
" Kalau begitu aku harus pamit dahulu ,Ki Lurah, jika ada sesuatu yg penting segera beri kabar kepadaku,.Mari,..!" ucap Raka Senggani.
Senopati Bima Sakti ini lantas naik ke atas punggung si Jangu kudanya.
" Silahkan Senopati Bima Sakti,..!" sahut Ki Lurah Lintang Jaka Belek.
" Heahh,..!"
" Heahh,..!"
Raka Senggani kemudian memacu kudanya dengan kencang, meskipun malam masih menyelubungi kadipaten Pajang ini tetapi ia tetap saja melanjutkan perjalanan nya menuju desa Kenanga.
Saat pagi menjelang, Senopati Bima Sakti ini terus saja menjalankan si Jangu.
Ketika mentari telah berada di atas kepala barulah ia memasuki batas desa Kenanga.
Hatinya berdegup sangat kencang ketika ia telah melewati rumah kediaman dari Ki Bekel, sebab setelah rumah ini adalah rumah Ki Jagabaya, dimana istrinya Sari Kemuning berada.
Setibanya di depan pintu pagar rumah Ki Jagabaya , Raka Senggani turun dari kudanya, ia menuntun si Jangu masuk ke dalam.
Di lihat nya di dalam rumah Ki Jagabaya ini telah ramai orang.
Lantas Raka Senggani bertanya kepada Jati Andara yg tengah berdiri di halaman rumah tersebut.
" Ahhh,..kakang Andara , apa khabarmu, dan apakah yg telah terjadi, mengapa ramai sekali disini,..?" tanya nya kepada putra Ki Bekel ini.
" Baik adi Senggani, bagaimana denganmu, ?" balik Jati Andara bertanya.
" Demikian pula dengan ku, Kakang Andara,..ahh Kakang belum menjawab pertanyaan ku ,.apa yang sedang terjadi disini,..?" tanya nya lagi.
" Adi Senggani telah menjadi seorang ayah,..!" jawab Jati Andara pendek.
" Hahh,..benarkah,..?!!" seru Raka Senggani kaget.
Buru -buru ia masuk ke dalam rumah mertuanya ini.
" Adi,..basuh lah terlebih dahulu kaki dan tangan mu,..!" ucap Jati Andara agak keras.
Ia mengingatkan kepada teman sekaligus gurunya tersebut.
Dan Raka Senggani pun lantas menuju pakiwan sebelum masuk ke dalam.
Sedang di dalam rumah Ki Jagabaya sendiri, Sari Kemuning yg mendengar khabar bahwa sang suami telah kembali hatinya senang sekali.
" Biyung, benarkah kakang Senggani telah kembali,..?" tanya nya kepada ibundanya.
" Benar,..Ndhuk,. sebentar lagi ia masuk, saat ini sedang ke Pakiwan ,..!" sahut Nyi Jagabaya.
Dan tidak terlalu lama muncullah Raka Senggani di dalam bilik Sari Kemuning.
" Kakang,..!" seru Sari Kemuning.
" Kemuning,..!" sahut Raka Senggani.
Ia lantas memeluk istrinya tersebut seraya mencium kening nya.
" Ini anakmu , Kang,..!" ucap Sari Kemuning pelan.
Raka Senggani kemudian mengambil bayi laki laki yg montok itu, ia kini sedang terlelap dalam tidurnya.
Raka Senggani sangat senang sekali melihat putra nya ini tampak sehat , ia menggendong bayi nya tersebut.
" Kang,..nama apa yang akan kau berikan pada bayi kita ini, ..?" tanya Sari Kemuning.
Ia masih terbaring lemah di amben bambu tempat tidurnya.
" Akan ku beri nama, Rakasara Wirya,..Kemuning,..!" jawab Raka Senggani.
__ADS_1
" Rakasara Wirya,..Kang ,..?" tanya Sari Kemuning.
" Iya,.. Rakasara merupakan perpaduan antara nama kita berdua yaitu Raka dan Sari, sedangkan Wirya adalah keberanian yang luar biasa,.!" jelas Raka Senggani.
" Nama yg bagus Kakang,..!" ucap Sari Kemuning.
Ia berusaha untuk duduk di tempat pembaringan nya dan melihat ke arah putera nya yg masih di gendong oleh suaminya itu.
" Kang, bagaimana urusanmu di Demak, apakah Paman Tumenggung Bahu Reksa dapat menerima keputusan yang kakang ambil itu,..?" tanya Sari Kemuning.
" Alhamdulillah, ternyata memang Paman Tumenggung Bahu Reksa telah mengambil keputusan untuk memberhentikan diriku dari keprajuritan Demak, ini diambilnya untuk menyelamatkan diri ku dari ulah orang yang tidak senang kepada keluarga dari Kanjeng Pangeran Sabrang Lor,.sehingga kini kakang sudah tidak tersangkut lagi dengan keprajuritan Demak , akan tetapi saat ini kakang di mintai bantuan untuk menyelidiki sesuatu,..!" terang Raka Senggani.
" Hal apa yang akan Kakang selidiki itu,..?" tanya Sari Kemuning penasaran.
Setelah melihat keadaan sekeliling bilik itu tidak ada orang lagi , Raka Senggani kemudian membisiki sesuatu di telinga istrinya .
" Hahhh,..!" seru Sari Kemuning kaget.
" Suatu pekerjaan yang cukup berat,..Kang,..!" ucapnya lagi.
Raka Senggani menganggukkan kepalanya , namun ia memang telah berjanji kepada Tumenggung Bahu Reksa , orang tua angkatnya ini melakukan hal tersebut.
" Kapan kakang akan perginya,..?" tanya Sari Kemuning lagi.
" Mungkin satu purnama lagi, tetapi entahlah, kakang belum dapat memastikan waktunya, yg jelas kakang memang harus memenuhi permintaan Paman Tumenggung Bahu Reksa , dan tentu ini tidak terikat dengan waktu,.ia pun tidak terlalu memaksakan,..!" jelas Raka Senggani.
Akhirnya kedua pasangan suami istri ini saling melepas rindu setelah beberapa lama tidak bertemu.
Rasa bahagia jelas terpancar raut wajah keduanya, terlebih dengan Raka Senggani, ia sangat senang sekali memiliki putra dari Sari Kemuning , istrinya itu.
Dalam hati Senopati Bima Sakti ini berjanji akan menjaga keduanya dengan segenap kemampuan nya.
Demikianlah , hari terus berlanjut.
Raka Senggani dan istrinya Sari Kemuning telah pindah rumah ke kediaman mereka yg berada di tanah pategalan si Mbok Rondo.
Datanglah tamu di kediaman mereka ini.Yang tiada lain adalah Lurah Lintang Jaka Belek.
Ia mengatakan kepada bekas pemimpin nya ini untuk segera ke Rawa Pening guna menelusuri jejak dari dua pusaka Demak yg menghilang itu.
Ki Lurah Lintang Jaka Belek di temani pula dengan Japra Witangsa dan Jati Andara yg juga merupakan prajurit sandi yuda Demak.
Keduanya masuk sebagai seorang prajurit Demak atas usulan dari Raka Senggani sendiri.
" Begini Senopati Bima Sakti,..saat ini ia sekitar Rawa Pening telah hadir tokoh tokoh persilatan yang menginginkan kedua pusaka piyandel kerajaan Demak itu, mereka sepertinya akan merebutnya dari tangan si tua Gila bukit tuntang tersebut,..!" terang Lurah Lintang Jaka Belek.
Raka Senggani yg masih memandangi wajah istrinya , kelihatan masih berat untuk meninggalkan mereka berdua sehingga ia masih bingung untuk memutuskan langkah yang akan diambil nya.
" Adi,.. sebaiknya lah berangkat ke bukit Tuntang , biarlah disini kami yg akan menjaganya,..!" ucap Japra Witangsa.
Nampak kakak iparnya ini bersungguh-sungguh dengan ucapan nya.
Apakah sedemikian penting nya hal ini, sehingga kakang Witangsa pun telah memintaku untuk segera kesana. kata Raka Senggani dalam hati.
" Masih ada yg mengganjal di hatiku , Ki Lurah dan Kakang Witangsa,..!" ucap Raka Senggani pelan.
" Mengenai masalah apa itu, Senopati,..?" tanya Lurah Lintang Jaka Belek.
Tidak seperti biasanya , bekas Senopati nya ini tampak ogah ogahan dalam melakukan sesuatu.
" Apakah kalian mengetahui keadaan ku di kotaraja Demak,. katakanlah kedudukan ku sebagai orang yang pernah dekat dengan Kanjeng Gusti Sultan Demak yg kedua beserta keluarga nya, apakah hal ini tidak ada hubungannya akan hal tersebut,..?" tanya Raka Senggani.
Ki Lurah Lintang Jaka Belek , Japra Witangsa dan Jati Andara saling berpandangan. Mereka bertiga memang mendapatkan kabar bahwa Senopati Bima Sakti ini telah di cegat oleh orang orang dalam istana ketika beliau akan kembali ke desa Kenanga , di hutan perburuan dekat Kotaraja Demak.
Sehingga memang cukup wajar jika ia menanyakan hal tersebut.
" Maaf sebelumnya Senopati Bima Sakti, kalau menurut kami ini tidak ada hubungan nya dengan hal tersebut,..namun satu hal yang membuat kami yakin adalah keinginan dari Kanjeng Sultan Trenggana untuk mendapatkan kembali kedua pusaka tersebut melalui Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa yg menurutnya pantas untuk mencarinya,.!" terang Ki Lurah Lintang Jaka Belek.
__ADS_1
Ia juga menambahkan saat Tumenggung Bahu Reksa mendapatkan titah dari Sultan Trenggana itu, hanya satu nama yang ia yakini mampu menjalankan nya yaitu Senopati Bima Sakti.
Atas penjelasan dari Lurah Lintang Jaka Belek , hati Raka Senggani menjadi mantap , ia segera akan ke bukit Tuntang secepatnya.
" Baiklah kalau begitu, aku mempercayai ucapan kalian,. apakah yg harus pertama kulakukan, apakah langsung bertanya kepada Begawan Kakung Turah atau ada sesuatu yang lain,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Oleh Ki Lurah Lintang Jaka Belek, Raka Senggani kemudian di sarankan untuk menemui penguasa Gunung Lawu, dikarenakan beliau memiliki hubungan yang sangat erat hubungannya saudaranya itu.
Raka Senggani pun setuju , ia lantas berpesan kepada kedua orang sahabat nya untuk mau menjaga anak dan istrinya selama kepergian nya.
" Kami berdua siap menjalankan perintah Adi Senggani, bahkan kali ini seluruh kekuatan sandi yang ada di Pajang ini akan menjaga mereka,.!" ucap Jati Andara.
Selesai pertemuan itu, pada keesokan harinya Raka Senggani pun segera bergerak menuju ke Gunung Lawu ia akan meminta pendapat dari Panembahan Lawu.
Seharian ia berjalan sampailah di padepokan Panembahan Lawu ini.
Senopati Bima Sakti di sambut dengan gembira oleh Eyang Lawu.
Pemimpin dari padepokan ini terlihat semakin sepuh saja, dan mulai agak sakit sakitan.
Sehingga kedatangan Raka Senggani membuat hatinya semakin senang saja.
" Apakah dirimu telah berniat untuk menetap disini ,.Ngger,..!" ucap Panembahan Lawu itu dengan nada berkelakar.
" Ahh,..Eyang Panembahan,..Senggani kemari ingin menanyakan sesuatu,..!" sahut Raka Senggani.
Tanpa tedeng aling aling ia kemudian menceritakan tugas nya kali ini yg harus di hadapkan dengan penguasa Bukit Tuntang di Rawa Pening.
Mendengar hal ini sambil tersenyum Panembahan Gunung Lawu menjawab ucapan nya,.
" Ngger,..anakku Raka Senggani,..setiap kekuasaan itu pasti ada batas nya, dan setiap kita pasti akan menemui yg namanya kematian,.akan hal nya dengan piyndel yg hilang dari Demak ini meruoakan bukti bahwa memang peralihan kekuasaan itu akan segera datang dan tampaknya waktunya tidak terlalu lama lagi,..!" terang Panembahan Lawu.
Ia juga menambahkan , jika memang pelaku dari pencurian kedua pusaka tersebut adlaah saudara seperguruan nya,.kemungkinan besar akan sangat sulit untuk di minta kembali. Raka Senggani yg heran dengan ucapan orang tua yg telah dianggap nya sebagai gurunya tersebut lantas bertanya.
" Maaf sebelumnya Eyang,.apa yang menyebabkan nya demikian,..?" tanya nya kepada Eyang Panembahan Lawu.
Penguasa Gunung Lawu ini menjelaskan bahwa selain memiliki kesaktian yang sangat tinggi,. Begawan Kakung Turah juga memiliki pendirian yang sangat teguh,.nyawa nya pun akan pertaruhkan demi sesuatu yg ia yakini kebenarannya.
" Ngger,..di Demak ini mungkin hanya bisa di hitung dengan jari yg mampu menandingi kesaktian Kakang Argayasa,.., mungkin hanya Anakmas Raden Said dan anakmas Raden Ja' far Shadiq saja yang bisa melawannya, tetapi jika dirimu memang ingin menjajal kemampuan nya, boleh lah kalau hanya sekedar ingin mengetahuinya,..!" terang Panembahan Lawu lagi.
Raka Senggani menjadi termenung mendengar penjelasan Penguasa Gunung Lawu ini, ia merasa bahwa ternyata di tlatah Demak ini masih banyak menyimpan seorang yg berilmu tinggi.
" Bagaimana dengan Mpu Loh Brangsang ,..Eyang,..?" tanya Raka Senggani.
" Hehh,..Loh Brangsang itu memang hampir setingkat dengan Kakang Argayasa , tetapi kelebihan dari Begawan Kakung Turah ini adalah banyak nya ilmu yang di miliki nya hampir sama dengan mu, sehingga Eyang dapat menyarankan untuk dirimu agar bertemu dengan nya,..jika kemudian terjadi benturan dengan nya mintalah agar ia tidak sampai membunuh mu,..!" ungkap Panembahan Lawu.
Dari perkataannya ini terasa bahwa penguasa Gunung Lawu ingin mengetahui apakah memang ada niat yg kuat dari Raka Senggani untuk bertarung dengan kakak seperguruan nya itu.
" Eyang,.bukan nya Senggani merasa memiliki ilmu yang sangat tinggu sehingga harus berbenturan dengan Eyang Begawan Kakung Turah, melainkan semata mata hanya melaksanakan janji kepada Paman Tumenggung Bahu Reksa yg telah Senggani sanggupi untuk melakukan nya,.!" jawab Raka Senggani.
Sesungguhnya jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam Senopati Bima Sakti ini sudah ingin berhenti dengan yg namanya pertarungan, terlebih setelah ia memiliki momongan.
Hatinya sudah sangat gembira sekali dengan anugerah yang di berikan oleh yg Maha kuasa itu atas dirinya. Tetapi janji adalah janji,.ia telah menyanggupi permintaan dari orang tua angkatnya ini untuk menelusuri jejak dan keberadaan dari dua buah pusaka yang menjadi sifat kandel kekuasaan atas Tahta Demak.
" Saran Eyang terhadap mu,.Ngger, jangan terlalu mengikuti perasaan, jadilah orang yang mampu menilai sesuatu itu dari mana kita berasal dan darimana kita mendapatkan nya, tidak ada yg abadi di dalam dunia kecuali yg Maha kuasa,..jadilah dirimu sendiri , jangan jadi orang lain, Eyang senang atas keteguhan sikap mu dan juga janji mu, Eyang tidak dapat mencegah mu untuk menemui Kakang Argayasa , semoga pertemuan kalian akan menjadi pertemuan yg baik, meski Eyang sangat memahami sikap dari saudara seperguruan Eyang itu,..!" tutur Panembahan Lawu.
Mereka kemudian membicarakan masalah lain mengenai kehidupan dari Raka Senggani sendiri.
Senopati Bima Sakti ini dengan sangat senang sekali mengatakan bahwa kinj dirnya telah menjadi orang tua alias menjadi seorang ayah.
Panembahan Lawu yg mendengar nya turut gembira , ia mengucapkan selamat atas kelahiran putra pertama dari Senopati Bima Sakti ini.
Sekira dua malam berada di puncak Gunung Lawu, sembari menerima banyak wejangan dari penguasa Gunung tersebut, maka Raka Senggani pun melanjutkan perjalanan nya menuju arah barat tepatnya ke arah Rawa Pening.
Apapun masalah yang akan dihadapinya ia telah siap. Jika memang harus berbenturan dengan Penguasa Bukit Tuntang ini , ia pun telah siap.
Kali ini dengan berjalan kaki ia mulai menapaki menuju ke sana.Hal ini ia lakukan semata mata agar lebih banyak melihat keadaan wilayah kerajaan Demak dari dekat sejak di pimpin oleh Kanjeng Gusti Sultan Trenggana.
__ADS_1
Sultan Demak yg ketiga.