
Keadaan di banjar desa dan rumah Ki Bekel semakin ramai ketika malam kian larut.
Para pengawal dan pemuda desa Kenanga berlatih ilmu silat, mereka Masih rutin melakukannya, walaupun hanya Japra Witangsa saja yg menjadi pemberi arahan nya.
Dan setelah selesai dengan Ki Bekel, maka Raka Senggani pun keluar dan turut bergabung dengan para pemuda desa, sedangkan Ki Lamiran dan para orang tua yg lain berada di pendopo rumah Ki Bekel.
Mereka asyik ngobrol, dan terlihat senang dengan kehadiran dari Senopati Demak dan Pajang itu.
Seprtinya hajatan yg akan diadakan oleh Ki Jagabaya itu terlaksana dengan Baik.
Karena melihat sendiri bahwa Sang Senopati tengah berada diantara mereka.
Adalah Japra Witangsa yg kemudian menyapanya,..
" Bagaimana khabarmu , adi Senggani,..?" tanya nya kepada senopati Demak itu.
" Baik , kakang Witangsa,..bahkan sangat baik ,.." sahut Raka Senggani.
Kemudian Senopati Bima Sakti melihat dan menyapa langsung para pemuda dan pengawal desa Kenanga yg tengah berlatih.
Ia melihat langsung mereka berlatih, dan menyempatkan juga memberikan araahan kepada mereka.
Baru setelah malam semakin dalam , latihan itu di hentikan, mereka duduk membentuk lingkaran dan menempatkan Senopati Bima Sakti ini berada di tengah.
Raka Senggani kemudian menceritakan kepada mereka agar tetap rajin berlatih , dan jika memang berniat untuk menjadi seorang prajurit, kelak , ia akan berusaha membantunya.
Japra Witangsa menanyakan kepada Raka Senggani apakah ia akan berada di desa Kenanga ini.
Di jawab oleh Raka Senggani, bahwa ia akan berada di Kenanga sampai acara pernikahannya di laksanakan. Kecuali ada keadaan yg sangat mendesak, datang permintaan dari Kotaraja Demak.
Ia juga menjelaskan kepada para pengawal dan pemuda desa agar tekun berlatihnya, saat ini , Kotaraja Demak memang sangat membutuhkan prajurit baru dalam rangka persiapan untuk berangkat.
Secara pribadi ia menginginkan bahwa desa Kenanga menjadi sebuah desa yg kuat dan menghasilkan para pemuda yg di segani .
Setelah terdengar suara kentongan bernada dara muluk, barulah mereka membubarkan diri . Sebahagian besar mereka kembali pulang dan ada juga yg nganglang.
Raka Senggani dan Ki Lamiran berpamitan kepada Ki Bekel , mereka akan segera pulang. Keduanya kemudian meninggalkan rumah Kj Bekel.
Dalam perjalanan pulang , kembali Ki Lamiran bercerita mengenai masalah dari sang Senopati.
Apakah memang ia tidak akan berusaha untuk kembali ke Kadipaten Pajang. Karena saat ini dirinya telah menjadi Senopati Prajurit sandi Demak.
Dijawab oleh Raka Senggani, ada keinginan nya untuk ke Kadipaten Pajang untuk bertemu dengan Tumenggung Wangsa Rana dan juga Kanjeng Adipati Pajang .
Ada rasa rindu kepada kedua orang yg menjadi penguasa di Kadipaten itu.
" Memang Kanjeng Tumenggung Wangsa Rana sepertinya ingin bertemu dengan mu, ia menanyakan kepada Tumennggung Bahu Reksa mengenai tugas yg Angger Senggani emban itu,.." ucap Ki Lamiran.
" Memang benar Ki,..Senggani pun merasa rindu kepadanya,.." sahut Raka Senggani.
Tanpa terasa mereka telah sampai di rumah yg berada di tanah pategalan itu.
Sementara Raka Jang, kelihatannya sudah tertidur,. karena tidak terdengar lagi suara , yg ada hanya dengkuran nya saja.
" Ternyata Ki Raka Jang telah tertidur,..!" ujar Ki Lamiran.
" Benar ,..Ki,..ternyata Paman memang telah tertidur,..biarlah , agar batuknya tidak terlalu sering kumatnya,.." jawab Raka Senggani.
Keduanya lantas masuk ke dalam,.. tetapi ada perasaan aneh di dalam hati Raka Senggani,.mengapa malam ini terasa lain, begitu sampai di rumah itu, terasa sangat dingin.
Hehh,..apakah ada sirep, katanya dalam hati.
Ia pun segera bergegas masuk, dan ternyata , naluri Senopati Sandi Demak ini memang benar adanya.
Terlihat rumah itu telah berantakan , beberapa barang berserakan di atas lantai.
Untuk apa mereka mengobrak abrik rumah ini, apa yg mereka cari,..kata Raka Senggani lagi dalam hati.
Ia melihat beberapa tempat penyimpanan , dan kembali hatinya cukup terkejut,..ternyata orang itu mencsri sesuatu,..kata Raka Senggani lagi.
" Ngger, siapa kiranya orang yg telah melakukan ini,..?" tanya Ki Lamiran.
" Senggani tidak tahu,..Ki,..!" seru Raka Senggani.
Keduanya kemudian membereskan barang barang yg telah berserakan itu.
" Ada yg hilang ,..Ngger,..?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Tidak ada Ki,.., seprtinya mereka sedang mencari sesuatu yg ada padaku,.." jawab Raka Senggani.
__ADS_1
Ia teringat dengan sebuah senjata yg masih berada di pinggang nya, yaitu tongkat berkepala ular yg di daptnya dari Ki Suganpara.
Apakah mereka mencari tongkat ini,..bathinnya.
Senopati Bima Sakti ini merasa bahwa ada seseorang yg ingin mengambil senjata itu dari tangan nya, akan tetapi siapa. Dan siapa kiranya orang tersebut.
Banyak pertanyaan yg tidak terpecahkan oleh Senopati Bima Sakti, ternyata di desa Kenanga sendiri tidak aman dari orang orang yg memiliki niat yg tidak baik,..
Beruntung mereka tidak mengganggu Paman Raka Jang,.kalau sesuatu terjadi padanya , diriku akan menyesal seumur hidup, katanya lagi .
Ia sampai melihat sendiri Paman nya itu yg terlihat sedang tidur di dalam biliknya.
Dan memang keadaan Raka Jang dalam keadaan baik baik saja, ia memang sedang tertidur.
Malam itu , kedua orang yg berada di rumah tersebut tidak tidur, mereka berdua berjaga -jaga sampaj pagi menjelang.
Ternyata pengaruh sirep itu menghilang saat matahari telah terbit, bersamaan itu pula , Raka Jang pun terbangun dari tidurnya.
" Ahh, malam ini aku merasa nyaman sekali tidurnya, kapan Angger Senggani dan Ki Lamiran kembali,..?" tanya nya.
" Sedari tadi malam, dan semalaman ini kami berdua tidak tidur,.." sahut Ki Lamiran.
" Ada apa ,..mengapa aki dan angger Senggani tidak tidur ,..adakah sesuatu yg telah terjadi,..?" tanya Raka Jang penasaran.
Kemudian Ki Lamiran menjelaskan apa yg telah terjadi tadi malam, ada seseorang yg telah masuk ke dalam rumah itu dan membongkar isi rumah, tetapi tampaknya ia tidak menemukan apa yg dicarinya itu ,..terang Ki Lamiran.
Raka Jang yg mendengar nya sangat terkejut,..dan mengapa dirinya sampai tidak tahu ada oran yg telah masuk ke tempat itu.
" Orang tersebut memiliki kemampuan yg lumayan tinggi, Ki,..ia telah menyebar sirep sehingga dirimu telah tertidur pulas,.." jelas Ki Lamiran lagi.
" Ooo,.."
Sahut Ki Raka Jang,.baru ia mengerti setelah mendengar penjelasan dari pande besi desa Kenanga itu.
" Kita wajib bersyukur paman, ternyata orang tersebut,..tidak melakukan sesuatu atas dirimu,..entah apa maksudnya berani masuk ke dalam rumah ini,.." sambut Raka Senggani.
Sang Senopati kemudian akan memeriksa keadaan rumah itu dan menelusuri jejak dari orang tersebut, apakah ia masih berada di desa Kenanga ini atau sudah pergi.
Disaat pagi itu, dengan cepat Raka Senggani langsung memeriksa keadaan dari rumah itu. Ia berusaha untuk memcari jejak kemana perginya orang tersebut dan apa maksud serta tujuan nya ke tempat ini.
Senopati Bima Sakti kemudian melihat sekeliling rumahnya, namun menjadi ke anehan , ia tidak menemukan bekas atau jejak yg di tinggalkan oleh orang tersebut.
Akhirnya ia menemukan jawaban nya,..
Apakah mungkin orang tersebut naik dari atap , aku harus memeriksa nya ,.ujar nya dalam hati.
" Huffjhh.."
Dengan sekali lompatan saja, tubuh dari Senopati Bima Sakti tersebut bagaikan anak panah yg di lepaskan dari busurnya melesat cepat naik ke atas wuwungan rumahnya itu.
Dan mendarat dengan sempurna diatas, seperti dugaan nya ia melihat salah satu gentng atap rumah itu terbuka.
Hehmphh,.
Katanya dalam hati, jika ia tidak merusak apa -apa dari tanaman yg di pategalan ini, tentunya ia bergerak dari salah satu pohon itu, bathinnya .
Ia pun mengedarkan pandangan ke seluruh pepohonan yg berada di sekitar tempat itu,..matanya tertumbuk pada sebatang pohon Kedawung , yg sebenarnya jarak nya tidak terlalu dekat dengan rumah itu,.. namun demikian itulah pohon yg paling dekat diantara pepeohonan yg lainnya.
Apa mungkin ia dari pohon itu, tanyanya dalam hati. Karena hanya bagi orang orang yg memiliki ilmu peringan tubuhnya tingkat tinggi saja yg akan dapat melakukan nya.
Karena jaraknya lebih dari dua puluh batang tombak,.Raka Senggani pun segera berniat untuk memriksa pohon itu.
" Hufhhh,.."
Ia pun melesat cepat menuju pohon Kedawung yg tidak terlalu besar dan sudah berada dekat dengan tepian hutan.
Dengan mengemposi tenaga dalam nya, ia mengerahkan ilmu peringan tubuhnya yg nyaris sempurna dan berhasil mencapai tempat itu.
Sejenak ia berdiri dan melihat ke sekeliling dari pohon tersebut.
Tiba -tiba matanya tertuju pada satu benda yg tidak terlalu jauh dari situ.
" Hiyyah,.."
Kembali Senopati Bima Sakti melayang turun dan mendekati benda tersebut, dan,..
Hehhh,..sebuah cundrik,.. katanya dalam hati. Ia pun segera menyimpan nya ke dalam bajunya.
Kemudian selanjutnya , ia mengikuti bekas bekas jejak kaki yg menuju ke arah kali kecil yg ada di dekat hutan tersebut,..airnya itulah yg menjadi sendang tempat mereka mandi.
__ADS_1
Sungguh suatu penghapusan jejak yg sangat sempurna,..karena begitu melewati kali ini tentu jejak nya akan menghilang, katanya dalam hati.
Ia kemudian tidak meneruskan untuk masuk ke dalam hutan , cukup sampai di batas tepi kali kecil tersebut.
Senopati Bima Sakti kembali ke rumah dan langsung mencari Ki Lamiran.
Pande besi desa Kenanga itu tengah mencangkul tanah pategalan yg akan di tanami nya lagi dengan tanaman singkong, ubi dan jagung.
Melihat Raka Senggani mendekatinya, langsung saja orang tua itu bertanya,..
" Ada apa Ngger,..apakah diirmu menemukan sesuatu,..?"
" Benar Ki,..Senggani menemukan ini," sahut Raka Senggani.
Sambil ia menunjukkan cundrik yg ada di tangannya kepada Ki Lamiran.
" Menurut aki , punya siapa benda ini,..?" tanya nya.
" Yang jelas ini adalah milik seorang perempuan,.." jawab Ki Lamiran pendek.
Senopati Bima Sakti sampai menatap dalam dalam kepada orang tua itu , karena dirinya pun tahu bahwa benda itu adalah milik seorang perempuan, tetapi maksud pertanyaan adalah siapa orang nya.
" Ki ,..kalau menurut aki, siapa tokoh sakti yg memiliki senjata ini,..?" tanya Raka Senggani.
Ki Lamiran yg kali ini menatap pemuda itu dengan tatapan penuh pertanyaan.
" Maksud angger Senggani, orang itu mmeiliki ilmu yg cukup tinggi,.. begitu,..?" tanya Ki Lamiran.
" Benar , Ki,.. karena menurut pengamatan Senggani ia memiliki ilmu peeringan tubuh yg sangat hebat,..!" jawab Raka Senggani.
Ki Lamiran menganggukkan kepalanya , seolah ia mereka reka siapa orangnya , yg telah berani datang ke tempat itu dan ia adalah seorang perempuan.
" Dahulu , ada seorang tokoh sakti dari kulon dan ia memang seorang perempuan,.." jawab Ki Lamiran.
Tokoh dari kulon , siapa ,.. bertanya dalam hati Raka Senggani.
" Siapa orang nya Ki,..?" tanya Raka Senggani penasaran .
" Aki lupa namanya,..namun ia memiliki kepandaian untuk menaklukan seorang laki laki dengan mudahnya,.." jawab Ki Lamiran.
" Semacam ilmu pelet, Ki,..?" tanya Raka Senggani.
" Bukan semacam ilmu pelet, namun lebih kepada ilmu yg mampu mmeperngaruhi seseorang,.." jawab Ki Lamiran.
Hehh,..
Raka Senggani menjadi terkejut mendengarnya , karena sewaktu di tanah perdikan Mantyasih ada dua orang perempuan yg menjadi kelompok dari Resi Brangah untuk datang mengangkat kembali tombak pusaka Kyai Sepanjang beberpa waktu yg lalu.
Apa mungkin orang itu yg dimaksud oleh Ki Lamiran. Cukup lama Raka Senggani mengingat kejadian yg sempat ia rasakan ketika berada di tanah perdikan Mantyasih itu,.ia sampai harus bertarung dengan penguasa alam lelembut dan raja nya para jin yg ada di pulau ini.
Bahkan satu purnama ia harus bertarung , walaupun sebenarnya ia merasa hanya satu malaman saja.
Jika memang dia , apa urusan nya , sehingga harus jauh jauh datang kemari,..tanya Raka Senggani dalam hati.
Ia merasa tidak hubungan ataupun sangkut pautnya dengan guru Sruni itu, jadi untuk apa ia datang kemari,..begitulah pertanyaan yg berkecamuk di dalam benak sang Senopati Sandi Demak ini.
Disaat hari hari pernikahan nya yg semakin dekat , ada saja masalah yg di hadapinya. Dan menurut nya masalah ini tidak boleh di biarkan begitu saja , ia harus segera bertindak.
Kemudian hari itu juga, Senopati Bima Sakti berpamitan kepada Ki Lamiran dan paman nya Raka Jang,..ia akan ke kota Pajang guna menemui seseorang, yaitu Ki Lintang Jaka Belek yg tengah bertugas disana.
Sebenarnya Pamannya Raka Jang melarang nya untuk pergi,..namaun keinginan yg kuat dari Senopati Bima Sakti ini tidak dapat di cegah lagi, terlebih Ki Lamiran mendukungnya maka berangkatlah Raka Senggani dengan menunggangi si Jangu menuju kota Pajang.
Padahal sebenarnya ia baru saja tiba di desa Kenanga , namun karena adanya seseorang yg telah menyatroni kediaman nya, mau tidak mau ia pun segera mencari tahu , siapa seusngguhnya orang tersebut, dan apa maksud nya.
Karena salah seorang Lurah Prajurit sandi Demak yg terdekat adalah Ki Lintang Jaka Belek, maka ia pun ingin bertanya kepada Lurah prajurit itu, sekaligus ia ingin sowan kepada Tumenggung Wangsa Rana dan Kanjeng Gusti Adipati Pajang.
Maka dengan cepat ia menggebrak Si Jangu menyusuri jalanan menuju kota Pajang.
Sementara itu , Dewi Dwarani dan Sari Kemuning yg mendatangi kediaman dari Raka Senggani amat terkejut setelah memdengar pemuda tersebut telah pergi ke Kota Pajang, terutama untuk Sari Kemuning yg belum sempat bertemu langsung dengan calon suaminya itu.
" Ki,..ini , untuk aki saja, makanan kegemaran Kakang Senggani,.." katanya .
Sambil menyerhakan bungkusan makanan kepada orang tua itu.
" Terima kasih ,..Ngger,..nnati akan aki smapaikan kepada angger Senggani ,." jawab Ki Lamiran.
" Sama -sama, Ki ,.kami pamit,..!" balas Sari Kemuning.
" Silahkan ,.." ucap Ki Lamiran.
__ADS_1