Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 16 KEHILANGAN. bag ke sembilan.


__ADS_3

Raka Senggani dan Sari Kemuning berjalan menuju pulang ketika sampai di sebuah pertigaan keduanya berhenti.


" Kemuning ,..kakang akan kembali ke rumah Ki Lamiran,.. kakang akan mengambil kuda yg ada disana,.." ucap Raka Senggani.


" Ingat kakang Senggani,..kakang harus singgah di rumah nanti,.." sahut Sari Kemuning.


" Beres,..kakang tidak akan lupa,..nanti kakang akan singgah di rumahmu.." jawab Raka Senggani.


Keduanya kemudian berpisah di pertigaan itu. Raka Senggani langsung pulang ke rumah Ki Lamiran,.dan disana ia masih melihat orang tua masih duduk di sebuah lincak dengan memegangi cangkulnya.


" Aki tidak ke pategala,..?" tanya Raka Senggani.


" Tidak Ngger,..aki sedang membetulkan beberapa peralatan,..mungkin besok baru ke pategalan,..!" jawab Ki Lamiran.


" Senggani ,..pamit,..Ki,.!" ucap Raka Senggani.


Sambil menyalami dan memeluk tubuh orangtua itu.


" Jadi Angger Senggani pulang hari ini ke Pajang,..aki pikir besok baru kembali,.." kata Ki Lamiran


Sambil menepuk nepuk pundak dari Senopati Pajang itu.


Setelah melepaskan pelukan nya,..Raka Senggani segera berjalan menuju kuda nya,.si Jangu.


Ia langsung melompat,..seraya berkata,.


" Ki ,..Senggani pamit,.." ucap Senopati Pajang itu.


" Ya,..hati -hati,..Ngger ,." jawab Ki Lamiran.


Raka Senggani kemudian menjalankan kudanya si Jangu,. keluar dari halaman rumah Ki Lamiran itu.


" Heaaahh,.."


Ia memacu si Jangu menuju rumah Ki Jagabaya. Dan tidak terlalu lama tibalah ia di rumah itu.


Tidak lama ia berada di situ kemudian Raka Senggani berpamitan setelah menerima sebuah bekal makanan yg di berikan oleh Sari Kemuning.


Senopati Brastha Abipraya itu kemudian berpacu menuju ke Pajang.


Saat mentari masih belum terlalu tinggi ia sudah meninggalkan Desa Kenanga.


" Heaaahh,..heaahhh,..!"


Si Jangu berlari dengan kencang nya. Membuat tubuh Senopati Pajang itu terguncang -guncang diatas nya.


Ketika matahari telah condong ke arah barat,.ia memasuki sebuah hutan.


Namun kecepatan si Jangu tidak di kuranginya. Ia terus memacunya ketika masuk ke dalam hutan itu.


Ketika tiba -tiba,..


" Sreeetttthhh,."


" Hiyyyyyahhh,.."


" Sheeet,.."


" Shhett,.."


" Heaaahh,.."


Sebuah tali tiba -tiba saja menghalanginya, terpaksa ia melompat tinggi ke udara guna menghindarinya.


Dan begitu tubuh nya melayang turun,..dua buah bambu runcing yg di ikat seperti sebuah rakit menyerang nya lagi.


Kembali ia harus berjumpalitan untuk menghindarinya.


Dan ia berhasil naik diatas salah satu kumpulan bambu runcing itu.


Senopati Pajang itu membawa turun benda itu ke atas Tanah.


" Hehh,..segera lah keluar dari persembunyian kalian,..cepat,.." seru Raka Senggani


Ia mengatahui beberapa pasang mata tengah memandangi dirinya.


Senopati Pajang itu tegak berdiri di jalan yg ada di hutan itu.


Tidak terlalu lama bermunculan beberapa orang dari gerumbul semak belukar itu dengan senjata ditangan


" Bagus,..ternyata kalian lah orang nya,.." seru Raka Senggani.


Senopati Pajang itu siap untuk bertarung ,.. dengan kakinya telah memasang kuda -kuda.


Ia menatap satu persatu orang -orang yg ada di tempat itu,.. ternyata jumlah nya cukup banyak. Mungkin hampir dua puluh orang.


Dengan sebuah suitan yg panjang,..orang -orang yg mencegat itu langsung menyerang..


" Ciaaat,.."


" Hiyyahhh,.."


" Hiyyaaat,.."


Tiga orang pertama menyerang dengan diikuti oleh tiga orang lagi.


Raka Senggani langsung melompat tinggi -tinggi menghindari nya.

__ADS_1


Namun terus ganti menyerang musuhnya yg masih diam tegak berdiri itu.


Empat orang langsung terjungkal akibat tendangan beruntun yg di berikan oleh senopati Pajang itu. Mereka tidak menyangka akan menjadi sasaran dari senopati Pajang itu,.sehingga mereka terlambat menghindarinya.


" Heaaahh,.."


" Dhieghh,."


" Dhieghh,."


" Dhessshk,.."


Kembali sang senopati Pajang itu bergerak dengan cepatnya menyerang kembali. Tiga orang menjadi korban.


Orang -orang yg mencegat senopati Pajang itu tertegun melihat tandang dari orang yg mereka cegat itu. mereka tidak mengira bahwa orang itu sangat cepat dan penuh tenaga,..sehingga teman -teman nya telah tujuh orang yg menjadi korban nya.


" Hehh,..mengapa kalian diam,.. Apakah kalian melihat hantu,.." seru seseorang dengan tenaga dalam nya.


Dan suara itu di lambari aji Gelap Ngampar,..dan itu sengaja di tujukan kepada Raka Senggani.


Hehh,..suara orang ini seperti kukenal,..ucap Raka Senggani dalam .


Ia mencoba mencari tahu keberadaan dari orang itu,..Raka Senggani menemukan nya sedang duduk di sebuah cabang pohon kayu yg cukup besar.


Disana Ternyata ia bersembunyi nya,..kata Raka Senggani lagi.


Teriakan orang itu membuat para pencegat itu segeralah bergerak mengepung Senopati Pajang itu lagi.


Sambil terus memainkan senjata nya masing -masing ,..mereka bergerak menyerang kembali Raka Senggani.


Kali ini Raka Senggani melayani serangan itu dengan senjata tongkat yg berkepala ular.


Gerakan tongkat yg ada ditangan nya itu segera memakan korban. Dua orang harus menahan kesakitan akibat terpukul pada pundak dan pinggang mereka.


Tetapi serangan dari teman -teman nya yg lain semakin menjadi,..seolah mereka tidak takut terhadap lawannya itu. Padahal sudah banyak korban yg jatuh.


Melihat hal itu Raka Senggani semakin meningkatkan kecepatan nya,..ia mengayunkan senjata tongkatnya itu.


Dan untuk ke sekian kali nya,..tongkat milik Ki Suganpara itu memakan korban lagi.


Ki Bawuk yg melihat hal itu segera bersuit nyaring.


Suitan itu pertanda bahwa mereka harus mundur,.


Para orang -orang yg mencegat itu melompat mundur dan menghilang di balik semak belukar itu.


Dan tidak terlalu lama,.. sesosok tubuh melayang turun dari cabang pohon menuju tempat Raka Senggani berdiri.


" Hebat,..hebat,..ternyata Senopati Pajang ini masih memiliki kemampuan nya ,..salah berarti,..apa yg telah ku dengar itu,.." seru orang itu.


" Singo Lorok,..." seru Raka Senggani


Ia agak kaget melihat orang yg ada di hadapan nya itu..karena beberapa waktu yg lalu .. pemimpin begal asal Gunung tidar itu,.tidak terlalu tinggi ilmunya. Akan tetapi setelah melihat caranya datang tadi ,ia memiliki ilmu peringan tubuh yg sangat tinggi,..mungkin sudah setara dengan gurunya si Singo Abra itu.


" Hehh,..Raka Senggani,..kita masih punya urusan yg belum terselesaikan,..dan aku harap dirimu mampu membayar nya pada hari ini,.." seru Singo Lorok.


Jari telunjuk murid dari Singo Abra itu menunjuk ke arah Raka Senggani.


" Yahh..kita memang punya urusan,..dirimu harus kembali ke tahanan Pajang,.. Singo Lorok,.." jawab Raka Senggani.


" He,..kembali ke tahanan kota Pajang,..jangan harap ,..yg ada adalah dirimu yg harus membayar hutang nyawa guru ku dan Kakang Singo Ireng,.." balas Singo Lorok.


" Apakah kau tengah bermimpi di siang hari,.. Singo Lorok,.. gurumu saja tidak mampu melawanku,.. apalagi dirimu,.." sahut Raka Senggani.


" Kau jangan berbangga dulu..Senggani,..mari kita buktikan,.." kata Singo Lorok.


" Baiklah,..jika itu yg kau inginkan,..kali ini,..Aku,..Raka Senggani tidak akan memberi mu ampun lagi..Singo Lorok,.." ucap Raka Senggani.


" Jangan harap kali ini kau akan mampu mengalahkan ku,.. terima ini,. heaaahh,.." teriak Singo Lorok.


Dari tangan nya keluar cahaya kehitam hitaman dan menghantam ke arah Raka Senggani.


Senopati Pajang itu terpaksa harus menghindari nya. Karena ia tahu itu adalah ajian Gelap Wancal seperti yg telah di terimanya ketika bertarung dengan Singo Abra, guru dari Singo Lorok itu.


Gila,.. ternyata ia telah mampu memiliki ilmu itu,..kata Raka Senggani dalam hati.


" Ha,..ha,..ha,..jangan seperti monyet,..yg bisa nya cuma berlompatan saja,.." seru Singo Lorok.


Ia tertawa,..melihat musuhnya itu karena Raka Senggani memang hanya menghindari serangan nya itu.


" Hehh,..Raka Senggani,..mungkin Loh Brangsang bisa engkau tipu,.tetapi tidak dengan Singo Lorok,.." ucap Singo Lorok lagi.


Raka Senggani melompat agak menjauh dari Singo Lorok itu. Ia berdiri tegak dengan mengepalkan tangan kirinya,. sementara tangan kanannya masih memainkan tongkat berkepala ular itu.


Memang ilmu orang ini sudah bertambah tinggi,..aku harus mampu mengalahkannya sebelum ia membuat kesulitan,.bagi orang desa kenanga,..kata Raka Senggani dalam hati.


Ia tampaknya akan mengerahkan Ajian Wajra Geni milik nya itu. Namun kali ini ia tidak akan tanggung menghadapi si Singo Lorok itu.


" Baiklah Singo Lorok,..jika itu memang maumu,.." kata Raka Senggani.


" Bagus,..itulah yg memang Ku tunggu Senggani,..hari ini dirimu harus mati di tanganku guna menebus dosamu yg telah membunuh guru dan kakak seperguruan ku itu,.." kata Singo Lorok lagi.


" Terima ini,.. Aji Gelap Wancal,..Heaahh,.."


Sambil melompat menyerang ,.Singo Lorok mengarahkan ajian gelap Wancal miliknya itu kearah Raka Senggani.


" Aji Wajra Geniiii,.. Heahhhh,.."

__ADS_1


Terdengar teriakan dari Senopati Pajang itu yg membenturkan ajian nya kearah Singo Lorok.


" Dhumbhh,.."


" Bleghuaaarrrr,.."


Kedua ajian itu beradu,..dengan menimbulkan suara ledakan yg kuat.


Setelah asap dari ajian Gelap Wancal itu menghilang terlihat keduanya tetap kokoh berdiri.


Hebat,..Singo Lorok ini,..hanya dalam waktu singkat ia telah mampu menahan ajian Wajra Geni milik ku ini,..kata Raka Senggani dalam hati.


Senopati Pajang itu cukup terkejut dengan peningkatan ilmu dari lawannya itu, padahal saat pertemuan terakhir disaat Singo Lorok itu menculik Tara Rindayu,..ia begitu mudahnya menjatuhkan nya sehingga dapat menangkap nya.Berbeda dengan kali ini,..ia masih kokoh berdiri tegak di tempat nya.


Tidak jauh berbeda dengan Raka Senggani,..Singo Lorok pun cukup terkejut setelah melihat benturan kedua ajian itu,..ternyata musuh yg paling di bencinya itu masih mampu berdiri tegak tanpa kurang suatu apa.


Padahal diriku telah memakan telur buaya putih guna menambah kemampuan dari tenaga dalam ku..akan tetapi mengapa ia masih mampu berdiri tegak seperti itu,.bertanya dalam hati Singo Lorok.


Di hatinya mulai di selimuti keragu-raguan akan hasil pertarungan nya itu.


Pantaslah ia mampu mengalahkan penguasa alam lelembut gunung Tidar itu,..ternyata kemampuan memang sudah sangat tinggi,..katanya lagi dalam hati.


Akan tetapi dendam di dalam hatinya itu sudah sangat menggunung jadi ia menepis segala keraguan dihatinya.


Aku harus mampu menghabisinya,.karena aku yakin ia tidak akan mampu menahan racun ,..sambil ku serang dengan ajian ku ,.golok ku ini pun akan kutebaskan ke lehernya,..kata Singo Lorok membathin.


" Bagaimana Singo Lorok,..apakah dirimu akan menyerah,..?" tanya Raka Senggani.


Sengaja Senopati Pajang itu memanas-manasi hati bekas pemimpin begal Gunung Tidar itu.


" Menyerah,..katamu..Senggani,..itu tidak akan pernah,..terima ini,.. Heaaahh,.." teriak Singo Lorok.


Kembali ia melontarkan ajian Gelap Wancal miliknya itu di barengi dengan sebuah lesatan tubuh nya yg menyerang dengan golok ditangan nya.


Raka Senggani yg menahan serangan itu dengan ajian Wajra Geni nya tidak menyangka bahwa lawannya itu akan langsung menyerang nya dengan senjata nya yg ada di tangan nya.


" Whusshhhh,.."


" Traaakkkh hhh,"


" Hehhh,.."


" Hiyyyyyahhh,.."


Singo Lorok terkejut bukan kepalang,..golok nya itu memang berhasil mendarat di tubuh Senopati Pajang itu yg terlambat menghindar,..tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yg di harapkan nya.


Ternyata tubuh dari Senopati Pajang itu tidak mempan di bacok oleh senjatanya itu,..malah golok nya lah yg gompal pada matanya,..ia pun segera melompat menjauh sambil menatap ke arah Raka Senggani dan goloknya bergantian.


" Sudah puas,..Lorok,..?" tanya Senopati Pajang itu.


Dengan nada mengejek ,. ia melihat ke arah murid dari Singo Abra itu yg masih keheranan.


Ternyata tenaga dalam nya belum mampu menembus ilmu kebal Raka Senggani itu.


" *******,..." teriak Singo Lorok.


Ia membuang senjatanya itu ke atas tanah. Dan nampak kali ini ia bersiap lagi dengan serangan nya.


" Sudahlah Singo Lorok,..lebih baik dirimu menyerah saja,.." seru Raka Senggani.


Singo Lorok yg telah gelap mata itu tidak memperdulikan lagi ucapan dari lawannya itu.Ia kembali menyerang.


" Heaaahhh,.. Gelap Wancal,.." teriaknya.


Kali ini Raka Senggani tidak langsung membalas serangan itu,.ia melompat menghindari nya,..karena ia takut akan serangan susulan seperti yg telah terjadi tadi.


Begitu serangan susulan tidak ada lagi ,.. Senopati Pajang itu barulah membenturkan ajian nya.


" Aji Wajra Geniiii,.. Heaahh,.." teriaknya.


" Dhumbhh,.."


" Bleghuaaarrrr,.."


Benturan yg terjadi tidak menghasilkan apa -apa,.. keduanya masih kokoh berdiri.


Kalau begini terus,..aku harus menghentikan nya,..kata Raka Senggani dalam hati.


Ia segera menyiapkan lagi ajian Wajra Geni milik nya itu,..tetapi kali ini ia mengerahkan seluruh nya ke tangan kirinya,.. tampaknya ia mengarahkan ke cincin yg diterima nya dari Sultan Demak itu.


Ketika serangan dari Singo Lorok itu menghantam nya,.. Senopati Pajang itu membalasnya dengan ajian Wajra Geni nya.


" Aji,..waaa,..jra,..geni...." teriak nya.


Benturan kedua ajian itu pun terjadi dan kali ini tampaknya berbeda.


Ternyata Ajian Wajra Geni milik dari Raka Senggani berhasil menerobos masuk setelah di keluarkan dari cincin yg di milikinya itu.


Singo Lorok terdorong ,..tampak tubuhnya terhuyung-huyung. Posisi nya goyah,..namun ia masih mampu mengerahkan Ajian Gelap Wancal nya itu untuk memyerang Raka Senggani.


Senopati Pajang itu memang melihat bahwa akibat yg di timbulkan dari cincin nya itu telah membawa pengaruh langsung menghantmkan lagi aji Wajra Geni nya.


Pada benturan kali ini tak ayal lagi ,..tubuh Singo Lorok itu terpental jatuh cukup jauh, Raka Senggani langsung melesat mengejarnya dan melihat keadaan murid Singo Abra itu.


Tetapi dari gerumbul semak belukar itu bermunculan lagi,..orang -orang yg tadi telah mencegatnya itu.


Mereka menyerang Senopati Pajang itu lagi,..terpaksalah ia melayani nya.

__ADS_1


__ADS_2