
Dengan mengerahkan ilmunya, Raka Senggani langsung memanjat naik pada sebuah pohon yg tidak jauh dari jalanan.Ia segera bersembunyi di balik rerimbunan daun pohon tersebut sambil terus menatap ke bawah ke arah jalanan.
Senopati Brastha Abipraya ini bertanya tanya dalam hatinya, apakah orang itu adalah utusan dari Demak yg akan membunuhnya.
Dengan menggunakan ilmu penyerap bunyi, ia segera dapat melihat siapakah orang yang tengah membuntutinya ini.
Ternyata mereka berdua , berkata dalam hati Raka Senggani.
" Hehh, kemanakah perginya orang itu Ki,.?" tanya seseorang kepada temannya.
" Entahlah, tadi ia memang menuju arah sini, tetapi mengapa cepat sekali menghilangnya,.!" jawab yg seorang lagi.
Rupanya Kyai Gedangan dan seorang temannya, membathin Raka Senggani setelah ia melihat siapakah yang tengah membuntutinya itu.
Aku harus menemuinya, rasanya tidak mungkin Ki Gedangan akan berbuat yg aneh-aneh, berkata lagi Raka Senggani dalam hatinya, setelah ia mengetahui orang itu adalah Ki Gedangan dan temannya.
" Ada apa Kyai Gedangan mencari ku,..?" tanya Raka Senggani dari arah belakang kedua orang itu.
Baik Ki Gedangan maupun Rsi Mundingrata yg bersamanya menjadi sangat terkejut setelah mengetahui orang yang mereka buntuti itu telah berada di belakang mereka.
" Ahh, angger Senopati mengagetkan kami berdua,..memang kami berdua memerlukan untuk bicara dengan mu,.!" jawab Ki Gedangan.
Ia segera memperkenalkan pada Raka Senggani orang yang menjadi temannya itu.
" Oh iya, Ngger,.. kenalkan , ini adalah Rsi Mundingrata dari Pajajaran ,..!" ucap Ki Gedangan.
" Ya , namaku adalah Rsi Mundingrata , mari kita mencari tempat yg baik guna berbicara,..!" ajak Rsi Mundingrata.
" Mari , Rsi ,..!" sahut Raka Senggani.
Ketiganya lantas berjalan pada suatu tempat yg agak ke dalam dari tempat itu, dan ketiganya duduk di sebuah batang pohon besar yg telah tumbang dan melintang dalam hutan yang tidak terlalu pepat ini.
" Ada apa sesungguhnya Ki,.mengapa mencariku,..?" tanya Raka Senggani.
" Temanku ini , Rsi Mundingrata yg memang memerlukan untuk berbicara dengan mu, Ngger, silahkan Resi,..!" ucap Ki Gedangan.
Resi Mundingrata kemudian menjelaskan kepada Raka Senggani mengapa mereka memerlukan untuk berbicara dengan nya .
Orang tua ini menyebutkan bahwa ia membutuhkan bantuan dari Raka Senggani guna membunuh seseorang yg cukup tinggi ilmunya dan memliki pengaruh yg sangat kuat dalam Keraton Pajajaran.
Karena orang inilah maka pihak kerajaan Pajajaran menjalin kerjasama dengan orang asing yg berada di Sunda Kelapa.
Awalnya penguasa Pajajaran menolak untuk bekerjasama dengan pihak asing itu , namun dengan kehebatannya, orang itu mampu mempengaruhi Patih Jaya Karana yg menjadi orang kepercayaan dari sang Prabhu.
Sehingga penguasa Pajajaran ini akhirnya mau bekerjasama dengan pihak asing .
Untuk itulah Rsi Mundingrata yg masih memiliki pengaruh dalam istana tidak suka atas tindak tanduk orang yang telah mempengaruhi pihak Kerajaan Pajajaran itu.
Sebelum ia mengakhirinya ceritanya , Rsi Mundingrata menyebutkan bahwa mereka sebenarnya ingin meminta bantuan kepada Begawan Kakung Turah yg masih juga merupakan temannya, namun setelah melihat kejadian di puncak Bukit Tuntang itu, ia merasa bahwa Raka Senggani mampu melakukan nya.
Selain memang , Begawan Kakung Turah saat ini tengah memiliki suatu masalah sendiri dan belum tentu mau menolongnya, ia juga berkeyakinan akan kemampuan dari Raka Senggani yg dapat menahan ilmu dari penguasa Bukit Tuntang itu.
" Maaf sebelumnya Resi, Senggani ingin bertanya, apakah memang orang tersebut sangat tinggi ilmunya sehingga tidak ada orang Pajajaran yang mampu mengalahkan nya,.?" tanya Raka Senggani menyelidik.
Ia agak merasa aneh dengan permintaan dari teman Ki Gedangan ini, mengapa harus jauh -jauh meminta bantuan ke arah Demak, kalau hanya ingin melenyapkan seseorang bukankah Pajajaran memliki banyak tokoh sakti.
" Bukannya di Pajajaran tidak ada yg sanggup untuk melawan orang itu Senopati,.tetapi mereka sangat segan terhadap Sri Prabhu dan juga Patih Jaya karana , karena orang ini sangat dekat dengan keduanya,.!" jelas Resi Mundingrata .
Ia juga melanjutkan lagi perkataan nya, agar senopati Brastha Abipraya ini mau bekerjasama dengan nya guna membunuh orang yg di maksud.
" Siapakah orang itu , Resi,..?" tanya Raka Senggani.
" Ia bernama Wiku Dasapasanta, Senopati,.!" jawab Resi Mundingrata.
Raka Senggani serasa baru mendengar nama tersebut , ia memang kurang memahami kekuatan dari Kerajaan yg ada di sebelah barat tersebut, sehingga ia segera menyahuti nya.
" Baiklah Resi Mundingrata , diriku belum dapat menjanjikan apa pun terhadap kalian, karena saat ini diriku pun masih memiliki urusan yg harus ku selesaikan, jika memang keadaan telah membaik , aku akan menghubungi Resi Mundingrata atau Ki Gedangan,..!" jelas Raka Senggani.
" Padahal kami sangat berharap agar Anak Senopati mau memenuhi permintaan kami ini, sebelum Demak dan Cirebon menyerang Sunda Kelapa,.!" ucap Resi Mundingrata.
__ADS_1
" Hehh,..!"
Raka Senggani amat terkejut mendengar ucapan orang Pajajaran ini, mengapa dirinya mengetahui bahwa pasukan Demak akan segera menyerang Sunda Kelapa
Namun ia tidak menanyakan nya, Raka Senggani kemudian menjelaskan bahwa memang saat ini memiliki suatu masalah yang cukup pelik untuk itulah ia tidak mampu memutuskan nya.
" Sungguh saat ini aku belum bisa untuk memutuskan nya Resi Mundingrata, bukan nya Senggani tidak ingin membantu , akan tetapi jika masalah ku telah selesai mungkin aku dapat membantu,.!" ucap Raka Senggani.
Resi Mundingrata terdiam mendengar penjelasan dari Senopati Brastha Abipraya ini, ia memang sangat berharap kesediaan dari salah seorang Senopati agul agul Demak itu, terlebih setelah ia melihat sendiri kemam nya saat terjadi perang tanding di bukit Tuntang, Senopati Brastha Abipraya itu mampu bertahan dari serangan Begawan Kakung Turah , padahal si Tua Gila itu mampu membunuh penguasa Gunung Merapi, Mpu Loh Brangsang.
Setelah mereka berbincang cukup lama, akhirnya Raka Senggani pamit , ia akan segera kembali , dan tujuan nya adalah tanah Perdikan Mantyasih.
" Senggani pamit Ki Gedangan dan Resi Mundingrata, jika memang masalah ini cepat selesai, diriku akan segera memberitahukan nya,..!" ucapnya sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Segera saja Raka Senggani meninggalkan keduanya yg masih duduk dan memandangi kepergiannya.
" Sayang, ia masih memiliki suatu urusan, jika tidak mungkin kita bisa meminta bantuan nya , Kyai,.!" ucap Resi Mundingrata.
" Yeahh,..memang ia memiliki suatu masalah, kalau tidak tentu ia akan bersedia membantu kita, sudahlah mari kita tinggalkan tempat ini,.!" sahut Ki Gedangan.
Lalu keduanya pun segera berlalu dari tempat itu pula .
Raka Senggani sendiri memang segera memacu larinya , karena saat ini sudah menjelang sore, ia ingin secepatnya sampai di Tanah Perdikan Mantyasih.
Saat malam tiba sampailah Raka Senggani di tanah Perdikan Mantyasih , dimana ia pernah bertarung dengan penguasa alam lelembut di puncak Gunung Tidar beberapa waktu yg lalu.
Keadaan terasa lain saat ia telah melewati gapura dari tanah Perdikan Mantyasih ini, banyak terpasang obor di setiap sudut dari jalanan yg di laluinya.
Apakah Tanah Perdikan Mantyasih akan mengadakan hajatan , sehingga keadaan tampak lebih semarak, berbeda dengan waktu itu, berkata dalam hati Raka Senggani.
Ia terus saja menuju ke kediaman dari Ki Gede Mantyasih yg tepat berada di tengah-tengah tanah ini.
Begitu ia melewati salah satu pos perondan , Raka Senggani di kejutkan oleh beberapa orang pengawal tanah Perdikan yg menghentikan langkahnya.
" Hehh, berhenti kisanak,..!" seru orang tersebut dengan suara keras.
Empat orang pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini mendekatinya seraya bertanya,.
" Hendak kemanak kisanak ini , mengapa terlihat terburu buru, bukankah kisanak bukan orang Mantyasih ini,.?" tanya pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih kepada Raka Senggani.
Sambil mamandangi satu persatu para pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu, apakah ia mengenal diantara nya, akan tetapi setelah tidak seorang pun yang ia kenal, maka berkatalah Raka Senggani.
" Aku memang bukan orang Mantyasih ini, dan tujuanku akan ke rumah Ki Gede,.!" jawab Raka Senggani.
" Ada urusan apa kisanak ini sehingga harus ke rumah Ki Gede,.?" tanya pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih lagi.
" Aku merupakan kerabat dari Kakang Lintang Sandika,.!" jelas Raka Senggani.
" Kisanak ini berbicara terlalu berbelit-belit, tadi mengatakan ingin ke rumah Ki Gede, sekarang mengatakan adalah saudara dari Ki Lintang Sandika, yg mana yg benar,.atau kisanak ini datang ingin membuat keonaran disini,.Hehh,.!" bentak pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih .
Raka Senggani memang jadi serba salah , akhirnya ia menyahuti nya,.
" Siapakah pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini, Aku ingin bertemu dengan nya,..!" ucap Raka Senggani pelan.
Ia memang tidak ingin terjadi sesuatu dengan para pengawal tanah Perdikan ini, yg kelihatan nya mereka itu masih baru menjadi pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini.
" Pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini adalah Kakang Anggono,..dan saat ini ia tidak bisa di ganggu karena berada di rumah Ki Gede,..!" jawab pemimpin tanah Perdikan Mantyasih itu.
Akhirnya Raka Senggani mengatakan lagi untuk mengantarkannya ke rumah Ki Gede Mantyasih agar lebih jelas siapa ia sebenarnya.
" Sudah kakang Diro, beri pelajaran saja orang ini, ia terlalu banyak mulut,..!" seru salah seorang pengawal tanah Perdikan yg lain.
Ketika ke empat orang itu sudah mulai mengurung Raka Senggani, dan mereka tampaknya akan segera menyerang nya , tiba tiba dari arah ujung jalan datanglah seorang pemuda yang lagi tergesa gesa.
" Hei , apa yg akan kalian lakukan ini,.!" serunya.
" Kakang Anggono,..!" ucap keempat pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu bersamaan.
" Apa yg akan kalian lakukan ini, mengapa harus menyerang seseorang tanpa kalian membawa nya kepadaku,..?" tanya Anggono lagi.
__ADS_1
Ia pun segera membubarkan para pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu dan langsung melihat siapakah orang yang tengah di kurung oleh anggota nya itu dan alangkah terkejutnya ia , saking girangnya ia langsung memeluknya sambil berteriak,.
" Kakang Senggani,...!"
Meski di terangi oleh beberapa obor yang ada di dekat pos perondan itu namun matanya masih sangat jelas melihat siapa orang yang ada di hadapannya ini.
" Anggono,.. bagaimana kabarmu,..?" tanya Raka Senggani.
" Baik Kakang Senggani, marilah,.kami saat ini tengah membicarakan sesuatu di rumah Ki Gede,dan saat ini pula ,Kakang Lintang Sandika pun tengah berada disana,.!" ucap Anggono.
Ia pun segera menarik tangan Raka Senggani untuk mengikutinya.
Sambil berjalan ia pun menceritakan keadaan tanah Perdikan Mantyasih ini tengah menghadapi suatu hajatan yg akan di lakukan oleh Ki Gede.
" Siapa yang akan menikah , Anggono,..?" tanya Raka Senggani kemudian.
" Kakang Rasala,..!" jawab Anggono.
Raka Senggani tidak bertanya lagi, ia hanya berpikir dalam hatinya bahwa ternyata putra Ki Gede ini telah menemukan tambatan hatinya.
Dan langkah mereka ini tidak terasa telah mendekati kediaman dari Ki Gede Mantyasih.
Rumah yg cukup besar dengan halaman nya yang sangat luas, terlihat pagar rumah penguasa tanah Perdikan Mantyasih itu sangat terang dengan regol rumah nya masih terbuka, banyak orang berada dalam rumah tersebut.
Anggono dan Raka Senggani langsung masuk dan menuju ke pendapa rumah itu, dan begitu mereka tiba ,semua orang yang berada di sana sangat terkejut dengan kehadiran orang yang cukup menggemparkan tanah Perdikan ini dengan kemampuan nya .
" Angger Senopati,..!" seru Ki Gede Mantyasih .
Ia memang cukup kaget melihat kehadiran dari Raka Senggani di kediaman nya itu.
" Anggono , diamana kau temukan Angger Senopati ini,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.
Setelah ia menyuruh duduk Senopati Brastha Abipraya itu.
Anggono kemudian menjelaskan bahwa ia menemukan nya di pos perondan ujung yg dekat di gerbang tanah Perdikan Mantyasih ini.
" Kakang Senggani ini tengah di kepung oleh para pengawal tanah Perdikan yg di pimpin oleh Diro, Ki Gede,.!" terang Anggono.
" Maafkanlah atas kesalahan para pengawal itu Angger Senopati, mereka memang baru saja menjadi pengawal sehingga tidak mengenal mu,..!" kata Ki Gede Mantyasih.
" Tidak apa-apa, Ki Gede,.Senggani maklum,..!" jawab Raka Senggani.
Sementara itu , Rasala , putera Ki Gedhe langsung bertanya,.
" Mengapa senopati Brastha Abipraya ini tidak pernah datang lagi kemari, padahal saat hajatan Kakang Lintang Sandika itu diadakan kami sangat berharap dapat bertemu,.,?" tanya Rasala.
Memang banyak penghuni tanah Perdikan ini yg sangat ingin bertemu dengan Senopati Brastha Abipraya , karena ia lah yg telah mampu mengalahkan lawan dari alam lain itu, sehingga ada keinginan mereka untuk mendengar kembali ceritanya.
Bahkan ketika Lintang Sandika berkata,.
" Rasala, tahukah dirimu bahwa adi Senggani ini pernah bertarung dengan penguasa alas Siroban,..!" tutur Lintang Sandika.
Putra Tumenggung Bahu Reksa itu pun memang tengah berada di kediaman dari Ki Gede Mantyasih ini.
Dan ia sangat senang sekali atas kehadiran saudara angkatnya itu.
Ketika ia mengatakan bahwa Raka Senggani pernah bertarung dengan penguasa alas Siroban, para penghuni Tanah Perdikan itu tidak terkejut lagi.
" Senopati Brastha Abipraya tentu dapat mengalahkan nya bukan,.!?" tanya Rasala.
" Benar, Rasala, adi Senggani pun telah menaklukan penguasa alas Siroban itu,..!" jawab Lintang Sandika.
" Sebelum kalian berdua ini semakin ngawur dan ngelantur omongan nya, biarlah terlebih dahulu Angger Senopati ini makan, mungkin saat kemari tadi ia memang belum makan, Rasala, ajak ia untuk makan,..!" ucap Ki Gede Mantyasih.
" Mari Senopati Brastha Abipraya,..!" ajak Rasala.
Ia pun mengajak masuk ke dalam rumahnya., memang saat ini Raka Senggani merasakan bahwa perutnya susah minta diisi, karena seharian tadi ia terus berjalan.
Sehingga ajakan dari putra Ki Gede itu tidak di tolaknya.
__ADS_1