
" Bagaimana kakang,.apa yg harus kita lakukan terhadap mereka ini,..apakah kita akan membawa mereka ke Cirebon,..?". tanya Raden Abdullah Wangsa.
Raka Senggani diam saja,. senopati Pajang itu masih memikirkan jalan keluar dari masalah itu,.ia mengedarkan pandanganya ke arah para kawanan rampok itu,..yg masih dalam keadaan duduk dan tidak mampu berdiri karena mereka telah kena totokan.
" Mungkin untuk sementara,..mereka kita titipkan saja di Asem arang, saja,..," jawab Raka Senggani.
" Tetapi siapa yg akan membawa mereka kesana,?''. tanya Raden Abdullah Wangsa.
Kembali Senopati Pajang itu tidak menjawab sampai dengan datang nya Ki Bekel Pedukuhan Grinsing.
" Anakmas,..sebaiknya mereka di lepaskan saja,.." seru Pemimpin Pedukuhan Grinsing.
Raka Senggani yg mendengar ucapan itu ada rasa yg kurang mapan pada perkataan dari Pemimpin Pedukuhan itu. Apakah ada hubungan nya Ki Bekel ini dengan para kawanan rampok itu,..pikir Raka Senggani dalam hati.
" Maaf Ki Bekel ,..jika mereka kami lepaskan ,.apakah tidak mungkin mereka akan mengulangi lagi perbuatan nya itu,..?" tanya Raka Senggani.
" Benar,..Ki Bekel,..siapa yg akan bertanggung jawab atas mereka jika kelak mengulangi lagi perbuatan nya itu,..?" seru Raden Abdullah Wangsa.
Karena memang keadaan di Alas siroban itu telah sampai ke telinga para pembesar Keraton Demak itu. Bahwa telah banyak orang yg di kirim ke Alas itu untuk menumpasnya tetapi belum ada yg berhasil,.bahkan banyak para perwira Demak yg tewas disitu.
" Begini,..anakmas berdua,..lebih dari separoh mereka adalah para penduduk dari Pedukuhan ini,..dan jika memang mereka akan kalian lepaskan,.biarlah diriku yg akan bertanggung jawab atas perbuatan mereka jika mereka kelak akan mengulangi lagi perbuatan nya itu,..akan tetapi untuk yg lain terserah kepada anakmas berdua akan menyerahkan kemana,.." jelas Ki Bekel Pedukuhan Grinsing itu.
" Baik,..Ki Bekel,..sekarang pisahkan mereka yg adalah penduduk Pedukuhan ini,..nanti sisa nya akan kami serahkan ke Asem Arang,..untuk sementara,..karena jarak dari sini tidak terlalu jauh kesana,.." ujar Raka Senggani.
" Dan satu hal lagi,..Ki Bekel,..segera kuburkan Si Sabak Jungkat itu,.. secepatnya,.." seru Raden Abdullah Wangsa.
" Baik,..anakmas,..nanti mereka akan ku perintahkan untuk melakukan nya,.." jawab Ki Bekel itu.
Pemimpin Pedukuhan Grinsing itu segera melakukan nya,..ia memisahkan para kawanan rampok yg berasal dari dukuh Grinsing itu,..dan ternyata cukup banyak jumlah nya.
Ketika hari telah pagi,.. tinggallah para kawanan rampok yg bukan berasal dari dukuh Grinsing itu. Termasuk dengan orang yg dipanggil Ki Lurah.
" Baiklah Ki Bekel,..apakah sudah selesai semuanya,..?" tanya Senopati Pajang itu.
" Sudah anakmas,..mereka yg tinggal ini adalah bukan warga Pedukuhan kami,.." jelas Ki Bekel dukuh Grinsing itu.
Dan kemudian Ki Bekel dukuh Grinsing itu memerintahakn kepada warga Pedukuhan itu untuk menguburkan jasad dari Sabak Jungkat itu,..sangat cepat sekali mereka melakukan nya.
Dan setelah nya Ki Bekel mengajak kedua anak muda itu untuk singgah di rumah nya.
Akhir nya keduanya pun kemudian singgah di rumah Ki Bekel itu untuk makan bersama dengan pemimpin Pedukuhan itu.
Saat Matahari menggatalkan kulit,.. kemudian keduanya segera membawa sisa kawanan rampok itu ke Asem Arang.
Memang jarak yg tidak terlalu jauh itu ,..saat mentari agak condong ke barat,..sampailah mereka di kota pelabuhan yg cukup ramai itu.
Pemimpin yg ada disana sangat terkejut dengan kedatangan kedua orang itu,..mereka tidak menyangka bahwa Putra dari Pangeran Sabrang Lor itu telah mampir di tempat mereka.
Secara singkat Raden Abdullah Wangsa menceritakan keadaan yg telah terjadi. Dan dirinya saat ini dalam tugas menuju ke Cirebon,..dan ia meminta bantuan kepada mereka untuk dapat menjaga para tawanan itu.
Semua pemimpin Asem Arang itu kemudian menerimanya dan menempatkan nya dalam sebuah bilik tahanan yg ada di kota itu.
Mereka kemudian menyarankan agar keduanya bermalam di kota itu.
Baik Raka Senggani maupun Raden Abdullah Wangsa menerima permintaan mereka itu.
Baru keesokan harinya keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke Cirebon.
Mereka tidak singgah lagi di Grinsing. Keduanya dengan cepat menuju Kademangan Batang baru selanjutnya mereka menuju ke Cirebon.
Setelah tiga hari,. sampailah keduanya di dekat perbatasan dari kesultanan Kacirebonan itu.
Walaupun Kota Cirebon itu memiliki pemimpin sendiri,..akan tetapi mereka masih tunduk di bawah panji-panji kesultanan Demak.
Dan saat ini pemimpin nya adalah Sunan Gunung Jati. Yang merupakan cucu dari sri baduga Prabhu siliwangi.
Namun kedatangan kedua anak muda itu telah di lihat oleh dua orang yg tampaknya ingin mendapatkan sesuatu dari kedua pemuda itu.
" Kakang ,..sepertinya senjata itu adalah sebuah pusaka,..yg cukup hebat,.." ucap sesorang kepada temannya.
" Benar,..adi,..sebaiknya kita serang mereka,.." jawab yg seorang lagi.
Keduanya pun segera bersiap ketika,..derap langkah kaki kuda dari kedua orang dari Demak itu.
__ADS_1
Panggraita dari Senopati Pajang itu segera merasakan ada orang yg tengah melihat mereka berdua dalam jarak jangkau anak -anak panah itu,..ia segera menghentikan laju kudanya.
" Hufffhh,.." seru Senopati Pajang itu.
" Ada apa kakang Sengganj,..kenapa berhenti,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.
" Adi Wangsa,.. sepertinya ada yg tengah menunggu kita,.." jawab Raka Senggani.
" Siapa,...dan dimana,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.
Kemudian Raka Senggani menyebutkan bahwa di sebatang pohon yg besar itu ada dua orang yg tengah menunggu mereka.
Raden Abdullah Wangsa berusaha melihat ke arah yg ditunjukkan oleh Raka Senggani itu.
Dan dilihatnya bahwa ada dua orang yg tengah bersiap untuk menyerang mereka,..karena keduanya telah menghunus senjatanya.
" Benar kakang Senggani,..tampaknya mereka sedang menunggu kita,.." ucap Raden Abdullah Wangsa.
" Ya,..adi Wangsa ,..segera persiapkan dirimu,..nampaknya mereka akan menunggu kita,.." kata Raka Senggani.
" Darimana kakang Senggani tahu,.. mereka sedang menunggu kita,..?" tanya Raden Abdullah wangsa.
" Sejak kita keluar dari kademangan batang,.. sepertinya telah ada yg mengikuti kita,..dan orang itu menghilang ketika kita telah dekat kemari,.." sahut Senopati Pajang itu.
" Jadi,..bersiap lah adi Wangsa,.. tampaknya mereka menginginkan pedang mu itu.." ucap Raka Senggani lagi.
Terlihat Raden Abdullah Wangsa memegangi pedang yg baru di dapat dari Ki Sabak Jungkat itu. Dan matanya tidak lepas dari kedua orang yg tengah mengintai mereka.
Adapun kedua orang yg masih bersembunyi di balik rerimbunan daun dari pohon yg cukup besar itu mulai kesal,..karena kedua penunggang yg tiada lain adalah Raden Abdullah Wangsa dan Raka Senggani itu terlihat berhenti.
" Kakang ,..mengapa mereka berdua berhenti,..apakah mereka tahu ,..bahwa kita menunggu mereka,..?" tanya salah seorang kepada temannya itu.
" Sepertinya memang demikian ,..mereka beberapa kali melihat arah kemari,..adi ,.." jawab yg seorang lagi.
" Jadi,..apa yg harus kita lakukan,..apakah kita akan tetap menunggu mereka disini terus,..?" tanya yg lain.
" Sabar,..adi Bragawanata,..sepertinya yg seorang lagi itu memiliki tongkat pusaka milik Ki Suganpara,.." seru temannya.
Dan orang yg dipanggil adi itu pun melihat kearah Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa secara bergantian.
" Entahlah,..yg jelas saat ini kita tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan senjata pusaka pedang Jata Ancala,..dan tongkat Ki Suganpara itu,..kita tidak harus berhadapan dengan Keduanya,..yaitu Ki Suganpara dan Ki Sabak Jungkat,." sahut Bragawala.
" Benar kakang,..meskipun dendamku terhadap kedua orang itu masih setinggi gunung,..akan tetapi jika kita mendapatkan kedua senjata pusaka itupun sudah akan membuatku senang,..marilah kakang kita hampiri mereka itu,.." ucap Bragawanata.
" Baik,..memang seprtinya begitu,..karena tampaknya memang mereka sudah menunggu kita,.." sahut Bragawala.
" Mari kakang,..hiyyahh,.." teriak Bragawanata.
Tanpa menjawab Bragawala pun ikut melesat menuju kedua penunggang kuda tersebut.
Walaupun tubuh keduanya cukup besar dan tinggi namun dengan entengnya kedua orang itu melayang dari batang pohon yg cukup tinggi itu menuju Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa yg masih diatas punggung kudanya.
Dalam jarak lima tombak keduanya mendarat,..di depan Senopati Pajang dan putra Pangeran Sabrang lor itu.
Sambil menunjuk ke arah keduanya,..Bragawala kemudian berseru,..
" Cepat serahkan Pedang Jata Ancala itu kepada kami,..bocah,..!" ucapnya.
Dengan suara parau,.. Bragawala meminta senjata yg ada di punggung raden Abdullah Wangsa.
" Hehh,..jika memang mampu silahkan ambil sendiri,.." sahut Raden Abdullah Wangsa.
Putra Pangeran Sabrang lor itu sengaja menantang keduanya.
" Apakah dirimu tidak menyayangi nyawamu,..bocah ,..tidak tahukah kalian sedang berhadapan dengan siapa,..?" tanya Bragawanata.
" Kami berdua memang tidak perlu tahu dengan siapa kami berhadapan,..yg jelas kami sedang berhadapn dengan dua orang maling yg ingin merampok kami,..!" balas Raden Abdullah Wangsa.
" Punya nyali juga,..kau ,..bocah,..kami si Kembar Gila dari Gunung pangrango ,..tidak akan membiarkan kalian lewat jika tidak menyerahkan pedang Jata Ancala itu kepada kami,..bukan begitu kakang ,..!" ucap Bragawanata.
" Benar adi Bragawanata,..tentu kita tidak akan melepaskan dua tikus yg telah masuk perangkap seprti mereka berdua ini ,..!" jawab Bragawala.
Si Kembar Gila dari Gunung Pangrango,.. bukankah mereka adalah penguasa dari gunung itu,..dan apa urusan nya sehingga mereka berada disini,..kata Raka Senggani membathin.
__ADS_1
" Cepat bocah serahkan Pedang itu,..juga tongkat Suganpara,..jangan sampai batas kesabaran kami habis, tentunya kami tidak akan membiarkan kalian dapat hidup keluar dari sini,.." seru Bragawala.
" Hehh,..terserah apa mau kalian berdua itu,..yg jelas segera minggir jangan halangi jalan kami,..kami mau lewat,.." jawab Raka Senggani.
" Ha,..ha,..ha,..kalian dapat lewat setelah menyerahkan kedua senjata itu,..kalau tidak nyawa kalian taruhannya,.." kata Bragawala lagi.
" Kami tidak akan menyerahkan kedua senjata ini,..kalau perlu kalian lah yg harus minggir ,..kami tidak ada urusan dengan kalian,..," sahut Senopati Pajang itu.
" Kakang,..tampak nya kedua orang ini sudah bosan hidup,..lebih baik kita percepat saja keinginan mereka itu,.." kata Bragawanata.
" Sepertinya memang demikian adi Bragawanata ,.. mereka ini ternyata keras kepala,..lebih baik kita turuti saja permintaan mereka ini,.." sahut Bragawala.
Seraya memberikan isyarat kepada saudara kembarnya itu ,..keduanya segera menyerang Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa yg masih duduk diatas punggung kudanya.
" Hiyyahhh ,.."
" Heaahhh,.."
Teriakan keduanya melesat memyerang kedua pemuda itu dengan senjata golok yg ada di tangan mereka itu.
Walaupun tubuh keduanya cukup besar dan tinggi,.. namun gerakan nya sangat ringan sekali pertanda ilmu peringan tubuh mereka cukup tinggi.
Mendapat serangan itu,..baik Raka Senggani maupun Raden Abdullah Wangsa segera mengeluarkan senjata mereka,..Raka Senggani dengan tongkat milik Ki Suganpara itu sedangkan Raden Abdullah Wangsa mengeluarkan pedang yg di dapat dari Sabak Jungkat itu.
" Trangg,.."
" Tringgb,.."
Benturan terjadi antara keempat senjata tersebut,..posisi dari Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa tidak tergoyahkan mereka masih tetap berada diatas punggung kudanya.
Sementara itu ,..baik Bragawala maupun Bragawanata harus melompat mundur dan menjejakkan kaki,-kaki mereka diatas tsnah baru setelah nya,. mereka menyerang lagi.
" Heeahhh,.."
" Hhiyyyaat,"
Keduanya kemudian mengincar kaki dan perut dari kedua anak muda itu.
Kembali benturan senjata terjadi,..akan tetapi baik Bragawala maupun Bragawanata tidak lagi harus turun ke atas tanah ,.keduanya terus mendesak kedua pemuda itu bagaikan seekor elang yg siap mencengkram lawannya.
Keduanya terus saja mengurung kedua pemuda itu,..dan memaksa agar keduanya turun dsri punggung kudanya.
Akan tetapi dengan sebuah isyarat ,..Raka Senggani mengatakan kepada Raden Abdullah Wangsa agar tetap mempertahankan posisi diatas kuda tunggangan mereka itu.
Walhasil,..Si kembar Gila dari Gunung pangrango itu semakin memperhebat serangan nya dengan melambari ajian peringan tubuh milik mereka itu
Namun serangan yg cukup gencar tersebut tidak menggoyahkan posisi anak muda dari Demak tersebut.
Bahkan suatu ketika,..disaat Raka Senggani mencoba menghindari sabetan golok milik Bragawala itu ,..dengan melompat tinggi sambil memutar tongkat yg ada ditangannya itu membuat Bragawala agak kewalahan,..ia terpaksa melompst menjauh takut terkena patukan tongkat tersebut.
Melihat lawan nya yg coba menghindar ,..sang Senopati Pajang itu kemudian memburu lawannya itu dengan mengarahkan ujung tongkat milik Ki Suganpara itu ke punggung dari Bragawala.
" Awass,.. kakang,.." teriak Bragawanata.
Dan akibat dsri teriakan kembarannya itu,.. Bragawala mampu mengjindarinya ,..akan tetapi justru Bragawanata lah yg harus menerima sebuah pukulan tangan kosong milik dsri Raden Abdullah Wangsa.
Tangan Kiri dari Putra Pangeran Sabrang Lor itu mendarat telak di dada Bragawanata ,..dan membuat saudara kembar dsri Bragawala itu terlempar jatuh berdebum ke stas tanah.
Raden Abdullah Wangsa segera memburu lawannya itu,..yg masih tampak kesakitan akibat pukulan yg telah diterima nya itu..Dan kali ini Putra Pangeran Sabrang Lor itu mengarahkan pedang yg berpamor kemerahan itu menuju jantung Bragawanata.
Saudara kembarnya yg melihat hal itu terjadi segera dstang membantu,..karena posisi dari Bragawanata sangat -sangat tidak menguntungkan,.. Bragawanata yg belum dapat bangkit itu sangat terkejut dengan serangan lanjutan dari lawannya yg masih sangat muda itu ,..sehingga,..
" Traanngg,.."
Benturan terjadi antara pedang milik Raden Abdullah Wangsa dengan golok Bragawala,..ternyata dalam waktu yg sekejap itu musuh Raka Senggani tersebut mampu menahan serangan dari Putra Pangeran Sabrang Lor yg langsung menusuk ke arah jantung.
Tetapi ternyata ,.. akibat Bragawala melupakan lawannya,..Raka Senggani.
Ia pun harus menerima punggung nya menerima pukulan dsri tongkat Senopati Pajang itu.
Beruntung Raka Senggani tidak mengerahkan seluruh tenaga dalam nya ketika mengayunkan senjata itu.
" Aaaaakhh ,"
__ADS_1
Terdengar keluhan tertahan yg keluar dari mulut Bragawala itu.
Ia jatuh bergulingan ,..guna menghindari serangan lanjutan.