
Tumenggung yg menjadi kepercayaan dari Adipati Pajang ini menyebutkan bahwa sudah menjadi kebiasaan bagi para penguasa yang akan menempatkan orang-orang nya apabila terdapat suatu jabatan yang kosong.
Ditambah lagi saat ini terdapat banyak intrik dalam keraton kadipaten Pajang ini, sebagaimana telah di ketahui banyak pejabatnya yg ingin tetap berada di posisi nya sehingga menggunakan berbagai cara agar dirinya tetap aman.
" Meski harus mengorbankan kawula alit maksud paman Tumenggung,..,?" tanya Raka Senggani penasaran.
" Yeahh, meski harus mengorbankan kawula alit, asalkan hasratnya terpenuhi , dirinya tidak akan peduli dengan nasib orang lain, entahlah, memang sudah demikian watak yang di berikan oleh yg Maha kuasa kepada makhluk nya, ada yg lurus serta baik, namun ada juga yang jahat serta sesat,.." sambung Tumenggung Wangsa Rana.
" Pantaslah,.!" seru Raka Senggani agak jengkel.
Ia memang telah melihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana penderitaan yang di rasakan oleh para penduduk yang cukup jauh jaraknya dari kota Pajang ini.
Mereka terasa rentan sekali menerima kekerasan bahkan pembunuhan tanpa adanya perlindungan yg di berikan oleh penguasa Pajang ini.
Namun ia pun tidak dapat menyalahkan mereka para pembesar kadipaten Pajang ini, karena memang nasib mereka pun tergantung dengan pengganti dari penguasa Pajang sekarang ini.
Setelah berbincang cukup lama, Tumenggung Wangsa Rana baru teringat bahwa Senopati Brastha Abipraya ini tidak datang sendiri ke rumahnya seperti yang biasa ia lakukan , namun dirinya kini temani oleh seseorang yang memiliki paras wajah mirip dengan nya.
" Kalau boleh saya siapakah kiranya Angger ini, mengapa memiliki kemiripan dengan Angger Senggani,.?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Yantra.
Dengan menundukkan wajahnya , Putra Raka Jang ini menyebutkan bahwa ia adalah saudara sepupu dari Raka Senggani , ia adalah putra dari Raka Jang.
Meski tidak terlalu terkejut, namun Tumenggung Wangsa Rana tetap berkata,.
" Pantaslah, diriku pernah bertemu dengan orang tuamu itu saat acara pernikahan Angger Senggani ini di desa Kenanga pada beberapa waktu yang lalu,.!" ucapnya.
Dan atas pengakuan dari Tumenggung Wangsa Rana, kepala Raka Yantra semakin menunduk, dirinya semakin menyadari kesalahan yang selama ini telah ia lakukan.
Untuk selanjutnya , pembesar Kadipaten Pajang ini mempersilahkan kepada kedua orang itu untuk beristirahat, sebab malam pun sudah melewati puncaknya, meski sebenarnya ia ingin tetap mengobrol namun sang Tumenggung pun menyadari keduanya telah melakukan perjalanan yg cukup melelahkan.
Hingga akhirnya , Raka Senggani mengajak kakak angkatnya ini untuk beristirahat.
Pada keesokan paginya, tidak seperti biasa, Tumenggung Wangsa Rana tidak hadir dalam istana Pajang, karena keadaan dari Sang Adipati yg semakin memburuk.
Ia bahkan mengajak Raka Senggani dan Raka Yantra ke bangsal keprajuritan Pajang guna menemui para prajurit.
" Angger Senopati, paman saar ini memang tidak mendapatkan tugas langsung dari Kanjeng Gusti Adipati untuk menjaga keamanan wilayah Pajang ini, namun memang karena kini pemerintahan kota Pajang kini di kendalikan oleh Gusti Patih, maka dari dasar lubuk hati yang paling dalam, paman meminta dirimu untuk memegang kendali prajurit Pajang untuk mengamankan wilayah kadipaten Pajang ini,..!" kata Tumenggung Wangsa Rana.
" Hahh,...!"
Raka Senggani agak terkejut mendengar nya, sebab biasanya ia mendapatkan perintah langsung dari Gusti Adipati Pajang jika harus bertindak termasuk pengerahan kekuatan prajurit yang besar .
" Apakah ini tidak akan menyalahi paugeran Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Maksud Angger Senggani bagaimana,..?" Tumenggung Wangsa Rana balik bertanya.
Raka Senggani kemudian menjelaskan maksud pertanyaan nya tadi, bahwa dirinya seolah-olah bertindak tanpa sepengetahuan dari Sang Adipati , dan menurutnya itu adalah sesuatu yg sangat deksura.
Apa tanggapan dari para pemimpin yg ada di Pajang ini, terlebih saat ini dirinya memiliki banyak masalah dengan para pembesar kerajaan Demak di Kotaraja.
" Tidak, tidak akan terjadi masalah, Ngger, umumnya para petinggi yg ada di Pajang ini sangat segan sekaligus menghormati dirimu, apalagi ini hanya untuk menjaga keamanan wilayah Pajang bukannya untuk memberontak, dimana letak kesalahannya,..!" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
ia juga menyambung ucapan nya itu dengan mengatakan akan memasang badan jika ada yang berani melakukan nya.
Sehingga pada hari itu, Raka Senggani dan Raka Yantra berada di bangsal keprajuritan Pajang denan di temani oleh Tumenggung Wangsa Rana.
Umum nya para prajurit yg berada di bawah kepemimpinan Tumenggung Wangsa Rana ini sangat mengenal Senopati Brastha Abipraya ini, baik perwira setingkat Rangga , Panji , bahkan sampai Lurah prajurit nya.
Senopati Brastha Abipraya di cap sebagai seorang pemimpin yang tidak banyak berbicara namun langsung pada penindakan yg cepat.
Sehingga ia menjadi seorang panutan yang baik para prajurit, terlebih saat kemudian dirinya diangkat sebagai salah seorang senopati sandi yuda kerajaan Demak.
Ketika hal tersebut di ucapkan oleh Tumenggung Wangsa Rana kepada seluruh bawahan nya , langsung di sambut gembira oleh para prajurit, dua orang Rangga kepercayaan Tumenggung Wangsa Rana segera memeluk erat tubuh Senopati Brastha Abipraya.
Mereka merasa telah kehilangan sosok yang sangat baik , namun kini telah kembali lagi bersama mereka.
" Terima kasih Senopati Brastha Abipraya, telah mau bergabung lagi di Pajang ini,.!" ungkap Rangga Wiradipa.
" Kami tidak menyangka bahwa Senopati akan kembali lagi ke Pajang ini , setelah diangkat oleh Kanjeng Gusti Sultan menjadi Senopati di Kotaraja Demak,.!" sahut Rangga Aryo Seno.
" Sama -sama, Ki Rangga,..,!" balas Raka Senggani.
Dan untuk selanjutnya , keseluruhan pasukan yang di bawah kendali Tumenggung Wangsa Rana ini di pegang oleh Raka Senggani.
Ia lah yg akan menentukan langkah apa yg harus diambil guna memberikan rasa nyaman kepada para warga Pajang yg saat ini mengalami krisis kepercayaan kepada pemerintah nya dalam hal mengamankan wilayah nya.
Saat menjelang sore ketika mereka akan kembali lagi ke kediaman Tumenggung Wangsa Rana, tiba -tiba seorang prajurit dari Rangga Wiradipa yg fi di tinggalkan di pedukuhan yg mengalami perampokan itu datang melapor.
" Sungguh beruntung di sini ada Kanjeng Tumenggung,..!" ucap Prajurit tersebut dengan nafas memburu.
__ADS_1
" Memang nya ada apa Prajurit,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana heran.
Langsung saja prajurit tersebut mengatakan bahwa mereka berdua telah melihat ada beberapa orang atau Gerombolan orang yang tengah bergerak menuju Pedukuhan yg berdekatan dengan Pedukuhan yg mereka tinggali itu.
" Pedukuhan yg berada agak ke selatan,.?" tanya Rangga Wiradipa kepada prajurit nya ini.
" Benar Ki Rangga, Pedukuhan yg arah selatan , kami melihatnya karena tanpa sengaja pagi tadi sedang nganglang,..!" sahut prajurit tersebut.
" Berapa jumlahnya,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.
" Ehh, mungkin ada tiga puluh orang, Kanjeng Tumenggung,..!" jawab Prajurit itu.
" Biarlah kami saja yang akan ke sana Paman Tumenggung,..,!" sela Raka Senggani.
Senopati Brastha Abipraya ini agak penasaran dengan orang yang menjadi pemimpin gerombolan itu.
Ternyata mereka memang sudah tidak memandang kepada para prajurit Pajang, ini tidak bisa di biarkan, berkata dalam hati suami Sari Kemuning ini.
Segera saja mereka mempersiapkan para prajurit guna mencari kawanan gerombolan yg disebutkan tadi.
Dan Kali ini , Senopati Brastha Abipraya mengajak Rangga Aryo Seno sebagai pendamping nya.
Raka Senggani meminta sepuluh prajurit terbaik dari Pajang dalam menunggangi kuda.
Ini semua dilakukan nya agar tidak terlambat.
Berderap lah beberapa prajurit dari bangsal keprajuritan pajang ini menuju tempat yg telah di sebutkan tadi.
Tumenggung Wangsa Rana memandangi keberangkatan para prajurit nya ini.
Dalam hatinya ada kekaguman terhadap Senopati Brastha Abipraya ini, meski dirinya belum pun kembali ke kediaman nya , dirinya telah harus bertugas menjaga keamanan dari wilayah Pajang.
Memang Raka Senggani dan para prajurit Pajang harus bergerak cepat disebabkan kemungkinan nya gerombolan itu sudah akan menjarah Pedukuhan tersebut.
Sehingga sampai malam tiba, para prajurit dari Pajang terus saja berpacu.
Setelah tiba di dekat pertigaan antara dua Pedukuhan itu Raka Senggani menghentikan kudanya.
" Ada apa Senopati,..?" tanya Rangga Aryo Seno.
" Sebaiknya kita membagi tugas saja Ki Rangga,.!" ucap Raka Senggani.
" Maksud Senopati,..,?" tanya Rangga Aryo Seno lagi.
Sementara ia sendiri dengan prajurit yang lain akan langsung menuju ke pedukuhan yg di tunjuk oleh prajurit datang tadi sebagai sasaran dari gerombolan tersebut.
Barulah Rangga Aryo Seno paham dan menyetujui nya.
Langsung saja mereka berpisah, Raka Senggani dengan membawa sepuluh prajurit yang di pilih langsung menuju pedukuhan tersebut.
Sedangkan Rangga Aryo Seno bersama dua puluh orang prajurit yg lain segera menuju pedukuhan yg baru saja mengalami kejadian perampokan.
Malam semakin pekat saja, derap kaki kuda yang berjumlah dua belas ekor ini melaju dengan kencangnya menuju pedukuhan itu.
Saat mendekati tempat tersebut, Raka Senggani dan para prajurit Pajang yg lain telah melihat dari kejauhan ada sebuah cahaya yang terang membubung ke atas.
" Cepatlah, tampaknya para perampok itu telah melakukan aksinya,..!" seru Raka Senggani.
Seluruh prajurit Pajang ini menggebrak kudanya dengan sangat kencang sehingga kaki depan nya sampai terangkat tinggi.
Dalam sekejap saja mereka telah menjadi lebih dekat dengan pedukuhan itu.
Raka Senggani teramat geram setelah melihat dari dekat beberapa rumah telah di lalap oleh si jago merah.
Memang jarak kuda Senopati Brastha Abipraya ini dengan para prajurit yg lain cukup jauh hampir tiga puluh batang tombak.
Bahkan dengan Raka Yantra sendiri pun ketinggalan beberapa langkah di belakang.
Sehingga ia lah yg pertama kali melihat kejadian tersebut.
Senopati Brastha Abipraya sangat geram sekali melihat apa yg dilakukan para perampok ini.
" Hentikan ulah kalian ini,.!" teriaknya dengan kerasnya.
Kelihatan beberapa orang yang yg tengah melakukan perbuatan yang memancing amarah orang yang melihatnya.
Dan mereka ini cukup terkejut dengan kedatangan seseorang ke tempat itu sambil berteriak guna memberhentikan ulah mereka.
" Hehh, siapa kau, apakah memiliki nyawa rangkap berani datang kemari,.!" ucap seseorang yang bertubuh tambun.
__ADS_1
Ia mendekati Raka Senggani yg masih duduk di atas punggung kudanya, segera melihat ke arah orang yang bertubuh tambun berusia paruh baya, dengan ikat kepala berwarna merah.
" Atas nama kekuasaan Pajang, hentikan semua ulah kalian ini , kalau tidak kami akan menindak tegas kalian semua,.!" seru Raka Senggani tanpa menjawab pertanyaan dari lelaki paruh baya ini.
" Hah, Pajang, kami tidak takut dengan gertakan kau , segera turun dari kudamu itu dan berlutut di hadapan ku, cepat,..!" teriak orang bertubuh tambun ini.
" Baiklah kalau begitu,..heahh,..!"
Sambil berteriak keras, Raka Senggani langsung melesat menyerang lelaki tambun berusia paruh baya ini.
Serangannya yg sangat cepat tidak mampu di hindari oleh orang tersebut.
" Bhegghh,.!"
" Aaakhh,..!"
Kontan saja ia terpelanting akibat hantaman tendangan yg di lepaskan oleh Senopati Pajang ini.
Tubuhnya jatuh bergulingan diatas tanah.Bagaikan sebuah bola yg menggelinding.
Meski kepalanya terasa pusing dan menatap banyak bintang di langit seolah berputar.
Lelaki tambun ini berusaha untuk bangkit meski dengan sempoyongan, ia berusaha menggapai sesuatu agar dirinya mampu bertahan.
Sambil tubuh nya masih bergoyang ke kiri dan ke kanan, lelaki tambun menunjuk ke arah Raka Senggani yg berdiri tegak di hadapannya.
" Kau berani berhadapan dengan kelompok rampok yg di pimpin oleh Kakang Maruk Goro, kau pasti akan menyesal,.!" serunya sambil jari telunjuk nya masih teracung ke arah Raka Senggani.
Yg di tunjuk malah diam saja, ia memperhatikan ke sekeliling nya dan telah mendapati saudara sepupunya Ini Yantra dan para prajurit Pajang yg lain telah tiba di situ.
Tanpa mengacuhkan ucapan lelaki tambun ini, Raka Senggani memberikan perintah kepada para prajurit untuk segera menghentikan ulah para perampok yang tengah membakar serta akan menyulut beberapa rumah lagi.
" Segera hentikan ulah mereka itu,.!"
Terdengar ia memberikan perintah kepada para prajurit tersebut.
" Dan berhati-hatilah,..!" katanya lagi.
Sepuluh orang prajurit Pajang segera bergerak untuk memadamkan nyala api itu.
Akan tetapi langkah para prajurit Pajang ini tidak semudah itu.
Para gerombolan rampok itu langsung saja menyerang mereka dengan berbagai senjata.
" Hiyyahh,..!"
" Ciaaat,..!"
" Heahh,..!"
" Hiyyat,..!"
" Trang,..!"
" Trinnng,.!"
Para prajurit Pajang itu segera bertempur dengan gerombolan rampok itu.
Jumlah mereka memang cukup banyak tetapi sebahagian lagi tengah melakukan perusakan rumah warga pedukuhan itu dan menjarah apa saja yang mereka jumpai.
Kawanan rampok memang tampak brutal dalam melakukan aksinya.
Sedangkan Lelaki tambun itu memanggil teman temannya yang lain untuk mengahadapi Raka Senggani.
Ia juga tidak lupa membisiki salah seorang temannya untuk segera memanggil pemimpin nya.
" Cepat panggil kakang Maruk Goro, ternyata kita telah kedatangan lawan dari para prajurit Pajang,.!" ucapnya.
Dan salah seorang dari kawanan rampok ini meninggalkan tempat itu sesuai perintah dari temannya itu.
" Cepatlah pergi dari sini sebelum kalian akan menyesal,.!" kata Raka Senggani lagi.
" Pergi,..kau lah yg harus pergi, *******, hiyyah,..!"
Teriak lelaki tambun ini sambil membacokkan sebuah golok yang ada di tangan nya itu.
" Thak,..!"
" Hehh,..!"
__ADS_1
Serangan nya langsung mendarat di dada Raka Senggani dengan keras nya, namun alangkah terkejutnya orang yang bertubuh tambun ini,. terasa golok nya ini seperti mengahantam sebongkah batu kali yg sangat keras.
Saking penasaran nya ia melihat mata golok nya yg telah gompal hampir separoh.