Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 28 Perang Tanding di Bukit Tuntang. bag kelima.


__ADS_3

Raka Senggani bergerak cepat, ia tidak ingin di ketahui oleh banyak orang , maka sore itu ia langsung masuk ke dalam bilik nya.


Ia ingin memastikan bahwa panggraita nya akan kedua benda pusaka tersebut memang berada di sekitar desa Lopait ini tepatnya di sebuah goa yang tidak terlalu jauh dari Gubuk Begawan Kakung Turah itu.


Setibanya dalam bilik , Raka Senggani langsung memusatkan pikirannya,ia mulai mengtrapkan ilmunya Ashka Panggraitanya guna mengetahui keberadaan dari Pusaka Kyai Nogo Sosro dan Sabuk Inten itu.


Sampai menjelang malam tiba, Raka Senggani masih berada dalam biliknya.


Sementara itu tanpa di perintah , beberapa orang yang merupakan tokoh tokoh dunia persilatan telah bergerak ke Bukit Tuntang.


Mereka memang ingin mengetahui sekaligus merampas benda pusaka yang menurut khabar berada di tangan Begawan Kakung Turah, penguasa bukit Tuntang itu.


Hingga malam tiba , di sekitar bukit Tuntang ini telah ramai orang yang memang tidak saling berjanji namun bertemu disana.


Begitu pun dengan Nyi Sriti Wengi yg tanpa sengaja telah bertemu dengan muridnya Tara Rindayu yg sempat meninggalkan nya.


" Ahhh, ternyata kita bertemu di tempat ini,..Ndhuk,.!" seru Nyi Sriti Wengi kepada Tara Rindayu.


" Guru,..!" seru Tara Rindayu kaget.


" Siapa teman yang bersama mu ini ,.Ndhuk,..?" tanya Nyi Sriti Wengi lagi.


Tara Rindayu yg memandangi Raka Yantra segera memperkenalkan pemuda yg ada di sebelahnya itu.


" Guru, kenalkan,..ini adalah Kakang Raka Yantra,..!" ucap Tara Rindayu.


Nyi Sriti Wengi melihat ke arah pemuda itu dan kemudian menarik Tara Rindayu agak menjauh dari situ.


Ia bertanya,..


" Ndhuk,. mengapa pemuda itu sangat mirip dengan Senopati Pajang , Raka Senggani,..?" tanya Nyi Sriti Wengi.


Dengan agak berbisik , Tara Rindayu menjelaskan bahwa pemuda yang ada bersamanya itu memang saudara sepupu dari Raka Senggani, sehungga wajah mereka memiliki kemiripan.


Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, Nyi Sriti Wengi pun mengerti , ia menganggukkan kepalanya.


Lantas Tara Rindayu menyebutkan pula bahwa pemuda itu merupakan murid dari Mpu Loh Brangsang yg menjadi penguasa di Gunung Merapi.


Memang agak terkejut Nyi Sriti Wengi mendengarnya . Namun dirinya pun maklum karena sesungguhnya muridnya ini pun adalah seorang murid dari padepokan Merapi.


" Oh , iya , Ndhuk, apakah bekas gurumu itu hadir pula disini,..?" tanya Nyi Sriti Wengi.


Tara Rindayu menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.


" Benar Guru, Eyang Loh Brangsang pun hadir disini,.!" sahutnya.


Hehm, semakin menegangkan saja tampaknya kejadian malam ini, apakah si Tua Gila itu berani menghadapi para tokoh persilatan ini, bertanya dalam hati Nyi Sriti Wengi.


Ia mengajak Tara Rindayu dan Raka Yantra untuk menyusul Nyi Ronce yg telah lebih dahulu berjalan bersama muridnya Sruni.


Memang cahaya rembulan belum terlalu bersinar, karena malam baru saja menyelubungi persada tetapi telah banyak orang berada di seputaran Bukit Tuntang.


Semuanya tampak berkeinginan untuk memperebutkan kedua pusaka Piyandel Kerajaan Demak ini.


Berbeda dengan para tokoh dunia persilatan yang telah berada di Bukit Tuntang, dalam pada itu Raka Senggani yg telah menyudahi usahanya untuk mengetahui keberadaan dari kedua benda pusaka yang jadi pusat perhatian tersebut segera keluar dari dalam biliknya, ia melangkah meninggalkan tempat tersebut.


Belum pun terlalu jauh ia melangkah , tiba tiba ia di kejutkan dengan teguran seseorang yg menyapa,..


" Maaf Senopati Bima Sakti, hendak kemana kiranya dirimu pergi,..?" tanya orang tersebut.


" Hehh,.!" seru Raka Senggani kaget.


Ia menoleh ke arah samping kanan nya dan dilihatnya seseorang tengah berdiri di bawah sebuah pohon yg cukup besar.


Raka Senggani menatap ke arahnya, meskipun malam tidak terlalu gelap namun sepertinya ia mengenali suara orang tersebut,..


" Ki Lurah , Lintang Panjer Suruf,..!" serunya senang.


" Sungguh hebat penglihatan Senopati Bima sakti, dalam gelap pun masih mampu melihat dan mengenali diriku,..!" ucap orang tersebut.


Yang tiada lain adalah Ki Lintang Panjer Suruf, seorang Lurah prajurit sandi yuda Demak , dahulu merupakan bawahan dari Senopati Bima Sakti ini.

__ADS_1


" Ahh, malam ini kan, tidak terlalu gelap, jadi diriku masih dengan jelas melihat mu, Ki Lurah,..!" kata Raka Senggani.


Ia pun melangkah mendekati Lurah prajurit sandi ini.


" Ada perlu apa,.Ki Lurah datang kemari,..?" tanya nya pada Ki lurah Lintang Panjer Suruf ini.


Ki Lurah Lintang Panjer Suruf kemudian mengajak Raka Senggani ke sebuah tempat yang berada agak jauh dari tempat itu, karena bagaimana pun juga ia tidak ingin pembicaraan nya ini ada orang yg mendengar nya karena tempat itu merupakan jalan menuju Bukit Tuntang.


Setelah tiba di suatu tempat , di dalam hutan bambu, barulah Ki Lurah Lintang Panjer Suruf mengatakan maksud kedatangan nya ke tempat tersebut.


" Begini Senopati Bima Sakti,..apakah dirimu sudah mendaptakan jawaban atas permintaan dari Kanjeng Gusti Tumenggung Bahu Reksa itu,..?" tanya nya pada Raka Senggani.


Sejenak Raka Senggani terdiam, sepertinya ia tengah mengtrapkan ilmu nya guna mengetahui apakah tempat tersebut aman dari orang lain.


" Jika sang surya terbit dari Timur, tentu tenggelam nya pasti ke arah barat,.." jawab Raka Senggani.


Ucapan nya ini jelas merupakan bahasa sandi khusus bagi para prajurit sandi yuda Demak sajalah yang mengetahuinya.


" Hahhh,..!" seru Ki Lurah Lintang Panjer Suruf kaget.


Ia tidak menyangka bahwa akan mendapatkan jawaban tersebut dari bekas Senopati nya ini.


" Jika memang demikian adanya,..Tentu Naga tidak boleh berjuang sendirian, harus ada yg menemani nya,..!" balas Ki Lurah Lintang Panjer Suruf .


Ia pun mengatakan bahasa sandi khusus pula untuk menjawab ucapan Raka Senggani ini.


Sementara Raka Senggani segera menyahutinya,..


" Semuanya terserah kepada Ki Lurah, tugas telah kulaksanakan dan malam ini diriku akan ke Bukit Tuntang, menurut beberapa orang akan ada perang tanding disana,..!" jelas Raka Senggani.


" Kalau begitu, aku akan ikut Senopati ke Bukit Tuntang,..!" sahut Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


Raka Senggani kemudian beranjak dari tempat tersebut dan di ikuti oleh Ki Lurah Lintang Panjer Suruf, mereka berdua berjalan menuju ke atas Bukit Tuntang.


Dalam perjalanan menuju tempat tersebut , Ki Lurah Lintang Panjer Suruf masih memberitahukan kepada Raka Senggani akan kehadiran para tokoh persilatan yang berasal dari wilayah barat termasuk d dalam nya ada Ki Gedangan dan Nyi Sriti Wengi .


Bahkan tokoh sekelas Resi Mundingrata pun turut hadir pula di tempat tersebut.


" Entahlah,..mungkin ia masih berkeinginan atas kedua benda pusaka tersebut, Senopati ,..!" jawab Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


Tidak terlalu keduanya berjalan, akhirnya sampailah mereka di bukit Tuntang.


Memang tempat tersebut telah banyak orang yang berada disana, diantara nya sudah terlihat Ki Gabluk yg kali ini datang bersama kedua saudara seperguruan nya yakni Ki Jaladri dan Ki Janadri.


Tampaknya Ki Gabluk atau Ki Ajar Sarabaya yg bergelar Hantu dari selatan inilah yg menantang perang tanding kepada Begawan Kakung Turah guna merampas kedua benda pusaka yang menjadi Piyandel Kerajaan tersebut.


Di sudut lain tampak pula si Buta dari Bukit tengkorak di dampingi oleh muridnya , Ningrum.


Di balik sebuah batu besar ada nampak beberapa orang perempuan yang memakai pakaian serba hitam , sepertinya mereka adalah kelompok Nyi Sriti Wengi dan Nyi Ronce, masing-masing di dampingi oleh murid-murid nya.


Sementara itu Raka Senggani tidak melihat adanya kehadiran dari penguasa Gunung Merapi yang menjadi musuh bebuyutan nya, yakni Mpu Loh Brangsang.


Ia merasa perlu bertemu dengan orang tua itu.


" Ki Lurah,..apakah dirimu mengetahui keberadaan dari Ki Gedangan dan Ki Mundingrata,..?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


" Sepertinya diriku tidak melihatnya , Senopati,. karena dari sekian banyak orang yang berada di tempat ini, tidak satu pun yang seprti kedua orang tersebut,..!" jawab Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


" Bagaimana ciri-ciri nya, Ki Mundingrata itu.Ki Lurah,..?"tanya Raka Senggani.


Ki Lurah Lintang Panjer Suruf kemudian menjelaskan bahwa tokoh tua dari Pakuan Pajajaran ini sering menggunakan pakaian berwarna hijau pupus termasuk dengan ikat kepalanya.


" Atau mungkin ia memang tidak hadir demikian pula dengan Kyai Gedangan,..!" tukas Raka Senggani.


"Tidak mungkin Senopati ,.. Aku mendapatkan berita ini dari seorang yg dapat di percaya kebenaran nya,..!" sahut Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


Dan di tengah asyiknya mereka mengobrol, tiba tiba saja berkumandanglah suara dari Ki Gabluk dengan kerasnya ,.


" Hehh,..Tua Gila keluarlah dari persembunyian mu, ini Aku Hantu dari selatan menantang mu berperang tanding,..!" teriaknya.


Suara dari Ki Ajar Sarabaya ini sangat kuat dan mengandung ilmu tenaga dalam yang sangat tinggi.Sehingga bagi yg tidak memiliki ilmu yang cukup tentu teriakan ini akan memekakkan telinga atau malah membuat orang jadi tuli.

__ADS_1


Beruntung di tempat itu adalah tokoh tokoh kelas wahid dari dunia persilatan yang punya nama besar sehingga tidak terlalu berpengaruh, terkecuali terhadap murid murid mereka, termasuk di dalam nya Tara Rindayu, Ningrum dan Sruni.


Mereka harus di totok syaraf pendengaran nya agar tidak terpengaruh atas hal itu.


Suasana masih sangat hening tatkala Ki Ajar Sarabaya melemparkan tantangan nya ini.


Ia kembali mengulangi tantangan nya ini untuk yg kedua kali nya , namun tetap saja tidak ada jawaban .


Baru untuk ketiga kali nya ia menantang Begawan Kakung Turah itu, secara mendadak tubuh Ki Ajar Sarabaya terlempar sangat kencang jauh keluar tempat tersebut,.namun anehnya secepat itu pula orang tua yg ber juluk Hantu dari selatan ini muncul kembali ke tempat tersebut.


Bersamaan itu pula telah terlihat berdiri tegak seorang tua yg menggunakan jubah berwarna putih dan di tangan nya memegangi sebuah tongkat.


" Hehh, Gabluk, apakah dirimu tidak pernah mengaca diri, kapan kiranya dirimu mampu mengalahkan diriku,..!" ucap orang tua itu.


Walaupun nada bicaranya cukup pelan namun, semua orang yang berada di tempat itu terpengaruh atas ucapannya ini, mereka terpaksa menutupi telinganya bahkan ada yang sampai menotok nya.


" Sungguh hebat tenaga dalam dari saudara seperguruan Kakang Kebo Anggara ini,..!" seru Nyi Sriti Wengi.


" Benar katamu itu,.Kangmbok Wengi, hampir saja gendang telingaku pecah jika tidak segera ku totok tadi,..!" sahut Nyi Ronce.


" Bagaimana dengan muridmu, Ronce,.?" tanya Nyi Sriti Wengi.


" He,..!" ucap Nyi Ronce terkejut.


Ia segera melihat ke arah sebelah nya, nampaklah Sruni telah jatuh pingsan.


" CK, ck, ck,.muridku Sruni , jatuh pingsan kangmbok,..dahsyat,..!" ungkap Nyi Ronce.


Ia pun berusaha untuk membangunkan muridnya ini.


Memang ,orang-orang yang berada di puncak Bukit Tuntang ini sangat terpengaruh dengan ucapan yg di lontarkan oleh Begawan Kakung Turah itu.


Beruntung Raka Senggani telah mengetahui kehebatan orang yang berjuluk si Tua Gila inj, sehingga ia dengan cepat menotok indera pendengaran dari Lurah Lintang Panjer Suruf agar tidak terpengaruh, dan hasilnya cukup lumayan, Lurah prajurit sandi Demak ini tidak jatuh pingsan karena nya.


" Gabluk,.bukankah telah kukatakan kepadamu kemarin malam, bahwa diriku tidak memiliki apa pun juga seperti yang telah kau tuduhkan itu, Diriku tidak memiliki kedua benda pusaka itu,.." seru Begawan Kakung Turah lagi.


Lagi lagi ia memamerkan ilmu tenaga dalam nya yg sangat tinggi itu.


Kembali di tempat tersebut harus berjuang keras untuk melawannya,.banyak sudah dari para murid dari tokoh persilatan ini yg harus pingsan karena nya sehingga tinggallah yg memiliki kemampuan yang cukup tinggi saja yang masih mampu berdiri.


Nampaknya Eyang Argayasa ini ingin mengurangi jumlah orang yang berada di tempat ini dengan menggunakan tenaga dalam nya,.ucap Raka Senggani dalam hati.


Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat tersebut, memang masih banyak juga yg mampu berdiri.


Ketika pembicaraan dari kedua orang tua yg tengah berhadapan itu berlangsung , tiba tiba,..


" Whushhhh,..!"


Sebuah angin yang cukup kencang mengarah kepada keduanya,..dan muncullah sesosok tubuh yg berpakaian ala pande besi kerajaan, dialah Mpu Loh Brangsang , yg hadir langsung di tempat tersebut.


" Hehh,.. Argayasa,..lekas serahkan kedua pusaka itu ke tangan ku, jika dirimu ingin selamat,..!" seru Penguasa Gunung Merapi ini.


Tampaknya ia sengaja memamerkan ilmu peringan tubuh nya yg sangat tinggi itu, tubuhnya tampak mengambang di udara.


" Kau,.. Branang,..rupanya dirimu pun ingin turut campur dengan urusan kami berdua,..!" seru Ki Ajar Sarabaya atau Ki Gabluk.


" Tenanglah, Gabluk,.bukan hanya dirimu saja yang ke sengsem dengan Kyai Nogo Sosro dan Kyai Sabuk Inten itu, Aku pun menginginkannya,..!" balas Mpu Loh Brangsang.


Tampaknya kedua orang ini telah saling mengenal satu dengan yang lainnya, sehingga mereka memanggil nama mereka yang sebenarnya .


Melihat kehadiran dari penguasa Gunung Merapi ini , maka Begawan Kakung Turah lantas berkata,..


" Branang ,..apakah dirimu tidak malu datang kemari,..!" ucapnya.


" Malu,..mengapa harus malu, Argayasa , karena kedua pusaka itu memang memiliki daya magnet yang luar biasa, terbukti bukan hanya diriku yang hadir di tempat ini, selain diriku ada Kyai Gedangan dari arah kulon, dan ada pula Resi Mundingrata dari pakuan Pajajaran, jadi apa yang harus ku malukan, Argayasa,..!" jelas Mpu Loh Brangsang.


" He, he, he,..dasar wajah mu itu terbuat dari bata ,.. sesudah dirimu di permalukan saat pembuatan Keris Condong campur, di desa Bedander pada waktu itu belum cukup membuat mu malu, Branang,..dirimu di kalahkan oleh seorang bocah ingusan, dan kali ini berani menunjukkan wajah mu ini di hadapanku,.Hehh,.!" bentak Begawan Kakung Turah.


Sungguh ucapan si Tua Gila ini membuat merah padam wajah dari Mpu Loh Brangsang, beruntung saat itu dalam keadaan malam, sehingga ia tidak harus menanggung malu atas ucapan Begawan Kakung Turah.


Namun tak urung , perkataan tersebut membekas di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2