Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 19 Hari yang Baru. bag ke empat.


__ADS_3

Kedua orang itu kembali ke rumah Ki Lamiran saat Memtari telah condong ke arah barat.


Dan saat selepas Maghrib keduanya telah bersiap menuju ke rumah yg di tempati oleh Raka Jang.


Berdua mereka menyusuri jalanan desa Kenanga menuju arah ujung desa , seleepas dari bulakan yg agak panjang dan masih di tepi daerah persawahan, nampaklah sebuah gubuk yg sebenar nya tidak layak untuk di tempati oleh seseorang.


Suasana yg gelap tanpa adanya penerangan membuat serasa tempat itu jauh, berbeda dengan Raka Senggani, semakin dekat dengan tempat itu hatinya semakin tidak karuan, seluruh perasaan nya bercampur aduk, ada rasa sedih , ada rasa gembira, bahkan ada juga rasa yg tidak peduli , akan tetapi setelah mendekat dengan tempat itu ia berhenti.


Sementara Ki lamiran terus saja berjalan dan ketika tiba di depan pintu yg terbuat dari Bambu , dan sudah nampak keropos di makan rayap, Pande besi desa Kenanga itu berkata,..


" Assalamualaikum,.." ucap nya.


Tidak ada jawaban , ternyata yg salam Ki Lamiran tidak akan yg menjawab nya.


Setelah untuk kedua kalinya diucapkan barulah terdengar sahutan dari dalam,..


" Wa 'alaikum salaam,..siapa,..masuk ,tidak di kunci,.." jawab orang dari dalam.


Pande besi desa Kenanga itu mendorong daun pintu seraya berkata,


" Aku , Ki Lamiran,..apakah Ki Raka Jang dalam keadaan sehat,..?" tanya Ki Lamiran.


" Ahh,..ternyata paman,..lumayan Paman,..walaupun batuk ku masih sering kumat,..uhuk,.huk, huk," jawab Raka Jang.


" Ada apa paman datang, persediaan berasku masih ada paman,..karena pemberian paman yg kemarin itu sangat banyak ,..dan aku belum memerlukan tambahan lagi,..Paman,.." lanjut Raka Jang.


Orang tua paruh baya itu berusaha bangkit dari tempat pembaringan nya dan ia bersandar pada tiang penyanggah rumah reot itu.


" Syukurlah jika persediaan Ki Raka Jang masih ada, Paman datang kemari bersama dengan seseorang ,..hehh,.." ucap Ki Lamiran.


Pande besi desa Kenanga itu terkejut karena tidak mendapati Raka Senggani berada disisinya, di kiranya senopati Pajang itu masih mengikuti nya dari belakang, jadi dirinya cukup kaget.


" Dengan siapa paman datang, tidak ada orang lain disini,..?" tanya Raka Jang.


Kemudian Ki Lamiran menceritakan bahwa dirinya tadi datang bersama Raka Senggani sang keponakan akan tetapi tampak nya ia masih enggan untuk masuk. Sehingga Pande besi memerlukan untuk memanggilnya.


" Hehh, benarkah yg paman ucapkan itu, mungkinkah ia mau datang kemari, mengingat seluruh kesalahanku itu amat sulit untuk di maafkan ,.jangan kan dirinya ,.anak dan istriku pun tidak pernah datang kemari, jadi kalau memang angger Senggani itu menyimpan dendam kepadaku , aku merasa memang sudah sewajarnya,.. walaupun mungkin diriku ini masih mampu untuk bertahan hidup adalah untuk mendapatkan maaf dari nya,.hehh,..mungkin sangat sulit untuk mendapatkan maafnya itu ,.. Paman,.." seru Raka Jang.


" Tidak, tidak ,..keponakan mu itu amat besar hatinya ,.. terlebih saat ini ia adalah orang Kepercayaan dari Kanjeng Sinuwun sultan Demak dan Kanjeng Gusti Adipati Pajang,..tentu dirinya akan memaafkan mu ,..Raka Jang,..tunggulah aku akan memanggilnya,.." ucap Ki Lamiran.


Namun sebelum pande besi desa Kenanga beranjak, Raka Jang masih berujar,..


" Walaupun ia tidak mau memaafkan diirku , tolong sampaikan kepadanya, bahwa seluruh kesulitan yg telah kuterima ini adalah balasan dari perbuatan ku kepadanya, karena diriku telah dan sudah merampas haknya serta menyia-nyiakan hidupnya,..ia yg telah sebantang kara dan masih yatim piatu,..memang sungguh berat yg maha kuasa menimpakan azab ini kepadaku atas kesalahan yg telah ku perbuat terhadapnya,.." ungkap Raka Jang.


" Tenang lah dirimu ,.Paman akan mengajak masuk,.." sahut Ki Lamiran.


Orang tua itu keluar dan mendapati sang senopati Pajang berdiri mematung di depan pintu,.sungguh hati pemuda itu teriris seperti telah disayat oleh sembilu.


Ia mendengar seluruh ucapan dari kakak , orang tua nya itu,.seorang yg di masa mudanya sangat gemar berjudi dan main perempuan,.. Sehingga seluruh hartanya ludes habis, termasuk dengan harta Raka Jaya,..orang tua Raka Senggani.


Jika pemuda itu mengenang saat belasan tahun silam, hati nya akan hancur karena perbuatan Paman nya itu, tetapi saat kini melihat keadaan nya seperti ini hatinya kembali tersentuh dengan perasaan iba,. karena dialah satu -satunya keluarga nya yg masih ada.

__ADS_1


" Sudah lah Ngger,.mari kita masuk, kita buat suatu Hari yang baru dalam kehidupan ini dengan memaafkan kesalahan orang lain, apalagi ia adalah paman mu dan saat ini sudah berusia lanjut, sakit -sakitan lagi," ungkap Ki Lamiran.


Pande besi desa Kenanga itu menarik tangan Raka Senggani untuk masuk ke dalam gubuk tersebut.


Jika saat itu keadaan hari terang tentulah , Ki Lamiran akan melihat mata dari Senopati Pajang itu tengah berkaca -kaca terlebih setelah mendengar ucapan dari Paman nya itu.


Perlahan ia mengikuti langkah kaki Ki Lamiran masuk ke dalam gubuk yg di tempati oleh Raka Jang.


Begitu masuk di lihatnya seorang lelaki tua yg sedang bersandar pada tiang gubuk tersebut,..rumah yg di tempati oleh Raka Jang itu lebih buruk keadaannya dari gubuk nya si Mbok Rondo.


Sang Senopati sangat terkejut setelah melihat keadaan Paman nya itu,..terlihat jauh lebih tua dari umur yg sebenar nya.


Hehh,..ternyata paman Raka Jang sudah setua ini,..sungguh aku tidak menyangka,.bathin Raka Senggani berkata.


Lama ia menatap orang tua yg ada di hadapan nya itu ,..hampir hampir ia tidak mengenalnya,..rambut lelaki itu telah memutih semua dan cukup panjang, sedangkan kulitnya terlihat sudah keriput,.jika di bandingkan dengan Ki Lamiran yg terpaut usianya sangat jauh ,.masih terlihat lebih muda pande besi desa Kenanga itu.


Mungkin yg Maha Kuasa telah mengazabnya, begitulah yg ada di pikiran sang Senopati.


Ia kemudian lebih mendekat lagi, sementara itu Raka Jang menatap ke arah wajah pemuda yg ada dihadapan nya, tetapi ia sungguh tidak mengenalnya, baru ketika Raka Senggani berkata,


" Paman ,...iiini Senggani ,..Paman,."


Kata pemuda itu sambil menggenggam tangan Raka Jang. Ia terus menatap lelaki tua itu.


Sedangkan yg di tatap malah langsung menangis dan memeluk nya dengan erat.


" Maafkan kesalahan Paman mu ini,..Ngger,.. sungguh jika di kumpulkan seluruh dosa paman terhadapmu tentu sudah setinggi puncak mahameru,..Ngger, sangat banyak,..maafkanlah ,.maafkanlah, Paman,..uhuk ,.huk,.huk,.."


Kata Raka Jang sampai terbatuk -batuk,.ia memeluk erat wajah pemuda itu dan membuat Raka Senggani jadi gelagapan ,beruntung tidak terlalu lama.


Pemuda itu tampak menahan kesedihan setelah melihat keadaan dari Paman nya itu yg serba kekurangan,.. wajah kesombongan yg dahulu sering di lihatnya tidak tampak lagi sekarang,hanya wajah kesedihan dan sangat tua yg tampak di raut lelaki itu.


" Paman ,..benarkah kakang Yantra dan kangmbok Wuni tidak pernah datang kemari,..?" tanya Raka Senggani tiba -tiba.


Ia teringat atas kedua sepupunya itu yg dahulu amat benci terhadap dirinya,.sehingga ia sering berkelahi dengan keduanya , sampai ia meninggalkan desa Kenanga , ia masih menyimpan dendam terhadap keduanya.


Selain sering berkelahi ,.mereka berdua pun sering mengejek dirinya yg sudah tidak punya orang tua lagi. Pada saat itu perasaan Raka Senggani amat sedih dan benci terhadap saudara sepupunya tersebut.


Mendapatkan pertanyaan dari keponakan nya, Raka Jang menjawab nya sambil terisak -isak sedih,..


" Entahlah Ngger,..mungkin biyung nya melarang untuk datang kemari atau memang mereka merasa memang sudah tidak memiliki seorang ayah lagi,.apalah artinya Paman mu di mata mereka, dan lagi jika mereka memang sudah tidak memerlukan paman,.itu tidak apa.asal dirimu mau memaafkan paman,.." terang Raka Jang.


Lelaki tua itu sampai menyeka airmata nya yg sempat menetes jika ia te kenang dengan kedua orang anaknya itu.


Orang tua mana yg tidak akan sedih jika anaknya tidak mau memperhatikan nya terlebih saat ini ia dalam keadaan sakit sakitan.


Hehh,.mungkin ini adalah ujian yg di berikan oleh yg Maha Kuasa setelah aku menyia -nyiakan mereka,..keluh Raka Jang dalam hati.


" Namun paman Patih teramat senang setelah dirimu mau memaafkan dan menerima paman ini sebagai seorang paman, itu sudah cukup membuat hatiku tenang,..jika harus meninggalkan dunia ini hati paman akan tenang setelah mendaptakan kata maaf dari mu,.. Ngger,.." jawab Raka Jang.


" Dimana saat ini mereka berada paman,..?" tanya Raka Senggani lagi.

__ADS_1


Ia tidak memperdulikan ucapan paman nya itu, rasa keinginan untuk mengetahui keberadaan saudara sepuounya itu lebih menggelitik hatinya.


Mengapa mereka setega itu terhadap orang tua nya sendiri yg telah membesarkan mereka dan selalu menyayangi, bahkan ketika dahulu mereka berbuat semena -mena terhadap dirinya, Paman nya selalu membela nya , mengapa saat ini mereka tidak ada untuk orang tuanya itu, aneh itulah yg ada di benak Senopati Pajang tersebut.


Lelaki tua itu kemudian menjawabnya,..


" Entahlah Ngger,.paman tidak tahu keberadaan mereka, dari beberapa orang yg pernah melihat mereka berada di Warasaba, namun di lain waktu ada yg menyebutkan mereka berada di Wahanten,.. biarlah,..paman memang layak untuk menerimanya,.." jelas Raka Jang.


Jelas sekali dari nada pembicaraan nya ia memang tidak terlalu berharap banyak pada keluarganya itu, meski jauh di lubuk hatinya yg paling dalam ia masih merindukan nya.


Memang di saat masih jaya , dirinya melupakan keluarganya tersebut termasuk dengan sang keponakan dan ketika untuk pertama kalinya Raka senggani datang berkunjung hatinya sudah teramat senang.


" Paman merasa lega Ngger, dirimu mau datang kemari,. seandainya pun dirimu tidak mau mengakui paman sebagai keluarga , paman masih dapat terima, asalkan dirimu mau memaafkan semua kesalahan paman terhadap mu,.." ucap nya lagi.


" Sudah lah paman, jangan diingat -ingat lagi masa yg lampau , sekarang paman harus berusaha untuk bangkit dan bila perlu, paman harus mencari kakang Yantra dan kangmbok Wuni, siapa tahu mereka memang takut sama bibi sehingga tidak berani datang kemari,.." sahut Raka Senggani.


" Heahh,..mereka bukan lah anak kecil lagi Ngger,mungkin sudah sebesar setegap dirimu, jadi tidak merupakan suatu alasan mereka harus takut untuk datang kemari, jika dilarang oleh biyungnya, ntahlah ,..paman tidak tahu,.. sedangkan dirimu mau memaafkan,. paman ,..mengapa mereka tidak,."


Terdengar nada kekecewaan dari nada ucapannya itu.


Disaat usia senjanya , Raka Jang yg sudah tidak memiliki apa -apa harus menelan kekecewaan atas sikap keluarganya,..tetapi ia juga tidak dapat menyalahkan mereka sepenuhnya, karena semua itu berasal dari dirinya sendiri.


Sampai larut malam ,.Raka Senggani dan Ki Lamiran berada di gubuk reot yg di tempati oleh paman nya itu.


Hati Senopati Pajang itu benar -benar tersentuh setelah melihat nasib yg dialami oleh pamannya itu .


Ia berjanji di dalam hati untuk membuatkan sebuah rumah yg layak utnuk di huni oleh pamannya tersebut.


Hal ini ia utarakan kepada Ki Lamiran, mendengar penuturan dari Senopati Pajang tersebut, Ki Lamiran sampai terperangah,.ia sangat girang sekali mendengarnya, setelah sekian lama ia melihat bahwa anak angkatnya itu tidak pernah melihat ataupun membicarakan keadaan pamannya,..kini ia malah berniat akan membuatkan sebuah rumah yg layak untuk nya.


Setelah di tanyakan oleh Raka Senggani,. dimana kah tempat yg pantas untuk dirinya membuatkan rumah pamannya tersebut, tanpa ragu , Pande besi desa Kenanga itu mengatakan nya di Pategalan.


" Maksud Aki ,..gubuk Mbok Rondo itu,..?" tanya Raka Senggani.


Ia tidak menyangka pendapat Ki Lamiran sesuai dengan keinginan nya , karena selain tidak terlalu jauh dari rumah para warga desa Kenanga, tempat itu pun cukup luas.


" Tidak usah di Gubuk Mbok Rondo itu,.. karena biarlah gubuk itu untuk kenangan kita berdua ,..di dekatnya kita bangun rumah yg pantas untuk Ki Raka Jang,..mudah mudahan ia akan senang mendengar nya dan mau tinggal di sana,.." ucap Ki Lamiran.


" Baiklah Ki ,..besok Raka Senggani akan meminta bantuan terhadap Ki Bekel dan Ki Jagabaya agar dapat membantu untuk membuat sebuah rumah yg layak huni bagi paman Raka Jang dalam Pategalan si Mbok Rondo,.sehingga si Mbok pun akan mendapatkan amal pahala atas apa yg telah di tinggalkan nya itu,.." ucap Raka Senggani.


Keduanya terus berjalan pulang dan meninggalkan Ki Raka Jang di dalam gubuknya sendiri. Meski hati Raka Senggani kurang tega setelah melihat keadaan orang tua itu.


Dan pada keesokan harinya, Raka Senggani langsung mengahdap Bekel desa Kenanga.


Di rumah Pemimpin desa itu ia kemudian menceritakan apa yg menjadi niatan nya guna membantu paman nya.


Ia mengatakan ingin membangunkan sebuah rumah yg layak kepada pamannya itu.


Mendengar hal itu , Ki Bekel amat terkejut mendengar ny, karena sudah sejak lama ia tahu bahwa pemuda itu tidak memperdulikan kehidupan Paman nya tersebut, tetapi mengapa sekarang ialah yg berniat melakukan nya.


" Apakah aku tidak Salah dengar,..Ngger,.dirimu akan mmebangunkan rumah Ki Raka Jang,..?" tanya Ki Bekel.

__ADS_1


" Tidak ki Bekel,..sudah sewajarnya seorang anak membantu orang tuanya,. walaupun Senggani rasa agak terlambat, tetapi,..ia adalah orang tua Senggani juga Ki Bekel,.." jelas Raka Senggani.


" Baik ,..kami siap memabntumu Ngger,..kapan dan dimana rumah itu akan di bangun,?" tanya Ki Bekel lagi.


__ADS_2