Namun kali ini ia di pecundangi oleh seorang yg masih berusia sangat muda.


Dari hati kecil Ki Gedangan mengatakan bahwa sudah sewajarnya ia tidak lagi merasa yg paling hebat di muka bumi ini.


" Ngger,..tahukah dirimu bahwa dalam tongkat itu ada sebuah rahasia,..?"


Pertanyaan itu di lontarkan oleh Ki Gedangan terhadap Raka Senggani,..ia ingin tahu seberapa jauh pemuda itu mengenali senjata tongkat berkepala ular tersebut.


" Tahu,.. Ki,..Eyang Panembahan Lawu telah mengatakan bahwa intisari dari ilmu perguruan Ki Gedangan berada dalam tongkat ini,..oleh sebab itulah,.Ki Suganpara bersikeras tidak mau menyerahkan benda ini kepadaku," jawab Raka Senggani.


Namun ia mengatakan terus terang , bahwa dirinya tidak pernah mengusik benda tersebut,.kalau menggunakan nya sebagai senjata ia memang melakukan nya.


Ki Gedangan kemudian mengatakan bahwa maksud dan tujuan nya meminta benda tersebut adalah agar dapat menjaga kerahasiaan dari ilmu perguruan mereka itu.


Tetapi setelah melihat sikap sang Senopati,..Ki Gedangan selanjutnya mengatakan agar Senopati Brastha Abipraya itu mau mempelajari inti sari ilmu yg ada pada tongkat berkepala ular tersebut.


Oleh Raka Senggani di tolak secara halus,..ia mengatakan,..


" Ki,..bukan maksud ingin menolak permintaan dari aki ini,.. tetapi tidak selayaknya lah,..Senggani mengambil jatah orang lain,..biarlah Ki Suganpara yg akan mempelajarinya,.." kata Raka Senggani.


Karena bagaimana pun juga,..Raka Senggani tidak ingin mengambil hak orang lain dalam hal ini adalah Ki Suganpara.


Bahkan dari yg di dengar nyà,..saat ini orang tersebut merupakan kepercayaan dari putra Sunan Gunung Jati di Wahanten. Tidak merupakan suatu masalah jika kelak ia memiliki ilmu yg tinggi dari intisari ilmu perguruan Ki Gedangan tersebut.


" Sudahlah Ki,..sebaiknya saat ini kita lebih mau menerima kelebihan dan kekurangan orang lain,..dalam hal ini Senggani cukup takjub dengan pukulan Ki Gedangan yg dapat masuk padahal sepertinya masih jauh,.." ungkap Raka Senggani.


Mendengar hal tersebut Ki Gedangan pun tersenyum,.. setelah mendengar pujian dari Senopati Pajang itu.


Tidak menjawab perkataan dari sang Senopati,..Ki Gedangan malah balik bertanya,..


" Mengapa angger Senggani dapat tahu kelemahan ilmu ku yg tidak dapat merasakan pukulan itu,..?" tanyanya kepada Raka Senggani.


Kemudian Senopati Pajang itu menjelaskan bahwa memang kelemahan ilmu itu adalah dengan pengerahan tenaga wadag saja.


Jika menggunakan tenaga dalam maka ilmu tersebut semakin tidak akan merasakan apa -apa. Seolah orang yg memukul itu menghantam benda yg sangat lunak.


Ki Gedangan kagum dengan pengetahuan dari Senopati Pajang ini.

__ADS_1


__ADS_2