Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 27 Wong Agung. bag ke enam.


__ADS_3

" Heaaahhhh,..!"


Tumenggung Kebo Wana kembali melontarkan ajian nya , dan masih menerpa tempat kosong.


Raka Senggani dengan satu kedipan mata saja sudah tidak berada lagi pada tempatnya.


Dan kini telah berada di belakang dari Tumenggung Kebo Wana.


" Kisanak,.. diriku sunguh malu jika harus menyerang seseorang dari belakang alias membokong nya, terlebih hal tersebut di lakukan oleh orang yang mengaku sebagai seorang pembesar kerajaan Demak ini.,..!" seru Raka Senggani .


Ia yg tengah berdiri tegak di belakang dari Tumenggung Kebo Wana ini memang memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk menghantam punggung dari lawan nya yg tengah kebingungan mencari keberadaan lawan nya.


Akhirnya Tumenggung Kebo Wana membalikan tubuhnya dan melihat Senopati Bima Sakti ini telah berada di belakang nya.


Sungguh hebat ilmu peringan tubuh orang ini,..membathin Tumenggung Kebo Wana.


Ia mulai merasa gentar terhadap orang yang menjadi lawan nya itu.


Akan tetapi rasa harga diri nya yg mengalahkan nalar nya, sehingga ia berucap,..


" Kita harus buktikan , siapa yang lebih unggul diantara kita, aku atau dirimu yang harus mati,..!" seru Tumenggung Kebo Wana.


" Untuk sesuatu yang tidak jelas , kisanak ingin mempertaruhkan nyawa yg cuma satu satunya, sungguh pemikiran yang picik,..!" ejek Raka Senggani.


Sesungguhnya jika dirinya mau, sedari tadi orang yang menyebut dirinya Tumenggung Kebo Wana ini telah mampu ia tumbang kan, akan tetapi ia masih memikirkan keadaan dari istrinya yang tengah hamil tua itu.


Ahhh,..kalau terpaksa apa boleh buat,.. aku hanya melindungi diriku,..katanya dalam hati.


Tumenggung Kebo Wana yg kalap kembali melepaskan Ajian Waringin Sungsang nya.


" Aji Waringin Sungsang,.hiyyahh..!" teriak nya.


Dari kedua belah telapak tangan nya kembali mengeluarkan cahaya yang berwarna kebiru biruan dan menyasar kepada Senopati Bima Sakti.


" Dhumbhh,..!"


" Bletaaaaar..!"


" ****** , kau... Senopati Pajang,...ha.ha.ha..!"


Suara Tumenggung Kebo Wana terdengar membahana di sertai suara tertawanya, Tumenggung muda yg menjadi kepercayaan Patih Demak ini sangat yakin serangan nya kali ini mampu mengenai musuh nya ini.


" Hei, apa yang kau tertawakan ,..Kisanak,..?" tanya seseorang dari arah belakang Tumenggung Kebo Wana.


Alangkah terkejutnya hati Tumenggung Kebo Wana, suara tertawa nya dalam sekejap berhenti, dan ia menoleh ke belakang , ternyata orang yang di kiranya telah tewas dengan serangan nya itu , nampak baik baik saja tanpa kurang suatu apa pun juga.


Hehh,..jelas -jelas tadi aku melihat sendiri bahwa dirinya tidak menghindari serangan ku, akan tetapi mengapa dia tidak terluka sedikit pun, apakah orang ini adalah hantu,..bertanya Tumenggung Kebo Wana sangat heran.


Ia sungguh sangat takjub akan kejadian ini, melihat lawan nya yg tidak bergerak tetapi mampu menghindari serangan yg di lepaskan nya tadi.


Demikian pula dengan Rangga Dirgantara dan ketiga orang teman nya. Ke empat orang ini pun beraeru kaget melihat jalan nya pertarungan tanpa berkedip, tetapi mereka melihat seolah Senopat Bima Sakti ini dalam sekejap mampu menghilangkan tubuhnya dan lenyap dari pandangan mata mereka meskipun ke empatnya tidak pernah mengalihkan pandangan mereka.


" Rangga Wirandhana, segera persiapkan senjata mu,.kita serang Senopati Pajang itu,..!" ucap Rangga Dirgantara.


Ia pun telah memberiksn isyarat kepada teman nya yang berada di seberang jalan itu dimana telah ada Rangga Somadipa dan seorang Lurah prajurit.


Mereka pun tengah menyiapkan senjata nya siap menyerang Raka Senggani yg kelihatan nya tidak mampu untuk di kalahkan oleh Tumenggung Kebo Wana.


Dalam pertarungan kedua orang ini sendiri , Raka Senggani terlihat banyak menghindari serangan tanpa mau membalas nya.


" Heaahh,..!"


" Dhumbhh,..!".


" Bletaaaaar,..!"


Kembali serangan membabi buta yg di lepaskan oleh Tumenggung Kebo Wana menemui tempat kosong.


Ia menjadi kalap setelah serangan nya tidak juga menemui sasaran.


" Hehh,..jangan jadi pengecut Senopati Pajang, lawan aku bertarung, keluarkan lah ilmu mu, mari kita bertarung secara jantan, tidak hanya menghindari serangan ku,..!" seru tumenggung Kebo Wana.


" Serang lah sesuka hatimu kisanak ,..dan berkatalah apa yang ingin kau katakan ,..yg jelas aku tidak akan melawanmu, biarkanlah aku pergi tempat ini,..!" jawab Raka Senggani tenang.


" Jangan salahkan aku jika memang dirimu tidak mau membalas serangan ku,.kau akan terpanggang oleh aji Waringin Sungsang ku ini,.. Senopati Pajang,.. heahhh,..!" seru Tumenggung Kebo Wana.


Ia kembali melepaskan serangan nya, dan kali ia sambil melesat menyerang dengan melompat cepat mengejar Raka Senggani.


Ia ingin mempersempit jarak agar dapat melepaskan serangan, kena dan tepat pada sasaran nya.


Raka Senggani tidak terlalu heran atas apa yg telah di lakukan oleh lawan nya ia.


" Dhumbhh,..!"


" Bletaaaaar,..!"


Ketika dekat dengan Raka Senggani barulah Tumenggung Kebo Wana melepaskan Ajian Waringin Sungsang nya dengan keyakinan yang kuat bahwa lawannya tidak akan dapat lolos lagi.


Akan tetapi ia harus kecele setelah tidak melihat lagi lawannya ada di tempat nya.


Raka Senggani telah berada di udara, ketika serangan itu tiba, Tumenggung Kebo Wana tidak mau melepaskan lawannya ini, ia langsung mengejar nya sambil terus melepaskan serangan nya.

__ADS_1


Tumenggung dari Demak ini berharap lawannya akan kelelahan sehingga ia dapat membunuhnya.


Tetapi harapan tinggal harapan,..ternyata semakin cepat Tumenggung Kebo Wana melesat mengejar Raka Senggani , semakin cepat pula lawan menghindari nya.


Hingga pada suatu ketika,..


" Heahhhh,..!"


" Dhumbhh,..!"


" Bletaaaaar,..!"


" Hiyyahh,..!"


Saat kedua orang ini masih melayang di udara sambil terus terusan Tumenggung Kebo Wana melepaskan serangan nya sehingga membuat tempat itu menjadi berantakan, seperti di hantam Lindu.


Raka Senggani yg masih lebih cepat gerakan nya dari Tumenggung Kebo Wana mampu melepaskan diri dari serangan ini segera merubah pikiran nya.


Lebih baik ku lumpuhkan saja orang ini,.berkata dalam hati Senopati Bima Sakti.


Ia mengubah gerakan nya secara tiba-tiba,..ia yg tengah di cecar oleh serangan lawan, melesat mengarah ke Tumenggung Kebo Wana, sehingga keduanya secara tidak langsung akan bertabrakan , dan ini membuat senang Tumenggung Kebo Wana.


Ia yg tidak melepaskan pandangan nya dari lawan kembali melepaskan Ajian Waringin Sungsang dalam jarak yang sangat dekat, tentu lawan tidsk akan mungkin lagi menghindari nya.


Tetapi,..


" Takkhh,..!"


" Hehhh,..!"


" Bumph,..!"


Tiba tiba saja Raka Senggani lenyap saat ia sudah sangat dekat dengan Tumenggung Kebo Wana. Sehingga seolah ia kehilangan lawan nya dan selanjutnya ia merasakan leher nya kena sebuah totokan membuat hati Tumenggung Kebo Wana terkejut.


Tak ayal lagi tubuhnya jatuh berdebum ke atas tanah dengan keadaan tertotok.


Raka Senggani mendekati lawan nya yg telah tidak berdaya karena dalam keadaan tertotok.


Belum pun ia sampai ke tubuh Tumenggung Kebo Wana yg tergeletak tidak berdaya ini.


" Swiiing,!"


" Sheeeit, .!"


" Seeiiing,...!"


" Siiiing,..,..!"


"Tukhh,.."


Empat serangan gelap menghantam tubuh dari Senopati Bima Sakti dan tepat mengenai pada sasaran nya.


Memang posisi nya saat itu sangat sesuai sekali menjadi sasaran yg empuk.


Sehingga serangan gelap ini tidak satupun yang meleset, tetapi sungguh di luar perkiraan dari keempat penyerang inj, tidak ada satu pun senjata rahasia termasuk satu anak panah yang mampu menembus tubuh dari Senopati Bima Sakti itu.


Semuanya jatuh berguguran ke atas tanpa menyebabkan apa apa. Tidak sedikit pun tubuh Raka Senggani yg terluka, jangan kan luka, baju yg di pakainya pun tidak robek secuil pun.


" Hahh,.."


Ke empat orang ini kaget bukan main di buatnya.


Rangga Dirgantara segera berseru keras,..


" Serang,...!"


Empat orang ini berlompatan keluar dari persembunyian langsung menyerang Raka Senggani yg masih berdiri tegak tidak bergeming sedikitpun dari tempat nya. Memang ilmu kebal yg di milikinya sudah mendekati sempurna , karena meskipun ia tidak menggunakan lagi cincin pemberian Kanjeng Sultan Demak pertama,.. Sultan Fatah,..ia masih tidak dapat di tembus oleh senjata.


Merasa lawan yg harus mereka hadapi ini memiliki ilmu yg sangat tinggi, keempat perwira tinggi keprajuritan Demak ini segera mengeluarkan ilmu mereka yang tertinggi pula dengan bersenjatakan pedang dan tombak, ke empat mengepung rapat Senopati Bima Sakti.


Mereka menyerang dengan tata gerak keprajuritan yg sudah sangat rapi dan teratur.


Jika salah seorang menyerang dan tidak mengenai sasaran maka yg lain langsung menggantikan nya sehingga, terus menerus Raka Senggani mendapatkan serangan dari keempatnya seolah tidak ada habjs nya,.tombak dan pedang berkelebatan mengarah padanya.


Tetapi bukan Senopati Bima Sakti namanya jika keroyokan dari keempat perwira tinggi Demak ini membuatnya kesulitan, ia dengan tatag mampu melayani serangan ke empatnya dan kali ini ia menggunakan senjata tongkat berkepala ular pemberian Ki Suganpara.


Semua serangan tersebut dapat di mentahkan nya dengan mudah.


" Hiyyahh,..!"


Pada satu kesempatan di saat keempat orang itu bersatu melakukan serangan, Senopati Bima Sakti ini melompat tinggi menghindari serangan tersebut,..ia kemudian membalas dengan mengarahkan ujung tongkatnya pada dada salah seorang lawannya,.


" Thukkkhh,..!"


Salah seorang dari lawannya pun roboh tertotok oleh senjata tongkat itu.


Kini tinggal tiga orang lagi yang masih mengeroyok Raka Senggani.


Gilaaa,..seru Rangga Dirgantara kaget.


Setelah melihat Lurah Sasana jatuh tertotok. Rangga yg merupakan keponakan dari Patih Demak ini kembali memberi isyarat untuk lebih cepat lagi menyerang Senopati Bima Sakti.

__ADS_1


Ketiga perwira tinggi Demak ini melanjutkan serangan nya dengan lebih cepat pula, Raka Senggani mereka paksa untuk bertahan dan hanya mampu menagkis saja.


Kembali keadaan tampak berubah, terlihat Senopati Bima Sakti ini terdesak sangat hebat , dirinya nampak hanya mampu menangkis serangan lawan.


Keadaan menjadi berubah dalam sekejap , setelah Raka Senggani mengemposi tenaga dalam nya dan keluar dari kurungan tiga orang lawannya ini.


" Heahhhh,..!"


" Dhugghh,..!"


" Dhugghh !"


" Dhieghh,.."


Tiga tendangan beruntun yang di lepaskan nya saat ia melesat di udara tidak mampu di hindari oleh ketiganya, akhirnya mereka bertiga jatuh bergulingan di atas tanah.


Namun dengan cepat ketiganya mampu bangkit, mereka kembali bersiap untuk menyerang kembali.


" Kali ini kau harus mati, Senopati Pajang, dirimu memang sudah saat nya di lenyapkan dari muka bumi ini,..!" seru Rangga Dirgantara keras.


Kembali ia menjadi pemimpin dari tiga orang perwira tinggi Demak ini.


" Hiyyahh,..,!"


" Heahhh,..!"


" Ciaaat...!"


Ketiganya mengepung Raka Senggani dari tiga jurusan, dengan senjata masing -masing di tangan.


" Traangg,..!"


" Trinnnng,..!"


" Thukkk,..!"


Semua serangan ini di tepis dengan sempurna oleh sang Senopati.


Sepetinya hari ini ia memang di paksa untuk memberikan sedikit pelajaran kepada para perwira Demak ini.


Dengan sebuah salto yg indah dengan sangat cepat tongkat berkepala ular bergerak cepat, berputar dan mampu menembus pertahanan dari ketiga lawan nya itu.


" Thakh,..!"


" Thukhh,..!"


" Thekhh,..!"


Ketiga Rangga dari Demak ini mampu ia totok dengan sempurna sehingga kelihatan lah mereka tampak berdiri saja tanpa dapat menggerakkan seluruh tubuhnya.


Melihat hal itu, Raka Senggani lantas mendekati ketiganya untuk memastikan , siapa mereka sesungguhnya mereka.


Hehh,..ternyata mereka semua ini adalah para perwira dari Demak meski mereka tidak menggunakan pakaian keprajuritan., berkata dalam hati dari Senopati Bima Sakti ini.


Setelah memastikan mereka semua dalam keadaan aman, Raka Senggani mendekati kudanya si Jangu, ia berniat meninggalkan tempat itu.


Namun pendengaran yang cukup tajam tiba tiba mendengar suara derap kaki kuda yang cukup banyak menuju tempatnya ini.


Apakah mereka ini adalah para prajurit Demak yg akan membantu mereka, sebaiknya aku harus meninggalkan tempat ini secepatnya sebelum masalah yg baru akan datang lagi,..kata Raka Senggani dalam hati.


Ia pun segera melompat ke atas punggung si Jangu dan secepatnya memacu kuda itu meninggalkan hutan perburuan ini.


Memang tidak terlalu lama datanglah Tumenggung Sangga Wira dan para prajurit Demak yg menjadi bawahan nya di tempat tersebut.


" Kalian periksa keadaan mereka,.aku akan mengejar orang yang telah melarikan diri itu,..!" seru Tumenggung Sangga Wira kepada para prajurit nya.


Ia pun segera memacu kudanya mengejar Senopati Bima Sakti yg sudah agak jauh meninggalkan tempat tersebut.


Sangat cepat Tumenggung Sangga Wira memacu kudanya berusaha mendekatkan jarak dengan buruan nya.


Tumenggung Sangga Wira tahu bahwa orang yang di kejar nya ini adalah Senopati Brastha Abipraya dari Pajang.


Karena seperti yang telah di setujui saat pertemuan d kediaman Patih Demak, mereka akan melenyapkan sang Senopati.


Ketika ia telah melihat seluruh penghadang dari Senopati Bima Sakti ini telah dslam keadaan tertotok tahulah ia bagaimana tingginya ilmu orang yang di kejarnya ini.


Akan tetapi tetap saja ia mengejarnya, bahkan di belakang nya pun turut serta sebagian prajurit nya.


Kecepatan dari Tumenggung Sangga Wira memang patut di acungi jempol, sebentar kemudian ia sudah dapat mendekati kuda milik Senopati Bima Sakti.


Alangkah terkejutnya Tumenggung Sangga Wira setelah tidak melihat ada orang diatas punggung kuda yang tengah berlari kencang itu.


Tumenggung Sangga Wira kemudian mengangkat tangan nya sebagai isyarat untuk berhenti kepada para prajurit yg lain.


" Ada apa Kanjeng Tumenggung ,..!" tanya salah seorang Lurah prajurit Demak yg heran.


Ia tidak mengerti mengapa pemimpin nya ini menghentikan mereka.


" Ternyata orang itu telah melompat turun dari punggung kudanya, sebaiknya kita periksa tempat ini,..mungkin ia masih berada di sekitar tempat ini,..!" terang Tumenggung Sangga Wira.


Mengertilah para prajurit Demak ini, mereka lantas memutar kudanya dan perlahan mereka melihat tempat itu.

__ADS_1


Seluruh prajurit Demak ini memeriksa keadaan sekitarnya,


__ADS_2