
Nun jauh dari Kotaraja Demak, tepatnya di kota Cirebon, pasukan Armada laut Demak tengah bersandar di kota pelabuhan ini.
Bahkan diantara para Kapal-Kapal perang itu terdapat pula kapal dan perahu biasa.
Itu adalah Kapal dan perahu milik penduduk kota Melaka yg keluar dari kota nya dan berniat menetap di tanah Jawadwipa ini.
Sementara itu, para pemimpin pasukan Armada laut Demak segera menemui Kanjeng Sunan Gunung Jati di istana nya.
Mereka melaporkan keadaan pasukan Demak yg di kirim ke utara ini.
" Ampunkan kami Kanjeng Sunan, demikian lah keadaan nya, setelah tiga hari kami berperang, Kapal Kanjeng Gusti Sultan akhirnya terkena sebuah hantaman meriam yg cukup besar dan menghancurkan nya serta menenggelamkan nya, hanya sedikit saja yg tersisa dari para prajurit yg ada di Kapal tersebut termasuk Raden Abdullah Wangsa,.." jelas Senopati Bima sakti.
Mendengar hal tersebut, terlihat Kanjeng Gusti Sunan Gunung Jati terdiam dan bersedih dari mulutnya terucap kata Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun, datangnya dari Allah dan kembali nya pun kepada Nya.
" Hehh,..mungkin sudah takdir dari yg Maha kuasa, bahwa anakmas Sultan memang harus mati syahid di Melaka, yg penting sekarang ini kalian harus mampu menjaga putranya yg tinggal satu satunya keturunan yg tersisa,.." ucap Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Seluruh pemimpin pasukan armada laut Demak ini saling berpandangan dengan ucapan dari penguasa kerajaan kacirebonan itu, apa arti dan maksud dari ucapan nya itu.
Setelah melihat mereka nampak kebingungan, akhirnya Kanjeng Sunan Gunung Jati menceritakan apa yg telah terjadi di Kotaraja setelah mendengar gugur nya Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua di Melaka.
Kotaraja Demak menjadi memanas atas Tahta singgasana yg kosong itu, ia telah mendapatkan kabar berita bahwa akibat nya telah ada salah seorang yg berhak atas Tahta Demak itu tewas di bunuh seseorang yg sampai kini belum di ketahui siapa pelaku nya, yg jelas ini akibat dari perebutan kekuasaan atas tahta Kerajaan Demak ini, tutur Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Ia menambahkan bahwa Pangeran Surawiyata lah yg telah menjadi korban , ia tewas sepulang melaksanakan sholat jumat di tepi sebuah kali.
Oleh sebab itu Kanjeng Sunan Gunung Jati menyarankan agar Pangeran Abdullah Wangsa yg satu satunya tersisa dari trah Pangeran Sabrang Lor yg juga sultan Demak kedua ini harus dijaga, jangan sampai beliau balik ke Kotaraja Demak, dikhawatirkan atas keselamatan nyawa nya.
Masih menurut Kanjeng Sunan Gunung Jati, sebaiknya Raden Abdullah Wangsa ini tinggal saja di Cirebon ini atau tempat lain, dan beliau pun harus tetap dijaga oleh seseorang yg berkemampuan agar tidak ada yg mampu untuk membahayakan keselamatan nya.
" Sebaiknya anakmas Fatahillah saja yg membawa kembali pasukan Demak ini kembali, biarlah anakmas Senopati Bima Sakti yg menjadi pengawal Raden Abdullah disini,.." ungkap Kanjeng Sunan Gunung Jati lagi.
" Hamba Kanjeng Sunan Gunung Jati, Hamba siap melakukan nya,..!" jawab Raden Fadhullah Khan atau raden Fatahillah.
" Bagaimana dengan mu anakmas Senopati ,..?" tanya Kanjeng Sunan Gunung Jati kepada Raka Senggani.
" Hamba siap melakukan titah Kanjeng Sunan, akan hamba jaga Raden Abdullah Wangsa ini dengan segenap jiwa raga hamba,." sahut Raka Senggani.
" Bagus,..jika memang demikian ,kelak saat armada laut ini kembali ke Demak, anakmas Raden Fatahillah lah yg memimpin nya, dan Aku berharap kepada anakmas Senopati Bima Sakti untuk tetap berada disini guna menjaga Raden Abdullah Wangsa hingga keadaan benar -benar aman,.." jelas Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Kemudian para pemimpin pasukan armada laut Demak ini menjelaskan bahwa selain mereka , ada pula warga kota Melaka yg turut serta kembali ke tanah Jawadwipa ini, mereka meninggalkan kampung halaman nya demi menghindari penindasan dan ancaman dari para penjajah asing itu.
Kanjeng Sunan Gunung Jati terkejut mendengar nya, di sebabkan akan menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka untuk menempatkan mereka, jika di kota Cirebon ini tentu saja tidak dapat menampung mereka jika berjumlah sangat besar.
" Memang jumlah mereka cukup besar Kanjeng Sunan,.." ucap Raka Senggani.
" Jika memang demikian , sebaiknya mereka di bawa saja ke Demak,.." jawab Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Dan diambil lah kata sepakat dalam hal ini , bahwa pelarian dari tanah melayu ini akan tetap di bawa ke Kotaraja Demak.
__ADS_1
Akan tetapi ketika hal tersebut di nyatakan oleh Senopati Bima Sakti dan Raden Fatahillah, para penduduk kota Melaka ini menolaknya, mereka mengatakan akan mencari tempat tidak terlalu jauh dari kota Cirebon ini.
Menurut mereka , kelak jika sudah menemukan nya, mereka akan mendirikan perkampungan disana.
Kembali para pemimpin pasukan armada laut Demak ini di buat kebingungan atas sikap para penduduk dari tanah melayu ini, namun mereka semua tidak dapat memutuskan.
Karena memang para warga tanah Melayu ini bukanlah orang -orang tawanan , dan mereka bebas menentukan keinginan mereka.
Ketika hal tersebut mereka sebutkan kepada Kanjeng Sunan Gunung Jati , beliau pun mengatakan hal yg sama, jika memang sudah menjadi keinginan mereka untuk mencari sebuah tempat tinggal yg tidak terlalu jauh dari kota Cirebon ini, itu adalah hak mereka, jika daerah itu memang masuk ke dalam wilayah kasultanan cirebon, ia akan memberikan nya secara cuma cuma sebagai tanah perdikan agar mereka merasa seperti di negeri nya sendiri, dan jika wilayah itu masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Demak, tugas para pemimpin pasukan armada laut Demak ini lah yg memohonkan izin kepada Kanjeng Gusti Sultan Demak yg baru agar dapat memberikan tanah tersebut jadi tanah perdikan bagi para penduduk kota Melaka itu.
Setelah mendapatkan penjelasan demikian dari Kanjeng Sunan Gunung Jati, menjadi tugas Raden Fatahillah lah kelak menjelaskan hal tersebut kepada Sultan Demak yg baru, karena ia lah yg akan membawa kembali pasukan armada Demak itu kembali.
Sedangkan Senopati Bima Sakti akan tinggal untuk sementara di Cirebon ini guna menjaga Raden Abdullah Wangsa.
Sementara itu, Tumenggung Bahu Reksa belum pulih kesehatan nya, tubuhnya masih sulit untuk di gerakkan, ia disarankan untuk tinggal di Kota Cirebon ini agar mendaptakan perawatan lebih lanjut, dan ini pun di setujui oleh pemimpin tertinggi armada laut Demak ini.
Setelah semuanya selesai,.. akhirnya Pasukan Armada laut Demak ini bergerak dari kota Cirebon setelah lebih sepekan berada disana, dan kali ini yg di daulat sebagai Senopati tertinggi nya adalah Raden Fatahillah , sedangkan Senopati Bima Sakti yg sempat menjadi Senopati nya ketika bertolak dari Melaka , kini tinggal di kota Cirebon, ia di minta untuk menjadi pengawal dari Raden Abdullah Wangsa , putra dari Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua ini yg merupakan satu satunya yg tersisa dari Pangeran Sabrang Lor ini.
Sebenarnya Raka Senggani amat berat untuk menerima tugas tersebut akan tetapi karena kedekatan nya dengan sang Pangeran membuat dirinya dengan senang hati menerima nya .
Dan pada saat malam itu di Kota Cirebon, Senopati Bima Sakti ini bertemu dengan dua orang prajurit sandi yg bertugas di wilayah dekat kesultanan kacirebonan ini, mereka adalah Ki lurah Lintang Panjer Rina dan Jati Andara.
Kedua prajurit sandi Demak ini segera melaporkan apa -apa saja yg telah terjadi di Kotaraja Demak ini dan sekitarnya.
Melalui ucapan kedua orang ini di ketahui lah, bahwa Kotaraja Demak saat ini memang dalam keadaan gawat akibat perebutan kekuasaan.
" Senopati Bima Sakti, kami pun merasa bahwa keselamatan nyawa dari Pangeran Abdullah ini pun cukup membahayakan, oleh sebab itulah kami berharap ia tidak tinggal di cirebon ini, lebih baik di tempat lain, di karenakan beliau ini merupakan pewaris tahta Kerajaan Demak pula, jadi ia akan menjadi incaran dari berbagai kalangan yg menginginkan nyawa nya,.." ungkap Ki Lurah Lintang Panjer Rina.
" Memang nya kenapa kalau ia tetap tinggal di Cirebon ini,..Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani.
Kemudian Lurah Lintang Panjer Rina ini menjelaskan bahwa semua mata akan tertuju ke kota Cirebon ini di sebabkan bahwa kota inilah tempat terakhir yg di singgahi oleh pasukan armada laut Demak sebelum kembali, itu artinya jika mereka akan memburu Raden Abdullah , tentu saja kota Cirebon lah yg pertama kali mereka sasar. Dan tentu saja akan merepotkan Senopati Bima Sakti yg bertugas mengawalnya, jelas Ki Lurah Lintang Panjer Rina ini lagi.
Sebagai seorang prajurit sandi yg sudah lama berkecimpung di tugas tugas sandi tentu ia dapat lebih membaca keadaan yg terjadi, bahwa memang nyawa Raden Abdullah Wangsa ini terancam karena ia pun merupakan pewaris yg syah dari tahta Kerajaan Demak ini.
Sedangkan penguasa yg kelak akan menjadi Raja di kerajaan Demak itu tidak menginginkan ada nya orang-orang yg dapat merongrong kekuasaan nya, bahkan masih menurut Ki Lurah Lintang Panjer Rina , kemungkinan nya pun, kesultanan kacirebonan ini akan di pertanyakan kembali kesetiaan nya oleh penguasa Demak yg baru itu.
Disebabkan penguasa kesultanan kacirebonan ini terlalu besar memiliki wilayah dan kekuasaan nya pada daerah daerah yg ada di wilayah kulon ini, Demak kemungkinan nya akan mengurangi kekuatan dan kekuasaan dari kesultanan kacirebonan ini.
Mendengar semua penjelasan dari Ki Lurah Lintang Panjer Rina ini, hati Senopati Bima Sakti menjadi terasa panas, ada niatan di dalam hatinya untuk segera keluar dari keprajuritan Demak tersebut, jika apa yg di sebutkan oleh salah seorang Lurah prajurit sandi Demak itu benar adanya .
" Jika harus pergi dari Cirebon ini, kemanakah sebaiknya kami menuju Ki Lurah,..?" tanya Senopati Bima Sakti.
Agak lama Ki Lurah Lintang Panjer Rina ini terdiam, ia masih mereka-reka tempat yg cocok buat raden Abdullah Wangsa ini guna bersembunyi.
Adalah Jati Andara lah yg mengatakan begitu saja,..
" Bagaimana jika ke Wahanten saja, karena Kanjeng Pangeran Maulana Hasanuddin masih memerlukan tambahan kekuatan guna menaklukan Wahanten secara keseluruhan,..!" ucap Jati Andara.
__ADS_1
" Suatu pemikiran yg baik,..memang Wahanten menjadi tempat yg baik untuk menyembunyikan raden Abdullah dari kejaran orang -orang yg tidak bertanggungjawab,.." sahut Ki Lurah Lintang Panjer Rina.
Kepala Raka Senggani mengangguk-anggukkan kepalanya, ia pun nampaknya setuju mendengar ucapan dari salah seorang teman nya itu.
Karena tidak mungkin selama nya ia menghabiskan waktu untuk menjaga Raden Abdullah Wangsa, jika ia bersama Raden Maulana Hasanuddin tentu disana ia akan dengan mudah menjadi seorang yg mandiri tanpa harus takut jika berhadapan dengan siapa pun juga.
Akhirnya Raka Senggani pun setuju atas usulan dari Jati Andara ini, ia pun ingin segera secepatnya kembali ke Pajang tepatnya ke desa Kenanga.
Senopati Bima Sakti ini sudah sangat rindu setelah keberangkatan nya ke Melaka.
Pada keesokan harinya, Raka Senggani kemudian menghadap Kanjeng Sunan Gunung Jati mmebicarakan mengenai masalah ini, ia mengatakan bahwa ia berniat membawa Raden Abdullah ini ke Wahanten ke tempat Raden Maulana Hasanuddin berada.
" Sangat baik, Aku sangat senang memdengar nya, karena keselamatan dari Angger Abdullah ini memang sangat penting, jika ia berada di Wahanten tentu mereka tidak mengira bahwa beliau berada disana,..tentu Hasanuddin akan senang menerima nya,.." sahut Kanjeng Sunan Gunung Jati.
" Jika Kanjeng Sunan Gunung Jati memang telah memberikan restu , biarlah Raden Abdullah Wangsa secepat hamba bawa ke Wahanten , agar keadaan nya menjadi lebih ,." ungkap Raka Senggani.
" Ya, ya , ya, Aku merrstuinya, bawalah Angger Abdullah ke Wahanten , dan sampaikan pula salam ku pada Hasanuddin,.." ucap Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Kemudian Senopati Bima Sakti ini pamit undur diri, ia mengajak serta pula Raden Abdullah Wangsa bersama nya.
Keduanya pun menyusuri jalanan kota kacirebonan , mereka berdua akan segera menuju Wahanten , keduanya berharap dapat menemui Raden Maulana Hasanuddin disana.
Pada pagi menjelang siang itu, kedua pemuda tersebut berjalan mengarah ke barat. Langkah -langkah kaki mereka berdua terlihat sangat ringan meskipun d hati keduanya merasa tidak puas dengan apa yg tela terjadi di Kotaraja Demak.
Perjalanan keduanya tidak menuju kota Sunda Kelapa, mereka terus saja berjalan lurus ketika menemui sebuah perempatan.
Dan ketika malam turun , keduanya terpaksa menginap di sebuah hutan yg cukup lebat namun masih dalam wilayah kasultanan cirebon.
" Kakang Senopati, apakah kita akan menginap disini,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.
" Sebaiknya memang demikian adhi ,.." sahut Raka Senggani.
" Baiklah jika memang demikian, aku akan segera menyalakan api, kakang carilah hewan buruan,.." kata Raden Abdullah Wangsa lagi.
" Bereesss,.." sahut Raka Senggani.
Senopati Bima Sakti ini pun kemudian segera pergi meninggalkan tempat dimana raden Abdullah Wangsa tengah menyiapakan beberapa ranting dan kayu kayu kering yg akan ia pergunakan menyalakan api.
Sementara itu Raka Senggani yg berusaha keluar dari hutan itu berniat mencari hewan buruan yg ada di daerah padang perdu , karena ia akan kesulitan jika harus masuk ke dalam hutan mencari hewan buruan itu.
" Hufhhh,.."
Dengan sebuah lompatan yg ringan, tubuh Senopati Bima Sakti ini naik ke sebuah pohon yg agak tinggi di daerah padang perdu itu, ia mengawasi keadaan di bawah nya, guna mencari hewan yg akan mereka santap malam ini.
Namun alangkah terkejutnya sang senoapti ketika di lihatnya empat sosok tubuh yg tengah berjalan sangat cepat menuju ke tempat Raden Abdullah Wangsa berada.
Hehmphh, siapa mereka, apakah mereka ini adalah suruhan istana guna menghabisi adhi Raden Abdullah,..berkata dalam hati Raka Senggani.
__ADS_1
Ia melihat dari gerakan keempatnya bukanlah orang -orang kebanyakan , jelas mereka memiliki kemampuan yg cukup tinggi.