Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 5 Keris Kyai Condong Campur bagian kedua belas.


__ADS_3

Sementara itu jauh dari desa Bedander tepatnya di kota Kadipaten Pajang, tampak Adipati Pajang tengah gundah gulana akibat ketidak hadirannya dari Senopati Brastha Abipraya dari Madiun, ia tengah di hadapi oleh Patih Wara Kusuma dan Tumenggung Wangsa Rana di dalam balairung istana Pajang itu.


" Bagaimana ini Tumenggung Wangsa Rana, Apakah Senopati Brastha Abipraya telah mendapatkan halangan di jalan sehingga sampai saat ini belum juga muncul di Pajang ini sementara prajurit yg memanggil nya untuk kembali telah lama berada disini, dan,....., prajurit sandi Pajang pun telah melihat pergerakan dari para penghuni Gunung Merapi menuju Matahun itu sudah berlangsung, apa yg harus kita perbuat untuk mengatasi masalah ini, Karena mereka masih dibawah pengawasan dari Kadipaten Pajang ini, apa yg harus kita katakan kepada Kotaraja Demak itu,!" kata Adipati Pajang agak keras suara nya.


" Ampun kan hamba Kanjeng Gusti Adipati, sebaiknya kita menunggu barang dua hari lagi akan kedatangan dari Senopati Brastha Abipraya itu jika dalam dua hari itu, ia juga belum muncul, semestinyalah kita mengirimkan utusan ke Kotaraja Demak dan menyerahkan semua keputusan yg akan diambil oleh Kanjeng Sultan Demak, karena ini merupakan suatu sikap pemberontakan terhadap pemerintahan yg syah, karena jelas-jelas ada rencana dari mereka untuk mengembalikan Pusaka Keris Kyai Condong Campur itu meski dalam bentuk tetiron nya," jawaban dari Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Memang sebaiknya kita menunggu kedatangan dari Senopati Brastha Abipraya itu Kanjeng Gusti Adipati, supaya Pajang tidak dianggap meremehkan persoalan ini, apapun itu Senopati Brastha Abipraya merupakan prajurit sandi Demak, sehingga kata -katanya masih di dengar para pemimpin yg ada di Kota Raja Demak, jika memang dalam waktu dekat ini ia juga belum muncul juga, sebaiknya kita segera mengirimkan utusan yg lain ke Kota Raja Demak itu, Gusti Adipati," ucap Patih Wara Kusuma kepada Adipati Pajang.


Patih yg cukup sepuh itu memiliki pandangan yg cukup luas tentang keadaan yg terjadi di Kerajaan Demak, ia menganggap bahwa orang -orang yg bermaksud membuat sebuah Keris Pusaka yg telah menjadi sipat kandel di masa lampau itu adalah suatu usaha untuk menjatuhkan Demak.


" Baik, Baik, Baiklah kalau begitu jika dalam waktu dua hari ini, Senopati Brastha Abipraya tidak juga datang, kupersilahkan Tumenggung Wangsa Rana yg menjadi utusan Pajang ke Demak untuk menyampaikan berita ini, dan sangat di harapkan bahwa Tumenggung Wangsa Rana bisa menjelaskan secara rinci duduk permasalahannya, agar Kanjeng Sultan dan pembesar di Kota Raja memahami dengan kejadian ini, tentunya kita sama berharap tindakan mereka itu dapat segera di cegah, jangan sampai membuat suatu masalah dibelakang hari,!" terdengar perintah dari Adipati Pajang itu.


" Sendika dawuh Gusti Adipati, segala titah Kanjeng Gusti Adipati akan hamba jalankan, izinkan kembali, untuk mempersiapkan segala sesuatunya,!" ujar Tumennggung Wangsa Rana.


" Silahkan Tumennggung Wangsa, jangan lupa bawa serta para prajurit terpilih dari Pajang ini untuk menyertaimu ke Kotaraja Demak, mungkin nanti kalian akan dimintai bantuannya oleh para prajurit Demak yg akan mencegah mereka itu, !" terdengar pesan dari Adipati Pajang itu.


" Dawuh ndalem Kanjeng Adipati, semua akan hamba ingat pesan Kanjeng Adipati itu,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana lagi.


Segeralah Tumennggung Wangsa Rana keluar dari dalam Keraton Pajang, ia langsung kembali ke rumahnya. Tumennggung Wangsa Rana sesampai di rumah langsung memanggil beberapa orang Rangga dan Lurah prajurit Pajang, termasuk Rangga Wira Dipa yg merupakan Rangga kepercayaan dari sang Tumennggung.


" Kalian aku kumpulkan disini untuk dimintai pendapatnya , siapa saja yg pantas untuk menjadi utusan Pajang ke Demak dalam hal menyampaikan berita pergerakan dari Panembahan Merapi yg seperti nya berniat akan membuat tandingan Pusaka keraton Demak yaitu Kyai Naga sasra dan Sabuk Inten dengan mencoba membuat putraninya Kyai condong Campur, ini menurut Kanjeng Adipati adalah sikap pemberontakan terhadap pemerintahan kerajaan Demak yg syah,!" jelas Tumennggung Wangsa Rana kepada beberapa Rangga dan Lurah prajurit Pajang itu.


" Maaf sebelumnya Kanjeng Tumenggung, bukankah tugas ini adalah tugasnya dari Senopati Brastha Abipraya, ?" tanya Rangga Aryo Seno kepada Tumennggung Wangsa Rana.


" Benar, tugas ini adalah tugasnya Senopati Brastha Abipraya, akan tetapi sampai saat ini beliau belum muncul, dan menurut Kanjeng Adipati, jika selama dua hari ini ia belum pun datang, maka akulah yg menggantikan tugasnya itu ditambah dengan kalian yg layak untuk menyertaiku,!" jelas Tumennggung Wangsa Rana lagi.


" Jika memang Kanjeng Tumenggung yg akan menggantikan tugasnya Senopati Brastha Abipraya itu, kami akan siap membantu,!" jawab Rangga Wira Dipa.


" Baik kalau begitu, Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno segera siapkan prajurit untuk menyertai kita ke kotaraja Demak, secepatnya,!" perintah Tumenggung Wangsa Rana.


" Siap ,Kanjeng Tumenggung, perintah Kanjeng Tumenggung segera kami laksanakan," jawab kedua Rangga prajurit Pajang itu.


Di siang menjelang sore itu, terlihat seorang penunggang kuda, yg memacu kudanya sangat kencang, nampak kain penutup kepalanya berkibar diterpa angin yg cukup kencang, karena ia terlihat menunggang kudanya seperti kesetanan.


Wajah dan rambut nya terlihat penuh debu, pertanda ia telah cukup lama melakukan perjalanan nya.


Meski demikian wajah nya yg rupawan tidak berkurang karena telah di tempeli oleh debu -debu jalanan.


" Heaàh, Heaaaaahh,"


Ia terus menggebrak kudanya, dan sepertinya hewan itu mengerti keinginan dari tuannya itu, kuda yg besar dan berwarna coklat kehitam hitaman itu semakin cepat larinya.


" Ayoo, Jangu, tunjukkan kebolehanmu dalam berlari, kita harus secepatnya sampai di Pajang," teriak pemuda itu.


Ya, penunggang kuda itu tiada lain adalah Raka Senggani. Setelah sembuh atas pengobatan dari Panembahan Lawu, iae langsung pamit kepada penguasa Gunung Lawu itu untuk kembali ke Pajang.


Bahkan kali ini pemuda itu tidak singgah di desa Kenanga, karena ia merasa sudah cukup lama berada di Gunung Lawu dan di desa Kenanga itu, jadi ia langsung ke Pajang.


" Heaaahh, heaaahh," teriak nya lagi.


Si Jangu terus berlari kencang seakan-akan tidak mengalami kelelahan, ia terus membawa tuannya itu mendekati kota Kadipaten Pajang.


Saat maghrib tiba, Raka Senggani telah berada di dekat gerbang kota kadipaten itu.

__ADS_1


" Biarlah nanti, Aku melakukan sholat di tempat Paman Wangsa Rana saja,!" berkata di dalam hatinya.


Ketika telah memasuki kota Pajang lari dari Si Jangu mulai melambat, karena jalan - jalan di dalam kota Pajang itu masih ramai orang yg berlalu lalang, meskipun dewi malam telah menyelimuti alam mayapada.


Raka Senggani langsung menuju ke kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana.


Melihat ada seorang penunggang kuda yg akan masuk ke rumah Tumenggung Pajang itu, serentak dua prajurit penjaga berniat untuk menghalangi orang tersebut, namun setelah dekat mereka melihat bahwa si penunggang kuda tersebut adalah Senopati Brastha Abipraya mereka mengurungkan niat nya.


" Silahkan Senopati, Kanjeng Tumenggung telah lama menunggu Senopati Brastha Abipraya,!" ucap salah seorang prajurit itu.


" Baik, terima kasih,!" balas Raka Senggani.


Ia kemudian menjalankan kembali kudanya untuk masuk ke kediaman Tumenggung Wangsa Rana tersebut.


Ia langsung membawa si Jangu ke belakang rumah Tumenggung Wangsa Rana itu dan menyerahkan nya kepada pekatik Tumenggung Wangsa Rana.


" Tolong Paman, beri si Jangu makan dan minum, hampir satu hari ia tidak makan,!" kata Raka Senggani


" Baik den, saya akan segera memberinya makan!" jawab pekatik Tumenggung Wangsa Rana.


Ia segera menerima tali kekang Kuda Raka Senggani itu.


Sementara Raka Senggani langsung menuju ke rumah Tumenggung Wangsa Rana.


" Assalamualaikum," ucap Raka Senggani.


" Wa'alaikum salam," jawab orang yg berada di dalam.


" Hehhh, Angger Senggani mengapa terlalu lama, apakah ada sesuatu yg menghambat perjalanan mu, Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.


" Maaf Paman Tumenggung, demikian lah kira nya,!" jawab Raka Senggani.


" Ohh, ya, mari sialahkan masuk, dan kalau Angger Senggani ingin mandi, mandilah terlebih dahulu nanti baru kita akan mengobrol , sampai pagi pun akan Paman layani,!" kata Tumenggung Wangsa Rana lagi.


Raka Senggani pun masuk ke dalam rumah Tumenggung Wangsa Rana kemudian ia lanjutkan menuju Pakiwan dan setelahnya ia menyempatkan diri untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba terhadap penciptanya.


Setelah semuanya selesai ia kemudian telah dinanti oleh Tumenggung Wangsa Rana dan istrinya untuk melakukan santap malam bersama.


Setelah ketiganya selasai makan, Raka Senggani dan Tumenggung Wangsa Rana segera duduk di pendopo, keduanya kemudian terlibat pembicaraan.


" Mengapa angger Senggani terlalu lama, apa yg telah menimpa dirimu Ngger, Kanjeng Adipati sudah beberapa kali mempertanyakan mu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.


" Panjang ceritanya Paman Tumenggung, !" jawab Raka Senggani sambil menghela nafasnya.


" Ceritakan saja Paman siap jadi pendengar yg baik ,!" kata Tumenggung Wangsa lagi.


" Begini Paman, sekembalinya dari Madiun , Senggani singgah terlebih dahulu di Kenanga, atas nasehat aki Lamiran, Senggani diarahkan untuk menyambangi Gunung Lawu guna mempertanyakan sikap dari Panembahan Lawu,!" cerita Raka Senggani, anak muda itu terlihat berhenti sejenak.


" Dan setelah sampai di kaki gunung Lawu, tanpa sengaja Senggani bertemu dengan Resi Brangah,!" kata Raka Senggani lagi.


" Siapa Resi Brangah itu , Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Ia adalah seorang Reai dari Blambangan, dan Paman Tumenggung tahu, bahwa Resi Brangah itu adalah merupakan guru dari Macan Baleman yg kita kalahkan di Alas Mentaok beberapa waktu lalu,!" jelas Raka Senggani lagi.

__ADS_1


" Guru dari Macan Baleman,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana terkejut.


" Benar paman Tumenggung, dan Paman tahu , ia akan melakukan pembalasan atas sikap Senggani yg telah melukai muridnya itu dan masih menurutnya Macan Baleman itu telah menjadi lumpuh," terang Raka Senggani lagi.


" Berarti pertarungan pun pasti tidak dapat di elakkan lagi, bukan begitu Angger Senggani,,?" tanya Tumenggung Wangsa penasaran.


" Benar Paman Tumenggung, pertarungan pun tidak dapat dielakkan lagi,!" kata Raka Senggani.


" Bagaimana hasil pertarungan itu , Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa yg semakin penasaran.


" Karena pertarungan itulah maka Senggani terlambat untuk datang kemari, Senggani kalah , Paman Tumenggung,!" jawab Raka Senggani berterus terang.


" Berarti Resi Brangah itu sangat-sangat tinggi ilmu nya, " gumam Tumenggung Wangsa Rana.


Karena ia mengetahui bahwa Raka Senggani atau Senopati Brastha Abipraya itu pun sangat tinggi ilmu nya.


" Demikianlah kenyataan nya Paman Tumenggung, Resi Brangah itu amat tinggi ilmu nya, selain ia adalah seorang Resi dan merupakan guru dari Macan Baleman juga saudara seperguruan dari Prabhu Menak Dalih dari Blambangan," kata Raka Senggani.


" Jadi setelahnya bagaimana angger Senggani bisa lepas dari Resi Blambangan itu,?" tanya Tumenggung Wangsa.


" Karena kami sama-sama pingsan akibat benturan ilmu itu , Senggani yg pingsan di tolong oleh Panembahan Lawu, dan masih menurutnya, bahwa ketika benturan itu Resi Brangah baru tersadar setelah malam hampir menjelang," jelas Raka Senggani.


" Berarti Angger Senggani tidak kalah, karena pertarungan itu kalian berdua sama -sama pingsan, bisa dikatakan kalian hampir sampyuh,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Sampyuh kan , kedua duanya tewas Paman, kalau disini memang Senggani yg kalah karena Senggani tersadar setelah hampir tengah malam menjelang pagi, sementara Resi Brangah sudah terlebih dahulu siuman nya, jika seandainya Senggani tidak di tolong oleh Eyang Panembahan Lawu tentu Senggani telah meninggal karena tentu Resi Brangah akan membunuhku waktu itu, dan Senggani tidak akan mampu melawan nya karena dalam keadaan tidak sadarkan diri, beruntung yg Maha kuasa masih melindungi ku dengan lantaran dari pertolongan Eyang Panembahan Lawu,!" ungkap Raka Senggani lagi.


" Jadi selanjutnya , Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Kemudian Senggani dirawat oleh Eyang Panembahan Lawu di dalam sebuah goa selama hampir sepekan, karena ia mengkhawatirkan keadaan ku dan masih menurut nya, ia takut Senggani mengalami kelumpuhan akibat benturan itu, karena tenaga dalam Senggani membalik,!" jelas Raka Senggani.


" Namun syukurlah angger Senggani tidak apa -apa , bahkan saat ini terlihat lebih dari biasanya,," ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Maksud Paman,?" tanya Raka Senggani tidak faham dengan perkataan dari Tumenggung Wangsa itu


" Ya, saat ini angger Senggani terlihat lebih , lebih dalam segala hal, wajah semakin tampan, geraknya pun semakin gesit, entah mata Paman yg salah atau memang angger Senggani yg sudah berubah,!" jelas Tumennggung Wangsa Rana.


" Ahh, ada -ada saja Paman Tumenggung ini , karena menurut Senggani , tidak terjadi perubahan apapun , kecuali satu, tenaga dan langkahku yg semakin ringan saja,!" jawab Raka Senggani.


" Itulah yg paman maksudkan, seluruh yg paman lihat dari sebelumnya angger Senggani lebih cepat dan lebih bertenaga,!" terang Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Mungkin benar ucapanmu itu Paman Tumenggung, karena sejak Eyang Panembahan Lawu membuka simpul -simpul syarafku, keadaanku memang lain dari sebelumnya,!" jelas Raka Senggani.


" Sudahlah Ngger, jangan terlalu dipikirkan yg penting angger Senggani selamat dan mampu menjaga sikap sebagai seorang Senopati yg baik, karena tugas telah menunggu mu, besok kita harus menghadap Kanjeng Adipati di.dalam istana, ia terlihat kehilangan karena ketidakhadiran dari Angger Senggani disini , mungkin Kanjeng Adipati rindu kepadamu ngger," kata Tumenggung Wangsa Rana lagi.


Raka Senggani mendengarkan penuturan dari Tumenggung Wangsa Rana itu nampak tersenyum, ia berkata kemudian,


" Ah , mana mungkin Kanjeng Adipati rindu kepada Senggani, yang ada ia memerlukan Senggani untuk mengemban sebuah tugas,!" jawab Raka Senggani.


" Ya begitulah Ngger , memang Kanjeng Adipati memerlukan Angger Senggani untuk datang ke kotaraja Demak menghadap Kanjeng Sultan Demak disana menyampaikan pesan bahwa ada suatu pergerakan dari orang -orang yg tidak senang terhadap perkembangan Demak sebagai pemerintah yg syah di negeri ini, banyak yg ingin menggulingkannya,!" jelas Tumennggung Wangsa Rana.


Sampai larut malam keduanya terus mengobrol tentang keadaan Pajang secara khusus dan masalah Kerajaan Demak secara umumnya.


Pada pagi harinya, dengan di temani oleh Tumenggung Wangsa Rana dan beberapa Rangga dan Lurah prajurit Pajang , mereka menghadap kepada sang Adipati Pajang di istana nya.

__ADS_1


__ADS_2