
Keesokan harinya, Anggono dengan menggunakan kudanya menuju rumah kediaman Tumennggung Wangsa Rana.
Di depan pintu gerbang itu, ia di tahan oleh prajurit Pajang.
" Hehh, siapa kamu, turun dari kudamu, ada perlu apa,?" kata prajurit itu.
" Maaf, saya Anggono dari Mantyasih ingin bertemu dengan Senopati Brastha Abipraya, benarkah ia berada disini,?" tanya pengawal tanah perdikan Mantyasih itu. Setelah turun dari kudanya.
" Benar, Senopati Brastha Abipraya memang tinggal disini, mari ikut aku," ajak prajurit itu.
Kemudian sambil menuntun kudanya, Anggono masuk ke dalam halaman rumah Tumennggung Wangsa Rana itu.
Setelah menambatkan kudanya ia diajak masuk kedalam rumah Tumennggung Wangsa Rana itu.
" Ada apa prajurit,?" tanya Tumennggung Wangsa Rana.
" Ini Kanjeng Tumennggung, ada tamu dari Mantyasih ingin bertemu dengan Senopati Brastha Abipraya,!" jawab prajurit itu.
" Silahkan tunggu di pendopo, kami akan ke sana,". jawab Tumennggung Wangsa Rana lagi.
'' Baik Kanjeng, Tumennggung,"
" Silahkan tunggu disini, sebentar lagi Kanjeng Tumennggung akan keluar," kata prajurit itu.
Ia pun meninggalkan Anggono dan kembali berjaga.
Selang tidak terlalu lama keluarlah Tumennggung Wangsa Rana dengan di dampingi oleh Raka Senggani dan Lintang Sandika.
" Apa kabar dengan Mantyasih, dan siapa nama angger ini,?" tanya Tumennggung Wangsa Rana.
Setelah duduk di dekat Anggono. Tampak pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu memandangi ketiga orang itu satu persatu dan matanya tertuju kepada Raka Senggani, karena terlihat paling muda.
" Apakah saya sedang berhadapan dengan Kanjeng Tumennggung Wangsa Rana,?" tanya nya.
" Benar, akulah, Wangsa Rana," jawab Tumennggung Wangsa Rana.
" Maaf sebelum nya Kanjeng Tumennggung, saya adalah Anggono merupakan pengawal tanah Perdikan Mantyasih, keadaan di tanah perdikan kami saat ini dalam keadaan gawat, Kanjeng Tumennggung," jelas Anggono.
" Gawaaat,!!, dalam keadaan gawat, apa maksudmu,?" tanya Tumennggung Wangsa Rana.
" Yah, saat ini di Mantyasih telah hadir tokoh -tokoh dunia persilatan, bahkan ada dari manca negara," kata Anggono lagi.
" Apa sebab mereka datang,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Mereka dstang ke tanah Perdikan Mantyasih itu adalah akan mengambil sebuah Pusaka yg ada di puncak Gunung Tidar itu, yaitu Sebuah Pusaka tombak Kyai Sepanjang milik dari Syaikh Subakir,". jelas Anggono lagi.
" Kyai Sepanjang, ?" Tanya Raka Senggani terkejut.
" Pusaka milik guru," katanya dalam hati.
Yg sedari tadi diam saja mendengar penuturan Pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu, tiba -tiba tersentak kaget setelah di sebutkan nama pusaka itu.
" Benar, pusaka itu adalah tombak Kyai Sepanjang, apakah kisanak ini yg bernama Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Anggono menebak.
" Benar, akulah Senopati Brastha Abipraya, sebenarnya namaku adalah Raka Senggani, oleh Kanjeng Adipati Pajang , aku di beri gelar Senopati Brastha Abipraya,". jawab Raka Senggani.
" Sangat senang sekali karena telah bertemu langsung dengan Senopati Brastha Abipraya sendiri, sebab oleh Ki Gede Mantyasih, aku memang disuruh untuk bertemu dengan Senopati sendiri," ungkap Anggono.
" Apa pesan dari Ki Gede itu, Kisanak , atau biar lebih akrab aku panggil kakang saja, Bagaimana,?" tanya Raka Senggani.
" Tidak ada masalah Senopati Brastha Abipraya, panggil nama pun boleh dan ini surat dari Ki Gede,". kata Anggono lagi.
Ia menyerahkan sebuah surat kepada Raka Senggani, dan setelah diterima oleh Senopati Brastha Abipraya itu Kemudian di buka dan dibaca.
Setelahnya melipat kembali, seraya berkata,
" Paman Tumenggung , kita harus menghadap Kanjeng Gusti Adipati, Ki Gede Mantyasih meminta Pajang untuk membantu tanah Perdikan itu menjaga keamanan nya, karena beliau khawatir bahwa akan ada kejadian yg buruk, sesaat setelah Pusaka itu berhasil diambil," jelas Raka Senggani.
" Siapa orangnya yg akan mengambil tombak Pusaka itu, Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana
" Beliau menyebut, Resi Yaramala dari Hindustan yg akan mengambil Pusaka itu,!". jawab Raka Senggani lagi.
" Apa maksudnya ingin mengambil Pusaka tersebut, dan siapa pula yg telah menyarankan nya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Kemungkinan yg paling tepat adalah, bahwa di tanah ini akan terjadi kerusuhan akibat dengan bebas nya para jin tersebut dan yg paling kuat untuk menyarankan nya adalah Resi Brangah dari Blambangan," jawab Raka Senggani lagi.
" Kalau begitu memang sebaiknya kita menghadap Kanjeng Adipati, di istana,". sahut Tumenggung Wangsa Rana.
Ia kemudian mengajak Raka Senggani, Anggono dan Lintang Sandika untuk menghadap Adipati Pajang itu. Mereka berempat bergerak meninggalkan rumah Tumenggung Wangsa itu.
Sesampai nya di istana Pajang , keempat nya langsung menghadap Adipati Pajang.
__ADS_1
" Ampunkan hamba kanjeng Adipati, apakah Kanjeng Adipati bersedia mengirimkan perwira terbaiknya untuk datang ke tanah Perdikan Mantyasih, untuk mengatasi persoalannya." kata Tumenggung Wangsa Rana.
" Apa hal yg menyebabkan tanah perdikan Mantyasih itu membutuhkan bantuan dari Pajang, ini,?" tanya sang Adipati.
" Mohon ampun beribu -ribu ampun kanjeng Adipati, saat ini di Mantyasih telah ada ontran -ontran yg menyebabkan bahwa tanah perdikan itu akan menjadi ajang kubur massal, gusti Adipati,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.
" Bicara mu yg jelas Tumenggung Wangsa Rana,!" sahut Adipati Pajang.
," Baiklah Kanjeng Adipati, untuk lebih jelas biar Angger Anggono ini yg menceritakan nya, karena dia adalah utusan Ki Gede Mantyasih itu, jadi tentu ia akan lebih paham tentang keadaan disana,". kata Tumenggung Wangsa Rana.
" Silahkan, silahkan anak muda ceritakan sejelas -jelas nya mengenai keadaan Mantyasih saat sekarang ini,!". pinta Adipati Pajang.
Kemudian Anggono pun menceritakan keadaan yg terjadi di Mantyasih saat ini, dari awal sampai akhir.
" Demikianlah Kanjeng Adipati,, hamba mohon ampun jika masih ada yg tidak hamba ingat tetapi itulah kejadian yg sebenarnya di tanah perdikan kami,!". jelas Anggono.
" Apakah Ki Gede tidak mengirimkan utusan ke Kotaraja Demak,?" tanya Adipati Pajang itu
" Sampai saat ini belum Kanjeng Adipati," jawab Anggono.
" Setelah dirimu tiba di Mantyasih nanti katakan kepada Ki Gede mu untuk mengirimkan utusan ke Kotaraja Demak,". ucap Adipati.
" Hamba Kanjeng Adipati," jawab Anggono.
" Dan bagaimana sikap kita Kanjeng Adipati, apakah kita akan membantu Tanah Perdikan itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Ya , kita memang harus membantu dan kali ini tampaknya kita harus mengirimkan prajurit yg banyak untuk mengatasi para tokoh rimba persilatan itu,!". tukas Adipati Pajang.
" Dan untuk kali ini biarlah , dirimu sendiri , adi Tumenggung Wangsa Rana yg akan memimpin pasukan kesana,!". kata Adipati Pajang lagi.
" Sendika Dawuh, Kanjeng Adipati,". jawab Tumenggung Wangsa Rana.
" Bagaimana dengan senopati Brastha Abipraya gusti Adipati,?". tanya sang Tumenggung lagi.
" Ia akan jadi pendampingmu dalam memimpin pasukan,!" kata Sang Adipati Pajang lagi.
" Sendika Dawuh Kanjeng Adipati,". ucap Raka Senggani.
" Segeralah persiapkan pasukan yg akan di bawa, dan kalau dapat , jangan sampai pusaka Kyai Sepanjang itu berhasil di ambil atau diangkat, karena pusaka itu merupakan paku untuk para alam jin dan kaum dedemit, sehingga kegaduhan tidak akan terjadi di tanah ini,!" perintah Adipati Pajang lagi.
" Sendika dalem, kanjeng Adipati," ucap Tumennggung Wangsa Rana dan Raka Senggani.
" Silahkan,". sahut Adipati Pajang.
Kemudian rombongan dari Tumennggung Wangsa Rana itu keluar dari dalam keraton Pajang mereka langsung kembali pulang .
Dan setibanya di katumenggungan maka Tumennggung Wangsa Rana memerintahkan Prajurit jaga untuk memanggil beberapa orang Rangga agar datang ke rumah nya.
" Jadi apakah Angger Anggono akan pulang terlebih dahulu atau akan bersama -sama kami ,?". tanya Tumennggung Wangsa Rana.
" Lebih baik saya kembali saja terlebih dahulu, Kanjeng Tumennggung,". jawab Anggono.
" Kalau begitu , Selamat jalan kami ucapkan, dan sampaikan salamku kepada Ki Gede Mantyasih itu," kata Tumennggung Wangsa Rana.
" Baik , Kanjeng Tumennggung, saya mohon pamit, supaya tanah Perdikan tidak terlalu lama menunggu kabar dariku," kata Anggono.
" Silahkan, ngger, " kata Tumennggung Wangsa Rana.
Kemudian pengawal Tanah Perdikan Mantyasih itu berjalan keluar menuju ke kudanya yg masih tertambat di depan rumah Tumennggung Wangsa Rana itu.
Ia pun langsung meloncat naik dan segera menjalankan kudanya dengan perlahan.
Sementara di dalam rumah , Tumennggung Wangsa Rana dan Raka Senggani melanjutkan pembicaraan nya.
" Paman Tumennggung, bagaimana jika kami berangkat terlebih dahulu dan menyusul Kakang Anggono itu,!" ucap Raka Senggani.
" Apa tidak sebaiknya kita bersama -sama saja, Ngger, bukankah, Resi Yaramala itu belum berada disini, " jawab Tumennggung Wangsa Rana.
" Tetapi kita belum mengetahui secara pasti, apakah memang Resi dari Hindustan itu memang belum berada disini, siapa tahu, sejak kepergian kakang Anggono dari Tanah Perdikan Mantyasih, ia telah hadir disana," jelas Raka Senggani l
" Ada juga kemungkinan nya demikian, tetapi apa tidak sebaiknya kita berangkat bersama -sama saja, Ngger," pinta Tumennggung Wangsa Rana lagi.
" Kalau kita berangkat bersama tentu perjalanan kita akan lebih lambat, Paman, karena selain memang jumlah kita banyak, kita pun harus bersiap terlebih dahulu, jika kami berangkat berdua saja dengan kakang Sandika tentu kami akan lebih cepat sampai nya," sahut Raka Senggani.
Senopati Brastha Abipraya itu merasa ada kewajiban nya untuk menjaga Pusaka Kyai Sepanjang itu tetap pada tempat nya sesuai pesan dari sang Guru.
Sementara itu di Tanah Perdikan Mantyasih itu, keadaan bertambah ramai setelah kehadiran dari salah satu tokoh golongan hitam yg bernama Chandala Gati, ia masih kerabat dari Resi Yaramala, namun ia telah lama tinggal di wilayah kerajaan Demak itu, bahkan sebelum Demak menjadi kerajaan ia sudah berada di sana.
Chandala Gati yg berpostur tinggi besar, dengan kumis tebal melintang, rambut yg lumayan panjang, bersama tiga murid nya nampak mendatangi tempat Macan Baleman dan Ki Rajungan.
Dengan senjata Trisula bermata tiga , ia terlihat mendekati rumah yg berada di paling ujung dari Tanah Perdikan Mantyasih itu.
__ADS_1
Chandala Gati sendiri terkenal suka dengan perempuan -perempuan yg cantik.
Sehingga ia sering di sebut sebagai Setan pemetik kembang, meskipun usianya sudah tidak dapat dikatakan muda lagi tetapi kesenangan nya itu tetap tidak bisa berubah.
Ketika ia berpapasan dengan salah seorang gadis yg cantik dan baru kembali dari mencuci pakaian nya, matanya langsung melotot.
" Rawit, cari tahu siapa perempuan itu," katanya kepada Salah seorang murid nya.
" Baik Guru, ". jawab murid nya itu.
Kemudian Ki Rawit mengikuti perempuan itu dari belakang, sementara rombongan Chandala Gati terus saja berjalan menuju ke rumah yg di diami oleh Macan Baleman dan Ki Rajungan.
Sesampainya.disana, Chandala Gati langsung menendang pintu itu hingga terbuka.
" Hehh, siapa kau berani berbuat lancang disini," teriak Ki Rajungan.
Murid Mpu Phedet pundirangan itu langsung mengacungkan golok nya ke arah Chandala Gati.
Melihat siapa yg datang Macan Baleman langsung melarang Ki Rajungan.
" Jangan Ki Rajungan, ia adalah Ki Chandala Gati apakah kau tidak mengenal nya, dan turunkan golok mu itu,". ucap Macan Baleman.
" Ki Chandala Gati,!!" seru Ki Rajungan seketika.
" Benar akulah , Chandala Gati, !" balas Chandala Gati.
Sambil melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah itu.
" Hehh, Macan Baleman, kapan guru mu akan datang kemari, sedangkan saudara ku, Resi Yaramala telah berada di pelabuhan Asem Arang," kata Chandala Gati.
" Bukankah sekira tiga hari lagi, Resi Yaramala baru tiba di sini, mengapa bisa secepat itu ia telah berada di Asem Arang,?" tanya Macan Baleman.
" Aku tidak tahu, yg jelas ia telah mengirimkan salah seorang murid nya untuk menyampaikan berita kedatangan nya itu, dan supaya gurumu segera menyiapkan segala sesuatu nya seperti yg di inginkan nya," kata Chandala Gati.
" Dan satu hal lagi, Macan lumpuh, kau harus menyediakan para perempuan untuk kami berempat," seru Chandala Gati lagi.
" Hehh, bukankah kalian cuma bertiga,?" tanya Macan Baleman heran.
Karena memang cuma ada Chandala Gati dan dua orang murid nya.
Memang Macan Baleman amat tersinggung dengan ucapan Chandala Gati yg menyebut nya sebagai Macan lumpuh.
Ia pun segera menjawab perkataan dari Chandala Gati itu.
" Mungkin diriku memang telah lumpuh tetapi kalau hanya untuk membunuh seekor kecoa , aku masih sanggup," ucap Macan Baleman
" Ahh, kau cepat tersinggung Macan Baleman, aku hanya sekedar bercanda, jangan terlalu di ambil hati, " balas Chandala Gati.
Karena Chandala Gati itu tidak ingin ada singgungan dengan murid Resi Brangah itu.
Karena bagaimana pun juga , Resi Brangah dan Resi Yaramala bersahabat cukup erat, sehingga Resi dari Hindustan itu mau saja di undang oleh Rsi Brangah untuk datang ke tanah Demak ini.
Namun Ki Rajungan lah yg tidak senang melihat tingkah dari Chandala Gati itu, seakan -akan ia orang paling sakti di muka bumi, datang ke tempat itu dengan menghancurkan pintu rumah tersebut.
Agak lama kelima orang itu terdiam sampai datang lah , seorang muridnya yg bernama Rawit itu.
" Bagaimana, siapa gadis itu,?" tanya Chandala Gati kepada Rawit.
" Ia putri Jagabaya tanah perdikan Mantyasih ini, guru,!" jawab Ki Rawit.
" Putri Jagabaya, memang apa hebatanya dengan Jagabaya itu, sekali tusuk dengan Trisula ku ini , ia bisa langsung ke akherat," kata Chandala Gati.
" Tetapi tampak nya perempuan itu merupakan kekasih dari putranya Ki Gede Mantyasih ini, guru," jelas Ki Rawit lagi.
" Ahh, kau terlalu bertele -tele, Rawit, cepat sebutkan siapa nama gadis itu, biar nanti aku sendiri yg akan ke rumah nya, " sahut Chandala Gati dengan geram nya.
" Bbb, baaik guru, namanya adalah Kinanti , Guru," jawab Ki Rawit.
Ia ketakutan setelah melihat guru nya marah dengan mata melotot.sambil memilin kumis nya.
" Untuk sementara ini, kalian jangan ada berbuat kerusuhan di tanah perdikan Mantyasih ini, jika memang usaha ini ingin berhasil," terdengar kata kata dari Macan Baleman.
" Hehh, apa urusan mu dengan aku yg akan mengambil putri Jagabaya itu,?" tanya Chandala Gati berang.
" Jelas ada, karena selaku penangungjawab disini atas nama guruku Resi Brangah, Ku perintahkan kepada kalian semua yg ingin bergabung , jangan membuat tindakan yg akan merugikan kita sendiri, karena yg hadir disini bukan kita saja, bahkan Wiku Mandrayana pun telah ada disini tepatanya di rumah Ki Gede," jelas macan Baleman.
" Apaaaa!!, Wiku Mandrayana ada disini," seru Chandala Gati.
Ia cukup terkejut dengan ucapan terakhir dari Macan Baleman itu,
" Hehh,, ini kesempatan ku untuk menuntut balas atas kekalahan ku tempo hari," berkata dalam hati Chandala Gati.
__ADS_1