
Orang tersebut terus memperhatikan orang -orang yg berada di tepi sendang itu.
Cukup lama ia mengintai kegiatan dari Raka Senggani dan teman -teman nya.
Setelah matahari telah bergerak arah barat, barulah orang itu meninggalkan tempat nya.
Sedangkan Raka Senggani dan teman -teman kembali ke rumah masing-masing.
Dalam perjalanan itu Senopati Pajang itu masih memberikan arahan kepada Japra Witangsa dan Jati andara.
" Buat kakang berdua , jangan mudah menyerah terus lakukan lah latihan -latihan untuk dapat mengungkapkan tenaga dalam itu, dan mudah -mudahan sebelum Senggani kembali ke Pajang, kakang berdua telah mampu menguasainya, dalam semua hal termasuk ilmu Silat , Latihan adalah kunci keberhasilan nya,!" jelas Raka Senggani.
" Baik Guru, semua nasehat guru akan kami lakukan," gurau Sari Kemuning.
" Ahh Kemuning, Kakang Senggani lagi memberikan arahan kepada kakang Witangsa dan Andara, jadi jangan bercanda jika memang ingin menjadi berhasil dalam latihan,!" tukas Raka Senggani.
" Kang, kalau kita terlalu serius, kita akan jadi bosan , jika di selingi gurauan tentu kita akan lebih bisa menerima karena tidak melihat nya sesuatu yg sulit untuk dikerjakan,!" jawab putri Jagabaya itu.
" Terserahlah Kemuning, yg jelas nanti malam kalian semua harus hadir kembali di banjar desa, kita akan melakukan latihan bersama kembali,!" terang Raka Senggani.
" Siap Guru, " jawab Sari Kemuning lagi.
Ke lima terus melangkahkan kakinya menuju ke rumah masing-masing.
Dan Sari Kemuning berkata kepada Raka Senggani,
" Sebaiknya kakang Senggani singgah kerumah kami saja, pasti biyung telah menyiapkan masakan sangat enak,!"
" Iya Senggani, sebaiknya kamu singgah ke rumah kami, kemarin malam Romo ingin berbincang denganmu, tetapi mengingat pekerjaan mu cukup banyak Romo tidak jadi mengundang dirimu untuk datang ke rumah,!" jelas Japra Witangsa.
" Atau kalau dirimu tidak bersedia atas undangan mereka berdua , sebaiknya singgah ke rumah kami saja, rumah Bekel Kenanga dengan pintu terbuka akan menerima mu,!" ajak Jati Andara.
" Tergantung rumah siapa yg lebih dahulu akan kita temui,!" jawab Raka Senggani.
Ia agak segan untuk memutuskan nya, takut ada yg tersinggung. Dan akhirnya Rumah Ki Jagabaya lah yg lebih dahulu di temui.
" Ternyata Kakang Senggani harus singgah di rumah kami, dan kakang tidak boleh menolaknya, karena tadi kakang telah berjanji,!'' kata Sari Kemuning.
" Senggani tidak pernah mengingkari janjinya, maaf kepada Kakang Andara dan Dewi Dwarani, Senggani akan singgah terlebih dahulu di rumah kakang Witangsa,!" ucap Raka Senggani.
" Tidak apa-apa adi Senggani , asal nanti malam dirimu mengupayakan untuk makan bersama kami sebelum latihan di mulai,!" balas Jati Andara.
" Insyaallah kakang Andara, nanti malam Senggani akan lebih cepat datang ke rumah kakang Andara,!" jawab Raka Senggani.
" Kalau begitu kami berdua akan kembali, sampai jumpa nanti malam," kata Jati Andara.
" Silahkan, silahkan, !" ucap Raka Senggani.
Kedua anak dari Ki Bekel Itu melanjutkan langkah nya menuju ke rumah nya.
Sedangkan Raka Senggani singgah di rumah Ki Jagabaya.
Disana ia di suguhi berbagai hidangan, membuat Raka Senggani bertahan lama di rumah itu, menjelang malam barulah ia kembali ke rumah Ki Lamiran.
Setelah membersihkan tubuh nya , Raka Senggani bersiap kembali untuk keluar. Dan sesaat bertemu dengan Ki Lamiran, orangtua itu berkata,
" Apakah angger Senggani akan segera ke banjar desa,?" tanyanya kepada Raka Senggani.
" Iya ,Ki, Senggani ada janji, Ki,!" jawab Raka Senggani.
" Dengan siapa , Ngger, Apakah dengan angger Kemuning,?" tanya Ki Lamiran.
" Tidak Ki, Senggani ada janji dengan anak -anak dari Ki Bekel untuk makan di sana, karena tadi Senggani telah makan di rumah Ki Jagabaya,!" jelas Raka Senggani.
" Jadi malam ini aki makan sendiri lagi, !!!? ucap orang tua itu.
" Maaf,Ki, bukan maksud Senggani demikian,!'' tukas Raka Senggani.
" Tidsk apa -apa, Ngger, aki hanya bercanda, buat aki kehadiran Senggani disini sudah sangat menyenangkan,!" ujar Ki Lamiran.
__ADS_1
" Baiklah,Ki , Senggani pamit,!" ucap Senopati Pajang itu.
Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah Ki Lamiran.
Suasana temaram di desa Kenanga itu pun tidak menyurutkan langkah Senggani berjalan menuju rumah Ki Bekel.
Dengan enteng nya ia melangkahkan kakinya, namun telinga yg yg tajam mendengar ada desir halus yg tengah mengikuti nya, pertanda orang itu memiliki ilmu yg sangat tinggi.
Raka Senggani mempercepat langkahnya, tetspi orang itu tetap mengikuti dsri belakang.
" Siapakah kiranya orang ini,?" pikir nya dalam hati.
" Huffht,"
Ia pun mengetrapkan aji peringan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu, ketika merasa telah jauh , Raka Senggani kemudian bersembunyi diatas sebuah cabang pohon.
Dan ternyata orang yg mengejarnya itu sepertinya kehilangan jejak.
" Hehh, kemana menghilang nya bocah itu,!!!?' gumam orang yg mengikuti Raka Senggani tersebut.
Terlihat ia celingukan mencari dimana keberadaan dari Senopati Brastha Abipraya itu.
" Sepertinya aku mengenali orang ini, tetapi dimana aku pernah bertemu dengan nya,!!!?" ucap Raka Senggani dalam hati.
Ia terus memperhatikan orang yg berada tidak jauh dari nya itu.
Sementara orang itu setelah tidak menemukan keberadaan Raka Senggani, segera berlalu dari tempat itu.
" Apa kepentingan orang itu terhadapku, mengapa ia mengikutiku, kalau ditilik dari caranya , pasti ia memiliki ilmu sangat tinggi, lebih baik aku segera ke Banjar desa,," ucap Raka Senggani.
Ia pun segera melesat meninggalkan tempat itu dengan melalui jalan yg berbeda dengan orang yg mengikutinya tadi.
Singkat saja ia telah sampai di rumah Ki Bekel Kenanga.
Setelah mengucapkan salam iapun langsung masuk ke dalam dan di terima dengan senang hati oleh Sang Bekel.
" Bagaimana keadaanmu Angger Senggani,?" tanya Ki Bekel.
" Mari , Ngger silahkan duduk, sebentar lagi kita akan bersama ," ucap Bekel desa Kenanga itu.
" Terima kasih Ki, maaf nya, Apakah Ki Bekel masih menempatkan penjagaan di beberapa sudut dari desa ini,?" tanya Raka Senggani
" Masih , Ngger, meskipun angger Senggani telah memberikan pelatihan di Banjar desa, tetapi Aku masih menempatkan penjagaan di desa ini dengan bergantian, Hehh, mengapa angger Senggani menanyakan hal itu,?" tanya Ki Bekel.
" Karena tadi sebelum kemari, Senggani diikuti oleh seseorang yg memiliki kemampuan yg sangat tinggi, beruntung tadi Senggani masih bisa lolos dari kejaran nya,!" jelas Raka Senggani.
" Siapakah kiranya orang itu, dan mengapa ia mengikuti angger Senggani,,?" tanya Ki Bekel lagi.
" Itulah yg Senggani tidak tahu , Ki, apa maksudnya mengikutku, apakah ia ingin menuntut balas atau hanya sekedar menakut-nakuti saja,!" jawab Raka Senggani.
" Mari , Ngger, silahkan di makan, " ucap Ki Bekel desa Kenanga itu.
Hidangan yg telah tersaji di hadapi oleh Raka Senggani, Ki Bekel, Jati Andara dan Dewi Dwarani serta istri Ki Bekel.
Kelima orang itu segera makan malam di rumah Ki Bekel itu.
Setelah selesai tiga orang lelaki itu duduk di pendopo rumah Ki Bekel.
Obor-obor telah menyala, cukup banyak obor terpasang, dan secara berangsur-angsur tempat itu telah menjadi ramai dengan kedatangan para pemuda desa Kenanga yg ingin berlatih ilmu silat di banjar desa tersebut.
Ba'da isya , latihan silat itupun di mulai. Atas aba-aba dan perintah dari Raka Senggani , pemuda desa Kenanga itu terlihat bersemangat mengikuti latihan tidak terkecuali , Japra Witangsa, Jati Andara, Sari Kemuning dan Dewi Dwarani. Walaupun tadi siang mereka telah mengikuti pelajaran yg di berikan oleh Raka Senggani, malam itu mereka juga kembali mengikuti.
Semangat dan antusias penduduk desa Kenanga tersebut cukup tinggi untuk mendapatkan pelajaran dari Raka Senggani.
Sampai jauh malam sesi latihan itu baru selesai.
******
Sedangkan di puncak Merapi sendiri, Mpu Loh Brangsang pun tengah mengupayakan para murid-muridnya untuk dapat mewarisi ilmu pamungkas yg di milikinya.
__ADS_1
Sudah hampir satu purnama, murid dari Mpu Loh Brangsang itu berusaha keras mempelajari apa yg telah di berikan dari penguasa Merapi itu.
Namun hanya tiga orang saja yg mampu menyerap dari apa yg telah di berikan Mpu Loh Brangsang tersebut.
Melihat hal itu , panguasa Merapi itu cukup bergembira, walaupun murid kesayangannya , Raden Kuda Wira dan dewi Rasani Mayang belum mampu mencapai nya.
" Untuk kalian bertiga, aku merasa sudah dapat berlega hati atas apa yg telah kalian capai itu, akan tetapi kalian jangan terlalu berbangga hati, ingat musuh kalian itu sangat tinggi ilmu nya, jadi untuk terus mematangkan ilmu kalian itu, aku perintahkan kepada kalian bertiga untuk turun gunung, lakukanlah sesuatu yg dapat memacu ilmu itu untuk semakin meningkat, jangan membuat malu nama guru kalian ini,!" terdengar ucapan dari Mpu Loh Brangsang.
" Apakah kalian bersedia,?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
" Kami bersedia , Guruuuuu," jawab ketiga orang itu secara serempak.
Mereka adalah Adya Buntala, Arya Pinarak yg merupakan murid utama dari Mpu Phedet Pundirangan dan Sentanu yg adalah bekas murid dari Mpu Yasa Pasirangan.
Ketiganya tampak bergembira karena telah di perbolehkan untuk meninggalkan tempat itu.
Sementara Raden Kuda Wira dan dewi Rasani Mayang, merasa belum tuntas menerima pengajaran yg telah di berikan oleh gurunya itu, segera bertanya,
" Bagaimana dengan kami, guru, apakah kami tidak diperbolehkan meninggalkan tempat ini,?" tanya Raden Kuda Wira.
Mpu Loh Brangsang mengarahkan pandanganya kepada keturunan dari Prabhu Brawijaya itu, ia terkesan memandang dengan perasaan yg lain dan segera berkata,
" Untuk anakmas Kuda Wira dan yg lainnya, kalian masih harus tetap disini melanjutkan pendidikan kalian, karena menurutku kalian belum tuntas untuk mendapatkan ilmu yg telah gurumu ini ajarkan, jadi bersabarlah, berlatihlah dengan tekun dan sabar, segeralah kejar ketertinggalan kalian itu dengan bersemangat berlatih,!" jelas Mpu Loh Brangsang.
" Baik guru, semua nasehat guru akan kami lakukan," jawab Raden Kuda Wira.
Keesokan harinya dari Gunung Merapi itu terlihat tiga orang telah menuruni lereng Merapi tersebut dengan berjalan sangat cepat, mereka adalah Adya Buntala, Arya Pinarak dan Sentanu.
Sesampai nya di kaki gunung Merapi itu ketiganya terlihat berbincang.
" Apakah adi Pinarak akan langsung kembali ke Gunung Willis,?" tanya Adya Buntala.
" Mungkin tidak kakang, Aku ingin singgah terlebih dahulu ke Pengging dan setelah nya akan ke Banyu biru,!" jawab Arya Pinarak.
" Dan bagaimana dengan mu adi Sentanu,?" tanya Adya Buntala lagi .
" Kalau aku akan ke kotaraja Demak, ada keinginan untuk mengabdi di Kotaraja Demak itu, sekaligus akan menjajal kemampuan dari para Senopati Demak termasuk Senopati Brastha Abipraya itu kakang Buntala.," jawab Sentanu.
" Dane kakang Buntala sendiri akan kemana,?" tanya Arya Pinarak.
" Aku akan langsung ke desa Kenanga, aku akan menjajal langsung kemampuan dari ilmu Senopati Pajang itu, Senopati Brastha Abipraya, rasa -rasanya sudah tidak sabar ingin mematahkan batang lehernya itu,!" jawab Adya Buntala.
" Berarti kita akan berpisah disini, Aku akan ke utara langsung menuju Kotaraja Demak, kakang Buntala akan ke Timur menuju ke desa Kenanga dan kakang Pinarak akan ke arah Barat menuju Pengging,!" jelas Sentanu.
" Ya , kita akan berpisah disini, dan saranku kepada Kakang Buntala berhati -hatilah jika harus berhadapan dengan Senopati Pajang itu, jika belum mampu untuk melawannya lebih baik menghindar saja,,!" ucap Arya Pinarak.
" Jangan terlalu khawatir akan keselamatanku adi Pinarak, karena apa yg telah di berikan oleh guru kepada kita ini sudah cukup untuk menghabisi bocah itu,!" jawab Adya Buntala dengan sombongnya.
" Kakang Buntala jangan sombong, karena diatas langit masih ada langit, dan kita telah mengetahui kemampuan dari Senopati Brastha Abipraya itu, dua guru kami telah tewas di tangannya, dan kakang Buntala pun masih perlu mmebuktikan keampuhan dari ilmu Lebur Waja itu, mengingat kita bertiga baru saja lulus dari penerimaan akan ilmu tersebut, " ucap Arya Pinarak.
" Sekali lagi kalian jangan meremehkan Ilmu dari Guru Loh Brangsang ini, karena kalau diperhatikan , kekalahan dari paman guru kalian berdua itu adalah karena tidak menggunakan ilmu itu,!" jelas Adya Buntala.
" Walaupun demikian, kakang Buntala tidak boleh sesumbar, karena kesombongan itu akan membawa kita ke jurang kehinaan,!" kata Sentanu.
" Kalian berdua jangan mengguruiku, cukup Guru Mpu Loh Brangsang yg menjadi guruku, dan Aku yakin akan mampu mengalahkan Senopati Pajang itu, aku adalah Adya Buntala murid utama dari Mpu Loh Brangsang yg sangat sakti itu," seru Adya Buntala sambil menepuk nepuk dadanya.
" Terserahlah, dan marilah kita tinggalkan tempat ini,!" ujar Arya Pinarak.
" Baik , mari kita tinggalkan tempat ini,!" balas Adya Buntala.
Kemudian ketiganya segera meningglakan tempat itu menuju tujuan masing -masing.
Adya Buntala langsung berjalan ke arah Timur,diikuti oleh Arya Pinarak yg berjalan menuju arah barat dan agak ke utara, sedangkan Sentanu langsung menuju ke arah Kotaraja Demak.
Adya Buntala langsung meninggalkan tempat itu dengan mempergunakan ilmu peringan tubuh nya diikuti oleh Arya Pinarak dan terakhir adalah Sentanu.
Di hati murid tertua dari Mpu Loh Brangsang itu ingin segera bertemu dengan Raka Senggani, ia akan menjajal kemampuan dari Senopati Pajang itu.
Sementara di desa Kenanga sendiri , Raka Senggani tengah menjadi guru untuk para pemuda desa tersebut.
__ADS_1
Dan hasil yg dicapai oleh para pemuda desa Kenanga itu cukup membanggakan , terutama buat Japra Witangsa, Jati Andara , Sari Kemuning dan Dewi Dwarani.
Keempat orang itu telah mampu mengalahkan tenaga dalam nya meskipun belum terlalu kuat, namun itupun sudah cukup membuat Raka Senggani tersenyum.