Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 19 Hari yang Baru. bag ke tujuh.


__ADS_3

Malam itu di kota Pajang, kedua murid dari Mpu Loh Brangsang tersebut masih saja bertengkar mengenai hal tentang Raka Senggani.


Mereka berdua menginap di suatu penginapan yg cukup ramai di kota kadipaten itu.


Tujuan mereka adalah akan kembali ke Puncak Merapi atas perintah dari Mpu Loh Brangsang .


Karena sebelumnya mereka telah mendangar bahwa dua kakak seperguruan mereka telah tewas di alas Mentaok.


" Kakang Kuda Wira jangan terlalu mmebicarakan nama Senopati Pajang itu disini, nanti kita akan dapat masalah,." ungkap Dewi Rasani Mayang.


" Aku tidak takut,.kalau pun ada prajurit telik sand Pajang yg mendengar nya , dan melaporkan hal ini kepada si Senggani itu, aku siap bertanggung jawab, " sahut Raden Kuda Wira.


Gadis itu menggeleng -gelengkan kepalanya, karena ia memahami sikap keras kepala pemuda yg merupakan kakak seperguruannya itu.


Walaupun sudah cukup lama bersama, tetapi terkadang ia tidak mengerti jalan pikirannya.


Demikian pula dengan Raden Kuda Wira, ia merasa cemburu jika gadis itu terus saja memuji -muji Senopati Pajang tersebut.


Akhirnya kedua nya berbicara mengenai Tara Rindayu,..


" Dimana sekarang adi Rindayu,..mengapa keluarganya meminggalkan desa Kenanga ,.?" tanya Raden Kuda Wira.


" Mengapa kakang Witangsa tanyakan hal itu ,. apakah kakang Kuda Wira merindukannnya ,..?" tanya gadis itu penuh selidik.


" Yah , tentu aku merindukan nya , karena selain ia sangat cantik , adi Rimdayu tidak suka membantah dan berlaku kasar,..dimana ia sekarang, Hehh,.." jawab Raden Kuda Wira.


" Jadi kakang mengatakan bahwa Mayang adalah seorang yg kasar dan suka membantah,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.


Pertanyaannya dengan nada yg keras membuat orang -orang yg ada di penginapan kota Pajang itu pada melihat ke arah mereka berdua.


Raden Kuda Wira tidak mennaggapi pertanyaan adik seperguruan nya itu, ia takut malah gadis itu bertambah marah, lagian mereka sedang berada di tempat ramai.


Tetapi sebenernya pun, dewi Rasani Mayang memang kehilangan atas kepergian dari Tara Rindayu , gadis itu telah meninggalkan padepokan Merapi sesaat ia izin kembali pulang ke desa Kenanga, setelah itu gadis itu tidak tampak lagi di Merapi, bak hilang di telan bumi.


" Iya Kang,..kemana sebenarnya Adi Rindayu itu pergi,.mengapa ia tidak memberitahukan kepada guru,.apa sebenarnya yg terjadi atasnya ,..?"


Gadis itu malah ganti bertanya, sedangkan yg ditanya hanya menatap ke arah depan melihat gelap nya malam yg ada di kota Pajang tersebut.


Terselip di hatinya ingin mengetahui keberadaan dari gadis cantik yg bernama Tara Rindayu itu, karena sebenarnya ia amat mengnginkan gadis itu tetap berada di Merapi.


Namun sekarang telah lenyap tidak tahu kabar beritanya.


Nanti , kalau telah selesai persoalan dengan guru, aku akan meminta izin kepada nya untuk mencari gadis itu, kata Raden Kuda Wira dalam hati.


Ada senyum yg terlukis di sudut bibirnya. Dan semua itu tidak lepas dari pengamatan Dewi Rasani Mayang.


" Bukan nya di jawab ,..malah senyum -senyum sendiri, apa yg sedang kakang Kuda Wira pikirkan,..?". tanya gadis itu lagi.


" Ehh, anu ,.. Kakang tidak sedang memikirkan apa -apa,..memangnya kamu tadi menanyakan tentang hal apa,..?" tanya pemuda itu balik.


Wajah Dewi Rasani Mayang nampak cemberut, ternyata perkataan nya tadi tidak di dengarkan oleh pemuda itu. Ia jadi geram mendengarnya.


" Entahlah kang,.malas rasanya ngomong dengan orang yg pikiran nya entah sedang berada dimana,." celetuk Dewi Rasani Mayang.


Gadis itu masuk ke dalam biliknya,.meninggalkan Raden Kuda Wira sendiiran di luar, karena malam memang telah bertambah dingin.


Sementara pemuda yg masih memiliki garis keturunan Majaphit itu tetap berada di luar ia masih di sibukkan dengan kenangan nya dengan gadis yg bernama Tara Rindayu itu.


Ia berkata dalam hati jika ,..Raka Senggani teramat bodoh telah menyia-nyiakan gadis tersebut.


Namun tidak terlalu lama, ketika terdengar kentongan yg bernada dara muluk, pemuda itu pun masuk ke dalam biliknya sendiri bersebelahan dengan bilik dari Dewi Rasani Mayang.


Tidak di ketahui oleh kedua orang itu ada satu pasang mata yg memperhatikan mereka berdua , sejak kehadiran keduanya di kota Pajang, orang tersebut memperhatikan kedua nya.

__ADS_1


Hehh,.apa hubungan mereka dengan Senopati Pajang itu, apakah mereka adalah temannya,.jika memang demikian suatu kebetulan,.jadi aku tidak terlalu bersusah payah untuk menemukan Senopati itu, dari mereka berdua akan ku korek keterangan nya, kata orang itu dalam hati.


Ia pun masuk ke dalam biliknya guna beristrahat.


Sedangkan di Desa Kenanga sendiri, dua orang lelaki tampak mmeperhatikan keadaan desa tersebut, mereka berada di hutan dekat dengan gubuk si mbok Rondo yg sekarang ini telah di bangun sebuah rumah yg di peruntukkan kepada paman dari sang Senopati .


Kedua nya kemudian berbicara,..


" Kakang Kebo Watang,..bagaimana caranya kita dapat menghabisi Senopati Pajang itu, karena disini tampaknya penjagaan cukup ketat, di tambah lagi , kita tidak terlalu memahami seluk beluk desa ini,.." seru orang yg memakai ikat kepala berwarna hitam.


" Benar ucapan mu itu adi Ndawa,.. apakah kita dapat menantang langsung pemuda itu di banjar desa Kenanga ini,.." seru orang yg berpakaian serba merah.


Orang yg bernama Kebo Watang itu nampaknya masih kesulitan untuk mendapatkan rencana yg baik guna melampiqskan dendamnya.


" Itu,..tidak mungkin kita lakukan,..mengingat desa ini memiliki cukup banyak pengawal nya,..sama saja kita bunuh diri,..Kang,.." sahut teman nya.


Kebo Watang menganggukkan kepalanya, tampaknya ia sependapat dengan temannya itu. Tetapi mereka harus melakukan sesuatu untuk dapat menuntaskan dendam nya.


" Tetapi nyawa guru, harus di bayar oleh pemuda itu,. kita yg sudah cukup jauh berjalan, sampai ke kota Pajang,..dan tidak menemukannya , baru di sini kita bertemu dengan pemuda itu, jadi kita harus segera bertindak sebelum diri nya kabur dari tempat ini,.." ungkap Ki Kebo Watang.


Walaupun demikian keduanya masih belum menemukan cara yg pas untuk menantang Senopati Pajang itu.


Hingga pada akhirnya, lelaki yg berikat kepala berwarna hitam itu mengutarakan kepada temannya agar mereka mengirimkan surat tantangan saja kepada pemuda itu.


" Bagus , suatu pemikiran yg baik,..kalau begitu besok malam, kita lakukan," jawab Ki Kebo Watang.


Keduanya kemudian berusaha untuk mencari tempat beristrahat yg lebih baik dengan memanjat sebatang pohon yg cukup besar yg berada di hutan sebelah utara desa Kenanga itu.


Mereka tampaknya tengah mendapatakan jalan terbaik untuk mengajak Senopati Pajang itu bertarung.


Sementara itu Raka Senggani yg tengah berada di gubuk Pamannya di dekat persawahan di ujung desa Kenanga, sedang berbincang bersama Ki Lamiran dan Raka Jang , pamannya.


Ia meminta kepada pamannya itu untuk bersedia tinggal di rumah yg telah di bangunnya yq berada di tanah pategalan milik si mbok Rondo.


Pertama kalinya , Raka Jang menolak tawaran keponakan nya itu dengan alasan , ia merasa suka berada di tempat nya kini, dan yg kedua , ia tidak ingin terlalu menyusahkan Raka Senggani, yg pernah di buatnya menderita sewaktu masih kecil itu.


Sampai akhirnya Ki Lamiran ikut meminta kepada Ki Raka Jang agar bersedia menerima tawaran tersebut.


" Raka Jang, bukannya paman tidak mengerti perasaan mu, tetapi kali ini, dirimu pun mau. mengerti perasaan dari Angger Senggani, karena sebentar lagi ia akan melamar putri Ki Jagabaya,..". ungkap pande besi desa Kenanga itu.


" Hehhh,.."


Raka Jang,.paman dari Senopati Pajang itu tersentak kaget mendengar penuturan dari Ki Lamiran tersebut, ia tidak menyangka bahwa sang keponakan sebentar lagi akan menikah.


" Jadi dirimu akan segera menikah ,.Ngger,..?" tanya nya pada Raka Senggani.


" Benar paman,.." sahut Raka Senggani.


Paman dari Raka Senggani itu termenung sesaat setelah mendengar jawaban dari keponakan nya itu, ia teringat atas kedua anaknya.


Apakah Rawuni telah menikah , demikian pulakah dengan Raka Yantra, apakah diriku sudah menjadi seorang kakek, berkata dalam hati orang tua tersebut.


Tidak terasa airmata nya meleleh keluar dari sudut matanya, jika memang demikian , sungguh dirinya itu sudah sangat tidak berharga sekali, karena tidak ada pemberitahuan kepadanya akan hal tersebut.


Melihat hal demikian , buru -buru Ki Lamiran menasehati nya,..


" Sudahlah ,.jangan terlalu diingat apa yg telah terjadi .. mungkin saat ini ki Raka Jang masih bersyukur dapat bertemu dengan Angger Senggani, dan mungkin dalam waktu dekat ini akan melangsungkan pernikahan nya, oleh sebab itu , dirimu di minta untuk pindah ke rumah yg telah di bangun nya itu,..agar nanti saat acara , kita semua akan mudah melakukan nya,." jelas Ki Lamiran.


Memang ada perasaan iba di hati Ki Lamiran dan Raka Senggani atas keadaan dari Raka Jang itu.


" Paman, aku merasa bersedih karena teringat akan kedua putra putri ku itu, apakah mereka berdua telah menikah,.." ucap Raka Jang.


Hehh,!!!

__ADS_1


Kedua orang itu tampak kaget mendengar ucapan dari Raka Jang tersebut. Mereka berdua tidak menyangka dengan menyebutkan bahwa Raka Senggani akan menikah membuat perasaan nya tersentuh.


" Baiklah, jika memang itu alasan nya, Aku bersedia untuk pindah ," ucap Raka Jang.


" Terima kasih paman, Sengganj senang mendengar nya, " kata Raka Senggani.


"Jadi kapan dirimu akan pindah ,..?" tanya Ki Lamiran.


" Besok , paman, besok aku pindah,.." sahut Raka Jang.


Kedua orang itu sangat senang mendengar nya, akhir nya ia mau di minta pindah ke rumah yg telah di bangun oleh Raka Senggani itu.


Dan malam itu ketiganya tidur di dalam gubuk reot yg selama ini di tinggali oleh Paman Senopati Pajang itu.


Sedangkan di rumah Ki Bekel dan banjar desa , terlihat banyak orang yg berkumpul.


Adalah Ki Bekel desa Kenanga yg memeintahkan para pemuda dan pengawal desa untuk berkumpul.


Ia mmerintahkan kepada para pengawal dan pemuda untuk semakin meningkatkan penjagaan atas keamanan desa Kenanga.


Di khawatrikan oleh Ki Bekel bahwa dengan hadirnya sang Senopati di tempat kelahirannya membuat banyak orang yg ingin menemui nya.


Baik yg berniat tulus hanya sekedar berkunjung sebagai seorang teman ataupun yg akan berniat jahat, karena baru -baru ini sang Senopati telah berhasil menumpas kawanan rampok di alas Mentaok.


Jati Andara dan Japra Witangsa yg mendengar ucapan dari Ki Bekel hanya senyam senyum saja.


Bahkan Jati Andara malah sedikit bercanda kepada orang tuanya tersebut,..


" Romo, apa yg perlu di khawatirkan akan hal tersebut , tidak akan ada yg berani datang kemari kalau mereka memang berniat jahat, mereka akan berpikir dua kali jika harus berbuat kerusuhan disini,.." ucap putra Ki Bekel itu.


" Jangan terlalu percaya diri, Ngger, karena semakin tinggi pohon , maka semakin kencang pula angin yg menerpa nya,..berjaga -jaga lebih baik daripada kita harus kecolongan seperti sewaktu Singo Lorok menyerang kemari,.." jawab Ki Bekel.


Jati Andara mendekat dan berbisik kepada ayahnya itu, dan Ki Bekel pun nampak tidak mempercayai apa yg tela d ucapakan oleh putranya tersebut.


" Benarkah hal itu,.Ngger, ?" tanya nya.


" Benar, Romo, bahkan saat ini , mereka telah melihatnya,.." jawab Jati Andara.


Ki Jagabaya yg penasaran bertanya kepada anaknya Japra Witangsa , ia juga merasa heran atas apa yg di ucapkan oleh Jati Andara terhadap orang tua nya itu.


" Witangsa , apa yg telah di katakan oleh Angger Andara kepada romonya itu,..?" tanya Ki Jagabaya.


Japra Witangsa yg memang tidak tahu apa yg di ucapkan oleh temannya kepada Ki Bekel malah mengangkat bahunya dan geleng -geleng kepala.


" Witangsa tidak tahu , Romo," jawabnya.


Tetapi Ki Jagabaya tidak menyerah , ia mendesak anaknya unt menceritakan apa yg telah terjadi ketika di Alas Mentaok kepada putranya Japra Witangsa.


" Memang ada apa , ketika kalian di Alas Mentaok, ?" tanya Ki Jagabaya.


" Tidak ada yg aneh , Romo, hanya adi Senggani telah menewaskan dua orang murid padepokan Merapi yg merupakan pemimpin kawanan rampok itu saja,.." jelas Japra Witangsa.


Jawaban yg tidak memuaskan itu membuat Ki Jagabaya bertanya langsung kepada Jati Andara, apa yg telah di katakannya kepada Ki Bekel.


Jati Andara kemudian mengatakan bahwa saat ini , Raka Senggani yg bergelar Senopati Brastha Abipraya itu telah di angkat sebagai Senopati Prajurit Demak dalam bagian pasukan telik sandi.


Sehingga sebenarnya tidak ada yg perlu di khawatirkan akan keselamatan dari Senopati Brastha Abipraya tersebut, bahkan salah seorang prajurit telik sandi itu mengatakan bahwa telah datang dua orang ke desa Kenanga dan sedang berada di hutan sebelah utara dari desa tersebut.


Penuturan dari putra Ki Bekel tersebut cukup mengejutkan Ki Jagabaya, karena memang ia melihat sendiri ketika mereka membangun rumah yg ada di pategalan si Mbok Rondo itu, ada orang yg tidak di kenalnya datang membawa banyak barang dan bahan yg dapat di pergunkan guna pembangunan rumah tersebut.


Jadi Angger Senggani telah menjadi salah seorang Senopati Demak bagian pasukan sandi, mungkin yg datang itu adalah salah seorang dari prajurit sandi Demak, kata Ki Jagabaya dalam hati.


Ia merasa bahwa saat ini sang calon mantu memang tengah bersinar , baik di Demak terlebih di Pajang.

__ADS_1


Sungguh beruntung Kemuning , jika ia dapat betjodoh dengan angger Senggani itu, seperti mendaptakan suatu keajaiban. pantas saja , dirinya tidak terlalu sulit untuk membangun rumah buat paman nya itu berkata lagi Ki Jagabaya dalam hati.


Hatinya teramat senang mendengar berita tersebut.


__ADS_2