Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 13 Bingung. bag ke sepuluh.


__ADS_3

Ki Suganpara terdiam sejenak, baru setelah nya ia melesat dengan sangat cepat, sambil berteriak,


" Heaaaahhh,"


" Dhumbbh,"


Pukulan yg di arahkan kepada Raka Senggani, menghantam dengan sangat keras.


Tetapi orang yg diserang itu tidak ada lagi di tempat nya, Ki Suganpara terhenyak kaget, ia sudah sangat yakin bahwa serangan itu tidak akan meleset lagi. Tetapi kenyataan nya tidak seperti yg di harapkan nya.


Hehh, kemana bocah itu, seperti hantu saja menghilangnya, katanya dalam hati.


Dari arah belakang Ki Suganpara itu terdengar tepuk tangan,


" Prok,"


" Prok,"


" Prok,"


" Memang nama besar Suganpara cukup membuat orang merinding mendengar nya, memiliki sebuah ilmu yg sangat tinggi, bahkan saking tingginya sampai tidak dapat melihat ke bawah,..sayang,..dipergunakan dijalan yg Salah,." ucap Raka Senggani .


Senopati Pajang itu telsh berdiri tepat di belakang dari Ki Suganpara.


" Hehh,.. bocah , jika memang dirimu seorang satria , mari ,.kita bertarung secara jantan, jangan cuma bisanya menghindar saja,." seru Ki Suganpara.


Lelaki itu masih berusaha mengerahkan kemampuan nya melalui ucapan nya itu untuk menjatuhkan lawan seperti di awal kedatangan nya tadi.


Tetapi kali ini yg di hadapinya adalah Senopati Pajang yg baru selesai menjalani laku guna memulihkan seluruh kemampuan nya, hal itu tidak berguna sama sekali .


Bahkan ucapan dari Ki Suganpara itu di balas oleh Raka Senggani dengan ilmu yg hampir sama tetapi berbeda jenisnya,


" Hehh, Ki Suganpara,.. jangan terlalu tinggi menganggap diri sendiri, kau pikir Ilmu Segara Macan mu dapat menjatuhkan ku,." seru Raka Senggani.


Dengan dilambari tenaga dalam yg tinggi ucapan itu serasa mengetuk-ngetuk di jantung Ki Suganpara, baru kali ini ia merasakan pengaruh akibat dari sebuah ilmu yg mirip dengan ajian Gelap Ngampar tersebut.


Siapa sesungguhnya pemuda ini, ternyata ilmu nya sangat tinggi, aku harus berhati-hati menghadapinya, kata Ki Suganpara dalam hati.


Ia bersedekap dengan memalangkan tongkatnya di depan dada, siap untuk menyerang Senopati Pajang.


" Baiklah ,.. sebelum dirimu mampus,.. katakan apa permintaan terakhirmu,." ucap Ki Suganpara.


" Hehh, Ki Suganpara , .. permintaan ku adalah agar dirimu dapat bertobat dan tidak bersikap adigang, adigung lagi, karena diatas langit masih ada langit," jawab Raka Senggani.


" Kau masih bocah ingusan mau mengguruiku, terima in,i heaaahh, " teriak Ki Suganpara.


" Whussshhh,"


Serangkum angin pukulan yg sangat kuat kembali menerjang Raka Senggani.


Sementara Senopati Pajang itu seolah menari menggerakkan tangannya untuk menahan serangan itu,


" Hiyyyah,"


" Bleghuaaarrrr,"


Benturan kembali terjadi, untuk yg kedua kalinya, dan hasilnya pun masih sama , Ki Suganpara harus terlempar dari tempatnya.


Sementara itu di telinga Jati Andara dan Japra terdengar ucapan dari Raka Senggani,


" Kakang Andara dan kakang Witangsa katakan kepada Ki Demang agar menjaga Ki Sangakeling dan putranya itu supaya tidak dapat melarikan diri, biar orang yg bernama Suganpara ini akan kuberi pelajaran ,"


Kedua pemuda desa kenanga menganggukkan kepalanya , keduanya segera menyampaikan pesan Raka Senggani itu kepada Raka Demang dan Ki Jagabaya ,


Akhirnya mereka seolah mengepung Ki Sangakeling yg dikawal para tukang pukul nya itu.


Di tempat pertarungan sendiri, setelah melihat Ki Suganpara terjatuh , Raka Senggani langsung melesat dengan ringan nya memburu tubuh yg terjatuh itu.


Perlahan ia mendekati Ki Suganpara yg berusaha bangkit, sepertinya Senopati Pajang itu melakukan pembalasan terhadap Ki Suganpara yg telah mempermainkan Jati Andara dan Japra Witangsa.


" Bagaimana Ki Suganpara,.. apakah dirimu masih sanggup untuk bertarung,.?" tanya Raka Senggani.


Jarak yg cukup dekat itu, membuat wajah Ki Suganpara terlihat jelas , di raut wajah orang itu nampak kemarahan teramat sangat akibat di permainkan oleh seorang yg masih sangat muda.


" Apakah benar yg dikatakan oleh orang -orang itu bahwa Ki Suganpara tidak pernah melepaskan musuhnya untuk dapat tetap hidup,.?" tanya Raka Senggani lagi.


Ki Suganpara diam saja , dada nya terasa sakit akibat benturan ilmu tadi, ia masih berusaha memulihkan kekuatan nya sambil mengatur jalan nafasnya,. memang kali ini ia menemui lawan yg berada diatas nya, kesombongan nya pun mulai berkurang, ia tidak lagi berkoar-koar seperti saat melawan Jati Andara dan Japra Witangsa.


Sepertinya aku harus menggunakan tongkat ku ini guna mengalahkan nya, kata Ki Suganpara dalam hati.


Kembali ia bersiap untuk melakukan serangan lagi, dan kali ini ia akan menggunakan senjata nya berupa sebuah tongkat berkepala ular.


" Hiyyyah,"

__ADS_1


Satu lesatan yg cukup cepat dengan senjata ditangan, kali ini ia menyerang Raka Senggani dalam pertarungan yg rapat tidak menggunakan ajian nya lagi.


" Traakkk,"


" Trakkkk,"


" Trakkkk,"


Tongkat ditangan Ki Suganpara beradu dengan sebuah seruling yg ada di tangan Senopati Pajang itu.


Sangat cepat Ki Suganpara menyerang, tubuh nya seperti tidak menginjak tanah lagi, tetapi Raka Senggani melayani nya dengan sangat lamban, ia sekedar menangkis, mundur dengan selangkah demi selangkah, bahkan ia sesekali ia harus melompat mundur untuk menghindari serangan tersebut.


Melihat hal itu, Ki Suganpara merasa di atas angin , ia terus meningkatkan kecepatan , hanya tampak bayangan yg sedang mengurung Senopati Pajang itu.


Tetapi meski serangan nya yg cepat dan bertenaga tetapi belum mampu menembus pertahanan dari Raka Senggani.


Makin lama pertarungan semakin cepat, darah muda Senopati Pajang itu membuat nya mau mengimbangi kecepatan dari Ki Suganpara.


Keduanya saling serang , saling tangkis, dengan senjata masing -masing. Raka Senggani sepertinya sengaja ingin memberikan pukulan telak terhadap Ki Suganpara yg terlalu meremehkan lawan.


Beberapa kali seruling di tangan Raka Senggani mampu menyusup masuk dan mengenai tubuh Ki Suganpara.


Tetapi orang tua itu seolah tidak merasakan nya, ia terus saja memberikan tekanan dengan tongkatnya, tongkat yg seperti memiliki mata terus saja mengejar Raka Senggani.


" Whuuut,".


" Traakkk,"


Benturan kedua senjata itu terjadi di tengah serangan dengan pukulan tenaga dalam yg tinggi.


Keduanya terus bertarung dengan mempergunakan ilmu peringan tubuh masing -masing, dan makin lama Ki Suganpara semakin terdesak , ketika sebuah tendangan mendatar menghantam dada nya disusul pukulan tangan kiri dari Raka Senggani yg kembali menghantam lehernya, membuat tubuh Ki Suganpara terlontar dari arena pertarungan.


Para penonton yg ada di tempat itu , walaupun tidak berkedip matanya tetapi tidak mengetahui siapa yg telah terjatuh itu.


Namun begitu, dilihat oleh mereka yg terlempar itu adalah Ki Suganpara, hati warga Kedawung merasa senang.


Berbanding terbalik dengan Ki Sangakeling dan anaknya Garwita, keduanya sudah merasa ada aroma kekalahan pada diri jagoan mereka itu.


" Bagaimana ini, Garwita , seandainya Ki Suganpara kalah," bisik Ki Sangakeling kepada anaknya itu.


" Tenang,.. Romo,.. Ki Suganpara tidak mungkin kalah,.. " jawab Garwita.


" Bagaimana Romo,.. bisa tenang,.. entah sudah berapa kali Ki Suganpara itu terjatuh,.. nampaknya anak muda Kenanga itu sengaja mempermainkan nya,.. Garwita,.." jelase Ki Sangakeling.


Mendengar percakapan itu , Ki Tambi segera menyahut,


" Benar Romo,.. tidak akan mudah untuk mengalahkan Ki Suganpara itu,." ucap Garwita menimpali.


Berbeda dengan keduanya, menurut Ki Sangakeling, jagoan nya itu tidak akan mampu bertahan lama lagi, ia akan kalah dengan lawannya itu.


Sedangkan Ki Suganpara sendiri pun mulai merasa cemas terhadap lawannya itu, ia merasa akan sangat sulit untuk mengalahkan nya.


Hingga ia berkata,


" Kau memang pantas untuk menjadi lawanku,.. anakmuda,..tetapi aku belum sampai pada puncak ilmuku," ucap Ki Suganpara.


Ia kembali bersiap seolah ingin melontarkan kembali ilmunya, dengan duduk ditanah , tangan bersedekap di depan dada, mulutnya komat -kamit membaca mantera.


Raka Senggani memperhatikan semua yg di lakukan oleh Ki Suganpara itu, ia pun akan membenturkan ilmunya jika Ki Suganpara akan mengajak bertarung lagi dengan ilmu kadigjayaan.


Tetapi rupanya prasangka dari Raka Senggani salah, ternyata setelah Ki Suganpara berteriak cukup keras, ia tidak merasakan ada serangan yg datang,.. melainkan Senopati Pajang itu tidak melihat lagi Ki Suganpara ada di tempat nya itu.


Hehh, aji panglimunan, ternyata orang tua ini memang memiliki ilmu langka tersebut, kemudian terdengarlah suara tertawa yg cukup keras berasal dari Ki Suganpara yg sudah tidak terlihat itu.


" Huaaa, ha, ha, ha, .. sekarang terima lah ini, hiyyyah,"


Tiba -tiba saja tubuh Raka Senggani terpental , tidak tahu darimana serangan itu, dengan begitu saja ia telah berhasil di pukul oleh Ki Suganpara.


Kejadian itu berulang sampai tiga kali, tubuh Senopati Pajang itu harus menerima hantaman dari Ki Suganpara yg sudah tidak nampak lagi ujudnya itu.


Tidak mau jadi bulan -bulanan dari Ki Suganpara, Raka Senggani kemudian duduk, ia segera memusatkan nalar budinya, ia pun akan mengeluarkan ajian Panglimunan itu pula.


Sesaat kemudian tubuh Senopati Pajang itu pun lenyap dari pandangan mata, dan terjadilah pertarungan kembali diantara keduanya , disaat tubuh mereka tidak terlihat oleh mata telanjang.


" Memang benar ucapan mu, Ki Tambi ternyata memang Ki Suganpara itu memiliki segudang ilmu, ia mampu menghilang tentu ia akan mampu mengalahkan pemuda itu," seru Ki Sangakeling.


Namun kegembiraan nya itu hanya sesaat ketika anak nya Garwita mengatakan,


" Romo,.. Ki Suganpara belum tentu menang, karena,.." ucap Garwita


Setelah melihat Senopati Pajang itu pun turut menghilang.


" Tentu pemuda asal Kenanga itu akan mampus di tangan Ki Suganpara,.." jelas Ki Sangakeling lagi.

__ADS_1


" Tidak Romo,.. Senopati Pajang itu pun memiliki ilmu yg sama,.. ia pun dapat menghilang,." jawab Garwita.


Ki Sangakeling yg tidak menyadari hal itu segera celingukan mencari pemuda yg telah menjadi lawan Ki Suganpara itu, tetapi ia tidak menemukan nya.


" Hehh, benar ucapanmu itu, ..Garwita, anak muda itu pun telah menghilang,.." seru nya kaget.


Ia tidak menyangka bahwa Raka Senggani pun mampu memiliki aji panglimunan itu.


Hehh, masih banyak saja orang yg memiliki ilmu langka itu,.. gumam Ki Sangakeling.


Kali ini ia sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi, kekalahan di pihak nya telah tergambar jelas, karena sedari awal Ki Suganpara tidak mampu mengatasi kehebatan dari lawannya.


Apa yg harus aku , lakukan,.. katanya dalam hati.


Untuk meminta maaf kepada warga Kedawung tentu saja ia tidak sudi, tetapi kalau mau melawan ,.. tentu saja kelompok nya tidak akan sanggup lagi.


Di saat Ki Sangakeling berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari permasalahan nya, tiba-tiba terdengar teriakan yg cukup keras,


" Aaaaakhh,"


Ternyata tubuh dari Ki Suganpara berhasil di hantam oleh Raka Senggani yg berisi ajian Wajra Geni pada tingkat tertinggi.


Tubuh Ki Suganpara terlihat lagi dengan posisi tertelungkup, nampak masih bernafas walau pun dalam keadaan pingsan.


Bersamaan itu pula, Raka Senggani muncul di dekat tubuh Ki Suganpara yg sedang tergeletak pingsan itu.


Ia memeriksa keadaan dari Ki Suganpara itu, kemudian menotok pada beberapa bagian tubuh orang itu, ia berseru,


" Kakang Andara ,.. tolong ambilkan air,.. orang ini masih hidup,.." teriak Raka Senggani.


Karena teriakan nya itu cukup keras, dan di dengar oleh semua orang termasuk Ki Demang dan Ki Jagabaya.


Oleh Ki Demang di perintahkan lah Gandhik yg mengambil air yg di minta oleh Raka Senggani itu.


Ki Demang masih kasihan melihat keadaan dàri Jati Andara yg sedang duduk lemas akibat telah bertarung dengan Ki Suganpara tadi.


Gandhik, kepala pengawal Kademangan Kedawung segera bergegas mengambilkan air dan memberikan nya kepada kedua Raka Senggani.


" Ini air nya, Senopati,.." ucap Gandhik.


Sambil menyerah kan air yg ada dalam batok kelapa itu kepada Raka Senggani.


" Terima kasih,.." jawab Raka Senggani.


Ia menerima air itu dan kemudian memercikkan nya ke wajah Ki Suganpara,


Beberapa kali dilakukan oleh pemuda itu guna menyadarkan Ki Suganpara yg telah terluka dalam cukup parah.


Belum pun Ki Suganpara itu tersadar, terdengarlah teriakan dari para warga Kedawung,


" Jangan sampai lolos,"


" Jàngan sampai lolos,"


" Jangan beri mereka lari,"


" Jangan sampai lari,"


Bersama dengan Ki Demang dan Ki Jagabaya, warga Kademangan Kedawung berusaha menangkap Ki Sangakeling dan anaknya Garwita.


Memang warga Kedawung amat geram melihat tingkah kedua orangtua dan anaknya itu.


Walaupun mereka bertujuh yg ada di tenpat itu tetapi untuk menghadapi puluhan bahkan ratusan orang, akhirnya mereka tidak sanggup semuanya menyerah dan di giring ke rumah Ki Demang.


Sementara Raka Senggani masih menunggui tubuhnya Ki Suganpara, dengan di temani oleh Jati Andara dan Japra Witangsa.


Kedua orang itu kemudian bertanya kepada Raka Senggani,


" Mengapa Orang itu di biarkan hidup, adi Senggani,..?" tanya Japra Witangsa.


" Ahh,. bukankah ia memang masih hidup , kita wajib untuk menolong nya,.kakang Witangsa,.!" jawab Raka Senggani.


" Apakah tidak akan menyurutkan kita nantinya jika ia di biarkan hidup , .. adi Senggani,?" tanya Jati Andara.


" Belum tentu juga kakang Andara, Siapa tahu kelak ia malah akan menolong kita, siapa tahu, ..bukan kita yg menentukan nya, YG Maha Kuasa lah yg menentukan nya," jawab Raka Senggani lagi.


" Seperti keadaan kakang berdua tadi, siapa mengira kakang berdua akan selamat dari tangannya, tetapi kita kan tidak tahu siapa yg kelak akan menolong kita," jelas Raka Senggani lagi.


" Oh iya, adi Senggani,..mengapa adi bisa berada di Kedawung ini,?" tanya Jati Andara.


" Panjang ceritanya kakang Andara, nantilah akan kuceritakan, mari kita angkat tubuh Ki Suganpara ini ke atas banjar Kademangan itu," ajak Raka Senggani.


Akhirnya kedua orang itu menolong Raka Senggani membawa tubuh Ki Suganpara ke atas banjar Kademangan Kedawung.

__ADS_1


Disana Raka Senggani masih memberikan perawatan terhadap tokoh dari kulon itu.


Hal ini masih dianggap aneh oleh Jati Andara dan Japra Witangsa.


__ADS_2