
Saat matahari telah mulai menggatalkan kulit terlihat dua orang tengah berjalan menuju keraton Pajang, mereka itu adalah Tumenggung Wangsa Rana dan Raka Senggani atau Senopati Brastha Abipraya.
Keduanya nampak berjalan dengan cepat. Setelah sampai di dalam keraton,kedua orang itu pun langsung menghadap Sang Adipati Pajang.
" Ampun kan hamba Kanjeng Gusti Adipati, kami berdua menghadap kepada Gusti Adipati,!" Tumenggung Wangsa Rana.
" Dan demikian pula dengan hamba Kanjeng Gusti Adipati, hamba Senopati Brastha Abipraya menghaturkan sembah kepada Gusti Adipati, dan memohon ampun atas keterlambatan datang kemari, meskipun hamba telah agak lama mendapatkan panggilan untuk kembali kemari, oleh Kanjeng Gusti Adipati,!" ucap Raka Senggani sambil merangkap kan kedua tangan nya.
" Ya, ya, kalian berdua Aku maafkan terutama untukmu Senopati Brastha Abipraya, sebenar nya, Aku ingin mendengar alasan mu mengapa bisa terlambat tiba disini, di Pajang ini,?" tanya Sang Adipati.
" Mohon ampun sebelumnya Kanjeng Gusti Adipati, keterlambatan hamba kiranya disebabkan oleh sesuatu yg diluar dari perkiraan hamba, hamba di cegat oleh Resi Brangah di kaki gunung Lawu , dan hamba berhasil dikalahkan olehnya sehingga mengalami luka yg lumayan parah dan harus di rawat hampir sepekan,!" jelas Raka Senggani.
" Hehh, siapa orang yg bernama Resi Brangah itu dan siapa pula yg telah merawatmu itu , Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Adipati Pajang lagi.
" Resi Brangah adalah seorang Resi yg berasal dari Blambangan dan merupakan guru dari Macan Baleman, ia ingin menuntut balas atas kekalahan murid nya itu, sedangkan yg merawat hamba hingga sembuh adalah Panembahan Lawu atau Panembahan Wira Disasra, Kanjeng Adipati,!" jawab Raka Senggani lagi.
" Guru Macan Baleman , bukankah Macan Baleman itu adalah seorang begal yg sempat menguasai Alas Mentaok,!" kata Adipati Pajang lagi agak kaget mendengar penuturan dari Raka Senggani.
" Benar Kanjeng Adipati, dan dapat dipastikan ilmunya sangat sulit untuk di cari lawannya di tlatah Demak ini," jelas Raka Senggani.
" Namun syukur lah Senopati Brastha Abipraya masih diberi panjang umur dan juga masih diberi kesehatan sehingga akan mampu mengemban tugas yg akan Kuberikan kepadamu, yaitu menjadi utusan ke Kotaraja Demak guna menyampaikan pesanku kepada Kanjeng Sultan Demak,!" terang Sang Adipati Pajang itu.
" Hamba Kanjeng Gusti Adipati, hamba siap untuk melaksanakan segala titah dari Kanjeng Adipati itu,!" jawab Raka Senggani.
" Bagus , segeralah berangkat esok pagi antarkan surat ini kepada Kanjeng Sultan , dan selanjutnya Senopati Brastha Abipraya tunggu titah dari Sultan Fattah itu, jika ia akan mengirimkan surat balasan segeralah kembali kemari, dan jika ia memerlukan tenagamu untuk mengatasinya, ikutlah titahnya itu, jangan sampai mengecewakan Demak terlebih Pajang sendiri, aku berharap masalah ini segera bisa diatasi,!" jelas Adipati Pajang lagi.
" Baiklah Kanjeng Gusti Adipati hamba Senopati Brastha sanggup melaksanakan perintah ini,!" jawab Raka Senggani.
Pemuda itu menerima sepucuk surat dari Adipati Pajang dan segera dimasukkan nya kebalik bajunya.
" Kalau begitu, kami mohon pamit Kanjeng Adipati,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.
" Silahkan, silahkan, dan untukmu Tumenggung Wangsa,tetaplah di Pajang ini," jawab Sang Adipati Pajang.
" Sendika dawuh Kanjeng Adipati,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana lagi.
Keduanya segera keluar dari Istana Keraton Pajang Itu, dengan membawa surat dari Adipati Pajang Itu, maka Raka Senggani segera bersiap untuk berangkat ke kotaraja Demak esok hari.
" Paman Tumenggung, siapakah yg akan menyertaiku ke kotaraja Demak besok,?" tanya Raka Senggani
Sambil terus berjalan meninggalkan keraton Pajang keduanya berbicara.
" Mungkin beberaoa Rangga dan prajurit terpilih yg akan menyertaimu, Ngger, termasuk di dalamnya ada Rangga Wira Dipa dan Rangga Arya Seno,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.
" Apakah mereka telah bersiap berangkat besok pagi,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Sudah , Ngger, mungkin hari ini telah berada di katumenggungan," jawab Tumenggung Wangsa Rana.
" Baiklah kalau begitu Paman, sepertinya persoalan ini memang harus segera di selesaikan, daripada mereka menjadi ancaman di belakang hari," ucap Raka Senggani.
" Benar , Ngger, ucapanmu sangat tepat, tetapi yg menjadi suatu pertanyaan mengapa banyak para empu dan orang -orang yg memilki banyak kelebihan ikut dengan mereka, apakah mereka berpikir akan mampu menggulingkan kekuasaan Demak yg di dukung oleh para wali," jelas Tumenggung Wangsa Rana lagi.
" Itulah yg juga memjadi pertanyaan yg ada di benakku Paman Tumenggung, sedangkan sewaktu Kyai Condong Campur membuat ulah dan berhasil dikalahkan oleh Kyai Sengkelat milik dari Kanjeng Sunan Kalijaga itu, apalagi ini, mereka yg akan membuat nya, " kata Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa Rana itu.
Keduanya kemudian telah tiba di kediaman Tumenggung Wangsa Rana, dan di rumah itu telah hadir para Rangga dan Lurah prajurit yg akan ke kotaraja Demak, diantaranya terdapat Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno.
" Apa kabar kalian semua, apakah sudah bersiap untuk berangkat,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Bukankah kita akan berangkat dua hari lagi menunggu,. Se. .... tetapi beliau sudah berada di sini,!" ucap Rangga Wira Dipa.
" Benar ucapan mu itu, Rangga Wira Dipa, karena Senopati Brastha Abipraya telah ada disini , keberangakatan kalian di percepat, tepatnya besok, oleh sebab itu segeralah kalian semua bersiap, karena tugas kali ini kalian cukup berat, jangan kalian yg harus di lindungi oleh Senopati Brastha Abipraya tetapi kalian lah yg harus menjaganya,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana kepada para prajurit Pajang itu.
__ADS_1
" Siap Kanjeng Tumenggung, kami akan segera bersiap , dan Kanjeng Tumenggung jangan meremehkan kami, karena kalau seorang Senopati adalah orang yg linuwih tentu kami pun akan menjadi ikut juga hebat ," jawab Rangga Aryo Seno.
" Bagus kalau begitu cepatlah kalian bersiap, dan segera kembali kemari, karena esok kalian akan berangkat dari sini,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana lagi.
Akhirnya para Rangga dan Lurah prajurit Pajang itu kembali ke tempatnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Sedangkan Tumenggung Wangsa Rana dan Raka Senggani masuk ke dalam kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana itu.
Waktu begitu cepat berlalu , keesokan paginya dari rumah Tumenggung Wangsa itu keluar lima belas ekor kuda milik dari para prajurit Pajang yg di pimpin oleh Senopati Brastha Abipraya.
Dengan cepatnya kuda -kuda itu berlari menuju arah utara yang akan berangkat menuju kota raja Demak.
" Bagaimana Ki Rangga dimana kita akan beristrahat nanti, apakah kita akan mencari sebuah desa atau kita menginap di hutan saja ,?" tanya Raka Senggani kepada Rangga Wira Dipa.
Sebaiknya kita lebih baik beristrahat di hutan saja , karena kita tidak akan mengganggu para penduduk dan mereka akan heran atas kehadiran kita di tempat mereka itu,!" jelas Rangga Wira Dipa.
" Baiklah kalau begitu, heaah, heaah," teriak Raka Senggani.
Ketika mereka telah tiba di sebuah hutan yg tidak terlalu lebat dan hari pun menjelang malam, seluruh prajurit Pajang itu beristrahat di sana.
Malam itu mereka tidak mengalami ganggan apapun baik dari para begal ataupun binatang-binatang liar .
Besok pagi nya mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju kotaraja Demak. Setelah lewat tengah hari menjelang sore sampailah rombongan itu di kotaraja Demak.
Sesampai nya di kotaraja Demak itu Senopati Brastha Abipraya tampak kebingungan ,harus menuju kemana untuk melaporkan hal itu kepada Sultan Demak.
" Ki Rangga apakah kita langsung menuju keraton Demak , sedangkan saat ini hari pun telah sore,?" tanya Raka Senggani kepada Rangga Wira Dipa.
" Mungkin sebaiknya kita tidak langsung ke keraton, lebih baik kita menuju ke Kepatihan saja , Senopati Brastha Abipraya,!" jawab Rangga Wira Dipa.
" Baik Kalau begitu, kita segera menuju istana kepatihan, mari ," ajak Raka Senggani kepada seluruh prajurit Pajang itu.
Di dalam istana Kepatihan itu kemudian para prajurit Pajang turun dan segeralah menghadap Patih Demak itu.
Sang Patih cukup terkejut atas kedatangan para prajurit Pajang tersebut.
" Ada hal Apakah kiranya hingga Adipati Pajang mengutus kalian untuk datang kemari, apakah ini suatu peristiwa yg cukup genting,?" tanya sang Patih kepada Raka Senggani.
" Mohon ampun sebelumnya Kanjeng Patih , hamba Senopati Brastha Abipraya dari Pajang menghaturkan sembah, hamba juga merupakan prajurit sandi Demak dan ini adalah lencana keprajuritan hamba,!" ucap Raka Senggani ssmbil menyerahkan lencana pemberian dari Tumennggung Bahu Reksa itu
Setelah melihat dengan teliti akhirnya Sang Patih itu berkata lagi,
" Ya , ya , kamu seorang prajurit sandi Demak, jadi apakah yg kalian sampaikan dari Pajang,?" tanya Sang Patih lagi.
" Kami di perintahkan oleh Kanjeng Adipati untuk menyampaikan suratnya kepada Kanjeng Gusti Sultan, namun karena ini sudah menjelang malam maka kami tidak akan menghadap hari ini jadi kami putuskan untuk kemari,!" jelas Senopati Brastha Abipraya itu.
" Kalau boleh tahu masalah apa yg akan disampaikan itu , jika memang cukup gawat malam ini juga kita menghadap Kanjeng Sultan,!" ucap Patih Demak lagi.
" Ini masalah mengenai tentang pengerjaan sebuah Pusaka yg akan di buat oleh seorang yg linuwih dari Pajang tepatnya dari Gunung Merapi dan menurut dari pengamatan beberapa prajurit sandi adalah suatu upaya untuk menegakkan kembali kejayaan masa lalu, yaitu kerajaan Majapahit,!" jelas Senopati Brastha Abipraya.
" Pusaka , sbuah pusaka , pusaka apa itu Senopati Brastha Abipraya, kalau saya boleh tahu ,?" tanya Patih Noto Negoro lagi.
" Sebuah pusaka yg bernama Kyai Condong Campur, Kanjeng Patih,!" jawab Raka Senggani .
" Condong Campur, bukankah itu sebuah pusaka di masa Majapahit yg telah membuat kegaduhan beberapa waktu yg lampau, apa maksud mereka untuk menghidupkan kembali Pusaka itu, apakah mereka memang berniat untuk melawan kekuasaan Demak ini,?" tanya Sang Patih Demak lagi.
" Nampaknya memang itu niat mereka Kanjeng Patih, namun ini masih belum terlalu jelas, mungkin beberapa prajurit sandi Demak yg lain ada yg mengetahui nya,!" jawab Raka Senggani .
" Baiklah kalau begitu, kalian beristrahatlah, besok kita akan menghadap Kanjeng Sultan di istana nya,!" ujar Patih Noto Negoro lagi.
" Sendika Kanjeng Patih,!" jawab Senopati Brastha Abipraya itu.
__ADS_1
Kemudian para prajurit Pajang segera meninggalkan tempat itu dan menuju ke bilik yg telah di sediakan oleh pelayan Kepatihan.
Malam itu Senopati Brastha Abipraya dan para pengiring nya menginap di Istana kepatihan.
Esok harinya mereka segera menghadap Sultan Demak di dalam Keraton.
Di hadapan Sultan Syah Alam Akbar Al Fattah, atau sultan Demak itu.
Senopati Pajang, Senopati Brastha Abipraya dan Rangga Wira Dipa serta Rangga Aryo Seno menjura hormat,
" Ampun kan kami Kanjeng Sultan, hamba Senopati Brastha Abipraya dari Pajang menghaturkan sembah kepada Kanjeng Sinuwun,!" ucap Raka Senggani.
" Ya sembah mu aku terima Senopati Brastha Abipraya, ada hal apakah engkau dstang kemari ,?" tanya Sultan Demak itu.
" Mohon ampun sebelumnya Kanjeng Sinuwun, hamba di titahkan oleh Kanjeng Adipati Pajang untuk menyampaikan surat ini kepada Kanjeng Sinuwun,!" kata Raka Senggani lagi.
Ia beringsut maju dan menyerahkan surat dari Adipati Pajang kepada Sultan Demak.
Sang Sultan menerimanya dan kemudian membacanya. Kemudian menutup nya kembali setelah ia selesai membaca nya.
" Hehh , apa maksud mereka untuk membuat Keris Pusaka Kyai Condong Campur itu, apakah mereka akan memberontak,?" tanya Sang Sultan dengan agak geram.
Seluruh yg ada di dalam ruangan itu terdiam mendengar pertanyaan dari junjungan mereka itu, termasuk Patih Noto Negoro.
Setelah agak lama, kemudian Sultan Demak berkata lagi,
" Prajurit, panggil kemari Tumennggung Wicaksana, aku membutuhkan nya untuk datang menghadap ,!" ujarnya kepada salah seorang prajurit Demak itu.
" Sendika dawuh Kanjeng Sinuwun,!" jawab prajurit itu.
Ia kemudian segera berlalu dari tempat itu.
Sementara Sultan Demak segera bertanya lagi,
" Menurut Patih Noto Negoro, engkau juga merupakan prajurit sandi Demak, Senopati Brastha Abipraya,?" tanyanya kepada Raka Senggani.
" Mohon ampun Kanjeng Sinuwun, memang benar hamba adalah prajurit Sandi Demak, ini lencana keprajuritan hamba,!" kata Raka Senggani menyodorkan lencana nya itu.
Sultan Demak segera menerima nya,
" Siapa yg telah mengangkatmu sebagai seorang prajurit sandi Demak ini, Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Sang Sultan lagi.
" Hamba diangkat oleh Tumennggung Bahu Reksa beberapa waktu yg, Kanjeng Sinuwun," jawab Raka Senggani.
" Ya, memang pemimpin dari prajurit Sandi Demak ini adalah Tumennggung Bahu Reksa, sayang saat ini ia dan putra ku sedang memimpin pasukan untuk membebaskan tanah Malaka dari penjajahan bangsa asing, dan sebagai pengganti nya adalah Tumennggung Wicaksana,!" jelas Sang Sultan lagi.
Dan tidak berapa lama, Tumennggung Wicaksana tiba di hadapan dari Sultan Demak itu.
" Mohon ampun, Kanjeng Sinuwun, hamba Tumennggung Wicaksana menghaturkan sembah, ada gerangan apakah Kanjeng Sinuwun memanggil hamba,?" tanya Tumennggung Wicaksana.
" Engkau ku panggil kemari adalah untuk membicarakan masalah yg telah terjadi di desa Bedander, karena menurut keterangan dari Adipati Pajang Pajang ada upaya dari orang -orang di Merapi yg akan membuat sebuah Pusaka Kyai Condong Campur tetiron dan tempatnya di desa Bedander, apa pendapat mu mengenai hal ini ?" tanyanya kepada Tumennggung Wicaksana.
" Mohon ampun beribu -ribu ampun Kanjeng Sinuwun, maafkanlah atas keterlambatan berita itu kepada Kanjeng Sinuwun karena sebenarnya prajurit sandi Demak telah mengetahui hal ini, tetapi kami masih meminta pertimbangan dari Empu kerajaan yaitu Mpu Supa Mandrangi, karena Pemimpin para Mpu yg akan membuat tetiron Kyai Condong Campur itu adalah masih adik seperguruannya dari Mpu Supa Mandrangi tersebut," jelas Tumennggung Wicaksana.
" Jadi apa pendapat beliau tentang hal itu, apakah ia akan berusaha menghentikan perbuatan dari adik seperguruannya itu,?" tanya Sang Sultan lagi.
" Mohon ampun Kanjeng Sinuwun, beliau tidak mampu memberiakan jawaban yg pasti sehingga kami pun belum berani melaporkan kepada Kanjeng Sinuwun, sekali lagi hamba mohon ampun,!" jelas Tumennggung Wicaksana
" Prajurit , panggil kemari Mpu Supa Mandrangi, suruh ia datang menghadap kemari, aku memerlukan nya ," tukas Sultan Demak kepada prajurit jaga itu.
Kembali prajurit itu keluar ruangan dan menuju ke tempat Mpu Supa Mandrangi, pembuat pusaka kerajaan Demak tersebut.
__ADS_1