Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 16 KEHILANGAN. bag kedua.


__ADS_3

Malam itu ketiga nya berada di rumah Ki Bekel.


Pada pagi harinya, barulah mereka melihat tempat kejadian dimana seekor kerbau yg cukup besar itu, milik dari Ki Bekel tersebut dalam keadaan tergeletak mati.


Senopati Pajang itu mampu melihat bahwa ada bekas jejak yg nyaris tidak dapat di lihat dengan mata telanjang.


Heh,.. sepertinya memang ada seseorang yg tengah menuntut ilmu hitam guna memenuhi ambisinya itu,..kata Raka Senggani dalam hati.


" Tidak ada tanda -tanda apapun di tempat ini,.. kakang Senggani,.." seru Dewj Dwarani.


" Benar,..adi Senggani,.. kelihatan nya hewan ini mati secara wajar,.. tetapi anehnya mengapa tidak ada bekas makhluk itu saat menyerang kerbau ini,.." kata Japra Witangsa.


Pendapat kedua temannya itu berbeda dengan sang Senopati itu.


Ia memang melihat jejak -jejak kaki dari makhluk yg telah memangsa hewan ternak tersebut.


Tetapi memang bekas itu tidak terlihat dengan mata biasa.


" Sebenarnya ada bekas jejak dari Makhluk tersebut,..namun tidak akan terlihat oleh mata biasa,..nantilah setelah hal ini selesai ,.. Senggani akan memberikan sedikit pengetahuan tentang hal itu,.." sahut Raka Senggani.


Baik Japra Witangsa dan Dewi Dwarani sangat terkejut mendengar penuturan dari teman sekaligus guru mereka itu.


Keduanya pun saling berpandangan tidak percaya mendengar ucapan dari Raka Senggani itu.


" Benarkah yg adi Senggani katakan itu,..?". tanya Japra Witangsa.


" Iya,..kang,..benarkah hal itu,..?" Dewi Dwarani ikut bertanya.


Sambil bangkit dari jongkok nya,..Raka Senggani menjawab,.


" Yah,..dan kali ini tampaknya kita akan berhadapan dengan seseorang yg memiliki ilmu yg sangat tinggi,.. entahlah,..apa maksud orang tersebut mengacau tempat ini,.." jawab Raka Senggani.


Keduanya terdiam mendengar ucapan dari Raka Senggani itu,..rasa rasanya belum lama mereka harus menghadapi Ki Rinting di tanah Perdikan Boyolangu,..kali ini ada lagi orang yg memiliki kemampuan yg tinggi tengah mengacau di pedukuhan itu.


" Jadi menurut Senggani ,..nanti malam kakang Witangsa dan adi Rani harus kembali ke warung itu,..katakan kepada pemilik nya,..kalian berdua akan menginap disana,..dan jangan lupa,..kalian berdua harus tetap berwaspada terhadap dua orang yg telah datang malam itu,..ingat jika kalian berdua telah merasa udara semakin dingin,..lain dari biasanya disertai dengan banyak nya nyamuk,..pertanda makhluk itu telah datang,.." terdengar ucapan dari Raka Senggani.


" Tunggu dulu,..adi Senggani,..apakah ia ini adalah seorang manusia biasa atau memang benar -benar makhluk jadi -jadian,..?" tanya Japra Witangsa.


Raka Senggani menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari Japra Witangsa itu.


" Sebenarnya ia adalah manusia biasa akan tetapi tampaknya telah bersekutu dengan makhluk halus,..hal ini tidak berbeda jauh dengan Ki Rinting,..hanya bedanya,..orang itu harus menghisap darah dari korban nya saat ia telah bersatu dengan setan itu,.." jelas Raka Senggani.


" Apa tidak mungkin ia akan memangsa darah manusia,..Kang,..?" tanya Dewi Dwarani.


Putri Ki Bekel itu terasa bergidik mendengar ucapan dari Senopati Pajang itu,..ketika harus berhadapan dengan Ki Rinting sebenarnya ia merasa takut karena orang itu mencari korban nya seorang gadis yg masih perawan namun ia masih dapat merasakan hal yg ini lebih mengerikan lagi Setelah mendengar penjelasan dari Senopati Pajang itu.


Walaupun korbannya adalah hewan ternak atau apa pun itu tetapi cara nya untuk menghabisi nya dengan menghisap darah nya hingga habis tidak bersisa.


Itulah yg membuat tubuh nya serasa meremang seluruh bulu kuduk nya,.. bagaimana jika itu berlaku pada manusia.,.. pikirnya dalam hati.


" Ada apa adi Rani,..?" tanya Raka Senggani.


Senopati Pajang itu merasa bahwa Putri Ki Bekel desa Kenanga ada kengerian yg terlihat di wajahnya.


" Kang,..Rani tidak apa -apa,..hanya kaget saja mendengar ," jawab Dewi Dwarani.


" Mengapa harus kaget ,..?" tanya Raka Senggani.


Dewi Dwarani tidak menjawab hanya menatap hewan ternak yg tergeletak itu dan telah di kerubungi oleh lalat.


Kemudian ketiganya kembali ke rumah Ki Bekel.


Disana Raka Senggani kemudian memberikan minuman kepada Japra Witangsa dan Dewi Dwarani dari bekas celupan cincin yg ada di tangannya.


Baik Japra Witangsa maupun Dewi Dwarani tidak mempertanyakan hal itu,.. keduanya melakukan saja apa yg telah di perintahkan oleh Raka Senggani.


Kemudian rumah Ki Bekel jadi ramai setelah kedatangan beberapa perangkat desa yg ingin mengetahui siapa sebenarnya tiga orang anak muda yg berniat akan menangkap pelaku pembunuhan hewan ternak mereka itu.


Apalagi mereka mendengar bahwa ketiganya adalah warga desa kenanga yg sudah cukup mereka kenal.


Raka Senggani yg menyamar sebagai Sangga itu selanjutnya mengatakan kepada Ki Bekel untuk mempersiapkan para pengawal pedukuhan itu.


Walaupun ia tahu jumlahnya tidak terlalu banyak tetap saja dirinya meminta untuk menghadirkan mereka guna menjaga tempat yg banyak hewan ternak nya.


" Ki Bekel,.. sebaiknya mereka di lengkapi dengan kentongan atau bila perlu mereka dapat menggunakan panah sendaren untuk memberikan isyarat kepada yg lainnya,." ungkap Senopati Pajang tersebut.

__ADS_1


" Apakah mereka juga harus mempersiapkan senjata nya juga,..nak Sangga,..?" tanya Ki Bekel .


" Ya,..mereka juga harus di lengkapi dengan senjata selain kentongan dan panah,. " jawab Raka Senggani.


Mereka yg mendengar ucapan dari Senopati Pajang itu segera mengerti bahwa orang itu memang benar -benar ingin menangkap biang kerusuhan pedukuhan nya itu.


" Oh,..iya Ki Bekel,..apakah di pedukuhan ini ada seseorang yg dapat untuk di curigai,.?" tanya Raka Senggani.


" Di curigai,.. maksud nak Sangga bagaimana,..?" tanya Ki Bekel balik.


" Misalkan seseorang yg telah memiliki kekayaan secara tiba -tiba,..atauu,..seorang yg baru berada di pedukuhan ini,..dan Ia tidak bergaul secara umum dengan warga pedukuhan ini,..?" tanya Raka Senggani.


Sambil ia menerangkan maksud pertanyaannya itu.


Bekel pedukuhan itu tidak menjawab,.ia mengingat -ingat,..siapa saja yg pantas untuk di curigai dalam hal ini.


Namun tampaknya ia tidak menemukan orang yg dimaksudkan itu.


" Seprtinya tidak ada nak Sangga,.." jawab nya.


Apakah orang itu memang tidak berada di pedukuhan ini,..tanya Raka Senggani dalam hati.


Jika memang tidak ada orang yg pantas untuk di curigai tentu akan semakin sulit guna menemukan siapa pelaku pembunuhan hewan ternak itu.


Ia terpaksa memutar otaknya agar dapat memecahkan teka -teki ini.


Tetapi ia tidak patah arang,.. Senopati Pajang itu tetap percaya diri dapat mengungkapkan siapa orang yg telah melakukan kekacauan di pedukuhan itu.


Di dalam hatinya ia ber janji akan tetap berusaha semampu mungkin mengatasi masalah itu.


Dan para warga pedukuhan itu nampak nya pun sama dengan semangat dari yg ditunjukkan oleh Senopati Pajang tersebut.


Karena mereka memang sangat geram terhadap orang yg telah membuat kekacauan di Pedukuhan mereka itu.


Namun sebelum Raka Senggani beranjak dari tempat itu,..ia masih sempat menanyakan orang yg malam tadi menyatroni mereka di dalam warung.


Oleh Ki Bekel dijawab bahwa di Pedukuhan itu tidak ada orang yg tinggal untuk menginap,..hanya saja ada seorang warga dari pedukuhan itu yg biasa memberikan rumahnya untuk orang menginap disana.


Orang tersebut bernama Wanacara Sangkan.


Akan tetapi Wanacara Sangkan ini adalah orang yg telah lama berada di pedukuhan itu.


Mungkin di rumahnya lah ada orang yg akan menginap atau memang ia memiliki seorang kerabat yg tengah berpergian dan kemalaman di pedukuhan itu.


Karena setahu dari Bekel pedukuhan itu bahwa Ki Wanacara Sangkan ini berasal dari timur.


Dari Blambangan tepatnya,..kata Ki Bekel.


He,..apakah orang ini yg pantas untuk di curigai berkata dalam hati Raka Senggani.


Ada sebuah nama yg akan menjadi tempat untuk penyelidikan nya itu.


" Baiklah Ki Bekel,..kami akan pamit dahulu untuk kembali ke warung itu,..ada yg ingin kami tanyakan kepada pemilik warung tersebut,.." ucap Raka Senggani.


" Tetapi bukan untuk makan kan, .nak Sangga,..?". tanya Ki Bekel.


Orang tua itu bertanya dengan nada bercanda. Terlihat senyum mengembang di sudut bibir nya.


Dan Raka Senggani yg mendengar pertanyaan itu pun ikut tersenyum.


" Tidak Ki,..bukankah kami telah cukup Ki Bekel beri pelayanan yg sangat baik disini,.." jawab Raka Senggani


" Kirain nak Sangga masih ingin makan di warung Nyi Warsem itu,..!" seru Ki Bekel lagi.


" Tidak Ki,.. kami memerlukan beberapa jawaban darinya,..tampaknya ia memiliki sesuatu yg dapat dibagikan nya kepada kami,..dan kami mohon pamit Ki Bekel,." jawab Raka Senggani.


" Silahkan nak Sangga,.." sahut Ki Bekel.


Raka Senggani, Japra Witangsa dan Dewi Dwarani segera beranjak dari rumah Ki Bekel.


Mereka kembali lagi ke wsrung yg malam tadi ketiganya sempat menginap disana.


Dan tidak terlalu lama mereka sampai di warung itu.


Saat mereka masuk keadaan dalam warung belum terlalu ramai sehingga Pemilik warung itu segera bertanya kepada ketiganya.

__ADS_1


" Apakah aden bertiga ingin memesan makanan,..?" tanya nya.


" Tidak Bi,..kami kemari hanya ingin sekedar bertanya kepada Bibi,karena sebelumnya kami telah makan di rumah Ki Bekel tadi..!" jawab Raka Senggani.


" Bertanya tentang apa den,..dan Bagaimana jika bibi siapkan minuman saja kalau kalian bertiga memang telah makan di rumah Ki Bekel tadi,." ucap pemilik warung itu.


" Baiklah Bi,..tidak apa -apa kalau minum saja,.." jawab Raka Senggani.


" Tunggu sebentar Bibi siapkan..," sahut pemilik warung itu.


Ia kemudian bergegas masuk untuk menyiapkan minuman.


Sebentar kemudian ia telah kembali lagi dengan membawakan minuman wedang sere yg masih hangat.


" Silahkan den.." kata pemilik warung itu.


" Terima kasih Bi,.." jawab Raka Senggani.


Ketiganya segera menyeruput minuman itu.


Dan Raka Senggani seperti yg telah di ucapkan nya tadi ia kemudian menanyakan beberapa hal kepada pemilik warung itu.


Dari kejadian yg terjadi malam tadi sampai dengan kehadiran dua orang yg akan berbuat kurang baik terhadap mereka bertiga juga tidak ketinggalan dengan sebuah nama yg menjadi pusat penyelidikan nya yaitu Ki Wanacara Sangkan.


" Iya den..memang di rumah Ki Wanacara itulah tempat menginap beberapa orang yg jika ada melintasi tempat ini dari arah Timur,..karena beliau memang berasal dari Timur,.." jawab si pemilik warung.


" Memangnya apa usaha dari Ki Wanacara Sangkan itu,..Bi,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Ia seorang saudagar den,..dan cukup terpandang di pedukuhan ini,.." jawab si pemilik warung itu.


" Ooo,.." seru Raka Senggani.


Kemudian warung tersebut semakin ramai setelah mentari kian menanjak naik,..apalagi setelah tepat di atas kepala,..banyak orang yg singgah di tempat itu


Akhir nya Raka Senggani dan kedua temannya itu pergi dari situ. Mereka melihat lihat keadaan pedukuhan tersebut.


Pedukuhan yg terbilang cukup maju dan makamur.


Sawah terbentsng cukup luas ditambah hewan -hewan ternak yg cukup banyak.


Bahkan ladang pategalan nya pun tampak subur.


Pantaslah orang di pedukuhan ini malas jadi pengawal pedukuhan,.. Ternyata kehidupan mereka cukup menjanjikan sehingga mereka tidak ingin menjadi pengawal yg harus bersusah payah berjaga di saat orang lain tengah beristrahat tidur.


" Kang,..apakah kami memang harus di warung itu nanti malam,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Iya Rani,..kalian harus bersiaga di dalam warung itu,..dan usahakan untuk terus memantau hewan peliharaan dari Si pemilik warung itu,.." jawab Raka Senggani.


" Jadi adi Senggani akan berada dimana,..?" tanya Japra Witangsa.


" Senggani akan menyelidiki kediaman Ki Wanacara Sangkan,..untuk memastikan apakah orang yg datang tadi malam itu memang menginap di sana ," jawab Raka Senggani.


" Jadi Bagaimana kami akan membetitahukan kakang Senggani,.. jika makhluk itu datang kemari,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Lakukan lah dengan aji pameling,.." jelas Raka Senggani.


" Tetapi kami belum terlalu biasa menggunakan nya ,..adi Senggani,.." seru Japra Witangsa


" Tidak masalah kakang Witangsa,..lakukan saja dan yakin bahwa pesan itu akan sampai kepada Senggani,.." jawab Raka Senggani.


Setelah dari persawahan yg ada di pedukuhan itu ,..mereka kembali lagi ke rumah Ki Bekel saat hari telah menjelang malam.


Tampak Ki Bekel tengah duduk -duduk diatas pendopo nya ketika ketiganya datang ke rumah nya itu.


" Bagaimana nak Sangga,..mengapa terlalu lama berada di warung Nyi Warsem itu,..?" tanya Ki Bekel.


" Kami telah berkeliling pedukuhan ini,..Ki Bekel,..dan kami melihat ternyata pedukuhan ini memang cukup makmur,.. sawah dan pategalan terlihat sangat subur tentu hasilnya pun cukup banyak,.." ungkap Raka Senggani.


" Benar nak Sangga,..oleh sebab itulah warga pedukuhan ini enggan untuk jadi pengawal pedukuhan,.. mereka lebih baik beristrahat tidur di rumah daripada harus bersusah payah jadi perondan pada malam hari,.." jelas Ki Bekel.


" Tetapi kalau hal seperti ini terjadi tentunya tidur mereka itu pun tidak akan nyenyak Ki..apalagi jika sampai makhluk itu memangsa manusia pula,.akan jadi mimpi yg buruk buat mereka,.." kata Raka Senggani lagi.


" Yahh,.. seperti yg telah nak Sangga lihat tadi,..tidak ada yg mau mengajukam diri untuk ikut meronda menjaga keamanan pedukuhan ini ,. mereka lebih rela jika harus membayar nya daripada di suruh untuk ikut,.." jelas Ki Bekel lagi.


" Begitulah jika memang kehidupan itu telah mapan ,.lebih baik mengeluarkan biaya daripada harus berusaha sendiri,.suatu sikap yg agak kurang terpuji,." ucap Raka Senggani.

__ADS_1


Dan hal itu di amini oleh Bekel Pedukuhan itu.


__ADS_2