
Pemimpin gerombolan rampok itu langsung menyerang Senopati Brastha Abipraya dengan menggunakan kapaknya.
" Heahh,..!"
" Haiiit,..!"
" Traaakkkhh,..!"
Ayunan kapak yg mengarah leher dari Raka Senggani, namun dengan cepat pula Senopati Brastha Abipraya menangkis serangan tersebut menggunakan senjata tongkat berkepala ular, ia memukul gagang kapak yang terarah ke leher nya.
Mental kapak yang ada dalam genggaman dari Ki Maruk Goro tersebut, bahkan ia pun terdorong mundur ke samping di karenakan tenaga yg dialirkan pada gagang tongkat itu.
" Hehh,..!"
Agak terkejut juga Ki Maruk Goro ini sebab ia merasa tubuhnya terdorong sangat kuat sekali.
Pemimpin gerombolan ini segera memperbaiki kedudukan nya.
Setelah dalam posisi yang baik , Ki Maruk Goro kembali menyerang,.
" Heahh,..!"
Sebuah tendangan mengarah lambung dari Senopati Brastha Abipraya dan di teruskan dengan ayunan kapak mengarah dada.
" Huffhhhh,..!"
Raka Senggani melompat mundur sambil menjulurkan ujung tongkat berkepala ular ini.
" Haitt,..!"
Hampir saja ujung tongkat itu mengenai kepala Ki Maruk Goro, beruntung ia masih dapat melihat datang nya tusukan tersebut.
Sehingga masih mampu menghindari nya, sekejap kemudian Ki Maruk Goro kembali melancarkan serangannya, lewat tebasan kapaknya, ia berusaha mendesak Senopati Brastha Abipraya.
Ia melakukan serangkaian serangan yg cepat, sambil terus mengayunkan senjatanya, tangan kirinya pun berusaha menggapai tubuh lawannya dengan jari jari terbuka membentuk cakar.
Ayunan kapak nya mengarah kaki Raka Senggani itu di lanjutkan lagi dengan cakaran nya berusaha masuk ke arah lambung , dua serangan nya yg cepat ini masih mampu di imbangi oleh Senopati Brastha Abipraya menggunakan ilmu peringan tubuhnya, sambil berjumpalitan menghindari serangan yg di lancarkan oleh Ki Maruk Goro.
Kali ini Senopati Brastha Abipraya tidak melayani semua serangan itu dirinya lebih banyak menghindar.
Tetapi tetap saja tubuh Senopati agul agul Pajang ini sulit untuk di tembus pertahanan nya.
Ki Maruk Goro semakin bertambah penasaran dengan lawan yg di hadapinya ini, ia terus saja meningkatkan kecepatan dan tenaga dalamnya agar mampu membongkar pertahanan dari Raka Senggani.
Dan di lain pihak , Raka Yantra pun yg tengah berhadapan dengan Ki Ranta telah memasuki tahap akhir , ini disebabkan putra dari Raka Jang ini mampu menjatuhkan seorang teman dari Ki Ranta yg turut mengeroyoknya, walhasil kembali keduanya melakoni perang tanding lagi.
Saudara sepupu dari Raka Senggani ini telah berhasil melukai tubuh Ki Ranta dengan ujung pedangnya, dan darah telah keluar hingga membasahi tubuh salah seorang kepercayaan dari Ki Maruk Goro itu.
Walau demikian ia tetap saja ngotot bertarung melawan Raka Yantra, semangat perlahan naik setelah melihat teman-teman nya yg lain mampu mendesak para Prajurit Pajang.
Memang saat itu sudah ada tiga prajurit Pajang yg terluka akibat serangan yg di lakukan oleh kawanan rampok yg di pimpin oleh Ki Bagong.
Para prajurit Pajang tampak kelelahan setelah sebelumnya mereka bertarung dan be hasil mengatasi perlawanan rampok yg membakar rumah rumah warga , namun kali ini kawanan yg lain dan di pimpin oleh Ki Bagong berhasil membuat mereka terdesak.
Hal tersebut terlihat pula oleh Raka Senggani.
Hahh, ternyata para prajurit Pajang mengalami penurunan kekuatan tubuhnya, ini tidak bisa di biarkan , berkata dalam hati Raka Senggani.
" Hufhhh,.. Hiyyyahh,..!"
Sambil beberapa kali ia bersalto ke belakang lalu meleset menuju para prajurit Pajang yg terdesak itu.
" Hehh,..tunggu ,.jangan lari,.heahhh,..!" seru Ki Maruk Goro .
Lelaki tinggi besar ini pun melepaskan pukulan jarak jauhnya guna mencegah kepergian dari Raka Senggani.
" Dhumbhh,..!"
Tetapi pukulan tersebut telah di perkirakan oleh Senopati Brastha Abipraya, sehingga ia dengan cepat melentingkan lagi ke udara , membubung tinggi.
Dan meluncur deras menuju para gerombolan rampok yg tengah bertarung dengan para prajurit Pajang.
" Bertahanlah,..heahhh,..!"
" Whushhh,..!"
Sambil memutar tongkat berkepala ular yg ada dalam genggaman nya, Raka Senggani sengaja memamerkan tenaga dalamnya, serangkum angin yang keras menerpa para anak buah dari Ki Bagong itu, hasilnya cukup mencengangkan, lima orang segera terlempar akibatnya hingga mengurangi tekanan kepada para prajurit Pajang.
Ketika Raka Senggani akan mengulanginya lagi tiba tiba saja,.
" Dhumbhh,..!"
" Bletaaaaar,..!"
Satu serangan di lepaskan oleh Ki Maruk Goro menghajar tanah tempat berpijak Raka Senggani.
Namun hanya menerpa tempat kosong saja, Senopati Brastha Abipraya ini bergulingan menghindari serangan tersebut.
" Heaahh,..!"
" Whuuuth, !"
" Whuuuth,.!"
" Hufhh,..!"
" Hiyyah,..!"
__ADS_1
" Whushhh,..!".
" Hiyyaaat,.!"
Saking geramnya, Ki Maruk Goro melemparkan kapak bermata duanya ke arah Raka Senggani , langsung saja kapak itu berputaran mengarah tubuh sang Senopati.
Dengan cepat pula Raka Senggani memutar tongkat nya dan menimbulkan angin putaran yg sangat kuat hingga kapak yang telah mengarah kepadanya membalik dan menyerang lagi pemilik nya, Ki Maruk Goro berlompatan untuk lepas dari hantaman senjata nya.
Berusaha keras Ki Maruk Goro untuk mendapatkan kembali senjatanya tersebut.
Dan ia pun berhasil , kembali senjata nya inj ini dalam genggaman nya.
Ki Maruk Goro melihat ke arah Raka Senggani yg tadi berdiri, namun tidak di temukan nya lagi.
Pemimpin gerombolan rampok dari Warasaba itu celingukan mencari kemana perginya lawannya tadi.
Malam memang sudah sangat larut, bahkan sudah menjelang pagi, dalam hiruk pikuk pertempuran antara para prajurit Pajang dengan para kawanan rampok membuat Ki Maruk Goro tidak dapat mengetahui keberadaan dari Senopati Brastha Abipraya.
Di tambah lagi , sudah terlihat beberapa warga dari pedukuhan ini yg ingin membantu para prajurit Pajang memadamkan api yang telah membakar rumah rumah mereka.
Hati dari Ki Maruk Goro pun sudah tidak tenang lagi , di saat dari kejauhan pun terdengar derap beberapa langkah kaki kuda yang menuju tempat nya.
" Suiiiit,..!"
Ki Maruk Goro yg merasa saat ini bukanlah yg tepat lagi untuk melancarkan aksinya berusaha untuk menarik anggotanya dari tempat itu.
Beberapa orang segera berkumpul dekat Ki Maruk Goro termasuk juga dengan Ki Bagong.
" Hehh,..kemana Ki Ranta,..?" tanya Ki Maruk Goro heran.
Ia tidak melihat salah seorang anggota nya yg cukup ia banggakan.
Memang saat itu Ki Ranta sajalah yang tidak berada di tempat tersebut.
" Kakang Ranta tadi masih bertarung dengan pemuda itu, Kakang Goro,.!" sahut Ki Bagong.
" Iya , tetapi kemana ia saat ini, ayo lekas cari sampai dapat,..!" seru Ki Maruk Goro kepada anak buahnya.
Sungguh terkejut pemimpin dari gerombolan rampok ini, ketika para anggotanya telah mendekati tempat dimana tadi Ki Ranta bertarung.
Ia dapat melihat dengan jelas orang -orangnya itu telah dalam keadaan terkepung.
Para prajurit Pajang yg tadi membiarkan mereka pergi kini hadir di tempat itu bersama para warga pedukuhan dan mengepung gerombolan rampok itu.
Rasa marah Ki Maruk Goro membuncah ia berseru dengan keras,.
" ****** kalian semua yg berani terhadapku, heahhh,..!"
Pemimpin gerombolan rampok ini melepaskan serangan jarak jauh nya ke arah kumpulan para prajurit Pajang yg tengah mengepung anak buahnya.
Belum pun sempat serangan tersebut menghantam para prajurit Pajang ini, sebuah cahaya merah memapasi serangan nya hingga benturan keras pun terjadi.
" Bleghuaaarr,..!"
" Hehh,..!"
Seru Ki Maruk Goro kaget bukan main.
" Urusan kita belum selesai, Maruk Goro,..!"
Terdengar suara seseorang kepada pemimpin rampok itu, dan suaranya sangat dekat dari tempat nya berada.
Tidak terlalu lama muncullah Raka Senggani di sebelah samping dari Ki Maruk Goro ini.
" Ha, ha, ha, ternyata dirimu ini seorang pengecut bocah, tadi dirimu telah lari dari hadapan ku, dan kini berani lagi datang serta menantang ku,.hehh,.!" teriak Ki Maruk Goro keras.
Raka Senggani berjalan mendekat ke arah Lelaki bertubuh tinggi besar ini.
" Aku tidak lari dari mu, Maruk Goro,..hanya memberikan kesempatan kepada para prajurit ku beristirahat,. karena saat ini telah datang lagi prajurit yang akan menggantikan mereka,.!" sahut Raka Senggani pelan.
Memang saat itu suara derap langkah kaki kuda yang datang ke tempat tersebut.
" Mulut mu itu sangat beracun bocah, lebih segera ku bungkam saja dengan kapak ku ini,.Heahh,.!" teriak Ki Maruk Goro.
Sambil melompat tinggi ia kini mengarahkan kapaknya ke arah kepala dari Raka Senggani.
Senopati Pajang ini menundukkan kepalanya sedikit saja agar terhindar dari serangan tersebut.
Setelah serangan pertama nya tidak berhasil Ki Maruk Goro langsung tancap gas dengan memutar kembali senjata nya terayun ke arah perut, dan,..
" Thakkh,.."
" Hehh,..!"
Seolah ingin memamerkan ilmu kebal nya, Senopati Brastha Abipraya tidak menghindar juga tidak menangkis serangan yg datang itu, ia membiarkan saja mata kapak tersebut mengenai perutnya dan sungguh tidak di duga oleh Ki Maruk Goro bahwa senjatanya ini tidak mampu melukai perut lawannya ini.
Keterkejutan dari Ki Maruk Goro ini hanya sesaat ia cepat menarik senjatanya ini dan kembali menyerang dengan menggunakan tangan kiri nya.
" Dhieeghh,.!"
Kepalan tangan kirinya mengena di dada dari Senopati Brastha Abipraya tetapi tidak mengakibatkan apa -apa, tubuh Raka Senggani kokoh berdiri laksana batu karang di lautan.
Padahal Ki Maruk Goro telah melambarinya dengan tenaga dalam nya .
Ia terlihat kebingungan, ketika akan mengayunkan kembali kapaknya, Raka Senggani dengan cepat memukul pergelangan tangan nya ini hingga kapak yg ada dalam genggaman nya itu terlepas.
" Hehh,.!"
__ADS_1
" Menyerahlah, ..!" ucap Raka Senggani pelan.
Sambil menatap tajam ke arah Ki Maruk Goro yg sudah tidak memiliki senjata lagi.
" Menyerah,..tidak ada dalam kamus Maruk Goro kata menyerah,.terima ini,.hiyyyah,..!"
Kembali tangan kanannya yg telah mengepal itu ia hantamkan dengan keras ke dada Senopati Brastha Abipraya.
Tetapi dengan cepat pula Raka Senggani menangkap nya dan memutar nya hingga tubuh dari Ki Maruk Goro mengikuti pelintiran tersebut.
" Hiaah,..!"
Raka Senggani langsung menendang pantat dari Ki Maruk Goro ini hingga menjatuhkannya ke atas tanah.
Lelaki bertubuh tinggi besar ini jatuh terjerembab dengan kepalanya lebih dahulu menyentuh tanah.
Ia bangkit dengan cepat dan langsung bersedekap, kedua tangannya bersatu di depan dadanya.
" Heahhh,..aji Gelap Ngampar,..!" teriak nya.
" Dhumbhh ,..!"
Suara dentuman keras keluar dari kedua tangannya dan menyasar ke arah Raka Senggani yg berdiri tidak jauh darinya.
Kali ini pemimpin rampok dari Warasaba itu yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa serangannya tidak meleset lagi.
" Ha, ha ,ha,..mampus kau bocah, berani berhadapan dengan Ki Maruk Goro,.!" serunya.
Setelah ia tidak melihat orang yang diserangnya ini tidak menghindar sama sekali.
Sehingga tertawa dengan keras mengejek senopati Brastha Abipraya.
Belum habis suara tertawanya ini , tiba tiba saja terdengar suara yg berada tidak jauh darinya.
" Apa yg kau tertawakan itu kisanak,.?"
Kembali Ki Maruk Goro terkejut bukan kepalang, baru sekali ini ia berhadapan dengan seorang yg memiliki kesaktian sangat tinggi.
Gila , apakah orang ini hantu atau sejenis dedemit, semua serangan ku tidak berarti apa apa untuknya, berkata dalam hati Ki Maruk Goro.
Karena ia sangat mengenali suara orang yang tengah bertanya itu.
Ki Maruk Goro kembali melihat sekilas kepada anak buahnya yang di pimpin oleh Ki Bagong, mereka sedang terdesak hebat.
Selain para prajurit Pajang yg menjadi lawan mereka , Gerombolan rampok ini pun harus berhadapan dengan warga pedukuhan yg mereka jarah tersebut.
Dan kini jumlah mereka dua kali lipat dari mereka.
Ki Maruk Goro merasa sudah saatnya untuk meninggalkan tempat tersebut, bagaimana pun juga keadaan saat ini sangat tidak menguntungkan buat mereka.
Sedangkan derap kaki kuda yang menuju ke tempat tersebut tidak jauh lagi.
Memang para prajurit kadipaten Pajang yg di pimpin oleh Rangga Aryo Seno telah tiba di tempat kejadian bersamaan itu pula Ki Maruk Goro meninggalkan tempat tersebut.
" Heahh,..!"
Ia langsung kabur dari situ, meski terdengar teriakan yang memanggilnya.
" Jangan lari,..!"
Tidak memperdulikan teriakan itu terus saja pemimpin gerombolan rampok ini menggenjot tubuhnya , pergi menjauh.
Ia memang sudah berada cukup jauh dari pedukuhan yg di rampoknya tersebut dan langsung menghentikan larinya, seraya berusaha untuk mengatur jalan pernafasannya.
" Ah, ternyata nama seorang Ki Maruk Goro tidak sebesar badannya, ia memilih lari meninggalkan anak buahnya demi keselamatan nya daripada harus bertarung,.!"
Terdengar suara menggema dimana Ki Maruk Goro berdiri.
Pemimpin gerombolan rampok ini mengedarkan pandangan matanya mencari suara orang yang tengah mengejek dirinya itu.
Cahaya semburat merah telah muncul dari arah sebelah timur , sehingga dalam keremangan pagi itu, Ki Maruk Goro melihat sesosok tubuh telah berada di hadapan nya.
Ki Maruk Goro sampai menggosok gosok matanya seolah tidak percaya dengan pandangan matanya.
Orang yang tengah berdiri menghalangi jalannya itu adalah lawannya yang masih berusia sangat muda tadi yaitu Senopati Brastha Abipraya.
" Hehh, sebaiknya kau menyerah, dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan mu itu,.!" seru Raka Senggani dengan keranya.
Pemimpin gerombolan rampok ini tampak kebingungan.Ia sudah berusaha sekuat tenaga nya untuk menjauhi tempat tersebut namun dengan mudahnya ia berhasil di kejar oleh lawan nya.
" Sekali lagi ,ku perintahkan kepadamu untuk menyerah,..!" seru Raka Senggani.
Sambil mengangkat tangannya tinggi tinggi ,dari keremangan cahaya pagi, terlihat tangan tersebut telah berwarna merah menyala pertanda bahwa aji Wajra Geni siap untuk di lepaskan.
Ki Maruk Goro diam saja , ia melihat ke kiri dan kanan, dan sesaat kemudian,..
" Heahh,.!"
" Dhumbhh,..!"
Ia kembali menyerang Raka Senggani dengan lontaran ajian nya, tetapi setelah pukulan tersebut ia lepaskan tubuhnya pun langsung lari dengan melompat ke arah sebelah kanannya.
Raka Senggani segera membalasi serangan tersebut dengan melepaskan aji Wajra Geni miliknya,
Sehingga benturan pun terjadi , kemudian ia pun langsung melepaskan kembali Ajian nya itu ke arah tubuh Ki Maruk Goro yg tengah berusaha lari tersebut.
Ajian Wajra Geni mendarat telak di punggung orang tersebut.
__ADS_1
Tanpa mengeluarkan suara ki Maruk Goro ambruk di atas tanah.