
Setelah kematian dari Ki Mangku Darno, Raka Senggani mendekati Ki Wulung Ireng. Tampak nya orang kedua di gerombolan itu sangat ketakutan setelah melihat kehebatan musuh nya itu.
Ia terlihat mundur, ketika Senopati Pajang itu mendekati nya.
" Apakah kau akan menyerah Ki Wulung Ireng,?" tanya Raka Senggani.
Ki Wulung Ireng memandangi para anak buahnya, hanya beberapa saja yg masih mampu berdiri , kebanyakan telah terduduk di tanah, seolah meminta pertimbangan dari para anak buahnya itu, Ki Wulung Ireng menjawab,
" Aku menyerah Kisanak," ucap nya.
Dengan mengangkat kedua tangannya, dan wajah terlihat memutih saking takut nya, tidak ada kegarangan lagi di raut muka nya, yg ada hanya wajah memelas.
" Kakang Bekel, apakah dapat meminta kepada seseorang untuk mengabarkan kejadian ini ke Pajang ,?" tanya Raka Senggani.
" Ada,. ada, nanti si waradana akan ku perintahkan ke Demak , guna melaporkan hal ini,!" jawab Ki Bekel.
" Mengapa ke Demak , tidak ke Pajang saja,?" tanya Raka Senggani heran.
" Pedukuhan ini lebih dekat ke Kotaraja Demak daripada ke Pajang, adi Senggani," jawab Ki Bekel.
" Baiklah , secepatnya laporkan kejadian ke Kotaraja Demak, dan Nanti Aku akan tetap disini sampai para prajurit Demak itu tiba disini," ucap Raka Senggani.
" Dan satu hal lagi, ikat semua mereka ini, jangan ada yg di beri lolos untuk melarikan diri," kata Raka Senggani lagi.
Ia pun memrintahkan kepada Ki Wulung Ireng untuk mengikat tangan teman -teman nya itu dan terakhir ia sendiri yg di ikat tangan nya oleh Ki Bekel.
Malam belum berlalu , ketika terdengar suara orang yg cukup banyak datang ke tempat itu dengan membawa obor, sebenarnya sebahagian penduduk pedukuhan itu melihat jalannya pertarungan itu dengan mengintip dan tidak berani mendekati tempat itu.
Namun setelah Raka Senggani berhasil mengalahkan Ki Mangku Darno, mereka berani keluar dan malah mengajak teman -teman nya yg lain untuk datang.
Salah seorang yg sudah agak sepuh segera mengapa Ki Bekel,
" Bagaimana Ki Bekel, apakah mereka akan di tahan disini,?" tanya nya pada Ki Bekel.
" Mungkin untuk sementara iya, tetapi secepatnya mereka akan di kirim ke Kotaraja Demak, Ki Jagabaya," jelas Ki Bekel.
" Oh iya, apakah Waradana ada Ki Jagabaya,?" tanya Ki Bekel lagi.
" Ada, ada , ia lah yg telah memberitahukan kami tentang keadaan disini , bahkan menurut nya, seluruh pertarungan itu dilihatnya semua," jawab Ki Jagabaya itu.
" Hehh, dasar bocah gendeng, bukan nya datang membantu , malah cuma menonton saja,". gerutu Ki Bekel.
" Mana berani ia melawan gerombolan Ki Mangku Darno ini, Ki Bekel," jawab Ki Jagabaya lagi.
" Yeah, setidaknya datang kemari menemani ku," sahut Ki Bekel.
" Memang nya perlu apa Ki Bekel dengan Waradana,?" tanya Ki Jagabaya lagi.
" Aku memerlukannya untuk berangkat ke Demak," jelas Ki Bekel.
Ki Jagabaya kemudian ke belakang rombongan itu guna mencari seorang yg bernama Waradana, setelah melihat orang tersebut Ki Jagabaya kemudian mengatakan apa yg telah di katakan oleh Ki Bekel tadi.
Waradana bergegas menemui Ki Bekel dan menanyakan hal itu kepada pemimpin pedukuhan itu.
" Ada apa Ki Bekel mencariku, ada tugas yg harus kulakukan,?" tanyanya.
" Yah, kau akan kutugaskan ke Demak menyampaikan pesan ini, bahwa disini telah ada gerombolan rampok yg tertangkap dan diminta kepada Kotaraja Demak untuk membawa nya dari sini," jelas Ki Bekel.
Raka Senggani yg melihat hal itu segera mendatangi nya,
" Kakang harus menyampaikan hal ini kepada Paman Tumenggung Bahu Reksa, katakan ini dari Raka Senggani , katakan juga aku akan menunggu kedatangan mereka,!" jelas Senopati Pajang itu.
" Jangan lupa , engkau harus secepatnya kembali bersama para prajurit Demak itu," ujar Ki Bekel lagi.
" Apakah Aku akan berangkat sekarang Ki Bekel,?" tanya Waradana.
" Terserah , kalau kau berani berangkat sekarang , karena ini kan masih gelap , walaupun sebentar lagi pagi," jawab Ki Bekel
" Nanti sajalah Ki Bekel, setelah terang tanah Waradana baru berangkat," jawab Waradana lagi.
Tidak terlalu lama terdengarlah kokok ayam jantan di pedukuhan itu.
Sementara para penduduk pedukuhan masih banyak berada disitu.
__ADS_1
Mereka terus menemani pemimpin nya itu untuk menjaga para perampok yg telah tertangkap itu.
Sampai hari terang secara berangsur-angsur mereka kembali ke rumah nya masing-masing dan ada juga yg langsung berangkat ke sawah.
Sedangkan Waradana langsung berangkat ke kotaraja Demak guna menyampaikan pesan darj Ki Bekel.
Kudanya di pacu dengan cepat meningglkan pedukuhan itu.
Sedangkan Ki Bekel di sibukkan dengan mengurus para perampok yg tertangkap itu.
Yg tewas segera dimakamkan dengan dibantu para rampok yg masih kuat, mereka di suruh untuk menggali lobang agar mayat teman -teman nya itu dapat di kebumikan.
Sampai saat matahari menggatalkan kulit barulah selesai penguburan itu.
Selain itu Ki Bekel meminta para warga nya agar dapat memberi makan kepada mereka yg masih hidup itu.
Awalnya mereka menolak tetapi setelah di jelaskan oleh Ki Bekel barulah mereka mau terima.
Raka Senggani tetap berada di situ hingga malam menjelang, ia meminta kepada para warga untuk turut berjaga, supaya keadaan di pedukuhan itu tetap aman.
Malam itu tidak terjadi apa -apa, para perampok yg sebahagian besar di letakkan di banjar pedukuhan.
Barulah keesokan harinya, Waradana datang kembali dengan di kawal oleh para prajurit Demak.
Raka Senggani melihat yg datang itu adalah Lintang Sandika, kakak angkat nya sangat bergembira, ia langsung memelukanya.
" Apa kabar kakang Sandika, mengapa Kakang yg datang ,?" tanya Raka Senggani.
" Romo yg menyuruh kakang untuk datang setelah tahu bahwa pesan itu berasal dari mu adi Senggani, ia sangat terkejut mendengar hal ini, karena baru saja adi pulang mengapa telah datang berita ini sehingga Kakang lah yg di suruh datang agar dapat memastikan nya," jawab Lintang Sandika.
" Cepat juga kakang sampai nya" kata Raka Senggani lagi.
" Kami terus berangkat setelah menerima berita ini," jawab Lintang Sandika.
Keduanya naik keatas pendopo rumah Ki Bekel itu. Mereka di sambut oleh Ki Bekel sendiri bersama beberapa orang.
Tidak terlalu lama Lintang Sandika berada di pedukuhan itu, ia langsung menggiring para perampok itu untuk di bawa ke Kotaraja Demak.
Setelah kepergian kakak angkatnya itu , Raka Senggani pun berniat melanjutkan perjalanan nya lagi. Ia telah tertahan di pedukuhan itu hampir tiga hari.
" Mudah -mudahan Adi Senggani dan selamat jalan, jika ada waktu datanglah kemari," seru Ki Bekel.
" Mudah -mudahan Ki Bekel, karena pedukuhan ini adalah lintasan menuju ke Kotaraja Demak , mungkin lain kali Senggani akan singgah lagi," jawab Raka Senggani.
Kemudian Sang Senopati itu melompat naik ke atas punggung kudanya , ia menarik kekang kudanya dan menjalankan Si Jangu dengan perlahan keluar halaman rumah Ki Bekel itu.
Ia menuju ke selatan tepatnya ke desa Kenanga.
" Heaaahh,"
Teriak nya memacu Si Jangu dengan cepat setelah keluar dari pedukuhan itu.
Dan kali ini ia memang berusaha cepat sampai ke desa Kenanga.
Sesampainya di pertigaan, Senopati Pajang itu berhenti sejenak. Ia berpikir untuk lewat dari jalan yg mana.
Kalau lurus aku akan lewat Kedawung dan kalau lewat dari jalan kanan aku akan melewati babadan, katanya dalam hati.
Akhirnya ia memutuskan untuk melewati jalan yg lurus itu. Seharian penuh ia memacu kudanya dan saat malam tiba sampai lah ia di Kademangan Kedawung yg berbatas langsung dengan desa Kenanga.
Dilihatnya di Kademangan itu telah ramai orang yg bergerombol di tepi jalan padahal malam baru saja tiba.
Penasaran Raka Senggani turun dari kudanya dan bertsnya.
" Ada apa ini Kisanak mengapa tempat ini ramai sekali lain dari biasa nya,?" tanyanya.
" Apakah kisanak bukan orang sini,?" balas orang itu.
" Iya , saya bukan orang sini , dan hanya menumpang lewat, saya berasal dari Kenanga," jawab Raka Senggani.
" Dari Kenanga,!!!? tanya orang itu agak terkejut.
" Iya dari Kenanga, memang nya ada masalah dengan desa Kenanga, bukankah Kedawung dan Kenanga bertetangga,?" tanya Raka Senggani lagi.
__ADS_1
Senopati Pajang itu agak menyesal menyebut nya dari Kenanga, walaupun ia tahu tidak pernah terjadi Silang sengketa diantara keduanya.
" Tidak, tidak ada masalah dengan desa Kenanga, malah kami penduduk Kademangan Kedawung ini mengucapkan terima kasih yg sebesar -besar terhadap penduduk desa Kenanga terutama nya dengan Ki Bekel dan Jagabaya nya,!" seru orang itu.
" Memang nya apa yg telah di perbuat oleh Ki Bekel dan Ki Jagabaya itu, kisanak,?" tanya Raka Senggani penasaran.
" Ki Bekel dan Ki Jagabaya telah mengirimkan putra dan putrinya guna menyelamatkan putri Ki Demang Kedawung dari seorang yg berhasil menculik nya," jelas orang itu.
" Putra dan putri Ki Bekel dan Ki Jagabaya,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Iya, mereka berempat dan saat ini masih berada di rumah Ki Demang, karena baru siang tadi sampai disini dari Gunung Pandan," jawab nya lagi.
" Masih di rumah Ki Demang, kalau begitu saya mohon pamit kisanak, karena akan menemui mereka," ujar Raka Senggani.
" Silahkan, silahkan," balas orang itu.
Raka Senggani kembali menaiki kuda nya, dengan perlahan ia menjalankan kudanya menuju rumah Ki Demang Kedawung.
Tidak terlalu lama sampai lah ia di rumah Demang Kedawung itu.
Dari banjar sampai rumah Ki Demang terlihat banyak orang yg telah berada di sana. Terpaksa Senopati Pajang itu turun dari kudanya dan menuntun Si Jangu, karena jalanan telah ramai orang -orang yg ingin melihat Putri Ki Demang Kedawung yg hilang beberapa hari.
Raka Senggani kemudian menambatkan kudanya, ia pun menuju rumah Demang Kedawung itu.
Disana terlihat sesak dengan orang -orang, layaknya sedang menonton pertunjukan tayuban.
Diatas pendopo terlihat beberapa orang, dan disitu ada Jati Andara, Japra Witangsa, Dewi Dwarani dan Sari Kemuning. Ke empatnya duduk berdekatan , baru di sebelahnya ada seorang perempuan muda.
Mungkin itulah Putri Ki Demang Kedawung yg hilang itu, kata Raka Senggani dalam hati.
Ia tidak dapat mendekati tempat itu karena telah penuh dengan warga Kademangan Kedawung.
Seorang laki -laki paruh baya, segera angkat bicara,
" Kami atas nama pemimpin Kademangan Kedawung mengucapkan ribuan terima kasih atas bantuan angger semuanya, kalau tidak ada Angger berempat, entah apalah jadinya Putri kami Savitri ini," kata Ki Demang Kedawung.
" Buat kami warga Kademangan Kedawung ini merupakan suatu contoh yg patut di tiru, karena dengan kemampuan yg di miliki kita dapat menolong dan membantu orang lain yg lagi kesusahan, seperti yg terjadi pada kami padaw saat ini, jika memang tidak karena bantuan kalian, kami tidak tahu akan nasib putri kami ini, bukan begitu Ki Jagabaya,!?" kata Ki Demang lagi.
Ki Jagabaya mengangguk -anggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Demang Kedawung itu.
" Disini kami tidak dapat membalasnya dengan sesuatu yg berharga hanya ucapan terima kasih dan juga semoga yg Maha kuasa akan membalas budi baik Angger berempat ini," Ki Demang Kedawung berkata.
Setelah itu terdengar lah Jati Andara yg menjawab perkataan Ki Demang Kedawung itu, Putra Ki Bekel desa Kenanga itu mengatakan,
" Sungguh kami ikhlas membantu Ki Demang Kedawung guna menemukan adi Savitri ini, karena kami sudah bertekad untuk menemukan nya apapun itu rintangan nya, memang kami amat kesulitan untuk membebaskan Adi Savitri ini dari tangan Ki Jarong yg mengaku sebagai ayah kandung dari Adi Savitri, namun karena niat kami tulus akhirnya yg Maha kuasa memberikan jalannya, dan adi Savitri dapat berkumpul lagi disini, di Kademangan Kedawung ini, dan untuk Ki Demang jangan terlalu ewuh pakewuh, atau merasa sungkan, ini adalah tugas kita semua yaitu saling tolong menolong, bantu membantu, agar daerah kita ini aman dari segala ancaman gangguan kejahatan," terang Jati Andara.
Putra Ki Bekel itu memang ditunjuk untuk sebagai pembicara diantara ke empat orang itu. Selain ia cukup pandai berkata -kata ia pun tidak mudah untuk marah. Tindakan nya selalu di perhitungkan.
" Sebenarnya kami disini mewakili dari kedua orangtua kami dan seorang guru kami, yaitu Adi Raka Senggani, yg sebenarnya Ki Demang inginkan bantuan nya berhubung beliau sedang di Kotaraja Demak, kami lah yg mewakili nya," jelas Jati Andara lagi.
Raka Senggani terkejut mendengar nya, ia di sebut oleh putra Ki Bekel itu sebagai gurunya, dan sebenarnya ia lah yg akan di mintai bantuan oleh Demang Kedawung itu.
Memang jika kita mengajarkan sesuatu kebaikan kepadaw seorang murid dan murid itu dapat melakukan dengan baik, sang guru akan mendapatkan kebaikan itu pula, kata Raka Senggani dalam hati.
Kemudian terdengar lagi suara Demang Kedawung itu,
" Kami berharap angger berempat tidak langsung pulang, kami masih ingin mendengar cerita yg telah terjadi di Gunung Pandan itu," kata Ki Demang Kedawung.
" Kami memang tidak akan pulang malam ini ke Kenanga, mungkin besok pagi -pagi sekali baru kami akan kembali, untuk menjawab permintaan Ki Demang biarlah saudara ku ini yg akan mneceritakan nya," ucap Jati Andara.
Sambil putra Ki Bekel itu menunjuk ke arah Japra Witangsa.
Namun sebelum Putra Ki Jagabaya itu bercerita , salah seorang penduduk Kademangan Kedawung itu masuk dan membisikkan sesuatu kepada Ki Demang.
Kemudian Ki Demang Kedawung itu memandangi orang -orang yg berada di tempat itu, ia seperti mencari sesuatu.
" Ada apa Ki Demang,?" tanya Japra Witangsa heran.
" Menurut Salah seorang warga Kedawung, tadi ada seseorang yg mengaku sebagai orang Kenanga dan telah lewat dari sini dan menurut nya orang itu masih disini," ungkap Ki Demang.
" Haahhh, siapa,!!??? seru ke empat orang Kenanga itu bersamaan.
Keempat nya langsung melihat ke arah kerumunan orang banyak itu bahkan mereka meminta izin kepada Ki Demang untuk turun ke halaman rumah Ki Demang itu.
__ADS_1
Akhirnya mereka menemukan sosok yg mereka cari itu, ke empatnya langsung berseru,
" Guruuuu,!!!?.