Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
Episode 17 Sultan Demak II. bagian ke empat.


__ADS_3

" Hehh,.. kalian berdua,..darimana aaal kalian,..apakah kalian adalah Senopati Demak,..?" tanya orang itu.


Pertanyaan yg sengaja di ajukan kepada Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa.


" Jika memang iya kau mau apa,..jika memang tidak apa urusan nya denganmu,..!" sahut Raden Abdullah Wangsa.


Putra Pangeran Sabrang Lor itu sangat geram melihat tingkah pemimpin rampok itu. Yang seolah dirinya saja memiliki kemampuan yg sangat tinggi.


" Jika memang kalian berdua adalah Senopati dari Demak,..tentu kalian akan sangat rugi sekali telah bertemu denganku,..akan tetapi jika tidak sebaiknya kalian menyerah dan menjadi pengikutku,.karena tidak ada untungnya ketika harus berhadapan denganku,.he,.he,.he,..!" orang itu.berkata sambil tertawa.


" Heh,.dengar baik -baik orang tua,..kami berdua memang adalah Senopati dari Demak yg sengaja diutus untuk menangkapmu,..jadi saat ini dirimulah yg akan rugi setelah bertemu kami berdua,..kali ini segala sepak terjang mu akan berakhir disini,..di tangan kami,.." sahut Raden Abdullah lagi.


Sambil menatap tajam ke arah putra Pangeran Sabrang Lor itu,..orang tersebut berkata,..


" Kaulah yg akan segera menyesal setelah bertemu denganku Bocah,..aku Sabak Jungkat tidak akan memberi ampun atas sikapmu yg telah sangat lancang itu kepadaku,..jadi bersiaplah,.bocah,..karena aku akan segera mulai,.." seru orang yg bernama Sabak Jungkat itu.


" Kami telah bersiap sejak dirimu lahir,.kisanak,.. karena kamilah yg ditakdirkan sebagai mimpi buruk mu,.karena kami tidak akan membiarkan dirimu semakin merajalela membuat keonaran disini,.di wilayah Demak ini,.." ungkap Raden Abdullah Wangsa.


Raka Senggani yg sedari tadi diam saja segera berbisik kepada putra Pangeran Sabrang Lor itu.


" Adi,..jika ia akan menyerang biar kakang Senggani saja yg akan menghadapinya,.." bisik Senopati Pajang itu.


" Aku sebenarnya ingin menjajal kemampuan orang ini kakang,..akan tetapi baiklah,..kali ini aku akan mengalah dengan kakang Senggani,.." jawab Raden Abdullah Wangsa dengan berbisik pula.


Sementara itu,..orang yg bernama Sabak Jungkat itu telah sangat marah,..baru kali ini ia sangat di remehkan oleh musuhnya,..yg menurutnya masih bau kencur itu karena memang usia dari Raden Abdullah itu masih sangat remaja.


" Bedebah,..kalian tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa,.aku Sabak Jungkat akan merasa malu seumur hidup jika tidak akan mampu mematahkan batang leher kalian berdua itu,..camkanlah bocah ,..ucapan ku ini,.." teriak Sabak Jungkat.


" He,..jangan kan dirimu mampu mematahkan batang leher kami,.. tubuh kami ini pun tidak akan sudi jika harus bersentuhan dengan mu,..Sabak Jungkat,.." seru Raden Abdullah.


" *******,..terima ini,.. Heaaahhh,."


" Dhumbbh,.."


Orang tua yg bernama Ki Sabak Jungkat itu melepaskan pukulan jarak jauhnya dengan di lambari ajian Gelap Ngampar tersebut.


Semua orang memandang ke arah kedua pemuda itu,..mereka meyakini keduanya pasti akan tewas oleh ilmu yg sangat ngegrisi itu.


" Ha,..ha,..ha,..mampus,..kalian berdua,..baru tahu kalian telah berhadapan dengan siapa,..Aku Sabak Jungkat..si penguasa Alas Siroban,.." terdengar suara tertawa orang itu


Ia terlihat sangat senang karena dilihatnya kedua nya tidak berusaha menghindari serangan nya itu.


Namun ketika kepulan asap dan debu debu yg berterbangan itu memudar,..mereka sudah tidak lagi melihat keduanya.


Ternyata keduanya telah berpindah tempat dan kali ini mereka telah berada di belakang Ki Sabak Jungkat tersebut.


" Hehhh,..Ki Sabak Jungkat,..kami ada disini,.." teriak Raka Senggani dari belakang.


Orang yg bernama Sabak Jungkat itu sangat terkejut,..matanya beberapa kali di kuceknya,..ia sungguh tidak mempercayai apa yg telah terjadi.


Karena ia tidak dapat meyakini dengan apa yg telah terjadi,.ia merasa tidak ada orang yg mampu bergerak secepat itu.


Bahkan ia melihat kedua nya tidak menghindari serangan nya itu.


Sungguh kemampuan yg luar biasa,..mungkin hanya ada beberapa orang saja yg memilki kecepatan seperti kedua bocah ini,..aku mesti berhati-hati menghadapinya,..katanya dalam hati.


" Hehh,..bocah jangan senang dulu,. karena kalian mampu menghindari serangan ku tadi ,.. sekarang terima ini,..heaaahhh,.." teriak Ki Sabak Jungkat.


Ia melepaskan ajian nya kembali.


Akan tetapi kali ini,..Raka Senggani pun siap untuk membalas serangan tersebut dengan ajian Wajra geni miliknya itu.


" Hiyyahhh,.." teriaknya


" Dhumbhh,.."


" Bleghuaaarrrr,.."


Akibat benturan kedua ajian itu membuat suara ledakan yg cukup memekak kan telinga.


Sang Senopati Pajang itu masih tegak berdiri dengan kokoh di tempat nya. Dengan posisi telapak tangan nya masih membuka.


Sementara Ki Sabak Jungkat,..terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia sudah dapat meraba bahwa tenaga dalam nya masih jauh di bawah lawannya yg masih muda itu.


Raka Senggani sendiri pun merasa bahwa kemampuan lawannya itu pun tidak bisa dipandang remeh. Terbukti ia masih mampu menahan ajian nya itu.


" Kakang,..sebaiknya aku saja yg menyelesaikan orang ini,.." ujar Raden Abdullah Wangsa.


" Tenang adi Wangsa,..biar Kakang Senggani saja yg menjajal kemampuan orang ini,..adi wangsa harus menjaga para rampok yg lain itu,.." jawab Raka Senggani.


Putra Pangeran Sabrang Lor itu diam tidak menjawab perkataan dari Raka Senggani itu.


Ki Sabak Jungkat sendiri telah bersiap lagi untuk menyerang lagi,..dan kali ini tampaknya ia akan menggunakan senjata nya.


" Baiklah bocah..mungkin sebaiknya kita menuntaskan pertarungan ini,..siapa orang yg mampu keluar sebagai pemenang nya,.kau harus ku bunuh dengan pedangku ini,.." teriak Ki Sabak Jungkat.


Namun tampaknya pedang yg ada di tangan pemimpin begal itu bukan sekedar pedang biasa,..ketika ia mencabut senjatanya itu dari dalam sarungnya,..terlihat pedang itu mengeluarkan pamor yg berwarna kemerah -merahan.


Dan sebelum menyerang Ki Sabak Jungkat sepertinya tengah merapal manteranya,.mulutnya komat-kamit membaca mantera

__ADS_1


Pamor pedang yg ada di tangan kanannya itu semakin menyala sehingga mampu menerangi tempat itu.


" Heaaahhh,..****** kau ," teriak Ki Sabak Jungkat.


Dengan cepatnya ia melesat menyerang Raka Senggani yg masih berdiri tegak itu.


Aku lebih baik menggunakan tongkat Ki Suganpara ini untuk melawannya,.. sepertinya pedang itu bukan senjata sembarangan aku tidak dapat bermain -main lagi,..kata Raka Senggani dalam hati.


Sungguh cepat serangan itu hingga ,..


" Trannnngkkk,"


Suara benturan yg tidak dapat di elakkan lagi,.. karena Senopati Pajang itu segera mengadu senjata pedang Ki Sabak Jungkat itu dengan tongkat yg ada di genggaman nya.


Kali ini,..Raka Senggani nampak terdorong mundur tiga langkah akibat benturan itu.


Gila,..ternyata pedang itu memang sebuah senjata pusaka,..tenaga dalam orang ini jadi meningkat berlipat -lipat,..kata Raka Senggani lagi dalam hati.


Tetapi ia tidak dapat lagi berpikir terlalu lama,.. serangan kembali datang dari lawannya itu.


" Heaaahh,.."


" Whuuut,.."


Sambaran pedang dari Ki Sabak Jungkat yg menerpa tempat kosong,..Raka Senggani melompat tinggi dengan mengerahkan tenaga dalam nya menghindari serangan itu.


" Hiyyahhh,.."


Dari atas,..sambil melayang turun,.. Senopati Pajang itu menjulurkan tongkat Ki Suganpara itu,. tongkat yg berkepala ular itu meliuk mengarah kepala Ki Sabak Jungkat.


Pemimpin gerombolan rampok itu segera memapasi serangan dari lawannya itu,..tetapi Raka Senggani yg tahu kemampuan dari senjata lawnanya itu segera menarik pulang tongkatnya,..ia malah menyusup kan pukulan kepalan tangan kirinya menuju dada dari Ki Sabak Jungkat.


Kali ini pemimpin rampok itu tidak mau begitu saja dadanya di pukul nya Raka Senggani.


Dengan gerak reflek ia memiringkan tubuhnya,..sehingga tubuh nya tidak terkena pukulan dari Raka Senggani.


Bahkan sesudah dirinya lolos dari serangan Senopati Pajang itu,..Ki Sabak Jungkat melepaskan tendangan ke arah perut Raka Senggani.


Namun Senopati Pajang itu segera memukulkan tongkat Ki Suganpara itu kearah kaki Ki Sabak Jungkat.


" Trakkk,.."


Ki Sabak Jungkat tidak menyangka bahwa sambil berusaha menghindari serangan nya itu,..ternyata lawannya mampu memukulkan senjatanya dengan tepat mengenai lutut nya itu.


Ki Sabak Jungkat merasakan sakit yg membuatnya mengurungkan serangan lanjutan,.. sebenarnya ia ingin melanjutkan serangan itu dengan menggunakn pedangnya,.. tetapi diurungkan ,.ia malah melompat menjauh.


Dengan pedang yg masih teracung di tangan nya,.. nampak nya pemimpin rampok itu sedang berpikir bagaimana cara mengatasi lawannya yg masih sangat muda itu.


Tampaknya diriku harus mengeluarkan seluruh kemampuan ku,..kata Ki Sabak Jungkat lagi didalam hati.


Tangan kirinya merogoh dari balik bajunya itu.


" Heaaahhh,.."


Teriak Ki Sabak Jungkat,..ia kembali menyerang dengan pedangnya mengarah leher dari Raka Senggani.


Pedang yg berpamor kemerahan itu segera menebas ,..


" Whuuuuusshh,"


Serangan itu meleset,..karena Raka Senggani kembali dapat menghindari nya dengan melompat menjauh dari jarak jangkau serangan lawan.


Melihat hal itu,..Ki Sabak Jungkat tidak menyia -nyiakan kesempatan,..seperti yg telah di rencanakannya,..


" Hiyyahhh,.."


" Sheiit,"


" Shiiiet,"


" Sweiiit,."


Tiga senjata rahasia yg berupa paser -paser kecil segera memburu Raka Senggani.


Memang Senopati Pajang itu tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapati serangan gelap itu.


Ia tidak mampu mengjindarinya,..ketiga senjata rahasia itu segera menemui sasarannya.


Nampak senyum tersungging di bibir dari Ki Sabak Jungkat itu,..karena ia yakin dengan senjata rahasia nya itu ia dapat memenangkan pertarungan.


Tetapi apa yg di harapakan dari Raka pemimpin rampok alas Siroban itu meleset.


Dengan mata kepalanya,..ia dapat melihat senjata rahasia nya itu tidak dapat menembus tubuh dari sang lawan,..semua terjatuh ke atas tanah.


" Hiyyahhh,.."


Raka Senggani yg sangat kesal dengan bokongan itu segera melesat kembali menyerang lawannya tanpa harus menjejakkan kakinya diatas tanah.


Memang kemampuan ilmu peringan tubuh dari Senopati Pajang itu hampir mendekati sempurna.

__ADS_1


Gerakan nya yg sangat ringan namun cepat segera berbalik menyerang Ki Sabak Jungkat yg masih berdiri mematung tidak menyangka atas apa yg telah terjadi.


Sehingga serangan dari Raka Senggani itu mendarat telak pada dada nya tanpa dapat menghindarinya.. Tubuhnya sampai terlempar beberapa tombak ke belakang,..ia terjatuh,.dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit.


" Hooeeekkhh,"


Ki Sabak Jungkat memuntahkan darah segar dari mulutnya. Pedangnya yg sempat terlempar itu segera diraihnya kembali.


" ******,.. Aku akan mengadu jiwa denganmu,..bocah,.." seru Ki Sabak Jungkat.


Sambil berusaha mengatur jalan nafasnya,..Ki Sabak Jungkat,..duduk dengan tangan kirinya bersedekap di depan dadanya dan tangan kanan nya tetap memegang pedang nya itu,..perlahan namun pasti terlihat pedang itu semakin bersinar terang,.di tempat disitu menjadi terang terkena pengaruh sinar dari pamor pedangnya itu.


Sungguh ilmu orang ini,..sangat tinggi,..sayang dirinya hanya menggunakan nya untuk menyusahkan orang lain,..kata Raka Senggani dalam hati.


Senopati Pajang itu pun tengah mempersiapkan ilmunya pula,..dan ia sebenarnya ingin menggunakan keris Kyai Macan Kecubung.


Tetapi niatnya itu di urungkan,.. Senopati Pajang itu segera mengerahkan Ajian Wajra Geni itu ke arah cincin yg ada di jarinya itu.


Sementara tangan kanannya tetap menggenggam tongkat Ki Suganpara.


" Hiyyyah,.."


" Heaaahhh,.."


Terdengar dua teriakan dari kedua orang itu,.. masing -masing melontarkan ajian nya masing -masing.


" Dhumbhh,.."


" Belethaaarrr,.."


" Bleghuaaarrrr,.."


Suara dentuman yg sangat keras sampai tiga kali membuat kedua orang itu harus terlontar dari tempatnya masing -masing.


Raka Senggani terlontar sampai dua batang tombak ke belakang,..tetapi ia masih dapat mampu berdiri tegak dengan melambari ilmu peringan tubuhnya.


Sedangkan Ki Sabak Jungkat terlempar cukup jauh mungkin lebih dari sepuluh tombak pemimpin rampok itu terlempar.


Bahkan pedang nya pun ikut terlempar jauh dari dirinya.


Namun pamor pedang itu masih menyala.


Ki Sabak Jungkat itu jatuh dalam posisi tertelungkup. Raka Senggani segera melesat mendekati tubuh pemimpin rampok alas Siroban itu.


Tetapi niatnya itu segera di cegah para gerombolan rampok yg lain,..yg telah merasa sehat,..mereka tidak akan membiarkan pemimpin nya itu jatuh ke tangan lawannya.


Tetapi Raden Abdullah Wangsa pun segera bergerak cepat,..seperti yg telah di katakan oleh Raka Senggani kepada dirinya.


Putra Pangeran Sabrang Lor itu melepaskan serangan guna melumpuhkan semua penghadang Senopati Pajang itu..


" Hiyyahh,."


" Hiyyahhh."


" Hiyyahhh,.."


Teriak dari Raden Abdullah Wangsa,..dengan sangat cepat ia merobohkan satu persatu kawanan rampok itu.


Dan dengan dibantu oleh Raka Senggani,.sekejap kemudian sudah tidak ada lagi yg menjaga tubuh dari Ki Sabak Jungkat itu.


Dengan mudahnya Senopati Pajang itu mendekati nya,..ia segera membalikkan tubuh itu yg telah menghitam itu,..dan bau gosong seperti bau daging yg terbakar menyengat di tempat itu.


Pakaian orang itu sampai habis terbakar,..Raka Senggani meraba leher nya untuk memastikan apakah orang itu masih hidup atau tidak.


" Bagaimana kakang,.apakah ia masih hidup,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


Raka Senggani menggelengkan kepalanya,..


" Ia sudah tewas ,..adi,.." jawab Raka Senggani.


Kemudian Senopati Pajang itu mendekati tempat dimana pedang dari Ki Sabak Jungkat itu terjatuh.


Ia mengambilnya dan melihat dengan sangat jelas pedang yg memiliki pamor kemerahan itu.


Hehh,.. darimana Ki Sabak Jungkat mendapatkan pedang ini,..sepertinya ini bukan pedang sembarangan ,..kata Raka Senggani dalam hati.


" Sepertinya aku pernah mendengar pedang ini ,..kakang Senggani,.." seru Raden Abdullah Wangsa.


" Dimana,..?" tanya Raka Senggani.


" Sewaktu di keraton Demak,.. Ramanda mengatakan ada sebuah pedang yg memilki pamor kemerahan yg telah hilang dari Keraton Timur,..saat masih zaman Majaphit dahulu,.." jelas Raden Abdullah Wangsa.


" Namun Ramanda tidak mengatakan nama pedang itu,..hanya pamornya saja yg ia katakan,.." kata Raden Abdullah Wangsa lanjut.


" Sebaiknya pedang ini,..adi wangsa saja yg pegang,..siapa tahu saat kembali ke demak ,.. Kanjeng Pangeran dapat menjelaskan nya,.." ucap Raka Senggani.


Sambil menyerahkan pedang itu ke tangan raden Abdullah Wangsa.


Tidak lama kemudian ,.Bekel pedukuhan itu bergegas keluar dan mendatangi kedua orang itu.

__ADS_1


__ADS_2