Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 17 Sultan Demak II. bag ke enam.


__ADS_3

Memang baik Raka Senggani maupun Raden Abdullah Wangsa tidak mengejar kedua orang itu.


Sehingga Bragawanata dan Bragawala dapat keluar dari serangan.


Keduanya kemudian langsung berdekatan.


" Bagaimana kakang,..apakah dirimu tidak apa -apa,..?" tanya Bragawanata.


" Memang masih terasa nyeri,.akan tetapi diriku tidak apa -apa,..adi Bragawanata,.." sahut Bragawala.


Saudara kembar itu saling berpandangan..


" Kakang,.. sepertinya mereka itu lebih hebat dari Ki Suganpara dan Ki Sabak Jungkat,..apa yg akan kita lakukan,..?" tanya Bragawanata.


" Benar katamu itu adi Bragawanata,.. mereka berdua memang lebih hebat dari Ki Suganpara dan Ki Sabak Jungkat,..kita harus mengeluarkan jurus elang kembar mencari mangsa,.." jawab Bragawala.


" Baiklah kalau begitu ,..kakang,.." seru Bragawanata.


Kemudian keduanya segera bersiap akan melakukan serangan lagi ,..tetapi kali ini keduanya akan melakukan nya dengan secara bersama -sama.


Melihat kedua orang yg menghadang itu telah melakukan pembukaan gerakkannya lagi,..Raka Senggani langsung berseru,..


" Hehh,..kisanak berdua,.. segera lah enyah dari jalan kami,..karena kami tidak ingin membuat masalah dengan siapapun termasuk dengan kalian berdua,.."


" Biar saja kakang,.. biarkan mereka melepaskn semua rasa penasaran nya,.itu,..." ujar Raden Abdullah Wangsa.


Karena memang putra dari pangeran Sabrang Lor itu merasa seperti yg sedang mndaptkan mainan baru.


" Kami tidak akan berhnti sebelum kalisn berdua menyerahkan kedua senjata itu,.." teriak Bragawala.


" Oleh sebab itu lekas serahkan Pedang pusaka Jata Ancala dan tongkat Ki Suganpara itu,...bocah ,..!'" seru Bragawanata.


" Apakah kalian tidak dapat melihat kenyataan,..karena sesungguhnya kalian itu sudah kalah,.jadi segeralah pergi dari sini,..sebelum terlambat,.." ucap Raka Senggani.


" Kami berdua belum kalah,.. bocah,..terima ini jurus Elang kembar mencari mangsa,..heaaahh,.." ucap Bragawala .


Si kembar Gila dari gunung Pangrango itu kemudian segera bergerak menyerang lagi dan pada serangan kali ini keduanya saling mengisi dan menutup celah yg dapat di ttembus oleh lawan.


Yang mendapati serangan itu adalah Raka Senggani,.. senopati Pajang itu mendapatkan serangan dengan cara keroyokan,..dua golok kedua orang yg kembar itu mengurung sang Senopati Pajang.


Memang Raka Senggani merasa kewalahan dengan serangan kedua orang itu. Tetapi ia tidak mau menyerah begitu saja untuk dapat membongkar pertahanan lawan nya itu,..ia mempergunakan ilmu peringan tubuh nya untuk menghindari kedua orang itu.


Tubuh yg tinggi besar dari Bragawanata dan Bragawala tidak mmebuat mereka sulit untuk bergerak,..sehingga mereka mampu mengurung Raka Senggani serta membatasi pergerakan dari Senopati Pajang itu.


Sedangkan Raden Abdullah Wangsa hanya menonton saja ,.ia masih melihat bahwa Senopati Pajang itu belum memerlukan pertolongan nya.


Memang hebat,.. kakang Senggani ini,.. walaupun kecepatan dari Si Kembar Gila dari gunung Pangrango itu sangat cepat.. tetapi tidak satu serangan pun yg mampu menembus pertahanan nya,..ucap Raden Abdullah Wangsa dalam hati.


Ia dapat melihat dengan jelas bahwa Senopati Pajang itu tengah mempermainklan kedua lawannya.


Karena semakin kedua nya bergerak cepat .. Senopati Pajang itu lebih cepat lagi gerakannya.


Hanya saja karena kali ini mereka menyerang secara berpasangan membuat Senopati Pajang itu tidak leluasa mengirimkan pukulan nya,..ia lebih banyak menghindari serangan ,..baru seaekali menyerang balik.


Pada saat dimana Si Kembar Gila itu pada puncak ilmu nya dengan menggunakn jurus Elang kembar mencari mangsa itu,.. Senopati Pajang itu terlihat terdesak ,..hingga,..


" Takkkkkkh,.."


" Hehhhjhhhh,.."


Golok dari Bragawala berhasil mendarat di punggung dari Senopati Pajang itu. Namun keheranan dari kedua orang kembar itu tidak mampu mereka tutupi,.. setelah melihat senjata mereka tidak mampu menembus tubuh dari lawannya itu.


Keduanya segera bergerak cepat untuk menjauhi Senopati Pajang itu. Mereka langsung menyerang Raden Abdullah Wangsa yg masih berdiri tegak mrmperhatikan jalannya pertarungan.


" Hiyyyah.."


" Hiyyyah,."


" Hufhhh,."


Serangan. yg sebenarnya telah di duga oleh Raka Senggani itu ternyata tidak membuat gugup putra Pangeran Sabrang Lor itu.. walaupun usianya masih sangat muda,.. dengan cepat nya tubuh dari Raden Abdullah Wangsa melesat keluar dari kepungan keduanya.


" Ci,..aaaaaatt,.."


Berbeda dengan Raka Senggani,..Raden Abdullah Wangsa langsung menyerang balik ia berhasil memecah Jurus Elang kembar mencari mangsa itu,..terpaksa kedua saudara kembar itu tidak mampu mempertahankan jurus mereka itu yg di khusus kan untuk bertarung berpasangan.

__ADS_1


Salah Seorang ,..yaitu Bragawanata,.. mendapatkan serangan dari Raden Abdullah Wangsa yg mencecar terus dengan pedang Jata Ancala yg ada di tangan nya itu.


Sementara itu ,.. Bragawala tidak mampu membantu saudaranya itu karena telah terikat pertarungan dengan Raka Senggani.


Senopati Pajang itu tidak mau membiarkan putra Pangeran Sabrang Lor itu berjuang sendiri.


Ia berkewajiban untuk menjaga keselamatan dari Putra Sultan Demak II itu. Jika terjadi sesuatu pada diri Pangeran itu,..tentu dirinya yg akan di persalahkan.


Memang seperti yg telah di perhitungkan oleh Raka Senggani,..Raden Abdullah Wangsa bertarung dengan jiwa mudanya,..ia terus mencecar tubuh Bragawanata dengan pedang nya tanpa memperhitungkan serangan balasan hingga suatu ketika,..


" Hheaahhh,.."


" Trakkk,.."


Dalam sebuah serangan yg mengarah leher dari Bragawanata itu,.. Raden Abdullah Wangsa tidak memperhitungkan serangan balik dari Bragawanata ,..saat tubuh dari Si Kembar Gila itu membungkuk menghindari serangan itu,..tanpa terduga,..orang itu membalas nya dengan tusukan goloknya ke arah perut dari Putra Pangeran Sabrang Lor itu tanpa mampu menangkisnya.


Sehingga tanpa dapat dihalangi lagi.ujung golok itu mampu menyelusup masuk.


Akan tetapi kembali Si Kembar Gila dari gunung Pangrango itu di buat terkejut dengan hasil yg di peroleh nya. Golok nya tidak mampu membuat tubuh lawannya itu terluka.


Saking tidak percaya nya,..ia memandangi ujung goloknya itu,.tidak ada setetes darah pun, bahkan malah ujung goloknya itu yg patah.


Gila,.. ternyata kedua orang ini tidak mempan senjata tajam ,..pikir Bragawanata dalam hati.


Ia segera bersuit nyaring.Dan langsung saja saudara kembar nya mendekati nya,..


" Ada apa,..adi Bragawanata,..?" tanya Bragawala heran.


" Kakang,..kedua bocah ini tidak mempan senjata tajam,.. kedua nya kebal,..apakah kita akan terus menyerang mereka,..?" jelas Bragawanata.


Sambil tidak melepaskan pandangan matanya kepada kedua pemuda yg menjadi lawannya itu,.. Bragawala masih mempertimbangkan,..untung ruginya melanjutkan pertarungan itu.


" Apa tidak sebaiknya kita mngeluarkan ajian pamungkas kita,..adi Bragawanata,..?" tanya nya kepada saudara kembar nya itu.


" Maksudmu ,..ajian Prahara Bayu,..?" tanya Bragawanata balik.


Kepala dari Bragawala masih mengangguk mengiyakan. Karena keinginannya mengusaai dua pusaka itu masih sangat kuat. Sehingga ia melupakan semua hal termasuk kemampuan dari kedua lawannya itu.


" Kakang ,..apakah tidak keterlaluan kita mengeluarkan ajian itu hanya untuk mengalahkan kedua bocah itu., .?". tanya Bragawanata.


" Akan tetapi musuh utama kita adalah Ki Suganpara dan Ki Sabak Jungkat,.. dengan ajian Bayu Prahara,..kita akan menjajal kembali kemampuan kedua orang itu.." kata Bragawanata.


" Tidak apa -apa,.. adi ,.. hitung -hitung,, ini adalah penjajalan pertama setelah kita menguasai ajian itu.." sahut Bragawala.


Sedsngkan Raka Senggani yg telah berdekatan dengan Raden Abdullah Wangsa segera menanyakan keadaan Putra Pangeran Sabrang Lor itu.


" Bagaimana keadaan mu,..adi Wangsa,..?" tanya nya.


" Diriku tidak apa -apa,..kakang,.." sahut Raden Abdullah Wangsa.


" Bukankah tadi golok dari Ki Bragawanata itu berhasil menusuk mu,.. Adi Wangsa,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Benar kakang,..akan tetapi golok nya itu tidak mampu melukai tubuhku,..karena sedari awal Aku telah mengetrapkan aji Tameng Waja,.." jawab Raden Abdullah Wangsa.


" Pantas,.." seru Raka Senggani.


Senopati Pajang itu maklum dengan ajian yg telah di sebutkan oleh Raden Abdullah Wangsa tadi.. karena memang ajian Tameng Waja adalah ilmu kebal yg di miliki oleh Sultan Demak yaitu Raden Fatah...dan diwariskan kepada seluruh keturunan nya.


Ilmu itu dapat di tembus hanya dengan kemampuan yg tinggi dari lawan atau dengan sebuah pusaka yg merupakan piyandel...kalau hanya senjata biasa seperti golok yg di miliki oleh Bragawanata itu tentu tidak akan mampu menembus nya.


" Dan bagaimana dengan kakang sendiri,.. bukankah tadi mereka sempat menebaskan golok itu ke punggung kakang Senggani,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


" Kakang tidak apa -apa ,..adi,..oleh sebab itulah mereka kemudian menyerang dirimu,.." jelas Raka Senggani.


" Apa yg mereka bicarakan itu,..kakang Senggani,..apakah mereka akan melanjutkan lagi pertarungan ini,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


" Entahlah,.. seperti nya mereka memang menginginkan pedang dan tongkat ini,.. mungkin mereka akan mrmpertimbangkan untuk melanjutkan pertarungan ini,.. walaupun demikian kita harus tetap bersiap dengan segala kemungkinan,.adi,.." jelas Raka Senggani.


Raden Abdullah Wangsa mengerti ucapan dari Senopati Pajang itu ,. bahkan pedang nya masih tetap teracung. Siap untuk bertarung lagi.


Adalah Raka Senggani yg kemudian berteriak, .


" Sudahlah kisanak berdua, . segeralah tinggalkan tempat ini,.. sebelum para prajurit Cirebon tiba di tempat ini,.." teriak nya.


Karena telinga Senopati Pajang itu mendengar dari kejauhan ada derap langkah -langkah kaki Kuda yg sedang menuju tempat itu,.dan menurut nya itu adalah para prajurit Cirebon.

__ADS_1


Sedangkan Bragawala dan Bragawanata yg tidak mendengar suara itu malah berkata,..


* Kau jangan menakut -nakuti kami ,..bocah,..mana mungkin prajurit Cirebon sampai kemari,.. atau karena kalian berdua memang takut kepada kami,..jika memang demikian cepat serahkan kedua senjata itu,.." teriak Bragawala.


Apakah kedua orang ini memang sudah tidak mempunyai nalar yg baik,..bukankah mereka yg sudah terdesak,..malah kami yg semakin mereka ejek.,..dasar gendeng,...membathin Raka Senggani.


Ia teramat kesal dengan sikap kedua orang itu. Bahkan ketika suara derap kaki kuda itu semakin jelas...Si Kembar Gila dari gunung Pangrango itu masih sempat berkata,..


" Mungkin kali ini kalian dapat dari tangan kami,..akan tetapi jika kelak kita bertemu lagi,..jangan harap kami akan melepaskan kalian berdua,.." seru Bragawala.


" Iya,..kakang,.. nasib mereka Kali ini cukup mujur,.. Ternyata ada yg datang disaat kita akan menghabisi mereka,..marilah kakang kita tinggalkan tempat ini.." ungkap Bragawanata .


" Mari,..adi,.." sambung Bragawala.


" Ingat. kami tetap akan mengambil kedua senjata itu,.."


Terdengar suara ancaman dari Bragawala sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Tidak terlalu lama setelah , kepergian kedua nya datanglah serombongan prajurit dari kesultanan Kacirebonan itu. Jumlahnya sepuluh orang,.. dengan bersenjata kan tombak dan pedang.


Ketika melihat kedua anak muda dari Demak itu.. pemimpin prajurit itu segera bertanya.,.


" Siapa kalian berdua ini ,..dan akan kmana,..?" tanya Lurah prajurit itu


" Kami adalah utusan dari Demak dan berniat untuk bertemu dengan Kanjeng Sunan,.." jawab Raka Senggani.


" Kalian dari Demak,..?'" tanya Lurah prajurit itu lagi.


" Benar,.. kami berdua dari Demak ,. ada yg salah,..?' tanya Senopati Pajang itu heran.


" Tidak,.. tidak ada yg salah..karena kami memang di tugaskan untuk menjput utusan Kanjeng Senopati Sarjawala oleh. Kanjeng Sinuhun,..berarti kalian berdua lah orang nya,. .mari ikut kami,.." ajak Lurah prajurit. itu.


Segera kedua satria dari Demak itu melompat keatas punggung kudanya dan mengikuti para prajurit itu.


Dalam hati Raka Senggani berkata -kata.. sangat hebat Sunan Gunung Jati itu mampu mengetahui kedatangan mereka.


" Adi Wangsa, sungguh hebat ilmu panggraita kanjeng sunan Gunung jati itu,.ia mengetahui kehadiran kita,.." ucap Raka senggani.


" Benar kakang.. eyang panembahan maulana Jati memang memiliki ilmu yg sulit untuk di ukur,..mungkin itu karomah yg telah di anugrahkan oleh Allah Swt kepada nya,.." jawab raden Abdullah Wangsa.


Keduanya terus saja mengikuti para prajurit Cirebon itu masuk ke dalam istana kesultanan Cirebon itu.


Sesampai nya di istana,.. keduanya langsung disambut dengan sangat ramah oleh kanjeng sunan Gunung jati sendiri.


Kanjeng sunan Gunung jati sendiri yg berkenan menanyakan langsung tentang keadaan kedua satria dari Demak itu ditambah lagi yg datang kali ini adalah Putra dari pangeran Sabrang lor sendiri yaitu raden Abdullah Wangsa.


" Ada apa kiranya sehingga Angger sendiri yg harus datang kemari,..?" tanya Sunan Gunung Jati.


Yang setelah berkuasa atas wilayah cirebon dan bagian pesisir utara bahkan sampai menyebrang melewati selat sunda itu bergelar Ingkang Sinuhun kanjeng susuhunan maulana Jati purba panetep panatagama awlya Allah kholifatur rasulillah itu.


' Ampunkan kami berdua eyang Sunan,.kami menghadap kemari atas perintah dari Ramanda Pangeran Adipati unus sendiri,.." ucap Raden Abdullah Wangsa.


" Adakah sesuatu yg sangat penting sehingga Anakmas senopati Sarjawala harus mengutus angger Abdullah Wangsa yg datang kemari,..?" tanya Sunan Gunung Jati lagi.


" Mohon maaf sebelum nya kanjeng sunan,..hamba senopati Brastha Abipraya,..ingin mnyerahkan surat yg telah di tulis oleh kanjeng Pangeran yg akan diserahkan kepada kanjeng sunan, sendiri,." ucap Raka senggani.


Ia kemudian beringsut maju dan menyerahkan segulungan lontar yg bertuliskan itu kepada Sunan Gunung Jati.


Pemimpin kesultanan Cirebon itu segera menerima nya dan langsung membaca nya.


Dari raut wajah nampak kesedihan dan juga bercampur kebahagiaan atas apa isi surat yg telah di terimanya itu,.bahkan ada rasa keterkejutan atas apa yg dibacanya itu.


" Mengapa Anakmas senopati Sarjawala tidak memberikan kabar kemari atas mangkatnya kakang Sultan Demak itu,.. angger Abdullah Wangsa,..?" tanya nya.


Pertanyaan yg di tujukan langsung kepada Putra dari pangeran Sabrang lor itu sendiri.


" Sebenarnya ramanda Pangeran telah mengirimkan utusan kemari,..akan tetapi utusan tersebut menemui rintangan ketika harus melewati Alas siroban,..oleh sebab itulah kami berdua lah yg kemudian beliau kirimkan kemari guna memberitshukan hal ini kepada Eyang Sunan,.." jelas Raden Abdullah Wangsa.


" Baiklah,.. kalian dapat beristrahat ,..nanti setelah malam tiba kita akan berbincang lagi mengenai masalah Kotaraja Demak itu,..dan silahkan kepada angger berdua untuk membersihkan badan,..karena eyang melihat kalian sudah teramat lelah dan kotor,.." ungkap Sunan Gunung Jati.


" Sendika dalem Kanjeng sunan,..kami berdua mohon pamit,.." ucap Raka senggani.


Keduanya pergi ke bilik tamu dengan diantar oleh seorang prajurit.


Sedangkan Sunan Gunung Jati sendiri segera meninggalkan istana , ia menuju biliknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2