Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 26 Bara dendam. bag ke sembilan.


__ADS_3

Serangan gencar terus di lakukan oleh Tara Rindayu hingga membuahkan hasil,.


" Heaahhh,.."


" Sreeeeeth,.!"


Pedang di tangan Gadis itu berhasil melukai lengan dari Walang Kutung .Lengan sebelah kanan itu mengeluarkan darah akibat goresan pedang Tara Rindayu dan tidak sampai di situ Putri Juragan Tarya ini pun segera mengirimkan tendangan setengah lingkaran nya dan mendarat telak di perut Lelaki bertubuh jangkung ini.


" Beugghh,.."


" Braaakkh,.."


" Aaakhh,.."


Tubuh Walang Kutung sampai terlempar ke belakang dan menghantam dinding rumah Ki Sumirat itu hingga hancur .


Tampaknya orang itu kesulitan untuk bangkit. Melihat hal tersebut dengan cepat Tara Rindayu kembali menyerang yg seorang lagi,..yeahh, Wangas yg merupakan teman dari Walang Kutung ini mendapatkan serangan yang cepat dari Tara Rindayu yg tampaknya sedang kalap, ia amat jijik melihat orang orang yang hanya mementingkan dirinya tanpa menghargai orang lain.


Wangas kelabakan menahan serangan gadis ini, senjata clurit yg ada di tangan nya beberapa kali harus menangkis serangan lawan nya itu, akan tetapi rumah Ki Sumirat menjadi saksi kehebatan dari Putri Juragan Tarya ini sebuah serangan pedangnya yg masih mampu di hindari oleh Wangas, tetapi pukulan telapak tangan gadis ini mendarat di dadanya, selanjutnya gadis ini ingin mengakhiri perlawanan dari musuhnya itu dengan tusukan pedangnya mengarah leher, tetapi tiba-tiba,..


" Hentikan serangan mu itu , Cah Ayu, kalau nyawa perempuan ini mau selamat,..!" ucap seseorang yang ada di belakang nya.


Tampak oleh Tara Rindayu, bahwa Surti tengah diacungkan golok pada lehernya oleh seorang laki-laki yang bertubuh agak tambun.


Sesaat kemudian Tara Rindayu menghentikan serangannya dan menatap ke arah orang tersebut.


" Lepaskan orang itu, mari kita bertarung,..!" seru Tara Rindayu keras.


Dengan pedang di tangan nya mengacung ke arah orang tersebut.


" He ,he he,. cepat buang senjata mu itu,..dan segera berlutut,..,kalau tidak,..!" ucap lelaki Tambun itu.


Ia melirik ke arah golok yg menempel di leher Surti, ia memang menjadikan gadis ini sebagai sandera setelah mengetahui dua orang anak buahnya tidak mampu mengatasinya.


Adalah Tara Rindayu yg kebingungan di buatnya, jika ia menyerang , dirinya khawatir akan keselamatan Surti, dan jika ia menyerah, para perampok ini tentu akan semakin merajalela dan semena mena terhadap orang lain. Terutama para penduduk desa yg tidak berdosa.


Di tengah kebingungan nya ini, Lelaki itu memerintahkan kembali dirinya untuk segera menyerah namun di balasi oleh Surti,


" Jangan menyerah Rindayu, diriku tidak apa apa , teruslah melawan,..!" teriak gadis itu kepada Tara Rindayu.


Akan tetapi nalar Putri Juragan Tarya ini mengatakan ia harus menyelamatkan nyawa dari Surti.


" Baiklah, aku menyerah lepaskan gadis itu,..!" seru Tara Rindayu.


Putri Juragan Tarya ini membuang pedang nya dan terdengar lah suara dari lelaki tambun itu berkata,.


" Wangas , cepat ikat tubuhnya,..bawa ke atas kuda kita tinggalkan tempat ini, secepatnya,..!"


" Baik kakang Kebo Bujul,.!" sahut Wangas.


Lelaki ini kemudian mengikat tangan Tara Rindayu kebelakang dan kemudian membawa nya keluar dari rumah Ki Sumirat itu, demikian pula dengan Kebo Bujul , sambil memondong tubuh Surti yg telah ia totok , keduanya pun menuju kudanya,


Sementara itu Ki Sumirat dan Nyai Sumini hanya diam terpaku tanpa dapat berbuat apa-apa setelah melihat kepergian orang orang tersebut membawa Surti dan Tara Rindayu.


" Wangas,..cepat panggil seluruh anggota kita untuk berkumpul, dan kita tinggalkan desa ini sebelum pagi menjelang , cepat,!" perintah dari Kebo Bujul.


Lelaki tambun pemimpin gerombolan begal ini menunggu para anggotanya yang lain yg telah menjarah dan merampok beberapa rumah yg ada di desa tersebut termasuk rumah kepala desanya.


Maka bergerak lah hampir lima belas ekor kuda meninggalkan desa tersebut menuju ke arah timur dengan membawa serta Tara Rindayu dan Surti bersama mereka.


Memang sudah dapat sudah mereda, akan tetapi cahaya matahari tampaknya enggan untuk menampakkan cahaya nya.


Saat itu hari memang telah pagi, meski sebagian besar masih berselimutkan dan tetap tidur , akan tetapi sebagian lain termasuk rombongan rampok Kebo Bujul telah pun melakukan perjalanan .


Di saat pagi itu, rombongan Kebo Bujul telah sampai pada pertigaan jalan menuju ke sarang nya yg berada di sebuah hutan yang agak ke selatan dari tempat itu.


Memang sudah tidak terlalu jauh lagi tempat mereka berada setelah malam itu mereka terus berjalan,, menurut Kebo Bujul tidak sampai tengah hari mereka sudah tiba di tempatnya.


Namun ketika mereka melewati pertigaan itu , rombongan Kebo Bujul ini berpapasan dengan seorang pemuda yang memakai topi caping dan tengah berjalan ke arah mereka.


" Cepaaaat,..minggir, kalau tidak ingin di tabrak oleh kuda kuda kami,..!" teriak Wangas.


Sambil tangan nya melambai menyuruh orang yang tengah berjalan itu untuk meminggir.


Tetapi ternyata pemuda itu tidak mengindahkan ucapan dari salah seorang kepercayaan Kebo Bujul itu.

__ADS_1


" Sudah ,.. tabrak saja,..Wangas,..!" seru Kebo Bujul.


Pemimpin para perampok ini tampaknya memang menginginkan agar orang yang tengah berjalan itu untuk di tabrak saja.


Dan derap kaki kuda yang berjumlah lima belas ekor ini, yg telah memenuhi jalanan yg tidak terlalu lebar terus saja melaju mendekati pemuda yang sedang berjalan itu.


Dalam jarak yang sudah tidak jauh lagi,. lari kuda kuda itu tetap saja seperti biasa, tampaknya para penunggang nya ingin menabrak sang pemuda.


Dan ketika sudah sangat dekat,..


" Hufhhh,.."


Ternyata pemuda itu melompat dan melesat meninggalkan tempat nya.


Gila,..gerutu pemuda itu mengumpat.


Sedang para penunggang kuda yang merupakan rombongan Kebo Bujul ini hanya tertawa tawa melihat dirinya yg melompat menghindari dari kuda kuda mereka.


Apalagi Kebo Bujul, tampaknya lelaki tambun ini amat senang karena akhirnya pemuda itulah yang mengalah dan melompat ke tepi jalan.


Sedang pemuda itu melihat ke arah penunggang kuda yang melewatinya dan pada kuda yang terakhir dilihatnya ada dua orang perempuan yang tampaknya sedang pingsan.Dan di letakkan diatas punggung kuda dengan tangan terikat.


Hehh,.. siapakah mereka,..dan siapa pula kedua perempuan itu,.katanya dalam hati sambil ia tetap memperhatikan rombongan itu membelok ke arah kanan dari pertigaan tersebut.


Jangan-jangan mereka itu adalah para perampok , Aku harus mengikuti mereka,.siapa tahu kedua perempuan itu adalah orang yang telah mereka culik dari desa yg berada di depan sana, berkata dalam hati pemuda tersebut.


Ia pun segera bergerak meninggalkan tempatnya dan langsung mengikuti rombongan para perampok yg di pimpin oleh Kebo Bujul itu.


Sungguh hebat ilmu peringan tubuh pemuda itu , sebentar saja ia telah berhasil menyusul rombongan tersebut.


Dan nampaknya kelima belas ekor kuda itu berjalan menanjak menuju ke arah sebuah hutan yang cukup lebat serta jarang di rambah oleh manusia.


Saat Matahari menggatalkan kulit semua penunggang kuda itu memasuki kawasan hutan yg cukup pepat itu.


Jalanan makin sulit , karena selain banyak nya sulur sulur yg berada di dalam hutan ini , mereka juga berjalan mendaki untuk sampai di tempat tujuan, di sarang mereka.


Pemuda ini mengatakan dalam hatinya bahwa cukup pintar mereka membuat tempat untuk di jadikan sarang .


Hehh,..dari sini mereka tentunya akan dapat melihat siapa saja yang akan datang ke tempat ini,..berkata dalam hatinya pemuda tersebut.


Mendekati tengah hari sampailah rombongan Kebo Bujul ini di tempat mereka. Ada empat pondokan yg terdapat di tempat itu.


Dan pondokan tersebut cukup tinggi letaknya dari tanah.


Dan kemudian Kebo Bujul turun dari punggung kudanya seraya berkata,..


" Wangas,..turunkan kedua perempuan itu dan tempatkan di tempat ku,..!" seru Kebo Bujul.


" Baik,.. Kakang,..!" sahut Wangas.


Ia dengan di bantu seorang teman nya memondong kedua perempuan itu dan membawa masuk Tara Rindayu dan Surti ke sebuah pondokan yg cukup besar dan berada agak di tengah.


Kemudian Kebo Bujul menyuruh seorang lelaki tua yang ada di tempat itu untuk memeriksa keadaan dari Walang Kutung yg tsmpaknya masih sulit untuk bernafas.


" Ki Lawang, coba periksa keadaan dari si Walang Kutung itu,..!"


Terdengar suara dari pemimpin perampok itu kepada orang yang di panggil Ki Lawang itu.


" Baik,..!" sahut lelaki tua ini.


Dan salah seorang anggota dari Kebo Bujul ini menggendong tubuh Walang Kutung dan membawa nya masuk ke dalam pondokan yg lain yg lebih kecil ukuran nya.


Sementara itu sepasang mata terus saja melihat apa yang di kerjakan oleh para perampok itu.


Namun ia lebih memperhatikan ke arah pondokan yg di tempati oleh Pemimpin perampok itu, dimana ada dua orang perempuan yang berada disana. Ia sudah yakin bahwa keduanya adalah korban penculikan dari kawanan rampok ini.


Meski ia tidak berani lebih dekat lagi karena sebahagian besar anggota Kebo Bujul ini tampak berjaga di luar , dari raut wajah -wajah mereka terlihat senang dengan hasil yang mereka dapat kali ini.


" Hanya Kakang Walang Kutung saja yang bernasib apes, beruntung ia masih selamat,..!" celetuk salah seorang kawanan rampok itu.


" Benar,. sementara kita tidak mendapatkan halangan apa pun ketika merampok rumah kepala desa itu,..semuanya berjalan lancar,..!" sahut teman nya.


Mereka asyik mengobrol sedangkan Kebo Bujul pemimpin mereka segera melihat keadaan dari salah seorang anggota nya yg tengah terluka.


" Bagaimana Ki Lawang,..apakah Walang Kutung dapat segera sembuh,..?" tanya Kebo Bujul kepada Lelaki tua itu.

__ADS_1


Ki Lawang menganggukkan kepalanya,..


" Lukanya tidak terlalu parah, hanya saja ia sempat banyak mengeluarkan darah, dan selain itu punggungnya pun tampak nya mengalami masalah,.." ucap Ki Lawang.


Setelah meyakini bahwa Walang Kutung masih dapat di sembuhkan ia pun meminggalkan tempat itu dan menuju tempatnya.


Hati pemimpin rampok ini amat girang, karena hari ini ia mendapatkan banyak keuntungan, selain ia memdapatkan harta jarahan yg cukup banyak, dirinya pun mendapatkan dua orang perempuan yang cukup cantik.


Hehh,..malam ini aku tidak akan tidur kedinginan lagi, berkata dalam hati Kebo Bujul.


Sambil melangkahkan kakinya menuju tempat nya. Perlahan ia naik ke atas pondokan tersebut.


Dan ketika ia membuka pintu, alangkah terkejutnya , ternyata kedua perempuan yg menjadi tawanan nya telah tidak berada lagi di situ.


" Wangas,..Wangas,.. Wangas ,..kemari cepat,..!" teriak Kebo Bujul.


Dengan tergopoh gopoh , Lelaki yg bernama Wangas itu datang ,..


" Ada apa Kakang Kebo Bujul,..?" tanya Wangas heran.


Tidak seperti biasanya pemimpin nya ini memanggil dengan berteriak teriak begitu.


" Coba lihat kemari, dimana kau letakkan kedua perempuan itu,..?" seru Kebo Bujul marah.


Wangas pun segera melihat ke dalam dan ia pun sungguh terkejut setelah tidak melihat lagi kedua perempuan yg di bawa nya masuk itu tidak berada lagi di tempatnya.


" Kemana pergi nya,.." ucap nya sambil melongo.


" Cepat cari, bawa teman teman mu, jangan sampai malam turun , kedua perempuan itu harus sudah berada di sini,..!" seru Kebo Bujul lagi.


" Bb,.baik,.. kakang,..!" jawab Wangas.


Ia pun segera meninggalkan Kebo Bujul seorang diri.


Wangas pun menemui teman temannya yang masih asyik mengobrol dan mereka pun cukup terkejut dengan apa yang telah di ucapkan oleh teman nya ini.


" Perasaan dari tadi kami tidak melihat ada orang yang telah lewat dari sini,..!" ucap salah seorang dari mereka.


Akan tetapi setelah Wangas menjelaskan bahwa salah satu dari perempuan itulah yang telah berhasil melukai Walang Kutung teman nya itu barulah mereka semua terdiam, karena umum nya diantara mereka tidak ada yg berani jika harus berhadapan dengan Walang kutung itu.


" Cepat ,.kita cari kedua perempuan itu,.. Kakang Kebo Bujul memberi batas waktu sampai malam,.!" seru Wangas.


Ucapan nya ini segera di jawab oleh teman temannya,..


" Mari,..jangan sampai mereka keburu jauh,..!"


Sepuluh orang kawanan rampok ini pun langsung bergerak meninggalkan tempat itu.


Mereka segera berpencar guna mencari Tara Rindayu dan Surti yg telah tidak berada lagi di tempatnya.


Sementara itu , Tara Rindayu dan Surti memang belum terlalu jauh dari tempat tersebut.


Karena dirinya masih menggendong tubuh Surti yg masih dalam keadaan tertotok , putri juragan Tarya ini pun segera menurunkan tubuh gadis itu dan membuka totokan nya.


" Hehh,..dimana aku ini,..!" seru Surti yg tempaknya kaget .


Karena tempatnya berada kali ini di sebuah hutan yang cukup lebat dan rapat dengan pepohonan.


" Sssthh,..jangan keras-keras ,.kita berdua berada di dalam sarang mereka,..," sahut Tara Rindayu.


Gadis ini memalangkan jari telunjuk nya di depan bibir nya. Surti pun mengerti , ia segera bangkit dan melihat ke sekeliling nya dan,..


" Ha, ha, ha, mau lari kemana kalian berdua , Cah Ayu,..!" seru seorang dari kawanan rampok itu.


Lima orang telah mengepung mereka berdua. Tara Rindayu langsung berbisik kepada Surti,..


" Kau jangan gugup, tetsplah berada di dekatku,.!" ujar Tara Rindayu.


Surti menganngukkan kepalanya.Sedangkan Putri juragan Tarya ini bersiap dengan memasang kuda kuda nya.


Kelima kawanan rampok ini mendekat perlahan dengan senjata terhunus siap menyerang mereka.


" Kalian sudah terkepung , lebih baik kalian berdua menyerah saja agar kami mudah membawa kalian menghadap Kakang Kebo Bujul,..!" ucap salah seorang kawanan rampok pimpinan Kebo Bujul itu.


Tara Rindayu diam saja , ia tidak menjawab ucapan orang itu, matanya tajam melihat pergerakan dari kelima orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2