Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 7 Kenangan yang suram bagian ke tujuh


__ADS_3

Dengan cepat Raka Senggani bergegas menuju ke Banjar Desa Kenanga.


Sementara di Banjar Desa Kenanga telah hadir para pemuda desa Kenanga, banjar desa itu cukup ramai.


Sesampainya disana ia langsung di sapa oleh Ki Bekel,


" Mengapa angger Senggani terlalu lama, hari pun sudah agak larut, apakah latihan malam ini ditunda saja,Ngger,?" kata Ki Bekel.


" Sebaiknya memang demikian Ki Bekel, karena mungkin malam ini terakhir kalinya Senggani disini untuk memberikan arahan,. jadi biarlah malam ini kita habiskan hanya untuk sekedar mengobrol saja, dan kembali Senggani tegaskan bahwa untuk siapa saja yg ingin melanjutkan pelatihan ini dapat datang ke pajang, mungkin secara bergiliran agar Desa Kenanga ini masih ada pengawal nya tidak kosong sama sekali,!'' jelas Raka Senggani.


Kemudian ia berkumpul dengan para perangkat desa Kenanga itu.


Diantara Ki Bekel, Ki Jagabaya, Ki lamiran dan beberapa orang yg lain Raka Senggani menyebutkan keterlambatan nya adalah ia telah di hadang seorang yg ingin menuntut balas.


" Jadi angger Senggani tadi telah dihadang oleh saudara seperguruan dari Singo Abra itu,?" tanya Ki Jagabaya.


" Benar Ki, beruntung ia tidak memaksakan diri untuk bertarung terus, sehingga masih ada kesempatan untuk datang kemari,!" jawab Raka Senggani.


" Ngger, sudah dapat dimaklumi bahwa para pemuda desa ini harus memiliki ilmu yg lumayan , karena tampak nya tempat ini telah menjadi incaran orang-orang yg berilmu tinggi yg akan menantang Angger Senggani, ia beruntung jika angger berada disini, jika tidak tentu ia akan membuat keonaran disini,!" ucap Ki Bekel.


" Memang demikian Ki, jadi sebenarnya Senggani berharap bahwa para pemuda yg telah berlatih disini dapat meneruskan nya ke Pajang berlatih nya, terutama untuk kakang Andara dan kakang Witangsa, termasuk Dewi Dwarani dan Sari Kemuning, karena mereka berempat sudah lumayan peningkatan ilmunya, jadi Senggani harap mereka tidak berhenti di tengah jalan,!" ungkap Raka Senggani.


" Kami pun berpikir demikian, tetapi jarak dari sini ke Pajang itu cukup jauh, Sementara kuda yg ada di desa ini bisa di hitung dengan jari, itupun kebanyakan milik dari Juragan Tarya,!" jelas Ki Bekel.


" Mungkin kita di desa ini dapat membeli dua ekor kuda dengan cara bersama -sama, warga desa memberikan sumbangan untuk membeli kuda tersebut, dan nanti nya di pergunakan untuk kepentingan umum, terutama untuk belajar ke Pajang, mudah -mudahan nanti di Pajang Kanjeng Adipati Pajang berkenan membantu untuk menambahi beberapa ekor kuda lagi,!" ucap Raka Senggani.


" Jadi angger Senggani akan kembali besok,?" tanya Ki Jagabaya.


" Mungkin lusa Ki Jagabaya, karena menurut Kanjeng Adipati, jika memang ada sesuatu yg mendesak ia akan mengirimkan utusan untuk datang kemari,!" jawab Raka Senggani.


" Apakah angger Senggani akan lama di Pajang,?" tanya Ki Lamiran.


" Mungkin akan lama, Ki, mengingat para prajurit Pajang yg telah kembali dari medan perang di ujung kulon dan banyak prajurit Pajang yg gugur, penerimaan prajurit tentu akan dilakukan di Pajang,!" jelas Raka Senggani.


" Jika akan lama, sebaiknya kita di desa Kenanga memang harus mengupayakan agar banyak kuda disini,!" ucap Ki Bekel.


" Yah, memang seharusnya demikian Ki Bekel, supaya para pemuda dapat belajar kepada angger Senggani di Pajang, dan kita berharap semakin banyak pemuda Kenanga ini memiliki kemampuan setara prajurit tentu akan menambah keamanan disini, sehingga gerombolan seperti Singo Lorok itu tidak akan berani masuk kemari, atau siapa pun itu, tidak akan berani datang kemari," ucap Ki Jagabaya.


" Tetapi walaupun demikian, angger Senggani harus menyempatkan diri untuk datang kemari meski hanya sebentar , karena langkah angger Senggani lebih cepat untuk bergerak,!" ucap Ki Lamiran.


" Baik Ki, nasehat aki Lamiran akan Senggani ingat dan patuhi, memang dalam tugas keprajuritan Pajang cukup banyak, nanti Senggani akan berusaha meluangkan waktu untuk datang kemari,!" jawab Raka Senggani.


Setelah malam merambat semakin jauh, akhirnya Raka Senggani dan Ki Lamiran beranjak dari banjar desa Kenanga itu untuk kembali.


Sesaat telah mendekati rumah Ki Lamiran itu, kedua orang itu melihat ada orang yg sedang mengendap -endap di belakang rumah itu.


" Ngger, sepertinya ada orang yg sedang mengintai rumah kita,!" ucap Ki Lamiran kepada Raka Senggani.

__ADS_1


" Benar Ki, siapakah dia dan apa maksudnya mengintai rumah kita itu,?" tanya Raka Senggani.


Kedua orang itu segera berpencar, dengan maksud akan menangkap orang yg tidak dikenal itu.


Setelah dekat, Raka Senggani langsung menegur orang itu,


" Hehh, apa maksud kisanak dengan mengendap -endap di belakang rumah kami ini,?" tanya nya kepada orang itu.


Orang itu tersentak kaget, karena ia tidak mendengar ada suara langkah kaki yg mendekat, dalam hati orang itu segera paham bahwa orang yg menegurnya itu adalah seseorang yg berilmu tinggi.


Ditegur demikian orang itu tidak menjawab, ia malah menatap Raka Senggani dengan tatapan yg sulit untuk di mengerti.


" Sekali lagi aku tanyakan, apa maksud kisanak berada disini,?" tanya Raka Senggani.


Namun dengan aji Ashka pandulu, Raka Senggani sangat terkejut melihat orang yg ada dihadapan nya itu.


" Bukankah orang ini adalah salah satu teman dari Mpu Phedet pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan yg telah ikut membantu untuk membunuh Romo dan Si Mbok,!" ucap Raka Senggani dalam hati.


" Aku sedang mencari sesorang yg bernama Raka Senggani, menurut banyak orang ia adalah seorang prajurit yg Pilih Tanding,!" jawab orang itu kemudian.


" Untuk apa Kisanak mencari Raka Senggani, apakah dirimu mempunyai keperluan dengannya,?" tanya Raka Senggani.


" Benar aku mempunyai persoalan dengan nya, Aku akan menuntut balas atas kematian guruku, karena ia telah membunuh guruku,!" ucap orang Itu.


" Siapa nama gurumu itu Kisanak, kalau aku boleh tahu,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Maaf aku tidak akan menyebutkan nama guruku itu jika engkau memang bukan Raka Senggani,!" jawab orang itu lagi.


" Tidak apa-apa kisanak jika memang tidak mau menyebutkan nama gurumu itu, tetapi sebagai seorang warga dari Desa Kenanga ini, kisanak sudah selayaknya di tengkap karena sikap dari kisanak ini sangat mencurigakan, jadi sebaiknya kisanak segera dihadapkan kepada Ki Bekel,!" ujar Raka Senggani.


" Jika aku menolak apaka engkau tetap bersikukuh akan menangkap ku,?" tanya orang itu lagi.


" Ya, jika memang kisanak menolak nya sudah sepatutnya kisanak dipaksa dengan jalan kekerasan, agar mau dihadapkan kepada Ki Bekel,!" jelas Raka Senggani.


" Tetapi mungkin belum mengenal diriku, pantang bagi murid dari Gunung Merapi itu untuk dipaksa, apalagi seorang pemuda dusun yg akan menangkapku, suatu penghinaan,!' jawab orang itu agak marah.


" Hemmph, ternyata benar , ia adalah murid dari Mpu Loh Brangsang itu dan guru yg dimaksud nya itu adalah Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan, memang orang inilah yg ikut membantu kedua orang itu untuk menghabisi kedua orang tuaku itu, hari ini adalah hari yg menjadi keberuntungan ku karena telah menemukan orang ketiga yg ikut membunuh Romo dan Simbok,!" kata Raka Senggani dalan hati.


" Baik. jika memang kisanak tidak berkenan untuk dihadapkan kepada Ki Bekel, maaf jika aku akan menangkap kisanak, melawan atau tidak melawan,!" ucap Raka Senggani.


" Terserah dirimu jika memang mampu untuk menangkap ku, !" jawab orsng itu.


" Bersiaplah kisanak, karena aku akan mulai,!" ucap Raka Senggani.


Raka Senggani segera memasang kuda -kuda untuk bertsrung dengan orang itu.


" Sebelumnya ,aku ingin bertanya siapakah nama kisanak, jangan sampai aku menjatuhkan tsngan tidak pada tempat nya,!" jelas Raka Senggani.

__ADS_1


" Namaku adalah Adya Buntala murid dari Mpu Loh Brangsang pemilik padepokan yg ada di Gunung Merapi itu,!" jelas Adya Buntala lagi.


" Bersiaplah kisanak aku akan mulai,!" kata Raka Senggani.


" Aku sudah siap ,!" jawab orang itu.


" Hiyyaaaat,!"


Senopati Pajang itu segera menyerang Adya Buntala dengan cepatnya, pertarungan tidak dapat dihindari lagi.


Raka Senggani membuka serangan dengan mengarahkan tendangan nya berkali -kali kearah kaki dari Adya Buntala itu, terpaksa murid dari Mpu Loh Brangsang itu berlompatan untuk menghindarinya.


Raka Senggani yg merasa sakit hatinya atas kematian dari kedua orangtua nya itu tampak seperti kesetanan dalam menyerang dari lawan nya itu.


Adya Buntala tampak terdesak, ia sangat sulit menghindari serangan Senopati Pajang itu.


" Hahh, kalau begini terus, bisa -bisa aku akan segera dapat dikalahkan oleh orang ini," berkata dalam hati Adya Buntala.


" Aku harus membalas serangan itu dengan serangan pula,!" gumam nya lagi.


Adya Buntala berusaha melepaskan diri dari garis serang Raka Senggani.


Beberapa kali menggunakan lompatan -lompatan panjang sambil sesekali ia bersalto diudara guna menhindari serangan lawan.


Namun Raka Senggani tampak nya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia terus mengurung Adya Buntala dengan serangan,


" Ahhh,!"


Teriak Adya Buntala, akibat dadanya berhasil kena tendangan dari Raka Senggani itu dengan telak.


Sambil memandangi dadanya yg terasa sakit ia berusaha keluar dari kurungan Raka Senggani itu.


Usaha Adya Buntala itu berbuah manis ketika ia melontarkan ajian nya untuk mencegah Raka Senggani yg terus mengurung dirinya dengan serangan dan ketika serangan jarak jauhnya itu berhasil menghentikan serangan dari Raka itu.


Karena Senopati Pajang itu harus menghindari serangan jarak jauh itu.


Namun serangan jarak jauh dari Adya Buntala itu hanya sebentar saja menahan serangan dari Senopati Pajang itu.


Ketika serangan jarak itu, maka Raka Senggani bersiap melayani aoa yg diinginkan dari orang itu.


" Hiyyahh,"


" Heaahhh,"


" Dhummbhh, !"


Bunyi serangan dari kedua orang itu.

__ADS_1


Adya Buntala masih kalah tenaga dari Raka Senggani, ia pun segera terlempsr sampai jauh.


__ADS_2