
" Jadi apakah Raka Senggani masih Kawula Pajang,?" tanya Sang Adipati Pajang kepada Raka Senggani.
" Siapalah hamba Kanjeng Gusti Adipati, Raka Senggani adalah kawula Pajang sekaligus kawula Kerajaan Demak,!" jawab Raka Senggani sambil merangkapkan tangannya di depan dada.
" Bagus , Kalau begitu mulai sekarang, Aku , selaku Adipati Pajang saat ini mengangkat diri mu sebagai salah satu senopati Pajang dan sebagai perlambangnya , ini akan Kuberikan sebuah keris dari Kadipaten Pajang untuk mu yg bernama Kyai Macan Kecubung, dan mulai hari ini engkau aku tugaskan untuk membasmi perampok yg ada di alas Mentaok dan dan Gunung Tidar itu, Engkau akan di dampingi oleh Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa dalam menjalankan tugas mu,!" terdengar perintah dari Adipati Pajang itu.
" Sendika Dawuh Kanjeng Gusti Adipati,!" jawab Raka Senggani.
" Ndawuh ndalem Kanjeng Adipati,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa.
" Meskipun demikian , engkau telah ku angkat sebagai salah seorang Senopati di Pajang , nanti apabila tugas mu telah selesai, engkau kuberikan hak memilih sebagai prajurit Pajang atau pun prajurit keraton Demak, karena sebagai bawahan dari Demak kami pun harus patuh kepada Kotaraja Demak itu,!" kata Adipati Pajang lagi.
Kemudian Adipati Pajang menyerahkan keris Kyai Macan Kecubung yg merupakan pusaka dari keraton Pajang itu kepada Raka Senggani.
Anak muda itu menerima pusaka keraton Pajang itu.
" Sebelumnya, hamba mohon beribu -ribu maaf Kanjeng Gusti Adipati, hamba bukannya menolak permintaan sekaligus anugerah yg cukup tinggi buat hamba, akan tetapi sebelum janji hamba terhadap kedua orang tua hamba, hamba tunaikan, rasa -rasanya masih sulit untuk menjadi seorang Prajurit sebenar -benarnya prajurit, karena sesungguhnya tugas hamba ini cukup sulit , Kanjeng Gusti Adipati,!" ucap Raka Senggani seraya menerima pemberian dari Adipati Pajang itu.
" Apakah tugasmu itu, Senopati Raka Senggani,?" tanya Adipati Pajang.
" Hamba harus menemukan pembunuh kedua orang tua hamba, yg telah tewas sekira sepuluh tahun yg lalu, sementara hamba tidak mengenalnya, hanya ciri -ciri nya saja yg sempat hamba lihat ketika kejadian itu terjadi, Kanjeng Gusti Adipati,!" kata Raka Senggani.
" Ahh, kalau itu masalahnya itu nanti selain menjalankan tugasmu, engkau pun akan diperbolehkan untuk tetap mencari pembunuh kedua orangtua mu itu, Senopati Raka Senggani, " tegas Adipati Pajang.
" Hamba Kanjeng Gusti Adipati,!" jawab Raka Senggani.
" Segeralah bawa pasukan ke alas mentaok itu Adi Tumennggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa, Aku tidak ingin wilayah Kadipaten Pajang ini banyak bersembunyi perampok yg selalu menyusahkan para rakyat Pajang khususnya dan rakyat Demak secara umumnya, secepatnya tangkap Singo Lorok dan Guru nya itu serta juga Macan Baleman, mereka semua itu seperti duri dalam daging di Kadipaten Pajang ini,!" ucap Adipati Pajang.
" Sendika Dawuh Kanjeng Gusti Adipati,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana.
Kemudian ketiga orang itu bangkit dan meninggalkan tempat itu.
Tumennggung Wangsa Rana mengajak Raka Senggani kembali ke rumah nya.
" Adi Wira Dipa, segera siapkan para prajurit , besok kita segera ke mentaok,!" kata Tumennggung Wangsa Rana kepada Rangga Wira Dipa.
" Baik kakang Tumennggung , perintah akan saya laksanakan,!" jawab Rangga Wira Dipa.
Rangga Wira Dipa langsung menuju bangsal prajurit Pajang.
__ADS_1
Sesampainya di sana ia segera mengumpulkan para prajurit Pajang yg akan di bawa ke alas Mentaok.
Sementara di rumah Tumennggung Wangsa Rana, Raka Senggani diberi pakaian keprajuritan Pajang lengkap dengan tanda kepangkatannya sebagai seorang Senopati.
Meskipun sebenarnya Raka Senggani masih baru di Pajang namun Adipati Pajang telah mempercayakan jabatan cukup tinggi untuknya.
Oleh sebab itu ia nampak kurang mapan dengan keputusan dari Adipati Pajang itu. Namun apa boleh buat , keputusan telah dijatuhkan dan dia telah di angkat sebagai salah seorang Senopati Pajang yg bertugas mengamankan wilayah kadipaten Pajang.
Keesokan harinya, pasukan kadipaten Pajang bergerak berangkat menuju alas Mentaok.
Jarak yg lumayan jauh itu harus di tempuh para prajurit itu termasuk Raka Senggani.
" Paman Tumenggung berapa lama kita akan sampai di Mentaok ,?" tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Mungkin sekira dua hari, kalau tidak ada halangan di jalan,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.
" Mungkin ini perjalanan pertama ku sebagai prajurit Pajang,!" ucap Raka Senggani lagi.
" Dan mudah mudahan perjalanan kali ini kita akan berhasil angger Senggani,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.
" Mudah mudahan Paman Tumenggung,!" jawab Raka Senggani.
Setelah sehari semalam barulah mereka tiba di daerah macanan dan melanjutkan lagi perjalanannya menuju Prambanan.
Setelah sampai di Prambanan itu ternyata mereka tiba telah malam.
Dan mereka pun menginap di Prambanan.
Setelah dari Prambanan mereka kemudian menyebrang kali opak menuju alas Mentaok.
Ketika hari menjelang sore sampailah pasukan itu di daerah Kalasan yg telah masuk daerah alas Mentaok.
Perlahan lahan pasukan itu maju dan kemudian mencari tempat untuk beristrahat karena hari pun telah malam.
" Hati -hati, kita telah berada di alas Mentaok, persiapkan diri kalian, kemungkinan para perampok itu telah melihat kedatangan kita,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.
Maka Rangga Wira Dipa segera menyusun para prajuritnya untuk berjaga dan gantian bertugas, karena itu banyak para prajurit Pajang yg berjaga malam itu sedangkan sebahagian lagi segera beristrahat dan tidur.
Ketika malam masuk pada puncak terasa hawa dingin yg menyergap para prajurit Pajang itu sehingga prajurit yg bertugas jaga banyak yg jatuh tertidur.
__ADS_1
Melihat hal itu Raka Senggani segera berbisik kepada Tumenggung Wangsa Rana,
" Paman Tumenggung, sepertinya ada yg melontarkan ajian sirep, dan ternyata ajian itu cukup berhasil untuk membuat para prajurit jatuh tertidur,!" bisik Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Benar Angger Senggani, sepertinya kehadiran kita disini telah di ketahui oleh mereka,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana.
" Apakah paman Tumenggung mampu mengatasi ajian sirep ini,?" tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa Rana itu.
Nampak kepala Tumenggung Wangsa Rana menggeleng, tanda ia tidak mampu untuk mengatasi ajian sirep yg cukup kuat itu.
" Bagaimana dengan Rangga Wira Dipa, apakah sanggup mengatasi ajian sirep ini?"tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada Rangga Wira Dipa.
" Kakang Tumenggung , aku pun tidak bisa untuk mengatasi ajian sirep ini,!" jawab Rangga Wira Dipa.
" Jadi, apakah kita akan membiarkan para prajurit itu ter tidur begitu saja, bagaimana jika mereka menyerang tiba -tiba,!" ucap Raka Senggani.
Kedua perwira Pajang saling berpandangan.
" Kalau begitu, biarlah akan Kuvoba mengusir pengaruh sirep itu, namun jika mereka menyerang tiba-tiba, usahakan jangan menggangguku,!" kata Raka Senggani.
" Baik,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana.
Segera saja Raka Senggani duduk bersila dan merangkapkan tangannya di depan dada dengan bersedekap ia mulai membaca rapalan ajiannya, setelah agak lama kemudian di daerah itu mulai terasa hangat dan makin lama makin panas, membuat para prajurit Pajang tampak kegerahan dan mulai bangkit dari tidurnya, namun belum pun selesai para prajurit itu terjaga dari tidur nya,terdengarlah suara tertawa yg cukup keras sehingga siapa saja yg akan mendengarnya jika tidak memiliki tenaga dalam yg tinggi pasti akan terjatuh,
" Ha ha ha ha ha, kalian para prajurit Pajang hanya akan mengantarkannya saja datang kemari, kami tidak akan segan -,segan untuk menghabisi kalian semua, !" teriak orang itu.
Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa langsung bersiap dengan segala kemungkinan yg akan terjadi, keduanya segera mengeluarkan senjata nya masing-masing, Tumenggung Wangsa Rana dengan pedangnya sedangkan Rangga Wira Dipa dengan tombaknya.
" Hehh, siapapun engkau segera tunjukan dirimu jangan cuma berani dari kejauhan dan dari kegelapan saja, hanya orang pengecutlah yg bisanya menyerang dari kegelapan,!" balas Tumenggung Wangsa Rana.
" Ha,ha,ha, ha,ha , sebenarnya, aku kasihan kepada mu Tumenggung Wangsa Rana , luka dalammu belum pun sembuh engkau telah berani datang kembali ke Alas Mentaok ini, secepat nya engkau angkat kaki dari sini, sebelum senjataku ini mengakhiri hidup mu,!" teriak orang itu dengan pengerahan tenaga dalam yg tinggi.
Sehingga hampir saja Rangga Wira Dipa menutup pendengarannya.
Akhir nya Raka Senggani selesai melawan ajian sirep itu dan membuat para prajurit Pajang tersadar dan mereka pun mendengar pembicaraan dari Tumenggung Wangsa Rana dengan orang asing yg tidak di ketahui keberadaannya.
" Karena perintah junjungan kami adalah untuk membasmi, orang - orang seperti kalian, jadi pantang bagi kami sebelum tugas kami selesaikan,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana lagi.
" Apakah engkau tidak punya otak Tumenggung Wangsa Rana, dengan tubuh sehat dan bugar saja tidak mampu untuk menangkap kami, apalagi dengan keadaan sekarang, engkau hanya akan menambah korban di Alas Mentaok ini,. sekali lagi aku Katakan segeralah tarik pasukanmu, sebelum batas kesabaranku habis,!" teriak orang itu.
__ADS_1
Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa saling berpandangan.