
Selama dua hari Senopati Sandi Demak dan istrinya tertahan di pedukuhan Randu Alas.
Atas permintaan dari Bekel pedukuhan itu, sepasang suami istri itu diminta untuk tinggal guna menjaga Gagak Gangsu, karena Pemimpin rampok itu telah mulai sehat.
" Anakmas Senopati Brastha Abipraya, kami memohon kepadamu untuk membawa Gagak Gangsu itu ke Demak, karena kami disini tidak akan mampu menjaga nya ,.." ucap Bekel Randu Alas.
" Ki Bekel, jangan khawatir, kami akan membawa mereka yg telah sehat, termasuk Gagak Gangsu itu," sahut Raka Senggani.
Hati Bekel Randu Alas menjadi sangat senang, karena ancaman atas tingkah Gagak Gangsu ini telah dapat di atasi.
Bekel Randu Alas mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan dari Senopati Brastha Abipraya itu guna mengatasi permasalahan yg telah cukup lama menghantui mereka.
Ia juga mengucapkan permintaan maaf atas kesalah pahaman saat pertama kali mereka bertemu, sempat menyangka bahwa sang Senopati itu adalah bagian kawanan rampok Gagak Gangsu.
Setelah beberapa hari di Pedukuhan Randu Alas, akhirnya mereka meninggalkan pedukuhan itu dengan membawa Gagak Gangsu.
Dalam perjalanan kembali menuju ke Kotaraja Demak, Gagak Gangsu itu berkata,
" Senopati Brastha Abipraya, sebaliknya lah kami dilepaskan saja,..agar perjalanan kalian berdua tidak terganggu,." ucap pemimpin rampok itu.
Sambil menatap wajah Gagak Gangsu, Raka Senggani langsung menjawab,
" Memang kalian akan mengganggu perjalanan kami, tetapi jika kalian kami lepaskan, kalian lah yg akan menggangu para penduduk biasa dengan kejahatan yg kalian lakukan," jawab Senopati Sandi Demak itu.
" Senopati,..kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami lagi, jika dirimu membebaskan kami,!" ungkap Gagak Gangsu.
" Tetapi apa yg dapat menjamin kalian dapat menepati janji kalian itu,.?" tanya Raka Senggani.
Ia tidak dapat meluluskan permintaan para kawanan rampok, karena akibatnya akan sangat besar terhadap para penduduk dan juga rakyat Demak.
" Kalau kalian dapat melakukan sebuah janji atau suatu jaminan untuk ku tidak akan mengualangi lagi perbuatan kalian ini, aku dapat membebaskan kalian,.." ucap Senopati Sandi Demak ini.
Sambil ia terus saja menjalankan kudanya dengan perlahan , karena mereka berdua tidak dapat terlalu jauh meninggalkan rombongan Gagak Gangsu dan seluruh anak buah nya itu.
Disebabkan para tawanan ini berjalan kaki, dan tentunya membuat jalan mereka sangat lambat.
Sari Kemuning yg nampaknya kurang berkenan dengan keadaan ini segera merapatkan kudanya dengan kuda suaminya.
" Kang, apa tidak sebaiknya permintaan mereka itu kita luluskan saja, toh jika mereka akan mengualangi perbuatan nya itu, kita dapat langsung menghabisi mereka ,." ucap sang istri.
" Kemuning, Kakang tidak dapat mengambil resiko dengan melepaskan mereka,. bagaimana jika kita tidak dapat menemukan mereka karena Demak akan segera mengirimkan pasukan nya ke melaka, dan mereka disini berbuat seenaknya bahkan lebih kejam lagi, siapa yg di persalahakan,?" tanya Senopati Sandi Demak itu kepada istrinya.
Ada benar nya juga apa yg di ucapkan oleh sang suami, sehingga Sari Kemuning tidak berani lagi untuk membicarakan mengenai pembebasan para tawanan ini.
Walaupun jalan keduanya menjadi terhambat oleh nya.
__________
Sementara itu di kotaraja Demak, tepatnya di Kadilangu, dimana tempat Kanjeng Sunan Kalijaga berada.
__ADS_1
Telah hadir para wali yg akan membicarakan mengenai masalah keinginan Sultan Demak yg akan berperang melawan penjajah asing di tanah melayu itu.
Di tempat itu telah hadir, Sunan Giri atau Raden Paku , Sunan Kudus atau Raden ja' far shodiq, Sunan Bonang atau raden Maulana makdum Ibrahim,Sunan drajat atau raden Qosim syaifuddin, Sunan Muria atau Raden Umar Said.
Walau menyisakan beberapa orang wali lagi, namun tampak nya jalan sidang tetap dilaksanakan dan sebagai pengganti Pemimpin para setelah mangkatnya Kanjeng Sunan Ampel diangkatlah Kanjeng Sunan Giri sebagai penggantinya.
Walaupun pada saat itu ada orang yg mengusulkan Kanjeng Sunan Gunung Jati atau Kanjeng Sunan Kalijaga yg jadi Pemimpin nya. Namun mereka tidak ada yg bersedia.
Dalam sidang kali ini, oleh Kanjeng Sunan Giri dibahas mengenai niatan dari Sultan Demak yg akan memberangkatkan armada nya ke Melaka.Mereka keberatan jika Kanjeng Sultan Demak sendiri yg memimpin Pasukan nya untuk melawan bangsa asing itu.
Seluruh para wali sepakat dalam hal ini kecuali satu yaitu Sunan Gunung Jati.
Wali yg bertugas dan berada di wliayah kulon inilah yg sangat mendukung niatan dari Sang Sultan untuk tetap menjadi senopati Agungnya dalam misi jihad fisabilillah mengusir penjajah tersebut.
" Memang kita semua maklum atas apa yg dipikirkan oleh adi Sunan Gunung Jati, ia memang berharap kepada anakmas Sultan untuk dapat menjadi seperti Sultan Al fatih dari Istanbul turki, " jelas Sunan Giri.
Dan para wali yg lain pun membenarkan atas ucapan itu , sebagaimana mereka ketahui bahwa Sunan Gunung Jati lah pelopor penyerangan Pasukan Demak ke Melaka pada peenyerbuan untuk pertama kali nya.
" Sungguh kita pun dapat memahami nya, siapa yg tidak akan bangga jika ada Pemimpin negeri yg dapat berjaya seperti yg telah di lakukan oleh Sultan Muhammad Al fatih itu, namun saat ini Demak masih sangat rentan akan perpecahan, terutamanya bagi mereka yg berkeinginan untuk membangkitkan kejayaan Majapahit dimasa lampau, di tambah lagi , banyaknya orang orang yg tidak bertanggungjawab mengambil kesempatan di saat seperti ini, " ucap Kanjeng Sunan Giri lagi.
Kemudian Pemimpin para wali ini meminta pendapat para wali yg ada hadir di situ.
Umum nya mereka menginginkan untuk merelakan Pasukan Demak itu tetap berangkat , tetapi tidak dengan Sultan Demak nya.
Mereka menginginkan sang Sultan untuk tetap berada di Kotaraja Demak dan biarlah pasukan tersebut di pimpin oleh Senopati Agung yg lain.
Itulah kata sepakat yg di tetapkan oleh para wali yg bersidang itu, yg di pimpin oleh Sunan Giri .
" Kalau ada kangmas Sunan Gunung Jati , mungkin beliau lah yg sangat pantas untuk mengatakan hal ini kepada anakmas Sultan,." sahut Sunan Kalijaga.
" Tetapi beliau tidak berada disini, biarlah kita kita yg ada disini saja yg menyampaikan hal ini kepada anakmas Sultan, sebaiknya lah dirimu anakmas Kalijaga dan juga anakmas kudus yg menjalankan tugas ini, " ucap Sunan Bonang.
Baik Sunan Kalijaga mauapun Sunan Kudus pun menyanggupi permintaan dari sesepuh para wali itu.
Mereka akan menjadi duta para wali menyampaikan keberatan nya atas kepergian Kanjeng Sultan Demak sebagai seorang Senopati Agung Demak yg akan menjadi Pemimpin perang armada laut pasukan Demak.
Ada ke khawatiran di kalangan para wali jika misi jihad fisabilillah ini gagal, dan menyebabkan sang Sultan tewas, tentu akan sangat membahayakan bagi kedudukan Demak sebagai pusat pemerintahan yg bercorak Islam pertama yg ada di Jawadwipa ini.
Jika kelak peralihan kekuasaan dari Kesultanan Demak ini tidak berjalan dengan baik tentunya akan membuat Kerajaan Islam pertama ini yg berdiri nya di motori para wali akan menemui kehancuran nya, itu sama artinya dakwah yg di jalankan di seluruh tlatah nusantara ini dapat berhenti dengan tiba tiba, dan kekuatan lama dapat bangkit kembali .
Dan para wali tidak menginginkan hal tersebut, sedapat mungkin mereka akan mencegah keberangkatan dari Pangeran Sabrang Lor ini yg sekarang telah bergelar sebagai Sultan Demak yg kedua.
Jika waktu dahulu keberangkatan nya itu tidak menjadi persoalan di karenakan ia bukan seorang Raja atau Sultan , yg memiliki kekuasaan penuh atas Kerajaan Demak ini, sehingga tidak ada permasalahan nya , berbeda dengan kali ini, Pangeran Sabrang Lor, atau pun Senopati Sarjawala itu adalah seorang Raja , yg berkedudukan di istana dengan semua kekuasaan dan kekuatan nya, sangat di sayangkan jika beliau sendiri lah yg akan jadi Senopati nya dalam perang kali ini.
Setelah pertemuan di Kadilangu selesai, dan Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Kudus yg mendapatkan mandat untuk menyampaikan pesan para wali tersebut kepada Sang Sultan Demak sendiri.
Sehingga kedua orang wali ini pun menjalankan tugas nya menghadap Kanjeng Sinuwun di dalam istana nya.
Kedatangan keduanya membuat Kanjeng Sinuwun menjadi sangat terkejut karena tidak seperti biasanya kedua orang wali yg sangat di segani di tlatah Demak ini menghadap nya secara bersama sama.
__ADS_1
Apalagi Sunan Kudus, yg sebenarnya adalah merupakan Senopati pasukan Demak sendiri, bahkan saat perang melawan Majapahit ia lah yg menjadi Senopati Agung nya.
" Ada apa Paman Sunan menghadap Ku, apakah ada sesuatu yg penting , sehingga kalian berdua datang secara bersama sama,..?" tanya Sultan Demak itu kepada keduanya.
Dan kali ini , ia menerima kedua tamu nya tersebut di sebuah bangsal tersendiri yg di khususkan untuk menerima tamu yg sangat penting dan secara pribadi, agar apa yg di bicarakan lebih bersifat leluasa dan bebas namun tidak dapat di ketahui oleh khaalayak umum dan luas. Kerahasian nya dapat tetap terjaga.
" Maafkan kami sebelumnya anakmas Sultan, kedatangan kami berdua ini sehubungan dengan niatan dari Anakmas Sultan yg akan segera memberangkatkan pasukan ke Melaka,." ucap Sunan Kalijaga.
" Memang benar Paman Sunan,.. Pasukan Demak memang telah siap untuk di berangkatkan tinggal menunggu laporan dari para prajurit telik sandi Demak yg telah di tugaskan untuk melihat dan mengetahui secara pasti kekuatan musuh,.." jelas Sultan Demak kedua ini.
Ia yg bergelar Senopati Sarjawala dan juga Pangeran Sabrang Lor, memang masih berusia sangat muda , bahkan cenderung jiwa nya masih suka meledak ledak.
Dan Sang Sultan merasa tidak senang dan tidak tenang duduk saja di singgasana nya tanpa berbuat sesuatu , seperti yg selama ini ia telah lakukan.
Namun perbedaan nya kali ini , ia adalah tempat bergantung dari seluruh warga dan rakyat Demak , sebagai tempat pengambil keputusan dan juga simbol dari Kerajaan Demak baru berdiri itu.
Jadi sangat di sayangkan jika dalam keadaan tidak terdesak ataupun memrlukan tangan Sultan untuk turun , pekerjaan tersebut di lakukan oleh Sang Sultan sendiri.
" Ampunkan hamba , anakmas Sultan,. Sebenarnya dewan para wali tidak mempermasalahkan tentang keberangkatan dari armada pasukan Demak ini guna membantu rakyat melayu lepas dari penjajahan dan penindasan bangsa asing itu,.." ucap Sunan Kudus.
" Jadi dimana letak masalahnya, jika dewan para wali mendukung niatan kami untuk menyerang Melaka ,?" tanya Sultan Demak lagi.
Kemudian Sunan Kalijaga menjelaskan kepada Sang Sultan mengenai keberangkatan dari Sang Sultan sendiri yg akan jadi Senopati Agungnya dalam lawatan ke tanah melayu kali ini, karena pada saat penyerbuan pertama yg gagal itu, sang Sultan lah yg menjadi Senopati Agung nya dan saat itu bergelar Senopati Sarjawala
Jadi , masih menurut hasil sidang dewan para wali, meminta kepada Sang Sultan untuk mengurungkan niatnya meminmpin sendiri pasukan nya , biarlah Senopati Agungnya itu di serahkan kepada orang lain saja, kalau sang Sultan tidak berkenan dari kalangan tua seperti mereka, beliau dapat menghunjuk dari kalangan muda , asalkan tidak sang Sultan Demak sendiri yg turun langsung ke medan laga.
Lama , Kanjeng Sinuwun terdiam mendengar ucapan dari Kanjeng Sunan Kalijaga itu, ia merasa ada yg salah dari ucapan nya , sehingga sang Sultan langsung menanggapinya,.
" Apakah Paman Sunan berdua tidak senang memiliki pemimpin seperti Sultan Muhammad Al Fatih dari turki, selain ia masih berusia sangat muda, ia pulalah yg telah membuat hadis rasulullah Saw menjadi kenyataan, sebagai sebaik baiknya pemimpin dan sebaik baiknya pasukan yg di pimpin nya,..sehingga konstantinopel jatuh ke tangan nya , dan ia ubah menjadi nama Istambul, yg artinya kota Islam,!" ungkap Sultan Demak kedua ini.
Sambil menarik nafasnya, sang Sultan Kemudian melanjutkan lagi ucapan nya, bahwa semua keinginan nya adalah menjadikan islam berjaya di seantero nusantara ini, jika dapat sampai mancanegara, dan suatu tindakan jihad fisabilillah adalah kewajiban seorang muslim sejati tidak pandang bulu apakah ia rakyat jelata atau seorang Raja, kedudukan nya sama di mata Allah Swt,.tidak ada beda nya , tidak ada kastanya, Aku akan sangat senang sekali jika syahid di jalan Allah, terlebih memperjuangakan kepentingan agama Nya, yaitu membebaskan umat muslim dari penjajahan dan penindasan., jelas Sang Sultan Demak.
Ia masih menambahkan perkataannya dengan dirinya menjadi seorang Raja atau menjadi seorang rakyat biasa , tugas nya tetap sama , dan kali ini tugas itu akan tetap ia pikul sendiri di atas pundak selaku seorang pemimpin dari Kerajaan Demak ini.
" Akan tetapi ada perbedaan nya saat anakmas masih menjadi seorang Adipati anom dengan saat ini yg telah menjadi Sultan di Demak ini, perbedaan itu sangat mencolok, anakmas, di saat anakmas Sultan masih menjadi seorang Adipati anom , anakmas hanya tunduk dan patuh terhadap semua perintah dari Kanjeng Sinuwun, berbeda dengan saat ini, anakmas Sultan yg memegang kendali seluruh kekuasaan di Demak ini, dan selaku seorang Sultan atau Raja , anakmas Sultan harus mengayomi seluruh kawula Demak ini dengan baik dan biarlah mengenai masalah penerangan di serahkan kepada para Senopati yg bertanggung jawab atas nya, bukankah masih sangat banyak Senopati Senopati pinunjul dari Demak ini, cukup anakmas Sultan perintahkan , mereka tentu akan siap untuk melakukan nya,.." jelas Kanjeng Sunan Kalijaga.
" Maaf sebelumnya paman Sunan,.tetapi sudah menjadi tekadku sejak diangkat menjadi seorang Senopati Sarjawala , terlebih setelah kekalahan diriku dalam penyerbuan pertama kalinya, Aku akan tetap menjadi senopati nya, terlebih setelah diangkat sebagai seorang Sultan di Demak ini, karena tugas seorang Sultan bukan hanya duduk duduk santai di atas kursi singgasana nya, ada perhitungan nya kelak, jika seorang Raja kerja nya cuma berpangku tangan saja, tentu ia adalah Raja yg akan di campakkan ke dalam api neraka, memiliki kekuasaan tidak mampu menjalankan nya dengan baik hanya mengandalkan orang lain, itu ciri pemimpin lalim..," sebut Sang Sultan Demak.
" Akan tetapi kami mengkhawatirkan keselamatan dirimu anakmas Sultan,. apa yg akan terjadi jika dirimu tidak dapat kembali dari medan perang itu, bagaimana kelanjutan dari Kerajaan Demak ini, dan apa yg dapat kami lakukan untuk mempertahankan nya,..?"
Sebuah ucapan dan sekaligus pertanyaan yg di lontarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga kepada sultan Demak yg masih berusia muda itu.
Namun memang Sang Sultan tetap kukuh dengan pendiriannya, ia mengatakan kepada keduanya bahwa jika Sang khalik merestui dan masih memberinya keselamatan , tentu ia akan dapat kembali ke Demak ini tanpa kurang suatu apa, akan tetapi jika kelak ia memang di takdirkan syahid dalam peperangan kali ini, ia akan ikhlas menerima nya, dan mengenai kelanjutan dari tahta Kerajaan Demak, ia serahkan kepada yg maha kuasa, semuanya akan kembali padanya, tidak terkecuali dirinya.Demikianlah yg di tuturkan oleh penguasa Kerajàan Demak kedua ini.
Dan bagi dua orang utusan dewan para wali ini merasa gagal untuk membujuk Sang Sultan mengurungkan niatannya menjadi Senopati Agung dalam peperangan kali ini.
Bagi keduanya hanya dapat berdoa agar Sang Sultan tetap di berikan kesehatan dan keselamatan untuknya.
Meskipun tugas mereka kali inj gagal untuk membujuk sang sultan mengurung kan niat nya menjadi Senopati Agung pada penyerangan ke Malaka kali ini.
__ADS_1
Tetapi tetap saja keduanya telah melakukan upayanya mencegah sang Sultan untuk berangkat.Tetapi apa mau dikata Sultan Demak kedua ini teguh pada pendirian nya.