Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 29 Kabar itu datang. bag pertama.


__ADS_3

Senggani tiba tiba saja menghilang ketika serangan itu datang, nampaknya ia memang tidak berusaha untuk melayani saudara sepupu nya ini.


Kembali Raka Yantra kebingungan menghadapi saudara sepupunya itu, ia kembali mengedarkan pandangan nya mencari cari dimana keberadaan dari Raka Senggani.


Setelah agak lama ia melihat Raka Senggani telah berada di dekat Dewi Rasani Mayang yg tengah menangisi Gurunya.


" Hikz , hiks ,hiks, Guru,...!" seru gadis itu memeluk tubuh kaku Mpu Loh Brangsang.


Nampaknya hati gadis ini sangat terluka melihat keadaan gurunya tersebut.


" Sudahlah Mayang,..tabahkanlah dirimu,..!" ucap Raka Senggani sambil menyentuh pundak gadis ini.


Dewi Rasani Mayang menoleh ke arah Raka Senggani.


" Kakang Senggani,..maafkan aku,..!" ucapnya.


Sambil ia terus menangis dengan suara yang lebih keras lagi.


Dan tiba tiba saja di tempat itu telah hadir Raka Yantra yg berkata lantang,..


" Dirimu tidak bisa lari dari tanganku , Senggani,..!" teriak nya dengan keras.


" Aku memang tidak akan lari dari mu kakang Yantra , akan tetapi aku masih memerlukan untuk bicara dengan Dewi Rasani Mayang ini, baru setelah nya terserah kepada Kakang Yantra , apakah akan melanjutkan untuk bertarung dengan ku,..!" sahut Raka Senggani.


" Untuk apa kau berbicara dengan gadis ini , apakah kau ingin menggodanya, Hehh, siapakah sebenarnya dirimu ini Nyisanak,..?" tanya Raka Yantra kepada Dewi Rasani Mayang.


" Hei, akulah yg sepantasnya bertanya demikian kepadamu kisanak, apa hubungannya dirimu dengan Guru,..?" balik Dewi Rasani Mayang yg bertanya.


Ia bangkit berdiri dan menatap tajam ke arah pemuda yang berkumis tipis ini yg wajahnya mirip dengan Raka Senggani.


" Hehh, aku yg bertanya lebih dahulu , dirimu tidak menjawabnya malah balik bertanya,..!" seru Raka Yantra kurang senang.


" Aku dan Kakang Kuda Wira adalah murid dari Mpu Loh Brangsang ini , kami berada di padepokan Merapi , sekarang jelaskan siapa dirimu yang sebenarnya, mengapa menyebut guru kami dengan sebutan guru pula, apa hubungannya dirimu dengan Guru,..?" tanya Dewi Rasani Mayang meninggi.


Karena setahu gadis ini , hanya beberapa orang saja yang menjadi murid dari Mpu Loh Brangsang ini termasuk dirinya , Raden Kuda Wira serta Adya Buntala yg menjadi murid utama dari padepokan Merapi, dan mengapa kini ada orang yg tidak ia kenal mengaku sebagai murid dari penguasa Gunung Merapi itu.


Raka Yantra tampak kebingungan untuk menjelaskan nya, karena ia memang menjadi murid dari orang tua yg mengakui dirinya sebagai Ki Branang tanpa ada orang lain yg mengetahuinya.


" Ehh, ahh, Aku ini memang murid dari Ki Branang ini , tetapi tidak belajar di Gunung Merapi,..!" jawab Raka Yantra agak gugup.


" Dimana dan kapan dirimu diangkat seorang murid oleh Guru,..?" tanya Dewi Rasani Mayang lagi.


Mau tidak mau , Raka Yantra akhirnya menjelaskan awal pertemuan dengan Mpu Loh Brangsang yg mengaku sebagai Ki Branang dan untuk selanjutnya adalah Mpu Loh Brangsang inilah yg datang memberikan pelajaran mengenai ilmu kadigjayaan kepada dirinya di suatu tempat, hingga akhirnya ia tuntas menyerap semua ilmu dari penguasa Gunung Merapi ini.


Raka Senggani yg mendengar nya jadi mengerti mengapa tiba tiba saja saudara sepupunya ini bisa menjadi murid dari Mpu Loh Brangsang tersebut dan memusuhi nya.


" Mayang , Aku ingin bertanya kepadamu sesuatu hal yang mungkin kau ketahui,..!" ucap Raka Senggani.


Belum pun sempat Dewi Rasani Mayang menjawab, Raka Yantra langsung menyelanya,..


" Urusan kita belum selesai Senggani , kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatan mu itu terhadapku,..!" ucap nya dengan suara meninggi.


Putra Raka Jang ini pun kelihatan nya kembali siap untuk kembali bertarung.


" Tunggu sebentar Kakang Yantra, aku memerlukan penjelasan dari adi Mayang ini, baru setelah nya terserah kepada mu jika memang ingin bertarung,..namun aku memang memerlukan penjelasan nya,.!" sahut Raka Senggani.


" Apa yg Kakang Senggani ingin tanyakan dan ingin di ketahui dari ku,..!" ucap Dewi Rasani Mayang melihat ke arah Raka Senggani.


" Aku memerlukan penjelasan dari mu mengenai ucapan kalian bertiga saat di desa Lopait,..!" sahut Raka Senggani lagi.


" Ucapan yg mana Kakang ,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.


Seolah ia tidak pernah berkata apapun saat mereka mengadakan pertemuan di desa Lopait bersama Raden Kuda Wira dan gurunya itu.


Raka Senggani kemudian menjelaskan apa yg telah ia dengar saat mengikuti mereka di dekat Rawa Pening waktu itu.


Sungguh Dewi Rasani Mayang menjadi sangat kaget mendengarnya, karena bila ia berlaku jujur tentu Raka Senggani akan murka terhadap nya juga dengan Raden Kuda Wira yg masih sekarat itu.


Mungkin aura pembalasan dendam terhadap nya akan segera terjadi.


" Ahh, tidak ada yg hal penting mengenai pembicaraan kami itu , Kakang Senggani,!" jawab Dewi Rasani Mayang agak bingung.


Sungguh ia tidak dapat berlaku jujur kali ini demi keselamatan nya .

__ADS_1


" Mayang katakan lah sesungguhnya dengan sejujur jujurnya kepadaku, Aku berjanji tidak akan marah kepadamu, Senggani pastikan hal ini dan lagi pun , Guru dan kakak seperguruan mu itu sudah tidak akan dapat menekanmu lagi, Mayang,..!" terang Raka Senggani.


Dewi Rasani Mayang kembali kebingungan, harus bagaimana, hatinya menjadi sangat senang ketika ia mendengar Raka Yantra berseru,..


" Terlalu bertele-tele , Senggani, saat ini kita selesaikan urusan kita berdua baru setelah terserah padamu atas perempuan ini, bersiaplah ,.!" ucap Raka Yantra.


Tampaknya pemuda ini tidak mau lagi mengurungkan niatnya itu.


Raka Senggani yg merasa hampir berhasil membujuk Dewi Rasani Mayang untuk berterus terang merasa geram dengan sikap kakak sepupu nya ini.


" Kakang Yantra,..hal ini berhubungan dengan dirimu ,..!" ucap Raka Senggani keras.


" Apa maksudmu , Senggani, jangan banyak alasan, mari kita lanjutkan perang tanding ini, aku atau kau yg harus mati guna mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan mu itu,..!" teriak Raka Yantra dengan sangat keras.


Tanpa memperdulikan perkataan dari kakak sepupu nya ini, Raka Senggani lantas bertanya,.


" Katakanlah Mayang, apakah ucapan kalian itu ada hubungan nya dengan kematian dari Paman Raka Jang,..?" tanya Raka Senggani terus terang.


Dua orang yg berada di tempat itu menjadi sangat terkejut mendengar nya terlebih buat Raka Yantra sendiri yg merasa bahwa pembunuh orang tua nya itu adalah Raka Senggani adik sepupu nya ini.


Demikian pula dengan Dewi Rasani Mayang, ia sungguh tidak menyangka rahasia mereka berduaan dengan Raden Kuda Wira tampaknya di ketahui oleh Raka Senggani.


Apakah ia hanya menerka saja atau memang sudah tahu jawaban nya , berkata dalam hati Dewi Rasani Mayang.


" Sungguh aku tidak tahu Kakang Senggani,..!" jawabnya sambil memalingkan wajahnya.


" Jujurlah Mayang , Aku berjanji akan melindungi mu jika kau jujur mengatakannya, percayalah,..!" bujuk Raka Senggani.


Sambil ia memegangi pundak gadis cantik ini.


Dewi Rasani Mayang menjadi serba salah jadinya, memang ia memiliki rasa yang sulit untuk di ungkapkan kepada pemuda yang ada di hadapan nya , dan ia pun telah beberapa kali melakukan kesalahan terhadapnya termasuk saat Tara Rindayu berguru di Padepokan Merapi.


" Katakanlah kepadaku Mayang, karena diriku merasa memang hal itulah yang tengah kalian sembunyikan, Aku ingin mengetahui yg sebenarnya ,.!" ucap Raka Senggani lagi.


Akhirnya hati Dewi Rasani Mayang luluh, setelah ia merasa tidak perlu lagi bermusuhan dengan Senopati Brastha Abipraya ini, ia pun menjawab,.


" Memang benar ucapanmu itu Kakang Senggani, kakang Kuda Wira lah yg telah membunuh Paman mu,..!" jawabnya pelan.


" Hahhh,..!" teriak Raka Yantra.


" Jadi kalian lah yg telah membunuh orang tua ku,..sangat kejam kalian,..!" teriak nya dengan sangat keras.


" Kakang Senggani, siapakah orang ini sebenarnya, apa hubungannya dengan Paman mu itu,..?" tanya Dewi Rasani Mayang penasaran.


" Dia adalah putra dari Paman Raka Jang, Mayang,..!" jawab Raka Senggani singkat.


Dan kali ini Dewi Rasani Mayang lah yg malah terkejut. Ia merasa akan terjadi pertarungan antara dirinya dengan orang yang bernama Raka Yantra ini.


" Kau harus mempertanggung jawabkan semua kesalahan mu itu ,****** ,. bersiaplah,..!" ucap Raka Yantra.


Dan kali ini ia tampaknya akan segera menyerang Dewi Rasani Mayang.


" Tunggu dulu, aku ingin menjelaskan duduk permasalahannya , bukan aku yang berniat serta membunuh Paman dari Kakang Senggani itu , melainkan murni dari Kakang Kuda Wira sendiri, ia lah yg memiliki ide tersebut agar kakang Senggani menjadi marah,!" jelas Dewi Rasani Mayang.


Ia pun melanjutkan lagi ucapan nya ini dengan mengatakan bahwa jika Raka Yantra ingin melampiaskannya kepada dirinya , ia tentu siap karena bagaimana pun juga dirinya memang turut andil dalam hal tersebut , ia tidak mampu menahan serta mencegah perbuatan kakak seperguruan nya tersebut.


" Aku tidak peduli, yg penting saat ini kau harus mati di tanganku,..heahhh,..!" teriak Raka Yantra.


" Hufhh,..!"


" Tunggu dahulu kakang Yantra, kakang tidak berhak melakukan hal ini kepada Dewi Rasani Mayang,..aku telah berjanji untuk melindungi nya ,..!" seru Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya ini memapasi serangan kakak sepupu nya dengan tongkat nya.


" Majulah kalian berdua biar urusan ini cepat selesai,..!" teriak Raka Yantra.


" Minggirlah Mayang,..bawa Guru mu itu dari sini, biar orang ini aku yg mengurusnya,..!" ucap Raka Senggani.


" Baik Kakang Senggani,..!" balas Dewi Rasani Mayang.


" ******* terima ini, hiyyahh,..!" seru Raka Yantra sambil menyerang dengan pedangnya.


" Heahhh,..!"

__ADS_1


" Whuut,..!"


" Whuashhh,..!"


Begitu tubuh Raka Yantra melesat menyerang nya dengan menggunakan pedang nya maka Raka Senggani langsung mengibaskan kebutan yg di dapatnya dari Ki Klamprah , alas Siroban, angin yang sangat kuat segera menderu keras menerjang tubuh dari Raka Yantra.


Kontan saja tubuh pemuda saudara sepupunya itu mencelat terhantam angin kebutan tersebut dan jatuh dengan kerasnya ke atas tanah.


Raka Yantra berusaha untuk bangkit sambil memegangi dadanya.akibat terhantam serangan tersebut.


" Kakang Yantra, sudahlah jangan memperpanjang urusan ini, toh yg melakukan nya adalah saudara seperguruan mu sendiri, ..!" ucap Raka Senggani.


" Kau jangan berbangga dahulu Senggani, aku akan membunuh mu dan kedua orang itu,..!" seru Raka Yantra.


Ia berusaha untuk mampu bangkit walaupun tubuhnya masih kesulitan karena tadi terjatuh cukup keras ke atas tanah.


Sambil memegangi dada nya, Raka Yantra merapal mantra guna melepaskan Ajian nya.


Sesaat ia telah mampu menguasai tubuhnya berteriak lah Putra Raka Jang ini dengan cukup keras,.


" Hiyyah,..Aji Lebur Saketi,..!"


" Dhumbhh,..!"


" Hufhh ,..!"


Telapak tangan dari Raka Yantra membuka dan keluar lah selarik cahaya terang yg langsung menghantam ke arah Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya langsung meloncat tinggi menghindarinya, dan tampaknya suami Sari Kemuning ini bersiap untuk membalas serangan tersebut.


" Hiyyah,.. Aji Wajra Geni,..!"


" Dhumbhh,..!"


Serangan tersebut memang tidak di arahkan tepat ke tubuh dari kakak sepupu nya itu melainkan hanya sekedar untuk memberi peringatan saja.


Namun tampak nya , akibat dari serangan ini membuat Raka Yantra menjadi sangat marah .


Ia terus melepaskan serangan nya dengan membabi-buta.


Dan semakin membuat Raka Senggani di atas angin, senopati Brastha Abipraya ini tampaknya ingin mengalahkan saudara sepupunya ini dengan menguras tenaga nya.


Dan pada satu saat , ia melenyapkan kembali tubuhnya dan muncul di belakang dari Putra Raka Jang ini sambil berseru,..


" Hiyyahh,. !"


" Dhugghh,..!"


Raka Senggani melepaskan tendangan nya yg mengandalkan tenaga wadagnya, ia takut terjadi sesuatu pada Raka Yantra.


Tendangan yg mendarat telak di punggung nya membuat tubuh Raka Yantra terpelanting ke depan, ia jatuh bergulingan.


" Sudahlah Kakang Yantra, kita akhiri saja perkelahian ini, bawalah tubuh Gurumu itu ke padepokan nya di Merapi,.!" ucap Raka Senggani.


" Phuihh,..mana sudi aku untuk menyerah Senggani, aku akan menuntut balas perlakuan mu ini, ayo lawan aku dengan ilmu mu, jangan hanya main kucing kucingan saja,..!" balas Raka Yantra .


Ia bangkit berdiri.


" Kakang Yantra, ingatlah kita masih bersaudara, untuk apa kakang memusuhi ku,..lebih baik kita berbaikan,kini dirimu sajalah saudaraku yg tersisa setelah Paman Raka Jang tiada,..!" ujar Raka Senggani.


" Aku tidak sudi bersaudara denganku, lebih baik kita bertarung untuk menentukan siapa yang lebih baik diantara kita berdua,. !" jawab Raka Yantra.


Putra Raka Jang ini kembali menyerang Raka Senggani dengan ajian Lebur Saketi miliknya, Dan untuk kali ini Raka Senggani membalasi nya dengan ajian Wajra Geni milik nya.


Benturan terjadi dan membuat tubuh dari Raka Yantra harus terpental jatuh.


Tubuh pemuda itu diam , nampaknya ia telah pingsan akibat benturan yang terjadi.


Raka Senggani langsung mendekatinya dan memeriksa keadaannya.


Huhh, syukurlah ia cuma pingsan saja, sebaiknya ia harus ku bawa pergi dari sini,.berkata dalam hati Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya ini berusaha membopong tubuh Raka Yantra yg telah pingsan dan membawanya menepi ke tempat yang lebih baik, karena saat itu mentari telah menyinari Bukit Tuntang ini dengan cahaya nya yg cukup panas.memang saat ini hampir tengah hari.

__ADS_1


Raka Senggani menotok beberapa bagian tubuh dari Raka Yantra , dan tidak lama berselang ia kelihatan telah mampu bernafas dengan teratur.


Di pertarungan antara Nyi Sriti Wengi melawan Ki Jayengkara nampaknya mendekati akhir ketika keduanya telah bersiap untuk mengadu kekuatan ilmu pamungkasnya masing-masing, Nyi Sriti Wengi telah merambah pada aji Bulan merah miliknya. Demikian pula dengan si buta dari Bukit tengkorak itu, ia pun telah menyiapkan Ajian pamungkas nya pula menghadapi lawannya itu.


__ADS_2