
" Begini angger Senopati, ternyata orang yg bernama Ki Jarie Mendep itu menantang Angger melakukan perang tanding,..!" jelas Ki Gede Mantyasih terus terang.
Raka Senggani langsung terdiam, dan tempat itu pun menjadi tenang seolah tidak ada penghuni nya, hening.
Sementara di halaman depan telah banyak penduduk tanah Perdikan Mantyasih yg sedang mengerjakan berbagai pekerjaan.
Bleketepe sudah terpasang dan janur kuning sudah menghiasi halaman rumah dan hampir di sepanjang jalanan tanah Perdikan .
" Ki Gede , kapan kiranya orang itu menentukan waktunya,.?" tanya Lintang Sandika penasaran memecah keheningan.
" Esok malam Ngger, bertepatan dengan acara Angger Rasala,..!" sahut Ki Gede.
" Hahh,..besok malam,.!" seru beberapa orang yang ada di situ.
Mereka cukup terkejut mendengarnya.
" Apakah ini bukan semacam jebakan, Ki Gede,..?" tanya Raka Senggani kepada pemimpin tanah Perdikan Mantyasih ini.
" Maksud Angger Senopati, bagaimana..Aki tidak mengerti ,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.
Raka Senggani pun menjelaskan bahwa jika sekiranya ia pada esok malam menerima tantangan perang tanding tersebut, sedangkan di Mantyasih sendiri hajatan tetap berlangsung, baru kemudian yg lain diantara rombongan dari Ki Jarie Mendep itu datang dan mengacaukan hajatan yg sedang di gelar itu, karena tentunya saat ini kekuatan mereka bertambah dengan hadirnya Tumenggung Gajah Ludira, akan sangat sulit sekali untuk mengalahkan mereka.
Ungkap Senopati Brastha Abipraya menjelaskan kepada Ki Gede Mantyasih.
" Atau malah sebaliknya,.. Angger Senopati,.!" seru Ki Gede Mantyasih.
Dan kali ini Raka Senggani lah yg tidak faham maksud ucapan dari orang tua Rasala itu.
" Sebaliknya bagaimana , Ki Gede,.?" tanya Raka Senggani penasaran.
Kali ini Ki Gede lah yg menjelaskan bahwa ada kemungkinan nya bahwa orang yg berjuluk Selaksa racun berkeinginan untuk menjebak Raka Senggani , mereka yang memang cukup banyak jumlahnya dan memiliki ilmu yg rata rata tinggi, tentu berkeyakinan dapat mengalahkan Senopati Brastha Abipraya ini dengan jalan tidak terpuji yaitu mengeroyoknya.
" Mungkin juga,..Ki Gede,..!" sahut Raka Senggani.
Kembali suasana hening menghinggapi pendopo rumah Gede Mantyasih ini, masing-masing larut dengan pikiran nya sendiri sendiri.
" Hehh, begini saja Ki Gede, sebaiknya lah Angger Senopati ini mendatangi Angger Anggono guna meminta kejelasan mengenai tantangan perang tanding itu, sementara ia menemui Angger Anggono disini kita memutuskan apa langkah yang harus kita ambil guna menangkal maksud jahat dari Si Jarie Mendep itu,.!" ucap Mbah Katir dengan pelan.
Ia memang sedikit banyak agak mengetahui sikap dari orang yang bernama Ki Jarie Mendep itu, yg selalu merasa tertantang jika ada orang memiliki kemampuan sangat tinggi, bahkan mungkin di atasnya, ia tentu akan coba menjajal nya.
" Kalau memang demikian, Izinkanlah Senggani menemui Anggono bersama Kakang Sandika,.!" kata Raka Senggani.
Karena memang Ki Gede Mantyasih nampak masih diam saja, ia.memang berfikir keras maksud tantangan Ki Jarie Mendep ini tepat pada hajatan nya di langsungkan, apakah ada sesuatu yg ingin mereka kerjakan setelah kepergian Senopati Brastha Abipraya dari Mantyasih ini , begitulah yg ada di benaknya.
Dan setelah mendengar ucapan dari Raka Senggani itu, Gede Mantyasih pun mengangguk seraya berkata,
" Pergilah, siapa tahu ada sesuatu yg di dapat dari Anggono,..!" ucapnya.
Begitu mendapatkan izin, bergegaslah Raka Senggani keluar menuju ke pos perondan yg berada di ujung desa tanah Perdikan Mantyasih ini.
Memang meski di siang hari, kali ini para pengawal tanah Perdikan Mantyasih selalu berjaga jaga guna kelancaran dan keamanan dari hajatan yg akan di langsungkan di rumah penguasa tanah Perdikan ini.
Keadaan di tanah Perdikan Mantyasih telah beranjak sore, sehingga terlihat cukup banyak orang-orang yang hendak pulang setelah mereka habis bekerja di sawahnya atau pun di tanah pategalan, mereka ini sempat pula berpapasan dengan Raka Senggani dan saudara angkatnya itu.
Umumnya para penduduk dan warga dari pedukuhan induk Mantyasih ini mengenal kedua pemuda itu terlebih bagi Lintang Sandika yg telah menjadi salah satu warganya.
Meski demikian keduanya pun dapat sampai dengan cepat di tempat yang mereka tuju yaitu pos perondan ujung dimana Anggono berada.
Setibanya disana Raka Senggani langsung bertanya,.
" Apa bunyi tantangan itu ,. Anggono,..?" tanya nya kepada pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini.
Anggono pun meraih sebuah daun lomtar , seraya menyerahkan nya kepada Raka Senggani. berdua mereka membacanya.
__ADS_1
" Tampaknya memang Ki Jarie Mendep itu ingin mengajakmu berperang tanding di tempat dimana dirimu menghajar Tumenggung Gajah Ludira , adi Senggani,..!" ucap Lintang Sandika yg turut membaca surat tantangan tersebut.
" Bagaimana kau mendapatkan surat tantangan ini Anggono,..?" tanya Raka Senggani kepada Anggono
Pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini menjelaskan bahwa surat tantangan itu di berikan oleh seorang yg sudah berusia sangat tua , dan orang itu pun menyebutkan jika Senopati Brastha Abipraya memang memiliki keberanian datanglah kesana seorang diri saja .
Demikian lah yang di sebutkan oleh Anggono menjelaskan.
" Apakah ia menyebutkan siapa namanya, Anggono,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Eee,..kalau tidak salah ia mengatakan namanya adalah Ki Jarie Mendep , Kakang Senopati,..!" jawab Anggono
" Hehh, mengapa ia sendiri yang mengantarkan surat tantangan itu, aneh,..?" berseru Lintang Sandika.
Naluri prajurit sandinya pun langsung mengatakan bahwa ada niatan yg tersembunyi dari orang yang bernama Ki Jarie Mendep ini.
" Adi Senggani, apa mungkin yg disebutkan oleh Ki Gede itu,..!?" tanya nya kepada Raka Senggani.
" Maksud kakang , mereka akan mengeroyokku, begitu,..!" tandas Raka Senggani.
" Iya, mereka memang akan mengeroyok adi Senggani, mungkin Ki Jarie Mendep ini berkeyakinan tidak mampu untuk membunuh mu seorang diri, tentu dengan murid murid nya ia akan mampu mengalahkan mu, adi,..!" terang Lintang Sandika.
" Jadi menurut Kakang Sandika , langkah apa sebaiknya yg harus Senggani ambil,..?" tanya Raka Senggani kepada kakak angkatnya ini.
Lintang Sandika berfikir sejenak, ia memang kesulitan untuk menemukan jalan terbaik guna mengatasi jebakan dari orang yang berjuluk Selaksa racun itu.
" Kalau kita menghubungi Lurah Lintang Jaka Belek dan Lurah Lintang Panjer Suruf bagaimana,..?" tanya Lintang Sandika.
Putra Tumenggung Bahu Reksa ini memang berniat untuk memberitahukan kepada prajurit dari kesatuan sandi yuda Demak.
Ia berharap bahwa sepak terjang dari Tumenggung Gajah Ludira ini dapat di ketahui oleh pihak Kotaraja Demak.
" Apa mungkin kita dapat menghubungi mereka secepat itu, bukankah waktunya tinggal besok malam saja, Kakang,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Atau begini saja Kakang,..!" ucap Raka Senggani.
Ia membisikkan sesuatu ke telinga kakak angkatnya itu, dan terkejutlah ia di buatnya.
" Mungkin itu suatu cara yang sangat baik, dan jika nanti ada diantara dari mereka yang akan masuk ke dalam tanah Perdikan ini, biarlah diantara kami berdua yg akan memberitahukan kepada Ki Gede,..!" ungkap Lintang Sandika.
Akhirnya kedua orang ini pun meninggalkan pos perondan itu, mereka membiarkan Anggono tetap berjaga disana.
Keduanya pun kali ini langsung menuju rumah dari Lintang Sandika, sejenak mereka akan berada disana sampai malam tiba.
********
Di lain tempat , dan tidak terlalu jauh dari tanah Perdikan Mantyasih ini, terlihat lima orang tengah duduk di luar sebuah goa .
Mereka itu adalah Ki Jarie Mendep, Tumenggung Gajah Ludira, Rangga Ranujaya, Rangga Sungkana dan Dharsasana.
Tampak nya mereka tengah memperbincangkan sesuatu yg sangat penting.
" Bagaimana sebenarnya rencana guru mengenai perang tanding yg akan dilakukan pada esok malam itu ,..?" tanya Tumenggung Gajah Ludira kepada gurunya ,Ki Jarie Mendep.
Sambil memandangi ke sekeliling nya, orang tua itu kemudian berkata,.
" Pada esok malam kita harus berhasil membunuh Senopati Pajang itu, dan baru setelah nya kita kacau kan pesta pernikahan putra Gede Mantyasih itu, Ludira,..,!" terang Ki Jarie Mendep.
" Lalu bagaimana dengan keinginan ku itu , Guru,..?" tanya Dharsasana.
" Ahh, kau tidak usah khawatir Dharsana,..besok malam si Tri Wandari itu akan menjadi milikmu dan ia tentu tidak akan menangisi kematian dari suaminya itu,.sebab telah ada kau yg menggantikan nya,.!" jawab Ki Jarie Mendep.
Dharsasana tampak senang mendengar ucapan dari gurunya itu meski masih kurang mapan dalam hatinya.
__ADS_1
" Guru, apakah diirimu yakin akan mampu mengalahkan Senopati Pajang itu seorang diri,..?" tanya Dharsasana kepada gurunya.
" Ahh, percuma kalian disini ada, nanti kalian sendiri lah yg akan membunuh Senopati Brastha Abipraya itu, sedangkan aku hanya akan menonton saja , terkecuali ada sesuatu yg di luar dari perhitungan ku,..!" jelas Ki Jarie Mendep.
Baik Tumenggung Gajah Ludira maupun Dharsasana merasa aneh dengan ucapan dari sang Guru yg menyebutkan bahwa mereka yg akan membunuh Senopati Pajang tersebut.
" Bukan kah surat tantangan itu atas nama guru bukan salah satu diantara kami, mengapa kami yg akan membunuh nya, Guru.?" tanya Tumenggung Gajah Ludira penasaran.
Akhirnya orang tua yg berjuluk Si Selaksa racun ini menjelaskan bahwa saat tempat itu kedatangan dari Senopati Pajang , maka kedua muridnya ini lah yg harus bersiap untuk melawannya, nanti dia sendiri yg akan menyerang nya dengan senjata rahasia dari tempat yg tersembunyi dan akan dapat melumpuhkan nya sehingga akan memudahkan untuk menghabisi riwayat dari sang Senopati ini.
Kedua murid nya baru mengerti maksud dari Gurunya itu.
" Guru, apakah tidak akan terlalu lama, bagaimana dengan usaha kita mengacaukan hajatan Ki Gede Mantyasih itu,..?" tanya Dharsasana.
" Jangan terlalu risau kau Dharsana, tenang saja, Tri Wandari pasti akan menjadi milikmu, setelah Senopati Pajang itu dapat kita habisi, selanjutnya adalah Gede Mantyasih dan putra nya itulah yg akan kita habisi, dan kau dapat mengambil janda nya itu, !" jelas Ki Jarie Mendep.
Saudara seperguruan dari Resi Brangah ini memang datang ke tanah Perdikan Mantyasih ini guna membalaskan dendam kepada Ki Gede Mantyasih.
Ia sangat membenci sekali atas kematian dari Resi Brangah di tangan Ki Gede.
" Jadi , kalian berdua harus bersiap, jangan rencana yg telah ku rancang ini menjadi gagal karena nya, jika tetap dalam keadaan seperti rencana, tentu kita dapat mengatasi orang -orang dari Mantyasih ini,.!" kata Ki Jarie Mendep.
Terlihat orang tua ini berambisi sekali dapat membunuh Ki Gede Mantyasih bahkan juga senopati Brastha Abipraya.
*******"""
Di Mantyasih sendiri , Raka Senggani yg berada di rumah kakak sepupu nya segera berangkat menuju kediaman Gede Mantyasih setelah malam menyelubungi tanah Perdikan itu.
Bagaimana pun juga, ia dan Lintang Sandika kakak sepupu nya ini akan membicarakan mengenai masalah perang tanding itu.
Raka Senggani juga ingin mengetahui keadaan dari Raka Yantra yg tampaknya telah masuk dalam pemulihan di rumah Ki Maruta.
Setibanya di rumah Ki Gede Mantyasih , rumah tersebut sudah sangat ramai, pada malam itu penguasa tanah Perdikan ini tengah mengadakan semacam acara doa selamatan demi kelancaran proses pernikahan dari Rasala putra Ki Gede Mantyasih tersebut.
Tidak terlalu lama setelah acara doa itu selesai maka para pini sepuh Tanah Perdikan Mantyasih ini berkumpul.
Termasuk yg hadir ada Ki Jagabaya, Mbah Katir, Ki Lonowastu , beberapa orang Bekel pedukuhan yg ada di tanah Perdikan ini.
Raka Senggani dan Lintang Sandika pun turut nimbrung pada pertemuan kali ini.
Ki Gede Mantyasih membuka percakapan dengan bertanya kepada Ki Jagabaya.
" Apakah pada malam ini para pengawal telah bersiap di tempat nya masing-masing,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.
" Sudah Ki Gede, Bahkan kali ini Anggono telah melakukan kerjasama dengan tanah Perdikan Banyu Biru untuk mengamankan kelangsungan dari hajatan ini,!" jawab Ki Jagabaya.
Kepala Ki Gede Mantyasih tampak manggut-manggut mendengar ucapan dari Ki Jagabaya ini, meski dalam hatinya masih tersimpan banyak pertanyaan akan apa yg terjadi pada esok malam.
Saat matanya tertumbuk pada Raka Senggani, langsung saja Ki Gede Mantyasih bertanya kepada sang Senopati.
" Angger Senopati, apa rencana mu untuk mengatasi masalah yang akan terjadi pada esok malam, apakah kalian mendapatkan sesuatu dari Angger Anggono,..,?" tanya nya pada Raka Senggani.
Raka Senggani menatap ke sekeliling ruangan itu , ia merasa pada saat ini banyak mata tertuju pada nya setelah adanya tantangan dari si Selaksa racun itu.
Banyak orang yang menjagokan dirinya yg akan keluar sebagai pemenangnya, karena mereka sangat mengetahui kemampuan dari Senopati agul agul kadipaten Pajang ini.
" Begini Ki Gede, berhubung waktunya sudah sangat sempit sekali, jadi Senggani akan datang sendiri ke tempat itu tanpa di dampingi oleh siapapun,..!" terang Raka Senggani.
" Itu sangat berbahaya sekali, Angger Senopati, sebaiknya lah dirimu membawa beberapa orang yang dapat segera memberitakan kemari jika sesuatu yg tidak di inginkan terjadi disana,..!" ungkap Ki Gede Mantyasih.
Senopati Brastha Abipraya ini melanjutkan lagi ucapan nya,.
" Ki Gede , izinkanlah aku membawa Kakang Lintang Sandika dan Ki Lonowastu datang kesana, namun mereka berdua akan datang dan tiba disana belakangan setelah diri ku bertarung dengan si Selaksa racun itu..!" terang Raka Senggani.
__ADS_1
" Benar Ki Gede,..kami pun tidak dapat meninggalkan tanah Perdikan Mantyasih ini begitu saja, sebab ada kemungkinan nya orang yang menjadi pelaku penculikan bayi itu akan masuk lagi kemari, mereka mendapatkan kesempatan dengan adanya acara pesta hajatan ini,..!" sahut Lintang Sandika.