Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 6 Pembalasan bagian kedua.


__ADS_3

" Ampun kan hamba Kanjeng Sinuwun, apa tidak sebaiknya Kanjeng Sunan Kalijaga juga turut dipanggil untuk datang menghadap,?" tanya Patih Noto Negoro kepada Sultan Demak itu.


" Yah , sunan Kalijaga pun harus dipanggil untuk di mintai pendapatnya, prajurit panggil juga sunan Kalijaga suruh datang menghadap kemari, " terdengar peritntah Sultan Demak lagi.


Selang tidak terlalu lama masuklah Mpu Supa Mandrangi ke dalam, ia pun langsung menghaturkan sembah kepada Sultan Demak.


" Ampun kan hamba Kanjeng Sinuwun, gerangan apakah sehingga hamba harus di panggil datang kemari, adakah sesuatu yg penting,?' tanya Mpu Supa Mandrangi.


" Benar, ada sesuatu yg sangat penting ini menyangkut dengan dirimu , Mpu Supa,!" jelas Sultan Demak.


" Menyangkut dengan diri Hamba, apakah hamba telah melakukan suatu kesalahan Kanjeng Sinuwun,?" tanya Mpu Supa Mandrangi lagi.


" Bukan, bukan dirimu yg telah melakukan kesalahan akan tetapi adik seperguruan mu itulah yg telah melakukan kesalahan, !" ucap Sultan Demak.


" Adik seperguruan hamba, siapakah gerangan , yg berada dimana,?" tanya Mpu Supa Mandrangi yg heran mendengar ucapan dari Sultan Demak itu.


" Seluruh adik seperguruan mu telah berniat melawan kuasa Demak dengan berupaya membuat sebuah Pusaka yg telah hilang untuk menandingi piyandel Kerajaan Demak ini yaitu Nogo Sosro dan Sabuk Inten, mereka ingin memunculkan kembali Pusaka Kyai Condong Campur,!" ungkap Sultan Demak itu.


" Semua adik seperguruan ku akan membuat Kyai Condong Campur, apakah itu mungkin untuk di lakukan,?" tanya Mpu Supa Mandrangi.


" Bukankah engkau telah mendengar hal ini dari Tumenggung Wicakasana, dan itu memang mungkin untuk dilakasanakan karena mereka telah memulai nya di desa Bedander,!" jawab Sultan Demak.


" Benar. hamba telah mendengar hal ini dari Tumenggung Wicaksana akan tetapi hamba merasa ini cuma guyonan saja, bagaimana bisa mereka akan membuat sesuatu yg sudah tidak ada itu menjadi ada, suatu yg mustahil,!" kata Mpu Supa Mandrangi lagi.


" Tidak ada yg tidak mungkin , apalagi ada ambisi untuk menjatuhkan pemerintahan Demak ini, bahkan menurut prajurit sandi Demak, sang pemegang pusaka itu pun telah mereka persiapkan, jadi sudah menjadi keputusanku , bahwa engkau lah yg akan mencegah mereka melakukan hal itu, baik jalan damai ataupun jalan kekerasan,!" perintah dari mulut Sultan Demak itu pun keluar.


" Sendika Dawuh Kanjeng Sinuwun, hamba akan melaksanakan nya," jawab Mpu Supa Mandrangi


" Dan jika engkau membutuhkan para prajurit mintalah kepada Tumenggung Wicaksana, karena saat ini seluruh kekuatan prajurit Demak ada di tangan nya," jelas Sultan Demak lagi.


Kemudian tidak terlalu lama datanglah Sunan Kalijaga yg berjalan seorang diri


" Assalamu ' alaikum, adi Sultan,!" ucap Sunan Kalijaga


" Wa alaikum salam , kakang Sunan,!" jawab Sultan Demak.


" Ada gerangan apakah adi Sultan memanggil saya, adakah sesuatu yg sangat penting,?" tanya Sunan Kalijaga.


" Benar kakang Sunan, Saya memanggil kakang Sunan adalah untuk bertanya tentang pendapat kakang Sunan," jawab Sultan Demak.


" Bertanya, tentang masalah apa adi Sultan ingin bertanya,?" tanya Sunan Kalijaga lagi.


" Mengenai orang -orang yg ingin membangkitkan kembali masa lalu tepatnya mengenai sebuah pusaka Kyai Condong Campur, kakang Sunan,!" jelas Sultan Demak.


" Kyai Condong Campur, bukankah pusaka itu telah tiada dan siapa orangnya yg ingin membangkitkan kembali Kyai Condong Campur itu,?" tanya Sunan Kalijaga lagi.


" Menurut para prajurit sandi Demak dan Pajang , mereka yg berniat membangkitkan kembali Pusaka itu adalah Mpu Loh Brangsang sebagai pemimpin nya,!" ucap Sultan Demak.


" Mpu Loh Brangsang, bukankah dia itu adalah adik seperguruan darimu, adi Mandrangi,?" tanya nya kepada Mpu Supa Mandrangi itu.


" Benar kakang Sunan ,!" jawab Mpu Supa Mandrangi.


" Ahh, kalau begitu sebaiknya lah adi Mandrangi yg mengatasi masalah ini," kata Sunan Kalijaga.


" Baik kakang Sunan, memang saya lah yg akan menasehati adi Brangsang itu,!" jawab Mpu Supa Mandrangi lagi.


" Nah, adi Sultan , sekarang masalah nya telah jelas bahwa adi Supa Mandrangi lah yg akan mengatasi masalah ini,!" jelas Sunan Kalijaga itu.


" Akan tetapi jika mereka tidak mau menuruti nya dan memilih jalan kekerasan bagaimana kakang Sunan , sedangkan saat ini Demak tidak memiliki lagi Senopati -senopati yg linuwih lan pinunjul, sementara mereka jumlah nya cukup besar dan rata -rata memiliki kemampuan yg cukup tinggi," seru Sultan Demak lagi


" Adi Sultan bisa mengutus para prajurit Demak yg terbaik dan tersisa saat ini di tambah dengan para prajurit yg dari Pajang untuk mengawal adi Supa Mandrangi itu,!" jelas Sunan Kalijaga.


" Baiklah kalau begitu kakang Sunan, nasehat kakang Sunan akan dilaksanakan,!" jawab Sultan Demak.


" Kalau tidak ada masalah lagi biar saya pamit terlebih dahulu adi Sultan, masih ada suatu urusan yg lain yg saya lakukan, saya pamit adi Sultan,!" ucap Sunan Kalijaga.


" Silahkan kakang Sunan, maaf telah mengganggu,!" jawab Sultan Demak.

__ADS_1


" Assalamu alaikum,"


" Wa alaikumussalam"


Kemudian Sunan Kalijaga beranjak dari Istana Demak itu, meninggalkan seluruh yg hadir di situ.


Sepeninggl nya Sunan Kalijaga, maka Sultan Demak memerintahkan Mpu Supa Mandrangi untuk memimpin rombongan ke desa Bedander guna mencegah perbuatan dari Mpu Loh Brangsang itu.


Mpu Supa Mandrangi dengan dikawal oleh seratus lebih prajurit Demak akan segera berangkat menuju Matahun, termasuk di dalamnya para prajurit Pajang yg dipimpin oleh Senopati Brastha Abipraya.


Setelah di sepakati oleh Mpu Supa Mandrangi dan Tumenggung Wicaksana, pada keesokan harinya berangkat lah mereka menuju ke Matahun.


Keberangkatan Mpu Supa Mandrangi dan rombongan itu , cukup membuat Kota Raja Demak bertanya - tanya, akan kemana pasukan yg cukup besar itu.


Pasukan itu bergerak perlahan -lahan menuju ke arah kadipaten Jipang,


Rombongan itu sampai di Kadipaten Jipang hampir dua hari Dari sana mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju Matahun dengan melewati beberapa padukuhan, see sampainya di Matahun mereka beristrahat sekaligus mempersiap kan segala sesuatu nya, karena jarak ke desa Bedander hampir satu hari lagi.


" Bagaimana ini Mpu Supa, apakah kita akan langsung menyerang mereka jika telah sampai di sana atau kita akan menunggu ,?" tanya Tumenggung Wicaksana kepada Mpu Supa Mandrangi.


" Sebaiknyalah engkau segera mengirimkan prajurit sandi untuk melihat kesana, atau kah ada jalan lain selain harus berperang,?" kata Mpu Supa Mandrangi.


" Baiklah Mpu Supa, aku akan segera mengirimkan prajurit sandi ke sana,!" jawab Tumenggung Wicaksana.


" Apakah Matahun tidak berkeberatan kita berada disini,?" tanya Mpu Supa Mandrangi kepada Tumenggung Wicaksana.


" Tidak Mpu Supa, malah mereka merasa senang karena Kotaraja Demak ada perhatian nya terhadap hal ini, maksud nya tentang orang -orang yg ada di desa Bedander itu,!" ungkap Tumenggung Wicaksana.


" Bagus kalau begitu, bila perlu kita akan meminta banruan jika kita memerlukan tenaga mereka," kata Mpu Supa Mandrangi lagi.


" Oh iya, kepada Senopati Pajang , apakah pendapatmu dalam hal ini, apakah yg sebaik nya kita lakukan jika mereka tidak mau mengurungkan niat nya itu,?" tanya Mpu Supa kepada Senopati Pajang, Senopati Brastha Abipraya .


" Kalau menurut kami, memang mereka itu harus di tindak karena telah banyak membuat kesulitan , Eyang Supa,!" jawab Raka Senggani


" Heh, mereka telah membuat kesulitan, apa maksudmu angger Senopati, apa yg telah mereka perbuat sehingga engkau bisa mengatakan seperti itu,?" tanya Mpu Supa Mandrangi agak kurang senang atas ucapan Raka Senggani itu.


" Membuat keonaran,?" tanya Mpu Supa lagi.


" Iya Eyang , mereka membuat Si Topeng Iblis untuk sebagai kedok mereka merampas harta para penfudduk yg kaya dan juga sampai kedalam istana kadipatenan baik di Madiun dan di Kediri, bahkan salah seorang pangeran dari Kadipaten Madiun sampai terluka cukup parah,!" ungkap Raka Senggani lagi.


" Benarkah ucapanmu itu , angger Senopati,?" tanya Mpu Supa lagi.


" Benar eyang, kalau eyang tidak percaya bisa di tanyakan kepada paman Tumenggung Wicaksana,!" jelas Raka Senggani lagi.


" Benarkah demikian, Tumenggung Wicakasana , apa yg telah dikatakan oleh angger Senopati ini,?" tanyanya kepada Tumenggung Wicaksana.


" Benar Mpu, bahwa mereka telah bertindak terlalu jauh, dalam hal ini kita masih terlalu lunak terhadap mereka,!" jawab Tumenggung Wicaksana.


" Mengapa engkau tidak mengatakan hal ini kepada ku waktu itu, ?" tanya Mpu Supa Mandrangi.


" Kami segan Mpu, apapun itu Mpu Loh Brangsang masih saudara seperguruan dari Mpu Supa sendiri,!" jelas Tumenggung Wicaksana.


" Ahh, bukan alasan , kalau mereka melanggar paugeran , tidak pandang bulu, entah itu teman atau teman memang harus segera di hukum, apalagi dalam hal ini mereka telah melampaui batas, jika besok para prajurit sandi itu telah kembali secepatnya kita kesana," kata Mpu Supa Mandrangi agak geram.


Keesokan harinya ketika hari telah larut malam, kembali lah dua orang prajurit sandi Demak itu dan menghadap kepada Tumenggung Wicaksana.


" Bagaimana , apa yg kalian lihat disana, berapa jumlah mereka,?" tanya Tumenggung Wicaksana.


" Gawat, Kanjeng Tumenggung, jumlah mereka cukup banyak , mungkin lebih dari seratus orang, dan berjaga di setiap tempat, dan satu hal lagi yg tampak nya akan menyulitkan kita, Bekel desa Bedander itu , ikut menjaga mereka,!" jawab seorang prajurit sandi Demak itu.


" Bekel desa Bedander ikut dalam pengerjaan pusaka itu, apakah hubungan nya dengan mereka itu,?" tanya Tumenggung Wicakasana lagi.


" Dari beberapa penduduk yg bisa kami mintai keterangan nya bahwa sang Bekel adalah murid dari Mpu Loh Brangsang, Kanjeng Tumenggung,!" jawab prajurit sandi Demak itu.


" Bagaimana Mpu Supa, apakah kita tetap akan melanjut kan perjalanan kesana,?" tanya Tumenggung Wicaksana.


" Harus , besok setelah terang tanah kita langsung menuju kesana, upayakan agak di percepat, kalau bisa sebelum malam kita harus tiba disana,!" ujar Mpu Supa Mandrangi.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu, dan menurut mu prajurit, dari arah mana kita sebaiknya masuk,?" tanya Tumenggung Wicaksana kepada prajurit sandi itu.


" Sebaiknya kita masuk dari arah utara, walaupun di sebelah selatan kita juga harus meninggalkan pasukan," jawab Prajurit Sandi itu


" Baik , besok setelah terang tanah kita segera berangkat kesana sampaikan Kabar ini kepada seluruh Lurah prajurit, jangan sampai ketinggalan,!" perintah Tumenggung Wicaksana.


Prajurit Sandi itu mengangguk sambil segera keluar dari tempat itu.


Esok hari nya rombongan pasukan Kotaraja Demak itu melanjutkan lagi perjalanannya, menuju desa Bedander.


Sehari penuh mereka berjalan, sampai lah mereka di desa Bedander, Akan tetapi mereka tidak langsung masuk ke desa itu karena mereka tahu desa tersebut telah menjadi alas dari Mpu Brangsang. Jadi mereka berhenti di dekat desa tersebut di tepi sebuah hutan.


" Sebaiknya dari sini kita membagi dua pasukan, Aku dan Senopati Pajang yg akan ke utara langsung menuju sumber api abadi tersebut, nanti jika kami mengalami kesulitan akan segera mengirimkan isyarat dengan panah sendaren, dan sebaiknya Tumenggung Wicaksana berada disini, menjaga siapa tahu mereka akan berusaha melarikan diri,!" jelas Mpu Supa Mandrangi.


" Baik , kami siap menunggu isyarat dari Mpu Supa itu, demikian pula nanti kami jika mengalami kesulitan akan segera mengirimkan isyarat,!" kata Tumenggung Wicaksana.


" Kami berangkat, sebelum pagi kami berharap sudah tiba disana , " kata Mpu Supa Mandrangi.


" Apa tidak sebaiknya Mpu Supa berangkat nya esok pagi saja, karena kita belum terlalu memahami medan di sekitar sini, nanti mereka bisa menjebak Mpu Supa dan para prajurit yg lain,!" ungkap Tumenggung Wicaksana.


" Tidak, kalau besok pagi malah lebih berbahaya, dan lagi pun , ada prajurit sandi yg akan menuntun kami kesana,!" jelas Mpu Supa Mandrangi lagi.


" Terserah Mpu Supa lah, kami hanya memberikan masukan saja,!" kata Tumenggung Wicaksana.


" Kalau begitu kami pergi terlebih dahulu, silahkan prajurit tunjuk kan jalan menuju tempat itu,!" kata Mpu Supa Mandrangi kepada Prajurit Sandi Demak itu.


Prajurit itu pun segera menjadi penunjuk jalan atas rombongan yg di pimpin oleh Mpu Supa Mandrangi itu.


Meski malam terlihat pekat dan sangat gelap, pasukan itu berjalan menuju Sumber api abadi yg ada di desa Bedander itu.


Ketika kokok ayam, tibalah pasukan yg di pimpin oleh Mpu Supa Mandrangi itu di dekat Sumber api abadi itu, dan gerak pasukan ini pun di ketahui oleh rombongan dari Mpu Loh Brangsang.


" Berapa jumlah mereka ,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada salah seorang murid nya yg menjaga daerah itu.


" Jumlah mereka sekira lima puluh orang, Guru,!" jawab murid nya itu.


" Lima puluh orang, mereka terlalu berani, atau memang sudah bosan hidup,!" ucap Mpu Loh Brangsang.


Namun tiba -tiba Mpu Loh Brangsang itu kaget karena ada suara yg menggelegar di telinga nya.


" Siapa yg sudah bosan hidup, atau memang diri mu yg sudah bosan hidup,!" teriak orang itu di telinga dari Mpu Loh Brangsang


Mpu Loh Brangsang celingukan memperhatikan sekitar nya, namun ia tidak menemui nya seorang pun. Dengan mengerahkan segenap ilmu nya ia berusaha mencari sumber suara itu. Tetapi tidake juga dapat menemukan orang nya.


" Hehh, kalau punya telinga itu di pasang dengan baik , jangan cuma ambisi mu saja yg besar , Brangsang,!" ucap orang itu lagi.


" Segera tunjuk kan diri mu, jangan cuma berani dari kejauhan, dan bersembunyi dalam gelap nya malam," teriak Mpu Loh Brangsang.


Nampak nya rasa kesal dari pemimpin padepokan Gunung merapi itu sudah mencapai puncak nya.


Karena ia tidak juga mampu menemukan orang yg telah berkata -kata dengan diri nya itu.


Suara teriakan nya itu menyebabkan seluruh orang yg berada di tempat itu terbangun dari tidur nya termasuk Mpu Phedet Pundirangan , Mpu Yasa Pasirangan,bahkan yg lain nya.


Mereka langsung mendekati Mpu Loh Brangsang dan bertanya,.


" Ada apa kakang Brangsang, mengapa engkau berteriak di malam begini,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan.


" Ada seseorang yg telah berkata -kata dengan ku tetapi aku tidak berhasil menemukan nya, !" jawab Mpu Brangsang.


" Hahhh, siapa orang nya telah bercakap-cakap dengan mu itu kakang Brangsang, berarrti ia memiliki ilmu di atas mu, kalau tidak mana mungkin kakang tidak mengetahui nya,!" kata Mpu Yasa Pasirangan.


" Hehh, kalian bertiga , apa tidak mempunyai pekerjaan yg lain selain membuat ke onaran di tlatah Demak ini,!" ucap orang itu lagi.


Dan kali ini, ketiga nya mendengar suara itu.


Kembali ketiga nya harus mengerahkan segenap ilmu nya untuk mencari sumber suara tersebut, namun tidak juga berhasil.

__ADS_1


__ADS_2