
Akhirnya Ki Ageng Boyolangu menerima penjelasan dari sang Senopati Pajang.
Ia memberikan sebuah rumah yg berada tepat di dekat daerah persawahan yg berbatas langsung dengan hutan di kaki gunung itu.
Pada esok harinya Raka Senggani dengan di temani oleh Japra Witangsa dan Dewi Dwarani segera menuju tempat yg telah di berikan oleh Ki Ageng Boyolangu tersebut.
Sampai di tempat itu, ketiga nya melihat betapa kehidupan di tanah itu sangat baik, tanah persawahan yg subur dengan tanaman padi yg menghijau.
Para petani pada saat pagi -pagi sekali telah berada disawahnya, mereka umumnya memeriksa saluran air yg mengairi sawah mereka masing-masing.
Ketika ketiga nya sedang berada di dalam rumah itu, rumah milik dari Ki Ageng Boyolangu itu memang di khususkan untuk tempat beristrahat jika keluarga Ki Ageng sedang pergi ke sawah.
Walaupun tidak besar tetapi rumah itu cukup terawat dengan baik, bersih dan tertata apik.
Nampak keluarga Ki Ageng Boyolangu
memiliki rasa keindahan yg cukup baik.
" Kakang Witangsa dan adi Rani, berhubung saat ini kita menghadapi seorang yg berilmu sangat tinggi, dan mengincar para gadis, jadi sudah saat nya Senggani katakan kepada kalian berdua, bahwa kita memang harus bertindak dengan cermat, semua usaha kita untuk menangkap orang yg telah meresahkan tanah perdikan ini, harus berhasil, " jelas Raka Senggani.
Ia kemudian berkata lagi,
" Untuk kalian berdua, nanti jika malam telah tiba agar tetap berada di rumah ini, jangan keluar jika tidak ada perintah dari ku, utamanya terhadap kakang Witangsa yg masih sering bertindak grasak grusuk, tugas mu adi Rani untuk mengingatkan nya,.. dan nanti malam Senggani akan melihat kediaman dari Ki Tanu itu," jelas Raka Senggani lagi.
" Kang,.. bagaimana jika kami kedatangan dari orang yg tidak di kenal dan mencurigakan,.. apakah kami akan diam saja disini,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Sebaiknya memang kalian tetap berada di sini, kalaupun harus mengejarnya kalian harus melakukan nya berdua, jangan sendiri- sendiri,..ingat itu..,karena jika kalian berpisah akan sangat sulit mencari nya apalagi jika kalian bertemu musuh yg tangguh, akan semakin sulit kita akan menolong nya,.." jelas Raka Senggani.
" Dan mulai hari ini, kita harus sudah memcari berita dari para penduduk Boyolangu ini, siapa saja yg pantas di curigai atau yg mungkin untuk kita awasi,..dan sudah saatnya kita melakukan nya, kita dapat menemui mereka di sawah ataupun di kali ketika mereka sedang mencuci,.." jelas Raka Senggani.
Memang Raka Senggani harus segera memulai pelacakan terhadap orang yg dicurigai sebagai penculik para gadis itu.
Di siang hari ia berkeyakinan bahwa orang itu tidak akan berani muncul secara terang terangan, jadi keduanya dapat melakukan nya dengan sendiri-sendiri.
Di mulailah pencarian dsri orang yg meresahkan tanah perdikan Boyolangu itu.
Japra Witangsa pergi mendatangi sebuah gubuk yg di tempati oleh seorang petani.
Sambil menunggu kiriman makanan, sang petani tersebut beristrahat di gubuk nya.
Japra Witangsa menghampiri petani tersebut, dan memperkenalkan diri sebagai salah seorang keluarga dari Ki Ageng Boyolangu.
Dengan cepat Japra Witangsa dapat akrab dengan orang tua itu.
Berbeda dengan Japra Witangsa, Dewi Dwarani yg membawa cucian segera turun ke kali yg tidak jauh dari rumah nya itu, dan disana ia bertemu dengan kaum perempuan yg sedang mencuci pakaian disitu, terutamanya para ibu -ibu,.. walaupun ada juga yg masih gadis.
Disana Dewi Dwarani kemudian bercerita dengan mereka, bahwa ia masih kerabat dari Ki Ageng Boyolangu dan tinggal di rumah nya, tetapi rumah yg dekat dengan sawah itu.
" Hati -hati, loh,..nduk,..saat ini Boyolangu kurang aman dari penculikan para gadis, jangan sampai penculik itu singgah ke tempat mu,.." ucap seorang perempuan yg bertubuh agak gemuk.
" Ahh amit -amit,..jangan sampai hal itu terjadi Mbok,..apakah memang sudah banyak yg menjadi korban,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Sudah,..mungkin telah ada lima orang gadis yg menghilang dari pedukuhan induk Boyolangu ini, ..belum lagi di beberapa pedukuhan yg lain,..mungkin jumlahnya sudah puluhan,." jawab perempuan itu lagi.
" Apakah para pengawal tanah perdikan ini tidak mampu menangkapnya, Mbok,?" tanya Dewi Dwarani lagi.
" Belum,..belum,.. pengawal tanah perdikan ini belum mampu menangkapnya, bahkan Ki Garengpati pun belum mampu meringkusnya,.. entahlah, ..entah sampai kapan ini berlangsung,.. padahal kami memiliki seorang Putri yg baru mulai beranjak dewasa,.." ucap perempuan itu dengan nada cemas.
" Mbok,..siapa Ki Garengpati itu,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Ohh,..Ki Garengpati adalah orang Kepercayaan dari Ki Ageng Boyolangu untuk menangani masalah keamanan disini,..!" jawab orang itu.
" Ooo,.." seru Dewi Dwarani.
Ketika Mentari telah naik keatas kepala Dewi Dwarani beranjak dari kali itu, ia dan beberapa perempuan yg lain tampaknya telah selesai memcuci.
Dengan agak tergesa-gesa iapun kembali ke rumah tempat mereka menginap.
__ADS_1
Keadaan rumah itu masih dalam keadaan sepi karena baik Japra Witangsa maupun Raka Senggani belum kembali .
Setelah selesai menjemur pakaian nya, Dewi Dwarani masih sempat untuk memasak, ia agak kecewa juga karena Sari Kemuning tidak ikut, jadi tugas memasak harus di kerjakan nya.
Memang enak kalau jadi laki -laki, begitu pulang tinggal makan atau tidur,.tidak seperti perempuan ,. yg harus masak dan beres -beres rumah, kata Dewi Dwarani dalam hati.
Tetapi sebenarnya pun dirinya masih sangat beruntung dibandingkan gadis -gadis yg, ia masih sempat berpergian ke luar rumah , dan tidak melulu menunggui rumah sampai ada seorang lelaki yg melamar nya,.. padahal umurnya telah lebih dari cukup untuk melangsungkan pernikahan, tetapi ia tidak, ia masih sempat melihat tempat -tempat yg jauh dari rumah nya.
Sedang asyiknya Dewi Dwarani melamun, tiba -tiba saja dari arah depan rumah terdengar suara orang yg memanggil, Putri Ki Bekel itu segera ke depan dan membuka pintu.
Dilihatnya seorang lelaki paruh baya tengah berada di depan pintu rumah itu.
Laki -laki itu bertubuh tegap dan berisi terlihat dari otot -otot tangannya, yg menonjol.
Wajah orang itu pun penuh dengan senyuman, dengan ramah ia berkata kepada Dewi Dwarani.
" Kenalkan, namaku adalah Garengpati, orang -orang disini memanggilku Ki Garengpati,.." ucap nya.
" Ada perlu apa,..Ki Garengpati disini,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Aku di perintahkan oleh Ki Ageng untuk menyampaikan pesannya, kepada angger bertiga," jawab Ki Garengpati.
" Apa pesan dari Ki Ageng Boyolangu untuk kami,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Pesannya, .. Angger bertiga di undang datang ke rumahnya nanti malam," jawab Ki Garengpati.
" Oo, baiklah kalau begitu,..nanti akan kusampaikan kepada kedua kakak itu, ada pesan yg lain dari Ki Ageng,.?" tanya Dewi Dwarani lagi .
" Ada,.. Angger bertiga diharapkan untuk tetap berhati -hati,.." jawab Ki Garengpati
" Kami akan menuruti semua pesan Ki Ageng itu dan terima kasih telah mengingatkan kami,.." jawab Dewi Dwarani
" Baiklah ,.. karena pesan dari Ki Ageng telah sampaj, jadi aku mohon pamit,.." ucap Ki Garengpati.
" Silahkan,..silahkan,.." jawab Dewi Dwarani.
Kemudian Ki Garengpati meninggalkan tempat itu,..tinggallah Dewi Dwarani sendiri, entah mengapa perasaan nya kurang enak,.ia mencium ada sesuatu yg sedang terbakar.
Hehh,.. walaupun telah gosong tetapi masih dapat untuk di makan, katanya dalam hati.
Menjelang sore barulah Raka Senggani dan Japra Witangsa kembali ke rumah itu.
Begitu keduanya telah kembali, Dewi Dwarani menawarkan untuk makan bersama, tetapi Japra Witangsa menolaknya karena ia tadi telah makan di gubuk sawah salah seorang petani, berbeda dengan Raka Senggani, sedari tadi ia memang belum makan, ketika tawaran itu datang dengan cepat ia mengiyakan.
Dewi Dwarani kemudian menyiapkan makanan, dan ikan bakar yg gosong itu pun tersaji.
Raka Senggani sampai terbahak -bahak tertawanya melihat ikan yg gosong itu.
Ia mengatakan kepada Dewi Dwarani bahwa memang dirinya tidak cocok untuk jadi tukang masak, cocok nya jadi tukang pukul saja.
Dewi Dwarani yg mendengar nya pun ikut tersenyum atas celoteh teman,.. sekaligus gurunya itu.
" Tapi kang,..ini ada sebabnya,..mengapa ikan ini jadi gosong,.." jelas Dewi Dwarani.
" Apa sebabnya,..?" tanya Raka Senggani.
Pemuda itu masih memegangi perutnya yg terguncang -guncang menahan tawanya.
" Tadi itu kan,..kita kedatangan tamu,.. berhubung kakang berdua tidak ada ,..jadi Rani lah yg menerimanya,.." jelas Dewi Dwarani.
" Siapa orang itu,..laki, .atau..perempuan,?" tanya Japra Witangsa penasaran.
" Seorang lelaki,." jawab Dewi Dwarani.
" Seorang laki -laki,.. Siapa,..?" tanya Raka Senggani yg juga tidak kalah heran nya.
Buaknkah mereka bertiga baru saja berada disitu tetapi mengapa telah datang seorang laki -laki ke tempat itu,..aneh ..pikir Senopati Pajang itu.
__ADS_1
" Kakang berdua jangan berprasangka terlebih dahulu,..orang itu adalah Ki Garengpati,..utusan Ki Ageng Boyolangu untuk menyampaikan pesannya,." jelas Dewi Dwarani lagi.
" Pesan dari Ki Ageng,..apa pesannya itu,..dan siapa Ki Garengpati itu,..?" tanya Raka Senggani.
" Ki Ageng Boyolangu mengundang kita untuk datang ke rumah nya malam ini dan ki Garengpati itu adalah seorang pemimpin keamanan di tanah perdikan Boyolangu ini,.." ucap Dewi Dwarani.
" Ooo,.." seru Japra Witangsa.
Putra Ki Jagabaya itu walaupun tidak ikut makan tetapi duduk bersama mereka.
Jadi seluruh pembicaraan itu mereka lakukan bertiga.
" Jadi,.bagaimana dengan kakang Witangsa, apakah ada berita mengenai orang yg kita cari itu,..?” tanya Raka Senggani.
" Tampaknya memang sangat sulit untuk menemukan orang itu,..adi Senggani,.. umum nya penduduk Boyolangu ini tidak dapat memberikan gambaran mengenai dirinya itu, menurut mereka orang itu terlalu misterius," jawab Japra Witangsa.
" Ahh,..akan tetapi ia bukan Setan,..ia adalah seorang manusia, yg jelas keberadaan nya,.. walaupun untuk saat ini kita belum tahu dimana berada," ungkap Raka.
" Apakah tidak ada yg patut untuk di curigai,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Para penduduk Boyolangu ini mengatakan bahwa yg patut di curigai itu adalah Ki Tanu, Seperti yg telah di sebutkan oleh Ki Ageng Boyolangu itu,". jawab Japra Witangsa.
Raka Senggani termenung sejenak mendengar ucapan temannya itu,..ia merasa tidak beralasan menuduh orang itu.
" Seperti nya bukan Ki Tanu pelakunya,.." sahutnya.
" Hehh,..mengapa Kakang Senggani berkata begitu,..?" tanya Dewi Dwarani heran.
" Yah,.. sepertinya bukan orang tua itu pelakunya,..tetapi memang ada dengan sengaja orang mengkambinghitamkan dirinya,." jelas Raka Senggani lagi.
" Benarkah hal itu,..adi Senggani,..?" tanya Japra Witangsa.
Raka Senggani mengangguk, ia memang telah bertemu dengan orang tua itu tadi dari panggraita nya, ia memang tidak melihat ada gelagat yg aneh pada diri orang itu.
" Tadi Senggani telah mendatangi nya dan sempat bercerita dengan nya, menurut nya tuduhan terhadap dirinya itu tidak beralasan, ia memang sering mnjalani laku untuk mendapatkan suatu ilmu,..tetapi tidak pernah menumbalkan seseorang demi mencapai tujuan nya itu,..ia hanya sering menjalani puasa atau yg srjenisnya, karena ilmunya itu masih dalam aliran putih tidak seperti Ilmu RAWA RONTEK yg bersekutu dengan makhluk halus, demikian lah penuturan nya dan dari pandangan matanya ia tidak sedang berbohong,". jelas Raka Senggani.
" Jika bukan Ki Tanu,..jadi siapakah orang nya yg patut kita curigai,..?" tanya Japra Witangsa.
Rumah itu hening sejenak baru kemudian,
" Ki Garengpati,.." ucap Raka Senggani dan Dewi Dwarani bersamaan.
" Hehh,..mengapa Ki Garengpati,..bukankah ia orang Kepercayaan dari Ki Ageng Boyolangu,..?" tanya Japra Witangsa.
" Untuk itulah ia harus mendapatkan perhatian kita bertiga,..mengapa telah banyak korban berjatuhan ia masih saja di pertahankan oleh Ki Ageng Boyolangu ,..apakah ini bukan hal yg aneh,!" seru Raka Senggani.
" Tepat sekali kakang,..mengapa ia masih saja dapat bertahan sebagai seorang Jagabaya di tanah Perdikan ini,setelah banyak nya orang yg menghilang dan tidak kembali lagi,.itu memang patut di pertanyakan," kata Dewi Dwarani.
Kemudian ketiganya setuju untuk mengawasi orang yg bernama Ki Garengpati itu,.. walaupun rumahnya memang tidak jauh dari Ki Ageng Boyolangu itu tetapi ia memang patut utnuk di curigai.
Setelah mentari bergerak semakin ke barat dan cahaya nya kian meredup, , ketiganya segera bersiap memenuhi undangan dari Ki Ageng Boyolangu iru.
Selepas Waktu Maghrib ketiganya bergerak ke rumah Ki Ageng Boyolangu.
Walaupun agak jauh tetapi ketiganya dengan cepat telah sampai disana, karena mereka tetap melatih ilmu lari cepat nya.
Sampai di rumah Ki Ageng Boyolangu, meteka di sambut pemimpin tanah perdikan itu dengan ramah dan wajahnya terlihat senang.
" Bagaimana kabar angger bertiga, apakah dalam keadaan baik,?" tanyanya.
" Baik, sangat baik, gerangan apakah Ki Ageng mengundang kami kemari,?" tanya Raka Senggani.
" Bagaimana penelusuran kalian bertiga.,.. apakah telah membuahkan hasil,..?" tanya Ki Ageng Boyolangu lagi
" Sampai sejauh ini belum, ..Ki Ageng,.. entahlah malam ini, mungkin kami akan dapat petunjuk,. " jawab Raka Senggani lagi.
" Mudah -mudahan,..tetapi angger bertiga pun dapat mencari berita nya dari bebrpa pedukuhan yg masuk wilayah Boyolangu ini," ucap Ki Ageng Boyolangu itu.
__ADS_1
" Baiklah Ki Ageng,..mungkin besok akan kami lakukan,.." jawab Raka Senggani lagi.
" Baiklah kalau behitu,..mari kita makan,..tadi aki telah menyuruh untuk menangkap ayam utnuk santap malam bersama,..kali ini,.." kata ki Ageng lagi.