
Seekor kuda berlari kencang dari arah utara.Tampaknya sang penunggang kuda sedang terburu buru.
Ya, dialah Raka Senggani yg tengah dilanda kegelisahan akan keadaan Sari Kemuning yg kini akan mengalami persalinan anak pertama mereka.
Dalam hati Senopati Bima Sakti ini berkata , apakah ia akan dapat melihat kelahiran anak pertama nya.
Jadilah si Jangu yg menderap kencang melintasi jalan menuju arah selatan.
Bersamaan itu pula di desa Kenanga sendiri, ternyata memang Sari Kemuning tengah merasakan sakit yg lumayan berat , ia memang sudah saat nya untuk melahirkan.
" Biyung,..apakah ada khabar mengenai Kakang Senggani ,.?" tanya nya pelan pada ibunya.
" Belum,.Ndhuk,.. Kakang mu Witangsa yg telah kami suruh untuk berangkat ke kotaraja Demak pun belum kembali,.!" jawab ibunya.
Ibu dari Sari Kemuning ini selalu setia mendampingi putri satu satunya ini saat akan melahirkan.
Keluarga ini merasa gembira menyambut kelahiran dari anak Sari Kemuning.Meskipun sampai saat ini bayi tersebut belum lahir.
Apakah ia menunggu bapaknya baru akan lahir, begitulah tanya keluarga Ki Jagabaya ini.
Bahkan tidak jarang,.Dewi Dwarani datang sekedar menemani Sari Kemuning agar ada orang yg dapat diajak mengobrol Sari Kemuning.
Disaat pagi itu, bertepatan dengan kedatangan dari Putri Ki Bekel desa Kenanga ini maka ibunda Sari Kemuning pun segera ke dapur.
" Ahh, kalau begitu bibi ke belakang dahulu,.Ngger,..!" ucap istri Ki Jagabaya ini.
" Silahkan,. Bi,..biar Kemuning,..Rani yg menemani nya,..!" jawab Dewi Dwarani.
Perempuan paruh baya ini pun bangkit seraya keluar dari dalam bilik Putri nya.
Setelah kepergian dari istri Ki Jagabaya ini, Dewi Dwarani langsung berucap kepada Sari Kemuning,.
" Kemuning,..tahukah kau bahwa saat ini Demak tengah mempersiapkan serangan ke Sunda Kelapa,..!" ucapnya pada temannya ini.
" Darimana kau mengetahui nya, Rani,..?" tanya Sari Kemuning heran.
Sebab dari ucapan nya ini, ada kemungkinan nya sang suami akan tertahan cukup lama di Kotaraja Demak.
" Kakang Andara yg. mengatakan nya kepadaku,.bahkan dari yg ia katakan itu,..kali ini Senopati yg akan di hunjuk oleh Kanjeng Sultan adalah Raden Fatahillah atau bergelar Wong Agung,..!" terang Putri Bekel desa Kenanga ini.
" Ahh,..Syukurlah,..mudah mudahan Kakang Senggani tidak akan tertahan di Demak jika memang ia telah benar benar mengundurkan diri dari keprajuritan Demak,.dan tidak akan bertugas lagi disana,.!" kata Sari Kemuning merasa lega.
Ia masih mengingat ketika harus pergi berpetualang ke negeri seberang bersama sang suami disaat Raka Senggani masih menjadi Senopati Sandi yuda Demak di masa pemerintahan Kanjeng Sultan Demak yg kedua.
Walaupun cukup menyenangkan masa masa tersebut, akan tetapi waktu untuk bersama sang suami cenderung sangat sedikit dan untuk itulah ia berdoa secepatnya Raka Senggani dapat kembali ke desa Kenanga ini dengan membawa berita gembira bahwa dirinya tidak lagi menjadi salah seorang Senopati yg akan turut serta ke Kulon itu.
Akan tetapi berdasarkan dari cerita kakaknya yaitu Jati Andara,.bahwa kemungkinan Senopati Bima Sakti ini akan diajak turut serta pula ke kulon terbuka lebar, karena kekaguman dari Raden Fatahillah terhadap Raka Senggani saat pecah perang melawan bangsa asing di Melaka beberapa waktu lalu, demikian lah tutur Dewi Dwarani.
" Semoga saja hal itu tidak akan terjadi , Rani, biarlah kakang Witangsa dan Kakang Andara saja yg pergi ke sana,..!" ucap Sari Kemuning.
Putri dari Ki Jagabaya ini terlihat merintih kesakitan.
" Ada apa, Kemuning,..apakah kamu sakit,.. apakah akan melahirkan,..?" tanya Dewi Dwarani yg tampak gugup.
" Ra,..ni,..tolong panggilkan biyungku, perut ku terasa sakit sekali , seperti nya aku memang akan segera melahirkan,..!" ucap Sari Kemuning.
Keringat terlihat mengucur deras dari dahi putri Ki Jagabaya ini, ia pun nampak sangat gelisah.
Tidak menunggu lama,..datanglah ibunda nya masuk ke dalam, lantas berkata,..
__ADS_1
" Angger Rani,..bibi minta tolong untuk memanggilkan si mbok tanur agar ia mau datang kemari,..sepertinya memang Kemuning akan segera melahirkan,.!" ucap Ibu Sari Kemuning.
" Baik Bi,..!" sahut Dewi Dwarani.
Dengan sangat cepat Putri Ki Bekel ini keluar dari rumah Ki Jagabaya. Ia berjalan menuju ke rumah kediaman si Mbok Tanur, yg merupakan dukun beranak yg ada di desanya ini.
Langkah kaki gadis cantik, putri Ki Bekel ini seperti tidak menginjak tanah lagi, meskipun tampaknya hanya berjalan biasa saja tetapi ternyata ia mengtrapkan ilmu peringan tubuhnya sehingga sebentar saja telah tiba di rumah si Mbok Tanur.
" Ahh, ada apa,..cah ayu, kelihatannya terburu buru,..?" tanya si Mbok Tanur yg masih berada di halaman depan rumahnya.
Ia terlihat tengah mengangkati jemuran ketela singkong nya yg akan ia jadikan gaplek.Walaupun usia perempuan itu sudah cukup tua atau boleh dikata sangat sepuh tetapi gerakan nya masih sangat baik dan bertenaga, sepetinya dukun beranak ini pun bukan orang sembarangan.
" Ahh, anu,..ehh,.. Sari Kemuning, putri Ki Jagabaya akan melahirkan,.. Mbok,..!" jawab Dewi Dwarani.
" Ooo,..tunggulah sebentar ,..si Mbok mau memberesi ini terlebih dahulu,.kalau Cah Ayu mau duluan terlebih dahulu silahkan,..nanti si mbok akan menyusul,..!" ucap si Mbok Tanur.
Dewi Dwarani pun mengangguk menyetujui nya , ia pun segera meninggalkan tempat kediaman si Mbok Tanur .
Sementara itu ,.. perempuan tua ini segera menyelesaikan pekerjaan nya dan selanjutnya pun ia berkemas , menyiapkan beberapa peralatannya guna membantu persalinan putri Ki Jagabaya itu.
Tidak terlalu lama , setelah kepergian dari Dewi Dwarani , si Mbok Tanur pun menyusul dari belakang.
Dan begitu tiba di rumah Ki Jagabaya ,.. Dewi Dwarani pun cukup terkejut setelah melihat si Mbok Tanur pun telah berada disana pula.
Hehh,.. bukankah tadi, si Mbok Tanur kutinggalkan masih membereskan jemuran nya, mengapa sekarang ini ia yg lebih dahulu berada disini, bukankah aku pun tadi telah mengetrapkan ilmu lari cepatku,..bertanya dalam hati putri Ki Bekel ini.
Akan tetapi ia tidak mencetuskan nya di hadapan orang banyak, karena saat itu, rumah Ki Jagabaya telah di penuhi oleh beberapa jiran tetangga yang akan membantu keluarga tersebut. Termasuk di dalam nya ada Ki Bekel dan istrinya yang merupakan orang tua dari Dewi Dwarani pun telah berada di situ.
Sampai menjelang malam, Sari Kemuning masih kesulitan untuk melahirkan putra pertamanya ini.Dengan di bantu oleh si Mbok Tanur maka putri Ki Jagabaya ini melahirkan saat wayah sepi bocah,.. dimana ia melahirkan seorang bayi laki-laki yg cukup tampan, sangat mirip dengan ayahnya, Raka Senggani.
Seluruh keluarga termasuk jiran tetangga, bahkan penghuni desa Kenanga ini merasa sangat senang sekali dengan kelahiran putra dari Sari Kemuning ini.
Baik nama Ki Jagabaya maupun nama Sari Kemuning sudah sangat harum namanya di desa Kenanga ini ditambah lagi dengan nama Raka Senggani, siapa orang yang tidak kenal dengan pemilik dua gelar, yaitu gelar Senopati Brastha Abipraya dari Pajang dan Senopati Bima Sakti dari Demak.
Sehingga malam itu, di rumah orang nomor dua desa Kenanga ini sangat ramai.Umumnya mereka berjaga jaga di kediaman keluarga Ki Jagabaya ini.
Sementara itu ,..di pertigaan antara kedawung dan menuju Pajang tampak kuda masih melaju dengan kencangnya padahal malam pun sudah mendekati puncaknya.
" Heiikh,..,.!"
Tiba tiba saja kuda itu mengangkat kaki depan nya tinggi tinggi ketika melihat di depan nya ada seseorang yg tengah menghadangnya.
" Hehhh,.. siapa kamu,..mengapa menghalangi jalanku,..!" seru penunggang kuda itu.
Terlihat ia berusaha menenangkan kudanya yg tiba tiba saja berhenti mendadak.
Penunggang kuda itu yg tiada lain adalah Raka Senggani menatap tajam ke arah orang yang memakai pakaian serba hitam dan terlihat menghalangi jalan nya. Dalam hati Senopati Bima Sakti ini sepertinya mengenali orang yang tengah menghalangi jalan nya ini.
" Ehh,.. bukan kah ,.kisanak ini adalah Ki Lintang Jaka Belek,..!" ucap nya dengan nada gembira.
" Ahhh,..ternyata penglihatan dari Senopati Bima Sakti sangat tajam, meskipun dalam keadaan gelap masih mampu mengetahui siapa diriku kiranya,.!" balas Ki Lintang Jaka Belek.
Salah seorang Lurah prajurit sandi yg memiliki wilayah tugas ada di daerah kadipaten Pajang dan sekitarnya.
Raka Senggani segera melompat turun dari punggung si Jangu,.ia mendekati Ki Lintang Jaka Belek yg masih berdiri di tengah jalan.
" Darimana Ki Lurah tahu bahwa akulah yang tengah melakukan perjalanan ini,..?" tanya Raka Senggani kepada Lurah Lintang Jaka Belek heran.
" Seperti biasa ,. Senopati Bima Sakti,.kami kan mendapatkan berita dari Kotaraja Demak akan ke pulangan mu dari sana, tetapi sebenarnya telah terjadi kesalahan sehingga hampir dua hari diriku harus menanti mu disini,..!" jelas Ki lurah , Lintang Jaka Belek.
__ADS_1
" Dua hari,..!" seru Raka Senggani kaget.
Barulah kemudian bekas Senopati Sandi yuda Demak ini mengetahui bahwa keterlambatan nya tiba di Kenanga akibat adanya hambatan yang meski ia lalui dari pertama kali dirinya di cegat di hutan perburuan dan selanjutnya membantu Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu untuk menemukan istri mereka di alas Siroban.
Sesudah kedua kejadian itu , dirinya memang memaksa si Jangu untuk terus berlari kencang dan hanya sekali saja ia berhenti untuk memberi makan dan minum kuda tunggangan nya ini.
Beruntung memang kemampuan dari si Jangu masih dapat diandalkan sehingga ia dapat memangkas jarak itu menjadi dua hari saja.
" Ada apa Ki Lurah menungguku,.apakah dirimu belum mengetahui bahwa saat ini diriku bukanlah Senopati Sandi yuda Demak lagi..?" tanya Raka Senggani.
Pertanyaan nya ini segera di jawab oleh Ki Lurah Lintang Jaka Belek ,..
" Kalau kami yg berada dalam keprajuritan Sandi yuda Demak ini masih menganggap bahwa dirimu lah pemimpin kami, dan untuk itulah Aku berada disini, ada sesuatu di yg ingin ku beritahukan kepada Senopati Bima Sakti,..!" ungkap Ki Lurah Lintang Jaka Belek.
" Apakah itu ,.Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Kemudian Ki lurah Lintang Jaka Belek mengajak Senopati Bima Sakti untuk bergerak ke tepi jalan bersama pula dengan si Jangu.
Setelah keduanya duduk di sebuah batang pohon besar yg tumbang , Lurah Lintang Jaka Belek pun bercerita.
Ia mengatakan kepada Raka Senggani untuk menyampaikan pesan ini , yaitu mengenai permintaan dari Tumenggung Bahu Reksa akan hal menyelidiki Rawa Pening. Dimana menurut sebahagian besar prajurit sandi, itu adalah tempat dari dua pusaka Demak yg hilang tersebut.
" Kalau mengenai hal itu, Ki Lurah tidak perlu khawatir, Aku akan tetap menjalankan tugas yg di mintakan oleh Paman Tumenggung Bahu Reksa,..namun sebelum hal ini kulaksanakan ,.Aku harus kembali terlebih dahulu ke Kenanga,..!" terang Raka Senggani.
Ia memang tidak pernah melupakan janji nya kepada Tumenggung Bahu Reksa untuk menyelidiki keberadaan dari dua pusaka yg menjadi piyandel kerajaan Demak ini.
" Ada sesuatu hal yang cukup penting yg Senopati harus tahu akan hal tersebut, bahwa saat ini di bukit Tuntang dan seputaran dari Rawa Pening telah hadir tokoh tokoh sakti dari dunia persilatan , mereka umumnya akan mengambil dan memperebutkan kedua pusaka tersebut,..!" jelas Ki Lurah Lintang Jaka Belek.
" Hahhh,..!"
Terdengar suara keras dari Senopati Bima Sakti, ia sungguh tidak menyangka bahwa berita mengenai hilangnya dua pusaka piyandel kerajaan Demak ini telah menyebar luas. Jadi menurut nya akan semakin sulit melacak keberadaan nya
" Tetapi kalau menurut kami, bahwa kedua pusaka tersebut telah berada di pengging, Senopati,.!" kata Ki Lurah Lintang Jaka Belek lagi.
" Mengapa demikian,..?" tanya Raka Senggani.
Ia memang belum mengerti dengan jelas siapa sesungguhnya orang yang bernama Argayasa atau lebih dikenal dengan sebutan Begawan Kakung Turah ini.
" Karena Begawan Kakung Turah ini adalah orang dekat dari Trah Pengging , jadi upayanya untuk mengambil kedua pusaka ini tentu berhubungan dengan Trah Pengging pula,..!" jawab Ki Lurah Lintang Jaka Belek.
Raka Senggani yg bergelar Senopati Bima Sakti ini kemudian mengatakan bahwa di pengging saat ini sudah tidak ada lagi yang memimpin nya sejak mangkat nya Kanjeng Gusti Adipati Pengging yg bernama Kebo Kenanga itu.
Meskipun disana saat ini masih ada Kebo Kanigara, Kakak dari Adipati Pengging tetapi tampaknya ia tidak berniat untuk menjadi seorang pemimpin sehingga mustahil rasanya kedua pusaka tersebut berada disana.
" Entahlah, akan tetapi , bagi yg dapat melihat cahaya dari kedua pusaka tersebut berasal dari sana, untuk itulah kami beranggapan bahwa letak kedua benda pusaka tersebut berada di Pengging,..!"
Kembali Ki Lurah Lintang Jaka Belek menjelaskan. Ia pun tidak melupakan bahwa saat ini para prajurit sandi Demak tengah memantau kegiatan dari dua kadipaten , yaitu Kadipaten Lasem dan Kadipaten Jipang Panolan, hal ini tidak terlepas atas hubungan nya bahwa kedua kadipaten ini masih mempercayai , kematian dari Pangeran Sekar seda ing lepen akibat adanya campur tangan dari Kanjeng Sultan Trenggana yg menjadi Sultan di Demak saat ini.
" Tugas kami semakin berat Senopati,. dimana ,..di setiap tempat yang harus kami amati itu memiliki banyak orang yang berkemampuan sangat tinggi, .jadi seluruh prajurit sandi banyak berharap kepada Senopati Bima Sakti untuk mampu mengatasinya , atau paling tidak dapat memberikan pencerahan kepada kami yg bertugas sebagai prajurit sandi ini,..!" ungkap Ki Lurah Lintang Jaka Belek.
Lurah prajurit sandi sering bertemu dengan Raka Senggani ini pun memang mengagumi kelebihan dari bekas Senopati nya itu, sehingga ia mengatakan dengan terus terang mengenai beberapa hal yang seharusnya hanya di sampaikan nya kepada pemimpin nya, Tumenggung Bahu Reksa atau Kanjeng Sultan Trenggana sendiri.
Tetapi karena menurut nya Raka Senggani masih menjadi Senopati nya , ia tetap saja menceritakan nya , terlebih mengenai kedua teman dari Senopati Bima Sakti ini yg telah menjadi prajurit sandi pula, Jati Andara dan Japra Witangsa.
" Kedua nya memiliki kemampuan yang sangat baik dalam hal sandi, jadi kami berharap mereka berdua tetap berada d dalam keprajuritan Sandi Demak, Senopati,..!" kata Ki Lurah Lintang Jaka Belek.
" Ahh, kalau masalah itu, terserah mereka berdua,.Aku tidak akan turut campur dalam hal tersebut,..!" jelas Raka Senggani.
Setelah keduanya selesai membicarakan hal mengenai permintaan dari Tumenggung Bahu Reksa tadi, Raka Senggani kemudian berpamitan , ia memang harus buru buru kembali, nanti baru setelahnya ia akan bergerak ke Rawa Pening .
__ADS_1