Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 27 Wong Agung. bag ke sepuluh.


__ADS_3

Raka Senggani yg telah meninggalkan Gunung Lawu terus saja melanjutkan perjalanan nya tanpa harus singgah di desa Kenanga.


Ia langsung menuju ke Kota Pajang, ada sesuatu yang membuat nya merasa rindu untuk bertemu orang-orang disana termasuk dengan Adipati Pajang sendiri.


Tidak sampai dua hari, karena ia berlarian dengan menggunakan ilmu lari cepat nya.


Sembari ia kembali melatih kembali ilmu lari cepatnya, Senopati Bima Sakti ini dengan cepat tiba di kota kadipaten Pajang ini.


Ia langsung menuju ke Kediaman Tumenggung Wangsa Rana,.dan saat itu masih tengah hari, Matahari tepat di atas kepala.


Beberapa orang prajurit yang menjadi pengawal di sana jadi terkejut dengan kehadiran Senopati Brastha Abipraya .


Mereka buru buru melaporkan hal tersebut kepada Tumenggung Wangsa Rana yg baru saja kembali dari keraton Pajang.


Tumenggung Wangsa Rana langsung menyambut kehadiran Senopati Brastha Abipraya dengan mengajak masuk ke dalam.


" Dimana kudamu,.angger Senopati,. ?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Senggani tidak membawa kuda,.dan sekedar singgah di Pajang ini paman Tumenggung,.!" jawab Raka Senggani.


" Jadi dari kenanga hanya berjalan saja,..Ngger,.?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.


Dan Raka Senggani pun menganggukkan kepalanya. Dalam rumah Tumenggung Wangsa Rana ini memang telah tersedia makanan dan minuman yg sengaja di persiapkan untuk dirinya.


" Mari, Ngger,..kita makan bersama.bibimu telah menyediakan nya cukup banyak mungkin ia memang telah ngrasani bahwa dirimu akan datang, " ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Terima kasih Paman Tumenggung,.!" sahut Raka Senggani .


Keduanya pun langsung makan bersama pada siang hari itu.


Baru setelah nya ,..keduanya bercerita mengenai pengalaman mereka masing -masing.


Tumenggung Wangsa Rana bertanya mengenai keadaan Pasukan kerajaan Demak ketika menyerang Kota Melaka pada waktu itu.


Oleh Raka Senggani dijawab nya dengan terang dan jelas, ia menceritakan kenapa pasukan itu sampaj harus menelan kekalahan pada penyerangan hari ketiga itu.


" Mungkin karena maha kuasa memang telah menakdirkan demikian,.Paman Tumenggung,..!" ucap Raka Senggani.


Dan Tumenggung Wangsa Rana pun mendengarnya menjadi sangat terharu. Selanjutnya orang kepercayaan dari Adipati Pajang ini menanyakan kesediaan dari Senopati Brastha Abipraya ini untuk kembali lagi ke Pajang.


" Memang diriku akan kembali ke Pajang ini, Paman Tumenggung,..ada kerinduan yang tidak dapat ku lupakan saat berada disini ,..!" ungkap Raka Senggani.


Tumenggung Wangsa Rana pun berkata yg sama pula , bahkan ia menyebutkan kepada Raka Senggani ini untuk segera menemui Kanjeng Gusti Adipati Pajang. Ia beberapa kali menanyakan dirinya.


" Paman Tumenggung,..mungkin sekembali dari rawa pening,. Senggani akan kembali kemari untuk menemui Kanjeng Gusti Adipati,..!" ucap Raka Senggani lagi.


" Angger Senopati akan ke Rawa Pening,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana heran dan sangat kaget sekali.


" Benar paman Tumenggung,.apakah ada yg salah akan hal tersebut,..?" tanya Raka Senggani balik.


Sambil menggelengkan kepalanya, Pejabat teras Kadipaten Pajang ini menyahutinya.


" Tidak ada yg aneh,. Ngger, hanya saja kami pun telah mengirimkan beberapa prajurit sandi Pajang untuk mengetahui keadaan disana..!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.


Secara gamblang kemudian Tumenggung Wangsa menceritakan apa yang telah menjadi desas desus di seantero negeri Demak ini.


Akan adanya dua pusaka Demak yg menjadi piyandel kerajaan ini dan tengah berada disana.


Hahh, ternyata hilangnya kedua pusaka ini telah menyebar ke seluruh tanah Demak ini.akan semakin sulit untuk mendapatkan hasil yang baik,. karena tentunya akan banyak orang yang berada disana. berkata dalam hati Senopati Brastha Abipraya ini.


Ia nampak termenung.


" Ada apa Ngger,..apakah ada yg salah dari ucapan paman tadi,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


Ia merasa atas ucapan nya ini, Senopati Brastha Abipraya menjadi tersinggung jadinya.


" Tidak Paman, tidak ada yg salah dari ucapan Paman tadi, hanya saja, Senggani merasa tugas kali ini tentu akan sangat berat sekali,. ahh mudah mudahan tidak akan terjadi sesuatu yang akan merugikan bagiku,..!" sahut Raka Senggani.


Tumenggung Wangsa Rana mengatakan kepada Senopati Brastha Abipraya ini untuk lebih berhati hati dalam bertindak.


" Begawan Kakung Turah itu sangat sulit di tebak kelakuan nya, ia tidak akan takut mengahadapi siapa pun termasuk Kanjeng Sunan Kalijaga sendiri,..saran Paman , berhati hatilah,..!" terang Tumenggung Wangsa Rana.

__ADS_1


" Baik paman, Senggani akan mendengarkan nasehat Paman ini,.!" sahut Raka Senggani.


Pada malam itu ia beristirahat di Rumah Tumenggung Wangsa Rana ini.


Baru pada keesokan hari nya ia melanjutkan perjalanan nya menuju Pengging.


" Ngger ,.apakah dirimu tidak akan menghadap Kanjeng Gusti Adipati,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


Saat itu hari masih pagi sekali, kicau burung di atas pepohonan masih terdengar sangat ramai.


" Tidak paman Tumenggung,.. Senggani akan singgah ke Pengging terlebih dahulu baru setelahnya ke Bukit Tuntang,..!" jawab Raka Senggani.


" Baiklah jika memang demikian, akan tetapi Kanjeng Gusti Adipati sangat ingin bertemu dengan Angger Senopati, entah sudah berapa kali ia menanyakan dirimu,.Ngger,..!" kata Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Jika keadaan sudah selesai dan diriku dalam keadaan bebas tanpa ikatan apa pun, tentu diriku akan segera mengahadap Kanjeng Gusti Adipati,..Paman,!' tutur Raka Senggani.


" Paman tidak dapat menahanmu, hanya doa saja lah yg akan menyertaimu Ngger, itulah yang dapat Paman mu ini lakukan, semoga kita bertemu dalam keadaan baik,.!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Kalau begitu Senggani pamit Paman , agar nanti tidak terlalu kemalaman di jalan,..!" ucap Raka Senggani.


Ia pun segera keluar meninggalkan Tumenggung Wangsa Rana yg berdiri terpaku menatap kepergian nya.


Hahh,.bukit Tuntang saat ini telah banyak di hadiri tokoh tokoh sakti, semoga, Angger Senopati akan selamat tanpa kurang suatu apa, berkata dalam hati Tumenggung Wangsa Rana ini.


Sementara itu Raka Senggani telah jauh meninggalkan kota Pajang, ia ber jalan menuju arah barat.


Senopati Brastha Abipraya ini ingin melihat keadaan Pengging, yg di sebut sebut akan segera melahirkan seorang Raja, akan tetapi untuk saat ini belum di ketahui siapakah gerangan nya.


Dengan berjalan seperti orang kebanyakan, tetapi langkah kaki sang Senopati memang sangat cepat. Meskipun terlihat seperti sedang berjalan biasa saja, tetapi ia telah mendekati Kadipaten Pengging.


Saat sore, ketika mentari telah merendah di ufuk barat, Raka Senggani tiba di daerah Pengging.


Ia melihat keadaan daerah itu seperti daerah kebanyakan di tlatah Demak ini, bahkan saat ini ketika pemimpin daerah ini telah tidak lagi memiliki pemimpinya.Sejak mangkat nya Ki Ageng pengging, Raden Kebo Kenanga.


Hahh, daerah ini sangat tenang sekali, para penduduk nya yg bekerja seharian di sawah, mereka disaat sore seperti ini kembali dari sawahnya. Seperti nya tidak ada yg aneh dengan daerah ini, berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia pun mencari tempat penginapan agar dapat bermalam di Pengging ini.


Ternyata meskipun daerah Pengging merupakan daerah yang cukup besar dan luas, untuk menemukan penginapan agak sulit juga.


Sang pemilik memang menyediakan beberapa bilik dari rumahnya yg dapat dijadikan untuk menginap untuk orang orang yg singgah di Pengging ini.


Malam itu, di saat selesai makan malam, Raka Senggani menyempatkan untuk berbincang dengan pemiliki rumah tersebut.


" Apakah daerah Pengging ini memang tidak memiliki pemimpin lagi,..?" tanya Raka Senggani.


Sambil mendesah dan melepaskan nafas nya orang yang jadi pemilik rumah itu berkata,.


" Memang benar, sejak mangkatnya Ki Ageng Pengging, daerah ini tidak ada lagi pemimpin nya, ini semua disebabkan Kanjeng Kebo Kanigara tidak bersedia untuk menggantikan nya ,.!" terang orang itu.


" Apakah putra Ki Ageng Pengging tidak mau menjadi pengganti dari orang tuanya itu,. memimpin Pengging ini , Ki,.?" tanya Raka Senggani lagi.


Sambil menggeleng, orang ini mengatakan kepada Senopati Brastha Abipraya bahwa putra dari Ki Ageng Pengging ini masih sangat muda sekali dan banyak menghabiskan waktunya di daerah Tingkir dimana ia tinggal bersama keluarga angkatnya.


Dikatakan juga oleh pemilik rumah ini , saat ini putra Ki Ageng Pengging itu tengah menuntut ilmu di beberapa orang termasuk dengan Kanjeng Sunan Kalijaga.


Raka Senggani yg mendengarkan cerita pemilik rumah ini menjadi mengetahui kenapa Pengging tidak memliki seorang pemimpin lagi. Padahal saat Kerajaan Majapahit masih berdiri, daerah ini sangat ramai dan memiliki seorang pemimpin yang sangat tangguh dan berkemampuan sangat tinggi , bersama dengan penguasa Terung ,keduanya menjadi Senopati perang yg sangat sulit untuk di tundukkan oleh kerajaan Demak yg pada waktu itu baru tumbuh.


Ki Ageng Pengging sepuh yg bergelar Pangeran Andayaningrat adalah menantu dari Prabhu Brawijaya terakhir.


Malam itu , di dalam bilik nya Raka Senggani melakukan sesuatu guna melihat apakah benar kedua benda pusaka yang menjadi piyandel kerajaan Demak ini berada di daerah Pengging ini.


Malam semakin larut, dingin terasa merasuk tulang, diringi dengan suara -suara binatang malam.


Raka Senggani memusatkan nalar budi nya , dengan panggraita yg di milikinya ia mulai melihat daerah Pengging ini terutama nya kediaman dari Ki Ageng Pengging ini.


Hingga menjelang pagi barulah Raka Senggani menyelesaikan usahanya untuk mengetahui keberadaan dari dua pusaka Demak yg menghilang itu.


Tampaknya memang kedua buah pusaka itu tidak berada disini , berkata dalam hati Senopati Brastha Abipraya ini, ia pun menyelesaikan tapa nya.


Selanjutnya pada pagi hari nya, Raka Senggani melanjutkan perjalanan nya menuju ke daerah Bukit Tuntang.

__ADS_1


Masih dengan berjalan kaki, Senopati Brastha Abipraya bergerak menuju daerah rawa Pening.


Lewat tengah hari sampailah Raka Senggani di daerah desa Lopait di dekat Rawa Pening.


Desa ini merupakan desa yg paling dekat dengan Rawa Pening dan juga masih masuk ke wilayah Tuntang.


Di sebuah bukit yang banyak di tumbuhi oleh pohon bambu , Raka Senggani beristrahat di sebuah batu besar yg di kelilingi pohon bambu yg cukup rapat.


Ahh, nanti malam baru aku akan naik ke Bukit Tuntang ini, berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia pun memutuskan untuk berhenti di desa Lopait sebelum naik ke Bukit Tuntang.


Menjelang sore,Raka Senggani telah berada di sebuah warung yg ada di desa ini. Sejenak sambil melepas penatnya , Senopati Brastha Abipraya makan di warung tersebut.


Sambil memandangi orang orang yg berada di dalam warung itu, Raka Senggani memesan makanan dan minuman.


Hari terus berjalan , semakin mendekati malam, tempat itu semakin banyak orang yang singgah.


Rasa penasaran dari Senopati Brastha Abipraya ini memaksanya untuk bertanya kepada pelayan warung itu.


" Nyi, apakah tempat ini memang biasa ramai seperti saat kini,.?" tanya nya.


Pelayan itu menggelengkan kepala nya.


" Tidak kisanak,..entah mengapa beberapa hari ini telah banyak orang hadir disini,.!" jawab pelayan itu.


" Oh iya, Nyi,.apakah di desa ini ada rumah penginapan, ?" tanya Raka Senggani kepada pelayan itu.


" Oh , ada,..di ujung jalan desa ini ada sebuah penginapan , pemandangan nya pun cukup indah, dapat melihat ke arah rawa Pening,. !" terang pelayan warung tersebut.


" Terima kasih ,.Nyi,..!" ucap Raka Sengganj.


Setelah ia membayar makanan nya, Raka Senggani pun meninggalkan warung tersebut dan menuju ke tempat yang telah di tunjjukkan oleh pelayan warung tadi.


Saat tiba disana, terlihat telah banyak orang , rupanya saat ini tengah banyak yang menginap di desa Lopait ini.


Raka Senggani kemudian memesan sebuah bilik kamar, ia pun masuk ke dalam biliknya ini.


Dan malam itu , Raka Senggani tidak berani keluar dari bilik nya ini, karena di sebelah biliknya itu ada beberapa orang yang tengah menginap pula.


" Dua malam lagi, Guru akan segera kemari, ia akan menantang penguasa bukit Tuntang itu untuk berperang tanding,.!" ungkap seseorang kepada temannya.


Dan orang ini adalah yg menyewa bilik kamar di dekat bilik Raka Senggani.


Suaranya tadi cukup jelas di telinga senopati Brastha Abipraya .


Hehh, siapakah orang yg menantang begawan Kakung Turah itu berperang tanding, tanya Raka Senggani dalam hati.


Ia semakin memperjelas pendengarannya


" Kang, apakah guru akan di temani oleh adik seperguruannya, atau ia datang seorang diri,.?" tanya teman nya.


" Kali ini Guru tidak bertindak sendiri, ia akan datang dengan ketiga adik seperguruannya, dan di tambah lagi oleh dua murid terbaiknya,..!" jawab orang itu lagi.


Kedua nya terus saja mengobrol mengatakan sampai menjelang pagi.


Raka Senggani yg mendengarkan nya hanya dapat menarik nafas, sungguh saat ini di Bukit Tuntang telah hadir tokoh tokoh sakti baik dari golongan putih juga golongan hitam.


Semuanya ingin memperebutkan dua buah pusaka yang menjadi piyandel kerajaan Demak ini.


Jika malam ini aku tidak dapat ke bukit Tuntang, biarlah nanti siang , Aku akan ke sana.


Malam yg tinggal sedikit ini di pergunakan oleh Senopati Brastha Abipraya untuk memejamkan matanya.


Ketika mentari telah mengintip dari ufuk timur, Senopati dari Pajang ini meninggalkan tempat penginapan nya.


Ia berjalan menuju ke Bukit Tuntang dan akan melihat keadaan disana.


Ketika mentari telah menggatalkan kulit tibalah sang Senopati di kaki bukit yg tidak terlalu tinggi itu


Perlahan ia menapaki jalan setapak untuk naik ke atas bukit.

__ADS_1


Sebelum tiba di atas bukit , Raka Senggani beristrahat di sebuah batu yang cukup besar.


Sambil menatap ke arah sekeliling nya, Hati dari sang Senopati amat takjub atas pemandangan yang tersaji di hadapannya.


__ADS_2